JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 ISSN ONLINE : 3047-2857 Kajian Lingkungan Fisik dalam Mendukung Pengembangan Kota Kreatif di Kotabaru. Yogyakarta Salsabiila Balqiis . Nimah Mahnunah. * . , . * Perencanaan Wilayah dan Kota . Universitas Amikom Yogyakarta [Jl. Padjajaran. Ring Road Utara. Yogyakart. Email : salsabiilabalqiis@students. , nimahmahnunah@amikom. ABSTRAK Kota Yogyakarta telah dikenal sebagai pusat budaya dan pendidikan di Indonesia yang menciptakan ekosistem yang kaya untuk pertumbuhan ekonomi kreatif yang salah satunya berlokasi di Kotabaru. Kotabaru sebagai salah satu lokasi pengembangan program kota kreatif berdasarkan Road Map Kota Kreatif Yogyakarta Tahun 2021. Dalam mendorong pengembangan kota kreatif, salah satu pondasi dasar yang harus dipenuhi yaitu ketersediaan lingkungan kreatif atau creative milieu. Lingkungan kreatif dapat dinilai dari ketersediaan lingkungan fisik dan lingkungan non fisik yang berperan untuk mendorong ideide kreatif muncul dari adanya pertemuan orang-orang kreatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi lingkungan fisik dalam mendukung pengembangan Kota Kreatif di Kotabaru. Yogyakarta. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan deduktif pada karakteristik estetika kawasan, ketersediaan ruang terbuka, infrastruktur yang berkualitas, dan keragaman penggunaan lahan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan dan wawancara kepada Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Yogyakarta untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai kondisi infrastruktur fisik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa infrastruktur fisik di Kotabaru memiliki kontribusi dalam pengembangan kota kreatif yang mendukung munculnya kreativitas dan inovasi. Namun, masih ada kriteria infrastruktur fisik di Kotabaru yang perlu diperbaiki dan dilakukan peningkatan yaitu pada indikator ketersediaan ruang publik dan ketersediaan transportasi publik. Kata Kunci : Kreativitas. Kota Kreatif. Lingkungan Kreatif. Kotabaru ABSTRACT Yogyakarta City has been known as a cultural and educational center in Indonesia, creating a rich ecosystem for creative economic growth, one of which is located in Kotabaru. Kotabaru is one of the locations for the development of creative city programs based on the 2021 Yogyakarta Creative City Road Map. In encouraging creative city development, one of the basic foundations that must be met is the availability of a creative environment or creative A creative milieu can be assessed from the availability of physical and non-physical environments that play a role in encouraging creative ideas to emerge from the meeting of creative people. This study aims to identify the physical environmental conditions that support the development of a Creative City in Kotabaru. Yogyakarta. The research method used in this study is a qualitative descriptive method with a deductive approach to the characteristic of aesthetic place, the availability of open spaces, quality infrastructure, and the diversity of land uses. Data collection was conducted through field observations and interviews with the Yogyakarta City Tourism Agency and the Yogyakarta City Regional Development Planning Agency to gain an in-depth understanding of the condition of physical infrastructure. The results of this study indicate that physical infrastructure in Kotabaru contributes to the development of a creative city that supports the emergence of creativity and innovation. However, there are still physical infrastructure criteria in Kotabaru that need to be improved and enhanced, namely the indicators of the availability of public spaces and the availability of public transportation. Keywords : Creativity. Creative City. Creative Environment. Kotabaru JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 ISSN ONLINE : 3047-2857 PENDAHULUAN Era globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang pesat, kota-kota di seluruh dunia menghadapi tantangan dan peluang yang berbeda dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya. Salah satu pendekatan yang telah diterapkan oleh banyak kota untuk mengatasi tantangan ini adalah dengan mengembangkan konsep kota kreatif. Konsep kota kreatif tidak hanya bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui industri kreatif, tetapi juga memperkuat identitas dan karakter kota serta meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya. Konsep kota kreatif muncul sebagai respon terhadap perubahan ekonomi global dan kebutuhan untuk menemukan jalur baru bagi pertumbuhan dan daya saing kota. Charles Landry dalam bukunya yang berjudul AoThe Creative City: A Toolkit for Urban InnovatorsAo merupakan salah satu yang pertama mempelopori ide ini, menyatakan bahwa kota perlu menciptakan infrastruktur yang mendukung kreativitas dan inovasi sebagai kunci untuk pembangunan ekonomi dan sosial (Charles Landry, 2. Richard Florida melalui teorinya tentang AuThe Creative ClassAy berpendapat bahwa keberadaan kelompok professional kreatif berkontribusi terhadap keberhasilan ekonomi kota dan menarik lebih banyak talenta serta investasi (Florida, 2. Salah satu gagasan dalam mengembangkan kota kreatif yaitu keberadaan creative milieu. Creative milieu yang diartikan sebagai tempat yang meliputi hard infrastructure . nfrastruktur fisi. dan soft infrastructure . nfrastruktur non fisi. yang memungkinkan munculnya ide dan memfasilitasi interaksi antar orang kreatif untuk menghasilkan ide, produk, artefak, layanan baru yang mengarah pada nilai tambah ekonomi (Mohammad, 2. Kota Yogyakarta telah lama dikenal sebagai pusat budaya dan pendidikan di Indonesia yang menciptakan ekosistem yang kaya untuk pertumbuhan ekonomi kreatif dan mengarah pada perkembangan kota kreatif. Pada tahun 2019. Yogyakarta menjadi provinsi penyumbang produk domestik bruto pada sektor ekonomi kreatif tertinggi se-Indonesia pada bidang kuliner, kriya dan fashion (Setiawan, 2. Potensi ekonomi kreatif yang ada di Yogyakarta menjadi sumber pendapatan daerah dan memiliki dampak baik pada citra daerah secara nasional. Sejalan dengan hal ini. Walikota Kota Yogyakarta telah menetapkan Road Map Kota Kreatif berbasis Seni Media dan City Branding Kota Yogyakarta pada tahun 2021 yang salah satu programnya adalah pengembangan ruang kreatif dan infrastruktur kota kreatif di kawasan Kotabaru (Keputusan Walikota Yogyakarta Nomor 407 Tahun 2021 Tentang Penetapan Road Map Kota Kreatif Berbasis Seni Media Dan City Branding KotaYogyakarta, 2. Dalam konteks pengembangan kota kreatif, terdapat pre-kondisi yang harus dipenuhi baik dari sisi level individu, level organisasi, maupun level kota. Salah satu pre-kondisi pada level kota yaitu ketersediaan lingkungan kreatif yang mampu berfungsi sebagai ruang publik dan mendorong untuk berbagi ide dalam pembentukam kota kreatif. Saat ini juga belum ada indikator kota kreatif yang bersifat mutlak, namun salah satu indikator penting dalam kota kreatif yang menurut indikator dari Charles Landry. Silicon Valley, dan creative city index oleh Pusat Penelitian Beijing yaitu estetika kota yang merujuk pada lingkungan fisik kota kreatif (Mohammad, 2. Lingkungan kreatif adalah sekelompok faktor sosial dan budaya yang ditempatkan dalam lingkungan binaan yang khas dan dikelola oleh lembaga kreatif untuk berbagi dalam pertumbuhan ekonomi. Karakteristik lingkungan kreatif dapat diklasifikasikan menjadi lima lingkungan utama, yaitu: lingkungan fisik, lingkungan budaya, lingkungan sosial, lingkungan kelembagaan, dan lingkungan ekonomi (Mohammad, 2. Oleh karena itu, lingkungan fisik memainkan peran penting dalam mendukung creative milieu . ingkungan kreati. yang kondusif untuk pertumbuhan dan inovasi karena infrastruktur didalamnya menjadi wadah bagi pengembangan kegiatan kota kreatif. Menurut (Mohammad, 2. , lingkungan fisik dapat dinilai dari kekhasan kawasan, merupakan lingkungan yang menarik dengan harmoni antara arsitektur lama dan modern, memiliki pola jalan yang memberikan pengalaman tertentu di sepanjang jalan dan dapat dilalui oleh para pejalan kaki, serta menjadi magnet dan ramah terhadap orang dari luar kawasan dengan berbagai budaya. Dimensi utama dari lingkungan fisik pada kota kreatif yaitu kualitas hidup dan pembentuk tempat . Sehingga untuk menilai lingkungan fisik, indikator yang diperlukan diantaranya estetika kawasan, ketersediaan ruang terbuka, infrastruktur yang berkualitas, dan Keragaman penggunaan lahan. JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 ISSN ONLINE : 3047-2857 Berbagai penelitian sebelumnya telah mengkaji tentang analisis dan strategi kota kreatif di Yogyakarta. Penelitian yang dilakukan oleh Prayudi mengungkapkan bahwa faktor pertama pendukung industri kreatif di Yogyakarta yaitu tersedianya sumber daya manusia kreatif dan ketersediaan infrastruktur kreatif (Prayudi et al. , 2. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Nugroho juga mengungkapkan bahwa Yogyakarta memiliki potensi sumber daya manusia yang tinggi dalam ekonomi kreatif, kemudian strategi keberlanjutan Kota Kreatif Yogyakarta dapat dilakukan dengan menggandeng sektor swasta dalam penyediaan ruang publik, strategi pembangunan iklim dan usaha dibidang ekonomi kreatif (Nugraha, 2. Lebih lanjut lagi penelitian yang dilakukan oleh Mahnunah dengan menggunakan studi kasus pada Sleman Creative Hub mengungkapkan bahwa creative hub berperan sebagai wadah pendampingan dan inkubasi bisnis umkm pada sektor ekonomi kreatif, hal ini menunjukkan bahwa model pemanfaatan creative hub sebagai creative space untuk menghubungkan people dan idea yang kemudian menghasilkan kolaborasi penciptaan produk kreatif hingga proses komersisalisasi produk kreatif (Mahnunah, 2. Dari berbagai penelitian tersebut, kajian mengenai peran lingkungan fisik secara spesifik masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengisi kesenjangan tersebut dengan menelaah bagaimana ketersediaan lingkungan fisik dapat berperan dalam mendukung pengembangan kota kreatif dengan menggunakan studi kasus di Kawasan Kotabaru. Yogyakarta. METODE PENELITIAN Penelitian Kajian Lingkungan Fisik dalam Mendukung Pengembangan Kota Kreatif Yogyakarta dengan menggunakan Studi Kasus Di Kawasan Kotabaru menggunakan pendekatan penelitian deduktif dengan metode penelitian kualitatif. Menurut Creswell & John W, penelitian kualitatif adalah proses penyelidikan untuk mendapatkan pemahaman berdasarkan kejelasan tradisi metodologi yang mengkaji permasalahan sosial dan kemanusiaan sehingga memungkinkan peneliti untuk menggali kompleksitas fenomena atau isu yang sedang diamati tanpa pembatasan stuktur atau format tertentu (Creswell & John W. Metode kualitatif dipilih untuk memahami fenomena dalam kondisi lingkungan fisik di Kotabaru dengan data yang dikumpulkan melalui observasi lapangan, dokumentasi, dan wawancara. Wawancara dilakukan dengan Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta dan Badan perencana Daerah Kota Yogyakarta. Kedua dinas ini memiliki peran dalam pengembangan kota kreatif Yogyakarta. Adapun Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif kualitatif untuk menjelaskan peran lingkungan fisik secara mendalam yang tidak hanya menjelaskan kondisi infrastruktur saja tetapi juga menginterpretasikan makna keberadaannya dalam mendukung pengembangan kota kreatif. Unit analisis pada penelitian ini adalah ketersediaan dan peran lingkungan fisik dalam mendukung pengembangan kota kreatif di kawasan Kotabaru. Yogyakarta dengan menggunakan dimensi creative milieu framework dari (Mohammad, 2. pada komponen lingkungan fisik meliputi karakteristik estetika kawasan, ketersediaan ruang terbuka, infrastruktur yang berkualitas, dan keragaman penggunaan lahan yang dijelaskan pada Tabel 1 berikut : Tabel 1. Unit Analisis Kajian Lingkungan Fisik No. Karakteristik Aesthetics of Place Ketersediaan ruang terbuka Infrastruktur yang berkualitas Keragaman penggunaan lahan Indikator Kualitas ranah publik Arsitektur kawasan Persentase ruang terbuka Kualitas dan desain jalur pedestrian Transportasi publik dengan kondisi baik Proporsi penggunaan lahan campuran Sumber : hasil analisis peneliti, 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Ketersediaan Aesthetics of Place dalam membentuk lingkungan kreatif di Kotabaru JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 ISSN ONLINE : 3047-2857 Kota merupakan bagian dari kehidupan manusia yang kompleks. Kawasan kota dapat memengaruhi kehidupan tempatnya . Sebuah lingkungan kreatif idealnya memiliki sense of place yang ditunjukkan dengan arsitektur kota yang didesain secara harmoni dengan memadukan antara desain tradisional dan modern yang dapat mencerminkan keragaman budaya. Selain itu juga dilengkapi dengan ketersediaan ranah publik yang dapat mendorong interaksi antar orang kreatif dan menginspirasi untuk melakukan kegiatan Penelitian ini menggunakan dua indikator untuk menilai peran aesthetics of place dalam membentuk lingkungan kreatif di Kotabaru yaitu ranah publik dan arsitektur Kawasan. 1 Kualitas Ranah Publik di Kawasan Kotabaru Bentuk perkotaan terus berubah sebagai akibat dari berbagai variabel seperti peraturan, tinjauan desain, dan keputusan pengembangan individu. Nasar . dalam (Adhya, 2. menuliskan pada karyanya yang berjudul AoEvaluative Image of The CityAo bahwa penampilan kota itu penting bagi penduduk dan pengunjung. Hal tersebut penting juga untuk meningkatkan makna komunitas dalam meningkatkan pengalaman orangorang di ruang publik serta dalam membentuk perilaku mereka di tempat tersebut. Relph . dalam (Cheshmehzangi, 2. juga menambahkan pada pernyataan ini bahwa AuApeople are their place, and a place is its peopleAy dari pernyataan tersebut, ranah publik sebagai tempat sosial utama dari kota memainkan peran penting dalam mempengaruhi sosio-behaviorisme serta mengartikulasikan hubungan dalam mengalami dan mengidentifikasi identitas perkotaan lingkungan. Kotabaru merupakan kelurahan yang terletak di Kecamatan Gondokusuman. Kota Yogyakarta. Kotabaru merupakan salah satu Kawasan cagar budaya yang ada di Kota Yogyakarta dengan latar belakang sejarah, bangunan, dan tata ruang Kawasan yang dirancang dengan konsep garden city. Berdasarkan hasil obervasi lapangan, ranah publik yang dapat diakses di Kawasan Kotabaru yaitu Stadion Kridosono, lapangan olahraga, boulevard atau pulau-pulau jalan, perpustakaan daerah. Stadion Kridosono dulunya menjadi salah satu ikon dari olahraga khususnya sepak bola di Kota Yogyakarta. Seiring dengan perkembangan waktu, saat ini stadion Kridosono hanya digunakan ketika ada kegiatan kesenian seperti seni musik nasional maupun event internasional yang memerlukan ruang terbuka karena lokasinya yang strategis berada di tengah kota dan merupakan ruang terbuka publik yang luas. Pada sekitar area stadion juga banyak digunakan untuk aktivitas perdagangan. Semenjak ditetapkannya Kotabaru sebagai salaj satu Kawasan kota kreatif. Stadion Kridosono direncanakan menjadi sebuah ruang publik hijau yang dapat diakses oleh masyarakat kapanpun dan menjadi tempat yang multifungsi bagi banyak Namun, hingga saat ini rencana tersebut masih belum terlaksana terlihat dari kondisi stadion yang masih dibatasi kunjungannya dan hanya dibuka ketika ada event seperti pertunjukan musik. Lapangan olahraga lainnya yang dapat digunakan selain Stadion Kridosono yaitu lapangan di sisi barat Stadion dan Lapangan Tenis DKT & Got Game Basketball Court by Bima Perkasa. Lapangan olahraga ini dapat dimaksimalkan pemanfaatannya sebagai tempat kegiatan olahraga, pertemuan komunitas atau boulevard atau pulau-pulau jalan yang dilengkapi dengan vegetasi perindang dan guide block serta beberapa boulevard juga dilengkapi dengan lampu penerangan. Boulevard ini sering digunakan ketika ada event-event dari hari raya seperti bulan ramadhan, imlek, natal yang nantinya akan dihiasi dengan ornamenornamen untuk memeriahkan event tersebut. Aktivasi boulevard ini bertujuan untuk memecah permasalahan kemacetan yang ada di Malioboro karena kemacetan tersebut berdampak pada jalan-jalan yang ada di Kotabaru. Aktivasi boulevard di Kotabaru membantu mendukung ekonomi kreatif dengan menyediakan ruang sebagai wadah untuk berbagai acara seni, pameran, bazar, serta kegiatan lainnya yang memungkinkan dilakukan di area boulevard. Area boulevard yang aktif digunakan ketika event biasanya berada di Jl. Suroto karena letaknya berada di sisi utara jalan masuk ke Kawasan Kotabaru. Ranah publik lainnya yang ada di Kotabaru yaitu perpustakaan. Perpustakaan memiliki peran penting dalam ranah publik dengan bertindak sebagai ruang yang inklusif yang dapat diakses oleh semua Perpustakaan menyediakan ruang untuk pertemuan dan pertukaran, menawarkan lingkungan yang unik bagi berbagai kelompok masyarakat. Perpustakaan Kota Jogja di Kotabaru telah mengalami renovasi dan baru dibuka kembali sekitar bulan Desember 2024. Perpustakaan tersebut memiliki ruang yang diperluas dari sebelumnya hanya memiliki dua lantai sekarang menjadi tiga lantai. Perpustakaan ini JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 ISSN ONLINE : 3047-2857 juga memiliki area khusus seperti perpustakaan anak-anak, koleksi buku Braille, koleksi bahasa asing, area layanan internet, dan ruang kreativitas untuk kegiatan. Gambar 1. Peta dan Fasilitas Ruang Publik di Kotabaru Tahun 2025 Sumber : Hasil Observasi dan Analisis Peneliti, 2025 2 Arsitektur Kawasan Kotabaru Keindahan dan estetika suatu bangunan dilihat dari nilai - nilai subjektif dari yang ditampilkan dalam fasad bangunan tersebut. Menurut (Basri et al. , 2. , arsitektur dapat memainkan peran penting dalam mengembangkan identitas suatu tempat. Arsitektur dirancang secara kreatif oleh manusia sebagai narasi spasial yang mampu membentuk catatan intelektual manusia baik secara kasat mata maupun naluriah (Zimm M & Akerman A, 2. Berdasarkan sejarahnya. Kotabaru memiliki kekhasannya sendiri dari segi bangunan dan penataan Kawasan. Arsitektur bangunan yang berdiri di Kotabaru merupakan perpaduan antara gaya arsitektur Indis dan Kolonial. Selain ciri khas bangunannya. Kotabaru juga memiliki ruas jalan yang lebar, boulevard yang luas dengan vegetasi yang rindang, ruang terbuka sebagai sarana olahraga dan taman-taman kecil di pulau jalan. Sebagian besar arsitektur peninggalan Belanda ini masih dilestarikan hingga saat ini dan menjadi bangunan cagar budaya. Maka, bangunan-bangunan tersebut menjadi bukti fisik yang mewakili Sejarah dari semua bangunan yang ada di Kotabaru. Namun, seiring perkembangan waktu beberapa bangunan di Kotabaru memiliki perubahan gaya arsitektur yang semakin modern akibat pemenuhan kebutuhan terkait fungsi komersial. Beberapa bangunan yang terlihat sudah mulai berubah diantaranya seperti pertokoan, restoran, hotel dan penginapan serta bangunan hunian yang berada di dekat stasiun kereta api Lempuyangan. Perubahan arsitektur ini dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk peningkatan aktivitas ekonomi, kebutuhan akan bangunan yang lebih fungsional dan efisien. Selain itu, pengaruh globalisasi dan perkembangan tren desain arsitektur juga turut mendorong adopsi konsep bangunan yang lebih modern meskipun terkadang harus mengorbankan elemen historis dari bangunan asli. Dalam jurnalnya (Prihantoro, 2. menyatakan bahwa Kotabaru sebagai zona bisnis dan layanan AuKotabaru as a business and service areaAy dengan munculnya banyak AowajahAo baru secara bertahap dari karakternya sebagai kawasan hunian menuju kawasan komersial. Perubahan ini didorong oleh letak Kawasan Kotabaru yang berada di Lokasi strategis seperti Jalan Jendral Sudirman yang merupakan Kawasan bisnis premium di sisi utara Kota Yogyakarta. Secara keseluruhan kawasan Kotabaru masih didominasi oleh bangunan dengan arsitektur colonial. Hal ini tidak hanya memberikan nilai historis tetapi juga berkontribusi dalam pengembangan Kawasan sebagai kota kreatif. Keberadaan bangunan bersejarah dan ruang public yang khas memberikan daya tarik seniman, komunitas kreatif, serta pelaku industry kreatif untuk berkarya dan berinteraksi. Oleh karena itu. Kotabaru JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 ISSN ONLINE : 3047-2857 memiliki potensi besar untuk dikembangkansebagai bagian dari ekosistem kota kreatif dengan tetap mempertahankan identitas arsitektur kolonialnya. Tabel 2. Tabel Persentase Arsitektur Bangunan Kotabaru Tahun 2025 Jenis Arsitektur Jumlah Bangunan Persentase (%) Kolonial Hindi Modern Total Sumber : Hasil Observasi dan Analisis Peneliti 2025 Gambar 2. Peta Sebaran dan Arsitektur Kotabaru Tahun 2025 Sumber : Hasil Observasi dan Analisis Peneliti, 2025 2 Ketersediaan Ruang Terbuka dalam membentuk lingkungan kreatif di Kotabaru Ruang terbuka merupakan bagian penting dari kehidupan perkotaan. Anggapan ini diperkuat dengan adanya Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala BPN RI Nomor 14/ 2022 yang mengatur tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau dan Non Hijau, ruang terbuka merupakan ruang yang secara fisik bersifat terbuka. Persentase Ruang Terbuka Menurut (Carmona, 2003 dalam (Fasikhi et al. , 2. , ruang publik memiliki 4 . indikator yaitu kualitas yang baik. kenyamanan dan citra. aksesibilitas dan daya tarik. pengguna dan operasi. penerimaan sosial. Keempat indikator tersebut berkaitan dengan karakteristik dan fungsi ruang terbuka. Berdasarkan data penggunaan lahan Kotabaru tahun 2025, ruang terbuka publik di Kotabaru hanya mencakup 3,199 hektar atau sekitar 4% dari total luas wilayah Kotabaru yang mencapai 74,774 hektar. Persentase ini menunjukkan bahwa porsi ruang terbuka di Kotabaru masih tergolong rendah dibandingkan dengan standar ketersediaan akan ruang publik. Meskipun masih tergolong minim, ketersediaan ruang publik berpotensi sebagai wadah untuk bertemunya para komunitas kreatif untuk saling berinteraksi yang kemudian ditindaklanjuti dengan kolaborasi. JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 ISSN ONLINE : 3047-2857 Berdasarkan segi kualitas ruang terbuka di Kotabaru, dapat diukur dari kondisi fisik ruang terbuka yang mencerminkan kombinasi antara warisan arsitektur kolonial dan elemen modern yang berkembang seiring dengan perubahan kebutuhan masyarakat. Taman-taman kecil yang tersebar seperti di pedestrian menjadi salah satu elemen ruang terbuka yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat baik untuk menepi beristirahat ataupun beraktivitas santai. Namun, infrastruktur pendukung seperti tempat duduk, pencahayaan, dan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas masih perlu ditingkatkan untuk memastikan bahwa ruang terbuka dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat. Kualitas dan Desain Pedestrian Menurut (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Nomor 03/PRT/M/2014 Tahun 2014 Tentang Pedoman Perencanaan. Penyediaan. Dan Pemanfaatan Prasarana Dan Sarana Jaringan Pejalan Kaki Di Kawasan Perkotaan, 2. bahwa pedestrian atau pejalan kaki adalah setiap orang yang berjalan di ruang lalu lintas jalan. Sesuai dengan konsep pembangunan Kawasan Kotabaru yaitu Garden City, adanya pedestrian tidak hanya untuk meningkatkan kualitas lingkungan suatu kawasan dan revitalisasi kawasan budaya tetapi juga sebagai sarana ruang terbuka publik di Kawasan perkotaan. Pedestrian di Kotabaru tersebar diseluruh bagian jalan yang ada di Kotabaru, namun beberapa pedestrian yang masih layak dan dapat digunakan sesuai fungsinya hanya berada di Jl. Jendral Sudirman. Jl. Suroto. Jl. Wahidin Sudirohusodo. Jl. Yos Sudarso. Jl. I Dewa Nyoman Oka. Jl. Atmosukarto dan Jl. Abu Bakar Ali. Pedestrian di jalan-jalan tersebut setidaknya memiliki lebar 2-3 meter dengan dilengkapi vegetasi perindang di sepanjang jalur pedestrian seperti pohon Tanjung dan pohon Asoka sebagai pengarah pada ruang pejalan Pada pedestrian ini juga dilengkapi dengan tanaman hias untuk memberikan kesan estetik yang menguatkan konsep kota sebagai garden city. Desain pedestrian di Kotabaru telah mengakomodasi kebutuhan pejalan kaki dengan mempertimbangkan kenyamanan, keamanan, aspek estetika sesuai dengan konsep garden city. Perabot jalan pada pedestrian yang ada di Kotabaru dapat ditemukan di Jl. Jendral Sudirman dan Jl. Suroto dengan kelengkapan seperti lampu penerangan dengan tema klasik Jawa dengan material besi dan ornamen melengkung khas Jawa, bangku taman dengan jarak antar bangku sekitar 5 meter, halte/shelter bus di depan RS Bethesda Yogyakarta, guiding blocks atau ubin pemandu/pengarah bagi disabilitas juga melengkapi jalur pedestrian di Jl. Jend Sudirman dan Jl. Suroto menggunakan warna kuning yang mencolok serta terdapat ramp yang difungsikan untuk difabel yang menggunakan kursi roda. Gambar 3. Peta dan Jalur Pedestrian di Kotabaru Tahun 2025 Sumber : Hasil Observasi dan Analisis Peneliti, 2025 JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 ISSN ONLINE : 3047-2857 3 Ketersediaan Infrastruktur Transportasi yang berkualitas Kota kreatif dirancang untuk memiliki konektivitas tinggi dalam segala hal pada komunitas lokal dan dengan kota-kota lain salah satunya yaitu tersedia transportasi umum dengan kualitas tinggi. Transportasi merupakan kegiatan mengangkut dan memindahkan muatan . arang/oran. dari suatu tempat . empat asal/origi. ke tempat lainnya . empat tujuan/destinatio. (Adisasmita, 2. Pada konteks ini karena Kotabaru termasuk bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada tahun 2008 Dinas Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta menghadirkan layanan angkutan umum baru di Kota Yogyakarta dan sekitarnya yaitu Bus Trans Jogja. Bus Trans Jogja melayani area aglomerasi perkotaan Yogyakarta yang biasanya disebut dengan Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY), mencakup seluruh Kota Yogyakarta termasuk Kawasan Kotabaru, sebagian wilayah Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul (Utomo & Winarno, 2. Layanan trans jogja dapat diakses pada aplikasi Trans Jogja yang dirancang untuk memberikan kemudahan bagi pengguna dalam memperoleh informasi terkait rute, jadwal keberangkatan, lokasi halte, serta tarif perjalanan. Adapun Kawasan Kotabaru termasuk pada cakupan layanan koridor 1A, 2A, 2B, 3A, 4A, 4B, 5A, 5B, 8, 10, 11, dan 13 yang menghubungkan kawasan ini dengan tiga titik halte yaitu Halte Kotabaru. Halte RS Bethesda, dan Halte Kridosono. Selain menggunakan Trans Jogja. Kotabaru juga dapat diakses menggunakan transportasi online seperti gojek, grab, maxim dan transportasi online lainnya yang memberikan akses kemudahan bagi masyarakat dan pengunjung untuk menjelajahi berbagai tempat di Kotabaru dengan cepat dan efisien. Berdasarkan hasil obersvasi tersebut, ketersediaan transportasi publik ini dapat diartikan bahwa Kawasan Kotabaru berpotensi sebagai lingkungan kreatif karena dapat diakses dari berbagai daerah dengan mudah oleh orang-orang kreatif maupun Masyarakat secara umum. Namun Sistem transportasi publik di Kotabaru masih perlu ditingkatkan agar lebih ramah bagi pejalan kaki dan pesepeda. Saat ini. Trans Jogja menjadi moda transportasi umum utama di Kotabaru, tetapi belum mencakup semua titik kreatif di Kotabaru secara optimal. Gambar 4. Peta Rute Trans Jogja di Kotabaru Tahun 2025 Sumber: Hasil Observasi dan Analisis Peneliti, 2025 4 Keragaman Penggunaan Lahan sebagai bagian dari Lingkungan Kreatif Tata letak fisik sebuah perkotaan memiliki dampak yang signifikan terhadap potensi kreatifnya. Kawasan perkotaan harus dirancang untuk mencakup ruang fleksibel yang dapat beradaptasi dengan berbagai penggunaan mulai dari bengkel hingga galeri sehingga dapat mendorong kreativitas dan kolaborasi spontan (MollaMirzaei & Sajjadzadeh, 2. Keadaan spasial di Kotabaru sangat beragam. Keragaman spasial ini menarik orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda untuk berkumpul dan menumbuhkan keragaman ide dan perspektif. JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 ISSN ONLINE : 3047-2857 Distribusi ruang di kawasan Kotabaru cukup beragam yang mencerminkan berbagai aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya yang berlangsung di dalamnya. Dari data tersebut, permukiman mendominasi Kawasan Kotabaru dengan luas 19, 001 Ha atau sekitar 25% dari total luas wilayah. Hal ini menunjukan bahwa Kotabaru tetap memiliki karakteristik sebagai lingkungan hunian yang cukup kuat meskipun perkembangan sektor komersial dan kreatif mulai muncul di sekitarnya. Keberadaan lahan Pendidikan sekitar 17% dan kesehatan sekitar 13% menandakan bahwa Kotabaru juga memiliki fungsi sebagai pusat edukasi dan layanan masyarakat yang semakin memperkuat perannya dalam ekosistem kota kreatif. Meskipun lahan yang dialokasikan untuk sektor industri hanya sekitar 1%, namun sektor industri dan jasa tetap memiliki peran yang cukup penting dengan luas sekitar 2,592 Ha atau sekitar 3%. Hal ini menunjukan bahwa aktivitas ekonomi di Kotabaru lebih berorientasi pada jasa kreatif dan sektor informal dibandingkan dengan industri berat yang sejalan dengan karakter kota kreatif yang lebih mengutamakan sektor ekonomi berbasis inovasi dan budaya. Selain itu keberadaan ruang untuk pariwisata dan hiburan sekitar 6% serta olahraga sekitar 4% juga menjadi indikator bahwa Kotabaru tidak hanya menjadi tempat hunian dan bisnis, tetapi memiliki ruang untuk beraktivitas seperti rekreasi dan ekspresi budaya. Tata letak fisik suatu kota memiliki dampak langsung terhadap potensi kreatifnya karena desain perkotaan yang baik mampu meningkatkan interaksi dan mendorong terciptanya ekosistem kreatif. Sebagaimana yang dijelaskan oleh (MollaMirzaei & Sajjadzadeh, 2. Keanekaragaman spasial di Kotabaru bukan hanya tentang pembagian fungsi ruang tetapi juga tentang bagaimana ruang-ruang tersebut berinteraksi satu sama lain untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kreativitas. Keanekaragaman spasial di Kotabaru menunjukkan bahwa Kawasan ini memiliki potensi besar untuk terus berkembang sebagai kawasan kota kreatif. Adanya kombinasi berbagai fungsi ruang mulai dari permukiman, pendidikan, perdagangan hingga ruang publik Kotabaru telah menciptakan lingkungan yang dapat mendukung interaksi sosial, ekonomi, dan budaya yang erat. Dengan demikian. Kotabaru memiliki keanekaragaman spasial yang menjadi faktor utama dalam mendukung interaksi antara komunitas kreatif, akademisi, dan pelaku bisnis. Gambar 5. Peta dan Penggunaan Lahan di Kotabaru Tahun 2025 Sumber : Hasil Observasi dan Analisis Peneliti, 2025 KESIMPULAN Hadil penelitian mengenai Kajian Lingkungan Fisik dalam Mendukung Pengembangan Kota Kreatif di Kotabaru. Yogyakarta menunjukkan bahwa secara keseluruhan infrastruktur fisik di Kotabaru memiliki kontribusi dalam pengembangan kota kreatif yang mendukung munculnya kreativitas dan inovasi. JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 ISSN ONLINE : 3047-2857 temuan penting dari penelitian ini adalah bahwa infrastruktur fisik yang memiliki peran dalam perkembangan kota kreatif yaitu pada indikator estetika tempat yang menjadi elemen kunci dalam membangun identitas kreatif Kawasan Kotabaru. Arsitektur bangunan dan kualitas ruang publik di Kotabaru mencerminkan warisan budaya yang dapat dimanfaatkan sebagai daya tarik bagi kota kreatif. Indikator kedua yaitu ketersediaan transportasi publik juga menjadi elemen penting dalam mendorong mobilitas masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif yang didukung dengan fasilitas layanan moda yang cukup baik dan halte yang ramah pengguna. Indikator ketiga yaitu keberagaman spasial dalam bentuk penggunaan lahan campuran memungkinkan berbagai aktivitas sub sektor ekonomi kreatif berjalan secara dinamis dalam satu kawasan dan menjadi faktor utama dalam mendukung interaksi antara komunitas kreatif, akademisi, dan pelaku bisnis. Namun, masih ada beberapa karakteristik lingkungan fisik di Kawasan Kotabaru yang perlu diperbaiki pada indikator ketersediaan ruang publik berupa Stadion Kridosono yang saat ini belum sepenuhnya dapat diakses oleh Masyarakat umum dan distribusi pemanfaatan yang masih terbatas, serta pada indikator ketersediaan transportasi publik yang belum mencakup semua titik lokasi kegiatan kreatif di Kawasan Kotabaru. Untuk meningkatkan peran lingkungan fisik di Kawasan Kotabaru diperlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat kreatif, pelaku industri kreatif, dan akademisi guna mengembangkan lingkungan fisik yang mampu mewadahi orang-orang kreatif untuk berkegiatan, berinterasi, saling bertukar ide, berkolaborasi, hingga penciptaan nilai tambah kota kreatif terutama pada pengomptimalan ruang publik Stadion Kridosono untuk dapat diakses publik dan peningkatan infrastruktur pendukung seperti tempat duduk, pencahayaan, dan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas untuk memastikan bahwa ruang terbuka dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat. Serta untuk meningkatkan mobilitas orang kreatif perlu adanya peningkatan fasilitas pendukung seperti halte yang ramah bagi pengguna difabel dan perlu adanya penambahan rute jalur Trans Jogja. DAFTAR PUSTAKA