TE DEUM: Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan Volume 14. Nomor 1 (Juni 2. : 143-161 ISSN 2252-3871 . , 2746-7619 . http://ojs. id/index. php/tedeum/index DOI: https://doi. org/10. 51828/td. Submitted: 06-01-2025 Accepted: 26-06-2025 Published: 30-06-2025 DIMENSI SOTERIOLOGI IMPERATIF DALAM INJIL MATIUS SOTERIOLOGICAL DIMENSION OF THE IMPERATIF IN THE GOSPEL OF MATTHEW Haposan Silalahi,1* Elisamark Sitopu1 1Institut Agama Kristen Negeri Tarutung. Indonesia *hanslahi. hs@gmail. ABSTRACT This study aims to analyze the soteriologi imperatif dimension in the Gospel of Matthew. This study uses a library method and analyzes the soteriologi dimension of Matthew. This study found that the soteriologi dimension of Matthew firmly connects the concept of salvation with the actions and obedience of believers, which must be a unity in the person of the believer. Like a tree that does not bear fruit, it will be cut down. The soteriologi dimension of Matthew's Imperatif is a strong demand to obey God's commandments, which are set out in the context of the underlying structure of grace and the framework of God's new covenant regarding salvation and forgiveness in Jesus. Carrying out the "Will of God" for Christians in a certain sense has the meaning of "poieo": doing, obeying the law as a whole. The word "poies" is always emphasized in the Gospel of Matthew as a motivation that encourages believers to live obediently to God. Keywords: soteriologi. Matthew. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dimensi soteriologi imperatif dalam Injil Matius. Penelitian ini menggunakan metode pustaka dan menganalisis dimensi soteriologi Matius. Penelitian ini menemukan bahwa Dimensi soteriologi Matius dengan tegas menghubungkan konsep keselamatan dengan tindakan dan ketaatan orang percaya, yang harus Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 144 | DIMENSI SOTERIOLOGI IMPERATIF DALAM INJIL MATIUS menjadi satu kesatuan dalam pribadi orang percaya. Ibarat pohon yang tidak berbuah maka akan ditebang. Dimensi soteriologi Imperatif Matius adalah tuntutan yang kuat untuk menaati perintah-perintah Allah, yang ditetapkan dalam konteks struktur yang mendasari kasih karunia dan kerangka perjanjian baru Allah mengenai keselamatan dan pengampunan di dalam Yesus. Melaksanakan AuKehendak TuhanAy bagi umat Kristiani dalam arti tertentu mempunyai arti AupoieoAy: berbuat, menaati hukum secara Kata AupoiesAy ini selalu ditekankan dalam Injil Matius sebagai motivasi yang mendorong orang percaya untuk hidup taat kepada Tuhan. Kata-kata kunci: soteriologi. Matius. PENDAHULUAN Matius memahami bahwa ketaatan/ketundukan kepada Taurat merupakan implementasi kepada kehendak Bapa, merupakan respons yang baik terhadap anugerah penebusan Kristus yang secara cuma-cuma diberikan kepada manusia. Dengan demikian keselamatan tersebut merupakan harta berharga yang harus tetap dijaga dengan kepatuhan dalam melakukan/poies kehendak Bapa di Sorga. Matius secara terbuka menegaskan Taurat dan mendasarkan pintu masuk kerajaan pada ketaatan. Ketaatan tersebut berhubungan dengan kata poies, yang artinya melakukan, syarat masuk ke dalam kerajaan surga adalah melakukan kehendak Tuhan . Bacon dan Windisch di awal abad terakhir, dan selanjutnya Marxsen, mengamati pandangan Matius tentang Tarurat dan penekanannya pada ketaatan pada perintah Yesus, dan menyimpulkan bahwa Matius menekankan keselamatan legalistik. 1 Matius menekankan tentang ketaatan membawa kehidupan kekal. Kisah dalam Matius 12:49-50, tentang ibu dan saudara Yesus menunjuk kepada para muridnya dan yang melakukan kehendak Bapa (Mat. 12: 49Ae. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dimensi soteriologi Matius, dengan melakukan analisis terhadap konsep keselamatan Matius. Artikel ini akan menyajikan sebuah konsep bahwa dalam injil Matius ada konsep keselamatan yang bersifat perintah, yaitu tentang ketaatan sebagai bagian dari konsep keselamatan Matius. Ketaatan pada perintah Tuhan menjadi bagian penting dalam keselamatan yang ditawarkan oleh Matius. Soteriologi 1 B. Bacon. AuJesus and the Law: A Study of the First AoBookAo of Matthew (Mt. 3Ae. Ay (JBL 47:1. , 203Ae31. Windisch. The Meaning of the Sermon on the Mount (Philadelphia: Westminster, 1. , 27Ae29. Marxsen. New Testament Foundations for Christian Ethics (Philadelphia: Fortress, 1. , 238. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. HAPOSAN SILALAHI. ELISAMARK SITOPU | 145 Matius memberikan pemahaman yang spesifik tentang hubungan antara anugerah dan ketaatan. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah penelitian kualitatif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. Penelitian pustaka dilakukan dengan menelaah berbagai sumber tertulis yang relevan, seperti buku, artikel jurnal, dokumen resmi, serta karya ilmiah lainnya yang berkaitan dengan topic studi soteriologi Matius. Pertama akan dilakukan kajian tentang soteriologi Matius oleh beberapa teolog, selanjutnya dilakukan analisa terhadap teks-teks Matius yang membahas tentang dimensi soteriologi secara khusus dimensi Imperatif. HASIL DAN PEMBAHASAN Pandangan Para Teolog Tentang Soteriologi Matius Bornkamm Pandangan Bornkamm tentang teologi Matius didasarkan pada hubungan antara eklesiologi dan eskatologi dalam komunitas Matius. Dalam tujuh perumpamaan Kerajaan Allah. Bornkamm menekankan bahwa kerajaan surga menyiratkan bahwa komunitas Matius bukan hanya kumpulan orang-orang pilihan dan orang benar, tetapi juga corpus mixtum dalam perjalanannya untuk memenuhi penghakiman terakhir. 2 Ketika Yesus kembali ke bumi, gandum akan dipisahkan dari lalang. 3 Baik eklesiologi dan eskatologi digunakan untuk menegaskan perspektif sejarahkeselamatan dari Injil Matius. Titik awal dari pandangan sejarahkeselamatan Bornkamm4 tentang Injil Matius adalah bahwa sejarah keselamatan berbeda dalam Markus dan Lukas. Misalnya. Markus menggambarkan Yohanes Pembaptis sebagai utusan pertobatan, sedangkan Lukas menggambarkan Yohanes Pembaptis dengan cara yang tetap secara historis . ebagai sosok yang termasuk dalam masa lalu yang tidak dapat 5 Namun, penggambaran Matius tentang Yohanes Pembaptis 2 G. Bornkamm. Tradition & Interpretation in Matthew (London: SCM Press, 1. 3 Van Aarde. God with Us: The Dominant Perspective in MatthewAos Story (Pretoria: University of Pretoria, 1. 4 Bornkamm. Tradition & Interpretation in Matthew, 15. 5 Strecker. The concept of history in Matthew, dalam buku G. Stanton, peny. The interpretation of Matthew (London: SPCK, 1. , 70-74. Pada teks Lukas 3: 1 dan lebih Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 146 | DIMENSI SOTERIOLOGI IMPERATIF DALAM INJIL MATIUS didasarkan pada fakta bahwa dalam khotbah Yohanes dia mengharapkan Mesias, dan ini mirip dengan pemberitaan Yesus dalam Injil menurut Matius. 6 Ini menyiratkan bahwa Matius memandang ajaran Yohanes Pembaptis sebagai model instruktif keselamatan bagi komunitasnya. Ajarannya dikaitkan dengan nubuatan, dengan pengumuman EA yang akan datang dan panggilan untuk bertobat sebelum penghakiman yang Perikop yang sama menyinggung ancaman tentang pohon yang tidak berbuah (Mat. yang, jika gagal menghasilkan buah, akan ditebang dan dibuang ke dalam lautan api. Melalui khotbah Yohanes Pembaptis, bagian ini berisi pemikiran keselamatan dasar dari pemahaman Matius tentang komunitasnya. Matius dengan tegas menghubungkan konsep keselamatan dengan perbuatan dan ketaatan orang-orang percaya, yang harus menjadi satu kesatuan dalam pribadi orang-orang percaya. Ibarat pohon tak berbuah, maka akan ditebang. Demikian juga orang-orang yang menyatakan diri sudah menerima anugerah keselamatan dari Tuhan, tetapi tidak menunjukkan ketaatan kepada perintah dan hukum Tuhan. Dalam hal ini Matius menyatakan bahwa orang-orang tersebut tidak pantas masuk ke dalam kerajaan surga. Dalam teologinya. Matius selalu menekankan ketaatan dan kepatuhan terhadap perintah Tuhan sebagai implementasi kehidupan orang-orang yang memperoleh keselamatan. Beberapa aspek dari karakter eskatologis komunitas Matius dan pengharapan akhirnya juga muncul dalam Mission Discourse dalam Matius 10. Bornkamm mempertimbangkan konstruksi Matius tentang hal ini, bersama dengan motif teologisnya, di mana wacana misionaris berfokus pada Yesus dan Khotbah di Bukit (Mat. 9:35 dan 4:. Ini menyiratkan bahwa wacana misi Matius dimotivasi oleh belas kasih Yesus untuk orang-orang yang menderita dan tidak memiliki pemimpin. Para murid mengkhotbahkan kedekatan kerajaan Allah, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan (Mat. 10: 7-. dan akhirnya penghakiman (Mat. Bagian penganiayaan dari Pesan Misi Matius . engingat akhir yang mendekat, para murid harus menjawab penganiayaan dengan pengakuan dan pemisahan dengan keputusan. Matius 10: 17-. bukanlah instruksi misionaris dalam arti yang tepat, tetapi mengajar anggota Komunitas Matius sebagai murid Yesus yang penuh dengan ketaatan dalam menjalankan perintah Yesus lengkap dalam dirinya (Luk 3:. Dengan demikian Yohanes Pembaptis menganut epos sejarah dan sejarah keselamatan, yang dia artikulasikan dalam Lukas 16:16. 6 Bornkamm. Tradition & Interpretation in Matthew, 15-16. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. HAPOSAN SILALAHI. ELISAMARK SITOPU | 147 dalam kehidupannya meskipun harus menanggung penganiayaan. Ketahanan ini, menurut instruksi tentang keselamatan dalam komunitas Matius, sangat penting. Itu dianggap perlu untuk memasuki Kerajaan Surga. Dengan demikian. Bornkamm dengan tepat menemukan bahwa harapan akhir eskatologis dari komunitas Matius adalah bahwa keselamatan bagi anggota komunitas tidak dimaksudkan untuk kumpulan orang-orang terpilih dan aman selamanya, karena pemahaman Matius tentang Yesus memerintahkan panen para pekerja, karena akhir belum datang. Oleh karena itu. Injil Matius dengan jelas menunjukkan bahwa akan ada perkumpulan orang pada hari yang diperkirakan akan berakhir. Tujuh perumpamaan tentang kerajaan surga, seperti yang disebutkan dalam Matius pasal 13, menceritakan tentang eklesiologi dalam Injil Matius. Sudut pandang Bornkamm adalah karena komunitas Matius diterima sebagai orang benar atau diibaratkan seperti gandum akan diterima. Sebuah corpus mixtum akan dipisahkan pada penghakiman terakhir. Matius menekankan pada komunitasnya untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi penghakiman akhir, maka harus hidup dalam ketaatan dan melakukan kehendak Tuhan dalam kehidupannya. Karena hal ini menjadi sebuah penekanan dalam Injil Matius. Maka dapat disimpulkan dalam kajian Bornkamm tersebut juga tersirat Matius selalu menekankan tentang Poies sebagai syarat penting untuk memperoleh kerajaan surga. Roger Mohrlang Mohrlang memulai analisisnya tentang Matius dan Taurat dengan menempatkan Injil Matius dengan benar dalam latar belakang Yahudi8 dan menyatakan bahwa kehidupan etis pada abad pertama bagi orang Yahudi dipahami sebagian besar dalam kaitannya dengan kepatuhan terhadap 9 Dia juga menyatakan bahwa: Audalam sistem moral apa pun yang didasarkan pada pertimbangan taurat, otoritas, ketaatan, dan penilaian adalah konsep kunci dalam keseluruhan struktur, dan sangat mewarnai pandangan hidup Yahudi". 10 Mohrlang kemudian mengeksplorasi pernyataan yang tampaknya berbeda dari Matius tentang apakah taurat itu masih berlaku atau tidak untuk komunitasnya. Setelah membahas beberapa perikop dan masalah dalam Matius. Mohrlang menyimpulkan bahwa 7 Bornkamm, 18. 8 Roger Mohrlang. Matthew and Paul: A Comparison of Ethical Perspestives (Cambridge: Cambridge University Press, 1. , 128. 9 Mohrlang, 7. 10 Mohrlang, 7. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 148 | DIMENSI SOTERIOLOGI IMPERATIF DALAM INJIL MATIUS Matius sangat berkeberatan bahwa seluruh hukum itu valid dan berwibawa bagi komunitasnya. Mohrlang bergumul dengan apa yang dia sebut sebagai "perhatian ganda" dari Matius. Itu adalah "bagaimana mendamaikan unsur-unsur yang tampaknya kontradiktif dalam pandangan Matius tentang Taurat?"12 Matius tampaknya menjunjung tinggi seluruh taurat, namun memberikan prioritas pada perintah kasih yang memberikan kebebasan untuk melanggar satu perintah untuk mengikuti yang lain. Matius juga tampaknya menetapkan para ahli Taurat memiliki otoritas namun meminta Yesus mengecam para ahli taurat dalam tindakan mereka di seluruh Injil ini. Mohrlang percaya bahwa Matius menyajikan seluruh taurat sebagai otoritatif dan tetap sepenuhnya berlaku untuk orang Kristen sampai ke titik 14 Yesus menafsirkan Taurat melalui lensa hermeneutis cinta yang ia tempatkan di atas hierarki perintah. Dengan demikian, kadang-kadang, beberapa perintah yang lebih rendah pada dasarnya dipindahkan atau dibatalkan dan harus tunduk pada hukum kasih yang lebih tinggi ini. Yesus, dalam pengajarannya, mempertinggi ketaatan pada taurat dengan memperdalamnya hingga melibatkan tingkat hati. Dalam menulis Injilnya. Matius tampaknya melunakkan pandangan Markus tentang antagonisme Yesus dengan hukum dan untuk membangun kesatuan Yesus dengan hukum. Yesus dipandang sebagai pro-Sabat . amun memberikan kelonggaran untuk perawatan mereka yang membutuhkan pada hari Saba. , hukum makanan halal pro-Yahudi pro-tradisi lisan, hukum pro-juru tulis, dan hukum pro-lisan. Dalam perkiraan Mohrlang. Matius berasumsi bahwa perlu mematuhi Taurat untuk memasuki kerajaan surga. Namun, kasih karunia tersedia bagi mereka yang tidak mematuhinya secara keseluruhan dan mereka bisa masuk sebagai yang paling kecil di kerajaan Sorga. Terlepas dari semua ini. Mohrlang mengakui bahwa ada elemen yang tampaknya kontradiktif dalam Matius sehubungan dengan Yesus dan hukum. Untuk menjelaskan hal ini. Mohrlang berpendapat bahwa Matius memiliki kewarganegaraan ganda dalam dua komunitas, satu Yahudi dan satu Kristen, satu yang menjunjung tinggi seluruh hukum dan yang menempatkan perintah cinta sebagai prioritas di atas semua hukum lainnya. 11 Mohrlang, 43. 12 Mohrlang, 21. 13 Mohrlang, 21-22. 14 Mohrlang, 27. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. HAPOSAN SILALAHI. ELISAMARK SITOPU | 149 Sekali lagi, dalam analisis terakhir, bagi Matius, seluruh hukum tetap berwibawa, sampai ke titik dan titik terkecil. Singkatnya, sehubungan dengan anugerah dan hukuman. Matius menekankan pertanggungjawaban pribadi kepada Tuhan. Dia percaya bahwa takdir eskatologis setiap orang terkait dengan kehidupan etis 16 Sementara Matius mendorong fokus pada kemuliaan yang akan datang sebagai motivasi untuk kepatuhan, ancaman penilaian eskatologisnya lebih kuat. Penilaian eskatologis didasarkan pada kriteria prestasi dan imbalan. Seseorang akan dinilai dari apa yang dilakukannya. Parousia juga memainkan peran motivasi dalam urgensi pertobatan yang Penekanan kuat Matius pada ancaman penghakiman menyebabkan Mohrlang menyarankan bahwa penulis percaya sanksi negatif menjadi cara paling efektif untuk membangkitkan ketaatan radikal dituntut oleh Yesus. Namun hal ini dapat dikondisikan oleh persepsinya tentang kebutuhan komunitas khususnya (Matthew's Sitz im Lebe. yang kepadanya dia menulis. Mohrlang berpendapat bahwa "cinta diekspresikan dalam bentuk perintah dan dilihat dalam kerangka taurat. "18 Dengan demikian dari perspektif etis, itu adalah bagian sentral "dari kewajiban moral yang dikenakan pada murid oleh tuntutan dari taurat. yaitu itu adalah 'keharusan. 19 Perintah cinta kemudian mengikat dan wajib. Cinta ini, yang tampaknya didefinisikan oleh Mohrlang sebagai "altruisme atau kasih sayang"20 namun bukanlah inti dari Khotbah di Bukit. Sebaliknya, ia menegaskan, itu adalah "kebenaran yang lebih dalam," . aitu dikaiosun. yang ia definisikan sebagai "ketundukan dan ketaatan radikal pada kehendak Allah . eperti yang diungkapkan dalam taurat dan ajaran Yesu. Mohrlang, menyatakan bahwa Pembacaan yang cermat terhadap teks menunjukkan bahwa dalam setiap kasus, pertimbangan yang mendasari bukanlah kepedulian altruistik terhadap kesejahteraan orang lain, melainkan tuntutan untuk ketaatan yang radikal terhadap kehendak Allah, yang ditekankan melalui ancaman konsekuensi bagi yang tidak taat . 7:13 15 Mohrlang, 29. 16 Mohrlang, 57. 17 Mohrlang, 59. 18 Mohrlang, 96. 19 Mohrlang, 97. 20 Mohrlang, 98. 21 Mohrlang, 98-99. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 150 | DIMENSI SOTERIOLOGI IMPERATIF DALAM INJIL MATIUS fokus utamanya adalah pada hubungan seseorang dengan Allah, bukan dengan sesama. Bagi Mohrlang, ketaatan radikal . tau kebenara. lebih mendasar daripada cinta. Cinta dipandang sebagai tertanam dalam hukum dan dimotivasi "oleh rasa hidup di bawah Anugerah Tuhan. " Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa cinta berakar pada hukum, bukan sebaliknya . aitu, agape berakar pada dikaisune bukan dikaisune di agap. Hal ini membuat Mohrlang melihat "kontradiksi" dan "inkonsistensi" dalam Matius. Dia melihat ini ketika dia membandingkan Mat 5: 43-48 di mana Yesus berkata untuk mengasihi musuh seseorang dengan sikap Yesus terhadap orang Farisi dalam Matius 23. Matius melihat cinta "dalam kerangka Taurat". Perintah cinta adalah yang terpenting dari semua perintah Taurat dan merupakan kunci hermeneutis untuk digunakan ketika ada masalah dengan penerapan Taurat. Cinta pada dasarnya adalah kewajiban, yaitu masalah ketaatan. Itu harus dipahami dalam "terang tuntutan yang lebih mendasar akan kebenaran. Ini adalah ekspresi dari cara hidup penyangkalan diri seorang murid yang ingin "menjadi benar-benar baik" dan sempurna . Mat 5:. Itu lebih peduli dengan menaati Tuhan daripada membantu orang lain. Karena itu, ini bukanlah altruisme sederhana. 24 Belas kasih . dan kasih sayang . adalah ekspresi cinta dan juga harus dilihat dalam kerangka Yesus menyatakan bahwa belas kasihan adalah salah satu "masalah hukum yang lebih penting" dalam Matius 23:23, dan dengan demikian digolongkan oleh Mohrlang sebagai "administrasi Taurat yang berbelas Mohrlang dalam memahami tentang etika Matius, dia melihat ketaatan yang tepat sebagai melibatkan hukum PL sebagai otoritatif secara keseluruhan "sampai ke titik dan titik terkecil. " Dia sampai pada pandangan ini tampaknya sebagian besar dengan memahami plerow dalam Matius 5:17 dalam arti non-eskatologis. Yesus tidak untuk dilihat sebagai Musa yang baru atau pemberi hukum yang baru, melainkan sebagai penafsir yang berwenang dari hukum Musa di mana penafsirannya adalah yang tertinggi. Dalam peran ini. Yesus menafsirkan hukum melalui lensa hermeneutis cinta yang diangkatnya ke perintah yang paling penting. Mohrlang melihat redaksi Matius sebagai indikasi kesatuan Yesus dengan Taurat. Yesus 22 Mohrlang, 99. 23 Mohrlang, 100. 24 Mohrlang. 25 Mohrlang, 97. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. HAPOSAN SILALAHI. ELISAMARK SITOPU | 151 dipandang sebagai hukum pro-Sabat, pro-Yahudi tentang makanan halal, tradisi pro-lisan, pro-juru tulis, hukum pro-juru tulis, dan hukum pro-lisan. Dalam perkiraan Mohrlang, perlu untuk mematuhi Taurat untuk memasuki Kerajaan Surga, tetapi rahmat tersedia bagi mereka yang tidak mematuhinya secara keseluruhan dan dapat masuk sebagai yang terkecil di kerajaan. Mohrlang melihat Matius menekankan tanggung jawab pribadi kepada Tuhan. Seseorang termotivasi untuk patuh oleh ancaman penilaian eskatologis daripada hadiah di masa depan. Dengan demikian sanksi negatif disajikan sebagai metode terbaik untuk mencapai ketaatan radikal dalam pengikut Yesus. Penghakiman yang akan datang akan didasarkan pada prestasi dan balasan. Jadi, setiap orang akan dinilai berdasarkan apa yang dilakukannya atau gagal lakukan. Mohrlang juga melihat Parousia yang akan datang memainkan peran motivasi dalam urgensi untuk pertobatan dalam Matius dan oleh karena itu seseorang sangat diminta untuk bersiap. Secara filosofis. Lakukan perintah hukum dan perintah Yesus dan pada akhirnya akan diberi upah oleh Tuhan. Jika gagal mematuhinya, akan dihukum oleh Tuhan. Jadi, dalam istilah ketaatan, murid Yesus harus menaati seluruh Taurat seperti yang Yesus tafsirkan. Yesus adalah otoritas tertinggi untuk ketaatan itu dan dialah yang harus diserahi tanpa syarat. Penting untuk dipahami bahwa perintah Yesus tidak membatalkan Taurat. Perintah cinta adalah hukum tertinggi dan mengesampingkan semua perintah lain saat hukum bertentangan. Namun, perintah untuk mencintai ini tidak menghilangkan hukum karena harus dilihat sebagaimana diatur dalam kerangka hukum. Perintah untuk menunjukkan belas kasihan memberikan administrasi hukum yang penuh kasih dan merupakan salah satu perintah hukum yang lebih penting untuk ditaati. Motivasi ketaatan terutama bersumber dari ancaman hukuman pada hari kiamat ketika seseorang akan dinilai berdasarkan tindakannya, tindakan yang diharapkannya adalah Kesempurnaan ini bukan tidak mungkin untuk dicapai karena Tuhan memberikan rahmat bagi mereka yang meminta bantuan dalam pencapaian kebenaran yang lebih besar yang diperlukan untuk masuk ke kerajaan surga. Memiliki hati yang baik atau watak batin adalah elemen penting dalam kebenaran . yang menjadi panggilan Tuhan muridmurid-Nya. Seseorang harus benar di dalam dan benar di luar. Kebaikan batin manusia . ebenaran batinia. yang akan menjadi dorongan etis untuk ketaatan . ebenaran lahiria. kepada Tuhan yang dituntut oleh Yesus. Inilah sifat ketaatan yang disebut dalam Matius. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 152 | DIMENSI SOTERIOLOGI IMPERATIF DALAM INJIL MATIUS Sehubungan dengan ketaatan pada hukum sehubungan dengan memasuki kerajaan surga. Mohrlang mencatat bahwa Matius tidak secara eksplisit menyatakan bahwa seseorang harus mematuhi taurat untuk Bagaimanapun dia menyatakan bahwa Matius menyiratkan bahwa jika seseorang tidak mematuhi Taurat, dia tidak akan masuk Ia memahami Matius 7:24 sebagai indikasi hal ini dalam arti seseorang tidak aman dari penghakiman jika ia tidak menaati perintahNya. 26 Ia juga melihat Yesus mendukung Taurat dalam Matius 19:16-17 . ika kamu ingin selamat, patuhi perintah Tuhan/taura. hal ini merupakan petunjuk Yesus yang memberikan kondisi yang benar untuk memperoleh Mengapa Yesus tidak secara eksplisit mengatakan bahwa seseorang harus mengikuti Taurat untuk masuk ke dalam kehidupan kekal? Mohrlang percaya bahwa hal ini adalah prinsip fundamental dari komunitas Matius sehingga dia menerima begitu saja. Namun, dia harus mengakui bahwa Matius 5:19 tampaknya mengindikasikan bahwa jika seseorang menyangkal dan tidak melakukan kehendak Bapa di Sorga, maka tidak akan pantas masuk ke dalam kerajaan sorga. 27 Matius menegaskan keharusan untuk menaati kehendak Tuhan untuk memasuki kerajaan Sorga. Mohrlang menyatakan bahwa dalam Matius ditemukan tuntutan yang kuat untuk taat pada taurat, yang diatur dalam konteks struktur yang mendasari anugerah dan kerangka perjanjian baru keselamatan dan pengampunan Allah di dalam Yesus (Mat. 1:21. Singkatnya sampai saat ini. Mohrlang menyimpulkan bahwa bagi Matius, taurat secara keseluruhan tetap merupakan ekspresi yang sah dan berwibawa dari kehendak Tuhan bagi komunitas Kristen, dan seluruh kehidupan dilihat dari perspektif ini. 28 AuKehendak TuhanAy bagi orang Kristen dengan demikian melibatkan dalam arti memiliki makna poieo: melakukan, mematuhi hukum secara keseluruhan. Bacon Menurut interpretasi Bacon Matius berisi bagian naratif pengantar dan wacana. 29 Dalam pandangan Bacon, pembagiannya tentang Matius mirip dengan Taurat yang terdiri dari lima kitab perintah-perintah Musa. Bagi Matius, seorang 'rabi yang bertobat' dan seorang legalis Kristen, 26 Mohrlang, 18. 27 Mohrlang, 18. 28 Mohrlang, 20. 29 Benjamin W. Bacon. Studies in Matthew (Isha Books, 2. , 24. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. HAPOSAN SILALAHI. ELISAMARK SITOPU | 153 pengaturan Musa dari perintah-perintah Tuhan adalah satu-satunya yang bisa dibayangkan. 30 Matius berjuang melawan Helenisasi dan pelanggaran hukum tetapi berakhir dengan 'neo-legalisme. '31 Matius mungkin menggunakan tipologi Musa dalam beberapa kasus, tetapi tidak ada 'pengaturan Musa dari perintah-perintah Tuhan' sejauh yang diandaikan oleh Bacon yang akan menunjukkan pekerjaan seorang 'legalis Kristen'. Tentu saja, dari sini tidak berarti bahwa Matius tidak dapat memproklamasikan hukum baru dengan cara lain. Tetapi Matius memproklamirkan bahwa orang Aeorang percaya harus tetap tunduk pada ketetapan-ketetapan Allah dalam sebuah ketaatan. Gagasan Soteriologi Imperatif Dalam Teks-Teks Injil Matius Matius menekankan imperatif, sedangkan Paulus lebih berfokus pada indikasi dari mana imperatif itu berasal'. Mohrlang membahas lebih lanjut beberapa faktor sosial, polemik, motivasi, psikologis. Kristologis, dan lain-lain. Interpretatif, yang dapat menjelaskan alasan mengapa Paulus dan Matius begitu berbeda. 33 Kontribusi positifnya terletak pada perbandingan sinkronis dan faktual . eks ke tek. antara Paulus dan Matius. Masih belum jelas, apakah dia memahami Injil Pertama sebagai jawaban untuk Paulus, dan apakah atau bagaimana reaksi Matius atas Paulus dan jawaban kepada Paulus, dan realitas sosial mana yang berdiri di belakang teks yang dibandingkan . ari Paulus dan Matiu. Seeley berargumen bahwa Matius mengandung banyak perspektif yang tidak dapat dicampur menjadi satu kesatuan. 35 Di satu sisi, ada klaim bahwa kematian penebusan Yesus menyediakan keselamatan. Yesus adalah orang yang membawa keselamatan. Di sisi lain, ada fokus pada Yesus sebagai juru bicara yang menggambarkan jalan hidup yang harus diikuti. Keselamatan dalam perspektif ini tidak melibatkan Yesus. Itu terjadi antara 30 Mohrlang. Matthew and Paul: A Comparison of Ethical Perspestives, 81. 31 Mohrlang, 47. 32 Mohrlang, 90. 33 Mohrlang, 85. 34 William Loader. Matthew. Paul, and Others: Asian Perspectives on New Testament Themes CONFERENCE SERIES . nnsbruck university press, 2. , 92. Bnd. Mohrlang. Matthew and Paul. A Comparison of Ethical Perspectives (MSSNTS: Cambridge, 1. Goulder, . Paul advocates for a radical option whereas Matthew, a conservative one. Midrash and Lection in Matthew (London: SPCK, 1. 35 D. Seeley. Deconstructing the New Testament (Biblicall Interpretation Series. Leiden, 1. , 21-52. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 154 | DIMENSI SOTERIOLOGI IMPERATIF DALAM INJIL MATIUS seseorang dan Allah Bapa. Apakah itu terjadi atau tidak tergantung pada inisiatif orang itu sendiri. Tidak perlu kematian penebusan Yesus. Namun. Yesus adalah hakim akhir zaman yang memutuskan berdasarkan perbuatan seseorang dalam hidup ini. Tidak ada yang akan membuat orang melihat perspektif pertama sebagai struktur yang mendasari yang merangkul semua yang lain. Jadi dalam Matius, penekanan pada hukum sangat bertentangan dengan bagian-bagian Matius yang berfokus pada Yesus sebagai penebus. Matius tidak pernah mengkonsolidasikan dua potret Yesus yang disajikan oleh blok bangunan yang dia gunakan. Kita bisa melihat Matius bergulat dengan tradisinya, dan kita bisa melihat mereka bergulat kembali. Konsep kehadiran Yesus dengan para murid, yang berakar pada pandangan Perjanjian Lama tentang kehadiran Allah yang penuh kasih dan perhatian di antara umat-Nya, adalah gagasan utama Matius. Dari tema Tuhan-bersama-kita, seluruh plot Matius dibentuk. Ekspresi dengan kami/kamu dan di tengah-tengahmu adalah sinonim baik dalam PL dan dalam Matius. 36 Lebih dari seratus kemunculan formula ini ditemukan dalam PL, sebagian besar dalam buku sejarah dan sebagian besar dengan individu, meskipun terkadang dengan seluruh orang. Rumus tersebut sebagian besar tidak lagi digunakan dalam Yudaisme pasca-alkitabiah. Formula tersebut menandakan pemberdayaan umat Tuhan. Formula ini diterapkan pada Yesus adalah bagian dari kristologi Matius yang memungkinkan soteriologinya. 37 Ini adalah kemajuan yang signifikan untuk memahami hubungan indikatif dan imperatif dalam Matius. Itu memampukan seseorang untuk melihat bagaimana Tuhan hadir di dalam Yesus. bagaimana Yesus hadir dengan para murid atau di tengah-tengah bagaimana kehadiran ini memungkinkan keduanya. Dengan kata lain, proklamasi tentang keselamatan yang telah menjadi bagian dari soteriologi Matius sekaligus mengandung tuntutan etis yang harus diperhatikan secara serius. Dan dalam kaitan dengan realitas sejarah penebusan, orang percaya dapat memahami tanggung jawab sebagai orang percaya harus melakukan/poies kehendak Tuhan, supaya dapat bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Kristus. Dan hal ini selalu kata poies menjadi sebagai penekanan dalam Injil Matius sebagai motivasi yang mendorong orang-orang percaya untuk hidup taat kepada Tuhan. 36 Seeley, 519. 37 Seeley, 519. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. HAPOSAN SILALAHI. ELISAMARK SITOPU | 155 Dimensi Ketaatan Pada Kehendak Tuhan Luomanen menyatakan AuDuring the survey of previous research, it became apparent that verse 5:20 hal played a central role in the debates concerning MatthewAos view of salvation. Ay38 or I tell you, unless your righteousness exceeds that of the scribes and Pharisees, you will never enter the kingdom of heaven. 39 (RSV. Mat. Loumanen menjelaskan bahwa Matius 5:20 ini merupakan sebuah tuntutan agar para murid bisa masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Menurut Luomanen oleh Matius ayat 20 ini dielaborasi dengan ayat 19 dengan sebuah tujuan untuk memperlihatkan pentingnya sebuah ketaatan pada hukum Taurat. Bisa diartikan bahwa tuntutan agar para murid memiliki kebenaran yang melebihi ahli Taurat dan orang Farisi adalah terkait dengan ketaatan pada hukum Taurat. Karena itu tidak mengherankan bila Luomanen menyimpulkan AuA there is nothing in verses 5:17-20 which would show that for Matthew GodAos mercy is the starting point for religious life. Ay40 Luomanen mengkatagorikan ayat ini sebagai imperatif party, bahwa masuknya seseorang ke dalam kerajaan sorga adalah tergantung pada perbuatan yakni ketaatan pada perintah Allah yang direpresentasi oleh Taurat. Namun Luomanen juga menambahkan bahwa walaupun ketaatan kepada tuntutan Taurat merupakan prasyarat untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga hal ini sama sekali tidak menolak pandangan tradisional covenantal nomism, artinya ia pure legalist. Park mengatakan bahwa tema utama ini direkapitulasi dalam Matius 7:21. Ayat ini, sebagai pernyataan Yesus tentang "ketaatan pada kehendak Allah" untuk masuk ke dalam kerajaan, yang Park percayai adalah "setara dengan 'kebenaran yang lebih besar. '" Park merasa pernyataan kembali ini dapat dilihat juga dalam konsep masuk dengan pintu gerbang yang sempit (Mat 7: 13-. dan dalam menghasilkan buah yang baik (Mat 7: 16-. tetapi tidak ada tempat yang lebih eksplisit dari pada ayat ini . Matius 7:21 juga membuat pernyataan yang jelas "ditujukan kepada anggota komunitas Kristen. " Hal ini, menurut Park percaya, ditunjukkan dalam penggunaan istilah pengakuan Kristen "Yesus adalah Tuhan" dalam frasa, 38 P. Luomanen. Entering the Kingdom of Heaven. A Study on the Structure of MatthewAos View of Salvation (Tubingen, 1. , 91. 39 Versi RSV karena lebih mendekati teks aslinya. 40 Luomanen. Entering the Kingdom of Heaven. A Study on the Structure of MatthewAos View of Salvation, 92. 41 Luomanen, 92. 42 Jong-Ki Park. Obedience and Prophecy in Matthew: Rhetorical Function of Mt. 7:15-23 in MatthewAos Narrative (PhD diss. Graduate Theological Union, 2. , 123. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 156 | DIMENSI SOTERIOLOGI IMPERATIF DALAM INJIL MATIUS AuTuhan. TuhanAy. Park percaya bahwa penggunaan "Tuhan. Tuhan," "menyiratkan bahwa pendengar, atau setidaknya sebagian dari itu, mengasumsikan bahwa mengaku Yesus sebagai 'Tuhan' adalah penting untuk memasuki kerajaan surga" dan karenanya Mat 7:21-23 menjadi Auperingatan yang kuat bagi orang Kristen. Park selanjutnya mempertimbangkan ketaatan dalam kaitannya dengan nubuatan dan aktivitas karismatik. Bekerja dari definisi ketaatan yang telah ditetapkan sebelumnya sebagai "cinta dan belas kasihan," Park pertama-tama mempertimbangkan mukjizat Yesus dan kemudian karya nabi palsu untuk menjawab pertanyaan, apakah "Matius menganggap aktivitas karismatik apa pun sebagai bukti legitimasi. Park menguraikan kegiatan penyembuhan Yesus sebagai Autindakan kasihAy Yesus menunjukkan belas kasih dalam penyembuhannya dengan menyentuh orang-orang ketika dia tidak perlu melakukannya, bahkan ketika dia secara ritual dicemari (Mat. 8: 2-. Matius juga menunjukkan "belas kasihan" dan "belas kasihan" sebagai motif utama bagi Yesus untuk melakukan mukjizat dan membantu orang . ihat Mat 9:27, 36. 14:14. 15:22, 32. 17:15, dan 20:30, 31, . Park berkomentar bahwa teladan belas kasih dan belas kasihan Yesus "harus menjadi motivasi utama untuk kegiatan karismatik" dan menyatakan bahwa kurangnya itu adalah mengapa "nabi palsu dan karismatik dikutuk oleh Yesus dalam pasal 7. "44 Dalam pasal 24 dari Matius Park mencatat bahwa Yesus memberikan ilustrasi kegiatan karismatik berupa nabi palsu dan kristus palsu yang tidak dilakukan sesuai kehendak Tuhan. Ini diperkirakan akan menunjukkan tanda-tanda dan keajaiban dalam nama Kristus namun untuk menyesatkan orang berkenaan dengan kehendak Tuhan. 45 Park mencatat bahwa dalam bab ini Yesus berkata bahwa akan ada peningkatan "pelanggaran hukum" dan "kasih banyak orang akan menjadi dingin. Park percaya bahwa orang-orang akan disesatkan oleh para nabi palsu dan kristus palsu ini oleh mukjizat yang mereka lakukan karena mereka yang melihatnya menganggap mukjizat sebagai bukti legitimasi pelakunya. Oleh karena itu, para nabi palsu ini mendapatkan otoritas di mata para pengikutnya dan para pengikutnya tertipu. Yesus membawa cinta, kasih sayang, dan belas kasihan dengan mujizat-Nya. para pekerja mukjizat palsu ini membawa keajaiban tanpa cinta. Sebaliknya mereka melakukan mukjizat untuk tujuan egois mendapatkan lebih banyak pengikut mereka sendiri. 43 Park, 125. 44 Park, 247. 45 Mohrlang. Matthew and Paul: A Comparison of Ethical Perspestives, 243. 46 Mohrlang, 245. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. HAPOSAN SILALAHI. ELISAMARK SITOPU | 157 Secara eskatologis. Park mencatat bahwa Matius menggambarkan kerajaan Allah datang bersama Yesus. Yesus adalah pelopor "era baru". Namun. Park memperingatkan bahwa Matius juga memahami bahwa penyempurnaan zaman masih ada di masa depan. Motif ini sangat lazim dalam Matius karena ia mencurahkan lebih banyak bagian pada berkat/keselamatan dan hukuman dari penghakiman terakhir daripada Markus atau Lukas. 47 Dari keduanya, ada lebih banyak teks hukuman daripada teks keselamatan/berkat. Dalam bagian naratif, teks hukuman ditujukan kepada orang-orang Israel dan para pemimpinnya sementara berkat dijanjikan kepada para murid dan juga kepada orang bukan Yahudi. Bagian wacana tidak memiliki hukuman yang ditujukan untuk Israel atau para pemimpin Yahudi, tetapi terhadap khalayak umum atau para murid. Secara keseluruhan. Matius memiliki penilaian yang ditujukan kepada setiap orang yang gagal dalam Park lebih jauh menggambarkan penghakiman di dalam gereja dalam Matius. Dia mencatat bahwa Matius dengan jelas mengatakan bahwa tidak semua orang yang ada di gereja akan lolos dari penghakiman terakhir karena mereka akan menjadi Autubuh campuran. Ay Untuk mendukung ini. Park memeriksa beberapa perumpamaan termasuk perumpamaan tentang lalang (Mat 13: 24- 30, 36-. , perumpamaan tentang jaring (Mat 13: 47-. , perumpamaan tentang hamba yang tidak berbelas kasihan (Mat 18: 21-. , perumpamaan tentang perjamuan kawin (Mat 22: 1-. , dan perumpamaan dalam wacana Yesus tentang akhir zaman (Mat 24: 45-51. 25: 1-13, 14-30, 31-. Park menyarankan, menunjukkan bahwa peringatan terhadap orang dalam Kristen adalah salah satu pesan utama dari cerita Matius. 48 Orang Kristen sejati harus taat pada kehendak Tuhan. Mereka yang harus dihukum. Park menyatakan, adalah mereka yang tidak mempraktikkan perintah cinta kepada Tuhan dan cinta terhadap sesama. 49 Park percaya bahwa motif penilaian membangkitkan emosi pembaca dan dimaksudkan untuk membujuk mereka untuk melakukan kehendak Tuhan. Dia mengklaim ini dicapai melalui "retorika Kristen radikal" yang terdiri dari presentasi yang jelas dari berkat-berkat kehidupan kekal di kerajaan, dan tragedi kehancuran kekal dalam api kekal dialami berulang kali oleh pembaca Matius. Melalui pengalaman membaca ini, fungsi utama dari motif penghakiman dalam Matius harus dicapai, yaitu, 47 Park. Obedience and Prophecy in Matthew: Rhetorical Function of Mt. 7:15-23 in MatthewAos Narrative, 253. 48 Park, 257. 49 Park, 259. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 158 | DIMENSI SOTERIOLOGI IMPERATIF DALAM INJIL MATIUS pembaca adalah tergerak untuk hidup menurut kehendak Tuhan. Pembaca akan berusaha untuk menaati Tuhan dengan kemurnian batin dan menghasilkan buah yang benar. Park membuat catatan menarik bahwa Matius hanya berfokus pada penilaian Gereja dan Israel dan bukan pada orang luar. Dia menyimpulkan bahwa, bagi Matius, fokus utama dari teks penghakiman bukanlah pada pemisahan antara orang Kristen dan nonKristen tetapi pada pemisahan antara orang Kristen yang melakukan kehendak Tuhan dan orang Kristen yang tidak melakukan kehendak Tuhan. Ini adalah mengapa, ia percaya. Matius menulis adegan penghakiman yang hidup dan menyedihkan dari orang dalam Kristen di bagian penutup dari Khotbah di Bukit (Mat 7: 13-27, khususnya 7: 15-. Karena itu. Park mengatakan bahwa Matius 7:21 adalah rekapitulasi dari tema utama khotbah karena menyatakan kembali pernyataan Yesus tentang Auketaatan pada kehendak AllahAy yang diperlukan untuk masuk ke dalam kerajaan. Ayat 22-23 berfungsi sebagai ilustrasi tentang apa yang Yesus katakan dalam ayat 21 dengan peringatan yang kuat tentang penghakiman yang ditujukan kepada orang Kristen. Di sini, dalam ayat 23. Yesus dengan jelas diungkapkan kepada pembaca untuk pertama kalinya bahwa dia sendiri adalah hakim pada penghakiman terakhir. Para karismatik dan nabi dalam ayat-ayat ini dikutuk oleh Yesus karena kurangnya "keutuhan internal" dan kurangnya ketaatan sepenuh hati yang radikal kepada Tuhan yang merupakan anomia mereka, pelanggaran hukum Dimensi Perbuatan/Melakukan Kehendak Tuhan Dalam ayat 22 memuat sebuah pertanyaan dari mereka yang menyatakan diri sebagai orang-orang yang telah bernubuat, menusir setan, dan mengadakan mujizat demi nama Yesus. Berdasarkan penggunaan sebutan kurie kepada Yesus . , memang ada yang menyimpulkan bahwa orang-orang tersebut (Luomanen menyebut mereka sebagai prophet. adalah AoKristen. Ao Karena itu ayat ini memang sering dijadikan salah satu argumentasi bahwa komunitas Matius adalah corpus mixtum. Namun ayat 15 menurut Luomanen cukup menjelaskan bahwa orang-orang tersebut sesungguhnya datang dari luar komunitas Matius, karena itu dia menyimpulkan AuThey look as if they were Christians, but in reality they are entirely 50 Park, 253-257. 51 Park, 275. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. HAPOSAN SILALAHI. ELISAMARK SITOPU | 159 something else. Ay52 Dalam ayat 21 tersaji sebuah penolakan Yesus atas kemungkinan bagi orang-orang ini untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Orang-orang ini tampaknya berasal dari salah satu gerakan keagamaan pada masa itu, dan atribut nabi-nabi palsu yang dialamatkan Yesus kepada mereka . membuat kita bisa menyimpulkan bahwa mereka tidak layak untuk diikuti karena tidak akan membuat para pengikutnya bisa masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Namun yang penting dalam kajian ini adalah, apa sesungguhnya yang membuat orang ini tidak bisa masuk ke dalam Kerajaan Sorga sehingga mereka tidak layak diikuti? Luomanen menyatakan AuAA whose behavior is not in accordance with MatthewAos understanding of the law. They will not be allowed to enter the kingdom of heaven. Ay 53 Kata kunci dari pendapat Luomanen di atas adalah behavior, yang didukung oleh kalimat-kaliman Yesus sebelumnya yang menekankan pentingnya buah . , 17, 19, . Dalam kaitannya dengan para murid, menurut Luomanen kalimat Yesus tentang nabi-nabi palsu ini merupakan semacam peringatan Yesus tentang sebuah religiositas yang akan membuat seseorang tidak layak untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga yakni perbuatan . KESIMPULAN Elemen imperatif yakni tuntutan untuk mentaati Taurat sangat menonjol namun tanpa kesediaan untuk mengutamakan Yesus lebih dari segalanya seseorang tidak akan selamat. Kisah orang muda yang kaya di atas kembali diangkat Luomanen dalam bagian kesimpulan ini. 54 Orang muda yang kaya itu seharusnya layak untuk diselamatkan, namun keengganannya untuk menjual hartanya lalu memberikannya kepada orang miskin untuk selanjutnya mengikuti Yesus mengindikasikan bahwa dia tidak saja tidak mentaati Yesus namun dia juga tidak mengutamakan Yesus lebih dari Namun kedua hal tersebutpun . entaati Taurat dan mengikuti Yesu. masih belum mewakili seluruh konsep Matius tentang keselamatan sebab elemen covenant-lah yang membingkai kedua elemen di atas. Beberapa orang melihat imperatif sebagai eksplisit dalam Matius tetapi indikatif hanya sebagai implisit. Roger Mohrlang mewakili pendapat Dia prihatin dengan pertanyaan tentang bagaimana konsep anugerah masuk ke dalam pemahaman Matius tentang etika. Dia meringkas: Matius tidak mengeksploitasi struktur anugerah yang diasumsikan ini, dan tidak 52 Park, 99. 53 Park, 100. 54 Park, 282. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 160 | DIMENSI SOTERIOLOGI IMPERATIF DALAM INJIL MATIUS membangun etikanya secara eksplisit di atasnya . arang perilaku etis dimotivasi oleh pertimbangan anugera. untuk sebagian besar, itu tetap di latar belakang, diterima begitu saja - konteks yang sebagian besar tidak terucapkan di mana Injil ditetapkan. Pernyataan ringkasan berikutnya menambahkan klarifikasi. Konsep Kehadiran Yesus yang terus-menerus dengan komunitas sedikit secara eksplisit terintegrasi dengan etika penginjil seperti pandangannya tentang Roh. Lebih lanjut. Injil Matius, dengan penekanannya pada permintaan dan ketaatan, menghasilkan Injil "hampir sama sekali tanpa referensi eksplisit untuk bantuan Tuhan dalam ranah moral-etika". Soteriologi Matius memberikan pemahaman yang spesifik tentang hubungan anugerah dan ketaatan. Yesus menuntut murid-murid-Nya pada kebenaran yang lebih tinggi, serta seringnya peringatan tentang penghakiman menurut ketaatan pengikut-Nya. Hal ini merupakan sebuah ciri yang dapat ditemukan dalam Injil Matius. Konsep tentang perbuatan (Poie. selalu menjadi tekanan dalam Injil Matius, dan selalu dihubungkan dengan penghakiman pada akhir zaman. Yang lain percaya bahwa baik indikatif maupun imperatif ada dalam Matius Kisah mukjizat, misalnya, memiliki fungsi sentral untuk mengumumkan keselamatan . , kerygma kematian dan kebangkitan Yesus yang menyampaikan konsep keselamatan indikatif dalam Matius. itu adalah kehadiran Yesus yang tinggal di dalam dunia. Namun dalam pengaran Yesus selalu menekankan tentang ketaatan . emampuan untuk melakukan/poies kehendak Tuha. Kedua komponen tersebut, indikatif dan imperatif berdiri bersama. DAFTAR PUSTAKA