JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehata. Volume 6. No. Agustu 2022. Page 84-93 ISSN: 2579-7913 IMPLEMENTASI ANALISIS DISKRIMINAN DALAM PENGELOMPOKAN KINERJA PENERAPAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT Sri Suhandiah*. Nining Martiningtyas. Ayuningtyas. 1Fakultas Ekonomi dan Bisnis (Program Studi Manajeme. Universitas Dinamika. Surabaya. Indonesia 2,3Fakultas Teknik Informatika (Program Studi Sistem Informas. Universitas Dinamika. Surabaya. Indonesia email: diah@dinamika. Abstrak Kesehatan merupakan komponen penting dimana penurunan derajat kesehatan akan dapat menimbulkan berbagai kerugian ekonomi. Kabupaten Blitar telah berupaya meningkatkan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di 248 desa/kelurahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengelompokan desa/ kelurahan berdasar capaian keberhasilan penerapan PHBS di kabupaten Blitar. Penelitian dilakukan secara kuantitatif dengan menyampaikan hasil deskriptif kuantitatif dan analisis diskriminan. Banyaknya sampel adalah 153 desa/kelurahan. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara simple dan stratified random sampling, dimana desa/kelurahan dikelompokkan berdasar kategori Indeks Risiko Sanitasi (IRS) desa/kelurahan yang diperoleh dari hasil studi Environmental Health Risk Assessment (EHRA) di kabupaten Blitar. Hasil pengujian menunjukkan bahwa secara umum penerapan PHBS di wilayah Blitar telah cukup baik. Selain itu, kedua fungsi diskriminan yang dibentuk dapat digunakan untuk mengelompokkan capaian penerapan PHBS di desa/kelurahan kabupaten Blitar. Kata Kunci: Kinerja PHBS. Analisis Diskriminan. kabupaten Blitar Abstract Health is a very significant component which is decreased state will cause many economic The Blitar Regency has tried to increase the implementation of Clean and Healthy Life Behavior in 248 villages. This study aims to determine the grouping of villages based on the successful implementation of Clean and Healthy Life Behavior in the Blitar Regency. The research was conducted quantitatively by presenting quantitative descriptive results and discriminant analysis. The number of samples is 153 Villages. Sampling was done by simple and stratified random sampling, in which villages were grouped based on the Sanitation Risk Index (IRS) category of villages obtained from the results of the Environmental Health Risk Assessment (EHRA) study in Blitar Regency. The test findings demonstrate that Clean and Healthy Life Behavior has been successfully implemented in the Blitar area. The two discriminant functions can also be utilized to categorize the successes of the PHBS implementation in the village of Blitar district. Keywords: PHBS performance. Discriminant Analysis. Blitar Regency PENDAHULUAN Kesehatan esensial dari sumber daya manusia yang mendukung produktivitas pekerja dengan kemampuan mental (Bloom et al. , 2. Kesehatan juga merupakan salah satu investasi bagi pembangunan guna untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera (Narain, 2. Penurunan derajat kesehatan akan dapat menimbulkan berbagai kerugian ekonomi dan sebaliknya peningkatan derajat kesehatan akan dapat meningkatkan investasi bagi pembangunan (Sparrow et al. Hal yang sama juga dikatakan oleh Raghupathi and Raghupathi . bahwa meningkatnya kesehatan masyarakat akan sangat berdampak bagi produktifitasnya baik -84- Sri Suhandiah et. Implementasi Analisis Diskriminan dalam Pengelompokan Kinerja Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat secara ekonomi dan secara sosial. Karenanya, kesehatan menjadi tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. Sebagai upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pemerintah Republik Indonesia telah mencanangkan program pembangunan nasional berwawasan kesehatan yang tertuang dalam UndangUndang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Dijelaskan dalam Bab II Pasal 3 bahwa tujuan dari pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang. Dalam mewajibkan masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, dimana kegiatan ini dikenal dengan Praktik Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). PHBS merupakan sekumpulan perilaku yang pada masyarakat untuk hidup sehat sebagai wujud pembelajaran agar dapat menolong diri sendiri dan untuk mewujudkan lingkungan masyarakat yang sehat (Wati and Ridlo. PHBS menjadi langkah penting agar setiap orang dapat mencapai derajat kesehatannya secara optimal (Julianingsih. Karjoso and Harahap, 2. Keterwujudan PHBS dapat tercapai melalui pemberdayaan masyarakat melalui sumber daya yang dimilikinya dalam upaya menerapkan PHBS sehari-hari (Shalahuddin. Rosidin and Nurhakim, 2. Rencana Strategis (Renstr. Kementerian Kesehatan tahun 2020 Ae 2024 menyampaikan bahwa sebagai upaya untuk melanjutkan renstra sebelumnya, yaitu renstra tahun 2015-2019 mengenai praktik PHBS kabupaten/kota dapat menerapkan kebijakan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). GERMAS merupakan upaya pembudayaan perilaku hidup sehat pada Adapun peningkatannya adalah sebesar 50% (Kemenkes RI, 2. Target tersebut diharapkan dapat dicapai melalui tersedianya sarana-sarana disediakan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, khususnya untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam praktik PHBS di tingkat rumah tangga yang ada di wilayah kabupaten dan kota. Selain itu, data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2020 menyebutkan bahwa derajat kesehatan masyarakat secara nasional mulai membaik meskipun belum menjangkau seluruh penduduk sebagaimana yang dicanangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (Kemenkes RI, 2. Ketercapaian secara nasional ini akan menjangkau ke seluruh penduduk bila kabupaten dan kota semakin meningkatkan dukungannya pada program pemerintah. Penelitian mengenai ketercapaian PHBS dapat dilakukan dengan mengevaluasi indikator-indikator PHBS dalam skala rumah tangga. PHBS pada skala rumah memberdayakan anggota rumah tangga yang dilakukan untuk mencegah dan melindungi diri dari risiko terjadinya penyakit dan juga berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat (Maulany. Yusuf and Hengky. Studi mengenai PHBS telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya dalam wilayah yang sangat terbatas dan untuk melihat penggunaan indikator PHBS dan faktorfaktor yang mempengaruhinya seperti faktor pengetahuan keluarga (Kamisorei, 2017. Fadila and Rachmayanti, 2. Selanjutnya, agar dapat mengetahui capaian program PHBS skala rumah tangga yang lebih menyeluruh maka diperlukan penelitian dengan lingkup yang lebih luas cakupannya seperti di tingkat kabupaten dan kota. Hasilnya diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menilai capaian keberhasilan program tersebut di tingkat kabupaten dan kota. Kabupaten Blitar adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang memiliki jumlah desa/kelurahan sebanyak 248 desa/kelurahan. Salah satu isu strategis yang disampaikan di dalam dokumen Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar Tahun 2016-2021 adalah masih belum optimalnya kemandirian masyarakat untuk mempengaruhi kurangnya hidup sehat. Sebagai contoh, hasil penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa salah satu faktor yang -85- Sri Suhandiah et. Implementasi Analisis Diskriminan dalam Pengelompokan Kinerja Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat mempengaruhi kurang optimalnya PHBS di Blitar penggunaan air bersih (Lestari, 2. Untuk itu, pemerintah kabupaten Blitar berusaha menggenjot pembangunan kesehatannya. Salah satu usaha untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan masyarakat dalam penerapan PHBS (Dinkes Kabupaten Blitar, 2. Penelitian mengenai program PHBS di kabupaten Blitar masih terbatas. Penelitian sebelumnya telah dilakukan di desa Balerejo (Lestari, 2. dan di kelurahan Pakunden (Saputro, 2. Untuk itu menambah penelitian mengenai penerapan PHBS di kabupaten Blitar maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari pengelompokan desa dan kelurahan berdasar capaian keberhasilan penerapan PHBS di kabupaten Blitar, dengan menggunakan analisis diskriminan. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dimana sampel penelitian yang diambil adalah desa dan kelurahan yang ada di wilayah kabupaten Blitar. Jawa Timur, yang diambil sampai dengan Agustus 2020. Banyaknya sampel ditentukan dengan menggunakan metode Slovin dan diperoleh hasil banyaknya desa/kelurahan. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara simple random sampling dan stratified random sampling, dimana desa/kelurahan dikelompokkan berdasar kategori Indeks Risiko Sanitasi (IRS) desa/kelurahan yang diperoleh dari hasil studi Environmental Health Risk Assessment (EHRA) di kabupaten Blitar. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif yang menjelaskan gambaran tentang desa/kelurahan di kabupaten Blitar yang menjadi objek penelitian dengan cara menguraikan data-data yang diperoleh sebagaimana adanya. Selain itu, digunakan Analisis diskriminan digunakan untuk mengklasifikasikan objek, dengan satu set variabel independen, ke dalam salah satu dari dua atau lebih kategori yang saling eksklusif dan lengkap (Alayande and Adekunle, 2. Dalam penelitian ini, analisis diskriminan digunakan untuk mengklasifikasikan atau mengelompokkan desa/kelurahan di kabupaten Blitar desa/kelurahan dengan capaian Kurang Baik. Cukup Baik, dan Baik dalam penerapan PHBS. Variabel tak bebas/terikat (Y) adalah variabel Capaian Penerapan PHBS di desa/kelurahan yang diukur dengan dengan skala ordinal, dimana variabel ini menunjukkan ukuran penerapan PHBS rumah tangga di desa/kelurahan. Selain itu, dalam penelitian ini terdapat empat variabel bebas dengan skala pengukuran rasio, yaitu variabel Capaian dalam Penggunaan Sumber Air Bersih (X. Capaian dalam Penerapan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) (X. Capaian dalam Penggunaan Jamban Sehat (X. , dan Capaian dalam hal Bebas dari BABs (X. Variabel bebas X1 adalah ukuran yang menyatakan persentase masyarakat di desa/kelurahan dalam penggunaan sumber air bersih untuk kebutuhan sehari-hari di rumah tangga, dengan indikator penggunaan sumber air yang tidak tercemar. Variabel bebas X2 adalah ukuran yang menyatakan persentase masyarakat di desa/kelurahan dalam penerapan CTPS di lingkungan rumah tangga, dengan indikator lima waktu penting melaksanakan CTPS yaitu sebelum makan, sesudah Buang Air Besar (BAB), sebelum memegang bayi, setelah menceboki anak, dan sebelum menyiapkan makanan, serta tersedianya sabun di luar atau di dekat Variabel bebas X3 adalah ukuran yang menyatakan persentase masyarakat di desa/kelurahan dalam penggunaan jamban sehat di lingkungan rumah tangga, dengan indikator jamban yang digunakan di rumah tangga adalah jamban yang tidak mengotori permukaan tanah di sekeliling jamban tersebut, tidak mengotori air permukaan dan air tanah di sekitarnya, tidak dapat terjangkau oleh serangga . alat, keco. , serta tidak menimbulkan bau dan mudah Variabel bebas X4 adalah ukuran yang menyatakan persentase masyarakat di -86- Sri Suhandiah et. Implementasi Analisis Diskriminan dalam Pengelompokan Kinerja Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat desa/kelurahan yang tidak melakukan BABs (Buang Air Besar sembaranga. , dengan indikator rumah tangga tidak melakukan BAB. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Deskriptif Hasil pengolahan data dapat dilihat pada Tabel 1, dimana menjelaskan hasil menjelaskan gambaran tentang desa/ kelurahan di kabupaten Blitar yang menjadi objek penelitian dengan cara menguraikan data-data yang diperoleh sebagaimana Berdasar Tabel 1 dapat dijelaskan bahwa terdapat 153 desa/kelurahan yang menjadi obyek penelitian. Terlihat bahwa rata-rata capaian desa/kelurahan dalam penerapan PHBS adalah sebesar 59,66% dengan Std. Deviation 9,96%. Capaian minimum dalam penerapan PHBS adalah 25% dan capaian maksimum sebesar 87,66%. Tabel 1. Statistik Deskriptif Capaian desa/kelurahan dalam penggunaan Sumber Air Bersih . alam perse. Capaian desa/Kelurahan dalam penerapan CTPS . alam perse. Capaian desa/Kelurahan dalam penggunaan jamban sehat rumah tangga . alam perse. Capaian desa/Kelurahan dalam penerapan tidak ada BABs . alam perse. Capaian desa/Kelurahan dalam penerapan PHBS . alam perse. Valid N . Std. Minimum Maximum Mean Deviation Tabel 2. Jumlah Desa/Kelurahan Berdasar Kecamatan Kecamatan Bakung Binangun Doko Gandusari Garum Kademangan Kanigoro Kesamben Nglegok Panggungrejo Ponggok Sanan Kulon Selopuro Selorejo Srengat Sutojayan Talun Udanawu Wates Wlingi Wonodadi Wonotirto Total Frequency Percent Cumulative (Percen. -87- Sri Suhandiah et. Implementasi Analisis Diskriminan dalam Pengelompokan Kinerja Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Berdasar Tabel 2 terlihat bahwa terdapat 22 Kecamatan dengan jumlah desa/kelurahan Kecamatan Srengat mempunyai jumlah desa/kelurahan terbanyak yang terpilih sebagai objek penelitian, yaitu Sedangkan. Kecamatan Wonotirto mempunyai jumlah desa/ kelurahan yang terpilih sebagai objek penelitian, yaitu sebesar 2%. Hal ini mengindikasikan bahwa matriks varians-kovarians variable bebas pada ketiga kelompok adalah sama. Dengan demikian, maka asumsi telah terpenuhi. Analisis Diskriminan Analisis menentukan klasifikasi atau kelompok desa/kelurahan di kabupaten Blitar berdasar capaian penerapan PHBS. Pengklasifikasian dikelompokkan menjadi 3, yaitu Baik. Cukup Baik, dan Kurang. salah satu asumsi yang harus dipenuhi dalam melakukan analisis adalah adanya variabel bebas X1. X2. X3, dan X4 yang berdistribusi normal multivariat (Johnson and Wichern, 2. Hasil pengolahan dengan menggunakan software SPSS pada Gambar 1 menunjukkan scatter-plot membentuk garis lurus. Hal ini dapat disimpulkan bahwa data berasal dari sampel yang terdistribusi normal multivariat, dengan kata lain bahwa asumsi telah Asumsi lain yang harus dipenuhi dalam analisis diskriminan adalah matriks varianskovarians variabel bebas pada ketiga kelompok harus sama. Pengujian dilakukan dengan menggunakan uji kesamaan matriks varians-kovarians BoxAos M. Hasil pengolahan SPSS diperoleh nilai Sig. > 0. 05, seperti yang ditunjukkan pada Tabel Gambar 1. Scatter-Plot Hasil Uji Normalitas Data Tabel 3. Hasil Uji Kesamaan Matriks Varians-Kovarians BoxAos M Test Results Box's M Approx. Sig. Tests null hypothesis of equal population covariance matrices. Tabel 4. Variables Entered/Removeda,b,c,d Min. D Squared Statistic Step Entered 1 Capaian desa/kelurahan dalam penerapan CTPS 2 Capaian desa/kelurahan dalam penerapan tidak ada BABs 3 Capaian desa/kelurahan dalam penggunaan Sumber Air Bersih 4 Capaian desa/kelurahan dalam penggunaan jamban sehat rumah Between Groups Kurang Baik dan Cukup Baik Cukup Baik dan Baik Cukup Baik dan Baik Cukup Baik dan Baik Exact F Statistic df1 Sig. 451E-5 990E-25 107E-25 576E-25 -88- Sri Suhandiah et. Implementasi Analisis Diskriminan dalam Pengelompokan Kinerja Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat At each step, the variable that maximizes the Mahalanobis distance between the two closest groups is entered. Maximum number of steps is 8. Maximum significance of F to enter is . Minimum significance of F to remove is . F level, tolerance, or VIN insufficient for further computation. Proses pemasukan variabel ke dalam fungsi diskriminan didasarkan pada angka WilksAo Lambda seperti yang disajikan pada pada Tabel 5. Pada step 1, terlihat bahwa terdapat 1 variabel yang dimasukkan yaitu variable X2 (Capaian desa/kelurahan dalam penerapan CTPS) dengan angka WilksAo Lambda adalah 0. Berikutnya, step 2 (Capaian desa/kelurahan dalam penerapan tidak ada BAB. dengan angka WilksAo Lambda turun Step 3 ditambahkan variable (Capaian desa/kelurahan penggunaan Sumber Air Bersi. dengan angka WilksAo Lambda 0. Terakhir adalah step 4 dengan menambahkan variable (Capaian desa/kelurahan penggunaan jamban sehat rumah tangg. dengan angka WilksAo Lambda 0. Terlihat juga bahwa nilai Sig. untuk keempat step menunjukkan 0. 000 < 0. Hal signifikan secara statistik. Tabel 4 menunjukkan variabelvariabel bebas yang akan dimasukkan dalam fungsi diskriminan. Terlihat bahwa variable capaian desa/kelurahan dalam penggunaan Sumber Air Bersih (X. dengan nilai Sig. 000 < 0. 05, capaian desa/kelurahan dalam penerapan CTPS (X. dengan nilai Sig. 000 < 0. 05, capaian desa/kelurahan dalam penggunaan Jamban Sehat (X. dengan nilai Sig. 000 < 0. 05, dan capaian desa/kelurahan dalam hal bebas dari BAB (X. dengan nilai Sig. 000 < 0. Hal ini menunjukkan bahwa keempat variabel tersebut dapat dimasukkan dalam fungsi Tabel 5. Wilks' Lambda Step Number of Variables Lambda Berdasar pada hasil analisis data, akan dibentuk 2 . fungsi diskriminan, dimana fungsi diskriminan ke-1 digunakan untuk menentukan termasuk dalam kelompok Kurang Baik atau kelompok cukup Baik. Sedangkan, fungsi diskriminan ke-2 digunakan untuk menentukan termasuk dalam kelompok Cukup Baik atau kelompok Baik. Dari hasil pengujian perbedaan antar kelompok desa/kelurahan yang disampaikan Exact F Statistic Sig. pada Tabel 6 memperlihatkan bahwa pada kolom Canonical Correlation untuk fungsi diskriminan ke-1 menunjukkan angka 0. yang berarti hubungan diskriminan score dengan kelompok mempunyai keeratan yang Sedangkan, pada fungsi diskriminan ke-2 menunjukkan angka 0. 223 yang berarti keeratannya rendah. Namun demikian, kedua fungsi diskriminan tetap digunakan untuk analisis berikutnya. -89- Sri Suhandiah et. Implementasi Analisis Diskriminan dalam Pengelompokan Kinerja Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Tabel 6. Summary of Canonical Discriminant Functions Function Eigenvalue % of Variance Cumulative % First 2 canonical discriminant functions were used in the analysis. Penamaan kedua fungsi diskriminan didasarkan pada hasil pengolahan data yang tertulis dalam Tabel 7, dimana fungsi diskriminan ke-1 adalah: Canonical Correlation Z_1 = -9,439 0,031 X1 0,067 X2 0,021 X3 0,053 X4 dan fungsi diskriminan ke-2 adalah: Z_2 = -0,630 0,055 X1 0,055 X2 Ae 0,074 X3 Ae 0,003 X4. Tabel 7. Canonical Discriminant Function Coefficients Capaian desa/kelurahan dalam penggunaan Sumber Air Bersih . alam perse. Capaian desa/kelurahan dalam penerapan CTPS . alam perse. Capaian desa/kelurahan dalam penggunaan jamban sehat rumah tangga . alam perse. Capaian desa/kelurahan dalam penerapan tidak ada BABs . alam perse. (Constan. Unstandardized coefficients Untuk desa/kelurahan dalam pengklasifikasian capaian penerapan PHBS dapat digunakan Territorial Map, karena akan menjadi lebih efektif untuk menentukan batas-batas penempatan sebuah data berdasar sumbu X . ungsi diskriminan ke-. dan sumbu Y . ungsi diskriminan ke-. pada kelompok Gambar 2 menunjukkan Territorial Map untuk dua fungsi diskriminan dan tiga kelompok capaian penerapan PHBS desa/kelurahan. Kelompok Kurang Baik sebagian besar berada di bagian kiri map, anggota kelompok Cukup Baik sebagian besar berada di bagian tengah map, dan bagian kanan map merupakan pembagian daerah untuk kelompok Baik. Berdasar hasil pengolahan data, diperoleh pula nilai centroid dari masing-masing Function kelompok yang disajikan pada Tabel 8. Dimana, terdapat 3 . centroid yaitu centroid pertama menunjukkan rata-rata dari semua data desa/kelurahan yang ada di kelompok Kurang Baik, centroid kedua menunjukkan rata-rata dari semua data desa/kelurahan yang ada di kelompok Cukup Baik, dan centroid ketiga menunjukkan ratarata dari semua data desa/kelurahan yang ada di kelompok Baik. Adapun centroid untuk kelompok Kurang Baik 370 pada fungsi diskriminan ke-1 dan -1,150 pada fungsi diskriminan ke-2, titik centroid untuk kelompok Cukup Baik 514 pada fungsi diskriminan ke-1 116 pada fungsi diskriminan ke-2, dan titik centroid untuk kelompok Baik adalah 868 pada fungsi diskriminan ke-1 dan 0,116 pada fungsi diskriminan ke-2. -90- Sri Suhandiah et. Implementasi Analisis Diskriminan dalam Pengelompokan Kinerja Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 1 Kurang Baik. 2 Cukup Baik. 3 Baik *Indicates a group centroid Gambar 2 Territorial Map Capaian Penerapan PHBS Tabel 8. Functions at Group Centroids Function Klasifikasi pencapaian penerapan praktik PHBS Kurang Baik Cukup Baik Baik Unstandardized canonical discriminant functions evaluated at group means Komposisi anggota masing-masing kelompok disajikan pada Tabel 9, dimana 27% desa/kelurahan yang termasuk dalam kelompok Kurang Baik, 71% desa/kelurahan yang termasuk dalam kelompok Cukup Baik, dan 26% desa/kelurahan yang termasuk dalam kelompok Baik. Dengan demikian, maka sebagian besar desa/kelurahan termasuk cukup baik dalam pencapaian penerapan PHBS. Adapun desa/kelurahan yang termasuk dalam kelompok Kurang Baik adalah berada pada wilayah Kunir. Dawuhan. Kaligrenjeng. Kedungwungu, dan Sumberarum. Tabel 9. Prior Probabilities for Groups Cases Used in Analysis Klasifikasi pencapaian penerapan praktik PHBS Kurang Baik Cukup Baik Baik Total Prior Unweighted Weighted -91- Sri Suhandiah et. Implementasi Analisis Diskriminan dalam Pengelompokan Kinerja Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Hasil diskriminan dapat dilihat pada Tabel 10, dimana dijelaskan bahwa 83. 7% data telah terkelompok dengan benar. Artinya bahwa 7% dari 153 desa/kelurahan yang menjadi objek penelitian telah dimasukkan pada kelompok yang sesuai dengan data Selain itu, jika dilihat pada hasil validasi silang terlihat bahwa 81% data telah terkelompok dengan benar. Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa fungsi dikriminan dan territorial map yang terbentuk dapat dianggap layak untuk desa/kelurahan dalam hal pencapaian penerapan PHBS di wilayahnya. Dengan kata lain, karena hasil validasi lebih dari 50%, maka fungsi diskriminan yang mengelompokkan desa/kelurahan dalam hal pencapaian penerapan PHBS di wilayahnya. Tabel 10. Classification Resultsb,c Predicted Group Membership Klasifikasi Pencapaian Kurang Cukup Penerapan Praktik PHBS Baik Baik Baik Total Original Count Kurang Baik Cukup Baik Baik Kurang Baik Cukup Baik Baik CrossCount Kurang Baik Cukup Baik Baik Kurang Baik Cukup Baik Baik Cross validation is done only for those cases in the analysis. In cross validation, each case is classified by the functions derived from all cases other than that case. 7% of original grouped cases correctly classified. 0% of cross-validated grouped cases correctly classified. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasar dilakukan, maka hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang desa/kelurahan kabupaten Blitar dalam hal pencapaian penerapan PHBS. Dari dua fungsi diskriminan yang terbentuk diperoleh hasil bahwa kedua fungsi diskriminan tersebut dapat digunakan untuk mengelompokkan capaian penerapan PHBS di Desa/Kelurahan wilayah kabupaten Blitar. Secara umum diperoleh gambaran bahwa penerapan PHBS di wilayah Blitar telah cukup baik. Dari hasil uji yang telah dilakukan dapat disarankan adanya upaya-upaya peningkatan pada lima wilayah desa/ kelurahan yang dikatagorikan kurang baik, dan meningkatkan penerapan PHBS desa/ kelurahan dengan kategori cukup baik menjadi baik. REFERENSI