E. Sihaloho. Amru. Agustina. Tambak/Journal of Applied Business and Economics (JABE) Vol. 7 No. 3 (Maret 2. PENGARUH ANGKA KEMISKINAN TERHADAP ANGKA TUBERKULOSIS DI INDONESIA Oleh: Estro Dariatno Sihaloho1 Dania Setira Amru2 Nurul Irfani Agustina3 Herlina Silvani Purba Tambak4 1,2,3 Departemen Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Padjadjaran Fakultas Kedokteran. Universitas Sumatera Utara Email: sihaloho@unpad. daniasetiraa@gmail. nurulirfaniagustina@gmail. herlinasilvanipurbatambak@gmail. ABSTRACT Tuberculosis is still big health problems in Indonesia. The government has spent a lot of budget to overcome the Tuberculosis problem in Indonesia. This study aims to see what the effect of poverty in Indonesia on Tuberculosis cases in Indonesia. This study uses 431 Cities-Regencies in Indonesia in 2017. Using the Multiple Linear Regression method, this study shows that the Poverty Rate in Indonesia has a positive and significant effect on the number of Tuberculosis cases in Indonesia. This study also shows that population density also has a positive and significant effect on the number of tuberculosis cases in Indonesia. On the other hand, total health workers have a negative and significant effect on the number of Tuberculosis cases in Indonesia. Reducing poverty, reducing population density, and increasing health workers in Indonesia can be a solution to accelerate the alleviation of the Tuberculosis problem in Indonesia. Keyword: poverty, tuberculosis, multiple linear regressions Journal of Applied Business and Economics (JABE) Vol. 7 No. 3 (Maret 2. PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara berkembang masih memiliki banyak permasalahan pembangunan yang harus diselesaikan, salah satunya adalah masalah kemiskinan. Kemiskinan adalah permasalahan yang menghambat Indonesia dalam meningkatkan kesejahteraan sosial. Kemiskinan merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan di sebuah negara (Claro. Paunesku, and Dweck 2. Kemiskinan adalah masalah multidimensional yang memberikan dampak ke segala aspek kehidupan (Giyarsih 2. Masalah multidimensional memiliki indikator yang dilihat dari kepemilikan rumah, kualitas penerangan, dinding, atap, serta lantai rumah (Baniadi 2. Penyakit Tuberkulosis dapat disebabkan oleh faktor lingkungan (Kenedyant and Sulistyorin 2. Salah satu faktor yang menyebabkan seseorang mengidap Tuberkulosis adalah kepadatan hunian daerah yang ia tinggal. Resiko penularan Tuberkulosis semakin tinggi pada bangunan yang gelap dengan kualitas penerangan mataharinya rendah (Sejati and Sofiana 2. Seseorang yang memiliki pendapatan rendah maka memiliki resiko tertular Tuberkulosis dikarenakan orang yang memiliki pendapatan rendah memiliki keterbatasan dalam memenuhi syarat-syarat kesehatan (Manalu 2. Pendapatan rendah atau kemiskinan memiliki kemungkinan untuk meningkatkan kasus Tuberkulosis (E. Sihaloho. Alfarizy, and Sagala 2. Tuberkulosis menjadi masalah yang sangat besar di seluruh dunia. Salah satu penyakit menular yang menjadi penyebab utama kematian adalah Tuberkulosis (Padayatchi. Daftary, and Naidu 2. Estimasi jumlah kasus Tuberkulosis di Indonesia pada tahun 2017 dengan total 842. 000 kasus, 60. 676 kasus Tuberkulosis anak, 10. 174 kasus Tuberkulosis HIV dan 4. 413 kasus Tuberkulosis Resisten Obat ternotifikasi (Kemenkes 2. Jumlah ini menjadikan Indonesia sebagai Negara dengan jumlah kasus Tuberkulosis tahunan terbanyak kedua di dunia setelah negara india dengan jumlah kasus sebanyak 2,790,000 kasus. Tingkat kasus Tuberkulosis di Indonesia adalah sebanyak 391 per 100,000 orang. Data Kementrian Kesehatan menunjukkan provinsi Jawa Barat memiliki jumlah kasus Tuberkulosis dan ratarata total kasus TB yang paling tinggi. Dengan tingginya kasus Tuberkulosis di Indonesia akan memberikan kerugian ekonomi yang sangat besar. Pemerintah sangat kesulitan dalam mengatasi masalah Tuberkulosis ini. Selain karena tidak efisiennya penggunaan dana Tuberkulosis di Indonesia (E. Sihaloho and Siregar 2. , terdapat faktor lain yang mempersulit pemerintah mengentaskan masalah Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan analisis untuk melihat bagaimana pengaruh dari kemiskinan level kabupaten kota terhadap total kasus Tuberkulosis di Indonesia. Penelitian ini juga melihat pengaruh variabel kepadatan penduduk dan total tenaga kesehatan terhadap total kasus Tuberkulosis di Indonesia. KAJIAN PUSTAKA Tuberkulosis Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyebab utama kematian yang diakibatkan oleh penyakit infeksi paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (Dye 2. Penularan penyakit TB ini menyebar melalui udara. Ketika seorang dengan riwayat penyakit ini batuk, bersin atau E. Sihaloho. Amru. Agustina. Tambak/Journal of Applied Business and Economics (JABE) Vol. 7 No. 3 (Maret 2. 325-337 meludah, mereka mengeluarkan kuman TB ke udara. Seseorang akan dapat langsung terinfeksi walau hanya menghirup beberapa kuman (WHO 2. Penyakit ini sangat berhubungan dengan kemiskinan, karena berhubungan dengan asupan gizi yang kurang, pemukiman yang tidak sehat, dan akses pelayanan kesehatan yang rendah (Mahpudin and Mahkota 2. Selain itu, dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh TB sangat tinggi dan merupakan penyumbang signifikan terhadap kemiskinan dunia. Selain itu. TB mewakili sekitar 4-7% hilangnya produktivitas dari produk domestik bruto (PDB) (Collins. Hafidz, and Mustikawati Sejarah membuktikan bahwa pengurangan kasus TB yang signifikan terjadi ketika pertumbuhan ekonomi, sosial, dan medis berjalan optimal secara bersamaan. Oleh sebab itu, dibutuhkan kombinasi antara pertumbuhan ekonomi dan sosial yang sesuai dengan kebijakan yang berlaku (Lynnroth et al. Kemiskinan Kemiskinan adalah suatu kondisi dimana tidak tercukupinya kebutuhan hidup manusia yang disebabkan oleh kekurangan pendapatan (Annur 2. Kekurangan pendapatan bisa disebabkan karena tingginya angka pengangguran (Effendy 2. Kebutuhan hidup terdiri dari kebutuhan sandang, pangan dan papan. Pengertian dari kemiskinan itu sendiri dapat ditinjau dari berbagai aspek, baik dari aspek material maupun non-material (Giyarsih 2. Kemiskinan dapat dibedakan menjadi dua yakni kemiskinan relatif dan kemiskinan absolut. Kemiskinan relatif merupakan standar hidup minimum yang dapat berbeda tergantung wilayah tinggal dan mengacu pada perspektif masing-masing orang dan wilayah. Sedangkan kemiskinan absolut adalah kondisi dimana standar kebutuhan hidup minimumnya tidak dapat terpenuhi dan tidak dipengaruhi waktu dan tempat. (Ermasari. Sukamdi, and Tukiran 2. Kemiskinan absolut adalah kondisi masyarakat hanya bisa memenuhi kebutuhan makanan, pakaian, dan perumahan pada tingkat kehidupan yang minimum. Kemiskinan dianggap sebagai permasalahan multidimensional yang memiliki dampak ke segala aspek kehidupan seperti ketidakmampuan pemenuhan kebutuhan dasar, fasilitas kesehatan dan pendidikan (Giyarsih 2. Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu indikator penting dalam pengentasan kemiskinan (Banerjee. Banik, and Mukhopadhyay 2. Penelitian di India menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor membantu Negara India dalam mengurangi angka kemiskinan (Nakabashi 2. Selain itu, kebijakan publik sangat diperlukan untuk memberantas kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat seperti pada Negara Brazil (Nakabashi 2. Keadaan sosial ekonomi seseorang dapat mempengaruhi kualitas kesehatannya. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kualitas kesehatan kalangan atas biasanya lebih baik daripada yang berasal dari kalangan bawah atau miskin (Inglis et al. Hal ini dapat disebabkan oleh ketidakmampuan mengakses fasilitas kesehatan (Giyarsih 2. Keadaan sosial ekonomi seseorang atau kemiskinan memiliki pengaruh yang positif signifikan terhadap kasus Tuberkulosis (E. Sihaloho. Alfarizy, and Sagala 2. Kemampuan ekonomi yang buruk memiliki kemungkinan yang tinggi untuk terjangkit Tuberkulosis daripada orang kaya (Bhunu. Mushayabasa, and Smith Penelitian di India juga menemukan bahwa 1105 per 100. 000 populasi orang Journal of Applied Business and Economics (JABE) Vol. 7 No. 3 (Maret 2. 325-337 termiskin terjangkit Tuberkulosis sedangkan hanya 201 orang per 100. 000 orang terkaya terjangkit Tuberkulosis di India (Oxlade and Murray 2. Kepadatan Penduduk Kondisi lingkungan tempat tinggal dapat menjadi salah satu media penyebaran kuman Tuberkulosis, terutama pada lingkungan yang kumuh dan kurang memadai. Notoatmojo S. mengatakan bahwa kuman Tuberkulosis dapat hidup 1-2 jam hingga beberapa hari tergantung dari ada atau tidaknya sinar matahari, ventilasi atau siklus udara yang baik, kelembaban, suhu rumah, dan kepadatan tempat tinggal (Lahabama 2. Kepadatan penduduk dapat menjadi salah satu faktor dalam penyebaran kuman Tuberkulosis karena resiko penularan penyakit melalui udara akan semakin cepat dan mudah (Dotulong. Sapulete, and Kandou 2. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Clark . dan Lienhardt et al . menunjukkan bahwa kejadian Tuberkulosis lebih tinggi terjadi pada masyarakat dengan kepadatan rata-rata perumahan yang lebih tinggi (Srivastava. Kant, and Verma 2. Penelitian lain juga kepadatan penduduk akan menjadikan lebih banyak orang yang rentan untuk terinfeksi (Beggs et al. Tenaga Kesehatan Tenaga kesehatan sangat penting dalam pengentasan permasalahan penyakit dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki (Feather and Johnstone 2. Jumlah tenaga kesehatan yang meningkat dapat mengurangi kesenjangan akses informasi dan kesehatan pada masyarakat (Nunes and Lotta 2. Tenaga kesehatan yang berkualitas juga dapat mengurangi kelemahan implementasi kebijakan mengenai kesehatan. Tenaga kesehatan diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam menurunkan angka kesakitan dengan meningkatkan profesionalitas melalui pelayanan kesehatan yang baik (Usman 2. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa angka kesakitan dan kasus Tuberkulosis dapat berkurang dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan (E. Sihaloho. Alfarizy, and Sagala 2. Tetapi kuantitas tenaga kesehatan harus diikuti oleh kualitas tenaga medis sehingga meningkatkan cakupan pengobatan pasien Tuberkulosis (Efrizon and Iswanto. Penelitian tersebut menunjukkan tenaga kesehatan memberikan pengaruh yang signifikan dengan peningkatan pelayanan pasien yang sebelumnya tidak terjangkau. Penanggulangan Tuberkulosis Sering sekali pemerintah berusaha menyelesaikan masalah kesehatan seperti tuberkulosis tanpa mengatasi akar permasalahannya. Pemerintah berusaha untuk meningkatkan anggaran belanja kesehatan, tetapi lupa terdapat peningkatan jumlah penduduk dan kepadatan penduduk yang sangat tinggi. Peningkatan jumlah penduduk dan kepadatan yang lebih tinggi dibandingkan peningkatan anggaran kesehatan akan menghasilkan anggaran kesehatan per kapita yang lebih rendah. Usaha pemerintah untuk meningkatkan jumlah tenaga kesehatan tetapi tidak diiringi dengan pengendalian pertumbuhan penduduk, juga akan mengakibatkan jumlah tenaga kesehatan per kapita menjadi rendah. Hal ini akan pemerintah tetap kesulitan E. Sihaloho. Amru. Agustina. Tambak/Journal of Applied Business and Economics (JABE) Vol. 7 No. 3 (Maret 2. 325-337 dalam mengatasi berbagai permasalahan kesehatan di Indonesia. Maka untuk mengatasi masalah kesehatan seperti pengentasan masalah tuberkulosis di perlukan pengentasan kemiskinan (E. Sihaloho et al. , n. ), pengendalian kepadatan penduduk (Srivastava. Kant, and Verma 2. , dan peningkatan kuantitas dan kualitas tenaga kesehatan (Efrizon and Iswanto. METODE PENELITIAN Model penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Multiple linear regression (MLR). Model ini digunakan untuk menganalisis hubungan sebuah variabel dependen dan lebih dari satu variabel independen (Greene 2. Data yang digunakan adalah cross-section yang diolah menggunakan STATA 14. Data penelitian yang terdiri dari total kasus TBC, total kemiskinan, kepadatan penduduk dan total tenaga kesehatan di kompilasi dari masing-masing web BPS 431 Kabupaten Kota yang menjadi sample penetitian. Data penelitian 431 kabupaten kota berasal dari 29 Provinsi di Indonesia yaitu Aceh. Sumatera Utara. Sumatera Barat. Jambi. Sumatera Selatan. Bengkulu. Lampung. Jawa Barat. Jawa Tengah. Yogyakarta. Jawa Timur. Kalimantan Barat. Kalimantan Tengah. Kalimantan Selatan. Kalimantan Timur. Sulawesi Utara. Sulawesi Tengah. Sulawesi Selatan. Nusa Tenggara Barat. Nusa Tenggara Timur. Papua . Maluku Utara. Banten. Bangka Belitung. Gorontalo. Kepulauan Riau . Papua Barat. Sulawesi Barat. Kalimantan Utara. Model regresi linear berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah: C = yuya yuya yesycycycycycycyeO yuyc ycycycycycycAyeO yuye ycycycycycycycycycycycycyeO ycyeO yesycycyc Dimana lTBC adalah Logaritma Total Kasus TBC, lTOTMIS adalah Logaritma Total Kemiskinan. KEPPEN adalah Kepadatan Penduduk (Orang/km. THSPERTOTPOP adalah Total Tenaga Kesehatan per Total Populasi (Oran. Model regresi linear berganda pada penelitian ini menggunakan robust agar analisis pada penelitian ini dapat terhindar dari masalah asumsi klasik (Rasheed et al. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Asumsi Klasik Uji Multikolinearitas Variable Ltotmis Thstotpop Keppen Mean VIF VIF 1/VIF Nilai Mean VIF (Variance Inflation Factor. yang dihasilkan model sebesar 1,17. Nilai yang dihasilkan tersebut nominalnya lebih kecil daripada 5, yang menurut kriteria pengujian yang ada, jika nilai Mean VIF (Variance Inflation Factor. lebih kecil daripada 5 maka dalam model ini tidak terdapat masalah Journal of Applied Business and Economics (JABE) Vol. 7 No. 3 (Maret 2. 325-337 Uji Heteroskedastisitas Hasil uji heteroskedastisitas model menggunakan Breusch Pagan test menunjukan nilai Chi2 . LM sebesar 8. 01 dan nilai p-value [Prob > Chi. sebesar Jika nilai p-value dibandingkan dengan nilai maka nilai p-value lebih kecil daripada nilai . Dengan kriteria Breusch Pagan test yang ada, dapat disimpulkan bahwa terdapat masalah heteroskedastisitas dalam model. Hasil Regresi Dengan menggunakan Multiple linear regression (MLR) yang telah robust pada data 431 Kabupaten Kota di 29 Provinsi di Indonesia, berikut adalah kaitan antara variabel bebas terhadap variabel terikat: Number of obs F . Prob > F R-squared Root MSE Coef. Robust Std. Err. P>o t o ltotmis *** keppen*** * p < 0. 1, ** p < 0. 05, *** p < 0. Sumber : Olahan Data Penulis. Stata 14 _cons Hasil regresi diatas menunjukkan bahwa total kemiskinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap total kasus Tuberkulosis di Indonesia. Penambahan 1% orang miskin akan meningkatkan total penderita Tuberkulosis sebanyak 6744342% orang, cateris paribus. Hasil regresi diatas menunjukkan bahwa kepadatan penduduk berpengaruh positif dan signifikan terhadap total kasus Tuberkulosis di Indonesia. Penambahan kepadatan penduduk sebanyak 100 orang dalam per km2 akan meningkatkan peluang pasien baru yang terinfeksi Tuberkulosis sebanyak 0. 0001494 % orang, cateris paribus. Hasil regresi juga menunjukkan bahwa total tenaga kesehatan berpengaruh negatif dan signifikan pada total kasus Tuberkulosis di Indonesia. Peningkatan 1 tenaga kesehatan per 100 penduduk akan mengurangi kasus Tuberkulosis sebanyak 0. 0006143% orang, cateris paribus. Kemiskinan merupakan salah satu penyebab utama meningkatnya jumlah kasus Tuberkulosis terutama pada negara yang sedang berkembang. Hal ini bisa terjadi dikarenakan pendanaan yang tidak memadai dan pelayanan Tuberkulosis yang kurang terakses oleh masyarakat. Faktor sosial ekonomi atau kemiskinan sangat erat hubungannya dengan Tuberkulosis. Apabila menggunakan pendapatan sebagai indikator kemiskinan maka kemiskinan memiliki hubungan yang positif E. Sihaloho. Amru. Agustina. Tambak/Journal of Applied Business and Economics (JABE) Vol. 7 No. 3 (Maret 2. 325-337 dengan angka Tuberkulosis. Hal ini dikarenakan semakin kecil pendapatan seseorang atau semakin miskin seseorang maka kemungkinan tertular Tuberkulosis sangat tinggi karena tidak dapat memenuhi syarat kesehatan yang layak (Manalu Seseorang yang memiliki pendapatan yang tinggi cenderung dapat menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggalnya, meminum air yang bersih dan menjaga kualitas makanan mereka sehingga kecenderungan terjangkit Tuberkulosis rendah (Pradono 2. Status sosial ekonomi yang rendah atau kemiskinan dapat menaikkan kemungkinan tertular Tuberkulosis sehingga dapat disimpulkan kemiskinan memiliki hubungan yang positif dengan angka Tuberkulosis (Bhunu. Mushayabasa, and Smith 2. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan perbaikan standar hidup memiliki efek positif dalam mengurangi angka Tuberkulosis. Pemenuhan kebutuhan nutrisi merupakan salah satu bentuk perbaikan standar hidup masyarakat. Hubungan positif signifikan antara kemiskinan dengan angka Tuberkulosis diberbagai negara yang sedang berkembang. Hasil penelitian yang dilakukan di pedesaan China juga menunjukkan bahwa seseorang dengan pendapatan dan aset rumah tangga yang tinggi memiliki risiko tertular Tuberkulosis yang lebih kecil. Penelitian ini juga menemukan angka Tuberkulosis menurun seiring meningkatnya pendapatan (Jackson et al. Biaya pengobatan Tuberkulosis di sub-Sahara Afrika membuat pasien menunda perawatan penyakit Tuberkulosis dan berpotensi meningkatkan penyebaran penyakit Tuberkulosis ke masyarakat yang lain (Barter et al. Total penduduk miskin juga memiliki hubungan yang positif signifikan dengan angka Tuberkulosis di Kabupaten Kota di Jawa Barat. Pengingkatan kondisi ekonomi daerah yang ditunjukkan pertumbuhan PDRB suatu daerah dapat mengurangi angka Tuberkulosis (E. Sihaloho. Alfarizy, and Sagala 2. Rasio penularan penyakit Tuberkulosis lebih tinggi di kalangan masyarakat ekonomi rendah bahkan lebih besar di Vietnam. Masyarakat kalangan bawah memiliki resiko tertular penyakit Tuberkulosis 2 kali lipat lebih tinggi daripada masyarakat dari kalangan atas(Siroka et al. Kasus di India menunjukkan prevalensi penyakit Tuberkulosis lebih tinggi untuk masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan dibandingkan dengan masyarakat yang berasal dari kelas menengah atas dengan perbandingan 242 per 100. 000 populasi dengan 149 per 100. 000 populasi (Muniyandi and Ramachandran 2. Hubungan positif signifikan antara kemiskinan dengan angka Tuberkulosis juga ditemukan diberbagai kota di negara Maju. Penelitian yang dilakukan pada 334 warga kota Liverpool yang mengidap Tuberkulosis menunjukkan hubungan positif signifikan antara kemiskinan dengan angka Tuberkulosis. Kemiskinan menyebabkan kurangnya asupan nutrisi yang baik dapat membuat daya tahan tubuh rendah sehingga rentan terjangkit Tuberkulosis. Penelitian tersebut juga menunjukkan kemiskinan seiring dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Dengan kepadatan penduduk yang tiggi meningkatkan risiko penularan penyakit termasuk penyakit Tuberkulosis. (Spence et al. Kondisi yang sama juga ditemukan di di Inggris dan Wales. Kemiskinan memiliki pengaruh yang positif signifikan terhadap angka kematian Tuberkulosis, hal ini disebabkan oleh keterbatasan dalam penyediaan pelayanan kesehatan (Elender. Bentham, and Langford 1. Penelitian yang dilakukan pada kota New York tahun 1984-1992 dengan 3. Journal of Applied Business and Economics (JABE) Vol. 7 No. 3 (Maret 2. 325-337 kasus Tuberkulosis menunjukan daerah yang mengalami penurunan pendapatan atau kenaikan tingkat kemiskinan memiliki kenaikan jumlah kasus Tuberkulosis yang lebih besar daripada daerah yang tinkat kemiskinannya rendah (Barr et al. Selain kemiskinan, kepadatan penduduk juga dapat meningkatkan resiko penularan Tuberkulosis. Peningkatan kepadatan penduduk dalam suatu kawasan tempat tinggal akan memperbesar kemungkinan penularan melalui udara (Dotulong. Sapulete, and Kandou 2. Resiko penularan Tuberkulosis umumnya lebih tinggi terjadi di perkotaan daripada di daerah pedesaan. Hal tersebut terjadi karena adanya urbanisasi atau migrasi yang menyebabkan peningkatan kepadatan penduduk dan peningkatan mobilitas di perkotaan. Populasi tersebut cenderung rentan terhadap penularan penyakit Tuberkulosis (Lynnroth et al. Li et al. Dalam penelitian yang dilakukan di Benin. Afrika Barat mengatakan bahwa terdapat hubungan yang sangat kuat antara kasus TB dan kepadatan penduduk di daerah Utara-Selatan (Gninafon. Trybucq, and Rieder 2. Hal yang sama juga terjadi di kabupaten kota yang ada di Jawa Barat. Daerah di Jawa Barat yang memiliki kepadatan penduduk lebih tinggi memiliki resiko peningkatan jumlah kasus Tuberkulosis (E. Sihaloho. Alfarizy, and Sagala 2. Hubungan positif antara kepadatan penduduk dengan peningkatan kasus Tuberkulosis juga terjadi di kota-kota Negara Turki yang memiliki kepadatan penduduk lebih dari 80 orang/km2 memiliki tingkat kejadian TB 4,18 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kota-kota dengan kepadatan penduduk yang lebih rendah (Tanrikulu et al. Hubungan positif antara kepadatan penduduk dengan peningkatan kasus Tuberkulosis juga ditemukan di Naples. Italia (Ponticiello et al. Negara Ghana (Adetunde 2. Negara Brazil (Harling and Castro 2. dan selatan Negara Ethiopia (Dangisso. Datiko, and Lindtjyrn 2. Tenaga kesehatan menjadi kunci utama dalam peanggulangan penyakit. Program pengendalian TB oleh staff kesehatan di Banglades memiliki hasil yang positif dan konsisten terhadap penurunan jumlah kasus Tuberkulosis (Chowdhury et al. Tenaga kesehatan yang terampil di Bengkulu (Hariadi. Iswanto, and Ahmad 2. dan Jawa Barat (E. Sihaloho. Alfarizy, and Sagala 2. juga menunjukkan efek positif dalam mengurangi kasus Tuberkulosis di daerah Terdapat tiga kelompok yang efektif mengurangi kasus Tuberkulosis di Afrika yaitu staff kesehatan klinik, staff kesehatan komunitas, dan sukarelawan (Wilkinson 1. SIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara kemiskinan dan kepadatan penduduk terhadap angka Tuberkulosis di Indonesia. Di sisi lain, jumlah tenaga kesehatan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap angka Tuberkulosis di Indonesia. Jika pemerintah ingin mengatasi masalah Tuberkulosis di Indonesia, maka pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus bekerja sama untuk mengurangi tingkat kemiskinan di daerah kabupaten kota di Indonesia dengan menggunakan anggaran belanja pemerintah yang efisien dan efektif. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah juga perlu memiliki peraturan yang sejalan mengenai peningkatan investasi. Sihaloho. Amru. Agustina. Tambak/Journal of Applied Business and Economics (JABE) Vol. 7 No. 3 (Maret 2. 325-337 pertumbuhan usaha dan industri. Peningkatan jumlah investasi,usaha, dan industri akan meningkatkan kebutuhan tenaga kerja. Semakin banyak permintaan tenaga kerja akan mengurangi pengangguran dan pada akhirnya mengurangi angka Pemerintah juga perlu melakukan penataan secara ketat tempat tinggal para penduduk, mengurangi kepadatan penduduk terutama di kota-kota besar di Indonesia. Jumlah tenaga kesehatan di Indonesia masihlah cukup rendah, dengan tanggung jawab yang besar menyelesaikan banyak masalah kesehatan di Indonesia, pemerintah perlu meningkatkan jumlah staff kesehatan secara merata di seluruh Kabupaten Kota di Indonesia. Journal of Applied Business and Economics (JABE) Vol. 7 No. 3 (Maret 2. DAFTAR PUSTAKA