5th Conference on Research and Community Services STKIP PGRI Jombang AuPeningkatan Kinerja Dosen Melalui Penelitian dan Pengabdian MasyarakatAy 4 Oktober 2023 BENTUK TUTURAN IMPERATIF FORMAL ATAU STRUKTURAL DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMP A. WAHID HASYIM TEBUIRENG CUKIR DIWEK JOMBANG Nurma Alfinda Walidah*1. Heny Sulistyowati2. Ahmad Sauqi AhyaAo3 1,2,3 STKIP PGRI Jombang * alfindawalidah@gmail. com, 2heny. sulistyowati@gmail. ahmadsauqiahya@yahoo. Abstract Researchers conducted research with the title imperative speech in learning Indonesian at SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng Cukir Diwek Jombang because SMP A. Wahid Hasyim is one of the formal schools under the auspices of the Tebuireng Islamic boarding school foundation or commonly known as the KH foundation. Hasyim Asy'ari, so that students and teachers are not only from the Jombang area but from various regions such as Kalimantan. Jakarta. Surabaya and so on. Consisting of various regions causes the speech that occurs in learning to vary with different languages. The aim is to determine the form of formal or structural imperative speech in Indonesian language learning at SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng Cukir Diwek Jombang. Researchers use qualitative research in the form of observation or natural observation with descriptive methods. Researchers found active formal or structural imperatives that use the politeness marker affix -lah and passive formal or structural imperatives that use the politeness marker affix -lah in the research that has been carried out. Each politeness marker contained in speech influences the speech act that occurs. Keywords: Speech. Imperative. Formal or Structural. Rahardi Abstrak Peneliti melakukan penelitian dengan judul tuturan imperatif dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng Cukir Diwek Jombang karena SMP A. Wahid Hasyim merupakan salah satu sekolah formal yang berada di bawah naungan yayasan pondok pesantren Tebuireng atau yang biasa dikenal dengan sebutan yayasan KH. Hasyim AsyAoari, sehingga siswa dan guru tidak hanya dari wilayah Jombang tetapi dari berbagai wilayah seperti Kalimantan. Jakarta. Surabaya dan Terdiri dari berbagai wilayah menyebabkan tuturan-tuturan yang terjadi dalam pembelajaran beranekargam dengan bahasa-bahasa yang berbeda. Tujuannya adalah untuk mengetahui bentuk tuturan imperatif formal atau struktural dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng Cukir Diwek Jombang. Peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif berupa observasi atau pengamatan alami dengan metode deskriptif. Peneliti menemukan imperatif formal atau struktural aktif yang menggunakan penanda kesantunan imbuhan Aelah dan imperatif formal atau struktural pasif yang menggunakan penanda kesantunan imbuhan -di dalam penelian yang telah dilakukan. Adapun setiap penanda kesantunan yang terdapat pada tuturan mempengaruhi tindak tutur yang terjadi. Kata kunci Tuturan. Imperatif,Formal atau Struktural. Rahardi PENDAHULUAN Bahasa menjadi salah satu sarana manusia dalam berkomunikasi, agar terjadi interaksi dari dua arah atau lebih. Manusia menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari untuk berinteraksi, bekerja sama dan mendeskripsikan diri sendiri seperti perasaan marah, sedih, bahagia dan lain-lainnya. Manusia menggunakan bahasa kapan pun dan di manapun, sehingga bahasa menjadi sarana penting bagi kehidupan masyarakat multikultural untuk saling Bahasa memiliki sifat heterogen yang artinya dapat digabungkan, sehingga kajian ilmu pragmatik dapat digabungkan dengan kajian ilmu lainnya salah satunya dengan kajian ilmu sosiolingustik. Sosiolingustik merupakan kajian ilmu yang membahas tentang bahasa di dalam suatu masyarakat (Saputra 2020:. Sosio berarti masyarakat sedangkan lingusitik adalah bahasa, ketika digabungkan menjadi sosiolingustik menjadi ilmu yang membahasa bahasa dalam lingkup masyarakat atau dalam lingkup sosial. Pengabungan antara disiplin ilmu pragmatik dan sosiologi menjadi sosiopragmatik yaitu sebuah ilmu yang membahas tentang tuturan dalam konteks sosial. Dike (Damarsasi, 2017:. menjelaskan bahwa sosiopragmatik merupakan ilmu yang membahas tentang penggunaan bahasa dan dikaitkan dengan konteks sosial yang ada disekitar. Penggunaan bahasa sebagai tuturan yang memperhatikan aspek-aspek masyarakat bahasa. Rahardi . menguatkan konsep sosiopragmatik yaitu ilmu yang mempelajari kondisi penggunaan bahasa yang ditentukan oleh konteks sosial dan konteks situasional sebagai wadahnya. Konteks sosial adalah konteks yang timbul akibat dari munculnya interaksi antara anggota masyarakat dalam suatu budaya tertentu atau dalam masyarakat tertentu. konteks situasional adalah konteks yang faktor penentunya merupakan kedudukan dari anggota-anggota yang ada di dalam masyarakat dan budaya tertentu. Dengan demikian, sosiopragmatik merupakan ilmu yang membahas tentang penggunaan bahasa kemudian dikaitkan atau dijabarkan lebih luas dengan konteks sosial atau yang muncul akibat dari interaksi antara anggota masyarakat dan konteks situasional atau yang muncul akibat dari faktor kedudukan anggota yang ada pada masyarakat tersebut. Tuturan yang terjadi dalam komunikasi beranekaragam seperti tuturan deklaratif . uturan berupa berit. , tuturan introgatif . uturan berupa tany. , tuturan ekslamatif . uturan berupa serua. , tuturan emfatik . uturan berupa penega. dan tuturan imperatif . uturan berupa perinta. Tuturan yang akan peneliti gunakan dalam penelitian adalah tuturan imperatif. Alwi (Wokabelolo, 2018-. mengutarakan bahwa tuturan imperatif merupakan tuturan perintah yang digunakan dan disesuaikan oleh penutur dengan konteks yang ada pada tuturan terhadap mitra tutur. Konteks tersebut sebagai penjelasan dari tuturan yang diungkapkan oleh penutur sehingga mitra tutur tidak salah dalam melakukan kehendak penutur. Rahardi . menjelaskan bahwa tuturan imperatif memiliki banyak variasinya dan komplek, karena tuturan imperatif bisa berupa tuturan yang keras dan kasar atau bahkan tuturan imperatif bisa berupa tuturan dengan permohonan yang halus dan lembut, sehingga tergantung bagaimana sang penutur Dengan demikian, tuturan imperatif merupakan tuturan perintah yang memiliki makna banyak variasi seperti tuturan variasi dengan kasar atau dengan Berbagai macam makna variasi sehingga tuturan imperatif dibantu konteks dalam menyampaikan makna atau maksud terhadap mitra tutur. Rahardi . 9: 12-. membagi bentuk tuturan imperatif menjadi dua bagian yaitu bentuk tuturan imperatif formal atau struktural dan bentuk imperatif pragmatik atau non struktural. Bentuk tuturan imperatif formal atau struktural terbagi menjadi dua yaitu tuturan imperatif aktif dan tuturan imperatif pasif, sedangkan bentuk tuturan imperatif pragmatik atau non struktural terbagi menjadi 17 yaitu tuturan imperatif yang mengandung makna perintah, suruhan, permintaan, permohonan, ajakan, permintaan izin, mengizinkan, larangan, harapan, ucapan selamat, ngelulu, anjuran, umpatan, persilaan, imbauan, bujukan dan desakan. Bentuk formal atau struktural merupakan realisasi maksud dari tuturan yang diucapkan oleh penutur secara struktur atau secara kalimat tuturan imperatifnya Rahardi . Tuturan imperaktif mengandung makna memerintah atau meminta agar mitra tutur melakukan apa yang diinginkan oleh Reaksi seharusnya adalah berupa tanggapan verbal atau non verbal yang dilakukan oleh mitra tutur. Sehingga dapat disimpulkan bentuk tuturan imperatif formal atau struktural adalah tuturan impertaif yang hanya melihat strukturnya untuk mengetahui maksud dari penutur. Bentuk formal dibagi menjadi dua yaitu tuturan imperatif pasif dan tuturan imperatif aktif. Tuturan tidak lepas dari sebuah konteks karena konteks berfungsi memberikan penejlasan lebih terhadap sebuah tuturan sehingga tuturan antara yang satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan. Meskipun tuturannya sama tapi dengan adanya konteks tuturan tersebut memiliki perbedaan. Wokabelolo . menjelaskan bahwa konteks merupakan salah satu bagian yang penting dalam kajian sosiopragmatik karena konteks sebagai pemaham dalam peristiwa tuturan sehingga terjadi proses komunikasi. Proses komunikasi dalam lingkungan sosial tidak hanya menuntut penutur dalam aspek kebahasan tetapi kesesuaian pemakaian bahasa terhadap konteks yang ada. Rahardi . menjelaskan bahwa konteks merupakan segala aspek yang ada dan bersifat luar bahasa sehingga menjadi penentu pokok makna Makna kebahasan sebagai penentu apakah seseorang penutur marah, biasa-biasa saja atau sebagai tanda keakraban, sehingga konteks menghadirkan tuturan yang bermakna bagi mitra tutur. Rahardi membagi konteks menjadi 4 macam yaitu: Konteks fisik berisi tentang tempat kejadiannya pemakaian bahasa tuturan , objek, tindakan dan pelaku dalam komunikasi tersebut. Konteks epistemis berisi tentang latar belakang pengetahuan yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra tutur. Konteks lingustik berisi tentang kalimat-kalimat atau tuturan-tuturan yang mendahului suatu kalimat atau tuturan dalam kalimat tertentu. Konteks sosial berisi tentang relasi sosial atau latar setting yang melengkapi hubungan antara penutur dan mintra tutur Jadi, konteks dapat mempengaruhi kelancaran komunikasi. Kelancaran komunikasi antara penutur dan mintra tutur di lihat dari konteks yang ada, karena dengan dua kalimat yang sama bisa memiliki konteks yang berbeda, sehingga konteks sangatlah penting bagi penangkap pesan atau mitra tutur. Penangkap pesan atau mitra tutur tentunya harus paham apa yang diungkapkan oleh penutur sehingga adanya konteks sebagai penyempurna maksud tuturan penutur. Peneliti melakukan penelitian dengan judul tuturan imperatif dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng Cukir Diwek Jombang karena SMP A. Wahid Hasyim merupakan salah satu sekolah formal yang berada di bawah naungan yayasan pondok pesantren Tebuireng atau yang biasa dikenal dengan sebutan yayasan KH. Hasyim AsyAoari, sehingga siswa dan guru tidak hanya dari wilayah Jombang tetapi dari berbagai wilayah seperti Kalimantan. Jakarta. Surabaya dan sebagainya. Terdiri dari berbagai wilayah menyebabkan tuturan-tuturan yang terjadi dalam pembelajaran beranekargam dengan bahasa-bahasa yang berbeda. Tujuannya adalah untuk mengetahui bentuk tuturan imperatif formal atau struktural dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng Cukir Diwek Jombang. Alasan di atas menjadi acuan peneliti dalam mengambil penelitian bentuk formal atau struktural tuturan imperatif dalam pembelajaran di SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng Cukir Diwek Jombang, dengan harapan temuan peneliti dapat menambah wawasan dan pengetahuan dalam sebuah penelitian. METODE PENELITIAN Peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif berupa observasi atau pengamatan alami dengan metode deskriptif untuk menghasilkan data-data dari penelitian yang peneliti teliti. Peneliti menggunakan guru Bahasa Indonesia dan siswa yang berada di kelas VII A SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng Cukir Diwek Jombang, sebagai sumber data dalam menganalisis tuturan imperatif yang terjadi pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Data dalam penelitian ini berupa kata dan kalimat yang berasal dari tuturan imperatif yang dituturkan oleh guru dan Populasi siswa yang ada dalam lingkungan sekolah SMP A. Wahid Hasyim adalah 820 siswa dengan rincian kelas VII sebanyak 280 siswa, kelas Vi sebanyak 270 siswa dan kelas IX sebanyak 270 siswa. Terdapat 27 kelas dengan rincian 13 kelas laki-laki dan 14 kelas perempuan. Terdapat 59 guru di sekolah SMP A. Wahid Hasyim dan 5 guru yang mengajar Bahasa Indonesia. Teknik yang peneliti ambil dengan menggunakan teknik probability sampling yang peneliti ambil dengan menggunakan simple random sampling yaitu pengambilan anggota sampel dari populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan syarat-syarat yang telah ditetapkan dan juga setiap populasi memiliki hak yang sama untuk menjadi sampel peneliti. Peneliti menggunakan sampel kelas VII A putri yang memiliki siswa 32 orang untuk penelitian tuturan imperatif dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Peneliti menjadi instrumen penelitian karena peneliti melihat secara langsung kejadian atau interaksi secara langusung di lapangan, sehingga peneliti dapat merasakan, memahami dan mengukur segala sesuatu yang terjadi di Peneliti dibekali pengetahuan-pengetahuan yang akan dibahas atau permasalahan yang ada di lapangan. Tabel 1 : Instumen penelitian berupa bentuk tuturan imperatif formal atau Kode Bentuk Tuturan Data Indikator Imperatif Formal atau Struktural TIB. FAS/A Tuturan imperatif Guru: Menggunakan bentuk formal atau AuPergilah, ke penanda struktural aktif kantor Lam, kesantunan isi spidolAy imbuhan -lah Tuturan imperatif Guru : AuRek. Menggunakan bentuk formal atau drama itu penanda struktural pasif dihafalin dan imbuhan -di kanAy Peneliti melakukan pengumpulan data dengan langkah-langkah yaitu observasi, penentuan objek, identifikasi data, kodifikasi data, dan tabulasi data. Teknik analisi data peneliti dengan langkah-langkah yaitu deskripsi data penelitian, analisis data penelitian dan simpulan penelitian. TIB. FAS/P. HASIL DAN PEMBAHASAN Bentuk tuturan imperatif formal atau struktural terbagi menjadi dua yaitu bentuk tuturan imperatif formal atau struktural aktif dan bentuk tuturan imperatif formal atau struktural pasif. Bentuk tuturan imperatif formal atau struktural aktif pada penelitian terdapat pada data-data berikut ini: Data . Guru: AuPergilah, ke kantor Lam, isi spidolAy Siswi : AuSama saya pak. Sama saya pak. Sama saya pakAy (TIB. FAS/A/. Konteks : Dituturkan oleh seorang guru kepada siswi bernama Nilam untuk mengisi spidol di kantor. Siswi berebutan untuk ikut ke kantor karena melewati kelas putra. Suasana kelas seketika ricuh oleh permintaan siswi untuk menemani Nilam. Berdasarkan data . tersebut terdapat tuturan imperatif formal atau struktural aktif yang diungkapkan melalui wujud tuturan imperatif formal atau Tuturan imperatif formal atau struktural aktif pada data . diungkapkan guru untuk meminta siswi pergi ke kantor mengisi spidol. Respon siswi ketika guru meminta siswi pergi ke kantor adalah berebutan dan suasana kelas yang langsung heboh dan kacau. Tuturan imperatif formal atau struktural aktif diungkapkan oleh guru dan siswi lain secara langsung. Penanda kesantunan dalam tuturan imperatif formal atau struktural aktif pada tuturan tersebut melalui kata berimbuhan Aelah yang ditunjukkan pada kata pergilah. Jadi, tuturan imperatif formal atau struktural aktif ditandai dengan penanda kesantunan berupa imbuhan Aelah. Data 2 Guru : AuRek pergilah ke kelas samping, pinjam spidol sambil menunggu NilamAy Siswi : AuSama saya aja pak. Saya aja ya pak. Saya aja ya pakAy (TIB. FAS/A/. Konteks : Dituturkan oleh seorang guru kepada siswi-siswi untuk pergi meminjam spidol di kelas samping karena guru membutuhkan spidol untuk menulis terkait pembelajaran hari ini. Beberapa siswi mengangkat tangan untuk menawarkan diri atas tuturan guru tersebut. Data . tersebut terdapat tuturan imperatif formal atau struktural aktif yang diungkapkan melalui wujud tuturan imperatif formal atau struktural. Tuturan imperatif formal atau struktural aktif pada data . diungkapkan guru untuk meminta siswi pergi ke kelas samping untuk meminjam spidol. Respon siswi ketika guru meminta siswi pergi ke kantor adalah berebutan dan suasana kelas yang langsung heboh dan kacau. Tuturan imperatif formal atau struktural aktif diungkapkan oleh guru dan siswi lain secara langsung. Penanda kesantunan dalam tuturan imperatif formal atau struktural aktif pada tuturan tersebut melalui kata berimbuhan Aelah yang ditunjukkan pada kata pergilah. Dengan demikian, tuturan imperatif formal atau struktural aktif ditandai dengan penanda kesantunan berupa imbuhan Aelah. Data 3 Guru : AuBabak itu kaya episode. Cobalah kalian amati kalau nonton sinetron itu nyebutnya episode 1 episode 2 episode 3 sampai episodenya unlimitedAy Siswi: AuKaya film di Indosiar atau sctv itu kan ya pakAy Guru : AuIya yang kaya begitu pokoknyaAy Ay (TIB. FAS/A/. Konteks : Tuturan guru dalam memberikan materi drama di depan kelas. Siswi-siswi mendengarkan dengan seksama terlihat dari beberapa raut wajah siswi yang mulai terlihat bingung. Beberapa siswi berkali-kali mengaruk kepala dan beberapa siswi mencatat apa yang disampaikan oleh guru. Siswi pun memberikan tanggapan atas materi-materi yang di sampaikan guru. Dengan demikian data . tersebut terdapat tuturan imperatif formal atau struktural aktif yang diungkapkan melalui wujud tuturan imperatif formal atau Tuturan imperatif formal atau struktural aktif pada data . diungkapkan oleh guru dalam memberikan materi di depan kelas. Siswi memperhatikan dengan sesekali menanggapai materi yang diungkapkan oleh guru, meskipun terlihat beberapa siswi yang terlihat bingung sambil menggarukkan kepalanya dan beberapa siswi yang mencatat materi-materi yang Tuturan imperatif formal atau struktural aktif diungkapkan oleh guru dan siswi lain secara langsung. Penanda kesantunan dalam tuturan imperatif formal atau struktural aktif pada tuturan tersebut melalui kata berimbuhan Aelah yang ditunjukkan pada kata cobalah. Oleh sebab itu, tuturan imperatif formal atau struktural aktif ditandai adanya penanda kesantunan imbuhan Aelah. Bentuk tuturan imperatif formal atau struktural pasif pada penelitian terdapat pada data-data berikut ini: Data 04 Guru : AuRek, drama itu naskahnya dihafalin dan diimprovisasi kanAy Siswi : AuLah kalau gak hafal dan gak bisa mengimprovisasikan giaman Guru : AuYa, kalian gak bisa jadi aktor lahAy (TIB. FAS/P. Konteks : Tuturan guru terhadap siswi dalam memberikan materi tentang drama. Guru menjelaskan tentang naskah drama, siswi-siwi menyimak dengan Hal tersebut dibuktikan dengan keadaan siswi-siswi yang mencatat dan fokus terhadap materi yang disampaikan. Sesekali mereka menimpali apa yang disampaikan oleh guru. Pada data . tersebut terdapat tuturan imperatif formal atau struktural pasif yang diungkapkan melalui wujud tuturan imperatif formal atau struktural. Tuturan imperatif formal atau struktural pasif pada data . diungkapkan oleh guru yang menjelaskan tentang materi naskah drama. Respon siswi terhadap tuturan yang disampaikan adalah menimpali dari tuturan-tuturan yang disampaikan oleh guru. Tuturan imperatif formal atau struktural pasif diungkapkan oleh guru dan siswi lain secara langsung. Penanda kesantunan dalam tuturan imperatif formal atau struktural pasif pada tuturan tersebut melalui kata berimbuhan di- yang ditunjukkan pada kata dihafalin dan diimprovisasikan. Jadi, tuturan imperatif formal atau struktural pasif ditandai adanya penanda kesantunan imbuhan di-. Data 05 Mega : AuNis dompetku dibawa dan diletakkan di mejaAy Nisa : AuIyaAy(TIB. FAS/P. Konteks : Dituturkan oleh Mega terhadap Nisa yang memintanya membantu membawa dan meletakkan dompetnya di atas meja setelah pulang dari Mega meminta tolong karena tangannya penuh dengan jajan. Sedangkan nisa berdiri di depan pintu dan hanya membawa minum. Dengan demikian . tersebut terdapat tuturan imperatif formal atau struktural pasif yang diungkapkan melalui wujud tuturan imperatif formal atau Tuturan imperatif formal atau struktural pasif pada data . diungkapkan oleh Mega yang meminta tolong kepada Nisa untuk membawakan dan meletakkan dompetnya di atas meja setelah mereka pulang dari koperasi. Respon Nisa terhadap tuturan yang disampaikan oleh Mega adalah melaksanakan tuturan tersebut. Tuturan imperatif formal atau struktural pasif diungkapkan oleh Mega dan Nisa secara langsung. Penanda kesantunan dalam tuturan imperatif formal atau struktural pasif pada tuturan tersebut melalui kata berimbuhan di- yang ditunjukkan pada kata dibawakan dan diletakkan. Oleh sebab itu, tuturan imperatif formal atau struktural pasif ditandai adanya penanda kesantunan imbuhan di-. Data 06 Guru : Au Rek, coba lihat pas latihannya para tokoh-tokoh soalnya tokoh dalam drama itu dipraktekkan dan diperankan. Jadi lebih natural actingnyaAy (TIB. FAS/P. Konteks : Dituturkan oleh guru yang menjelaskan tentang tokoh dalam drama. Tuturan tersebut disampaikan dengan respon yang berbeda-beda. Beberapa siswi menyimak dan fokus dengan materi yang disampaikan sedangkan beberapa orang membentuk forum dan berbicara sendiri. Pembelajaran pada saat itu pukul 11. 20 WIB sehingga beberapa siswi merasa bosan dengan pembelajaran. Data . tersebut terdapat tuturan imperatif formal atau struktural pasif yang diungkapkan melalui wujud tuturan imperatif formal atau struktural. Tuturan imperatif formal atau struktural pasif pada data . diungkapkan oleh guru kepada siswi-siswi dalam menjelaskan materi yang disampaikan tentang tokoh drama. Respon siswi adalah beberapa menyimak secara fokus dan beberapa membentuk forum dalam sendiri. Beberapa respon siswi yang membuat forum sendiri adalah salah satunya jam pembelajaran menunjukkan pukul 11. 20, yang membuat siswi merasa bosan dalam pembelajaran. Tuturan imperatif formal atau struktural pasif diungkapkan oleh guru kepada siswi secara tidak langsung. Penanda kesantunan dalam tuturan imperatif formal atau struktural pasif pada tuturan tersebut melalui kata berimbuhan diyang ditunjukkan pada kata dipraktekkan dan diperankan. Dengan demikian, tuturan imperatif formal atau struktural pasif ditandai adanya penanda kesantunan imbuhan di-. SIMPULAN DAN SARAN SIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap judul bentuk tuturan imperatif formal atau struktural dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP A. Wahid Hayim Tebuireng Cukir Diwek Jombang, yang memiliki dua tuturan imperatif yaitu imperatif formal atau struktural aktif dan imperatif formal atau struktural pasif. Peneliti menemukan imperatif formal atau struktural aktif yang menggunakan penanda kesantunan imbuhan Aelah dan imperatif formal atau struktural pasif yang menggunakan penanda kesantunan imbuhan -di dalam penelian yang telah dilakukan. Adapun setiap pendanda kesantunan yang terdapat pada tuturan mempengaruhi tindak tutur yang terjadi. SARAN Berdasarkan pada penelitian yang berjudul bentuk tuturan imperatif formal atau dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng Cukir Diwek Jombang hanya menguraikan mengenai bentuk tuturan imperatif formal atau struktural. Mengenai hal itu tentu terdapat bentuk tuturan imperatif lainnya seperti bentuk tuturan imperatif pragmatik atau non struktural yang dapat diteliti. DAFTAR PUSTAKA