Jurnal Telematika vol. 20 no. e-ISSN: 2579-3772 doi: 10. 61769/telematika. Model Deep Learning untuk Face Anti-Spoofing dalam Mengatasi Domain Generalization dengan Depth Estimation dan Generative Adversarial Network Tio Dewantho Sunoto1. Daniel Setiadikarunia2. Riko Arlando Saragih3,*. Elia Moses4 12,3,4 Program Studi Teknik Elektro. Universitas Kristen Maranatha Jl. Suria Sumantri No. Bandung. Indonesia 1tiodewantho@yahoo. 2blessed_dsk@yahoo. 32122004@eng. *Korespondensi: riko. as@eng. ____________________________________________________________________________________ AbstractAi The use of facial biometrics to gain access to a security system is common in communication/computing However, this convenience comes with a vulnerability to security breaches, where facial images can be falsified using photos or videos of someone with access rights. The availability of photos or videos of individuals on social media can exacerbate this. A face anti-spoofing system (FAS) is a crucial component for determining whether an input image is genuine or synthetic in biometric systems that utilize facial image information. Many methods have been used to realise this system, both with a hand-crafted method-based approach and deep learning (DL). However, research on the distribution differences between the test dataset and the training dataset is still This article discusses the use of deep learning (DL)-based models for face anti-spoofing (FAS) applications. This study employs a model that utilizes depth map estimation to identify discriminative features and a generative adversarial network (GAN) to address the issue of distribution differences through a data generation approach. For models implemented with an intra-set simulation scenario, test results for two public datasets. NUAA and CASIA, provided the best results in terms of half total error rate (HTER) metrics, at 2. 97% and 2. 7% respectively. Meanwhile, simulations comparing the characteristics of the test dataset and the training dataset revealed that applying GAN to enhance the model's generalization ability could reduce the bona fide presentation classification error rate (BPCER) by 9. KeywordsAi face anti-spoofing (FAS), deep learning (DL), generative adversarial neural network (GAN), domain generalization (DG). FAS dataset AbstrakAi Penggunaan biometrik wajah untuk memperoleh akses suatu sistem keamanan adalah hal yang lazim ditemukan dalam perangkat komunikasi/komputasi. Walaupun demikian, kemudahan ini berakibat kepada kerentanan terjadinya penerobosan ke dalam sistem keamanan, di mana citra wajah dapat dipalsukan dengan memanfaatkan foto atau video seseorang yang memiliki hak akses. Hal ini dapat diperburuk dengan tersedianya foto atau video seseorang di media sosial. Sistem face anti-spoofing (FAS) adalah suatu sistem yang penting untuk mendeteksi apakah citra masukan adalah citra riil atau citra palsu dalam suatu sistem biometrik yang menggunakan informasi citra wajah. Banyak metode yang sudah digunakan untuk merealisasikan sistem ini, baik dengan pendekatan berbasis metode hand-crafted maupun deep learning (DL). Walaupun demikian, penelitian mengenai perbedaan distribusi antara dataset uji dengan dataset latih masih jarang dilakukan. Artikel ini membahas penggunaan model berbasis deep learning (DL) untuk aplikasi face anti-spoofing (FAS). Penelitian ini mengimplementasikan model menggunakan estimasi peta kedalaman untuk menemukan fitur diskriminatif dan generative adversarial network (GAN) untuk mengatasi isu perbedaan distribusi yang Model Deep Learning untuk Face Anti-Spoofing dalam Mengatasi Domain Generalization dengan Depth Estimation dan Generative Adversarial Network menggunakan pendekatan berupa pembangkitan . Untuk model yang diimplementasikan dengan skenario simulasi intraset, hasil pengujian untuk dua dataset publik, yaitu NUAA dan CASIA, memberikan hasil terbaik dari segi metrik half total error rate (HTER), berturut-turut 2,97% dan 2,7%. Sementara simulasi untuk adanya perbedaan antara karakteristik dataset uji dengan dataset latih, hasil dengan menerapkan GAN untuk meningkatkan kemampuan generalisasi model, dapat menurunkan bonafide presentation classification error rate (BPCER) sebesar 9,75%. Kata KunciAi face anti-spoofing (FAS), deep learning (DL), generative adversarial neural network (GAN), domain generalization (DG), dataset FAS _____________________________________________________________________________________ PENDAHULUAN Sistem pengenalan wajah . ace recognition/FR) merupakan suatu teknik biometrik praktis yang telah banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari . Hal ini menyebabkan FR menjadi salah satu area penelitian yang paling populer, dikarenakan penerapannya yang luas dalam berbagai skenario autentikasi, seperti pengendalian akses mobile dan pembayaran elektronik . Walaupun demikian, sistem FR rentan terhadap serangan presentasi yang juga dikenal sebagai face spoofing attacks (FAS), seperti print attack, video replay, dan 3D mask yang mengancam keamanan sistem dan meningkatkan risiko pelanggaran privasi . Untuk meningkatkan keandalan sistem FR, deteksi FAS menjadi bagian penting untuk melindungi keamanan sistem sehingga secara bertahap FAS menjadi fokus dalam bidang computer vision, pengenalan pola, dan bidang terkait lainnya . Face anti-spoofing (FAS) adalah komponen yang sangat penting untuk memastikan keamanan sistem FR . Secara umum FAS dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu metode tradisional berbasis handcrafted dan metode berbasis deep learning . FAS dapat menggunakan fitur hand-crafted untuk klasifikasi, seperti LBP. HOG, dan SIFT untuk menggambarkan pola terkait spoofing. Fitur hand-crafted bekerja dengan baik pada sampel skala kecil, tetapi sensitif terhadap variasi pencahayaan, skala, dan postur . Di sisi lain, dengan berkembangnya metode deep learning, jaringan mendalam mulai digunakan untuk deteksi FAS. Fitur-fitur yang diekstraksi melalui metode pembelajaran ini lebih robust. Oleh karena itu. CNN sebagai salah satu arsitektur neural network pada deep learning juga banyak digunakan dalam face anti-spoofing . Seiring dengan perkembangan arsitektur CNN dan munculnya dataset FAS secara bertahap, metode deep learning telah menjadi dominan dalam bidang FAS. Metode FAS berbasis pembelajaran mendalam dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu classification supervision, auxiliary pixel-wise supervision, dan generative pixel-wise supervision . Metode berbasis klasifikasi biasanya menggunakan pengawasan entropi silang biner. Namun, model klasifikasi biner cenderung overfitting dan kurang robust terhadap serangan dalam skenario dengan pergeseran domain minor . Auxiliary pixel-wise supervision dengan fungsi tambahan dengan mahir memanfaatkan pengetahuan manusia sebelumnya. Teknik ini memerlukan model yang dalam untuk memprediksi kedalaman asli untuk sampel hidup, sementara menghasilkan peta nol untuk yang spoof. Berbeda dengan auxiliary pixel-wise supervision, generative pixelwise supervision tidak memberlakukan batasan tegas yang dirancang oleh para ahli. Secara umum, generative pixel-wise supervision memberikan fleksibilitas yang lebih dalam memodelkan spoofing, tetapi dapat mengakibatkan model kurang stabil dan lebih rentan terhadap gangguan dibandingkan dengan auxiliary pixel-wise supervision yang lebih terstruktur . Terdapat berbagai penelitian yang telah dilakukan dengan menerapkan auxiliary pixel-wise supervision menggunakan CNN, khususnya yang menggunakan fitur kedalaman wajah. Yang, dkk. pertama kali menerapkan CNN untuk FAS dan mencapai hasil yang baik, berdasarkan pengetahuan Model Deep Learning untuk Face Anti-Spoofing dalam Mengatasi Domain Generalization dengan Depth Estimation dan Generative Adversarial Network sebelumnya, wajah asli memiliki kedalaman sementara wajah palsu hanyalah kertas atau layar datar. Atoum, . mengekstrak fitur area lokal dan memperkirakan peta kedalaman keseluruhan dari gambar wajah. Liu, dkk. menggunakan analisis pantulan cahaya untuk mengekstrak detail normal guna memperkirakan kedalaman wajah. Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa nilai kedalaman setiap objek dalam peta kedalaman wajah palsu adalah sama. Namun, pendekatan berbasis CNN yang telah memperoleh hasil baik menghadapi tantangan lainnya, yaitu penurunan kinerja yang signifikan ketika model menghadapi domain yang belum pernah dilihat . nseen domai. Model machine learning (ML) umumnya dilatih berdasarkan asumsi independent and identically distributed . )) bahwa data pelatihan dan pengujian didistribusikan secara identik dan independen. Namun, pada praktiknya asumsi ini tidak selalu berlaku. Ketika distribusi probabilitas data pelatihan dan data pengujian berbeda, kinerja model ML sering kali menurun karena adanya kesenjangan distribusi domain . omain distribution ga. Pengumpulan data dari semua domain yang mungkin untuk melatih model ML sangat mahal, bahkan hampir mustahil . Oleh karena itu, meningkatkan kemampuan generalisasi model ML menjadi sangat Terdapat banyak topik penelitian yang terkait dengan generalization, seperti domain adaptation, metalearning, transfer learning, dan covariate shift. Masing-masing dari topik tersebut memiliki karakteristiknya tersendiri . , tetapi memiliki perbedaan utama apabila dibandingkan dengan domain generalization (DG), yaitu akses terhadapap target domain. DG tidak dapat melihat target domain saat pelatihan. Hal ini menyebabkan DG lebih menantang dibandingkan pembelajaran generalisasi lainnya, tetapi juga lebih realistis dan diinginkan dalam aplikasi praktis . Dalam beberapa tahun terakhir, domain generalization (DG) telah mendapatkan banyak perhatian. Tujuan domain generalization adalah mempelajari model dari satu atau beberapa domain yang berbeda namun terkait yang akan dapat digeneralisasikan dengan baik pada domain pengujian yang belum pernah Metode domain generalization (DG) untuk FAS diusulkan dengan tujuan untuk mempelajari model dari beberapa dataset sumber sehingga model tersebut dapat digeneralisasi ke dataset yang belum pernah dilihat sebelumnya. Beberapa penelitian mengenai DG untuk fungsi FAS telah banyak dilakukan pada tahun-tahun belakangan ini. Liu, dkk. mengusulkan metode source-free domain adaptation (SFDA) untuk meningkatkan kemampuan generalisasi dari deep learning-based face anti-spoofing (FAS) . Zheng, dkk. metode masked frequency autoencoders (MFAE) yang menyelidiki generalisasi domain FAS dari perspektif baru, yaitu dalam domain frekuensi . Liu, dkk. mengusulkan domain generalisasi tanpa pengawasan . untuk face anti-spoofing . Zhou, dkk. mengusulkan perspektif baru dalam domain generalization (DG) untuk face anti-spoofing (FAS) yang menyelaraskan representasi fitur pada tingkat instansi yang halus . Beberapa metode domain generalization (DG) untuk fungsi FAS telah diusulkan dalam penelitian-penelitian terbaru untuk meningkatkan kemampuan generalisasi sistem FAS di berbagai domain yang belum pernah dilihat sebelumnya. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini akan berfokus pada permasalahan face anti-spoofing dengan memanfaatkan fitur depth estimation sebagai fitur diskriminatif wajah dan menerapkan model generative adversarial network (GAN) untuk mengatasi untuk mengakomodir perbedaan karakteristik . antara data latih dan data uji . ermasalahan DG). Pengujian dilakukan untuk empat dataset yang biasa dilakukan untuk menguji metode untuk mendeteksi FAS, yaitu NUAA. CASIA-MFSD. MSU-MFSD, dan IDIAP Replay Attack. Diharapkan dari pendekatan ini kesalahan prediksi pada sistem yang diimplementasikan dapat menurun . Model Deep Learning untuk Face Anti-Spoofing dalam Mengatasi Domain Generalization dengan Depth Estimation dan Generative Adversarial Network II. METODOLOGI Secara ringkas alur dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1. Tahap pertama alur penelitian diawali dengan dataset preprocessing. Proses utama tahapan ini labelling, khususnya untuk dataset NUAA dan dataset CASIA-MFSD. Proses ini dilakukan berdasarkan panduan dari publisher dataset. Untuk dataset berbentuk video dilakukan preprocessing berupa sampling frame. Tiga dari empat dataset memiliki data dalam bentuk video, di antaranya CASIA-MFSD. Idiap Replay-Attacks, dan MSUMFSD. Setiap video berdurasi kurang lebih 9 detik dengan total frame rata-rata adalah 240 frame. Pada penelitian ini setiap video diambil 32 frame. Preprocessing ini dilakukan untuk mempercepat proses komputasi model. Gambar 2 menunjukkan contoh proses sampling video dari video keseluruhan menjadi 32 frame gambar. Tahap selanjutnya adalah melakukan ekstraksi fitur kedalaman citra wajah . epth map estimation/DME). Proses ini untuk membantu sistem deteksi FAS dalam menentukan real atau fake citra wajah yang dimasukkan ke dalam sistem FA. DME dilakukan dengan menggunakan pretrained model MiDaS v. Model ini berbasis convolutional neural network (CNN) sehingga mengadopsi prinsip supervised learning, di mana ground truth diperoleh dari dataset untuk aplikasi FAS. Contoh input dan output dari tahap ekstraksi fitur berbasis DME ini dapat dilihat pada Gambar 3. Metode DG dalam penelitian ini diterapkan melalui metode data generation (DG). DG merupakan salah satu submetode dari data manipulation (DM). Dalam penelitian ini DG dilakukan menggunakan generative adversarial network (GAN). Data yang dihasilkan oleh model GAN diharapkan dapat membantu model untuk mempelajari fitur-fitur general atau umum yang tidak bergantung pada fitur-fitur dari dataset face anti-spoofing (FAS) tertentu. Gambar 1 Diagram blok alur proses penelitian Model Deep Learning untuk Face Anti-Spoofing dalam Mengatasi Domain Generalization dengan Depth Estimation dan Generative Adversarial Network Gambar 2 Contoh konversi video menjadi 32 frame Gambar 3 Contoh hasil ekstraksi ciri estimasi peta kedalaman . epth ma. dari suatu citra masukan GAN terdiri dari dua jaringan, yaitu generator dan discriminator. Dikarenakan terdapat dua jaringan, maka terdapat dua loss function yang diterapkan pada GAN. Loss function yang digunakan adalah binary cross entropy. Loss pada generator diukur untuk memperbaiki data hasil generate agar lebih mirip dengan data spoof FAS, sedangkan loss pada discriminator yang berfungsi untuk mengukur kemampuan discriminator dalam menentukan data hasil generate dari generator adalah data AorealAo . ata spoof dari dataset FAS) atau data AofakeAo . ukan data spoof dari dataset FAS). Arsitektur dari generator dan discriminator dapat dilihat dalam Gambar 4, sedangkan data hasil generate oleh model GAN ditunjukkan pada Gambar 5. Tahap berikutnya adalah data transform. Proses ini bertujuan untuk menormalisasi . ukuran citra wajah menjadi 224C224 piksel . isesuaikan dengan ukuran output depth ma. Untuk menambahkan variasi data, maka dilakukan data generation (DG) yang dalam penelitian untuk computer vision biasanya menggunakan teknk seperti horizontal flip, random affine, dan color jitter. Data hasil luaran proses DG diubah ke dalam bentuk tensor untuk mempermudah pemrosesan lebih lanjut. Sampel data hasil DG diperlihatkan dalam Gambar 6. Model Deep Learning untuk Face Anti-Spoofing dalam Mengatasi Domain Generalization dengan Depth Estimation dan Generative Adversarial Network Gambar 4 Arsitektur generator dan discriminator Gambar 5 Data hasil generate menggunakan GAN Gambar 6 Data hasil DG Pada tahapan training classifier, model FAS mempelajari pola data yang sudah dalam bentuk tensor menggunakan pretrained model ResNet-50. Model dilatih untuk mendapatkan bobot yang tepat melalui Model Deep Learning untuk Face Anti-Spoofing dalam Mengatasi Domain Generalization dengan Depth Estimation dan Generative Adversarial Network Layer terakhir pada ResNet-50 mengubah output layer sebelumnya yang berbentuk multidimensi menjadi satu dimensi menggunakan operasi flatten. Flatten feature map kemudian dioperasikan dengan activate function. Jumlah fitur dilakukan down sampling untuk menghasilkan fitur yang lebih sederhana. Terakhir model melakukan klasifikasi data wajah AorealAo atau AofakeAo. Pada dataset FAS berupa video, yaitu CASIA-MFSD (C). Idiap Replay-Attacks, dan MSU-MFSD (M) model FAS mempelajari fitur temporal dengan bantuan tambahan jaringan LSTM. Video merupakan sekuensial dari frame demi frame. Jaringan LSTM dimanfaatkan untuk mempelajari fitur temporal tersebut. Berbeda dengan model FAS untuk dataset gambar, fully connected layer dari ResNet-50 tidak langsung melakukan klasifikasi. Fitur dari lapisan fully connected menjadi input untuk jaringan LSTM. Input tersebut kemudian diekstrak pada jaringan LSTM. Output dari jaringan LSTM kemudian mengklasifikasikan data sebagai wajah AorealAo atau AofakeAo. Gambar 7 menunjukkan arsitektur ResNet-50 LSTM yang digunakan dalam penelitian ini. Pada penelitian ini model FAS diuji dengan dua jenis pengujian. Pertama, model diuji dengan data uji Pengujian pertama dimaksudkan untuk menguji kemampuan model dalam memanfaatkan depth map sebagai fitur diskriminatif untuk fungsi FAS. Pengujian kedua, dilakukan dengan menguji model pada data test yang berbeda dengan dataset pelatihan. Pengujian kedua bermaksud untuk mengukur kemampuan generalisasi model pada Aounseen domainAo. Unseen domain berarti domain yang belum pernah dilihat model selama pelatihan. Hyperparameter yang diatur pada model FAS di dalam penelitian ini adalah learning rate, jumlah epoch, dropout, regulariasi, optimizer, jumlah hidden layer, hidden size, dan batch size. Tuning hyperparameter disesuaikan berdasarkan hasil pengujian atau evaluasi model. Misalkan, untuk hasil evaluasi atau pengujian model yang mengindikasikan model AooverfitAo . odel dengan hasil yang baik pada pelatihan, tetapi hasilnya buruk ketika divalidasi atau diuj. , maka akan dilakukan peningkatan dropout, penurunan jumlah epoch, penambahan regularisasi, penurunan learning rate, dan lainnya. Tuning hyperparameter dilakukan hingga model dapat mempelajari pola data dengan baik. Final result adalah output akhir dari proses pelatihan dan pengujian model. Pada penelitian ini hasil akhir dari pelatihan dan pengujian model berupa hasil pengujian model dalam metric FAS. Selain itu, bobot model disimpan dalam bentuk Ao. ptAo. Model dapat digunakan untuk melakukan klasifikasi wajah AorealAo atau AofakeAo dengan memanggil model dan memberikan bobot pelatihan model. Performansi model yang direalisasikan dan disimulasikan dievaluasi dengan menghitung metrik yang lazim dalam menilai kinerja model FAS, yaitu attack presentation classification error rate (APCER), bona fide presentation classification error rate (BPCER), dan half-total error rate (HTER). Metrik APCER digunakan untuk mengukur kesalahan klasifikasi yang terjadi ketika sistem salah mengklasifikasikan presentasi serangan . sebagai wajah asli. Sementara itu. BPCER didefinisikan sebagai rasio dari jumlah presentasi wajah real yang salah diklasifikasikan sebagai fake . alse negative. terhadap total jumlah presentasi wajah asli. HTER adalah metrik yang digunakan untuk menilai performa sistem face anti-spoofing secara keseluruhan dalam mengklasifikasikan wajah real dan fake secara tepat. Ketiga metrik ini dihitung Gambar 7 Arsitektur ResNet-50 LSTM Model Deep Learning untuk Face Anti-Spoofing dalam Mengatasi Domain Generalization dengan Depth Estimation dan Generative Adversarial Network dengan terlebih dahulu empat metrik prediksi untuk mengevaluasi suatu model classifier, yaitu true positive (TP), false positive (FP), true negative (TN), dan false negative (FN). Dari keempat metrik prediksi ini, maka rumus untuk menghitung APCER. BPCER, dan HTER adalah sebagai berikut: APCER A TN A FP BPCER A FN A TP APCER A BPCER HTER A HASIL DAN PEMBAHASAN Model deteksi FAS yang dirancang akan diuji untuk kasus riil . ilakukan oleh penelit. Pengujian dilakukan untuk membuktikan bahwa model FAS dapat membedakan wajah asli dan palsu dengan baik, pada kasus nyata. Gambar 8 memperlihatkan sampel citra masukan . eal dan fak. , sedangkan Gambar 9 menyajikan hasil DME dan hasil prediksi oleh model. Untuk menguji performa model face anti-spoofing dalam mengklasifikasikan wajah real dan wajah fake dilakukan pengujian model pada intradataset. Pengujian intradataset berarti pelatihan dan pengujian model dilakukan menggunakan dataset yang sama. Pengujian ini menunjukkan performa model FAS dengan depth map sebagai fitur diskriminatif. Performa diukur berdasarkan error rate pada tiga metrik FAS yang digunakan pada penelitian ini, yaitu attack presentation classification error rate (APCER), bona fide presentation classification error rate (BPCER), dan half total error rate (HTER). Tabel I memperlihatkan model, training parameter, dan model parameter yang digunakan untuk melatih model pada masing-masing Hasil simulasi dalam Tabel I, nilai dropout-nya adalah 0,5. Tabel II menunjukkan hasil percobaan intradataset pada keempat publik dataset yang digunakan pada penelitian ini. Seluruh hasil simulasi dalam tulisan ini diperoleh dengan menggunakan PC Intel Core i-9 dengan RAM Corsair DDR 4 ukuran 32 GB . serta VGA Card tipe MSI RTX 3090 Gaming X Trio. Aktual: Real Aktual: Real Aktual: Fake Gambar 8 Contoh pengujian deteksi FAS Aktual: Fake Model Deep Learning untuk Face Anti-Spoofing dalam Mengatasi Domain Generalization dengan Depth Estimation dan Generative Adversarial Network ) Prediksi: Real . rue decisio. ) Prediksi: Real . rue decisio. ) Prediksi: Fake . rue decisio. Prediksi: Fake . rue decisio. Gambar 9 Hasil DME dan deteksi FAS untuk input pada Gambar 8 TABEL I PARAMETER MODEL DAN TRAINING UNTUK PENGUJIAN INTRADATASET Dataset Model NUAA CASIA IDIAP MSU ResNetA50 ResNetA50 A LSTM ResNetA50 A LSTM ResNetA50 A LSTM Parameter Model Layer LSTM Hidden LSTM Size Parameter Training OneCycleR. OneCycleR. OneCycleR. Epoch Number Metric (%) BPCER 4,69 4,76 HTER 2,97 21,25 9,52 Optimizer Learning Rate Adam AdamW AdamW AdamW 0,0001 TABEL i HASIL PENGUJIAN MODEL INTRADATASET Dataset NUAA CASIA IDIAP MSU Train Data Split Validation Test APCER 1,25 5,41 14,29 Model Deep Learning untuk Face Anti-Spoofing dalam Mengatasi Domain Generalization dengan Depth Estimation dan Generative Adversarial Network Berdasarkan hasil pengujian model FAS pada intradatset, didapati bahwa karakteristik dataset lebih mempengaruhi performa model dibandingkan banyaknya data latih model. Model FAS yang dilatih dengan dataset NUAA merupakan model dengan data latih paling sedikit dan data uji paling banyak. Ketiga model FAS yang dilatih dengan masing-masing 3 dataset lainnya, yaitu CASIA. IDIAP, dan MSU memiliki data latih yang lebih banyak dan data uji yang lebih sedikit dibandingkan NUAA. Hasil metrik FAS pada hasil pengujian dalam Tabel II menunjukkan bahwa model FAS yang dilatih dan diuji pada dataset NUAA dan CASIA merupakan model FAS yang paling optimal. Ditinjau dari karakteristiknya, dataset NUAA dan CASIA memiliki karakteristik dataset yang sama untuk wajah fake. Wajah fake pada dataset NUAA dan CASIA merupakan spoofing jenis print attack atau replay attack yang diumpankan . i-input-ka. dari jarak tertentu . ukup jau. dari layar kamera. Hal tersebut mengakibatkan pemanfaatan depth map lebih optimal pada dataset NUAA dan CASIA, dibandingkan pada dataset IDIAP replay attack dan MSU. Pernyataan tersebut dibuktikan dengan nilai error (APCER. BPCER, dan HTER) yang rendah pada pengujian model intradataset NUAA dan CASIA. Sebaliknya, nilai error pada (APCER. BPCER, dan HTER) pengujian model intra-dataset IDIAP Replay Attack dan MSU yang cenderung lebih Sementara itu, untuk kondisi adanya perbedaan gap distribusi antara data latih dan data uji . ondisi unseen domai. , simulasi dilakukan dengan menetapkan dataset NUAA dan IDIAP sebagai data latih serta untuk data uji diambil dari dataset CASIA. Melalui penetapan ini diharapkan model akan dilatih untuk dapat mempelajari fitur dari 2 dataset yang memiliki karakteristik berbeda. Harapannya adalah model dapat mempelajari karakteristik spoofing pada data latih dengan baik sehingga ketika diuji pada dataset yang berbeda, model dapat mengklasifikasikan wajah real dan fake dengan baik. Apabila goal atau tujuan tersebut tercapai, maka artinya model tidak kebingungan dengan fitur yang dipelajarinya selama pelatihan. Tabel i menyajikan hyperparameter model yang digunakan pada pengujian lintas dataset, sedangkan hasil dari pengujian lintas dataset ditunjukkan pada Tabel i pada baris pertama (NUAA dan IDIAP). TABEL i HYPERPARAMETER MODEL UNTUK PENGUJIAN LINTAS DATASET Dataset Model NUAA A IDIAP NUAA A IDIAP A GAN ResNetA50 ResNetA50 Dropout Hyperparameter Model Optimizer LearningRate AdamW AdamW 10 A6 Epoch Number TABEL IVV KOMPOSISI DATASET DAN METRIK FAS Dataset NUAA A IDIAP NUAA A IDIAP A GAN Train (NUAA) Data Split Train Train (IDIAP) (GAN) Metric (%) Test (CASIA) APCER BPCER HTER 2,75 20,63 Model Deep Learning untuk Face Anti-Spoofing dalam Mengatasi Domain Generalization dengan Depth Estimation dan Generative Adversarial Network Pengujian model FAS dengan data latih NUAA dan IDIAP menunjukkan hasil yang tidak cukup baik. Hasil pengujian memperlihatkan evaluasi metrik FAS masih memiliki persentase error cukup besar, dengan nilai minimum evaluasi metrik FAS untuk BPCER adalah sebesar 12,5% dan nilai metrik FAS untuk APCER adalah sebesar 38,5% . aris pertama Tabel IV). Hasil pengujian lintas dataset menunjukkan bahwa model sudah cukup baik dalam mengklasifikasikan wajah real sebagai wajah real, tetapi cukup kesulitan dalam mengklasifikasikan wajah fake sebagai wajah fake. Oleh karena itu, dalam penelitian ini perlu dilakukan sesuatu agar dapat meningkatkan kemampuan generalisasi model. Dalam tulisan ini, generative adversarial network (GAN) dimanfaatkan untuk menambah jumlah data latih agar dapat memperkaya variasi data dalam pelatihan model. Pendekatan ini dilakukan sehingga model FAS dapat mempelajari fitur yang lebih general dan tidak bergantung pada karakteristik dataset tertentu saja (NUAA dan IDIAP). GAN dilatih untuk men-generate data spoof dari dataset pelatihan, yaitu NUAA dan IDIAP replay attack. Setelah data latih tambahan hasil luaran dari GAN dimasukkan ke dalam data latih model FAS, pengujian yang sama . engujian lintas datase. kembali dilakukan. Sekarang data latih terdiri atas dataset NUAA. IDIAP replay attack, dan data hasil GAN, sedangkan data uji masih sama, yaitu dataset CASIA. Tabel i menunjukkan hyperparameter model yang digunakan pada pengujian lintas dataset . ama untuk tanpa dan dengan GAN). Pada pengujian model FAS dengan data latih NUAA dan IDIAP replay attack saja . anpa data tambahan hasil luaran GAN), metrik BPCER yang didapatkan mencapai angka12,5%. Pada pengujian model FAS dengan data latih NUAA. IDIAP replay attack, ditambah data hasil GAN, nilai metrik BPCER yang didapatkan bisa mencapai hanya 2,75%. Penambahan data hasil GAN pada model memberikan penurunan nilai BPCER sebesar 9,75% dan HTER sebesar 4,87%. Penambahan data hasil GAN memperkaya kemampuan generalisasi model sehingga hasil pengujian untuk setting simulasi, seperti untuk kondisi lintas dataset, menunjukkan bahwa model sudah cukup baik dalam mengklasifikasikan wajah real sebagai wajah real, demikian pula dalam mengklasifikasikan wajah fake sebagai wajah fake. IV. SIMPULAN Tulisan ini membahas tentang bagaimana mengatasi adanya perbedaan . distribusi dari dataset latih dan dataset uji untuk persoalan face anti-spoofing (FAS). Ekstraksi ciri untuk mendeteksi spoofing adalah dengan mencari peta kedalaman citra masukan. Pendekatan yang digunakan adalah dengan memakai metode data generation dan diimplementasikan dengan mengadopsi model GAN. Hasil yang diperoleh khususnya untuk adanya perbedaan distribusi dapat menurunkan metrik BPCER hingga sebesar 9,75% dan HTER 4,87% dengan data latih NUAA dan IDIAP replay attack, ditambah data hasil GAN serta dataset CASIA sebagai data uji. Dalam penelitian selanjutnya, bisa diujikan skenario pendekatan selain data generation sebagai sarana untuk mengatasi isu perbedaan distribusi antara dataset uji dengan dataset latih, seperti learning strategy dan representation learning . atau mengkombinasikan ketiga pendekatan UCAPAN TERIMA-KASIH Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Universitas Kristen Maranatha (UKM) yang sudah memberikan dukungan dana dalam pelaksanaan penelitian ini. DAFTAR REFERENSI Model Deep Learning untuk Face Anti-Spoofing dalam Mengatasi Domain Generalization dengan Depth Estimation dan Generative Adversarial Network Cai et al. AuS-Adapter: generalizing vision transformer for face anti-spoofing with statistical tokens,Ay Ie Trans. Inf. Forensics Secur. , vol. 19, pp. 8385Ae8397, 2024, doi: 10. 1109/TIFS. Liu. Chen. Dai. Gou. Huang, and H. Xiong. AuSource-free domain adaptation with domain generalized pretraining for face anti-spoofing,Ay Ie Trans. Pattern Anal. Mach. Intell. , vol. 46, no. 8, pp. 5430Ae5448, 2024, doi: 1109/TPAMI. Liu and Y. Pan. AuSpatio-temporal-based action face anti-spoofing detection via fusing dynamics and texture face keypoints cues,Ay Ie Transactions on Consumer Electronics, vol. 70, no. 2, pp. Feb. 2024, doi: 1109/TCE. Zheng et al. AuMFAE: masked frequency autoencoders for domain generalization face anti-spoofing,Ay Ie Transactions on Information Forensics and Security, vol. 19, pp. 4058-4069, 2024, doi: 10. 1109/TIFS. Kong. Zheng. Liu. Wang. Rocha, and H. Li. AuM3FAS: an accurate and robust multimodal mobile face anti-spoofing system,Ay Ie Transactions on Dependable and Secure Computing, vol. 21, no. 6, pp. Jun. 2024, doi: 10. 1109/TDSC. Zheng. Yue. Zhao, and S. Liu. AuAttention-based spatial-temporal multi-scale network for face anti-spoofing,Ay Ie Transactions on Biometrics. Behavior, and Identity Science, vol. 5, no. 2, pp. Apr. 2023, doi: 1109/TBIOM. Wang et al. AuWild face anti-spoofing challenge 2023: benchmark and results,Ay in Proc. Ie Comput. Soc. Conf. Comput. Vis. Pattern Recognit. Workshops, 2023, pp. 10209048, doi: 0. 1109/CVPRW59228. Yang. Lei, and S. Li. AuLearn convolutional neural network for face anti-spoofing,Ay arXiv preprint arXiv:1408. 5601, 2014. [Onlin. Available: https://arxiv. org/abs/1408. Atoum. Liu. Jourabloo, and X. Liu. AuFace anti-spoofing using patch and depth-based CNNs,Ay in Proc. Ie Int. Joint Conf. Biometrics (IJCB), 2017, pp. 8272713, doi: 10. 1109/BTAS. Liu. Tai. Li. Ding. Wang, and F. Huang. AuAurora Guard: Real-Time Face Anti-Spoofing via Light Reflection,Ay arXiv preprint arXiv:1902. 10311, 2019. [Onlin. Available: https://arxiv. org/abs/1902. Adams, "Dataset shift in machine learning," Journal of the Royal Statistical Society Series A: Statistics in Society, 173, no. 1, p. 274, 2010. doi: 10. 1111/j. 1467-985x. 00624_10. Wang et al. AuGeneralizing to unseen domains: a survey on domain generalization,Ay Ie Trans. Knowl. Data Eng. 35, no. 8, 2023, pp. 8052Ae8072, doi: 10. 1109/TKDE. Liu et al. AuTowards unsupervised domain generalization for face anti-spoofing,Ay Proc. Ie Int. Conf. Comput. Vis. 20597Ae20607, 2023, doi: 10. 1109/ICCV51070. Zhou et al. AuInstance-aware domain generalization for face anti-spoofing,Ay Proc. Ie Comput. Soc. Conf. Comput. Vis. Pattern Recognit. , vol. 2023-June, pp. 20453Ae20463, 2023, doi: 10. 1109/CVPR52729. Tio Dewantho Sunoto, memperoleh gelar Sarjana Teknik Elektro di Universitas Kristen Maranatha (UKM) Bandung dan gelar Magister Elektroteknik di Institut Teknologi Bandung (ITB). Bidang yang ditekuni teknik sistem kontrol. Saat ini sebagai pengajar di UKM. Daniel Setiadikarunia, memperoleh gelar Sarjana Teknik Elektro di Universitas Kristen Maranatha (UKM) Bandung dan gelar Magister Elektroteknik dan Doktor di Institut Teknologi Bandung (ITB). Bidang yang ditekuni teknik komputer dan teknik telekomunikasi. Saat ini sebagai pengajar di UKM. Riko Arlando Saragih, memperoleh gelar Sarjana Teknik Elektro di Institut Teknologi Bandung (ITB), gelar Magister Teknik Elektro di ITB, dan gelar Doktor di Universitas Indonesia (UI). Bidang yang ditekuni pattern recognition, machine lerning, dan digital signal processing. Saat ini sebagai pengajar di Universitas Kristen Maranatha (UKM). Elia Moses, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Universitas Kristen Maranatha (UKM) Bandung. Studinya telah selesai.