P-ISSN 2559 Ae 2163 E-ISSN 2599 Ae 2155 Vol. No. Januari 2025 http://cjp. Cendekia Journal of Pharmacy ITEKES Cendekia Utama Kudus IMPLEMENTASI EDUKASI TERHADAP PERILAKU MEROKOK SISWASISWI DI SMK YPKK 1 SLEMAN Deddy Setyono1*. Titien Siwi Hartayu2 Universitas Sanata Dharma Email: deddysetyono79@gmail. ABSTRAK Sekolah merupakan salah satu tempat yang ditetapkan sebagai Kawasan Tanpa Rokok (KTR), sesuai Peraturan Bupati Sleman No. 42/2012. Oleh sebab itu penelitian ini ditujukan untuk menurunkan jumlah perokok di kalangan siswa-siswi SMK YPKK 1 Sleman melalui penyuluhan mengenai bahaya Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan pendekatan kualitatif yaitu melalui pengawasan dan wawancara mendalam . n depth intervie. , kepada siswa-siswi SMK YPKK 1 Sleman. Instrumen penelitian yang digunakan adalah materi penyuluhan dan panduan wawancara mendalam yang dibuat berdasarkan kerangka teori COM-B (Capability. Opportunity. Motivation. Behavio. dan divalidasi oleh 3 Orang experts di bidang kesehatan dan pendidikan. Hasil wawancara dianalisis menggunakan metode enumerative untuk mendapatkan kesimpulan dari alasan/motivasi merokok pada para siswa, yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar perbaikan edukasi/upaya penurunan perokok di kalangan siswa pada khususnya dan remaja pada umumnya. Jumlah siswa-siswi SMK YPKK 1 Sleman yang merokok sebelum edukasi sejumlah 53 siswa-siswi dan sesudah dilakukan edukasi menjadi 36 siswa-siswi atau sebesar 32%. Setelah dilakukan uji McNemar menggunakan SPSS ver 23 di peroleh p-value 0. Hasil menunjukkan perbedaan yang signifikan jika pvalue<0. 05, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada penurunan yang signifikan dalam jumlah perokok setelah dilakukan edukasi. Alasan/motivasi siswa-siswi untuk berhenti merokok karena menjaga kesehatan sebanyak 70%, harga rokok mahal 20% dan karena mendapatkan peringatan orang tua sebanyak 10%. Kendala yang di hadapi siswa-siswi untuk berhenti merokok karena pengaruh lingkungan/teman sebanyak 66,67% dan karena stres/masalah keluarga sebanyak 33,33%. Berdasarkan hasil penelitian yang didapat, disimpulkan bahwa edukasi yang diberikan memiliki efek positif yang signifikan dalam mengurangi jumlah perokok di kalangan siswa-siswi SMK YPKK 1 Sleman sehingga perlu adanya edukasi bahaya merokok secara berkelanjutan dan adanya program pendampingan yang nyata terhadap siswa/siswi dari guru, bekerjasama dengan orangtua murid agar bisa berhenti merokok. Kata kunci : Edukasi bahaya merokok. Kawasan Tanpa Rokok. Perilaku merokok ABSTRACT Schools are designated as No-Smoking Areas in accordance with Sleman Regent Regulation No. 42/2012. This study aimed to reduce the number of smokers among students at SMK YPKK 1 Sleman through education on the dangers of smoking. This study used an observational method with a qualitative approach, utilizing supervision and in-depth interviews with students of SMK YPKK 1 Sleman. The research instruments included educational materials and an in-depth interview guide based on the COM-B (Capability. Opportunity. Motivation. Behavio. theoretical framework, validated by three experts in Health and Education. Interview results were analyzed using the enumerative method to conclude students' reasons/motivations for smoking, which can be used as a basis for improving education and reducing smoking among students and adolescents in general. The number of smoking students at SMK YPKK 1 Sleman decreased from 53 before the education to 36 after, a reduction of 32%. McNemar test using SPSS ver 23 yielded a p-value of 0. Results show a significant difference if p-value<0. indicating a significant decrease in the number of smokers after education. Students' reasons or motivations for quitting smoking were health concerns . %), high cigarette prices . %), and parental warnings . %). Obstacles faced by students in quitting smoking included peer/environmental influence . 67%) and stress/family problems . 33%). Based on the results of study, it is concluded that the education provided had a significant positive effect in reducing the number of smokers among students at SMK YPKK 1 Sleman. Continuous education on the dangers of smoking and a concrete mentoring program for students from teachers, in collaboration with parents, are necessary to help students quit smoking. Keywords: Education on smoking dangers. No-Smoking Area. Smoking behavior LATAR BELAKANG Merokok adalah tindakan yang merugikan kesehatan baik individu, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya sehingga sangat perlu dilakukan tindakan perlindungan terhadap paparan asap rokok yang merupakan hasil dari merokok. Sekolah sebagai tempat proses kegiatan belajar mengajar perlu di lindungi dari cemaran asap rokok agar tetap dapat memberikan ruang dan lingkungan yang bersih dan sehat bagi siswa-siswi dalam menimba ilmu, oleh karena itu berdasarkan Peraturan Bupati Sleman Nomor 42 Tahun 2012 Tentang Kawasan Tanpa Rokok, sekolah menjadi salah satu yang ditetapkan sebagai Kawasan Tanpa Rokok (KTR) (Bupati Sleman, 2. , hal tersebut juga di dukung dengan terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2015 Tentang Kawasan Tanpa Rokok di Lingkungan Sekolah (Kemendikbud RI, 2. Persentase merokok di Indonesia pada usia 15-19 tahun pada tahun 2022 adalah 9,36% dan pada tahun 2023 naik menjadi 9,62%. , di mana usia tersebut adalah usia pelajar, terutama pelajar tingkat menengah atas atau kejuruan. SMK YPKK 1 Sleman telah bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman melakukan edukasi terkait bahaya merokok terhadap kesehatan remaja (Dinas Kesehatan Kab. Sleman, 2. , akan tetapi di lingkungan SMK YPKK 1 Sleman kadang masih ditemukan puntung rokok di beberapa tempat tersembunyi, hal ini menjadi suatu keprihatinan tersendiri terhadap perilaku merokok di lingkungan sekolah, sehingga peneliti tertarik melakukan penelitian Implementasi Edukasi Terhadap Perilaku Merokok Siswa-Siswi di SMK YPKK 1 Sleman. METODE PENELITIAN Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan pendekatan kualitatif yaitu melalui pengawasan dan wawancara mendalam . n depth intervie. , kepada siswasiswi SMK YPKK 1 Sleman. Instrumen penelitian yang digunakan adalah materi penyuluhan dan panduan wawancara mendalam yang dibuat berdasarkan kerangka teori COM-B (Capability. Opportunity. Motivation. Behavio. dan divalidasi oleh 3 orang experts di bidang kesehatan dan pendidikan dengan beberapa responden yang berhubungan dengan penelitian ini. Tahapan pertama yang dilakukan dalam proses pengumpulan data adalah observasi untuk mengetahui keadaan dan gambaran yang jelas mengenai kondisi sekolah, apakah terdapat celah untuk siswa-siswi melakukan kegiatan merokok, serta perilaku merokok siswa-siswi itu sendiri. Tahapan kedua peneliti melakukan studi dokumentasi seperti buku pelanggaran siswa-siswi dan tata tertib sekolah guna mendapatkan data tentang kasus pelanggaran siswa-siswi merokok dan tata tertib yang berlaku di sekolah. Tahapan ketiga adalah melakukan penyuluhan terkait bahaya merokok. Tahapan keempat adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara mendalam . n depth intervie. kepada responden untuk mendapatkan data secara lebih detail. Populasi dan Jumlah Sampel Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi SMK YPKK 1 Sleman tahun ajaran 2023/2024 yang berjumlah 150 siswa-siswi dengan jurusan Farmasi Klinis dan Komunitas . sebanyak 42 siswa-siswi. Akuntansi dan Keuangan Lembaga . on kesehata. sebanyak 30 siswa-siswi, dan Rekayasa Perangkat Lunak . on kesehata. sebanyak 78 siswa-siswi (Operator, 2. , yang dievaluasi dan memenuhi kriteria inklusi. Jumlah Sampel Sampel dalam penelitian ini berjumlah 16 responden yang diambil secara proportional random sampling untuk dilakukan wawancara mendalam. Teknik Sampling Teknik pengambilan data dilakukan dengan melakukan wawancara terstruktur yang telah diuji validitasnya. Dalam teknik wawancara data dikumpulkan dengan teknik proportional random sampling. Tujuan umum pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif adalah untuk memperoleh informasi yang berguna untuk memahami kompleksitas, kedalaman, variasi, atau konteks. Di SMK YPKK 1 Sleman terdapat 3 jurusan yaitu Farmasi Klinis dan Komunitas (Farmas. yang termasuk kategori kesehatan, jurusan Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL) dan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) yang termasuk kategori non kesehatan, maka pengambilan sampel dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 1 yang termasuk kelompok kesehatan dan 2 yang termasuk kelompok non kesehatan dengan perbandingan 1:2. Untuk responden kelompok kesehatan yang tidak pernah merokok menggunakan proportional random sampling melalui undian sejumlah 2 responden, yang pernah 2 responden, kadang-kadang 1 responden dan sering 1 responden. Untuk responden kelompok non kesehatan yang tidak pernah, menggunakan proportional random sampling melalui undian sejumlah 4 responden, sedangkan untuk responden yang tidak pernah merokok sejumlah 4 responden, yang pernah merokok 2 responden, kadangkadang 2 responden, dan sering 2 responden menggunakan purposive random sampling, responden tersebut dipilih atas pertimbangan yang telah peneliti tetapkan agar dapat menjawab pertanyaan penelitian. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian Penelitian ini mengambil tempat di SMK YPKK 1 Sleman yang beralamatkan di Jalan Sayangan 05 Mejing Wetan. Ambarketawang. Gamping. Kabupaten Sleman. Yogyakarta. Waktu penelitian Waktu penelitian adalah Juni Ae Juli 2024 Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan berupa pedoman wawancara terhadap siswa-siswi SMK YPKK 1 Sleman. Pedoman wawancara dibuat berdasarkan kerangka teori COM-B (Capability. Opportunity. Motivation. Behavio. Pedoman wawancara yang dibuat diuji validitasnya secara expert judgement. Tahap Pengolahan dan Analisis Data Hasil penelitian di uji McNemar menggunakan SPSS ver 23, karena menilai perubahan opini atau sikap sebelum dan sesudah intervensi edukasi bahaya merokok, dikatakan signifikan jika p-value < 0,05. Data yang diperoleh, diperkuat dengan hasil wawancara mendalam dari responden yang dianalisis menggunakan metode enumerative untuk mendapatkan kesimpulan dari alasan atau motivasi merokok pada siswa-siswi, yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar perbaikan edukasi atau upaya penurunan perokok di kalangan siswa-siswi pada khususnya dan remaja pada umumnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menganalisis Implementasi Edukasi Terhadap Perilaku Merokok SiswaSiswi di SMK YPKK 1 Sleman, dengan jalan mencari faktor pendukung dan faktor penghambat yang akan digali dengan bantuan wawancara kepada responden mempergunakan kerangka teori Behavior Change Wheel yang didalamnya memuat konstruk COM-B (Capability. Opportunity. Motivation. Behavio. Hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan metode enumerative sebagai berikut: Hasil perbandingan jumlah perokok sebelum dan sesudah intervensi Data perilaku merokok sebelum edukasi diperoleh pada akhir semester gasal pada tanggal 18 Ae 21 Desember 2023 sebanyak 53 responden . ,3%), kemudian dilakukan edukasi bahaya merokok bekerja sama dengan Puskesmas Gamping 1 pada tanggal 16 Februari 2024. Pada tanggal 27-28 Mei 2024 dilakukan pengambilan data perilaku merokok bekerja sama dengan guru Bimbingan Konseling SMK YPKK 1 Sleman, diperoleh hasil sebanyak 36 responden . %) masih merokok, sehingga terjadi penurunan jumlah perokok dari 53 menjadi 36 perokok atau sebesar 32%. Setelah dilakukan uji McNemar menggunakan SPSS ver 23 di peroleh p-value 0. Hasil menunjukkan perbedaan yang signifikan jika p-value<0. 05, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada penurunan yang signifikan dalam jumlah perokok setelah dilakukan edukasi. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan memiliki efek positif yang signifikan dalam mengurangi jumlah perokok di kalangan siswa-siswi SMK YPKK 1 Sleman. Berdasarkan kelasnya, terjadi penurunan jumlah yang pernah merokok sebanyak 17 responden, tetapi untuk jumlah yang kadang-kadang dan sering merokok tidak terjadi Dari hasil ini menggambarkan bahwa edukasi bahaya merokok hanya efektif untuk yang pernah merokok saja, dan tidak efektif untuk yang kadang-kadang atau sering Hal tersebut dikarenakan pernah merokok merupakan fase pertama dimana responden masih mencoba-coba karena penasaran, belum sampai tahap dua yaitu menikmati merokok atau bahkan sampai fase ketiga yaitu merokok menjadi bagian dari kehidupan (Shaheen. Oyebode and Masud, 2. Rangkuman hasil perbandingan disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Data Perilaku Merokok Responden Berdasarkan Kelasnya. Jumlah Merokok Tidak KadangKe Pernah Sering Selalu Jurusan merokok Sebe Sesu Sebe Sesu Sebe Sesu Sebe Sesu Sebe Sesu AKL RPL Farmasi 15 AKL RPL XI Farmasi 12 XII AKL XII RPL XII Farmasi 11 Jumlah Berdasarkan jenis kelaminnya, reponden laki-laki paling banyak mengkonsumsi rokok, perilaku merokok ini awalnya coba-coba, kadang-kadang menggunakan dan akhirnya menggunakannya setiap hari, hal ini juga sejalan dengan penelitian dari Munir M (Munir, 2. Setelah dilakukan edukasi bahaya merokok terjadi penurunan jumlah yang pernah merokok dari sebelumnya laki-laki sebanyak 13 . ,67%) menjadi 0, dan perempuan sebanyak 4 . ,67%) menjadi 0, tetapi untuk jumlah yang kadang-kadang merokok, sering merokok tidak terjadi perubahan. Rangkuman hasil perbandingan jumlah perokok responden sebelum dan sesudah intervensi berdasarkan jenis kelaminnya disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Jumlah. Kategori dan Jenis Kelamin dari Responden yang Merokok. Jumlah Merokok dan Kategorinya Tidak KadangJenis Pernah Sering Selalu Kelamin Sebe Sesu Sebe Sesu Sebe Sesu Sebe Sesu Sebe Sesu Laki-laki Perempuan 84 Jumlah Berdasarkan kelompoknya, kelompok kesehatan lebih sedikit dalam perilaku merokok dibandingkan dengan kelompok non kesehatan, hal ini disebabkan karena tingkat pengetahuan terkait kesehatan lebih baik yang jurusan kesehatan dibandingkan dengan non kesehatan sehingga akan berpengaruh terhadap perilaku sehat (Stevens et al. , 2. setelah dilakukan edukasi bahaya merokok terjadi penurunan jumlah yang pernah merokok dari sebelumnya, kelompok kesehatan sebanyak 2 . ,76%) menjadi 0, dan kelompok non kesehatan sebanyak 15 . ,89%) menjadi 0, tetapi untuk jumlah yang kadang-kadang merokok, sering merokok tidak terjadi perubahan. Rangkuman hasil perbandingan jumlah responden yang merokok sebelum dan sesudah intervensi disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Perbandingan Jumlah dan Kategori Responden Berdasarkan Kelompoknya. Jumlah Merokok Tidak KadangPernah Sering Selalu Kelompok dah lum Kesehatan Non Kesehatan Jumlah Capability siswa/siswi perokok Dari hasil wawancara, menyatakan adanya pengetahuan terkait bahaya merokok dan mengetahui bahwa sekolah merupakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sebanyak 16 responden . %). Dari hasil ini menggambarkan bahwa edukasi bahaya merokok sudah tersampaikan dengan baik. Hal tersebut ditunjukkan oleh hasil wawancara mendalam terhadap siswa-siswi yang menyatakan bahwa mereka sudah mengetahui akan bahaya merokok, seperti pada pernyataan berikut ini. AuRokok berbahaya untuk kesehatan, bisa menyebabkan sakit pernafasan, kanker paru-paru, tengorokan, asmaAy (R3. R14,R15,R. Berdasarkan hasil pengamatan awal mulai merokok, sebanyak 25% dari SD, 31,25% dari SMP dan 18,75% dari SMK, oleh karena itu edukasi bahaya merokok harus di mulai dari SD secara berkelanjutan sampai tingkat universitas. Selain mengetahui bahaya merokok, responden juga memahami bahwa sekolah termasuk dalam Kawasan Tanpa Rokok (KTR), tetapi penerapannya belum ada sanksi dan masih sebatas upaya persuasif. Pada dasarnya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) mengatur kawasan yang tidak diperbolehkan merokok dan promosi rokok yang berdampak sistemik pada kesehatan Masyarakat dan merupakan bagian dari AuProtect people from tobacco smokeAy karena rokok tidak hanya berbahaya bagi penggunanya tetapi juga orang yang berada di sekitarnya (Trisnowati. Rangkuman hasil pengamatan terkait capability responden dirangkum pada Tabel Tabel 4. Capability Perilaku Merokok Responden Capability Frekuensi Persentase . Merokok Tidak merokok Pernah Sering Awal pertama kali merokok Tidak merokok SMP SMK Pernah mendapatkan edukasi bahaya merokok Tahu bahayanya merokok Tahu adanya KTR 56,25 18,75 31,25 18,75 Opportunity siswa-siswi perokok Sebanyak 16 responden yang diwawancarai menyatakan adanya berbagai Opportunity terkait perilaku merokok. Responden mendapatkan rokok dengan cara memperolehnya dari keluarga/teman . ,75%). Hal tersebut yang kemungkinan menjadi hambatan untuk berhenti merokok di masyarakat karena saling menawarkan rokok dianggap sebagai tanda persahabatan dan budaya merokok (Chean et al. , 2. Dari hasil wawancara mendalam didapatkan 87,5% responden tidak ada dana khusus untuk merokok, dan 12,5% responden menyatakan ada dana khusus untuk merokok. Dengan demikian, dana merupakan hal yang perlu mendapat perhatian secara khusus dalam penanggulangan merokok pada remaja. Dari hasil wawancara mendalam menunjukkan bahwa meskipun usia mereka yang masih usia pelajar, ternyata di antara mereka ada yang bekerja mencari uang sendiri untuk uang saku sekolah, seperti yang dinyatakan oleh salah satu responden berikut ini. AuAda anggaran rokok seperti jajan, karena saya cari uang sendiri, buat sangu sekolah, orang tua tidak ngasih uang sakuAy (R. Sehubungan dengan jumlah rokok, didapat hasil sebagai berikut: masih kurang dari 1 bungkus sehari . ,5%) karena masih di fase 1 atau 2, untuk lokasi merokok sebagian besar berada di luar sekolah . ,75%), sesuai pernyataan berikut ini. AuAAmerokok di luar sekolah, di tempat nongkrongAy (R. ,AuA. takut dimarahi dan dihukum Pak Deddy (Kepala sekola. Ay(R. AuAAdi sekolah dilarang merokok, ada poster dilarang merokok di sekolah, nanti kena point Pak Rudi (Waka Kesiswaa. Ay(R. Hal ini berarti perokok takut dengan sanksi yang akan diterima karena terdapat peraturan dilarang merokok di sekolah, dengan kata lain KTR efektif sebagai bentuk perlindungan terhadap bahaya asap rokok (Martini et al. , 2. Beberapa responden merokok karena adanya tekanan dari lingkungan . %), sesuai pernyataan berikut ini. AuA. cowok kok tidak merokok, kan laki-laki, bukan banciAy(R. AuA. kalau tidak merokok bukan temanAy(R3,R. Oleh karena itu, responden harus dibekali keberanian untuk mengatakan tidak terhadap lingkungan/teman yang menekan untuk Tekanan secara verbal seperti tersebut di atas jelas secara psikologis mempengaruhi para remaja yang tidak merokok, yang akhirnya mereka bisa menjadi luluh dan merokok (Wulan, 2. Rangkuman Hasil penelitian terkait opportunity disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Opportunity Perilaku Merokok Responden Opportunity Cara mendapatkan rokok Tidak merokok Beli sendiri Keluarga/teman Dana khusus merokok Ada Tidak ada Banyaknya merokok perhari Tidak merokok < 1 bungkus 1-2 bungkus Lokasi merokok Tidak merokok Sekolah Luar sekolah Tekanan untuk merokok Ada Tidak ada Frekuensi Persentase . 31,25 43,75 6,25 68,75 Motivation siswa-siswi perokok Sebanyak 16 responden yang diwawancarai menyatakan adanya motivasi atau faktor dukungan dan kendala dalam berhenti merokok, namun bentuk dukungan dan kendala tersebut berbeda-beda. Motivasi merokok paling besar dikarenakan faktor cobacoba/penasaran . ,67%), hal ini dikarenakan masa remaja merupakan masa mencari jati diri dan rasa penasaranya sangat besar. Masa remaja merupakan Auambang pintuAy ke tahap dewasa, sehingga mulai mencoba untuk bergaya dan bertingkah laku seperti layaknya orang dewasa, termasuk salah satu tingkah laku yang diikuti adalah merokok (Wulan. Selain itu motivasi merokok dikarenakan biar di anggap keren . ,67%), karena pelampiasan/stress . ,67%) dan karena pengaruh teman sebanyak 25%. Remaja perokok yang dipengaruhi oleh faktor pertemanan cenderung dianggap terbuka dan easy going oleh teman-teman satu lingkungannya (Wulan, 2. Motivasi untuk tidak merokok atau berhenti merokok sebagian besar dikarenakan ingin menjaga kesehatan . %) yang artinya edukasi bahaya merokok sudah bisa diterima dan mengerti akan bahayanya merokok. Selain itu motivasi untuk tidak merokok atau berhenti merokok dikarenakan harga rokok mahal sebesar 20% dan karena pola asuh orang tua dimana bila anak merokok akan mendapatkan peringatan/dimarahi orang tua sebesar Hal ini juga sejalan dengan penelitian Saidul Hudri . yang menyatakan terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dengan perilaku merokok pada remaja (Saidul Hudri. Demikian juga semakin sering orang tua merokok maka akan berpotensi menyebabkan remaja menjadi perokok berat (Setyowati. Hadi and Yugistyowati, 2. Kendala dalam berhenti merokok paling besar karena pengaruh lingkungan/teman . ,67%). Remaja yang merokok rata-rata merasa bahwa agar dapat diakui keberadaannya oleh anggota dalam kelompok serta implementasi bentuk kekompakan sebagai anggota kelompok (Nugroho, 2. , sesuai dengan pernyataan berikut ini. AuAApernah berhenti merokok dan gagal karena di pingini teman-teman sehingga mencoba merokok lagiAy (R. Kendala berhenti merokok juga karena stres atau adanya masalah dalam keluarga . ,33%), remaja yang merokok karena keinginan sendiri memiliki identitas sendiri bahwa dengan merokok dapat menghilangkan rasa stres atau depresi pada dirinya (Nugroho. Selain itu juga bahwa rokok mengandung nikotin yang dapat menimbulkan kecanduan seperti heroin, kokain, atau alkohol sehingga upaya untuk berhenti merokok sering kali tidak berhasil karena kecanduan dan juga termasuk stress (Chean et al. , 2. Rangkuman hasil penelitian terkait motivasi responden disajikan pada Tabel 6. Tabel 6. Motivasi Perilaku Merokok Responden Motivation Frekuensi Motivasi merokok . Coba-coba/penasaran Biar keren Pelampiasan/stress Pengaruh teman Motivasi tidak/berhenti merokok . = . Menjaga kesehatan Harga rokok mahal Di marahi orang tua Kendala berhenti merokok . Stres/masalah keluarga Pengaruh lingkungan/teman Persentase 41,67 16,67 16,67 33,33 66,67 Behavior siswa-siswi perokok Sebanyak 16 responden yang diwawancarai menyatakan adanya berbagai Behavior terkait merokok, antara lain merokok dapat mempengaruhi pembelajaran . ,5%). Hal tersebut dinyatakan oleh responden yang tidak merokok/pernah merokok. Akan tetapi dari kelompok yang masih merokok menyatakan bahwa merokok tidak mempengaruhi proses pembelajaran . ,5%) dengan alasan merokoknya tidak di sekolah sehingga tidak mengganggu saat kegiatan belajar mengajar. AuAdi sekolah bisa ditahan untuk tidak merokok, sehingga tidak mengganggu pembelajaranAy (R. AuAbiasa saja, santai saja kalau di sekolah tidak merokok, tidak ganggu pembelajaranAy (R3. R5. R6. R8. R12. Pernyataan ini bisa muncul dikarenakan merokoknya masih tahap merokok ringan, sesuai pernyataan berikut ini. AuA. jarang banget merokoknya, hanya mencoba, jadi tidak menggangguAAy (R1. R2. , akan tetapi jika perilaku merokok berat bisa mengganggu prestasi, sesuai dengan penelitian Ferdita . yang menyatakan bahwa ada hubungan perilaku merokok dengan prestasi belajar(Nugroho, 2. Sebagian besar . ,5%) responden berkeinginan untuk berhenti/tidak merokok karena merokok hanya coba-coba saja dan ingin menjaga kesehatan, sedangkan 12,5% responden menyatakan belum ada keinginan untuk berhenti merokok. Setelah wawancara lebih dalam, responden ini sudah masuk kategori merokok berat atau fase 3 dimana rokok sudah menjadi bagian dari kehidupan, sehari bisa habis minimal 1 bungkus dan kalau tidak merokok merasa ada yang aneh serta lemas badannya. Terkait hal tersebut, untuk berhenti merokok tidaklah mudah, harus mengikuti program berhenti merokok yang didampingi oleh tenaga kesehatan profesional untuk keberhasilan berhenti merokok, karena mampu memonitor, memberikan informasi dan program kegiatan yang mendukung klien (Minian et al. , 2. Pendapat responden terkait materi edukasi bahaya merokok sebagian besar . ,75%) menyatakan baik dan minta ada ketegasan dalam penindakan pelanggaran. Berikut petikan pernyataan beberapa Responden (R10. R11. AuAAsudah baik, hanya kurang di tegasi saja, yang merokok biar takut, kalau tidak ditegasi teman-teman masih ngeyel untuk merokokAy Berdasarkan hasil temuan pada saat wawancara yaitu adanya faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi motivasi merokok, maka upaya untuk mengurangi jumlah perokok tidak bisa hanya dengan edukasi saja, tetapi perlu dukungan pendampingan baik dari orangtua, guru maupun peraturan terkait. Peraturan tidak hanya dari sekolah, tetapi juga dari orangtua dan pemerintah, dengan penerapannya yang tegas ada sanksi dan tidak hanya sebatas upaya persuasif (Trisnowati, 2. Rangkuman hasil penelitian terkait behavior merokok pada responden disajikan pada Tabel 7. Tabel 7. Behavior Merokok Pada Responden Behavior Merokok mempengaruhi proses pembelajaran Tidak Keinginan berhenti/tidak merokok Ada Tidak ada Materi edukasi bahaya merokok Cukup Baik Frekuensi Persentase . 31,25% 68,75% SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang didapat, disimpulkan bahwa edukasi yang diberikan memiliki efek positif yang signifikan dalam mengurangi jumlah perokok di kalangan siswasiswi SMK YPKK 1 Sleman. Saran Perlu adanya edukasi bahaya merokok secara berkelanjutan dan adanya program pendampingan yang nyata terhadap siswa/siswi dari guru, bekerjasama dengan orangtua murid agar bisa berhenti merokok. DAFTAR PUSTAKA