e-ISSN:2528-0759; p-ISSN:2085-5842 JIPK. Volume 11. No 1. April 2019 DOI=10.20473/jipk.v11i1.12270 Available online at https://e-journal.unair.ac.id/JIPK/index JIPK JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN Research Article Pengaruh Suhu Penyimpanan Terhadap Kerusakan Spora Myxobolus koi The Effect of Storage Temperature in Myxobolus koi Spore Damage Gunanti Mahasri1*, Titom Gusmana Putra Perdana2 dan Kusnoto3 1 Departemen Manajemen Kesehatan Ikan dan Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Air langga, Surabaya 60115 2 Program S1 Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Airlangga, Surabaya 60115 3 Departemen Parasitologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga, Surabaya 60115 ARTICLE INFO Received: March 11, 2019 Accepted: April 30, 2019 *) Corresponding author: E-mail: mahasritot@gmail.com Kata Kunci: Kerusakan spora, Myxobolus koi, penyimpanan, suhu. Keywords: Spore damage, Myxobolus koi, Storage, Temperature Abstrak Spora Myxobolus koi dapat mengalami kerusakan apabila disimpan dalam kondisi penyimpanan yang kurang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu penyimpanan terhadap kerusakan spora Myxobolus koi serta untuk mengetahui suhu optimum untuk penyimpanannya. Penelitian ini dilakukan dengan metode rancangan acak lengkap (RAL) sebagai rancangan percobaan. Perlakuan yang digunakan adalah penyimpanan spora Myxobolus koi pada suhu kamar (28-34) oC, Refrigerator (2-4) oC, dan Freezer (-5 hingga -10) o C, dengan ulangan sebanyak 6 kali. Penyimpanan ini dilakukan selama 30 hari. Parameter utama yang diamati adalah prosentase spora Myxobolus koi yang rusak. Parameter penunjang yang diamati adalah tipe kerusakan spora Myxobolus koi. Analisis data menggunakan ANAVA (Analisis Varian) dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan untuk mengetahui suhu optimum untuk penyimpanan spora Myxobolus koi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa peyimpanan pada suhu yang berbeda berpengaruh terhadap prosentase kerusakan spora Myxobolus koi. Kerusakan spora Myxobolus koi tertinggi terjadi pada suhu kamar (2834) oC mencapai angka 68,91% dan nilai kerusakan terrendah terjadi pada refrigerator (2-4) o C yaitu 29,91%. Spora Myxobolus koi dapat disimpan pada refrigerator dan lemari pembeku. Abstract Myxobolus koi spores can be damaged if stored in poor conditions. This study aimed to determine the effect of storage temperature on Myxobolus koi spores and to determine the optimum temperature for storage. This research was conducted using a completely randomized design method (CRD) as an experimental design. The treatments used were storaged Myxobolus koi spores at room temperature (28-34oC), Refrigerator (2-4oC), and Freezers (-5 to -10oC), with replications 6 times. This storage was carried out for 30 days. The main parameter observed was the percentage of damaged Myxobolus koi spores. The supporting parameters observed were the type of Myxobolus koi spore damage. Data analysis using ANAVA (Analysis of Variance) and continued with Duncan’s Multiple Distance Test to find out the optimum temperature for storage of Myxobolus koi spores. Based on the results of the study, it was found that storage at different temperatures affected the percentage of damage to Myxobolus koi spores. The highest damage of Myxobolus koi spores occurred at room temperature (28-34oC) reaching 68.91% and the lowest damage value occurred at refrigerator (2-4oC) which was 29.91%. Myxobolus koi spores can be stored in a refrigerator and freezer Cite this as: Gunanti, M., Titom, G., Putra, P., & Kusnoto. (2019). Pengaruh Suhu Penyimpanan Terhadap Kerusakan Spora Myxobolus koi. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 11(1):28–33. http://doi.org/10.20473/jipk.v11i1.12270 JIPK (ISSN: 2528-07597), Nationally Accredited Journal of Second Grade (Sinta 2) by Ministry of Research, Technology and Higher Education of The Republic of Indonesia. Decree No: 10/E/KPT/2018 Copyright ©2019 Universitas Airlangga April 2019 28 Gunanti et al., / JIPK, 11(1): 28-33 1.Pendahuluan Myxobolus koi merupakan parasit yang menyebabkan Myxobolusis pada ikan mas. Parasit dari filum myxozoa merupakan parasit pada ikan yang membentuk spora sebagai salah satu stadia perkembangannya (Goater et al., 2014). Spora Myxobolus mempunyai bentuk ellipsoid, ovoid atau membulat yang terlihat dari sisi valvular dan berbentuk biconvex dari sisi sutural valvula (Lom and Dykova, 2013). Panjang rata rata spora 10,5 µm (micron), lebar 6,6 µm dan ketebalan 3,9 µm (Caffara et al., 2009). Gejala klinis ikan yang terserang parasit ini biasanya terdapat nodul berwarna putih kemerahan pada insang yang merupakan kumpulan dari ribuan spora (Witamtama et al., 2019). Kasus myxobolusis terjadi di berbagai Negara. Maciel et al. (2011) menemukan Myxobolus dengan prevalensi rendah (5,6%) pada ikan bawal air tawar yang dibudidayakan di Sao Paulo, Brazil. Kasus myxobolusis dilaporkan terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Tahun 2002 telah terjadi kematian massal ikan mas di daerah Sleman dan Kulon Progo yang disebabkan oleh parasit Myxobolus sp. dan Henneguya sp. sehingga kerugian yang dialami pembudidaya ikan cukup besar hingga mencapai 60% ikan mengalami kematian (Dewi, 2010). Spora adalah stadia dewasa dari kelas myxosporea. Spora Myxobolus koi dapat mengalami kerusakan apabila disimpan dalam kondisi penyimpanan yang kurang baik. Kerusakan spora pada umumnya dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya suhu dan bahan kimia. Smith et al. (2002) menyatakan bahwa Myxobolus cerebralis (dalam penelitian ini yang diuji adalah Myxobolus koi) mengalami kematian pada suhu 9 °C dan 14 °C setelah penyimpanan selama 72 jam. Li and Shi (2013) menyatakan bahwa suhu -4 hingga -21 °C dapat menyebabkan spora menjadi dehidrasi. Leiro et al. (2012) menyatakan bahwa spora dari microsporidia, rusak pada perlakuan dalam larutan ethanol 70%. Bahan kimia ethanol merupakan denaturan protein, suatu sifat yang terutama memberikan aktivitas anti mikrobial. Disamping itu, ethanol juga merupakan pelarut lipid sehingga dapat merusak membran sel dengan mekanisme kerja mempresipitasi protein dan melarutkan lemak pada membran sel dan mendenaturasi biomolekul (DNA, RNA, Lipid) yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan mikrobia (Adji and Larashanty, 2007). Kerusakan spora Myxobolus menjadi salah satu masalah dalam pengembangan penelitian tentang pengendalian parasit tersebut. Sebelumnya tidak ada penelitian yang berusaha mencari jawaban tentang kerusakan spora Myxobolus koi ini terutama kerusakan 29 Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan pada suhu yang berbeda. Pengembangan penelitian tentang kerusakan spora Myxobolus merupakan hal penting karena kurangnya sumber yang menjelaskan tentang cara menangani kerusakannya sebagai acuan untuk penelitian lebih lanjut tentang pengendalian parasit tersebut. Selama ini untuk mempertahankan agar tidak terjadi kerusakan spora, Myxobolus harus disimpan bersama dengan ikan yang diinfeksinya. 2. Material dan Metode 2.1 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Spora Myxobolus koi didapat dari ikan koi yang positif terinfeksi Myxobolus koi, Aquadest dan minyak emersi. Untuk penyimpanan spora digunakan Refrigerator. 2.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium basah Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei – Juni 2016. 2.3 Rancangan Penelitian Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang dilakukan secara eksperimental. Penelitian ini terdiri dari tiga perlakuan, yakni : A perlakuan suhu kamar (28 – 34) °C, B perlakuan pada suhu refrigerator (2 – 4) °C, dan C perlakuan pada suhu lemari pembeku (-5 hingga -10) °C dengan 6 kali ulangan, sehingga terdapat 18 sampel perlakuan yakni A1, A2, A3, A4, A5, A6, B1, B2, B3, B4, B5, B6, C1, C2, C3, C4, C5, C6. 2.4 Prosedur kerja Ikan yang positif terinfeksi Myxobolus koi dibersihkan dengan air, lalu spora diambil dengan cara mengambil nodul pada insang ikan koi dengan menggunakan pinset dan scapel secara perlahan agar tidak pecah. Nodul diletakkan dalam cawan petri berisi aquadest lalu dipotong beberapa bagian untuk mengeluarkan spora, ditambah dengan air dan di dihitung. Penghitungan spora dilakukan dengan cara mengambil endapan dengan pipet sebanyak 1 tetes pada parit kaca haemocytometer yang telah diberi cover glass di atasnya dan dibiarkan sebentar agar larutan menyebar rata ke seluruh ruang. Penghitungan dengan metode big block yaitu penghitungan menggunakan petak empat besar. Hasil dari masing – masing petak (nA, nB, nC, nD) tersebut dijumlahkan dan dibagi empat, hasil pembagian dikalikan dengan 10.000 (Yusuf et al., 2019, 2009). Kepadatan spora/ml = (nA + nB + nC + nD / 4) x 10.000 Keterangan : nA, nB, nC, nD = jumlah spora pada blok A, B, C, D JIPK. Volume 11. No 1. April 2019 / Pengaruh Suhu Penyimpanan Terhadap Kerusakan Spora Myxobolus koi. Gambar 1. Tipe kerusakan spora Myxobolus koi. Keterangan : a. Kerusakan pada dinding spora Myxobolus koi (tanda panah). Perbesaran 1000x.; b. Spora Myxobolus koi mengkerut (tanda panah). Perbesaran 1000x.; c. Kerusakan pada kapsul polar Myxobolus koi (tanda panah). Perbesaran 1000x; d.Spora Myxobolus koi kosong tidak berisi (tanda panah). Perbesaran 1000x Setelah diketahui jumlah spora maka dilakukan pengenceran, hingga didapatkan jumlah spora sebanyak 200 spora/ml. Spora Myxobolus koi yang telah dipreparasi dan diseleksi kemudian dimasukkan kedalam microtube sejumlah 3 perlakuan dan 6 ulangan. Setelah itu spora di simpan dalam 3 perlakuan yakni perlakuan suhu kamar antara 28-34 °C, suhu refrigerator 2-4 °C, dan suhu lemari pembeku -5 hingga -10 °C. Penyimpanan ini dilakukan selama 30 hari. Jumlah spora pada tiap perlakuan adalah 200 spora. Sebelum pengamatan, dilakukan proses thawing pada air mengalir selama tiga menit dari perlakuan yang berada di dalam lemari pembeku. Pengamatan kerusakan spora Myxobolus dilakukan dengan perbesaran 1000x menggunakan minyak imersi. Data yang diambil adalah total spora Myxobolus yang dalam keadaan rusak dan dinyatakan dalam bentuk persentase. Parameter utama yang diamati adalah persentase spora Myxobolus yang rusak. Parameter penunjang adalah tipe kerusakan spora Myxobolus koi. 2.5 Analisis Data Data yang didapatkan berupa persentase spora Copyright ©2019 Universitas Airlangga Myxobolus yang rusak. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANAVA) yang dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (Duncan’s Multiple Range Test) 5%. 3. Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat tipe kerusakan spora yaitu dinding spora rusak, spora mengecil, kapsul polar rusak dan spora kosong Empat tipe kerusakan spora Myxobolus koi dapat dilihat pada Gambar 1. Tipe kerusakan yang terjadi pada dinding spora umumnya adalah dinding spora putus atau pecah. Sedangkan tipe kerusakan spora yang mengecil atau mengkerut dapat disebut juga dengan atrofi terlihat bahwa dinding spora menjadi kisut dan bentuknya tidak serta lebar spora berkurang. Kemudian tipe berikutnya adalah rusaknya kapsul polar, dimana pada kondisi ini kapsul polar terlihat mengalami dislokasi, putus atau hilang salah satu. Tipe berikutnya adalah spora terlihat kosong atau tidak berisi sama sekali. Dilihat dari tipe kerusakan spora nampak bahwa dinding spora mengalami kerusakan berupa spora April 2019 30 Gunanti et al., / JIPK, 11(1): 28-33 yang mengkerut (Gambar 1b). Hal ini menunjukkan bahwa spora yang disimpan pada suhu rendah (-4 hingga -10 °C) menjadi keras karena spora mengalami dehidrasi dan kekurangan cairan sehingga spora menjadi mengkerut. Suhu juga dapat menyebabkan kerusakan fisiologis spora yang lain berupa kapsul polar mengalami kerusakan berupa dislokasi dan hancur (Gambar 1c) sehingga akhirnya mengalami lisis (spora kosong atau tidak ada isinya sama sekali. Gambar 1d) atau dinding spora yang putus atau hancur (Gambar 1a) kondisi ini menunjukkan bahwa spora tidak dapat tumbuh dan mengalami kematian. Hal ini sesuai dengan pendapat Li and Shi (2013) bahwa dinding spora dapat mengalami pembekuan sehingga dapat mempengaruhi kondisi fisiologis spora Myxobolus koi. Hasil analisis statistik dari data kerusakan spora dengan ANAVA selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2 yang menunjukkan bahwa hasil uji ANAVA menunjukkan bahwa penyimpanan pada tempat yang berbeda berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap kerusakan spora Myxobolus koi. Untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing perlakuan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil Uji Jarak Berganda Duncan menunjukkan bahwa jumlah spora Myxobolus koi yang mengalami kerusakan tertinggi terjadi pada perlakuan A atau pada suhu kamar (28-34) °C yaitu sebesar 68,91%. Kerusakan spora terendah terjadi pada perlakuan B yakni 29,91% akan tetapi tidak bebeda nyata dengan perlakuan C sebanyak 41,41%. Tabel 1. Rata-rata kerusakan spora Perlakuan Jumlah total spora Jumlah ratarata Spora yang rusak Jumlah ratarata spora yang masih utuh Rata-rata Persentase Kerusakan Spora (%) Suhu kamar (28-34oC) 200 138 62 68,91 Refrigerator (2-4oC) 200 60 140 Lemari pembeku (-5 s/d -10 oC) 200 83 117 29,91 41,41 Tabel 2. Persentase rata-rata kerusakan spora Myxobolus koi Perlakuan Kerusakan spora Myxobolus koi (%) ± Standar Deviasi Perlakuan Suhu Kamar (28 – 34) °C 68,91a ± 9,58 Perlakuan Refrigerator (2 – 4) °C 29,91b ± 10,02 Perlakuan Lemari pembeku (-5 s/d -10) °C 41,41b ± 8,92 Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (p<0,05) Data jumlah rata-rata kerusakan spora Myxobolus koi setiap perlakuan yang disimpan suhu dapat dilihat pada Tabel 1 yang menunjukkan bahwa persentase ratarata kerusakan spora Myxobolus koi berkisar 29,91% - 68,91%. Data tersebut kemudian dianalisis statistik menggunakan ANAVA yang dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf nyata <0,05. 31 Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Hasil penghitungan jumlah kerusakan spora Myxobolus koi yang disimpan pada suhu kamar (2834) °C, suhu refrigerator (2-4) °C dan suhu lemari pembeku (-5 hingga -10) °C serta disimpan selama 30 hari menunjukkan bahwa jumlah kerusakan spora yang tertinggi adalah pada suhu kamar atau perlakuan A mencapai nilai 68,91% lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan B yakni pada refrigerator dan JIPK. Volume 11. No 1. April 2019 / Pengaruh Suhu Penyimpanan Terhadap Kerusakan Spora Myxobolus koi. perlakuan C yang disimpan dalam lemari pembeku yaitu sebanyak 29,91% dan 41,41% (Tabel 2). Kerusakan spora terbesar terjadi pada perlakuan A (suhu kamar). Hal ini disebabkan oleh suhu kamar merupakan suhu tinggi (28-34) °C dan spora tidak dapat tumbuh dan bahkan dapat mengalami kematian karena spora kekurangan cairan. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa Myxobolus cerebralis tidak dapat tumbuh dan mati pada suhu di atas 20 oC (El-Matbouli et al., 1999). Suhu Refrigerator (2-4) °C merupakan suhu optimum untuk penyimpanan spora Myxobolus koi. Hal ini dikarenakan pada suhu rendah air dan bahan mineral lain menjadi mudah diserap oleh organisme. Sesuai dengan pernyataan Fernandez et al (2010) bahwa pada suhu rendah terjadi penurunan gerakan molekul yang menyebabkan peningkatan kapasitas pengikatan air sebagai bahan penyerap sehingga air menjadi mudah diserap oleh organisme. Penyimpanan suhu rendah dapat memperpanjang masa hidup jaringan dan menghambat aktivitas mikroorganisme (Koswara 2009). Disamping itu pada suhu yang terlalu rendah (-4 hingga -21 °C) dapat membekukan dinding spora, sehingga spora menjadi kekurangan cairan dan dinding spora menjadi keras, karena perbedaan tekanan maka dinding dapat mengalami kerusakan (Li and Shi, 2013). Suhu yang terlalu rendah juga menyebabkan proses metabolisme terganggu, hal ini dikarenakan pada suhu dibawah 0 °C spora melepaskan panas hingga suhu di dalam spora tersebut dan di luar spora menjadi sama dan akhirnya membeku. Hal ini sesuai dengan pendapat Rahayoe (2004) bahwa Pendinginan adalah proses pengambilan panas dari suatu benda sehingga suhunya akan menjadi lebih rendah dari sekelilingnya, apabila medium pendingin mengadakan kontak dengan sel maka terjadilah pemindahan panas (energi) dari sel tersebut ke medium pendingin tadi sampai keduanya mempunyai suhu yang sama atau hampir sama. 4. Kesimpulan Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa Untuk mempertahanan kualitas, maka spora Myxobolus koi dapat disimpan pada refrigerator dan lemari pembeku. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah spora Myxobolus koi yang disimpan dan tidak mengalami kerusakan masih bersifat infektif terhadap ikan. Walaupun penyimpanan spora Myxobolus koi pada suhu refrigerator tidak berbeda nyata dengan penyimpanan pada lemari pembeku, tetapi untuk menyimpan spora Myxobolus koi disarankan dilakukan pada suhu refrigerator (2-4) °C karena persentase spora yang rusak adalah yang paling rendah. Copyright ©2019 Universitas Airlangga DAFTAR PUSTAKA Adji, D., & Larashanty, H. (2007). Perbandingan Efektivitas Sterilisasi Alkohol 70%, Inframerah, Otoklaf dan Ozon terhadap Pertumbuhan Bakteri Bacillus subtilis. Jurnal Sain Veteriner, 25(1). : 17 – 24 Caffara, M., Raimondi, E., Florio, D., Marcer, F., Quaglio, F., & Fioravanti, M. L. (2009). The life cycle of Myxobolus lentisuturalis (Myxozoa: Myxobolidae), from goldfish (Carassius auratus auratus), involves a Raabeia-type actinospore. Folia Parasitologica (Prague), 56(1): 6 – 12. Dewi, T. C. (2010). Studi myxobolus sp. pada ikan mas (Cyprinus carpio) secara konvensional dan scanning electron microscope (SEM) (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada). El-Matbouli, M., McDowell, T. S., Antonio, D. B., Andree, K. B., & Hedrick, R. P. (1999). Effect of water temperature on the development, release and survival of the triactinomyxon stage of Myxobolus cerebralis in its oligochaete host. International Journal for Parasitology, 29(4): 627641. Fernández-Sandoval, M. T., Ortiz-Garcia, M., Galindo, E., & Serrano-Carreón, L. (2012). Cellular damage during drying and storage of Trichoderma harzianum spores. Process Biochemistry, 47(2): 186-194. Goater, T. M., Goater, C. P., & Esch, G. W. (2014). Parasitism: the diversity and ecology of animal parasites. Cambridge University Press. Koswara, S. (2009). Pengolahan Pangan pada Suhu Rendah. Retrivied July 7, 2015, from https://drive.google.com/file/d/16WAivHgJ7z90NODGSPxCrpn3r4C7WgEy/view Leiro, J. M., Piazzon, C., Domínguez, B., Mallo, N., & Lamas, J. (2012). Evaluation of some physical and chemical treatments for inactivating microsporidian spores isolated from fish. International journal of food microbiology, 156(2): 152-160. Li, Y., & Shi, L. (2014). Effect of desiccation level and storage temperature on green spore viability of Osmunda japonica. Cryobiology, 68(3): 446450. April 2019 32 Gunanti et al., / JIPK, 11(1): 28-33 Lom, J., & Dyková, I. (2013). Myxozoan genera: definition and notes on taxonomy, life-cycle terminology and pathogenic species. Folia parasitologica, 53(1): 1-36. Maciel, P. O., Affonso, E. G., Boijink, C. D. L., Tavares-Dias, M., & Inoue, L. A. K. A. (2011). Myxobolus sp.(Myxozoa) in the circulating blood of Colossoma macropomum (Osteichthyes, Characidae). Revista Brasileira de Parasitologia Veterinária, 20(1): 82-84. Rahayoe, S. 2004. Bahan Ajar Teknik Pendinginan dan Pembekuan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. hal 4. Smith, M. A., Wagner, E. J., & Howa, A. (2002). The effect of water characteristics on viability of the Myxobolus cerebralis actinospore. In American Fisheries Society Symposium (pp. 227-238). American Fisheries Society. Yusuf, M., Mahasri, G., & Mufasirin, M. (2019). Analisis Respons Imun Ikan Koi (Cyprinus carpio Koi) yang Divaksin dengan Whole Protein Spora Myxobolus koi sebagai Kandidat Vaksin Myxobolusis. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 7(1): 71-78. Witantama, A., Mahasri, G., & Subekti, S. (2019). Potensi Tertularnya Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) Umur Yang Berbeda Terhadap Myxobolus koi Pada Infeksi Buatan Dengan Metode Tabur Spora. Journal of Aquaculture and Fish Health, 5(1): 21-28. 33 Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan