Absis: Mathematics Education Journal Vol. No. November 2024, pp. ISSN 2686-0104 . , 2686-0090 . http://journal. id/index. php/absis/index Pengembangan Instrumen Asesmen Kompetensi Minimum Numerasi pada Domain Data dan Ketidakpastian untuk Siswa SMP Rohimatul Hayati a,1. Hepsi Nindiasari a,2* Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Pendidikan Matematika. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Kota Serang. Indonesia 777823001@untirta. 2 hepsinindiasari@untirta. * Corresponding Author Diterima 02 Juli 2024. Disetujui 30 November 2024. Diterbitkan 03 Desember 2024 KEYWORDS ABSTRACT This study aims to produce valid and practical minimum competency assessment This study uses the research and development (R&D) of the ADDIE The subjects of this study consisted of 32 students in grades Vi SMP Negeri 1 Anyar. The instruments used consisted of expert validation sheets, student response questionnaires, and minimum competency assessment The data analysis techniques in this study are quantitative analysis and qualitative analysis. Based on the results of research and development of the minimum numeracy competency assessment instrument in the uncertainty and data domain for junior high schools, it was concluded that two questions were very valid, five questions were valid, and one question was invalid. Based on the power of differentiation, invalid questions can be revised or do not need to be used. Meanwhile, the results of the student response questionnaire were obtained by 84%, meaning that it included very practical criteria with 83% for the content aspect, 80% for the construction aspect, and 90% for the language Thus, this minimum competency assessment instrument can be used in mathematics learning. Minimum competency Numeracy literacy ability Uncertainty and data This is an openaccess article under the CCAeBY-SA Pendahuluan Pada 10 Desember 2019, kurikulum 2013 disempurnakan menjadi kurikulum merdeka oleh Nadiem Makarim. Salah satu kebijakan merdeka belajar yang dijelaskan oleh Kemendikbud yaitu perubahan asesmen penilaian dari Ujian Nasional (UN) menjadi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), survei karakter, dan survei lingkungan belajar sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan (Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia 2. Perubahan asesmen penilaian ini merupakan respon dari pencapaian prestasi siswa Indonesia pada PISA bidang matematika tahun 2000 Ae 2018 yang dilampirkan dalam Tabel 1 Tabel 1. Pencapaian Prestasi Siswa Indonesia pada PISA Skor Skor Rerata Internasional Tahun (Matematik. (Matematik. Sumber: (OECD 2003, 2004, 2007, 2010, 2014, 2016, 2. Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa pencapaian prestasi siswa Indonesia pada PISA bidang matematika tahun 2000 Ae 2018 masih di bawah skor rerata internasional. Oleh sebab itu, sejak tahun 2021 Indonesia melengkapi PISA dengan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) untuk menilai kualitas pendidikan secara lebih komprehensif di setiap sekolah dan daerah (Kemendikbudristek 2. Asesmen kompetensi minimum (AKM) berupaya menetapkan skor minimum yang dapat diterima untuk pencapaian pendidikan. Literasi membaca dan literasi matematika . merupakan dua kompetensi yang diukur dalam AKM. Tujuan AKM adalah mengukur kompotensi secara mendalam, tidak hanya penguasaan konten sehingga dalam AKM disajikan masalah dalam berbagai konteks yang diharapkan siswa dapat menyelesaikannya https://doi. org/10. 32585/absis. univetbantara@gmail. Absis: Mathematics Education Journal ISSN 2686-0104 . , 2686-0090 . Vol. No. November 2024, pp. menggunakan literasi membaca dan literasi numerasi yang dimilikinya (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan 2. Literasi membaca menekankan pada kemampuan merefleksikan teks bacaan dalam berbagai konteks kehidupan, sedangkan literasi numerasi menekankan pada kemampuan menggunakan matematika yang berhubungan dengan permasalahan kehidupan (Widarti et al. Kemampuan literasi numerasi merupakan kemampuan memahami penggunaan simbol dan angka dalam menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan kehidupan (Salvia. Sabrina, and Maula 2. Sementara itu, menurut (Rahmwati 2. kemampuan literasi numerasi merupakan kemampuan yang berkaitan dengan pemecahan masalah dalam menghadapi era society Pentingnya kemampuan literasi numerasi dalam kehidupan menjadi isu yang semakin relevan sehingga berbagai upaya untuk meningkatkan dan menumbuhkan literasi numerasi siswa telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya di Indonesia. Penelitian-penelitian tersebut diantaranya peningkatan kemampuan literasi numerasi melalui video pembelajaran (Winarni et al. , peningkatan kemampuan literasi numerasi melalui pengembangan perangkat Case Based Learning (CBL) (Chandra et al. , dan peningkatan kemampuan literasi numerasi melalui pengembangan instrumen literasi numerasi (Isnaintri. Nindiasari, and - 2. Walaupun kemampuan literasi numerasi penting dalam kehidupan manusia, namun masih terdapat siswa yang mengalami kesulitan pada domain data dan ketidakpastian. Berdasarkan observasi di suatu sekolah menengah pertama diperoleh jawaban siswa terhadap soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) mengenai domain data dan ketidakpastian yang menunjukkan bahwa siswa dapat memahami konteks masalah dengan menuliskan informasi dalam soal, namun tidak menggunakan data yang tersedia, kurang tepat dalam menerapkan konsep untuk menjawab pertanyaan, kesulitan mengingat konsep yang benar untuk menyelesaikan masalah kontekstual, kurangnya pemahaman terhadap notasi dan simbol yang digunakan dalam model matematika, dan kesulitan memahami informasi yang disajikan dalam tabel dan grafik sehingga menghambat kemampuan siswa untuk menarik kesimpulan (Heryani et al. Selain itu, kemampuan guru dalam mengembangkan instrumen tes numerasi siswa sangat rendah yaitu lebih dari 78% tidak mampu mengembangkan instrumen tes kemampuan berhitung karena kebaruan sistem berhitung sebagai asesmen nasional dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan, sedangkan siswa hendaknya diberikan pengalaman belajar dan evaluasi terkait kemampuan berhitungnya dengan kerangka asesmen kompetensi minimum (Purnomo et al. Oleh sebab itu, siswa yang rata-rata berusia 15 tahun di sekolah masih memiliki sedikit akses terhadap soal-soal instrumen numerasi karena kebaruan sistem asesmen kompetensi minimum. Berdasarkan keadaan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen tes asesmen kompetensi minimum numerasi pada domain data dan ketidakpastian yang praktis sehingga dapat digunakan pada proses pembelajaran. Metode Metode yang digunakan adalah penelitian pengembangan (R&D) untuk menghasilkan produk berupa instrumen asesmen kompetensi minimum numerasi pada domain data dan ketidakpastian untuk siswa SMP. Subjek yang terlibat yakni siswa kelas Vi-H SMP Negeri 1 Anyar yang terdiri dari 32 responden. Penelitian menggunakan model ADDIE yang terdiri dari lima tahapan (Muruganantham 2. Detail tahapan sebagai berikut. Tahap 1: Analysis yang dilaksanakan dengan mengidentifikasi kebutuhan penelitian termasuk pemahaman tentang asesmen kompetensi minimum numerasi pada domain data dan ketidakpastian yang perlu diukur pada siswa SMP. Merumuskan tujuan penelitian. Melakukan tinjauan literatur dengan mengumpulkan informasi tentang instrumen asesmen yang sudah ada, teori-teori dan konsep-konsep yang relevan dalam domain data dan ketidakpastian. Menentukan populasi siswa SMP yang akan menjadi subjek penelitian, serta pengambilan sampel yang dapat merepresentasikan subjek secara keseluruhan. Tahap 2: Design dilaksanakan dengan merancang kisi-kisi instrumen asesmen kompetensi minimum numerasi mencakup domain, sub domain, konteks, level kognitif, kompetensi, dan bentuk soal. Pada penelitian ini domain yang digunakan yaitu domain data dan ketidakpastian kelas Rohimatul Hayati et al. (Pengembangan Instrumen Asesmen Kompetensi Minimum Numerasi pada Domain Data dan A) Absis: Mathematics Education Journal Vol. No. November 2024, pp. ISSN 2686-0104 . , 2686-0090 . Vi untuk siswa SMP. Merancang pedoman atau rubrik yang akan digunakan untuk menilai jawaban siswa pada instrumen asesmen kompetensi minimum numerasi. Tahap 3: Development yang dilaksanakan dengan mengembangkan soal-soal berdasarkan desain yang telah dirancang sebelumnya. Melakukan uji validitas instrumen asesmen kompetensi minimum numerasi dengan mengumpulkan data dari tiga validator untuk memastikan instrumen tersebut memenuhi kriteria validitas yang diinginkan. Penentuan skala penilaian lembar validasi mengacu pada skala likert yang dalam penentuan nilai skalanya meggunakan distribusi respon dengan rating yang dijumlahkan (Mawardi 2. Berikut dilampirkan kategori validitas ahli terhadap asesmen kompetensi minimum numerasi. Tabel 2. Kategori Validitas Ahli Persentase Skor (%) Kategori Validitas P O 21 21 < P O 40 41 < P O 60 61 < P O 80 81 < P O 100 Sangat tidak valid Tidak valid Cukup valid Valid Sangat valid (Rizqiyani. Anriani, and Pamungkas 2. Tahap 4: Implementation dengan mengaplikasikan instrumen asesmen kompetensi minimum numerasi yang telah dikembangkan kepada 32 siswa kelas Vi-H SMP Negeri 1 Anyar yang telah terpilih menjadi subjek pada penelitian ini. Proses ini melibatkan administrasi tes, pengumpulan data, dan evaluasi proses pelaksanaan. Tahap 5: Evaluation dengan mengevaluasi efektivitas instrumen asesmen kompetensi minimum numerasi berdasarkan data yang dikumpulkan selama pelaksanaan. Hal ini melibatkan analisis terhadap hasil tes dan angket respon siswa. Jika diperlukan, maka dilakukan revisi atau perbaikan terhadap instrumen asesmen kompetensi minimum numerasi berdasarkan temuan evaluasi, baik dari segi validitas, reliabilitas, maupun kepraktisan. Berikut dilampirkan kategori indeks kesukaran dan daya pembeda. Tingkat Kesukaran Tabel 3. Kategori Indeks Kesukaran dan Daya Pembeda Kategori Daya Pembeda 0,00 Ae 0,25 0,26 Ae 0,75 0,76 Ae 1,00 Sukar Sedang Mudah < 0,20 0,20 Ae 0,29 0,30 Ae 0,39 0,40 Ae 1,00 Kategori Harus direvisi Diterima dengan revisi Diterima tanpa revisi Baik (Yasin. Nindiasari, and Sukirwan 2. Pada tahap ini dilaksanakan pula uji kepraktisan terhadap asesmen kompetensi minimum numerasi dengan memberikan angket respon siswa setelah dilaksanakannya uji coba terhadap instrumen tes. Berikut dilampirkan kriteria kepraktisan instrumen asesmen kompetensi minimum numerasi berdasarkan angket respon siswa. Tabel 4. Kriteria Angket Respon Siswa Kriteria Kepraktisan (%) Tingkat Kepraktisan P > 80 60 < P O 80 40 < P O 60 20 < P O 40 P O 20 Sangat praktis Praktis Cukup praktis Kurang praktis Sangat kurang praktis (Hilaliyah. Sudiana, and Pamungkas 2. Tahapan model ADDIE pada penelitian ini dilampirkan secara ringkas dalam Gambar 1. Rohimatul Hayati et al. (Pengembangan Instrumen Asesmen Kompetensi Minimum Numerasi pada Domain Data dan A) Absis: Mathematics Education Journal Vol. No. November 2024, pp. ISSN 2686-0104 . , 2686-0090 . Gambar 1. Tahapan Model ADDIE Hasil dan Pembahasan 1 Tahap Analysis (Analisi. Tahap pertama pada penelitian ini yakni menentukan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah dan menentukan populasi yang akan dijadikan sampel penelitian. Penelitian ini didasarkan pada pentingnya komampuan literasi numerasi dalam kehidupan (Widarti et al. sikap guru yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai asesmen kompetensi minimum (Herman et al. kemampuan guru dalam mengembangkan instrumen tes numerasi siswa sangat rendah (Purnomo et 2. dan rendahnya hasil asesmen kompetensi minimum siswa SMP khususnya pada domain data dan ketidakpastian (Heryani et al. Dengan adanya masalah di atas, penelitian-penelitian sebelelumnya menyarankan untuk membuat soal-soal yang lebih variatif untuk melatih kemampuan literasi numerasi siswa (Masfufah and Afriansyah 2. dan melakukan pengembangan soal literasi numerasi selain materi aritmatika sosial (Asmara and Sari 2. Maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan instrumen asesmen kompetensi numerasi pada domain data dan ketidakpastian untuk siswa SMP yang praktis. 2 Tahap Design (Perancanga. Tahap kedua dari penelitian ini yakni design yang dilaksanakan dengan menyusun kisi-kisi instrumen asesmen kompetensi minimum mencakup domain, sub domain, konteks, level kognitif, kompetensi, dan bentuk soal. Pada penelitian ini domain yang digunakan yaitu domain data dan ketidakpastian kelas Vi. Adapun kisi-kisi instrumen dilampirkan dalam tabel berikut. No. Soal Domain Data dan Ketidakpastian Data dan Ketidakpastian Data dan Ketidakpastian Data dan Ketidakpastian Data dan Ketidakpastian Data dan Ketidakpastian Data dan Ketidakpastian Data dan Ketidakpastian Tabel 5. Kisi-Kisi Instrumen Level Sub Domain Konteks Kognitif Data dan Representasinya Data dan Representasinya Data dan Representasinya Data dan Representasinya Data dan Representasinya Data dan Representasinya Data dan Representasinya Ketidakpastian Sosial Sosial Sosial Sosial Personal Sosial Personal Personal Reasoning Kompetensi Membaca data yang disajikan dalam bentuk tabel Applying Membaca data yang disajikan dalam bentuk tabel Applying Membaca data yang disajikan dalam bentuk diagram lingkaran Reasoning Membaca data yang disajikan dalam bentuk diagram lingkaran Reasoning Menentukan median pada data yang disajikan Reasoning Menentukan modus pada data yang disajikan Reasoning Menentukan mean pada data yang disajikan Reasoning Menghitung peluang kejadian Bentuk Soal Pilihan Ganda Pilihan Ganda Pilihan Ganda Pilihan Ganda Benar/ Salah Benar/ Salah Benar/ Salah Benar/ Salah Sumber: Data pribadi 3 Tahap Development (Pengembanga. Rohimatul Hayati et al. (Pengembangan Instrumen Asesmen Kompetensi Minimum Numerasi pada Domain Data dan A) Absis: Mathematics Education Journal Vol. No. November 2024, pp. ISSN 2686-0104 . , 2686-0090 . Tahap ketiga pada penelitian ini dilaksanakan dengan mengembangkan dan melakukan validasi terhadap instrumen asesmen agar siap diaplikasikan pada tahap implementation. Pada tahap ini, terdapat komentar/saran validator yang dilampirkan dalam tabel berikut. Validator Validator 1 Tabel 6. Komentar/saran validator Aspek Penilaian Saran Revisi Konstruksi Konstruksi Validator 2 Bahasa Konten Konten Validator 3 Konten Bahasa Soal diubah menjadi bentuk soal yang lain, tidak hanya pilihan ganda Dalam soal tambahkan gambar agar lebih menarik dan pada gambar diberikan sumber yang jelas Kalimat pertanyaan diperjelas dan berikan warna yang berbeda pada kalimat kata kunci Auterpendek hingga tertinggiAy. Hal tersebut dilakukan untuk mempermudah siswa dalam mengerjakan soal Soal peluang diubah menjadi kejadian majemuk Level kognitif dan soal tidak sesuai, seharusnya termasuk pada level kognitif reasoning bukan knowing. Kemudian level kognitif soal nomor 3 dan soal nomor 4 dibedakan Dalam soal diberikan langkah menuju jawaban agar memudahkan siswa dalam menentukan hasil dari soal Perhatikan kembali setiap kata agar tidak terjadi salah penulisan Sumber: Data Pribadi Berdasarkan lampiran dari tabel di atas, maka soal dikembangkan sesuai dengan komentar/saran dari validator yang meliputi aspek konten, konstruksi, dan bahasa. Adapun instrumen sebelum dan sesudah revisi dilampirkan dalam tabel berikut. Tabel 7. Instrumen Sebelum dan Sesudah Revisi Sebelum Revisi Sesudah Revisi Instrumen nomor 3 dan 4 Instrumen nomor 5 Instrumen nomor 6 Rohimatul Hayati et al. (Pengembangan Instrumen Asesmen Kompetensi Minimum Numerasi pada Domain Data dan A) Absis: Mathematics Education Journal Vol. No. November 2024, pp. ISSN 2686-0104 . , 2686-0090 . Instrumen nomor 8 Sumber: Data Pribadi Tabel di atas memperlihatkan instrumen sebelum dan sesudah revisi. Setelah direvisi soal nomor 5 sudah sesuai dengan konteks personal dengan mengaitkan kegiatan les privat yang diikuti oleh sekelompok siswa yang bernama Alvi. Anita. Diana. Fauzul. Rifan. Rifki, dan Syahrial. Soal tersebut juga menggunakan gambar yang dapat menarik perhatian siswa dalam mengerjakan soal. Hal tersebut selaras dengan penelitian (Masjaya and Wardono 2. yang mengungkapkan mengenai matematika merupakan ilmu yang dapat digunakan dalam kehidupan manusia, (Purnomo et al. memberikan informasi terkait tanggapan siswa yang berpikir bahwa matematika itu sukar dan tidak menarik, maka dari itu dalam konteks matematika dapat ditambahkan dengan Soal yang terdiri dari visualisasi gambar dapat menarik perhatian siswa (Sylviani. Permana, and Matematika 2. Setelah direvisi soal nomor 6 dan 8 sudah ditambahkan langkah-langkah untuk mendapatkan hasil modus dan peluang. Langkah-langkah tersebut terlihat dari pernyataan 1 sampai 3. Hal tersebut sesuai dengan teori Piaget yang menyebutkan bahwa siswa dalam menemukan solusi memerlukan pengetahuan sebelumnya sehingga terjadi proses asimilasi dan akomodasi (Hendrowati 2. Pada tahap ini dilakukan pula uji validitas ahli oleh tiga orang validator yang berprofesi sebagai guru matematika. Validasi ini mencakup aspek konten, konstruksi, dan bahasa. Adapun hasil validasi ahli disajikan dalam tabel berikut. Rohimatul Hayati et al. (Pengembangan Instrumen Asesmen Kompetensi Minimum Numerasi pada Domain Data dan A) Absis: Mathematics Education Journal Vol. No. November 2024, pp. ISSN 2686-0104 . , 2686-0090 . Tabel 8. Hasil Validasi Ahli Persentase Skor (%) Ranah Konten Konstruksi Bahasa Rata-rata Rata-rata Kategori Sangat Valid Sangat Valid Sangat Valid Sangat Valid (Sumber: Data Pribad. Berdasarkan hasil validasi ahli didapatkan nilai rata-rata sebesar 89% yang berarti sangat valid dengan rincian 90% untuk aspek konten, 85% untuk aspek konstruksi, dan 92% untuk aspek Hasil tersebut sesuai dengan penelitian (Rizqiyani. Anriani, and Pamungkas 2. yang mengklasifikasikan P O 20 . angat tidak vali. , 21 < P O 40 . idak vali. , 41 < P O 60 . , 61 < P O 80 . , 81 < P O 100 . angat vali. Hal tersebut menunjukkan bahwa instrumen tes dapat digunakan karena sudah teruji sangat valid. 4 Tahap Implementation (Implementas. Tahap implementation yang dilaksanakan dengan uji coba instrumen tes ke lapangan menggunakan subjek berjumlah 32 siswa kelas Vi-H SMP Negeri 1 Anyar. Uji coba instrumen tes dilakukan untuk mengetahui kevalidan tiap butir soal. Selain itu, pada tahap ini pula diberikan angket respon siswa untuk menguji kepraktisan instrumen asesmen kompetensi minimum numerasi pada domain data dan ketidakpastian. 5 Tahap Evaluation (Evaluas. Tahap terakhir pada penelitian ini yakni evaluation yang dilaksanakan dengan mengevaluasi hasil dari tahap sebelumnya. Pada tahap ini dilaksanakan pengolahan data dan pengambilan kesimpulan mengenai kevalidan tiap soal, reliabilitas, dan kepraktisan instrumen tes. Berikut dilampirkan tabel tingkat kesukaran, daya pembeda, dan reliabilitas terhadap instrumen asesmen kompetensi minimum numerasi pada domain data dan ketidakpastian untuk siswa SMP. No. Soal Tingkat Kesukaran 0,76 0,37 0,44 0,44 0,42 0,67 0,65 0,69 Tabel 9. Tingkat Kesukaran. Daya Pembeda, dan Reliabilitas Kriteria Kriteria Kriteria Daya Uji Tingkat Daya Uji Pembeda Validitas Kesukaran Pembeda Validitas Mudah Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang 0,55 0,77 0,77 0,16 0,32 0,58 0,37 Baik Baik Baik Baik Revisi Diterima Baik Diterima 0,600 0,634 0,667 0,857 0,430 0,681 0,793 0,654 Valid Valid Valid Sangat Valid Valid Sangat Valid Valid Uji Reliabilitas 0,73 0,64 (Sumber: Data Pribad. Tabel di atas menunjukkan dua soal sangat valid, lima soal valid, dan satu soal tidak valid dengan uji reliabilitas untuk soal pilihan ganda sebesar 0,73 dan uji reliabilitas untuk soal benar/salah sebesar 0,64 yang berarti bahwa soal-soal tersebut memiliki konsistensi dan dapat diandalkan karena nilai uji reliabilitas > rtabel . Dari kedelapan soal tersebut, ada satu soal yang mimiliki daya pembeda < 0,2 yang berarti harus direvisi atau tidak perlu digunakan karena termasuk tidak valid. Selain itu, dikumpulkan pula hasil angket respon siswa terhadap instrumen asesmen kompetensi minimum numerasi untuk mengetahui kepraktisan dalam aspek konten, konstruksi, dan bahasa yang dilampirkan dalam tabel berikut. No. Ranah Konten Konstruksi Bahasa Rata-rata Tabel 10. Hasil Angket Respon Siswa Kriteria Kepraktisan (%) Kriteria Sangat praktis Sangat praktis Sangat praktis Sangat praktis (Sumber:Data Pribad. Berdasarkan Tabel 10 nilai rata-rata kepraktisan 84% dengan 83% untuk aspek konten, 80% Rohimatul Hayati et al. (Pengembangan Instrumen Asesmen Kompetensi Minimum Numerasi pada Domain Data dan A) Absis: Mathematics Education Journal ISSN 2686-0104 . , 2686-0090 . Vol. No. November 2024, pp. untuk aspek konstruksi, dan 90% untuk aspek bahasa, maka disimpulkan bahwa instrumen asesmen kompetensi minimum numerasi praktis dan efisien dipergunakan. Hal ini sesuai dengan kriteria angket respon siswa terhadap kepraktisan instrumen tes menurut (Hilaliyah. Sudiana, and Pamungkas 2. yang menyebutkan bahwa apabila persentasenya > 80% maka instrumen tersebut termasuk kriteria sangat praktis sehingga dapat diaplikasikan pada pembelajaran Simpulan Berdasarkan temuan penelitian dan pengembangan instrumen asesmen kompetensi minimum numerasi pada domain data dan ketidakpastian untuk siswa sekolah menengah pertama didapatkan kesimpulan bahwa dua soal sangat valid, lima soal valid, dan satu soal tidak valid. Berdasarkan daya pembeda, soal yang tidak valid dapat direvisi atau tidak perlu digunakan. Sementara itu, hasil angket respon siswa diperoleh kriteria sangat praktis pada aspek konten, aspek konstruksi, dan aspek bahasa. Dengan demikian, instrumen asesmen kompetensi minimum numerasi ini dapat digunakan pada domain data dan ketidakpastian. Sehubungan dengan temuan dan kesimpulan yang telah dipaparkan, peneliti ingin memberikan saran kepada peneliti selanjutnya untuk dapat mengembangkan soal-soal asesmen kompetensi minimum numerasi yang lebih bervariasi untuk siswa sekolah menengah pertama. Referensi