IN I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A SEMINAR NASIONAL SYEDZA SAINTIKA ISSN :2775-3530 AuKebijakan Strategi dan Penatalaksanaan Penanggulangan Covid di IndonesiaAy Web: https://jurnal. id/index. php/PSNSYS Oral Presentasi FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI NAGARI TALANG BABUNGO. KABUPATEN SOLOK Sri Harianisa. Irma Eva Yani. Andrafikar. Franchfi Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Padang . annyannisa202@gmail. com, 082284870. ABSTRAK Stunting adalah kegagalan mencapai pertumbuhan optimal berdasarkan pada pengukuran tinggi badan menurut umur (TB/U) dengan nilai Z-score O -2 SD. Indonesia berada di urutan ketiga prevalensi stunting tertinggi di Asia Tenggara dengan rata-rata prevalensi 36. 4 % pada tahun 2005-2017. Berdasarkan data penimbangan massal tahun 2018 prevalensi stunting di Kecamatan Hiliran Gumanti sebesar 25 %. Faktor yang mempengaruhi stunting salah satunya asupan protein, asupan zink, diare, dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan asupan protein, asupan zink, diare, dan BBLR dengan kejadian stunting pada balita. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional design. Penelitian dilaksanakan di Nagari Talang Babungo. Kecamatan Hiliran Gumanti. Kabupaten Solok dari bulan Februari 2019 sampai Mei 2020. Populasi adalah seluruh anak usia 6-59 bulan di Nagari Talang Babungo dengan sampel 72 orang yang diambil menggunakan teknik simple random sampling. Data dianalisa secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian diperoleh kejadian stunting 41. 7 %, asupan protein yang kurang 23. 6 %, asupan zink yang kurang 37. 5 %, anak yang mengalami diare 27. 8 %, dan anak dengan BBLR sebesar 8. 3 %. Terdapat hubungan antara stunting dengan kejadian diare, namun tidak terdapat hubungan antara stunting dengan asupan protein, asupan zink, dan kejadian BBLR. Kata Kunci : Stunting. Protein. Zink. Diare. BBLR ABSTRACT Stunting is a failure to achieve optimal growth based on measurements of height according to age (TB/U), with the Z-score O -2 SD. Indonesia is included in the third country with the highest prevalence in the Southeast Asian region with an average stunting prevalence is 36. 4 % in 20052017. Based on mass weighing data in 2018, the prevalence of stunting in the Hiliran Gumanti District was 25%. Factors that influence stunting include protein intake, zinc intake, diarrhea, and low birth weight (LBW). The purpose of this study was to determine the relationship of protein intake, zinc intake, diarrhea, and low birth weight with the incidence of stunting in infants. This research uses a cross sectional design conducted at Talang Babungo. Hiliran Gumanti District. Solok Regency in February 2019 until May 2020. Population is all children aged 6-59 months in Talang Babungo with 72 people sample taken using simple random sampling. Data were analyzed by univariate and bivariate using chi-square test. The results showed 41. 7 % stunting, less protein intake 23. 6 %, less zinc intake 37. 5 %, children with diarrhea 27. 8 %, and children with LBW 8. 3 %. There is a significant relationship between stunting and the incidence of diarrhea but that was not significant relationship between stunting with protein intake, zinc intake, and the incidence of LBW Keywords: Stunting. Protein. Zinc. Diarrhea. LBW PENDAHULUAN Stunting adalah keadaan tubuh dimana tinggi badan tidak mencapai tinggi normal menurut umur sesuai dengan standar deviasi. Menurut WHO, stunting adalah kegagalan untuk mencapai pertumbuhan yang optimal. Stunting didasarkan pada pengukuran tinggi badan menurut umur (TB/U), dimana nilai Zscore O -2 SD . tandar devias. 2 Kejadian stunting merupakan salah satu masalah gizi yang dialami oleh balita di dunia saat ini. Pada tahun 2017, sekitar 22,2 % balita di dunia Prosiding Seminar Nasional STIKES Syedza Saintika I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A SEMINAR NASIONAL SYEDZA SAINTIKA ISSN :2775-3530 AuKebijakan Strategi dan Penatalaksanaan Penanggulangan Covid di IndonesiaAy Web: https://jurnal. id/index. php/PSNSYS Oral Presentasi mengalami stunting. Lebih dari setengah balita stunting berasal dari Asia yaitu 55 % sedangkan lebih dari sepertiganya berasal dari Afrika yaitu 39 %. 3 Data prevalensi balita stunting yang dikumpulkan World Health Organization (WHO). Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga dengan prevalensi tertinggi di regional Asia Tenggara/ SouthEast Asia Regional (SEAR). Sedangkan ratarata prevalensi balita stunting di Indonesia Berdasarkan data PSG Sumatera Barat tahun 2016, prevalensi stunting tahun 2016 sebesar 6 % dan meningkat menjadi 30. 6 % pada Tiga kabupaten yang tertinggi prevalensi stunting di Sumatera Barat adalah Pasaman . 6 %). Kabupaten Solok . 9 %), dan Pasaman Barat . 1 %). Periode kritis anak berada pada lima tahun pertama setelah kelahiran. Jika pertumbuhan dan perkembangan anak pada periode ini optimal, maka akan dapat tumbuh menjadi individu yang berkualitas. 4 Pertumbuhan anak. Sumber Daya Manusia/SDM di masa mendatang, sehingga gagal tumbuh yang terjadi akibat kurang gizi pada masa-masa emas ini akan berakibat buruk pada kehidupan berikutnya yang sulit 5 Biasanya balita akan mengalami pertumbuhan pesat baik berat badan maupun tinggi badan pada usia lewat dari 6 bulan. Setelah usia 6 bulan ke atas, anak mulai mendapat Makanan Pendamping ASI (MPASI) dan mulai bertambah perkembangan membutuhkan zat gizi lebih banyak. Namun, ada beberapa masalah yang umumnya terjadi di masa ini. Diantaranya, balita susah makan disertai dengan kualitas dan kuantitas ASI yang semakin berkurang dengan bertambahnya umur anak. Kekurangan asupan protein merupakan salah satu faktor utama stunting. Protein memiliki fungsi utama yaitu sebagai zat pengatur dan sangat penting untuk proses pertumbuhan serta untuk pemeliharaan sel. Pada tahun 2017, terdapat 31,9 % balita mengalami defisit protein. 3 Menurut penelitian Rachmawati tahun 2018 di Surakarta, ada hubungan antara asupan protein yang rendah dengan status gizi pendek . pada anak Selain protein zat gizi lain yang defisiensi zink. Defisiensi zink pada anak terjadi karena rendahnya konsumsi zink, sedangkan selama kejar tumbuh pada anak kebutuhan zink meningkat. Kaitan antara Zink dengan pertumbuhan adalah zink berperan dalam proses pembelahan dan pertumbuhan sel serta stabilitas fungsi berbagai jaringan, sehingga menjadikan zink sebagai zat gizi mikro yang essensial. Zink memegang peranan essensial dalam banyak fungsi tubuh dan juga berperan penting bagi pertumbuhan sel, diferensiasi sel dan sintesa DNA. Menurut penelitian Hidayati et al. tahun 2010 di Surakarta, balita dengan asupan zink yang kurang akan berisiko 2,67 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan dengan balita yang asupan zink yang normal dan secara statistik penelitian ini bermakna pada tingkat kepercayaan 95%. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh higiene dan sanitasi yang buruk termasuk diare yang dapat menganggu penyerapan nutrisi menyebabkan stunting. Diare yang diderita bayi dapat menyebabkan berat badan bayi Jika kondisi ini terjadi dalam waktu yang cukup lama dan tidak disertai dengan pemberian asupan yang cukup untuk proses penyembuhan maka dapat mengakibatkan 3 Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Desyanti et al. yang mengatakan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara diare dengan kejadian Selain faktor asupan dan infeksi. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) juga merupakan faktor utama penyebab stunting. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah berat bayi saat dilahirkan tidak mencapai 2500 gram tanpa memandang usia kehamilan. Bayi yang lahir dengan BBLR mempengaruhi sekitar 20% dari terjadinya stunting. 1 Hal ini sejalan dengan penelitian Setiawan et al. tahun 2018 yang mengatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara berat badan bayi lahir rendah Prosiding Seminar Nasional STIKES Syedza Saintika I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A SEMINAR NASIONAL SYEDZA SAINTIKA ISSN :2775-3530 AuKebijakan Strategi dan Penatalaksanaan Penanggulangan Covid di IndonesiaAy Web: https://jurnal. id/index. php/PSNSYS Oral Presentasi dengan kejadian BBLR di wilayah kerja puskesmas Andalas. Kabupaten Solok kecamatan, yang mana merupakan kabupaten dengan prevalensi stunting nomor dua tertinggi di Sumatera Barat. 8 Tiga kecamatan dengan prevalensi stunting tertinggi adalah Danau Kembar . %). Payung Sekaki . %), dan Pantai Cermin . %). Kecamatan Hiliran Gumanti merupakan salah satu kecamatan dengan kejadian stunting yang tinggi yaitu 25 Terdapat kenaikan prevalensi stunting di Kecamatan Hiliran Gumanti pada tahun 2017 yaitu 17 % dari pada tahun 2018 menjadi 25 Kejadian stunting bisa saja terus meningkat apabila faktor penyebab dari stunting tidak Maka dari itu, peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai AuFaktorfaktor yang berhubungan dengan kejadian Stunting pada anak usia 6-59 bulan di Nagari Talang Babungo. Kecamatan Hiliran Gumanti. Kabupaten SolokAy. BAHAN DAN METODE (AUPB) dengan bantuan kader posyandu untuk mengumpulkan ibu balita dan mengunjungi langsung rumah sampel apabila balita berhalangan pergi ke posyandu. Sedangkan data umur balita dikumpulkan dengan melakukan wawancara kepada ibu Hasil pengukuran TB dan umur kemudian diolah menggunakan WHO-Antro. Kemudian data dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu : 1 = stunting (< -2 SD) dan 2 = normal (Ou -2 SD s/d 2 SD). Data konsumsi protein dan zink dikumpulkan dengan melakukan wawancara menggunakan formulir SQ-FFQ kepada responden yang telah disesuaikan dengan bahan makanan didareah Wawancara dilakukan ke rumah warga, dengan tujuan responden atau ibu balita dapat menjawab pertanyaan dengan tenang tanpa dipengaruhi oleh orang lain. Setelah data diolah secara komputerisasi menggunakan program excel selanjutnya di kelompokkan menjadi dua kategori, yaitu : 1 = kurang (< 80 % AKG) dan 2 = cukup (Ou 80 % AKG). Sedangkan untuk data diare didapatkan melalui wawancara kepada ibu balita, menggunakan kuesioner yang terdiri dari dua pertanyaan untuk menggali data diare balita. Kemudian dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu: 1 = Ya . alita yang menderita diare satu bulan terakhi. dan 2 = Tidak . alita yang tidak menderita diare satu bulan Data berat badan lahir bayi didapatkan melalui observasi buku KIA atau catatan kelahiran dari bidan, kemudian dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu : 1 = BBLR (< 2500 gra. dan 2 = Normal (Ou 2500 gra. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan teknik pengumpulan sampel yaitu simple random sampling. Populasinya adalah seluruh anak usia 6-59 bulan di Nagari Talang Babungo. Sedangkan sampel penelitian yang diambil menggunakan simple random sampling berjumlah 72 orang. Data univariat dan bivariat diolah secara komputerisasi dengan menggunakan program SPSS, untuk data bivariat menggunakan Chi-square sebagai uji statistiknya. Penelitian ini dilakukan dari bulan Februari 2019 sampai Mei 2020. Kriteria inklusi dari sampel penelitian ini adalah . Anak berusia 6-59 bulan yang HASIL bertempat tinggal diwilayah penelitian, . Ibu Sampel dalam penelitian ini adalah anak anak balita bersedia untuk menjadi responden usia 6-59 bulan, sedangkan yang akan menjadi dalam penelitian ini, dan . Anak tidak sedang responden adalah ibu dari anak yang terpilih menjadi sampel. Jumlah sampel adalah Data yang dikumpulkan dalam penelitian sebanyak 72 orang. ini adalah status gizi, umur, konsumsi protein, konsumsi zink, diare dan berat badan lahir Status gizi anak balita ini diolah dari data tinggi badan dan umur balita. Pengukuran tinggi badan/panjang badan pada anak balita microtoice dan Alat Ukut Panjang Badan Prosiding Seminar Nasional STIKES Syedza Saintika I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A SEMINAR NASIONAL SYEDZA SAINTIKA ISSN :2775-3530 AuKebijakan Strategi dan Penatalaksanaan Penanggulangan Covid di IndonesiaAy Web: https://jurnal. id/index. php/PSNSYS Oral Presentasi Tabel 1. Distribusi Frekuensi Gambaran Umum Sampel di Nagari Talang Babungo. Kec. Hiliran Gumanti. Kab. Solok. Tahun 2019 Kategori Pekerjaan Kepala Keluarga Pedagang Buruh/Tani PNS Pensiunan Wiraswasta Total Pekerjaan Responden (Ib. Pedagang Buruh/Tani PNS Tidak Bekerja/IRT Total Pendidikan Kepala Keluarga Tidak Sekolah Tamat SD/MI Tamat SLTP/MTs Tamat SLTA/MA Tamat S1/S2/S3 Total Pendidikan Responden (Ib. Tidak sekolah Tamat SD/MI Tamat SLTP/MTS Tamat SLTA/MA Tamat D1/D2/D3 Tamat S1/S2/S3 Total Jenis Kelamin Sampel Laki-laki Perempuan Total Umur Sampel 6-12 bulan 13-24 bulan 25-36 bulan 37-48 bulan 49-59 bulan Total Sumber : Data diolah peneliti Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa lebih dari separoh . 2 %) kepala keluarga memiliki pekerjaan sebagai buruh/petani. Selanjutnya dari pekerjaan responden . terlihat bahwa lebih dari separoh . 8 %) responden memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah tangga (IRT). Sedangkan untuk pendidikan kepada keluarga dan responden . terlihat bahwa tamat SLTA/MA merupakan pendidikan terakhir yang terbanyak 7 % untuk kepala keluarga dan 34. % untuk responden . Untuk kategori jenis kelamin sampel terlihat bahwa sampel yang berjenis kelamin laki-laki . %) dan perempuan . %) sama banyak. Kemudian untuk kategori umur sampel dapat diketahui bahwa sampel dengan umur 6-12 bulan merupakan kelompok umur yang terbanyak menjadi sampel yaitu 26. 4 % kemudian diikuti umur 13-24 bulan sebanyak 25 %. Tabel 2. Gambaran Kejadian Stunting di Nagari Talang Babungo. Kec. Hiliran Gumanti. Kab. Solok. Tahun 2019 Kategori Stunting Normal Total Sumber : Data diolah peneliti Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa hampir setengahnya anak usia 6-59 bulan mengalami stunting . 7 %) dengan status gizi pendek . 7 %) dan sangat pendek . %). Tabel 3. Gambaran Kejadian Stunting Berdasarkan Kelompok Umur di Nagari Talang Babungo. Kec. Hiliran Gumanti. Kab. Solok. Tahun 2019 Prosiding Seminar Nasional STIKES Syedza Saintika Kategori 6-12 bulan 13-24 bulan 25-36 bulan IN I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A SEMINAR NASIONAL SYEDZA SAINTIKA ISSN :2775-3530 AuKebijakan Strategi dan Penatalaksanaan Penanggulangan Covid di IndonesiaAy Web: https://jurnal. id/index. php/PSNSYS Oral Presentasi 37-48 bulan 49-59 bulan Total Sumber : Data diolah peneliti Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui bahwa kelompok umur yang paling besar kejadian stunting adalah kelompok umur 1324 bulan yaitu sebanyak 33. 3 %. Tabel 4. Gambaran Asupan Zat Gizi di Nagari Talang Babungo. Kec. Hiliran Gumanti. Kab. Solok. Tahun 2019 Kategori Protein Kurang Cukup Total Zink Kurang Cukup Total Sumber : Data diolah peneliti Berdasarkan tabel 4 dapat diketahui bahwa kurang dari separoh asupan protein anak usia 6-59 bulan termasuk kategori kurang . 6 %). Untuk asupan zink anak usia 6-59 bulan kurang dari separoh termasuk kategori kurang . 5 %) Tabel 5. Gambaran Diare dan BBLR di Nagari Talang Babungo. Kec. Hiliran Gumanti. Kab. Solok. Tahun 2019 Kategori Diare Tidak Total Berat Badan Lahir BBLR Normal Total Sumber : Data diolah peneliti Berdasarkan tabel 5 dapat diketahui bahwa kurang dari separoh anak usia 6-59 mengalami diare . 8 %) dan hanya sebagian kecil anak usia 6-59 yang BBLR . 3 %). Tabel 6. Tabel Bivariat Variabel Kategori Kurang Cukup Asupan Protein Total Kurang Cukup Asupan Zink Total Tidak Diare Total BBLR Normal Berat Lahir Bayi Total Sumber : Data diolah penelit Status Gizi Stunting Normal Berdasarkan tabel 6 dapat diketahui bahwa anak usia 6-59 bulan yang asupan protein Total kurang mengalami stunting . 5 %), lebih rendah dibandingkan dengan anak yang Prosiding Seminar Nasional STIKES Syedza Saintika I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A SEMINAR NASIONAL SYEDZA SAINTIKA ISSN :2775-3530 AuKebijakan Strategi dan Penatalaksanaan Penanggulangan Covid di IndonesiaAy Web: https://jurnal. id/index. php/PSNSYS Oral Presentasi asupan protein cukup namun mengalami stunting . 3 %). Berdasarkan uji chi square didapatkan hasil bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara asupan protein dengan kejadian stunting pada anak usia 6-59 bulan dengan p > 0. Selanjutnya dapat diketahui bahwa anak usia 6-59 bulan yang asupan zink kurang mengalami stunting . 1 %), lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang asupan zink cukup namun mengalami stunting . %). Berdasarkan uji chi square didapatkan hasil bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara asupan zink dengan kejadian stunting pada anak usia 6-59 bulan dengan p > Dapat diketahui bahwa anak usia 6-59 bulan yang diare mengalami stunting . %), lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang tidak diare namun mengalami stunting . %). Berdasarkan hasil uji chi square didapatkan adanya hubungan yang bermakna antara diare dengan kejadian stunting pada anak usia 6-59 bulan dengan p < 0. Kemudian dapat diketahui bahwa anak usia 6-59 bulan dengan BBLR mengalami stunting 66. 7 %, lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang lahir normal namun mengalami stunting 39. Berdasarkan hasil uji chi square didapatkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara berat lahir bayi dengan kejadian stunting pada anak usia 6-59 bulan dengan p > 0. PEMBAHASAN Masih tingginya prevalensi stunting di Nagari Talang Babungo, hal ini disebabkan karena tingkat pendidikan ibu dan ayah sebagian besar hanya tamatan SLTA ke Rendahnya tingkat pendidikan berpengaruh kepada pengetahuan dan pola pikir orang tua. Menurut Fikawati et al. pada dasarnya pendidikan akan berpengaruh pada pengetahuan dan pola pikir seseorang yang selanjutnya akan berpengaruh kepada tindakan dan perilaku. Terutama pendidikan dan pengetahuan ibu akan berpengaruh kepada pola asuh keluarga termasuk perilaku pemberian ASI-Eksklusif, pemberian MP-ASI, serta menentukan pilihan makanan yang diberikan kepada anak. 14 Hal ini menyebabkan tidak adekuatnya asupan yang diberikan kepada anak, sehingga besar kemungkinan anak akan terkena stunting. Kejadian Stunting Hasil analisa univariat untuk kejadian stunting menunjukkan bahwa terdapat 41. anak usia 6-59 bulan yang termasuk stunting di Nagari Talang Babungo. Hal tersebut menunjukkan bahwa stunting pada anak usia 6-59 bulan telah menjadi masalah kesehatan masyarakat, karena berada diatas batas masalah yang telah ditetapkan oleh WHO yaitu sebesar 20 %. Berdasarkan data penimbangan massal tahun 2018, prevalensi stunting di Kecamatan Hiliran Gumanti sebesar 25 %, sehingga prevalensi stunting di Nagari Talang Babungo lebih tinggi apabila dibandingkan dengan Kecamatan Hiliran Gumanti. Tidak hanya didaerah tempat penelitian ini, ternyata stunting adalah masalah kesehatan masyarakat utama di hampir semua provinsi di Indonesia. Begitu juga apabila dibandingkan antara prevalensi stunting di Talang Babungo dengan Sumatera Barat dan Indonesia yang mana menurut data Profil Kesehatan Indonesia tahun 2018 angka stunting di Sumatera Barat 29. 9 % dan Indonesia 30. 8 %, prevalensi stunting di Talang Babungo masih lebih tinggi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Rahayu et al. dimana didapatkan kejadian stunting pada anak balita merupakan masalah kesehatan yaitu sebesar 47 %. Asupan Protein Asupan protein anak usia 6-59 bulan di Nagari Talang Babungo sebagian kecil kurang, yaitu sebanyak 23. 6 %, sisanya lagi 76. adalah anak usia 6-59 bulan dengan asupan protein cukup. Hal ini dikarenakan masih ada anak usia 6-59 bulan yang kurang mengandung protein tinggi. Berdasarkan hasil wawancara menggunakan metode SQ-FFQ, ditemukan adanya kecenderungan anak kurang mengkonsumsi bahan makanan dengan sumber protein yang berkualitas, seperti: daging, susu. Prosiding Seminar Nasional STIKES Syedza Saintika I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A SEMINAR NASIONAL SYEDZA SAINTIKA ISSN :2775-3530 AuKebijakan Strategi dan Penatalaksanaan Penanggulangan Covid di IndonesiaAy Web: https://jurnal. id/index. php/PSNSYS Oral Presentasi telur, ikan, dan hati. Sehingga menyebabkan asupan protein anak termasuk kategori kurang. Hasil penelitian Setiawan et al. yang dilakukan dikota Padang menunjukkan hal yang serupa dimana hanya sebagian kecil balita yang konsumsi proteinnya kurang, yaitu 9 %. Asupan Zink Asupan zink anak usia 6-59 bulan di Nagari Talang Babungo hampir setengahnya kurang, yaitu sebanyak 37. 5 %, sisanya lagi 62. adalah anak usia 6-59 bulan dengan asupan zink cukup. Hal ini dikarenakan masih ada anak usia 6-59 bulan yang kurang Kejadian Diare Sebanyak 27. 8% anak usia 6-59 bulan di Nagari Talang Babungo mengalami diare dan sisanya tidak mengalami diare sebanyak 72. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rosari et al. mengenai hubungan diare dengan status gizi balita dikelurahan Lubuk Buaya Kecamatan Koto Tangah Padang menunjukkan hal yang serupa dimana hampir setengahnya sampel mengalami diare yaitu sebesar 25. 16 Prevalensi diare yang ditemukan cukup tinggi, berdasarkan fakta yang ditemukan saat penelitian, anak yang mengalami diare disebabkan karena rendahnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di lingkungan rumah balita seperti tidak mencuci tangan dengan sabun setelah dan sebelum makan. Sehingga memungkinkan bakteri untuk masuk ke dalam tubuh anak saat anak tersebut makan. mengandung zink tinggi. Berdasarkan hasil wawancara menggunakan metode SQ-FFQ, ditemukan adanya kecenderungan anak kurang mengkonsumsi bahan makanan dengan sumber zink yang tinggi, dimana secara umum sumber zink juga merupakan sumber bahan makanan protein, seperti: daging, susu, telur, unggas, ikan, dan hati yang menyediakan 80 % dari total kebutuhan zink. Hasil penelitian Sundari et al. menunjukkan hal yang serupa dimana asupan zink sampel penelitian sebagian kecil kurang, yaitu sebanyak 29. saja, dengan demikian hal ini merupakan hal yang baik dikarenakan kecilnya angka BBLR di daerah tersebut. 13 Bayi dengan BBLR disebabkan oleh banyak faktor yaitu mulai dari faktor ibu selama hamil ibu mengalami anemia dan komplikasi kehamilan seperti anemia sel berat, perdarahan antepartum, hipertensi, preeklamsia berat, eklamsia, infeksi selama kehamilan . nfeksi kandung kemih dan ginja. , penyakit menular seperti HIV/AIDS, ibu dengan usia beresiko, jarak kehamilan dan kelahiran yang dekat, kehamilan ganda, riwayat BBLR sebelumnya, gizi buruk saat hamil, penggunaan narkotika dan pencandu Hubungan Asupan Protein dengan Kejadian Stunting Hasil analisa bivariat pada tabel 6 menunjukkan ada kecendrungan anak usia 659 bulan yang asupan proteinnya kurang mengalami stunting lebih tinggi, yaitu sebesar 5 % dibanding dengan anak yang jumlah asupan proteinnya cukup. Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara asupan protein dengan kejadian stunting pada anak usia 6-59 bulan di Nagari Talang Babungo, hal ini dapat dilihat dari p value 0. > 0. Hasil ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Rachmawati . di Surakarta Berat Badan Lahir Bayi Berdasarkan hasil univariat, hampir seluruh . 7 %) anak usia 6-59 bulan di Nagari Talang Babungo lahir dengan berat badan normal dan sisanya yang BBLR hanya 3 %. Menurut data Riskesdas tahun 2018 angka BBLR Indonesia yaitu 6. 2 %. Sehingga angka BBLR di Talang Babungo lebih tinggi apabila dibandingkan dengan angka BBLR Hasil penelitian Rahayu et al. mengenai riwayat berat badan lahir dengan kejadian stunting pada anak usia bawah dua tahun menunjukkan hal yang serupa dimana hanya sebagian kecil saja sampel yang saat lahir mengalami BBLR yaitu sebanyak 9. Prosiding Seminar Nasional STIKES Syedza Saintika I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A SEMINAR NASIONAL SYEDZA SAINTIKA ISSN :2775-3530 AuKebijakan Strategi dan Penatalaksanaan Penanggulangan Covid di IndonesiaAy Web: https://jurnal. id/index. php/PSNSYS Oral Presentasi hubungan antara rendahnya asupan protein pada balita dengan kejadian stunting di daerah 17 Namun, sejalan dengan penelitian Setiawan . di wilayah puskesmas Andalas Padang yang menunjukkan tidak adanya hubungan antara rendahnya asupan protein pada balita dengan kejadian stunting di daerah tersebut. Hasil penelitian ini didapatkan tidak adanya hubungan asupan protein dengan kejadian stunting. Serta balita yang konsumsi protein cukup cendrung lebih tinggi terkena Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: kualitas/mutu protein yang dikonsumsi maupun proses penyerapan protein di dalam tubuh. Walaupun asupan protein pada balita tersebut telah mencukupi namun bila ada penghambat dalam proses penyerapan protein di dalam tubuh, maka hal ini yang dapat menjadi penyebab balita dengan asupan protein yang cukup tetap mengalami kejadian Beberapa jenis protein, karena struktur fisika atau kimianya tidak dapat dicerna dan dikeluarkan melalui usus halus tanpa Disamping itu absorpsi asam amino bebas dan peptida mungkin tidak terjadi 100%, terutama bila fungsi usus halus terganggu, seperti pada infeksi saluran cerna atau kehadiran faktor-faktor antigizi seperti lesitin atau protein yang mencegah . Ketidaksesuaian disebabkan oleh metode pengukuran tingkat asupan nutrien dengan menggunakan SQ-FFQ. Menurut Sulastri, pengukuran asupan nutrien dengan menggunaka SQ-FFQ belum bisa Hal ini disebabkan karena metode yang dipengaruhi oleh faktor lain, seperti : daya ingat responden, waktu, serta suasana saat wawancara dilakukan. Hubungan Asupan Zink Kejadian Stunting Hasil analisa bivariat pada tabel 6 menunjukkan ada kecendrungan anak usia 659 bulan yang asupan zinknya kurang mengalami stunting lebih tinggi, yaitu sebesar 1 % dibanding dengan anak yang jumlah asupan proteinnya cukup. Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara asupan zink dengan kejadian stunting pada anak usia 6-59 bulan di Nagari Talang Babungo, hal ini dapat dilihat dari p 537 . < 0. Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dewi, et al. yang menyebutkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecukupan zink dengan stunting. 21 Namun, sejalan dengan penelitian Sundari et al. yang dilakukan di Kota Semarang yang menemukan tidak adanya hubungan tingkat kecukupan zink dengan stunting pada balita. Hasil penelitian didapatkan tidak adanya hubungan asupan zink dengan kejadian Menurut teori ada faktor yang mengatur absorpsi zink antara lain serat dan Serat dan asam fitat menghambat ketersediaan biologik zink. Sebaliknya, protein histidin tampaknya membantu absorpsi. Selain itu, tembaga yang dikonsumsi melebihi kebutuhan dapat menghambat absorpsi zink. Serta albumin dalam plasma yang rendah juga dapat mengganggu penyerapan zink. Albumin merupakan penentu utama absorpsi zink karena albumin adalah alat transpor utama Absorpsi zink menurun bila nilai albumin darah menurun, misalnya dalam keadaan gizi kurang atau kehamilan. Berdasarkan hal tersebut, walaupun balita memiliki asupan zink yang cukup akan tetapi ada faktor yang menghambat penyerapannya seperti nilai albumin darah rendah maka balita tersebut masih berpotensi untuk mengalami kejadian stunting. Prosiding Seminar Nasional STIKES Syedza Saintika I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A SEMINAR NASIONAL SYEDZA SAINTIKA ISSN :2775-3530 AuKebijakan Strategi dan Penatalaksanaan Penanggulangan Covid di IndonesiaAy Web: https://jurnal. id/index. php/PSNSYS Oral Presentasi Ketidaksesuaian ini juga dapat disebabkan oleh metode pengukuran tingkat asupan nutrien dengan menggunakan SQ-FFQ. Menurut Sulastri, pengukuran asupan nutrien dengan menggunaka SQ-FFQ belum bisa Hal ini disebabkan karena metode yang dipengaruhi oleh faktor lain, seperti : daya ingat responden, waktu, serta suasana saat wawancara dilakukan. Hubungan Diare dengan Kejadian Stunting Pada tabel 6 memperlihatkan hasil analisa bivariat, yaitu proporsi anak usia 6-59 bulan yang mengalami diare lebih banyak yang memiliki status gizi stunting yaitu sebesar 85 % dibandingkan dengan anak yang tidak mengalami diare hanya sebesar 25 %. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara diare dengan kejadian stunting pada anak usia 6-59 bulan di Nagari Talang Babungo, hal ini dapat dilihat dari p 000 . < 0. Stunting bisa disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya adalah penyakit infeksi pada anak tersebut. Penyakit infeksi yang sering terjadi pada anakanak salah satunya diare. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Desyanti . yang menyebutkan terdapat hubungan yang signifikan antara diare dengan kejadian Terdapat dua kemungkinan bagaimana hubungan keduanya berlangsung . status gizi yang buruk dapat menyebabkan gangguan imun tubuh dan mengurangi resistensi terhadap infeksi, dan . paparan penyakit menular dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan, seperti anoreksia, malabsorpsi zat gizi, dan peningkatan metabolisme energi serta zat gizi lainnya. Anak yang tinggal di kondisi dengan sanitasi yang buruk akan menyebabkan masalah penyakit dan infeksi disaluran cerna. Diare timbul akibat sanitasi yang buruk. Diare memiliki peranan dalam kejadian stunting. Anak yang mengalami stunting mengalami episode kejadian diare yang sering. Diare berkaitan dengan kondisi bakteri patogen yang tinggi didalam saluran pencernaan. Komposisi mikrobiota saluran cerna pada saat diare berubah menjadi lebih tinggi komposisi bakteri patogennya dibandingkan dengan probiotik didalam saluran cerna. Penelitian yang dilakukan oleh Helmyati et al. mengenai keadaan mikrobiota saluran cerna pada anak sekolah dasar yang mengalami stunting di Lombok Barat menyimpulkan bahwa jumlah bakteri Lactobacillus pada anak stunting lebih sedikit dibandingkan anak yang status gizinya normal. Sedangkan jumlah bakteri E Coli lebih tinggi pada kelompok anak stunting. Hubungan Berat Badan Lahir Bayi dengan Kejadian Stunting Pada tabel 6 memperlihatkan hasil analisa bivariat, yaitu proporsi anak usia 6-59 bulan dengan berat badan lahir rendah (BBLR) lebih banyak yang memiliki status gizi stunting yaitu sebesar 66. 7 % dibandingkan dengan balita yang berat lahirnya normal hanya 4 %. Hal ini juga terdapat pada penelitian Ningrum et al . menunjukkan bahwa kecendrungan anak stunting lebih banyak pada balita dengan berat lahir < 2500 gr dibandingkan dengan yang berat lahir nya Ou 2500 gr. Dari hasil uji statistik yang telah dilakukan diperoleh p value 0. > 0. dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara berat badan lahir bayi dengan kejadian stunting pada anak usia 6-59 bulan di Nagari Talang Babungo. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmadi . bahwa Prosiding Seminar Nasional STIKES Syedza Saintika I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A SEMINAR NASIONAL SYEDZA SAINTIKA ISSN :2775-3530 AuKebijakan Strategi dan Penatalaksanaan Penanggulangan Covid di IndonesiaAy Web: https://jurnal. id/index. php/PSNSYS Oral Presentasi tidak terdapat hubungan yang bermakna . antara BBLR dengan kejadian stunting di Provinsi Lampung. Hal ini dapat disebabkan karena dalam penelitian ini kejadian stunting diukur ketika anak sudah berumur 6-59 bulan sedangkan berat badan lahir bayi diukur pada saat bayi lahir sehingga dalam kurun waktu tersebut bayi yang BBLR mempunyai waktu dan kesempatan yang cukup untuk tumbuh dan Hal ini dimungkinkan karena adanya berbagai program intervensi untuk peningkatan berat badan bayi dengan BBLR masyarakat yang lebih baik dalam menangani masalah kekurangan berat badan pada anak. Berbagai upaya perbaikan gizi pada bayi khususnya untuk meningkatkan berat badan bagi tampaknya cukup berhasil sehingga dalam penelitian ini anak usia 6-59 bulan yang status gizinya normal proporsinya tidak jauh berbeda dengan bayi yang lahir BBLR dan bayi yang lahir normal. Terlebih lagi menurut Wibowo Soetjiningsih menyebutkan bahwa bayi yang lahir dengan BBLR akan lebih cepat bertambah berat seakan-akan ketertinggalan hal ini diperkirakan karena kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi oleh anak tersebut. Jika anak dengan BBLR menerima asupan gizi yang adekuat maka pertumbuhan normal akan Jika pada 6 bulan awal balita dapat kemungkinan balita tersebut dapat tumbuh secara normal. KESIMPULAN DAN SARAN balita terhindar dari diare, dikarenakan diare berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di Nagari Talang Babungo. Disarankan agar balita mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung protein dan zink yang tinggi, seperti: daging, susu, telur, ikan dan hati dikarenakan masih ditemukan balita yang kurang mengkonsumsi bahan makanan ini sehingga menyebabkan konsumsi protein dan zink balita menjadi kurang. Hasil penelitian diperoleh kejadian 7 %, asupan protein yang kurang 6 %, asupan zink yang kurang 37. 5 %, anak yang mengalami diare 27. 8 %, dan anak dengan BBLR sebesar 8. 3 %. Uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara stunting dengan asupan protein, asupan zink, dan kejadian BBLR. Sedangkan terdapat hubungan yang bermakna antara stunting dengan kejadian diare dengan p 000 . < 0. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara antara stunting dengan asupan protein, asupan zink, dan kejadian BBLR. Sedangkan terdapat hubungan yang bermakna antara stunting dengan kejadian diare. Disarankan kepada Dinas Kesehatan dan Puskesmas terutama penyuluhan mengenai PHBS terutama pentingnya mencuci tangan dengan sabun agar DAFTAR PUSTAKA