Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 220 - 225 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/417 Manajemen Fisioterapi pada Post-Operative Anterior Cruciatum Ligament pada Atlet Sepak Bola: Case Report Physiotherapy Management in Post-Operative Anterior Cruciate Ligament in Soccer Athlete: Case Report *Meristha Oliviani. Irianto. Immanuel Maulang Universitas Hasanuddin Makassar Email korespondensi: meristhaoliviani09@gmail. Diterima: 26 Agustus 2. Disetujui: 26 Agustus 2. Dipublikasikan: 15 April 2. Publikasi Online: 15 Mei 2025 ABSTRAK Aktivitas olahraga sering menyebabkan cedera pada ACL. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya gerakan rotasi pada lutut biasanya dapat menyebabkan cedera pada ligamen khususnya ACL. Penelitian dengan metode case report ini menunjukkan bahwa fisioterapi memiliki peran penting untuk mengatasi masalah komplikasi yang terjadi pada pasien pasca cedera ACL khususnya untuk meningkatkan kekuatan otot dan meningkatkan ROM. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran manajemen fisioterapi pada kasus post operative rekonstruksi ACL yang dilakukan selama 4 kali pertemuan. Metode: Studi ini merupakan laporan kasus, data primer diperoleh melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik. Hasil: Pasien atas nama Tn. U berusia 17 tahun dengan diagnosis post operative rekonstruksi ACL. Penelitian ini dilakukan pada pertemuan ke-26 dan diberikan penanganan fisioterapi berupa NMES. ROM exercise, dan strengthening exercise untuk meningkatkan kekuatan otot dan meningkatkan lingkup gerak sendi. Evaluasi dilakukan setelah 4 kali fisioterapi dan hasilnya terjadi peningkatan ROM dan peningkatan lingkar otot. Kesimpulan: Pemberian modalitas fisioterapi berupa NMES. ROM exercise, dan strengthening exercise efektif dalam meningkatkan ROM dan meningkatkan lingkar otot pada kondisi pasca rekonstruksi ACL. Kata kunci: Anterior Cruciate Ligament. Fisioterapi. Rehabilitasi ABSTRACT Sports activities often cause ACL injuries. This can be caused by rotational movements of the knee which can usually cause injury to the ligaments, especially the ACL. This case report study shows that physiotherapy has an important role in overcoming complications that occur in patients after ACL injury, especially to increase muscle strength and increase ROM. This study aims to provide an overview of physiotherapy management in post-operative ACL reconstruction cases carried out during 4 meetings. Methods: This study is a case report, primary data was obtained through anamnesis and physical examination. Results: The patient. Mr. U, is 17 years old with a diagnosis of postoperative ACL reconstruction. This study was conducted at the 26th meeting and was given physiotherapy treatment in the form of NMES. ROM exercise, and strengthening exercise to increase muscle strength and increase joint range of motion. Evaluation was carried out after 4 physiotherapy sessions and the results showed an increase in ROM and an increase in muscle circumference. Conclusion: The provision of physiotherapy modalities in the form of NMES. ROM exercise, and strengthening exercise is effective in increasing ROM and increasing muscle circumference in post-ACL reconstruction conditions. Keyword: Anterior Cruciate Ligament. Physiotherapy. Rehabilitation. PENDAHULUAN Lutut memiliki struktur kompleks dan berperan penting dalam aktivitas setiap orang. Lutut berperan sebagai tumpuan berat badan . eight bearin. dan juga sebagai stabilitas untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti berjalan, berlari, naik turun tangga, dan sebagainya . Aktivitas yang sangat banyak pada lutut menyebabkan lutut rentan mengalami cedera, khususnya cedera olahraga. Cedera olahraga sering terjadi akibat faktor dari luar seperti kondisi lingkungan maupun peralatan olahraga yang digunakan, serta faktor dari dalam yaitu bentuk tubuh secara anatomis, kemampuan fisik seseorang, hingga psikis . Manajemen Fisioterapi pada Post-Operative Anterior Cruciatum. | Meristha Oliviani dkk 220 Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 220 - 225 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/417 Ada beberapa ligament di lutut yang dapat mengalami cedera yaitu Anterior Cruciate Ligament (ACL). Posterior Cruciate Ligament (PCL). Lateral Collateral Ligament (LCL), dan Medial Collateral Ligament (MCL). Diantara ligamen-ligamen tersebut. ACL merupakan ligamen yang paling sering mengalami cedera dengan prevalensi sebesar 16% . Tingkat cedera ini terjadi pada 38 Ae 78 orang dari 100. 000 orang/tahun . Anterior cruciate ligament berfungsi sebagai stabilisator pada lutut untuk mencegah translasi femur ke arah posterior atau tibia ke arah anterior. Cedera ACL biasanya terjadi akibat faktor eksternal yaitu hantaman dari luar yang menyebabkan lutut rotasi . Cedera ini seringkali terjadi akibat non-kontak dengan mekanisme lutut ke arah valgus serta adanya twisting. Hal ini sering terjadi ketika seseorang mendarat dengan posisi lutut yang salah maupun ketika menggiring bola . Prevalensi cedera ACL di Amerika Serikat sebesar 200. 000 setiap tahunnya. Olahraga yang mengalami insiden tinggi cedera ACL yaitu futsal, sepak bola, basket, dan sebagainya . Prevalensi cedera ACL di Indonesia sendiri merupakan yang tertinggi kedua setelah nyeri punggung, yaitu sebanyak 48 dari 1000 pasien dengan 9% adalah cedera ACL. Rekonstruksi ACL merupakan prosedur yang sering dilakukan di ortopedi. Laki-laki cenderung berisiko terkena cedera ACL daripada wanita dikarenakan laki-laki yang lebih aktif berolahraga. Rekonstruksi ACL mayoritas terjadi pada kaki kanan dibandingkan kaki kiri karena pada olahraga sepak bola, kaki kanan merupakan kaki yang aktif dalam bergerak . Cedera pada ACL dibagi menjadi 3 grade . Grade 1 atau mild sprain yaitu terjadi kerusakan pada ligamen sekitar 1% hingga 10%. Pada grade ini, ligamen mengalami mikro ruptur serta adanya bengkak, tanpa ada kerobekan. Grade 2 atau moderate sprain yaitu terjadi kerusakan pada ligamen sekitar 11% hingga 50%, dan adanya partial tear pada grade ini. Grade 3 atau severe sprain yaitu terjadi kerobekan total pada ligamen yang biasanya berakhir dengan prosedur operasi. Komplikasi dari cedera ACL yaitu adanya arthrofibrosis. Arthrofibrosis merupakan hilangnya gerakan pasca terjadinya trauma pada lutut atau akibat operasi rekonstruksi. Literatur menjelaskan bahwa prevalensi terjadinya adalah sekitar 4 Ae 38%. Terdapat tiga faktor yang berhubungan dengan arthrofbrosis yaitu keterbatasan gerak sebelum operasi, saat operasi, serta mayoritas dialami pasien wanita. Keterbatasan gerak sebelum operassi diakibatkan oleh inflamasi yang tinggi pada lutut yang mengalami cedera akut. Risiko terjadinya arthrofibrosis lebih tinggi pada kasus rekonstruksi ACL dini pada lutut yang inflamasi dan biasanya disertai keterbatasan ROM. Operasi yang dilakukan setidaknya 3 pekan setelah kejadian cedera menunjukkan lebih sedikit kejadian Wanita yang menjalani rekonstruksi ACL berisiko lebih tinggi mengalami arthrofibrosis sebesar 16% dibandingkan pasien laki-laki yang hanya sebesar 4%. Tetapi penelitian lain tidak dapat menjelaskan korelasi tersebut, bahkan ada pula yang menentangnya. Terkait klasifikasi arthrofibrosis dapat dilihat di bawah ini . Tipe 1, yaitu kehilangan ekstensi <10o, fleksi normal dan mobilisasi patella normal. Tipe 2, yaitu kehilangan ekstensi >10o, fleksi normal dan mobilisasi patella normal. Tipe 3, yaitu kehilangan ekstensi >10o, kehilangan fleksi > 25o dan mobilisasi patella Tipe 4, yaitu kehilangan ekstensi > 10o, kehilangan fleksi > 30o, mobilisasi patella menurun dan patella infera. Kejadian arthrofibrosis terjadi pula pada pasien dalam penelitian ini. Pada masa awal latihan. Manajemen Fisioterapi pada Post-Operative Anterior Cruciatum. | Meristha Oliviani dkk 221 Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 220 - 225 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/417 setelah 3 kali pertemuan terdapat peningkatan ROM, namun pada pertengahan sesi fisioterapi pasien merasakan adanya ganjalan di area lutut belakang dan depan serta peningkatan ROM pada lutut mengalami hambatan sehingga disarankan untuk kembali ke dokter. Pemeriksaan menunjukkan terdapat arthrofibrosis di sekitar patella sehingga diputuskan melakukan pembedahan untuk membersihkan arthrofibrosis tersebut pada 22 Februari 2024. Dua hari kemudian pasien datang kembali untuk menjalani sesi fisioterapi dan saat ini menjadi lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa komplikasi pada pasien sejalan dengan teori yang ada. Penanganan cedera pada ACL dibagi menjadi 2 yaitu operatif dan non operatif, tergantung seberapa parah cedera yang dialami. Penanganan non operatif dapat diberikan apabila lutut masih memiliki stabilitas yang baik, aktivitas sehari-hari masih dapat dilakukan walaupun terbatas. Kasus yang tidak memerlukan tindakan operasi biasanya apabila cedera termasuk dalam golongan grade 1 dan grade 2, yang artinya ligamen belum mengalami kerobekan total. Tetapi, apabila ligamen mengalami putus total, maka perlu dilakukan tindakan operasi berupa rekonstruksi. Ada beberapa metode rekonstruksi pada ACL yang biasanya dilakukan. Teknik yang paling umum yaitu bone patellar tendon bone (BTB) menggunakan autograft dari sepertiga tendon patella dan juga graft dari tendon hamstring. Graft dibedakan menjadi 2 yaitu autograft dan allograft. Autograft artinya graft yang diambil dari tubuh pasien itu sendiri dan allograft artinya graft yang diambil dari tubuh orang lain . Literatur lain juga menjelaskan terdapat jenis graft berupa synthetic Tetapi graft ini sangat jarang digunakan karena hasil medium-term yang buruk. Dalam beberapa dekade terakhir, penggunaan allograft telah meningkat dan terbukti meningkatkan kondisi pasca ACLR dibandingkan dengan autograft . Setelah rekonstruksi ACL dilakukan, akan terjadi oedem, nyeri, penurunan range of motion pada sendi, serta adanya penurunan kekuatan otot. Pemulihan ACL membutuhkan waktu sekitar 6 bulan untuk melalui 4 fase pemulihan agar dapat kembali ke aktivitas olahraga. Tetapi hal ini tergantung dari kondisi pasien sendiri. Pada proses pemulihan ACL khususnya kasus olahraga, fisioterapi berperan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut hingga pasien selesai di fase return to sport . PEMERIKSAAN Pasien laki-laki berusia 17 tahun mengalami cedera terjatuh saat bermain sepak bola pada Juli Sebulan kemudian, pasien menjalani MRI dan hasil menunjukkan terdapat total tear ACL Kemudian pasien menjalani operasi rekonstruksi dengan graft semitendinosus pada bulan Oktober 2023. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2024 yaitu di pertemuan ke-26 dengan kondisi pasien yang jauh lebih baik, tidak ada bengkak, suhu normal, dan lutut hampir bisa ditekuk secara penuh. Pada inspeksi statis ditemukan adanya bekas insisi di lutut kanan, sementara inspeksi dinamis ditemukan pola jalan pasien normal. Pemeriksaan fungsi gerak dasar juga dilakukan pada sendi lutut dan didapatkan hasil yaitu pada gerakan fleksi terdapat sedikit nyeri saat digerakkan secara pasif, tetapi ekstensi pada gerakan aktif maupun pasif dalam batas normal. Pada tes orientasi pasien diminta untuk melakukan gerakan duduk ke berdiri, berdiri ke berjalan dan hasilnya pasien mampu melakukan gerakan tersebut. Hasil pemeriksaan nyeri menunjukkan pasien tidak mengalami nyeri tekan dan nyeri diam, sementara untuk nyeri gerak diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) dan didapatkan hasil 1 yang artinya nyeri ringan. Hasil pemeriksaan Range of Motion (ROM) knee dextra S. Pemeriksaan sirkumferensia dilakukan di lingkar paha dan didapatkan selisih antara kaki kiri dan kanan sebesar 0,2 cm yang artinya ada sedikit hipotrofi pada knee dextra. Target intervensi saat ini yaitu untuk mencapai lingkup gerak sendi yang normal Manajemen Fisioterapi pada Post-Operative Anterior Cruciatum. | Meristha Oliviani dkk 222 Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 220 - 225 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/417 khususnya pada gerakan pasif serta meningkatkan kekuatan otot. Oleh karena itu, modalitas yang diberikan pada pasien berupa NMES. ROM exercise, dan strengthening exercise. HASIL Penelitian ini dilakukan di pertemuan ke-26 pada bulan ke 6 setelah cedera ACL dan bulan ke 2 pasca operasi arthrofibrosis. Peneliti mengikuti perkembangan pasien selama 4 kali pertemuan. Setiap pertemuan diberikan penanganan sesuai dengan keluhan dari pasien. Intervensi yang diberikan selama 4 kali pertemuan berfokus pada peningkatan ROM dan penurunan hipotrofi knee Tabel 1. Evaluasi Setelah 4 Kali Fisioterapi No Problem Alat Ukur Pre Nyeri NRS Nyeri diam: 0 Nyeri tekan: 0 Nyeri gerak: 1 Limitasi Goniometer ROM Hipotrofi Circumferencia 0,2 cm Post Nyeri diam: 0 Nyeri tekan: 0 Nyeri gerak: 0 0,1 cm Ket. Ada penurunan nyeri gerak Ada peningkatan ROM Ada penurunan Sumber: Data Primer, 2024 Evaluasi menunjukkan setelah 4 kali fisioterapi, terdapat perubahan berupa adanya peningkatan ROM dan penurunan hipotrofi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Seiring berjalannya intervensi, terdapat pula penurunan nyeri pada pasien. Kepatuhan pasien selama berjalannya sesi fisioterapi dinilai baik oleh peneliti serta tidak adanya efek samping pada pasien. PEMBAHASAN Apabila rehabilitasi pasca operasi ACL tidak dilakukan secara rutin terutama pada periode awal pasca operasi, pasien dapat mengalami kelemahan otot, keterbatasan rentang gerak, dan kurangnya stabilitas lutut. Hal ini dapat meningkatkan risiko sindrom nyeri patellofemoral yang merupakan kondisi nyeri di bagian depan lutut yang berhubungan dengan masalah mekanis pada sendi lutut dan disebabkan oleh tekanan yang tidak merata pada permukaan patela dan tulang paha. Nyeri mungkin disebabkan oleh respons inflamasi dari graft. Respon peradangan menyebabkan pelepasan bahan kimia dari jaringan berupa bradikinin, serotonin, dan histamin, yang merupakan respons terhadap kerusakan jaringan. Hal ini dapat merangsang nosiseptor dan memunculkan rasa sakit . Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan yang nyata. Mekanisme nyeri diawali dengan adanya stimulus yang dirasakan oleh reseptor nyeri atau nosiseptor. Rangsangan yang diterima oleh nosiseptor disalurkan ke otak melalui dua serabut saraf penghantar nyeri. Dalam hal ini, nyeri yang dialami merupakan akibat dari rekonstruksi ACL pasca operasi. Fisioterapi dapat meredakan nyeri dengan melatih otot untuk meningkatkan kekuatan, meningkatkan stabilitas fungsional sendi, dan melatih keseimbangan . Pada penelitian ini, nyeri diukur menggunakan numeric rating scale (NRS) untuk melihat nyeri diam, nyeri tekan, dan nyeri gerak. Pasien hanya merasakan nyeri gerak dengan nilai 1 dengan interpretasi nyeri ringan. Evaluasi menunjukkan terdapat penurunan nyeri gerak. Latihan strengthening yang dilakukan pada otot paha dan area tungkai bawah untuk Manajemen Fisioterapi pada Post-Operative Anterior Cruciatum. | Meristha Oliviani dkk 223 Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 220 - 225 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/417 meningkatkan kekuatan otot untuk menunjang tahap rehabilitasi pasca rekonstruksi ACL. Latihan yang diberikan berupa konsentrik maupun eksentrik yang efektif untuk hipotrofi otot karena dapat mempercepat laju metabolisme dan membangun jaringan otot yang hilang pasca operasi ACL . Latihan penguatan yang memanfaatkan prinsip aktivasi dan kontraksi otot menyebabkan peningkatan kekuatan otot di sekitar area cedera, khususnya pada grup otot quadriceps yang melemah setelah rekonstruksi sehingga menyebabkan ketidakstabilan fungsional. Latihan peningkatan kekuatan mengaktifkan fungsi otot, mempercepat metabolisme, dan meningkatkan sirkulasi darah dengan mengangkut nutrisi ke seluruh tubuh. Dengan demikian, latihan yang dilakukan akan memperkuat otot quadriceps dan otot di sekitar sendi lutut yang melemah setelah rekonstruksi ACL . Strengthening exercise yang diberikan pada pasien berupa leg press, side lunges, dan squat. Latihan menggunakan leg press dilakukan dengan dosis 10 repetisi dan 3 set, side lunges dilakukan 6 repetisi dan 2 set, squat yang dikombinasikan dengan abductor strengthening dilakukan 10 repetisi dan 2 set, serta latihan isometric squat yang dikombinasikan dengan adductor strengthening selama 8 hitungan, 4 repetisi, dan 2 set. Limitasi ROM juga merupakan masalah yang timbul setelah rekonstruksi ACL. oleh karena itu latihan perlu dilakukan. Latihan ROM merupakan latihan yang dilakukan untuk menambah gerakan pada ekstremitas yang mengalami kekakuan. Apabila mobilitas sendi meningkat maka mampu mengurangi risiko terjadinya kontraktur . Peningkatan ROM sudah dilakukan sejak di fase awal, tentu saja dengan latihan yang ringan dan proteksi graft perlu dilakukan. Latihan ROM dapat memperbaiki dan menggerakkan persendian dengan normal . Latihan kekuatan mampu menjaga fungsi otot sehingga mencegah terjadinya kaku pada sendi serta menambah rentang gerak Selain itu, peningkatan rentang gerak juga berhubungan dan dipengaruhi oleh nyeri. Apabila nyeri menurun, maka pasien berani untuk menggerakkan persendiannya sehingga terjadi peningkatan ROM . Pada penelitian ini peningkatan ROM dilakukan dengan static bicycle. Dosis yang digunakan yaitu dengan tension di angka 1 terlebih dahulu dan akan terus meningkat perlahan setiap 2 menit hingga mencapai tension 5, lalu kembali lagi ke tension 1. Hal ini terus dilakukan selama 20 menit. SIMPULAN Penatalaksanaan fisioterapi pada kasus post operative rekonstruksi ACL penting bagi pasien untuk dapat mengembalikan aktivitas pasien seperti sebelumnya. Berdasarkan intervensi diatas setelah 4 kali pertemuan diberikan NMES, strengthening exercise dan static bicycle dapat menurunkan hipotrofi dan meningkatkan ROM pasien setelah rekonstruksi ACL serta terjadi penurunan nyeri. DAFTAR PUSTAKA