Miracle Journal of Public Health (MJPH). Vol. 6 No. 1 Juni 2023 DOI: 10. 36566/mjph/Vol6. Iss1/309 Website: https://journal. fikes-umw. id/index. php/mjph e-ISSN: 2622-7762 Faktor Risiko Kejadian Diare Berulang pada Masyarakat Daerah Tambang di Kecamatan Morosi Risk Factors of Repeat Diarrhea In The Mining Region Community In Morosi District Titi Saparina L. Solihin. Mona Marsita Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat. Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan. Universitas Mandala Waluya . stikesmw@gmail. com, 082193390. ABSTRAK Kecamatan Morosi merupakan salah satu kecamatan yang terletak di daerah pertambangan yang memiliki akses sanitasi jamban dan sumber air bersih masih rendah, dimana masyarakat masih banyak yang terkena diare berulang hal ini dapat dilihat pada data yang diperoleh dari Puskesmas Morosi bahwa jumlah penderita diare berulang mengalami kenaikan dengan data tahun 2019 berjumlah 216 kasus, pada tahun 2020 berjumlah 278 kasus dan pada tahun 2021 berjumlah 310 kasus. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor risiko kejadian diare berulang pada masyarakat di daerah tambang Kecamatan Morosi. Jenis penelitian ini menggunakan studi Case-Control dengan pendekatan retrospektif. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 310 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 152 sampel dimana 76 kasus dan 76 kontrol. Metode analisisnya menggunakan Uji Chi-Square dan Uji Odds Ratio. Hasil uji Odds Ratio terhadap kepemilikan jamban diperoleh nilai OR sebesar 3,735. Hasil uji Odds Ratio terhadap status gizi diperoleh nilai OR sebesar 0,903. Hasil uji Odds Ratio terhadap sumber air bersih diperoleh nilai OR sebesar 3,483. Masyarakat diharapkan agar mampu dan mau meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan faktor risiko kejadian diare berulang secara komprehensif dan berkesinambungan. Kata Kunci: Faktor risiko, kasus, kontrol, diare berulang, morosi ABSTRACT Morosi sub-district is one of the sub-districts located in mining areas that have low access to latrine sanitation and clean water sources where many people are still affected by recurrent diarrhea. with data in 2019 totaling 216 cases, in 2020 totaling 278 cases and in 2021 totaling 310 cases. The purpose of this study was to determine the risk factors for recurrent diarrhea in the community in the mining area of Morosi District. This type of research uses a case-control study with a retrospective approach. The population in this study amounted to 310 people. The sampling technique used is a simple random sampling technique. The sample in this study amounted to 152 samples of which 76 cases and 76 controls. The analysis method uses the Chi-Square Test and the Odds Ratio Test. The results of the Odds Ratio test for latrine ownership obtained an OR value of 3. The results of the Odds Ratio test for nutritional status obtained an OR value The results of the Odds Ratio test for clean water sources obtained an OR value of 3. The community is also expected to be able and willing to improve the prevention and control of risk factors for recurrent diarrhea in a comprehensive and sustainable manner. Keywords: Risk factor, cases, controls, recurrent diarrhea, morosi Article Info: Received: 1 April 2023 Revised form: 22 Mei 2023 Accepted: 29 Juni 2023 Published online: Juni 2023 Titi Saparina L, dkk. MJPH. Vol. 6 No. 1 Juni 2023 Hal: 70 - 79 Penyakit diare menjadi penyebab kematian PENDAHULUAN Diare berulang merupakan diare yang terjadi kedua pada anak dibawah lima tahun dan berulang dalam jangka aktu yang singkat, yaitu bertanggungjawab atas kematian 370. 000 anak antara satu sampai tiga bulan. Ketika diare tubuh pada tahun 2019. Penyakit diare dapat dicegah akan kehilangan cairan dan elektrolit secara cepat dengan merubah perilaku kebersihan yang buruk serta usus kehilangan kemampuannya untuk menjadi baik dan mererapkan praktik pencegahan menyerap cairan dan elektrolit. Diare merupakan agar mortalitas akibat diare dapat dicegah. penyebab kematian kedua pada anak dibawah Berdasarkan data Kementerian Kesehatan lima tahun. Anak-anak yang kekuranan gizi atau Republik Indonesia pada tahun memiliki kekebalan yang lemah termasuk yang 789 kasus diare yang paling berisiko menderita diare yang mengancam kesehatan, pada tahun 2019 terdapat 4. Diare yang berlangsung lama dan berulang kasus diare yang dilayani di sarana kesehatan, dan dapat menyebabkan kerusakan jaringan usus dan pada tahun 2020 kasus diare yang dilayani mengakibatkan penyerapan nutrisi oleh usus Berdasarkan data yang di atas terlihat kasus diare dilayani di sarana Penyebab utama kematian akibat diare yang dilayani pada sarana kesehatan mengalami adalah dehidrasi akibat kehilangan cairan dan penurunan ditahun 2020, akan tetapi angka elektrolit melalui tinja. Kondisi tersebut sering kesakitan akibat diare tergolong masih relatif terjadi pada anak-anak, terutama anak dengan Di Indonesia, penyakit diare termasuk kategori gizi kurang, lebih rentan menderita diare penyakit endemis dan penyakit potensial Kejadian walaupun tergolong ringan. Namun, karena Luar Biasa (KLB) dan sering disertai dengan Berdasarkan data dari dinas Kesehatan menyebabkan keadaan tubuh lemah dan keadaan Provinsi Sulawesi Tenggara pada Tahun 2018 tersebut sangat membahayakan kesehatan anak. kasus diare yang dilayani di sarana kesehatan Secara global, ada hampir 1,7 milyar kasus 982 % kasus, pada tahun 2019 kasus penyakit diare pada anak setiap tahun. Penyakit diare yang dilayani di sarana kesehatan berjumlah diare merupakan penyebab utama kematian pada 851% kasus, pada tahun 2020 kasus diare yang anak dan morbiditas di dunia dan sebagian besar dilayani di sarana kesehatan. Berdasarkan data disebabkan oleh makanan dan sumber air yang World Health Oranganization (WHO) pada tahun telah terkontaminasi. Di seluruh dunia 780 orang 2019 terdapat 1. 000 kasus penyakit sarana kekurangan akses terhadap air minum yang lebih kesehatan yaitu sebanyak 21. 246% kasus. baik dan 2,5 miliar kekurangan sanitasi yang Kasus penyakit diare untuk Kabupaten Diare akibat infeksi tersebar luas Konawe pada tahun 2019 sebesar 6. 877% kasus diseluruh negara berkembang. pada semua jenis umur. Pada tahun 2020 sebesar Titi Saparina L, dkk. MJPH. Vol. 6 No. 1 Juni 2023 Hal: 70 - 79 319% kasus pada semua jenis umur Pada tahun gali dimana masih banyak tidak memiliki penutup 2021 sebesar 3,101% kasus pada semua jenis serta lantainya tidak kedap air serta masih Kecamatan karenakan letak geografis beberapa desa yang Morini, mengakibatkan susah mendapatkan air bersih Beesu. Paku Morosi. Puuruiy. Morosi. Porara, sehingga masyarakat di wilayah tersebut yang Paku Jaya. Tanggobu, dan Tondowatu. Dari 10 desa tersebut ada 3 desa yang berdekatan dengan menggunakan air sungai untuk cuci piring, mandi lokasi pertambangan nikel yaitu Desa Puruuiy, dan lain-lain dimana air sungai tersebut sudah Paku Morosi dan Morosi dan dimana 3 desa tercemar oleh sebagian limbah cair yang berasal tersebut juga dekat dengan Sungai Morosi. Kasus dari tambang nikel yang berada di sekitar wilayah penyakit diare berulang pada masyarakat di tersebut artinya hal ini merupakan salah satu wilayah kerja UPTD Puskesmas Morosi semakin pemicu terjadinya diare berulang yang dialami tahun semakin meningkat dimana pada tahun oleh 3 desa tersebut. Juga masyarakat di 3 wilayah 2019 berjumlah 216 kasus, pada tahun 2020 tersebut acuh terhadap gizi seimbang meskipun berjumlah 278 kasus dan pada tahun 2021 pihak puskesmas sering memberikan penyuluhan berjumlah 310 kasus, dimana kasus diare berulang mengenai status gizi seimbang hal ini juga didominasi oleh 3 desa yaitu Desa Puruuiy sebesar merupakan salah satu pemicu terjadinya diare 130 kasus. Desa Paku Morosi sebesar 87 kasus Desa Morosi Mendikonuwonua, dan Desa Morosi berjumlah 93 kasus yang artinya Faktor risiko kejadian diare berulang pada desa yang terkena diare berulang merupakan desa masyarakat daerah tambang. Dampak risiko yang berdekatan dengan tambang nikel dan aliran kejadian diare yang Sungai Morosi. mengakibatkan kajadian Berdasarkan hasil survei awal yang telah masyaraka, tercemarnya factor lingkungan fisik dilakukan di 3 daerah yang mendominasi penyakit yang berkaitan dengan kejadian diare yaitu tidak diare berulang di Kecamatan Morosi ditemukan memadainya penyedian air bersih dan lingkungan kondisi wilayah tersebut masih kurang sehat yang jelek, meningkatkan penyakit berbasis dimana masih banyaknya masyrakat di beberapa lingkungan seperti diare. desa yang tidak memiliki sarana seperti pemilikan Faktor - faktor yang mempengaruhi kejadian jamban dimana masih banyak masyarakat yang diare adalah perilaku masyarakat, gizi seseorang. BAB di sepanjang tanggul milik pabrik nikel yang keadaan atau kebersihan lingkungan, keadaan beroprasi di wilayah Kecamatan Morosi dan masih sosial ekonomi, serta pendidikan. Diare dapat banyak pula masyarakat yang menggunakan WC disebabkan oleh bakteri, virus dan parasite. terbang, hal ini menjadi salah satu pemicu Diare kejadinyak diare berulang , sumber air dari sumur Penyebaran diare bisa melalui makanan dan Titi Saparina L, dkk. MJPH. Vol. 6 No. 1 Juni 2023 Hal: 70 - 79 minuman yang telah tercemar oleh kotoran. Diare dapat menyebabkan kematian terutama pada anakanak apabila tidak ditangani dengan baik. Ketersediaan Karakteristik umur responden pada tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar yaitu umur 16Ae26 yaitu sebesar 35 orang . , 05%) yang berkaitan dengan penyakit diare hal tersebut kasus dan 35 orang . ,05%) yang kontrol, dikarenakan air bersih yang digunakan tidak sedangkan yang terendah yaitu umur 49Ae59 sebanyak 2 orang . ,63%) yang kasus dan 2 orang berdampak kurang baik untuk kesehatan,sehingga . ,63%) yang kontrol. Karakteristik jenis kelamin penularan diare dapat terjadi melalui air yang Responden pada tabel 1 menujukan bahwa yang digunakan untuk keperluan sehari-hari. Apabila terbesar adalah lakiAelaki sebesar 44 orang sarana air bersih tidak memenuhi syarat maka . ,59%) yang kasus dan 36 orang . ,32%) yang HASIL frekuensi mengalami diare akan meningkat. Berdasarkan perempuan 32 orang . ,11%) yang kasus dan 40 permasalahan tersebut maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul AuFaktor pendidikan responden pada tabel 1 menunjukan Risiko Kejadian Diare Berulang pada Masyarakat bahwa sebagian besar tamat SMA yaitu sebesar 41 Daerah Tambang di Kecamatan Morosi. ,95%)yang kasus dan 53 orang . ,74%) . ,63%) Karateristik yang kontrol, sedangkan yang terendah yaitu tamat BAHAN DAN METODE D3/S1 sebanyak 6 orang . ,89%) yang kasus dan 5 Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik ,58%) Karateristik observasional dengan rancangan Case-Control pekerjaan responden pada tabel 1 menunjukan Study bahwa sebagian besar bekerja sebagai Pegawai retrospektif yaitu . iare berulan. diidentifikasi Suasta Yaitu sebesar 34 orang . ,74%) yang pada saat ini kemudian faktor risiko diidentifikasi kasus dan 33 orang . ,42%) yang kontrol, dengan membandingkan antara kelompok kasus dengan kelompok kontrol. Rancangan bergerak sebanyak 2 orang . ,63%) yang kasus dan 2 orang dari akibat/penyebab atau paparan. Populasi dalam . ,63%) yang kontrol. Wiraswasta penelitian ini berjumlah 310 orang. Teknik Distribusi responden berdasarkan penderita pengambilan sampel menggunakan teknik simple diare berulang pada tabel 2 menunjukkan bahwa random sampling. Sampel dalam penelitian ini yang kasus 76 orang . %) dan kontrol 76 orang berjumlah 152 sampel dimana 76 kasus dan 76 . %). Metode analisisnya menggunakan Uji Kepemilikan jamban pada tabel 2 menunjukkan Chi-Square dan Uji Odds Ratio. bahwa yang terbesar adalah tidak berisiko Distribusi sebanyak 82 orang . ,95%) dan yang terkecil adalah berisiko 72 orang . ,05%). Distribusi Titi Saparina L, dkk. MJPH. Vol. 6 No. 1 Juni 2023 Hal: 70 - 79 responden berdasarkan Status Gizi pada tabel 2 Distribusi menunjukkan bahwa yang terbesar adalah normal risiko status gizi terhadap kejadian diare berulang sebanyak 129 orang . ,87%), sedangkan yang pada tabel 3 menunjukkan bahwa dari 76 terkecil adalah kurus sebanyak 23 orang . ,13%). responden kasus diare berulang yang diteliti. Distribusi responden berdasarkan Sumber air terdapat 11 responden . ,47%) dengan status gizi Bersih pada tabel 2 menunjukkan bahwa yang yang berisiko dan 65 responden . ,53%) dengan terbesar adalah memenuhi syarat sebanyak 91 status gizi yang tidak berisiko kemudian diantara orang . ,87%), sedangkan yang terkecil adalah 76 responden kontrol yang diteliti terdapat 12 tidak memenuhi syarat sebanyak 61 orang responden . ,79%) dengan status gizi yang . ,13%). berisiko dan 64 responden . ,21%) dengan status Distribusi gizi yang tidak berisiko. Hal ini berarti status gizi risiko kepemilikan jamban terhadap kejadian diare yang tidak berisiko lebih banyak terjadi pada berulang pada tabel 3 menunjukan bahwa dari 76 kasus diare berulang. responden kasus diare berulang yang diteliti. Odds Ratio (OR) pada taraf kepercayaan atau keppemilikan jamban yang berisiko dan 29 Confidence Interval (CI) 95% diperoleh nilai OR responden . ,16%) dengan kepemilikan jamban sebesar 0,903 dengan nilai Lower Limit (LL) sebesar 0,371 dan nilai Upper Limit (UL) sebesar responden kontrol yang di teliti terdapat 23 2,193. Karena nilai OR < 1 maka dapat responden . ,26%) dengan kepemilikan jamban disimpulkan bahwa status gizi merupakan faktor yang berisiko 53 responden . ,74%) dengan risiko kejadia diare berulang di wilayah tambang kepemilikan jamban yang tidak berisiko. Hal ini kecamatan mororsi sebesar 0,903 dengan risiko berarti kepemilikan jamban yang berisiko lebih terrendah sebesar 0,371 dan risiko tertinggi banyak terjadi pada kasus diare berulang. sebesar 2,193. ,84%) Hasil analisis epidemiologi menggunakan uji Hasil analisis epidemiologi menggunakan uji Distribusi Odds Ratio (OR) pada taraf kepercayaan atau risiko sumber air bersih terhadap kejadian diare confidence interval (CI) 95% diperoleh nilai OR berulang pada tabel 3 menunjukan bahwa dari 76 sebesar 3,735 dengan nilai Lower Limit (LL) responden kasus diare berulang yang diteliti, 904 dan nilai Upper Limit (UL) sebesar terdapat 41 responden . ,95%) dengan sumber 7,324. Karena nilai OR > 1 maka dapat responden . ,05%) dengan sumber air bersih merupakan faktor risiko kejadia diare berulang di wilayah tambang Kecamatan Morosi sebesar 3,735 responden kontrol yang di teliti terdapat 20 dengan risiko terrendah sebesar 1,904 dan risiko responden . ,32%) dengan sumber air bersih tertinggi sebesar 7,324. yang berisiko dan 56 responden . ,68%) dengan Titi Saparina L, dkk. MJPH. Vol. 6 No. 1 Juni 2023 Hal: 70 - 79 sumber air bersih yang tidak berisiko Hal ini berarti suber air bersih yang berisiko lebih banyak terjadi pada kasus diare berulang Tabel 2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Analisis Univariat Penderita Diare Berulang. Kepemilikan Jamban. Status Gizi. Sumber Air Bersih di Wilayah Kecamatan Morosi Hasil analisis epidemiologi menggunakan uji Odds Ratio (OR) pada taraf kepercayaan atau Confidence Interval (CI) 95% diperoleh nilai OR sebesar 3,280 dengan nilai Lower Limit (LL) sebesar 1,660 dan nilai Upper Limit (UL) sebesar 6,483. Karena nilai OR > 1 maka dapat disimpulkan bahwa sumber air bersih merupakan faktor risiko kejadia diare berulang di wilayah tambang Kecamatan Morosi sebesar 3,280 dengan risiko terrendah sebesar 6,483 dan risiko tertinggi sebesar 6,483. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karakteristik Responden di Wilayah Kecamatan Morosi Status Sampel Karakteristik Kasus Kontrol Umur/(Bula. 5-15 Tahun 16-26 Tahun 27-37 tahun 38-48 tahun 49-59 tahun Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan SMP SMA D3/S1 Karakteriatik Penderita diare Kasus Kontrol Kepemilikan Jamban Berisiko Tidak berisioko Satatus Gizi Kurus Normal Sumber Air Bersih Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Jumlah Sumber : Data Primer,2022 46,05 53,95 15,13 84,87 40,13 59,87 PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 152 responden menjadi sampel 10 13,16 35 46,05 22 28,95 9,21 2,63 13,16 46,05 28,95 9,21 2,63 penelitian ini didapatkan 70 orang berisiko . ,05%) yakni tidak memiliki jamban sehat. Hal masyarakat tidak mengerti dampak dari jamban 44 57,89 32 42,11 47,37 52,63 21 27,63 8 10,53 41 53,95 7,89 6,58 17,11 69,74 6,58 yang kurang baik atau tidak sehat ada pun kendala lainya masyarakat tidak mempunyai dana untuk membuat jamban sehat sehingga apabila mereka buang air besar mereka menumpang di jamban tetangga, buang air besar di sungai dekat rumah atau buang air besar di jamban cemplung yang ada Pekerjaan PNS Petani Pegawai Swasta IRT Wira Suasta IRT 10,53 26,32 44,74 15,78 2,63 15,78 14,47 43,42 14,47 2,63 14,47 Total Sumber : Data Primer, 2022 Hasil epidemiologi menunjukkan bahwa kepemilikan jamban merupakan faktor risiko kejadian diare berulang di wilayah pertambangan Kecamatan Morosi dengan nilai OR sebesar 3,735. Artinya bahwa orang yang memiliki jamban berisiko Titi Saparina L, dkk. MJPH. Vol. 6 No. 1 Juni 2023 Hal: 70 - 79 Tabel 3. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Analisis Bivariat Penderita Diare Berulang. Kepemilikan Jamban. Status Gizi. Sumber Air bersih di Wilayah Kecamatan Morosi Kejadian Diare Berulang Karakteristik Kasus Kontrol Jumlah Uji Statistik Kepemilikan OR = 3,735 = 1,904 Berisiko 61,84 30,26 46,05 UL = 7,324 Tidak Berisiko 38,16 69,74 53,95 Status Gizi OR = 0,903 Berisiko 14,47 15,79 15,13 LL = 0,371 UL = 2,193 Tidak Berisiko 85,53 84,21 84,87 Sumber Air bersih OR = 3,280 LL = 1,660 Berisiko 53,95 26,32 40,13 UL = 6,483 Tidak Berisiko 46,05 73,68 59,87 100,00 100,00 100,00 Total Sumber : Data Primer, 2022 ini disebabkan karena adanya faktor lain yaitu dibandingkan dengan orang yang memiliki kurangnya kebersihan di dalam dan diluar jamban tidak berisiko. Adapun hasil uji Chi- Square diperoleh nilai p-value = 0,000 < 0,05, berkembang biak di sekitar rumah dan juga faktor jamban yang kurang sehat adalah salah 3,763 kepemilikan jamban dengan kejadian diare di Wilayah Pertambagan Kecamatan Morosi. Sementara itu, terdapat 12 . ,79%) orang yang Semakin buruk keadaan/ status gizi semakin tidak mengalami diare berulang namun berisiko. sering dan berat diare yang diderita. Diduga bahwa Hal ini disebabkan karena lingkungan di sekitar mukosa penderita malnutrisi sangat peka terhadap rumah bersih sehingga vektor pembawa peyakit infeksi karena daya tahan tubuh yang kurang. kususnya penyakit diare tidak bisa berkembang Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa biak di sekitar rumah dan juga sumber air yang dari 152 responden menjadi sampel penelitian ini digunakan bagus dan bersih. didapatkan 23 orang . ,13%) Status gizi kurang. Faktor risiko sumber air bersih terhadap Hal ini dikarenakan masyarakat masih banyak kejadian diare berulang di Kawasan Pertambangan tidak memahami dampak dari kurangnya gizi yang Kecamatan Mororsi. Sebagian besar kuman Ae dapat menurunkan imun sesorang akibatnya virus atau pun bakteri mudah menginfeksi tubuh. melalui jalur fekal Ae oral yang dapat ditularkan Hasil analisis bivariat yang dilakukan dengan memasukkan ke dalam mulut, cairan atau memaparkan bahwa dari 76 orang terdapat 65 benda yang tercemar dengan tinja, misalnya air responden . ,53%). Orang yang mengalami minum, tangan atau jari Ae jari, makanan yang kasus diare berulang namun tidak berisiko. Hal disiapkan dalam panci yang telah di cuci dengan Titi Saparina L, dkk. MJPH. Vol. 6 No. 1 Juni 2023 Hal: 70 - 79 air tercemar dan lainAelain. Banyak air bersih yang merupakan faktor risiko dan faktor internal diperlukan untuk membersihkan alatAealat makanan kejadian diare . tatus giz. dan memasak serta tangan. Memperbaiki sumber air . ualitas dan kuantita. dan kebersihan akan KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan penelitian dan pembahasan yang Tersedianya air penting untuk membiasakan telah diajukan dalam penelitian ini maka dapat kebersihan, misalnya mencuci tangan. Perbaikan sumber dan sanitasi air mungkin juga mencegah faktor risiko kejadian diare berulang di wilayah diare pada kelompok umur lain dan mempunyai tambang Kecamatan Morosi. Status gizi bukan berbagai keuntungan lain di bidang kesehatan. merupakan faktor risiko kejadian diare berulang di Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah tambang Kecamatan Morosi, sumber air dari 152 responden menjadi sampel penelitian ini bersih merupakan faktor risiko kejadian diare didapatkan 61 orang . ,13%) sumber air bersih berulang di wilayah tambang Kecamatan Morosi. Hal ini dikarenakan masyarakat masih Diharapkan bagi puskesmas dan aparat desa mengurangi tertelannya kuman oleh anak kecil. banyak yang tidak mempunyai sumber air yang layak seperti sumur dan lain sebagainya. Pada menghadapi masyarakat, agar hasil penelitian penelitian ini menunjukkan masyarakat yang diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi masih mengambil air di sekitar area kali atau sungai di dekat rumah yang mengalir di sepanjang Kecamatan dan Wilayah Pertambangan Morosi. Sehingga hal ini menyebabkan kejadian diare pencegahan dan penanggulangan kejadian diare berulang akibat sumber air sungai yang digunakan seperti : promosi kesehatan mengenai diare, dan tidak layak atau sudah tercemar oleh limbah dari meminimalisir kejadian diare berulang. Bagi pertambangan di sekitar sungai. Sehingga Berdasarkan tiga varibel hasil penelitian penelitian ini sebagai informasi tambahan tentang menunjukkan bahwa masing-masing nilai faktor kejadian diare berulang, serta diharapkan untuk eksternal kejadian diare memiliki nilai OR Ou 1, dapat mengembangkan penelitian ini dengan yakni kepemilikan jamban sebesar 3,375 dan meneliti faktor risiko lainnya seperti : jenis lantai, sumber air bersih sebesar 3,280. Sedangkan untuk kebersihan lingkungan rumah dan sosial ekonomi faktor internalnya yaitu status gizi memiliki nilai yang berhubungan dengan kejadian diare berulang. OR<1, yakni sebesar 0,903. Sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor eksternal kejadian diare . epemilikan jamban dan sumber air bersi. UCAPAN TERIMA KASIH Terima Program Studi Kesehatan Masyarakat Titi Saparina L, dkk. MJPH. Vol. 6 No. 1 Juni 2023 Hal: 70 - 79 Universitas Mandala Waluya Yayasan Mandala Waluya Kendari atas segala bentuk dukungan menjadikan penelitian ini berjalan dengan lancar, yang merupakan kiat untuk mewujudkan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. DAFTAR PUSTAKA