Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpai. Online Available at: https://journal. id/index. php/jbpai Ilmu Akhlaq sebagai Pengembangan Keilmuan dalam Perspektif Filsafat Ilmu Addin Mustaqim1*. Yunus Abu Bakar2 Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang (IAIBAFA). Indonesia Universitas Islam Negeri Surabaya (UINSA). Indonesia Email: addinmustaqim90@gmail. com1, elyunusy@uinsa. Alamat: Tambakberas RT. 05 RW. 02 Tambakrejo Jombang. Tambak Rejo. Kec. Jombang. Kabupaten Jombang. Jawa Timur Korespondensi penulis: addinmustaqim90@gmail. Abstract. The development of responsible knowledge requires a strong moral foundation, one of which is through the application of akhlakul karimah . oble characte. Good, noble, and commendable ethics play a crucial role in creating knowledge that is not only practically beneficial but also has a positive impact on humanity and the The main issue addressed in this study is how akhlakul karimah can shape the behavior of scientists in developing ethical knowledge and how it contributes to the construction of responsible science. This research employs a library research approach. The findings indicate that akhlakul karimah is essential in guiding scientists to uphold integrity, honesty, and social responsibility in research and the application of knowledge. Scientists with noble character do not only prioritize technological advancements but also consider the balance between material progress and the moral and spiritual quality of human life. Thus, akhlakul karimah plays a vital role in ensuring that scientific development remains responsible and contributes positively to humanity and environmental sustainability. Keywords: Akhlakul karimah. Knowledge. Philosophy of Science. Abstrak. Pembangunan ilmu pengetahuan yang bertanggung jawab memerlukan dasar moral yang kuat, salah satunya melalui penerapan akhlakul karimah. Akhlak yang baik, mulia, dan terpuji memainkan peranan penting dalam menciptakan ilmu yang tidak hanya bermanfaat secara praktis, tetapi juga memiliki dampak positif bagi kemanusiaan dan lingkungan. Masalah utama yang diangkat dalam kajian ini adalah bagaimana akhlakul karimah dapat membentuk perilaku ilmuwan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang etis, serta bagaimana hal tersebut berkontribusi pada pembangunan ilmu yang bertanggung jawab. Penelitian ini menggunakan pendekatan kepustakaan . ibrary researc. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akhlakul karimah sangat penting dalam membimbing ilmuwan untuk menjaga integritas, kejujuran, dan tanggung jawab sosial dalam penelitian dan penerapan ilmu. Ilmuwan yang berakhlak karimah tidak hanya mengutamakan kemajuan teknologi, tetapi juga mempertimbangkan keseimbangan antara kemajuan material dan kualitas hidup manusia secara moral dan Dengan demikian, akhlakul karimah berperan penting dalam memastikan bahwa ilmu pengetahuan berkembang secara bertanggung jawab dan memberikan kontribusi positif bagi umat manusia serta keberlanjutan Kata Kunci: Akhlakul Karimah. Ilmu Pengetahuan. Filsafat Ilmu. PENDAHULUAN Ilmu pengetahuan merupakan salah satu pilar utama dalam peradaban manusia yang terus berkembang. Hubungan antara pengetahuan dan falsafat pendidikan menjadi sedemikian pentingnya, sebab ia menjadi dasar yang menjadi tumpuan suatu sistem pendidikan. Falsafat pendidikan berperanan penting dalam suatu sistem pendidikan karena ia berfungsi sebagai pedoman bagi usaha-usaha perbaikan, meningkatkan kemajuan dan sebagai dasar yang kokoh bagi tegaknya sistem pendidikan. (Yunus Abu Bakar. , 2. Akan tetapi Seiring dengan Received Desember 11, 2024. Revised Desember 30, 2025. Accepted Januari 29 , 2025. Online Available Februari 01, 2025 Ilmu Akhlaq sebagai Pengembangan Keilmuan dalam Perspektif Filsafat Ilmu kemajuan zaman, peran ilmu pengetahuan dalam memberikan solusi bagi berbagai permasalahan kehidupan semakin nyata, baik dalam aspek teknologi, kesehatan, sosial, ekonomi, maupun lingkungan. Namun, kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat juga membawa tantangan besar, terutama terkait dengan dampak negatif yang mungkin ditimbulkan, baik dalam konteks sosial, moral, maupun lingkungan. Dalam konteks ini, pentingnya akhlakul karimah . khlak yang muli. sebagai landasan dalam pengembangan ilmu pengetahuan menjadi semakin relevan. (Yeni Marlena et al. , 2. Akhlak memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Akhlak yang baik akan membedakan antara manusia dengan hewan. Manusia yang berakhlak mulia, dapat menjaga kemuliaan dan kesucian jiwanya, dapat mengalahkan dorongan hawa nafsu, berpegang teguh kepada sendi-sendi keutamaan. Menghindarkan diri dari segala sifat-sifat tercela baik yang dapat merugikan dirinya dan orang lain. Manusia yang berakhlak mulia, suka tolong menolong sesama insan dan makhluk lainnya, senang berkorban untuk kepentingan bersama, saling menghormati dan saling menyayangi. Orang yang berakhlak mulia, senang kepada kebenaran dan keadilan, toleransi, menepati janji, tidak korupsi, mematuhi peratu ran, lapang dada dan tenang dalam menghadapi segala problem kehidupan (Qurrota Syahidalloh, 2. Akhlak yang baik akan mengangkat manusia ke derajat yang tinggi dan mulia dan akan menempatkan manusia pada posisi terhormat di sisi Tuhan. Akhlak yang buruk akan membinasakan dirinya dan manusia lainnya, menurunkan derajat manusia sampai pada titik terendah bahkan lebih rendah dari binatang ternak. Mendapat tempat terhina di sisi Tuhan dan juga manusia. Senang melakukan kekacauan, senang melakukan perbuatan tercela, dan senang melanggar segala ketentuan, baik yang dibuat Allah apa lagi buatan manusia. (Rasyad, 2. Akhlakul karimah dalam Islam mengacu pada akhlak yang baik, mulia, dan terpuji, merupakan nilai moral yang dapat mengarahkan individu atau komunitas dalam bertindak dengan penuh tanggung jawab. Dalam dunia ilmu pengetahuan, nilai-nilai akhlak ini dapat menjadi pedoman dalam menciptakan ilmu yang tidak hanya bermanfaat secara praktis, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi kemanusiaan dan lingkungan. Sebagai contoh, ilmuwan yang mengembangkan teknologi atau ilmu kesehatan harus mempertimbangkan aspek etika dan moral dalam penelitiannya, agar hasil penelitian tersebut tidak hanya menguntungkan bagi sebagian pihak, tetapi juga tidak merugikan masyarakat secara luas Menurut M Yunus Abu Bakar bahwasanya dalam Filsafat pendidikan Islam,memaknai akhlak sebagai sebuah aspek terpenting dalam hidup. Karena akhlak tidak hanya terbatas antar manusia saja, melainkan juga antara manusia dengan sang pencipta (Tuha. Maka, inti dari konsep ini adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat. Dalam hal ini filsafat Jurnal Budi Pekerti Agama Islam - Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. pendidikan Islam memiliki tujuan yang lebih kompleks dengan dual dimensi. dimensi pertama, untuk mencapai kesejahteraan hidup dan keselamatan di akhirat. Dimensi kedua, berhubungan dengan fitrah kejadian manusia, yaitu sebagai pengabdian kepada Allah Swt . (M. Yunus Abu Bakar, 2. Para filosof berpendapat bahwa dengan akal dan akhlak manusia menjadi baik, karena itu mereka menulis buku yang dapat membawa manusia menuju akhlak mulia dan menyelamatkan mereka dari kehancuran. Sekarang ini ada orang yang bijaksana dari sisi keilmuan, mereka sangat mahir dalam bidang keilmuan, namun tidak memiliki akhlak yang Apa artinya ilmu pengetahuan tanpa akhlak yang mulia. l-Musawi, 2000 ) Tentu yang diharapkan adalah semakin tinggi ilmu pengetahuan seseorang akan semakin baik akhlaknya. (Basyir et al. , 2. Hasil penelitian Ipandang menyimpulkan bahwa filsafat akhlak pada konteks pemikiran etika modern menempati posisi yang penting sebab dengan filsafat akhlak akan dibentuk keadaan jiwa yang terlatih sehingga dalam jiwa tersebut benar-benar melekat sifat-sifat yang melahirkan perbuatan-perbuatan yang baik. (Ipandang, 2. Di era modern ini, masih sedikit yang menyelidiki filsafat akhlak, karena mereka telah merasa puas mengambil akhlak dari agama dan tidak merasa butuh kepada penyelidikan ilmiah mengenai dasar baik dan buruk. Padahal sesungguhnya filsafat akhlak tertuju pada pandangan ke arah perbaikan dalam menentukan hak dan kewajiban, serta menimbulkan perasaan perseorang(Damayanti, 2. Hal ini dikarenakan dalam perspektif filsafat ilmu, ilmu pengetahuan tidak hanya dilihat sebagai produk objektif dan rasional yang terlepas dari nilai-nilai moral, melainkan juga sebagai aktivitas manusia yang terkait dengan tujuan dan tanggung jawab sosial. Filsafat ilmu mengajarkan bahwa pengetahuan tidak hanya berkaitan dengan penguasaan fakta atau informasi, tetapi juga dengan pemahaman akan tujuan dan dampak dari pengetahuan tersebut terhadap kehidupan manusia dan alam semesta. Oleh karena itu, pengembangan ilmu pengetahuan yang bertanggung jawab tidak bisa dipisahkan dari akhlakul karimah yang mendasari setiap tindakan ilmuwan. (Khoiriyah. Yunus Abu Bakar, 2. Peran akhlakul karimah dalam membangun ilmu pengetahuan yang bertanggung jawab dapat dilihat dalam berbagai aspek. Misalnya, dalam hal integritas penelitian, transparansi, kejujuran dalam menyampaikan temuan ilmiah, serta rasa empati terhadap dampak yang ditimbulkan oleh penerapan ilmu pengetahuan di masyarakat. Dengan dasar akhlak yang mulia, ilmu pengetahuan dapat berkembang menjadi kekuatan positif yang mendukung kesejahteraan umat manusia dan menjaga kelestarian alam Ilmu Akhlaq sebagai Pengembangan Keilmuan dalam Perspektif Filsafat Ilmu Filsafat akhlak merupakan suatu perspektif pemahaman terhadap akhlak yang terbangun atas perspektif filosofis yang diwarnai dengan corak berpikir yang sistematis, logis, radikal, dan semacamnya sebagai karakteristik filsafat sebagai wadah dalam berpikir. Dalam proses tersebut, akhlak dapat dipahami sebagai sebuah nilai yang imanen dalam penciptaan manusia sehingga relasi konstruktif yang membangunnya tidak cukup hanya dipahami sebagai sebuah karakter baik yang apabila melekat dalam diri seseorang maka keberadaannya akan dianggap sebagai pribadi yang baik tapi jauh lebih dari itu mereka yang memiliki akhlak dapat dikatan sebagai pribadi-pribadi yang memahami hakikat keberadaan dirinya. Oleh karena itu, menggabungkan akhlakul karimah dengan pengembangan ilmu pengetahuan bukanlah sebuah pilihan, melainkan kebutuhan mendasar untuk menciptakan ilmu yang tidak hanya bermanfaat bagi dunia ilmiah, tetapi juga bertanggung jawab terhadap kemanusiaan dan keberlanjutan bumi. Pemahaman ini tidak hanya penting bagi ilmuwan, tetapi juga bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan penerapan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Dalam menggambarkan apa yang dimaksud dengan penelitian kepustakaan ini. Amir Hamzah mengemukakan bahwa penelitian kepustakaan merupakan bentuk penelitian yang berkaitan erat dengan analisis teks berupa sumber-sumber kepustakaan untuk dapat menemukan berbagai fakta yang sebenarnya dari obyek penelitian. (Amir Hamzah, 2. Data terdiri atas data primer yang bersumber dari berbagai literatur yang langsung berbicara tentang tema yang diangkat sementara data sekunder merupakan data yang bersumber dari berbagai literatur yang secara tidak langsung berbicara tentang tema yang diangkat. Data yang diperoleh selanjutnya direduksi, dipaparkan, untuk selanjutnya ditarik kesimpulan. (Sugiyono. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Epistemologi Akhlak Epistemologi berasal dari kata "episteme", yang berarti "pengetahuan" dalam bahasa Epistemologis adalah bidang yang mempelajari dasar ilmu pengetahuan. Epistemologis mengartikulasikan kebenaran ilmiah sebagai sikap dan perilaku dalam mencapai kebenaran ilmiah dengan menggunakan metode dan sistem untuk memproduksi sumber daya alam sesuai dengan kebutuhan manusia untuk mencapai tujuan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia sambil mencegah eksploitasi yang berpotensi menguras sumber daya alam dan merusak lingkungan hidup(Wijayanti, 2. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam - Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Epistemologi, atau teori pengetahuan, dalam perspektif Islam memiliki landasan yang berbeda dibandingkan dengan epistemologi Barat. Dalam Islam, epistemologi menempatkan Allah sebagai sumber utama segala ilmu, yang kemudian diturunkan melalui wahyu dan disempurnakan dengan akal manusia. Epistemologi Islam mengakui empat sumber ilmu sekaligus, yaitu: indera, akal, intuisi, dan wahyu. Masing-masing sumber tersebut memiliki kadar kemampuan yang berbeda sehingga mereka tidak bisa dipisah-pisah dan harus digunakan secara proporsional. Pengetahuan dianggap sebagai bagian dari amanah yang harus dikelola dengan benar, bukan sekadar informasi atau fakta yang harus Karena itu, pengetahuan memiliki dimensi spiritual yang melampaui nilai-nilai praktis atau pragmatis belaka (Salminawati, 2. Pada konetsk epistemologi akhlak merupakan kajian terhadap bagaimana akhlak itu bisa diperoleh dan diajarkan kepada orang lain. Berbicara tentang pemerolehan akhlak maka tidak terlepas dari teori kesadaran nilai, karena akhlak adalah bagian dari pada nilai yang termasuk ke dalam nilai etik. Mengutip pendapat Mulyana bahwa nilai sering diselidiki dari cara perolehannya dan melalui dinamika kesadaran nilai pada diri manusia. Untuk memperjelas masalah ini maka akan penulis kemukakan hal-hal berikut (Mulyana, 2. Letak Nilai Menurut Mulyana bahwa pandangan tentang letak nilai ada dua yaitu nilai terletak dalam benak orang . eopleAos min. dan nilai itu terletak pada tindakan manusia. Merujuk pada dua pendapat di atas berarti akhlak itu letaknya di dalam benak manusia dan terletak di dalam tindakan manusia. (Mulyana, 2. Cara Manusia Memperoleh Nilai Ada tiga teori yang berbicara tentang perolehan nilai yaitu teori nativisme, empirisme dan konvergensi (Mulyana, 2. Nativisme merupakan aliran yang menyatakan bahwa manusia memperoleh nilai karena ada faktor bawaan yang Dalam terminology Islam dikenal dengan istilah fitrah. Fitrah inilah yang membuat manusia memperoleh nilai. Dengan demikian bahwa akhlak itu diperoleh karena faktor fitrah dan bukan karena faktor selain itu. Berbeda dengan Nativisme, aliran Behaviorisme justru memandang bahwa yang mempengaruhi perolehan nilai pada diri manusia adalah faktor lingkungannya, bukan faktor bawaan. Cara pandang seperti ini lebih menekankan peran orangtua, sekolah dan lingkungan masyarakat dalam perolehan nilai pada diri manusia. Kemudian ada juga aliran Konvergensi dimana memandang bahwa perolehan nilai itu dipengaruhi oleh faktor bawaan dan faktor Ilmu Akhlaq sebagai Pengembangan Keilmuan dalam Perspektif Filsafat Ilmu Teori ini mengakui pernyataan nativisme dan empirisme, namun menempatkan perolehan nilai pada fluktuasi kesadaran nilai. Kesadaran Nilai Ada dua teori yang berkaitan dengan kesadaran nilai yaitu aliran fungsionalis dan aliran sufistik. Aliran fungsionalis memandang bahwa kesadaran nilai diperoleh dari proses penangkapan fakta oleh panca indera lalu dipersepsi oleh akal. Sementara aliran sufistik memandang bahwa kesadaran nilai diperoleh dengan cara perenungan hati yang bersih tentang sifat-sifat Allah swt. (Mulyana, 2. Ontologi Akhlak Ontologi adalah teori tentang yang ada atau being, atau apa yang dipikirkan, yang dibahas oleh filsafat. Barnadib menyatakan bahwa masalah kebenaran dimulai dengan kenyataan, yang merupakan inti dari realita. Orang-orang harus dapat membuat kesimpulan bahwa pengetahuan mereka benar (Jalaluddin, 2. Dalam bahasa Yunani, istilah "ontologi" berasal dari kata "Ontos" dan "Logos", yang berarti "yang ada" dan "ilmu", yang berarti "ilmu yang berbicara tentang yang ada". Dengan kata lain, ontologi adalah cabang ilmu filsafat yang berbicara tentang hakikat hidup tentang keberadaan, yang mencakup keberadaan segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada (Mahfud, 2. Kata AuakhlakAy memiliki makna perilaku manusia yang memiliki implikasi pada perilaku baik yang disebut dengan al-akhlak al-mahmudah ataupun perilaku buruk yang disebut dengan al-akhlak al-madzmumah. Dalam pengertian etimologisnya, sebagaimana digambarkan Adjat Sudrajat dkk. , kata AuakhlakAy berasal dari bahasa Arab yang dapat diartikan dengan budi pekerti, tingkah laku, perangai, ataupun tabiat. Adapun dalam pengertian terminologisnya, akhlak dapat diartikan dengan sifat yang melekat dalam jiwa dan menjadi kepribadian seseorang sehingga mereka akan mewujudkan akhlak tersebut secara spontan dalam kehidupannya tanpa harus berpikir lebih Panjang (Adjat dkk Sudrajat, 2. Apa yang dikemukakan Adjat Sudrajat dkk. sejalan dengan apa yang dikemukakan Rosihan Anwar bahwa akhlak merupakan suatu dorongan jiwa dalam diri seseorang untuk berbuat tanpa pertimbangan lebih lanjut. Makna yang dapat diambil dari keberadaan akhlak sebagai suatu nilai yang telah terinternalisasikan dalam diri seseorang adalah bahwa akhlak tersebut akan tercermin dengan sendirinya pada pola pikir, pola sikap dan pola tindakan eseorang dalam relasi sosialnya. Spontanitas akhlak untuk muncul ketika merespon berbagai stimulus dalam kehidupan manusia merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan dari nilai-nilai akhlak yang telah diinternalisasikan dalam diri dan kepribadian Jurnal Budi Pekerti Agama Islam - Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Keberadaan akhlak dalam diri seseorang dapat diidentifikasi dengan merujuk pada berbagai ciri substantif dari akhlak itu sendiri, sebagaimana digambarkan Beni Ahmad Saebani, yang dalam hal ini terdiri atas (Beni Ahmad Saebani, 2. Akhlak merupakan suatu nilai yang tertanam mendalam diri seseorang sehingga bermetamorfosis sebagai kepribadian. Akhlak merupakan suatu tindakan yang diambil dengan mudah dan spontan tanpa adanya pertimbangan-pertimbangan yang mendahuluinya. Akhlak yang dilakukan seseorang merupakan suatu keinginan sendiri yang muncul tanpa adanya paksaan dari pihak-pihak di luar dirinya. Akhlak yang dilakukan seseorang merupakan suatu kesungguhan dan keikhlasan bukan dilakukan dengan kepura-puraan Dengan demikian ontologi akhlak berarti mempertanyakan apa hakikat akhlak itu. Untuk mengetahui hakikat akhlak setidaknya berangkat dari pengertian akhlak, dimana ada dua pendekatan untuk memahami makna akhlak, yaitu pendekatan etimologi . dan pendekatan terminologi . Menurut pendekatan etimologi, perkataan "akhlak" berasal dari bahasa Arab, jama' dari bentuk mufradnya "Khuluqun" yang menurut bahasa diartikan: moral, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuain dengan perkataan "khalkun" yang berarti kejadian, serta erat hubungan "Khaliq" yang berarti Pencipta dan "makhluk" yang berarti yang diciptakan (Zahruddin, 2. Sedangkan menurut pendekatan secara terminologi, beberapa ulama dan pakar pendidikan telah mengemukakan pengertiannya, diantaranya: Ibn Miskawaih dalam Zahruddin menyatakan bahwa AuAkhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran lebih dahuluAy (Zahruddin, 2. Pendapat lain yang cukup luas dikemukakan oleh Al-Ghazali dalam Ardani bahwa: Akhlak adalah suatu sikap yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang, tanpa perlu kepada pikiran dan pertimbangan. Jika sikap itu yang darinya lahir perbuatan yang baik dan terpuji, baik dari segi akal dan syara', maka ia disebut akhlak yang baik. Dan jika lahir darinya perbuatan tercela, maka sikap tersebut disebut akhlak yang buruk. (Ardani, 2. Dari dua pengertian di atas, dapat dipahami bahwa akhlak merupakan perbuatan yang timbul karena adanya dorongan dari dalam jiwa manusia secara spontan tanpa berpikir atau menimbang terlebih dahulu. Atau dengan kata lain akhlak merupakan Ilmu Akhlaq sebagai Pengembangan Keilmuan dalam Perspektif Filsafat Ilmu perbuatan yang dikehendaki seseorang dan dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi suatu kebiasaan. Misalnya, kebiasaan lemah lembut terhadap sesama, atau sebaliknya acuh tak acuh terhadap kesusahan orang lain, dan lain sebagainya. Sebagaimana pernyataan Amin yang dikutip Zahruddin bahwa: Sementara orang mengetahui bahwa yang disebut akhlak ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya, kehendak itu bila membiasakan sesuatu, kebiasaan itu dinamakan akhlak. Menurutnya kehendak ialah ketentuan dari beberapa keinginan manusia setelah menimbang, sedang kebiasaan merupakan perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah melakukannya, masing-masing dari kehendak dan kebiasaan ini mempunyai kekuatan, dan gabungan dari kekuatan itu menimbulkan kekuatan yang lebih besar. Kekuatan besar inilah yang bernama (Zahruddin, 2. Berdasarkan beberapa pengertian akhlak tersebut di atas, maka suatu perbuatan dapat disebut akhlak jika memenuhi kriteria sebagai berikut: Perbuatan tersebut berasal dari dorongan jiwa dan bukan dari paksaan orang lain Perbuatan tersebut dilakukan secara berulang-ulang dan hampir menjadi kebiasaan Perbuatan tersebut timbul dengan sendirinya secara spontan, tanpa pertimbangan terlebih dahulu. Dengan demikian akhlak menunjukkan kondisi jiwa yang menimbulkan perbuatan atau perilaku secara spontan. Seseorang dikatakan berakhlak penolong, ketika dihadapkan kepada orang yang sedang dirundung kesulitan, secara spontan akan memberikan pertolongan tanpa banyak memperhatikan atau memikirkan untung-rugi, atau ketika seseorang sedang berjalan tiba-tiba tersandung batu, maka kata-kata yang keluar dari mulutnya mencerminkan akhlaknya. Jadi akhlak menunjukkan pada hubungan sikap batin dan perilaku secara konsisten Dalam kaitannya dengan ragam akhlak, akhlak dapat dibagi menjadi tiga ragam yang dalam hal ini adalah (Widyawati, 2. Akhlak kepada Allah swt. Keberadaan manusia sebagai hamba Allah swt. menuntut manusia untuk senantiasa menjaga relasi vertikal taAoabbudi kepada-Nya. Dalam konteks ini, akhlak kepada Allah swt. menuntut manusia untuk senantiasa mengarahkan segala apa yang ada dalam dirinya untuk meraih keridhaan-Nya. Tujuan utama dari sebuah proses pendidikan Islam adalah bagaimana mendudukkan peserta didik sebagai pribadipribadi yang sadar akan keberadaannya sebagai hamba Allah swt. dan mereka tunduk terhadap berbagai syariat agama-Nya dalam ajaran Islam Jurnal Budi Pekerti Agama Islam - Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Akhlak kepada sesama manusia Manusia merupakan makhluk sosial yang dalam kehidupannya menunjukkan relasi sosial yang sangat masif satu sama lain. Dalam relasi sosial yang terbangun di antara sesama manusia, diperlukan suatu kepekaan sosial yang terbangun atas nilai-nilai akhlak yang baik sehingga keberadaan mereka menjadi rahmat bagi sesama manusia. Beberapa akhlak yang baik yang dapat menjadi perekat bagi sesama manusia dalam sebuah interaksi sosial yang sangat masif adalah kejujuran, empati, kesopanan, dan yang lainnya. Akhlak kepada semua ciptaan Allah swt di alam semesta Akhlak kepada semua ciptaan Allah swt. di alam semesta merupakan suatu akhlak yang mendudukkan manusia sebagai agen dalam penguatan kehidupan Beberapa tindakan yang dapat dilakukan manusia dalam mewujudkan akhlak kepada semua ciptaan Allah swt. di alam semesta tersebut diantaranya adalah menjaga kebersihan lingkungan, menjaga kelestarian hutan, membersihkan sungai dari limbah pencemaran, dan yang lainnya. Sementara itu. Akilah Mahmud yang dikutip oleh Widyawatu mengemukakan bahwa ragam akhlak juga dapat dilihat dari berbagai ciri yang melingkupinya yang dalam hal ini dapat digambarkan sebagai berikut: Akhlak Rabbani Akhlak Rabbani merupakan akhlak yang terbangun atas nilai-nilai yang bersifat mutlak sehingga normativitas akhlak Rabbani ini sangat kuat dan tidak terikat pada ruang-ruang yang bersifat kondisional dan historis. Akhlak manusiawi Akhlak manusiawi merupakan akhlak yang sejalan dengan fitrah penciptaan manusia di muka bumi. Dengan akhlak manusiawi ini, manusia mengarahkan segala perilakunya pada pencapaian kebahagiaan dunia dan akhirat sesuai dengan fitrah penciptaan mereka. Akhlak universal Akhlak universal merupakan akhlak yang berlaku universal sehingga dapat dikatakan sebagai nilai yang berlaku kosmopolitan dimana akhlak universal tersebut bisa berlaku vertikal serta bisa juga berlaku horizontal. Ilmu Akhlaq sebagai Pengembangan Keilmuan dalam Perspektif Filsafat Ilmu Akhlak keseimbangan Akhlak keseimbangan dapat dipahami sebagai akhlak yang melihat bagaimana manusia dalam kehidupannya harus mampu menghadirkan keseimbangan dua kutub seperti dunia dan akhirat, jasmani dan ruhani, dan yang lainnya. Hal ini menekankan bagaimana konsep keseimbangan tersebut dapat terjabarkan di atas dimensi akhlak. Akhlak realistik Akhlak realistik merupakan akhlak yang melihat manusa dengan segala potensi yang dimilikinya secara realistis. Dalam proses tersebut, manusia memiliki kelebihan serta kelemahan sekaligus sehingga realitas tersebut harus disikapi secara Hal ini dapat ditemukan misalnya pada adanya kebolehan manusia untuk melakukan sesuatu yang boleh jadi hukum asalnya adalah haram dengan alasan darurat (Widyawati, 2. Aksiologi Akhlak Istilah "aksiologi" berasal dari kata Yunani "aksios" dan "logos", yang masingmasing berarti "nilai", dan "logos" berarti "ilmu, teori, gagasan, atau uraian. " Dengan kata lain, aksiologi adalah teori nilai. Aksiologi adalah bidang filsafat yang mempelajari apa yang benar dan salah, indah dan tidak indah. Hal ini erat kaitannya dengan pendidikan karena dunia nilai akan selalu dipertimbangkan atau menjadi dasar untuk menentukan tujuan pendidikan (Sadulloh, 2. Pengertian aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunan. yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Jadi aksiologi adalah AuTeori tentang nilaiAy (Salam, 1. Senada dengan itu. Suriasumantri mengatakan aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan pengetahuan yang diperoleh. (Suriasumantri, 2. Berbicara tentang nilai maka ada beberapa pengertian yang bisa dipahami, sebagai berikut: Menurut Baier nilai sering kali dirumuskan dalam konsep yang berbeda-beda, hal tersebut disebabkan oleh sudut pandangnya yang berbeda-beda pula. (Mulyana, 2. Contohnya seorang sosiolog mendefinisikan nilai sebagai suatu keinginan, kebutuhan, dan kesenangan seseorang sampai pada sanksi dan ekanan dari masyarakat. Seorang psikolog akan menafsirkan nilai sebagai suatu kecenderungan perilaku yang berawal dari gejala-gejala psikologis, seperti hasrat, motif, sikap, kebutuhan dan keyakinan yang dimiliki secara individual sampai pada tahap wujud tingkah lakunya yang unik. Sementara itu, seorang antropolog melihat nilai sebagai Auharga Au yang melekat pada pola budaya masyarakat seperti dalam bahasa, adat kebiasaan, keyakinan, hukum dan bentuk-bentuk organisasi sosial yang dikembangkan Perbedaan pandangan mereka dalam memahami nilai telah berimplikasi pada Jurnal Budi Pekerti Agama Islam - Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. perumusan definisi nilai. Berikut ini dikemukakan beberapa definisi nilai yang masingmasing memiliki tekanan yang berbeda. Allport dalam Mulyana, mendefinisikan nilai sebagai sebuah keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihannya. Sebagai seorang ahli psikologi kepribadian. Allport menyatakan bahwa nilai terjadi pada wilayah psikologis yang disebut Keyakinan merupakan wilayah psikologis tertinggi dari wilayah lainnya seperti hasrat, motif, sikap, keinginan dan kebutuhan. Oleh karenanya, keputusan benar-salah, baik-buruk, indah-tidak indah pada wilayah ini merupakan hasil dari sebuah rentetan proses psikologis yang kemudian mengarahkan individu pada tindakan dan perbuatan yang sesuai dengan nilai pilihannya. (Mulyana, 2. Kupperman menafsirkan nilai sebagai patokan normatif yang mempengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya di antara cara-cara tindakan alternatif. Ia memberi penekanan pada norma sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku manusia. Sebagai seorang sosiolog. Kupperman memandang norma sebagai salah satu bagian terpenting dari kehidupan sosial. Oleh karena itu, salah satu bagian terpenting dalam proses pertimbangan nilai . alue judgemen. adalah pelibatan nilai-nilai normatif yang berlaku di masyarakat. Sedangkan Kluckhohn mendefinisikan nilai sebagai konsepsi . ersirat atau tersurat, yang sifatnya membedakan individu atau ciri-ciri kelompo. dari apa yang diinginkan, yang mempengaruhi pilihan terhadap cara, tujuan antara dan tujuan akhir tindakan. Menurut Brameld, pandangan Kulchohn tersebut memiliki banyak implikasi terhadap pemaknaan nilai-nilai budaya dan sesuatu itu dipandang bernilai apabila dipersepsi sebagai sesuatu yang diinginkan. Makanan, uang, rumah, memiliki nilai karena memiliki persepsi sebagai sesuatu yang baik dan keinginan untuk memperolehnya memiliki mempengaruhi sikap dan tingkah laku seseorang. Namun tidak hanya materi yang memiliki nilai, gagasan dan konsep juga dapat menjadi nilai, seperti: kejujuran, kebenaran dan keadilan. Kejujuran misalnya, akan menjadi sebuah nilai bagi seseorang apabila ia memiliki komitmen yang dalam terhadap nilai itu yang tercermin dalam pola pikir, tingkah laku dan sikap. (Brameld, 1. Sementara itu. Mulyana menyederhanakan definisi nilai sebagai suatu rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan (Mulyana, 2. Menurutnya, definisi ini dapat mewakili definisi-definisi yang dipaparkan di atas, walaupun ciri-ciri spesifik seperti norma, keyakinan, cara, tujuan, sifat dan ciri-ciri nilai tidak diungkapkan Ilmu Akhlaq sebagai Pengembangan Keilmuan dalam Perspektif Filsafat Ilmu secara eksplisit. Perkembangan pemikiran nilai mengkristal dalam aliran-aliran filsafat Di antara aliran-aliran tersebut adalah sebagai berikut (Mulyana, 2. Hedonisme, aliran ini memandang bahwa kebaikan tertinggi dalam menimbang nilai itu terletak pada kesenangan. Uedomonisme, aliran ini memandang bahwa kebahagiaan merupakan nilai tertinggi Utilitarisme, aliran ini memandang bahwa kegunaan merupakan nilai tertinggi. Sebagaimana telah disebutkan bahwa akhlak adalah keadaan batin seseorang yang menjadi sumber lahirnya perbuatan dimana perbuatan itu lahir dengan mudah tanpa memikirkan untung rugi. Bagi orang yang berakhlak baik, berbuat baik adalah satu ekpresi, bukan transaksi, oleh karena itu perbuatan baiknya mengalir begitu saja tanpa harus mempertimbangkan untung rugi. Yang dimaksud dengan perbuatan adalah kegiatan fisik atau mental yang dilakukan secara sengaja dan bertujuan. Perbuatan bisa berujud aktifitas gerak, bisa juga berwujud diam tanpa gerak. Tidak berbuat dan tidak berkatakata yang dilakukan secara sengaja adalah suatu perbuatan yang bernilai akhlak. Oleh karena itu, bagi orang yang berakhlak, perkataannya, perbuatanya dan diamnya diukur secara cermat, kapan harus berkata dan kapan harus diam, kapan harus bertindak dan kapan harus berdiam diri. Akhlak mengandung dimensi vertikal, horizontal dan internal, oleh karena itu kemanfaatan hidup berakhlak dirasakan oleh masyarakat dan oleh orang yang Di antara manfaat hidup berakhlak bagi individu yang berakhlak adalah: Dapat menikmati ketenangan hidup. Ketenangan dalam hidup diperoleh oleh orang yang tidak memiliki konflik batin, konflik interest. Konflik batin timbul disebabkan oleh ketidak mampuan seseorang berakrab-akrab dengan diri sendiri, dengan kemampuan diri sendiri, dengan apa yang telah dimiliki. Pusat perhatian orang berakhlak ialah pada bagaimana menjadikan dirinya bermakna, bermakna bagi keluarga, masyarakat dan bangsa serta kemanusiaan sesuai dengan nilai yang diajarkan oleh Allah Sang Pencipta. Dari segi ini orang yang berakhlak selalu bekerja keras tak kenal lelah untuk orang lain, yang dampaknya pulang kepada diri sendiri, yaitu tidak hirau terhadap kesulitan pribadinya. Secara internal orang berakhlak selalu mensyukuri nikmat Allah kepada dirinya sehingga ia merasa telah diberi banyak dan banyak memiliki. Dari itu ia selalu berfikir untuk memberi dan sama sekali tidak berfikir untuk menguasai apa yang telah dimiliki orang lain(Munasir, 2. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam - Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Akhlak dalam Perspektif Filosof Islam Filsafat akhlak versi Islam berupaya memadukan antara wahyu dan akal, antara aqidah dan hikmah, antara agama dan filsafat. dan berupaya menjelaskan kepada manusia bahwa . wahyu tidak bertentangan dengan akal . akidah jika diterangi dengan sinar filsafat akan menetap di dalam jiwa dan akan kokoh di hadapan lawan . agama jika bersandar dengan filsafat akan menjadi filosof sebagaimana filsafat menjadi religius (Madkur, 1. Di dalam sistem pemikiran Islam, pertama dan utama, ada al-QurAoan yang sarat dengan analisis terperinci seputar hakikat realitas dan anjuran-anjuran moral bagi para pembacanya. Setelah al-QurAoan ada sunnah bagi kebanyakan umat muslim, dan bimbingan yang terus menerus, dari pemimpin spiritual (Ima. bagi sebahagian yang lain. Kalangan kebanyakan itu disebut muslim sunni lantaran komitmen mereka pada berbagai hadits mengenai perilaku Nabi Muhammad saw (Leanman, 2. ditinjau dari sudut pandang tradisi intelektual Barat, filsafat Islam kelihatan hanya sekedar filsafat Yunani Alexandrian dalam Aubaju ArabAy akan tetapi, jika dilihat dari perspektifnya sendiri dan nilai berdasarkan keutuhan tradisi filosofis Islam yang mempunyai sejarah berkesinambungan selama 12 abad dan masih tetap hidup hingga kini, menjadi sangat jelas bahwa filsafat Islam, seperti hal-hal lainnya yang berlabel AuIslamAy berakar pada al-QurAoan dan Hadits. Filsafat Islam adalah . Islam, bukan hanya karena dipopulerkan oleh kaum muslimin di dalam dunia Islam, melainkan juga karena menjabarkan prinsip-prinsip dari sumber-sumber wahyu Allah. Setiap filosof Islam adalah muwahhid atau pengikut tauhid, dan mereka melihat filsafat yang autentik dalam kerangka ini. Mereka menyebut Pytagoras dan Plato yang menegaskan prinsip tertinggi sebagai muwahhid, meskipun mereka kurang memperlihatkan minat pada bentuk-bentuk filsafat Yunani dan Romawi belakangan yang lebih skeptis atau agnostik. Sehingga dengan demikian intisari filsafat Islam berada diseputar wacana bagaimana para filosof Islam menafsirkan doktrin Tauhid (Nasr, 2. Selain itu ada pula tata bahasa Arab sebagai bahasa Al-QurAoan. Mendalami tata bahasa Arab sangat krusial untuk bisa menyerap makna pesan yang terkandung di dalam teks (Al-QurAoa. sebagai wahyu Allah. Tidak mengherankan apabila banyak orang muslim yang merasa bahwa Islam dan sistem pengetahuannya yang sering disebut dengan ilmu-ilmu keIslaman. Lebih dari cukup untuk mengatasi semua masalah yang mungkin timbul sehingga tidak perlu ada lagi sumber teoritis Ini memang reaksi wajar dari semua penganut agama yang memiliki sistem pemaparan yang canggih. Para penganut ini umumnya menolak agama Aumenengok keluar agamaAy untuk menyelesaikan masalah-masalah teoritis juga praktis yang mungkin dihadapi oleh umat manusia termasuk sistem etika dan akhlak. (Wijayanti, 2. Ilmu Akhlaq sebagai Pengembangan Keilmuan dalam Perspektif Filsafat Ilmu Salah satu tokoh yang cukup popular dalam pemikiran akhlak di kalangan Muslim adalah Al-Gazali. Beliau sendiri mendefinisikan akhlak sebagai Ausuatu keadaan yang menyatu dalam pribadi dan menjadi pangkal timbulnya perbuatanperbuatan dengan mudah tanpa proses pemikiran atau pertimbanganAy Tinjauan al-Gazali tentang akhlak seperti yang dikemukakan di atas, didasarkan atas persepsi yang menganalogikan akhlak dengan psycho-motorik yang melahirkan perbuatan spontan sebagai cerminan dari akumulasi nilai-nilai iman yang tertanam dalam jiwa . setiap orang. Definisi akhlak versi al-Gazali tersebut jika diperhadapkan dengan konsep tujuan hidup dan misi utama kehadiran manusia di arena kehidupan kini, ternyata masih tertinggal dan masih memerlukan revisi . erumusan ulan. Di satu pihak, alGazali mengidentikkan akhlak dengan sifat-sifat dasar yang tertanam kokoh dan mewarnai tingkah laku seseorang dengan sifat-sifat dasar tersebut kemudian muncul perlakuan spontan tanpa melalui pemikiran atau pertimbangan yang berkepanjangan. Sedang di pihak lain, alQurAoan menekankan perlunya dipelihara sikap aktif dan positif dalam menapak jalan hidup serta berupaya menciptakan suasana yang kondusif bagi tercapainya misi kekhalifaan manusia yaitu mengantarkan seluruh penghuni alam menuju terwujudnya kesejahteraan dan ketentraman hidup lahir dan batin(Yoke Suryadarma, 2. Pendidikan dapat membantu seseorang untuk memiliki sifat terpuji tersebut, oleh sebab itu Ibn Miskawai menolak pendapat sebagian pemikir Yunani yang mengatakan akhlak tidak dapat dirubah dengan cara apapun karena hal tersebut sudah bersifat alami (Maskawiy, 1. Menurut Penulis Akhlak sangat di pengaruhi tingkat intelegensi seseorang. Oleh karenanya pengembangan intelegensia manusia dan upaya untuk mengoperasionalisasikannya akan membentuk manusia pemikir yang mengenal jati diri, alam dan lingkungan di mana ia berada, bahkan sekaligus menyadari misi dan tujuan hidupnya. Manusia seperti itu, menurut term alQurAoan, disebut Ulu al-Albab . rang yang beraka. Karakteristik yang dimiliki oleh mereka yang tergolong sebagai Ulu al-Albab dirinci oleh al-QurAoan sebagai berikut: Memahami sinyal-sinyal dari proses perjalanan dan perobahan isi alam . untuk selanjutnya dijadikan sarana pendekatan diri kepada Allah swt, pencipta alam semesta melalui aktifitas pikir dan zikirnya Memaksimalkan upaya dalam meningkatkan kualitas diri serta potensi sumber daya manusia yang mereka miliki agar pada gilirannya kelak mereka pun dapat tergolong sebagai orang-orang yang berkualitas terbaik . ahir dan bati. Tujuan akhir dari upaya pembenahan dan peningkatan kualitas diri yang mereka tempuh melalui visi eskatologis adalah tercapainya keselamatan dan kesentosaan kehidupan (Audah Mannan, 2. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam - Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Dalam penekanan yang sama, al-QurAoan mendeskripsikan sifat-sifat terpuji yang dimiliki hamba-hamba Allah Yang Pengasih sebagai hasil positif dari akhlak yang QurAoani sebagai berikut: Lemah lembut. Memupuk kedamaian hidup. Memelihara tambatan hati dalam bentuk permohonan kepada Allah swt, agar dijauhkan dari ancaman dan siksaan neraka. Tidak boros dan tidak kikir. Memiliki rasa kepedulian sosial yang tinggi dan prihatin terhadap masa depan umatnya. Manusia dituntut untuk selalu meniru, bahkan memiliki sifat-sifat Tuhan, yakni sifat-sifat baik dan sempurna melalui upaya internalisasi al-Asma al-HusnaAo agar dapat tergolong sebagai hamba Allah Yang Penyayang. Semakin banyak upaya seorang untuk meniru . emiripkan dirinya denga. sifat-sifat Tuhan semakin mulialah dirinya. Filsafat Akhlak dalam Membangun Ilmu Pengetahuan Yang Bertanggung Jawab Filsafat akhlak dalam pemikiran kontemporer meniscayakan manusia membentuk basis filosofis penguatan akhlaknya atas kesadaran diri berdimensi ruhiyah akan keberadaannya di muka bumi yang profan, pragmatis, atau bahkan hedonis. Manusia yang gagal dalam proses ini cenderung akan terjebak pada fisiknya yang pada gilirannya akan menjebak pada suatu tekanan dimensi jasadiyah yang sangat terikat pada dimensi duniawi. Hal ini wajar mengingat fisik manusia membutuhkan berbagai nikmat duniawi seperti makanan, minuman, pakaian perumahan, dan semacamnya. Konsekuensinya, filsafat akhlak dalam pemikiran etika kontemporer meniscayakan manusia untuk lebih arif dalam memahami dirinya yang terikat dengan relasi sistemik baik vertikal ubidiyah dengan Allah swt. sebagai al-Khaliq, ataupun horizontal muamalah dengan semua al-makhluqat. (M. Makbul, 2. Semangat di atas yang mendasari bagaimana filsafat akhlak mengarahkan manusia untuk menguatkan nilai-nilai karakter dalam dirinya. Dalam kaitannya dengan nilai karakter yang harus dipertegas pada pendidikan karakter dalam pengetahuan Islam. Ishak Talibo mengemukakan bahwa ada delapan belas nilai pendidikan karakter yang wajib diterapkan di setiap proses pendidikan karakter yang dalam hal ini adalah: Religius, sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan agamanya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Jujur, perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan Toleransi, sikap tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, entis, pendapat, sikap, tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. Disiplin, tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. Ilmu Akhlaq sebagai Pengembangan Keilmuan dalam Perspektif Filsafat Ilmu Kreatif dan mandiri, berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara dan tidak mudah bergantung pada orang lain. Demokratis, cara berpikir, bersikap, bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan dan orang lain. Rasa ingin tahu, sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih Semangat kebangsaan, cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Menghargai prestasi, sikap, dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui serta menghormati keberhasilan Bersahabat atau komunikatif, tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerjasama dengan orang lain. Cinta damai, sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya. Peduli lingkungan, sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya. Peduli sosial, sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. Tanggung jawab, sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan (Talibo & Hasan, 2. Dalam kaitannya dengan bagaimana pendidikan dengan berbagai dimensinya dapat menguatkan akhlak dalam diri manusia. Dengan demikian bahwa sebuah proses pendidikan diharapkan dapat memunculkan beberapa implikasi konstruktif pada pembinaan akhlak manusia yang dalam hal ini adalah: Melalui proses pendidikan maka manusia dapat mengenal berbagai tata nilai yang berlaku pada lingkungan sosial dimana dimensi nilai tersebut bisa saja berbeda satu sama lain. Melalui proses pendidikan maka manusia dapat dibekali dengan keterampilan bagaimana mengembangkan sendiri nilai moral yang dimilikinya sebagai bagian dari sebuah sistem sosial yang dinamis. Melalui proses pendidikan maka manusia dapat mempertimbangkan berbagai fenomena dengan mengacu pada berbagai standar etika yang dipahaminya sehingga dapat menjadi pribadi yang bijak dalam menyikapi berbagai persoalan. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam - Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Melalui proses pendidikan maka manusia dapat mengenal nilai-nilai karakter sehingga memiliki kesadaran atas apa yang harus dilakukan(Firdaus, 2. Dengan demikian maka Peran akhlakul karimah dalam membangun ilmu pengetahuan yang bertanggung jawab sangat penting dalam konteks perkembangan ilmu yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga etis. Akhlakul karimah, yang mengedepankan nilai-nilai moral seperti kejujuran, integritas, dan tanggung jawab, menjadi dasar yang kuat untuk memastikan bahwa ilmu pengetahuan yang dikembangkan memberikan manfaat bagi umat manusia dan tidak merugikan masyarakat atau lingkungan. Dalam perspektif filsafat ilmu, ilmu pengetahuan tidak hanya dilihat sebagai pencapaian objektif dan rasional semata, tetapi juga sebagai aktivitas yang harus dipandu oleh tujuan moral yang jelas. (Muh Rustam, 2. Hal ini sama dengan yang diungkapkan oleh Yunus Abu Bakar bahwasanya pendidikan Islam harus berupaya menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan damai maupun perang, dan menyiapkannya untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya. Mencapai suatu akhlak yang sempurna adalah tujuan sebenarnya sebenarnya dari pendidikan Islam. efinisi ini menggambarkan bahwa manusia yang ideal harus dicapai melalui kegiatan pendidikan adalah manusia yang sempurna akhlaknya. Hal ini sejalan dengan misi kerasulan Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, melihat berbagai tujuan yang telah dikemukakan bahwa tujuan pendidikan Islam tiada lain adalah untuk mewujudkan insan yang berakhlakul karimah yang senantiasa mengabdikan dirinya kepada Allah SWT. Dan dengan berakhlakul karimah maka seseorang tersebut akan memiliki ilmu pengetahuan yang sesuai dengan ajaran Alah SWT. (Yunus Abu Bakar, 2. Ilmuwan yang berakhlak karimah akan memastikan bahwa setiap temuan dan aplikasi ilmu dilakukan dengan transparansi dan tanpa adanya manipulasi, serta mempertimbangkan dampak sosial dan ekologisnya. Tanggung jawab sosial ini sangat relevan dalam perkembangan teknologi yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia secara luas. Penelitian dan penerapan ilmu harus memperhatikan etika, terutama dalam bidang-bidang yang berhubungan dengan hak asasi manusia, kesehatan, atau lingkungan. Selain itu, akhlakul karimah juga mengajarkan pentingnya keseimbangan antara kemajuan teknologi dan moralitas, agar penemuan ilmiah tidak hanya mementingkan kemajuan material, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup manusia secara spiritual dan moral. Oleh karena itu, dengan landasan akhlakul karimah, ilmu pengetahuan dapat berkembang dengan cara yang bertanggung jawab dan memberikan kontribusi positif bagi kemanusiaan dan keberlanjutan Ilmu Akhlaq sebagai Pengembangan Keilmuan dalam Perspektif Filsafat Ilmu KESIMPULAN Akhlakul karimah, yaitu akhlak yang baik, mulia, dan terpuji, memainkan peran yang sangat penting dalam membangun ilmu pengetahuan yang bertanggung jawab. Dalam konteks filsafat ilmu, ilmu tidak hanya dipandang sebagai pencapaian objektif dan rasional, tetapi juga harus didorong oleh tujuan moral yang jelas, seperti kejujuran, integritas, dan tanggung jawab. Ilmuwan yang berakhlak karimah akan memastikan bahwa hasil penelitian dan aplikasinya tidak hanya menguntungkan sebagian pihak, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dan Pendidikan Islam, yang bertujuan membentuk manusia yang berakhlakul karimah, dapat menciptakan individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijaksana dalam menyikapi fenomena sosial, serta bertanggung jawab dalam menggunakan ilmu untuk kebaikan umat manusia dan keberlanjutan bumi. Sehingga, akhlak yang baik merupakan dasar yang kuat untuk mengarahkan perkembangan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi umat manusia tanpa merugikan masyarakat atau lingkungan. DAFTAR PUSTAKA