Absorbent Mind: Journal of Psychology and Child Development Avaliable online at: https://ejournal. id/index. php/absorbent_mind Vol. No. 1 (Juni 2. Pengaruh Faktor Daya Serap Terhadap Tumbuh Kembang Anak Melalui Lingkungan Pendidikan dan Pola Asuh Orangtua The Influence of Absorption Factors on Child Development through the Educational Environment and Parenting Patterns Septiana Agustin1. Jauhan Budiwan2 Universitas Negeri Surakarta, . Institut Agama Islam Sunan Giri. Ponorogo e-mail: . Septiana. agustin@gmail. com1, . jauhan_budiwan@student. Abstrak Artikel ini bertujuan untuk mengetahui karakter anak dalam setiap perkembangannya sesuai dengan kematangan usia dan gaya pengasuhannya. Masa kanak-kanak adalah masa terkaya. Masa ini harus dimanfaatkan oleh pendidik dengan sebaik-baiknya. Penulisan ini dilakukan melalui studi pustaka. Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah dengan mencari jurnal yang terdapat di beberapa media elektronik seperti perpustakaan digital, internet, hingga buku. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibliografi beranotasi yang artinya kesimpulan sederhana dari suatu artikel, buku, jurnal, atau sumber tulisan lain. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan anak dipengaruhi oleh daya serap anak terhadap lingkungan dan gaya pengasuhannya. Anak menyerap dari lingkungan tempat tinggalnya sekaligus menyerap perilaku orang tua sebagai figur kesehariannya. Perkembangan anak juga dipengaruhi oleh daya serap anak terhadap pendidikan yang diterimanya pada setiap tahap perkembangannya. Dengan bekal daya serap yang tinggi, setiap anak mampu menciptakan dunianya dalam menjalani dan menghadapi berbagai permasalahan kehidupannya masing-masing. Daya serap ini akan membentuk karakter dan kepribadian anak agar nantinya memiliki prinsip, gaya hidup, paradigma, dan nilai yang dianutnya. Dengan demikian, masa depan seorang anak bergantung pada masing-masing kekuatan penyerap yang mereka miliki sejak lahir dan yang dipupuk dengan caranya sendiri melalui tugas-tugas pada setiap tahap perkembangan mereka. Kata kunci: Pendidikan, daya serap anak, perkembangan anak. Abstract This article aims to determine the character of the child in each development according to the maturity age and parenting style. Childhood is the richest This period should be utilized by educators as well as possible. This writing is done through literature study. The data collection tool in this research is to search journals contained in several electronic media such as digital libraries, the internet, through books. The data analysis technique used in this research is annotated bibliography which means a simple conclusion from an article, book, journal, or some other source of writing. The results of this writing. Child development is influenced by the child's absorption of the environment and parenting style. Children absorb from the environment in which they live and at the same time absorb the behavior of their parents as their daily figures. Child development is also influenced by the child's absorption of the education they receive at each stage of development. With the provision of high absorption power, each child is able to create their world in living and facing the various problems of their respective lives. This absorption capacity will shape the character and personality of children so that later they have the principles, lifestyle, paradigm, and values that they adhere to. Thus, the future of a child rests on each of the absorbent powers which they have had from birth and which Absorbent Mind: Journal of Psychology and Child Development Avaliable online at: https://ejournal. id/index. php/absorbent_mind Vol. No. 1 (Juni 2. are cultivated in their own way through the tasks at each stage of their Keywords: Education, absorption of children, child development. PENDAHULUAN Artikel ini bertujuan untuk mengetahui karakter anak pada setiap perkembangannya sesuai dengan usia kematangan dan pola asuh orang tua. Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling kaya. Masa ini sudah seharusnya digunakan oleh para pendidik dengan sebaikbaiknya. Jika masa kanak-kanak terabaikan, maka peristiwa-peristiwa penting tidak akan pernah dapat diganti. Sebagai contoh anak-anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya, anakanak yang dilabel buruk oleh guru, anak-anak yang dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu, serta anak-anak yang mengalami trauma buruk baik itu akibat kekerasan fisik maupun psikis. Segala peristiwa masa lalu yang terjadi ditahap usia kanak-kanak biasanya akan menjadi suatu moment yang tidak bisa dilupakan dengan mudah (Piaget1. Jika yang terjadi di masa lalu adalah hal yang buruk, maka dapat berdampak pada kurang optimalnya anak-anak itu memenuhi setiap tugas perkembangannya. Sebaliknya, jika di masa kanakkanak mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan didikan yang baik dan benar, maka anak itu akan maksimal di setiap tugas perkembangannya. Tugas sebagai pendidik adalah memanfaatkan tahun-tahun awal anak-anak dengan rasa peduli yang tinggi, tidak mengabaikan dengan sikap acuh atau tidak dijadikan sebagai Adapaun sebuah pengamatan sederhana yang cukup membuktikan bahwa anak tumbuh dan berkembang dengan ragam pengetahuan bahasa. Namun demikian, mereka mampu menggunakan bahasa orang tuanya, sebagai bagian dari pembiasaan dan penyerapan yang baik (Montessori, 1. Tak seorangpun mengajari anak kecil, namun ia secara tak terduga mulai menggunakan nomina . ata bend. , verba . ata kerj. , dan kata sifat . mengungkapkan kemauannya. Anak tidak hanya diajarkan untuk mengenali sesuatu yang terihat di sekelilingnya, namun sekaligus dapat memahami dan menyesuaikan dirinya dengan cara hidup orang Terkadang ketika anak diajarkan sesuatu, dia akan berusaha menata dan membangun semua formasi kompleks yang akan menjadi modal kecerdasan di masa depan, yaitu landasan bagi rasa keagamaan, pengelolaan emosi, dan sikap sosial yang muncul dari dalam dirinya (Feez, 2. Menjelang usia tiga tahun, anak telah berhasil membangun landasan kepribadiannya sebagai seorang manusia, dan hanya pada usia itulah ia akan membutuhkan bantuan atau Absorbent Mind: Journal of Psychology and Child Development Avaliable online at: https://ejournal. id/index. php/absorbent_mind Vol. No. 1 (Juni 2. pengaruh khusus dari pembelajaran di sekolah . Para psikolog seringkali menegaskan bahwa jika kemampuan murni orang dewasa dibandingkan dengan kemampuan anak pasti berbeda, maka tentu kita memerlukan enam puluh tahun kerja keras untuk mencapai karya yang setara dengan yang dicapai anak pada usia tiga tahun. Sehingga muncul sebuah kalimat bahwa pada usia tiga tahun anak sesungguhnya sudah menjadi orang dewasa kecil (Bandura, 1. Perkembangan anak sudah dimulai sejak lahir, bukan dimulai saat mereka bersekolah, maka peran orang tua dalam mendidik anak diusia emas sangatlah penting (Santrock, 2. Jika kita bisa demikian maka anak akan bisa menjadi hal yang bisa dibanggakan oleh orang METODE Penelitian ini dilakukan melalui studi kepustakaan. Studi kepustakaan adalah penelitian yang dilakukan dengan mengkaji mengenai konsep dan teori yang digunakan berdasarkan literatur yang tersedia, diantaranya artikel-artikel yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah yang berisi teori-teori yang relevan dengan masalah-masalah penelitian. Objek dalam penelitian ini adalah teori belajar behavioristik. Sedangkan subyek penelitian adalah guru dan siswa. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan melakukan penelusuran jurnal-jurnal yang terdapat pada beberapa media elektronik seperti digital library dan internet, serta melalui buku-buku. Kata kunci yang digunakan untuk menemukan penelitian yang relevan dalam penelitian studi pustaka ini adalah belajar behavioristik dengan melibatkan siswa, guru dan orang tua. Oleh sebab itu, alat pengumpulan data menggunakan teks-teks literasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis anotasi bibliografi . nnotated bibliograph. yang artinya suatu kesimpulan sederhana dari suatu artikel, buku, jurnal, atau beberapa sumber tulisan lain. Sedangkan bibliografi diartikan sebagai suatu daftar sumber dari suatu topik. HASIL DAN PEMBAHASAN Masa Depan Anak Bukan Berdasarkan Keturunan Pendidikan merupakan faktor terpenting bagi pembangunan sebuah Negara . Oleh karena itu, negara jangan sampai menelantarkan anak-anak. Pendidikan berkewajiban untuk bertindak secara otoritatif terhadap masyarakat yang sebelumnya mengucilkannya. Jika jelas bahwa masyarakat perlu memberikan kontrol yang bermanfaat terhadap individu-individu. Absorbent Mind: Journal of Psychology and Child Development Avaliable online at: https://ejournal. id/index. php/absorbent_mind Vol. No. 1 (Juni 2. dan jika memang benar bahwa pendidikan harus dipandang sebagai pertolongan bagi kehidupan, maka kontrol tersebut jangan sampai bersifat mengekang dan menindas, namun harus berupa kontrol yang bersifat bantuan fisik dan psikis (Ki Hajar Dewantara, 1. Energi konstruktif besar pada anak sejauh ini masih terpendam di bawah timbunan gagasan yang menyangkut peran keibuan. Kita terbiasa mengatakan bahwa ibulah yang membentuk anak karena dialah yang mengajari anak berjalan, berkata-kata, dan lain-lain. Namun, tak satu pun hal-hal tersebut yang benar-benar dilakukan oleh sang ibu. Hal tersebut merupakan prestasi anak. Yang dimunculkan oleh seorang ibu adalah bayi, namun bayilah yang menciptakan manusia dewasa. Seandainya sang ibu meninggal dunia, bayinya tetap tumbuh besar dan menyelesaikan karyanya dalam menciptakan manusia dewasa. Dengan demikian tidak ada sesuatu pun yang bersifat keturunan dari semua penguasaan di atas. Anaklah yang menyerap bahan mentah dari dunia yang berada di sekelilingnya, dialah yang membentuknya menjadi manusia dewasa masa depan (Montessori, 1. Pendidikan Merupakan Pertolongan Bagi Kehidupan Anak Masa pertumbuhan anak bermula dari saat kelahiran hingga usia enam tahun. Sepanjang masa ini jenis mentalitasnya tetap sama, meski sangat berbeda jauh dengan jenisjenis mentalitas pada masa-masa sesudahnya. Sejak masa kelahiran hingga usia tiga tahun, anak memiliki jenis pikiran yang tidak dapat didekati orang dewasa, yakni kita tidak dapat memberikan pengaruh langsung dalam bentuk apapun. Sebaiknya anak belum bersekolah pada usia ini. Masa berikutnya bermula dari enam hingga dua belas tahun. Inilah masa pertumbuhan tanpa perubahan lain. Anak menjadi tenang dan bahagia. Secara mental dalam keadaan sehat, kuat, dan stabil. Masa ketiga berawal dari usia dua belas hingga delapan belas Inilah masa terjadinya banyak perubahan sebagai masa pertumbuhan pertama. Kemudian masuk pada masa perkuliahan. Kecenderungan yang dibentuk adalah orang-orang muda hanya menghabiskan waktu untuk menyimak, padahal kerja dan pengalaman praktislah yang mengarahkan anak muda menuju kedewasaan (Piaget & Inhelder, 1. Anak tidak dilahirkan dengan sedikit pengetahuan, sedikit memori, sedikit daya kehendak, yang hanya harus berkembang seiring berlalunya waktu. Namun, manusia berkembang lebih baik dari hanya sekedar binatang, manusia memiliki perbedaan yang yang besar dari binatang, hal yang membedakan adalah kemampuan manusia untuk berfikir dan mengembangkan sesuatu yang difikirkannya. Jika kita menyebut bahwa mental orang dewasa dalam posisi sadar, maka kita harus menyebut mentalitas anak sebagai posisi tak sadar. Namun, pikiran tak sadar bisa jadi yang paling cerdas. Anak memiliki jenis kecerdasan yang tak sadar ini, dan kecerdasan inilah yang Absorbent Mind: Journal of Psychology and Child Development Avaliable online at: https://ejournal. id/index. php/absorbent_mind Vol. No. 1 (Juni 2. menghasilkan kemajuan yang mengagumkan. Kecerdasan tak sadar bermula dengan pengetahuan tentang lingkungan sekelilingnya (Gardner, 1. Anak menyerap impresiimpresi tersebut bukan dengan pikirannya namun dengan hidupnya itu sendiri. Salah satu contoh sederhana adalah dalam penguasaan bahasa. Menguasai bahasa dari nol membutuhkan jenis mentalitas yang berbeda. Dapat dikatakan bahwa kita memeroleh ilmu pengetahuan dengan menggunakan pikiran kita, namun anak menyerap ilmu pengetahuan secara langsung ke dalam alam psikisnya. Ketika anak dilahirkan, maka dia secara otomatis akan mampu menguasai bahasa ibu atau bahasa aslinya (Montessori, 1. Begitulah cara belajar seorang anak, ia mempelajari segala sesuatu tanpa menyadari bahwa dirinya sedang mempelajarinya, serta dalam melakukan hal tersebut ia beralih sedikit demi sedikit dari alam tak sadar menuju alam sadar, dengan selalu menapaki jalan-jalan kebahagiaan dan kasih. Banyak prestasi lain yang mampu ia pelajari dengan kecepatan yang Semua hal di sekelilingnya diserap yang meliputi kebiasaan, adat, dan agama. Semuanya masuk dan mengakar kuat di dalam pikiran. Tugas kita sebagai orang dewasa tidak hanya mengajari, namun juga membimbing pikiran anak dalam melewati tumbuh Hal yang baik dilakukan adalah jika kita mampu dengan senantiasa siap sedia, dengan memperlakukan anak secara cerdas, dengan memahami kebutuhan-kebutuhan vitalnya, memperpanjang masa bagi kapasitas menyerapnya. Penemuan bahwa anak memiliki pikiran yang mampu menyerap dengan sendirinya menghasilkan revolusi pendidikan. Oleh karenanya, kita perlu membantu anak tidak lagi karena kita menganggapnya sebagai seorang makhluk yang mungil dan lemah, namun karena ia dikaruniai oleh daya-daya cipta besar, yang karena sifat alaminya sedemikian lemah sehingga membutuhkan perlindungan yang penuh kasih dan cerdas. Pendidikan pun menjadi urusan memberikan pertolongan bagi kehidupan anak, bagi perkembangan psikologis Pendidikan tidak lagi menjadi sekadar tugas terpaksa mempertahankan kata-kata dan gagasan kita. Inilah jalur baru yang telah ditempuh oleh pendidikan. Proses kehidupan bagi anak, merupakan perluasan dan pengembangan diri sendiri. semakin ia dewasa, semakin kuat dan cerdas. Kerja dan aktivitas membantunya menguasai kekuatan dan kecerdasan tersebut (Ferdiawan & Putra, 2. Bukan Pendidikan Moral. Namun Pembentukan Karakter Seringkali orang tua bingung menghadapi anak-anak yang memiliki sifat atau kepribadian yang AukerasAy. Banyak orang tua memilih untuk menitipkan anak mereka kepada nenek atau mengirimkan ke sekolah-sekolah. Kurangnya kontrol orangtua dalam mengasuh dan mendidik anak dapat membawa dampak buruk bagi anak (Stefanski et al. , 2. Absorbent Mind: Journal of Psychology and Child Development Avaliable online at: https://ejournal. id/index. php/absorbent_mind Vol. No. 1 (Juni 2. Sebagian orangtua dalam menyelesaikan masalah memiliki pandangan yang berbeda. Ada yang memilih untuk meminta bantuan kerabat, ada pula yang menyelesaikan secara mandiri. Terkadang juga memutuskan untuk bersikap keras sebagai langkah untuk memecahkan Mereka menggunakan segala cara untuk memukul, membentak, menyuruh tidur, dalam kondisi lapar, namun anak-anak hanya semakin bertambah parah dan merepotkan. Hingga langkah persuasi yang matang pun dicoba seperti mencoba menyayangi dan memahami si anak. Anak-anak dengan tipe yang lebih pasif, atau resesif, dalam hal ini kurang menarik perhatian. Perilaku mereka tidak menjadi masalah, namun jika dibentak atau terlalu ditekan, maka anak akan menjadi ketakutan, tangan dan kakinya gemetaran, tidak nafsu makan, bahkan sakit (Barlow & OAoConnor, 2. Semua persoalan ini dapat dipecahkan jika kita memahami rangkaian aktivitas konstruktif yang semestinya dilalui dengan baik dan secara alami oleh anak. Ingat bahwa setiap cacat karakter diakibatkan oleh perlakuan salah tertentu yang dialami oleh anak selama bertahun-tahun awal kehidupannya (Lickona, 2. Jika anak ditelantarkan di rumah, maka pikiran mereka pun kosong karena tidak memiliki kesempatan untuk mengisinya. Penyebab lainnya berupa kurangnya aktivitas spontan yang dipandu oleh dorongan kreatif. Akibatnya berupa sikap pasif dan kelambanan. Tidak mampu melihat segala sesuatu tanpa menggenggamnya dengan kedua tangan mereka, tidak ada yang dapat mereka tangani, meskipun mereka telah melihat dan menginginkan banyak hal. Hasil ini menjadikan kita memahami bahwa cacat-cacat mereka yang sebelumnya telah diperoleh bukanlah bersifat Mereka juga tidak benar-benar berbeda satu sama lain, hanya karena satu anak berbohong dan satunya lagi membangkang. Namun semua masalah tersebut bersumber dari satu sebab yang berupa kurangnya gizi dan pengayaan bagi aktivitas pikiran (Yong et al. Ibarat seorang manusia kelaparan, maka kita tidak menyebutnya bodoh, tidak pula memukulinya, dan tidak pula membujuk-bujuk hatinya. Prinsip yang sama berlaku juga Bukannya sikap keras ataupun kasih sayang yang akan memecahkan persoalannya. Manusia adalah makhluk yang cerdas dan membutuhkan makanan mental yang nyaris melebihi makanan fisik. Jadi masalah-masalah di atas bukanlah masalah-masalah pendidikan moral, namun masalah pembentukan karakter. Kurangnya karakter, atau cacat karakter, akan lenyap dengan sendirinya tanpa membutuhkan petuah dari orang-orang dewasa atau teladan dari orang-orang tua. Kita tidak perlu mengancam atau membujuk-bujuk, namun sekadar Aumenormalkan kondisiAy yang menjadi tempat anak hidup. Aktivitas Konstruktif Untuk Mencapai Normalisasi Absorbent Mind: Journal of Psychology and Child Development Avaliable online at: https://ejournal. id/index. php/absorbent_mind Vol. No. 1 (Juni 2. Manusia merupakan makhluk yang utuh, namun keutuhan ini harus dibangun dan dibentuk melalui pengalaman aktif di dunia nyata, yang diatur oleh hukum-hukum alam. Jika kondisi-kondisi luar mencegah integrasi ini, maka energi yang sama tersebut akan terus mendorong masing-masing formasi parsial untuk melanjutkan aktivitas secara terpisah satu sama lain (Dewey, 2. Hal ini mengakibatkan perkembangan yang timpang, yang melenceng, atau terlepas dari tujuan yang hakiki. Tangan bergerak tanpa tujuan, pikiran berkelana dan melantur jauh dari realita, bahasa asyik dengan dirinya sendiri, dan tubuh bergerak secara kaku. Penyimpangan-penyimpangan tersebut tidak dapat ditujukan ke Penyimpangan mengorganisasikan kepribadian. Penyimpangan tersebut merupakan karakteristik sementara, namun sayangnya tidak dapat diperbaiki karena hanya dapat disembuhkan ketika semua kekuatan berfungsi secara terpadu untuk memenuhi tujuan-tujuan individu seutuhnya. Dalam Klinik Bimbingan Anak (Child Guidance Clinic. yang didirikan secara luas untuk merawat Auanak-anak sulitAy, tugasnya hanyalah mencapai normalisasi, yakni memberikan lingkungan yang kaya motif untuk beraktivitas bagi anak, yang di dalamnya anak dapat memilih apa yang hendak diambil dan digunakan olehnya. Dengan pilihan inilah ia bebas dari kontrol guru, atau bahkan lepas dari kontrol orang dewasa secara umum. Terapi bermain yang dipadukan dengan interpretasi oleh psikiater . ang menghasilkan nasihat yang meningkatkan perlakuan terhadap anak di ruma. , dapat menghasilkan peningkatanpeningkatan karakter anak, meskipun peningkatan tersebut juga disebabkan oleh pergaulan sosialnya dengan anak-anak yang lain (Deficit & Disorder, 2. Perkembangan adalah pembentukan kepribadian, dicapai melalui usaha dan pengalaman-pengalaman pribadi seseorang, perkembangan merupakan jalan panjang yang harus dilalui oleh setiap anak menuju kedewasaan. Siapapun dapat menindas dan menguasai orang yang lemah dan takhluk, namun tak seorangpun dapat menyebabkan orang lain Inilah perbedaan antara pendidikan yang lama dan baru. Kita ingin pembentukan diri manusia pada saat yang terpat, sehingga manusia mampu bergerak mencapai sesuatu yang Masyarakat telah membangun dinding penghambat. Dinding penghambat inilah yang harus diruntuhkan oleh pendidikan, untuk menyingkapkan cakrawala baru yang bebas. Pendidikan yang baru adalah revolusi, namun tanpa kekerasan. Setelah itu, jika pendidikan menang, revolusi kekerasan akan selamanya menjadi mustahil. Menyingkapkan Dunia Anak yang Menakjubkan Absorbent Mind: Journal of Psychology and Child Development Avaliable online at: https://ejournal. id/index. php/absorbent_mind Vol. No. 1 (Juni 2. Langkah pertama yang harus diambil oleh calon guru menurut Montessori adalah mempersiapkan dirinya sendiri. Untuk satu alasan, ia harus menjaga agar imajinasinya tetap hidup, ia harus memegang teguh semacam keyakinan bahwa anak akan menyingkapkan dirinya melalui kerja. Tahap pertama guru adalah penjaga dan pengawal lingkungan. Tampilan guru merupakan langkah pertama untuk memeroleh kepercayaan dan rasa hormat anak didik. Guru perlu memerhatikan gerakan-gerakan tubuhnya sendiri, membuatnya sesantun dan seanggun-anggunnya. Tahap berikutnya adalah guru harus tampil dan bersikap menggoda, ia harus merayu anak-anak. Guru, pada masa perkembangan yang pertama ini, sebelum kemampuan konsentrasi muncul, harus bersikap seperti nyala api yang menyemangati semua dengan kehangatannya, menghidupkan dan mengundang. Guru yang memiliki bakat dalam memikat anak-anak dapat mengajak mereka untuk melakukan beragam latihan, yang meskipun seandainya latihan-latihan tersebut tidak memiliki nilai pendidikan yang tinggi, namun bermanfaat untuk menenangkan anak. Semua orang tahu bahwa seorang guru yang aktif dan bersemangat jauh lebih memikat daripada seorang guru yang lamban, dan kita semua dapat bersemangat jikalau mau mencoba. Tahap ketiga guru harus ekstra hati-hati. Tidak ikut campur tangan berarti tidak campur tangan dalam bentuk apapun. Inilah momen ketika guru seringkali berbuat kesalahan. Anak yang sebelum tiba pada momen tersebut dikenal sangat sulit dan bandel, pada akhirnya memusatkan perhatiannya pada satu pekerjaan. Jika sewaktu melintas, guru sekadar mengatakan AubagusAy, maka ucapan tersebut sudah cukup merusak semuanya. Minat si anak tidak hanya terpusat pada pelaksanaan pekerjaan itu sendiri, namun lebih seringnya didasarkan pada keinginannya untuk memcahkan kesulitan. Prinsip utama yang mendatangkan keberhasilan kepada guru diantaranya akan muncul tidak lama setelah konsentrasi itu muncul, bersikap seolah-olah anak tidak ada. Guru tidak perlu ikut campur tangan ketika tidak diminta oleh anak. Hakikat Cinta Pada Anak Sungguh Luar Biasa Anak merupakan satu-satunya titik pertemuan rasa kasih dan sayang dari kalbu semua Jiwa manusia melembut dan menjadi indah ketika kita berbicara tentang anak-anak, semua orang akan merasakan emosi yang mendalam yang dibangkitkan oleh anak-anak. Anak merupakan mata air cinta . Setiap kali kita menyentuh anak, sesungguhnya kita menyentuh Inilah cinta yang sulit didefinisikan, kita semua merasakannya, namun tak seorang pun dapat melukiskan akar dan sumbernya, atau menilai dampak besar yang mengalir darinya, dan menghimpun kekuatannya untuk mempersatukan manusia. Cinta, seperti yang kita rasakan Absorbent Mind: Journal of Psychology and Child Development Avaliable online at: https://ejournal. id/index. php/absorbent_mind Vol. No. 1 (Juni 2. terhadap anak, pasti hadir secara potensial di antara manusia, karena kesatuan umat manusia memang hadir dan tidak ada kesatuan tanpa cinta. Cinta dan harapan tentang cinta bukanlah benda-benda yang dapat dipelajari oleh seseorang, cinta dan harapan merupakan bagian dari warisan kehidupan. Dalam kenyataannya, cinta bisa dipandang dari sudut lain selain agama dan puisi. Cinta dapat didekati dari sudut pandang kehidupan itu sendiri. Dari sinilah kita melihat cinta sebagai sesuatu yang dibayangkan atau didambakan, namun sebagai realita dari energi abadi yang tak dapat dihancurkan oleh apapun. Karena cinta lebih dari sekadar energy, cinta merupakan penciptaan itu sendiri. Kunci dari cinta adalah kemurahan hati. Kemurahan hati meredakan amarah, ia bersifat lembut, kemurahan hati tidak membenci, lurus hati, tidak sombong. Bukan ambisisus, tidak mencari dirinya sendiri, tidak memancing permusuhan, tidak merencanakan kejahatan. Jangan bergembira dengan ketidakadilan, namun berbahagialah karena kebenaran. Rengkuh semuanya, percayai semuanya, harapkan segalanya, terima semuanya dengan tabah. Ingat tentang Pikiran Spon pada anak. Pikiran Spon menerima segalanya, tidak menilai, tidak menolak, tidak menanggapi . Ia menyerap semuanya dan menjelmakannya dalam bentuk manusia masa depan. Anak menerima segalanya dengan sabar. Ia memasuki dunia dan apa pun kondisi yang menjadi tempat kelahirannya, ia membentuk dan menyesuaikan dirinya agar dapat hidup di sana, dan ketika dewasa kelak ia akan bahagia untuk menghabiskan sisa usia di kampung halamnnya. Pikiran Spon menyambut segalanya dengan tangan terbuka, menaruh harapan pada semuanya, menerima kemiskinan sekaligus kekayaan, memeluk agama, prasangka dan kebiasaan apa pun dari masyarakatnya, menjelmakan semuanya dalam dirinya. Inilah anak. Disinilah khazanah cinta terjelmakan, yang mencakup setiap jenis kemurahan Menggeluti Profesi Sebagai Pemenuhan Tujuan Hidup Secara pribadi, kunci sebagai pendidik yang luar biasa adalah menjadikan belajar menjadi sebuah gaya hidup yang biasa dan berusaha mewujudnyatakan berbagai pengalaman yang dialami menjadi sesuatu yang tidak biasa. Dalam hal hakikat kemunculan anak di dunia ini, penulis kurang sependapat dengan John Locke yang mengatakan bahwa anak terlahir seperti kertas putih yang kosong . onsep Tabula Ras. Bagi penulis, anak terlahir bagaikan sebuah benih yang hidup, yang memiliki potensi luar biasa untuk suatu ketika ia bertumbuh, berkembang, dan berbuah lebat. Jika sebuah benih diberi pupuk dan air yang cukup, mendapatkan pencahayaan yang cukup, dan dirawat dengan sebaik-baiknya, maka benih ini akan tumbuh mengeluarkan ranting dan daun. Jika sudah waktunya, benih ini akan Absorbent Mind: Journal of Psychology and Child Development Avaliable online at: https://ejournal. id/index. php/absorbent_mind Vol. No. 1 (Juni 2. menghasilkan bunga, bahkan akan menghasilkan buah-buah yang manis dan lezat. Buah-buah yang dapat dinikmati oleh banyak orang. Demikian pula dengan anak, yang mendapatkan cinta dan kasih sayang yang luar biasa, diberikan kebebasan yang tidak mengekang mereka, dan diberikan berbagai pilihan aktivitas konstruktif yang dapat membangkitkan kreativitas mereka, maka seorang anak akan mencapai normalitas yang diharapkan. Anak akan tumbuh dan berkembang dengan kepribadian dan karakter yang layak untuk dibanggakan. Kebaikan anak dan seluruh karya yang dihasilkan oleh anak, akan dapat dinikmati oleh banyak orang. Oleh karena itu bagi penulis, pekerjaan sebagai seorang pendidik bukan sekadar profesi yang digeluti, namun merupakan sebuah panggilan untuk memberikan teladan hidup bagi setiap anak didik yang dipercayakan kepada kita. KESIMPULAN. Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh daya serap anak terhadap lingkungan dan pola asuh orang tua. Anak menyerap dari lingkungan dimana mereka tinggal dan sekaligus menyerap perilaku orang tua sebagai figur keseharian mereka. Tumbuh kembang anak juga dipengaruhi oleh daya serap anak terhadap pendidikan yang diterimanya di setiap tahap Dengan bekal daya serap yang tinggi, setiap anak mampu menciptakan dunia mereka dalam menjalani dan menghadapi berbagai problematika kehidupan mereka masingmasing. Daya serap ini yang akan membentuk karakter dan kepribadian anak untuk nantinya mereka memiliki prinsip, gaya hidup, paradigma, dan nilai-nilai yang dianut. Jadi, masa depan seorang anak bertumpu pada masing-masing daya serap yang mereka miliki sejak kelahirannya dan yang diolah dengan cara mereka sendiri lewat tugas-tugas di setiap tahap perkembangan mereka BIBLIOGRAFI Bandura. Social Learing Theory. In Prentice-Hall. Prentice Hall. Barlow. OAoConnor, . Antenatal behavioural/emotional problems in children . ultiple letter. In British Journal of Psychiatry (Vol. Issue NOV. Deficit. , & Disorder. Psycho-educational assessment (Issue Septembe. Dewey. Education and democracy and introduction to the philoshopy of education. Library of alexsandria. Feez. Montessori and Early Childhood. https://doi. org/10. 1037/016604 Ferdiawan. , & Putra. Esq Education for Children Character Building based on Phylosophy of Javaness in Indonesia. Procedia - Social and Behavioral Sciences. Absorbent Mind: Journal of Psychology and Child Development Avaliable online at: https://ejournal. id/index. php/absorbent_mind Vol. No. 1 (Juni 2. 106, 1096Ae1102. Gardner. Frames of Mind : The Theory of Multiple Intelligences. Basic Books. A Member of the Perseus Books Group. Ki Hajar Dewantara. Asas-asas dan dasar-dasar Taman Siswa (Ketig. Madjelis Luhur Taman Siswa. Lickona. Education for character: How Our Schools Can Teach Respect and Responbility. In Education for character. Bumi Aksara. Montessori. Absorbent Mind. Piaget. , & Inhelder. The Psychology Of The Child. Basic Books. Santrock. Educational Psychology. McGraw-Hill. Stefanski. Valli. , & Jacobson. Beyond Involvement and Engagement: The Role of the Family in School-Community Partnerships. School Community Journal, 26. , 135Ae160. Yong. Yu. , & Mei. Quality family meal times in promoting good social adjustment among adolescents. Sunway Academic Journal, 5, 128Ae138.