Indonesian Dental Association Journal of Indonesian Dental Association http://jurnal. id/index. php/jida ISSN: 2621-6183 (Prin. ISSN: 2621-6175 (Onlin. Literature Review Knowledge. Attitudes, and Practice of Green Dentistry: A Scoping Review Lia Hapsari Andayani1A. Abdul Gani Soulissa1. Joey Danwieck2 1 Department of Preventive and Public Health Dentistry. Faculty of Dentistry. Universitas Trisakti. Indonesia 2 Faculty of Dentistry. Universitas Trisakti. Indonesia KEYWORDS green dentistry. dental students ABSTRACT One of the things that contribute to global warming and environmental damage is medical waste from dental practice. Green Dentistry is an eco-friendly concept of dental practice. Green Dentistry is present as a solution to preserve natural resources, reducing energy use and lessen the waste produced. This study aimed to obtain an overview of knowledge, attitudes, and practice of green dentistry among dentists and dental students. This scoping review uses a literature search on the Google Scholar database guided by PRISMA. The study population was dentists and dental students. Inclusion criteria were observational studies on green dentistry published during 2018 - 2022 in English and Indonesian language. Articles were selected based on tittle, abstract and full text. Extracted data was presented in tables and summarized for an overview of evidence. From 88 articles obtained, 11 articles were included in this review. Each article contains knowledge, attitudes and practice regarding green dentistry, eco-friendly practices in dental clinic, and medical waste management. Each article uses a questionnaire with various number of domains and items. Knowledge, attitudes, and practice of dentists and dental students regarding green dentistry are still not evenly distributed. Postgraduate dentists were found to have better knowledge. Barriers that were often encountered are cost factors and lack of training or information. Knowledge regarding green dentistry concept among dentist and dental students still needs to be improved. Providing information about specific actions related to the concept of green dentistry is necessary. A Corresponding Author E-mail address: lia@trisakti. id (Andayani LH) DOI: 10. 32793/jida. Copyright: A2024 Andayani LH. Soulissa AG. Danwieck J. This is an open access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium provided the original author and sources are credited. Journal of Indonesian Dental Association 2024 7. , 46-54 KATA KUNCI green dentistry. dokter gigi. mahasiswa kedokteran gigi Andayani LH, et al. ABSTRAK Salah satu faktor penyebab terjadinya pemanasan global dan kerusakan lingkungan adalah limbah medis dari praktik kedokteran gigi. Green Dentistry merupakan konsep praktik kedokteran gigi yang ramah lingkungan. Green Dentistry merupakan solusi untuk mengurangi pemakaian sumber daya alam, penggunaan energi, serta produksi limbah medis. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran terkait pengetahuan, sikap dan penerapan tentang green dentistry diantara dokter gigi dan mahasiswa kedokteran gigi. Scoping review ini menggunakan penelusuran pustaka pada database Google Scholar dilakukan dengan berpedoman pada PRISMA. Populasi penelitian adalah dokter gigi dan mahasiswa kedokteran Kriteria inklusi adalah studi observasional mengenai green dentistry yang diterbitkan antara tahun 2018 - 2022 dalam Bahasa Inggris dan Indonesia. Artikel diseleksi berdasarkan judul, abstrak, dan teks lengkap. Data hasil ekstraksi disajikan dalam bentuk tabel dan dirangkum untuk menghasilkan gambaran. Dari total 88 artikel yang didapatkan, sebanyak 11 artikel dapat disertakan dalam penelaahan. Setiap artikel membahas tentang pengetahuan, sikap dan tindakan terkait green dentistry, jenis praktik kedokteran gigi ramah lingkungan serta pengelolaan limbah medis yang dilakukan. Setiap artikel menggunakan kuesioner dengan jumlah domain serta item yang bervariasi. Pengetahuan, sikap, maupun tindakan dokter gigi dan mahasiswa kedokteran gigi terkait konsep green dentistry masih belum merata. Dokter gigi lulusan pascasarjana memiliki pengetahuan yang lebih baik. Hambatan yang sering ditemui adalah faktor biaya dan kurangnya pelatihan atau informasi. Pengetahuan terkait konsep green dentistry diantara dokter gigi dan mahasiswa kedokteran gigi masih sangat perlu untuk Pemberian informasi tentang langkah-langkah terkait konsep green dentistry secara spesifik sangat diperlukan. penurunan kualitas air, pencemaran air akibat bahan yang terkandung dalam limbah, pencemaran udara yang semakin tinggi, keadaan tanah yang semakin tidak subur, dan lain sebagainya. Bidang kedokteran gigi merupakan salah satu penyumbang limbah medis di setiap kegiatan praktik kedokterannya, walaupun limbah yang dihasilkan tidak sebanyak penyedia layanan kesehatan lainnya, namun limbah yang dihasilkan juga dapat menimbulkan masalah yang serius bagi lingkungan. 6 Limbah yang dihasilkan dari kedokteran gigi dapat berupa fixer x-ray, bahan sterilisasi, amalgam, chair barrier, patient bib, sisa potongan tubuh . igi dan jaringan yang diekstraks. , kawat gigi, dan bahan serta alat yang memiliki potensi infeksius bagi lingkungan. 7 Menurut perkiraan oleh sistem pemeriksaan limbah medis di Amerika Serikat, dokter gigi menghasilkan kurang lebih 3% dari total limbah medis yang dapat merusak lingkungan jika tidak diolah dengan baik dan benar. 8 Terutama sejak menyebarnya wabah COVID-19, limbah medis dalam jumlah besar dihasilkan sebagai bentuk dari upaya tenaga kesehatan dalam menjalankan tugasnya untuk mengendalikan wabah tersebut. Menurut World Health Organization (WHO), limbah medis dapat berupa limbah infeksius, limbah benda tajam, limbah patologis, limbah kimia, limbah farmasi, limbah toksik, limbah radioaktif, dan juga limbah yang tidak berbahaya atau limbah umum. 10 Oleh karena itu, dokter gigi memiliki tanggung jawab untuk mengendalikan serta melakukan manajemen terhadap limbah yang diproduksi untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan sekitar. 11,12 PENDAHULUAN Pada delapan tahun terakhir, menurut World Meteorological Organization (WMO), suhu di dunia tercatat delapan kali lebih panas. Hal ini dipicu oleh konsentrasi gas rumah kaca dan akumulasi suhu panas yang terus meningkat. Data menyatakan, suhu rata-rata global pada tahun 2022 diperkirakan sekitar 1,15 . ,021,. AC di atas rata-rata tahun 1850-1900. 1 Tingkat keparahan yang ditimbulkan dari pemanasan global ini akan sangat berkaitan dengan aktivitas manusia di masa yang akan datang. Lebih banyak emisi gas rumah kaca, maka menimbulkan lebih banyak iklim ekstrim serta efek merusak yang lebih luas. 2 Salah satu yang menyebabkan pemanasan global adalah limbah. Limbah merupakan produk dari suatu proses usaha atau kegiatan yang sudah terbuang dan tidak terpakai yang dapat menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan sekitar dan makhluk Limbah padat dapat berkontribusi secara langsung terhadap emisi gas rumah kaca melalui gas metana yang diproduksi dari pembusukkan limbah di tempat pembuangan sampah, dan emisi gas dinitrogen oksida (N2O) dari fasilitas pembakaran limbah padat. Kedua gas yang dihasilkan ini memiliki potensi yang tinggi terhadap pemanasan global, yang mana gas metana memiliki potensi pemanasan 21 kali lipat dari karbon dioksida dan dinitrogen oksida memiliki potensi pemanasan 310 kali 4 Selain dampaknya terhadap pemanasan global, limbah juga dapat merusak lingkungan, apabila pengelolaannya tidak dilakukan dengan baik. Masalah lingkungan yang dapat terjadi antara lain berupa Journal of Indonesian Dental Association 2024 7. , 46-54 Andayani LH, et al. Green dentistry hadir sebagai sebuah solusi yang dapat diterapkan oleh para dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokterannya dengan melakukan penggunaan air dan energi, serta meminimalisir limbah kedokteran gigi yang dihasilkan. Hal ini merupakan cara yang inovatif dalam mengurangi efek dari limbah kedokteran gigi terhadap lingkungan. 13 Dalam konsep green dentistry terdapat 4 aspek yang perlu dicermati yaitu rethink, reduce, reuse, dan recycle. 14 Konsep inilah yang nantinya perlu diketahui dan dilaksanakan bukan hanya oleh dokter gigi, melainkan juga mahasiswa kedokteran gigi yang nantinya akan melakukan praktik sehingga mampu mengendalikan dan mengelola limbah dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan mahasiswa kedokteran gigi dan dokter gigi terhadap green dentistry. memenuhi kriteria inklusi. Tahap selanjutnya adalah meninjau isi artikel secara keseluruhan untuk menetukan eligibilitas untuk dapat disertakan. Seluruh artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi akan dimasukkan ke dalam tabel ekstraksi data berdasarkan judul artikel, nama peneliti dan tahun, desain studi, lokasi penelitian, jumlah sampel, alat ukur, dan hasil penelitian. HASIL Pencarian melalui database Google Scholar dengan memasukan Boolean Search mendapatkan hasil 88 Setelah menghapus duplikat berdasarkan judul kemudian diperoleh 83 artikel. Setelah dilakukan peninjauan dengan membaca abstrak kemudian terseleksi 19 artikel, dimana 7 artikel dieksklusi karena tidak sesuai dengan kriteria PCC, sehingga hanya didapatkan 12 Pada akhirnya, total artikel yang disertakan pada penelitian ini adalah 11 artikel, dimana terdapat 1 artikel yang dieksklusikan karena tidak tersedia dalam bentuk full text. Hasil dapat dilihat pada diagram PRISMA (Gambar . Dari 11 artikel yang diperoleh, sebanyak 3 artikel membahas mengenai pengetahuan, sikap dan tindakan terhadap green dentistry, 1 artikel membahas pengetahuan dan sikap terhadap green dentistry, 1 artikel hanya membahas pengetahuan terhadap green dentistry, 1 artikel tentang praktik eco-friendly di klinik, dan 5 artikel tentang pengelolaan limbah. Apabila ditinjau berdasarkan subjek penelitian, terdapat 7 artikel yang subjeknya terdiri dari dokter gigi/dokter gigi spesialis, 3 gigi/mahasiswa sarjana/pascasarjana dan 1 artikel bersubjek mahasiswa program studi kedokteran gigi. Setelah itu artikel-artikel tersebut dimasukkan ke dalam tabel ekstraksi data (Tabel BAHAN DAN METODE Penelitian artikel ini menggunakan metode scoping Penelusuran pustaka menggunakan kriteria population, concept, context (PCC). Population dalam penelitian ini yaitu dokter gigi baik umum maupun spesialis, serta mahasiswa kedokteran gigi dari seluruh program studi. Concept dalam penelitian ini adalah mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan tindakan terkait green dentistry dalam praktik kedokteran gigi. Context penelitian ini adalah green dentistry. Penyaringan artikel dilakukan secara sistematis dengan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analyses (PRISMA) yang kemudian disesuaikan dengan kriteria inklusi dan Kriteria inklusi yaitu artikel yang membahas tentang pengetahuan, sikap, dan tindakan dokter gigi dan mahasiswa kedokteran gigi mengenai green dentistry yang diterbitkan selama rentang tahun 2018 - 2022 dan ditulis dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Kriteria eksklusi yaitu artikel yang tidak dapat diakses secara lengkap. Pencarian artikel dilakukan pada database Google Scholar menggunakan Boolean search berupa . nowledge OR awarenes. AND . ttitude OR perspectiv. AND . ractice OR implementatio. AND ("green dentistry" OR "eco-friendly dentistry" OR "sustainable dentistry") AND . entists OR "dental practitioners" OR "dental professionals" OR "dental students"). Hasil penelusuran kemudian dimasukkan ke diagram PRISMA (Gambar . Jumlah artikel yang didapatkan dari pencarian awal adalah sebanyak 88 artikel. Seluruh artikel diseleksi oleh 3 orang peneliti secara bersamaan, sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Perbedaan pendapat antar peneliti diselesaikan dengan diskusi dan Setelah diseleksi berdasarkan duplikasi, dilakukan seleksi berdasarkan judul dan abstrak yang Gambar 1. Diagram alur PRISMA. Journal of Indonesian Dental Association 2024 7. , 46-54 Andayani LH, et al. Tabel 1. Ekstraksi data Judul Nama Peneliti dan Tahun Desain Studi Lokasi Penelitian Jumlah Sampel Alat Ukur Hasil Penelitian Knowledge. Verma S, et al. Cross-sectional Attitude, and (Observasional Practice of Green Dentistry among Dental Professionals of Bhopal City: A Cross-sectional Survey Kota Bhopal. India 200 dokter gigi yang terdiri dari mahasiswa pasca sarjana, lulusan pascasarjana, dan lulusan sarjana kedokteran gigi yang sudah berpraktik Assessment of Knowledge. Attitude, and Implementation of Green Dentistry among Dental Practitioners in Chennai Kota Chennai. India 174 dokter gigi . ulusan sarjana maupun Assessment of Nagarale R, et al. awareness, attitude . and practices regarding ecofriendly dentistry among dental professionals in Pune city of Maharashtra Evaluation of the Parakh A, et al. Knowledge & Attitude of Dental Practitioners on Green Dentistry in Navi Mumbai Ae A Cross Sectional Study Dental Perspective Srinivasan K . on Biomedical Waste and ManagementAeA Knowledge. Attitude, and Practice Survey: A Cross-sectional Study Cross-sectional (Observasional Kota Pune. Maharashtra. India 252 dokter gigi spesialis ataupun umum Cross-sectional (Observasional Navi. Mumbai, 253 dokter gigi India Kuesioner terdiri dari 11 pertanyaan . lose ended Ditemukan sebanyak 65,6% dan 68,4% dokter gigi menggunakan gelas dan kain sekali pakai di klinik mereka, 83,4% dokter gigi mendukung penggunaan digital radiografi dibandingkan konvensional. Terdapat 72,7% dokter gigi yang setuju untuk menggunakan gelas besi dan kain/handuk, 94,9% dokter gigi percaya bahwa green practice mendorong kelestarian lingkungan dan merupakan suatu kebutuhan saat ini, dan 100% dokter gigi siap beralih ke praktik yang bersifat eco friendly. Cross-sectional (Observasional Kota Vellore. Tamil Nadu. India Kuesioner terdiri dari 53 pertanyaan untuk menilai pengetahuan, sikap, dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar dokter gigi tidak mengetahui proses dari pengelolaan limbah biomedis . %), sedangkan sekitar setengah dari subjek memiliki pengetahuan yang cukup/ sedang mengenai daur ulang/ penggunaan kembali dari bahan kedokteran gigi. Pallavi C, et al. Cross-sectional (Observasional 150 dokter gigi yang berpraktik dan sudah Kuesioner terdiri dari 20 Tingkat pengetahuan dan tindakan dokter gigi mengenai green dentistry pertanyaan . pertanyaan masih kurang. Ditemukan sebanyak 81,5% dokter gigi yang sedang pengetahuan dan 10 menempuh pendidikan pascasarjana, 52,2% doker gigi lulusan pasca pertanyaan tindaka. sarjana, dan 48,4% dokter gigi lulusan sarjana sudah pernah mendengar istilah green dentistry . =0,. Dokter gigi lulusan pascasarjana memiliki tingkat pengetahuan mengenai green dentistry yang lebih baik dibandingkan dengan dokter gigi lulusan sarjana dan dokter gigi yang sedang menempuh pendidikan pascasarjana. Kurangnya pengetahuan yang cukup adalah salah satu faktor utama yang mempengaruhi penerapan green dentistry . =0,. Kuesioner terdiri dari 15 Tingkat pengetahuan dokter gigi mengenai green dentistry cukup tinggi pertanyaan gabungan namun tingkat penerapannya pada praktik kedokteran gigi masih belum terkait pengetahuan dan adekuat. Dokter gigi lulusan pascasarjana . ,6%) memiliki tingkat pengetahuan green dentistry yang lebih baik secara signifikan jika dibandingkan dengan dokter gigi lulusan sarjana . %) dengan nilai p=0,02. Akan tetapi, 60,9% dokter gigi masih belum menerapkan metode ramah lingkungan pada saat berpraktik di klinik. Persentase dokter gigi lulusan pascasarjana dan sarjana yang sudah menerapkan metode ramah lingkungan yaitu berturut-turut sebesar 45,3% dan 29,4% . =0,. Kuesioner terdiri dari 24 Ditemukan sebanyak 90. 47% dokter gigi mengetahui konsep ecopertanyaan untuk menilai dentistry. Menurut 61,9% dokter gigi, dibutuhkan pendidikan secara kesadaran, sikap dan formal mengenai eco-dentistry. 67,46% dokter gigi sudah menerapkan praktik yang berkaitan strategi penghematan energi secara efisien di klinik. dengan green dentistry Journal of Indonesian Dental Association 2024 7. , 46-54 Andayani LH, et al. Tabel 1. Ekstraksi data Judul Nama Peneliti dan Tahun Desain Studi Lokasi Penelitian Environmental practices in portuguese dental Neves CB, et al. Cross-sectional (Observasional Portugal Gambaran Tingkat Salim RC, et al. Cross-sectional Pengetahuan (Observasional Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Tentang Konsep Green Dentistry : Kajian pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi semester 7 (Laporan Penelitia. Diagnosis of the De Alencar TES, et. al Cross-sectional . perception of (Observasional professionals about radiographic waste and their risks Indonesia Brazil Jumlah Sampel Alat Ukur Hasil Penelitian 245 direktur klinik Kuesioner mengenai Hasil dari penelitian ini terdapat tingkat implementasi dari praktik eco (Dokter gigi atau Dokter implementasi praktik eco friendly yang tinggi terkait dengan radiografi . ,6%), amalgam . ,7%), spesialis penyakit mulu. friendly di klinik dalam penggunaan air . ,5%), penggunaan energi . ,4%), kertas . ,4%), serta enam kategori perangkat dan peralatan medis . ,9%). Hampir seluruh responden . %) manajemen: perangkat dan menganggap bahwa praktik yang bersifat eco friendly penting atau sangat peralatan medis, amalgam, penting, dan hambatan yang lebih sering ditemukan adalah mengenai imaging, kertas, energi, biaya . ,6%) dan kurangnya pelatihan/informasi . ,3%). dan air, pendapat subjek mengenai pentingnya, minat, dan manfaat praktik eco friendly di klinik gigi, dan hambatan dalam Seluruh mahasiswa Penelitian ini Ditemukan sebanyak 78 mahasiswa . ,9%) tidak pernah mendengar Program Studi Pendidikan menggunakan kuesioner istilah konsep Green Dentistry dan hanya sejumlah 64 mahasiswa . ,1%) berbentuk pilihan Dokter Gigi semester 7 yang pernah mendengar konsep tersebut. Didapatkan hasil 28 mahasiswa yang berjumlah 179 orang berganda yang berjumlah . ,71%) memiliki tingkat pengetahuan yang baik, 74 mahasiswa 14 pertanyaan, dan terdiri . ,11%) memiliki tingkat pengetahuan yang cukup, dan 40 mahasiswa dari 4 pilihan jawaban (A, . ,16%) memiliki tingkat pengetahuan yang kurang. 80 Ahli bedah gigi Kuesioner terstruktur. Terdapat 83,7% responden setuju bahwa kedokteran gigi berkontribusi berisi pertanyaan terkait pencemaran dan degradasi lingkungan, tetapi 16,3% responden tidak tahun kelulusan, tingkat setuju. 77,6% responden menyatakan bahwa asisten yang bekerja di bawah kesadaran lingkungan, dan pengawasan mereka memiliki pengetahuan tentang pengelolaan limbah pertanyaan terkait kesehatan yang baik. 81,6% responden mengakui bahwa mereka pembuangan limbah membuang film radiografi sesuai dengan arahan, sementara 18,4% membuangnya di tempat pembuangan sampah umum. Penggunaan radiografi intraoral berisiko bagi lingkungan. Aktivitas ini dapat dianggap berisiko tinggi dan sedang terhadap lingkungan, tergantung pada cara penanganan dan pembuangannya. Risiko yang ditimbulkan dapat berupa fisik . %) sehubungan dengan penggunaan sinar-X dan kimia . %) berupa kontaminan dalam larutan developer dan fixer yang mengandung logam berat dan perak. Journal of Indonesian Dental Association 2024 7. , 46-54 Andayani LH, et al. Tabel 1. Ekstraksi data Judul Nama Peneliti dan Tahun Desain Studi Assessment of Puri S, et al . awareness about various dental waste practices among dental students and practicing clinicians Cross-sectional (Observasional The relationship Febrian, et al . between dentist knowledge regarding green dentistry to the practice of managing dental clinical waste Cross-sectional (Observasional Awareness of Dental Kamran MA, et al Undergraduates. Post . Graduates and Dental Practitioners' about Dental and Biomedical Waste Management Cross-sectional (Observasional Lokasi Penelitian Jumlah Sampel Alat Ukur Hasil Penelitian Manipal, 200 responden . Kuesioner tertutup yang 55,9% responden memiliki pengetahuan tentang penanganan limbah terdiri dari 25 pertanyaan rumah sakit. Mayoritas responden . ,9%) mengetahui kategori limbah Karnataka. India pascasarjana, yang dari lima domain yaitu, terdaftar di Manipal kedokteran gigi yang dihasilkan. 89,8% responden setuju bahwa "aspek hukum limbah College of Dental pengelolaan limbah biomedis harus dijadikan latihan praktis di sekolah biomedis", "langkahSciences, pada tahun kedokteran gigi dan 32,3% responden mengetahui teknik ramah 2017-2018 dan dokter gigi langkah pengelolaan lingkungan untuk mengubah sampah organik menjadi produk lain yang limbah", "kategori limbah berguna secara komersial. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam yang berlatih secara perawatan gigiAy. Aubahaya nilai rata-rata skor total sehubungan dengan jenis kelamin dan kualifikasi mandiri di area praktik umum dari pembuangan . =0,511 dan p=0,. Namun, skor rata-rata pengetahuan tentang lapangan sekola. limbah yang tidak tepatAy pengelolaan limbah medis secara signifikan lebih tinggi pada mahasiswa dan Aupertanyaan khusus pascasarjana . =0,. bahan/proses tertentuAy. Bukittinggi, 37 dokter gigi Kuesioner yang terdiri dari 75,7% dokter gigi memiliki pengetahuan yang tinggi mengenai green Indonesia 20 pertanyaan . dentistry, sementara itu 24,3% dokter gigi masih memiliki pengetahuan pertanyaan tentang yang rendah. Persentase yang serupa ditemukan pada tindakan dokter gigi pengetahuan green dalam pengelolaan limbah di tempat praktik, yaitu 75,7% dokter gigi dentistry dan 9 sudah melakukan tindakan pengelolaan limbah yang baik. 70,27% dokter pengetahuan umum yang gigi memiliki pengetahuan green dentistry yang tinggi, disertai tindakan ada kaitannya dengan pengelolaan limbah yang baik. Terdapat hubungan yang signifikan antara green dentistr. dan check pengetahuan green dentistry dokter gigi dan tindakan pengelolaan limbah list yang digunakan untuk di tempat praktik . <0,. mengamati tindakan responden yang terdiri dari 30 pertanyaan. Karachi, 273 responden yang terdiri Kuesioner yang terdiri dari Hampir 64,4 % . responden tidak mengetahui aturan pengelolaan Pakistan dari mahasiswa sarjana, 25 pertanyaan dari lima limbah kedokteran gigi gigi. Hanya 67,7% . = . responden pascasarjana dan dokter bidang, yaitu "aspek etika menyatakan bahwa mereka mengetahui kategori limbah kedokteran gigi. limbah biomedis", gigi umum Karachi Sekitar 95,5% . responden merekomendasikan lokakarya dan "tahapan pengelolaan Medical and Dental seminar pendidikan kedokteran berkelanjutan untuk pengelolaan limbah. limbah", "kategori limbah Dibandingkan dengan mahasiswa sarjana, mahasiswa pascasarjana College and Liaquat College of Medicine and perawatan gigi", "bahaya memiliki pengetahuan tentang metode yang benar untuk membuang umum pembuangan Dentistry. Karachi limbah kedokteran gigi yang lebih tinggi secara signifikan . =0,. limbah yang tidak tepat". Namun, secara keseluruhan tingkat pengetahuan pengelolaan limbah yang dan "peralatan khusus ramah lingkungan masih kurang. yang relevan". Journal of Indonesian Dental Association 2024 7. , 46-54 Andayani LH, et al. dokter gigi lulusan sarjana dan dokter gigi yang sedang menempuh pendidikan pascasarjana. 16 Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Pallavi et al. , yaitu dokter gigi lulusan pascasarjana . ,6%) memiliki tingkat pengetahuan green dentistry yang lebih baik secara signifikan jika dibandingkan dengan dokter gigi lulusan sarjana . %) dengan nilai p=0,02. Dokter gigi lulusan pascasarjana memiliki pengalaman praktik yang lebih lama sehingga tingkat pengetahuannya juga menjadi lebih tinggi. Menurut hasil penelitian Verma et al. , kurangnya pengetahuan yang memadai adalah faktor utama yang mempengaruhi penerapan green dentistry . =0,. Pengetahuan atau kognitif merupakan ranah yang sangat penting dalam terbentuknya perilaku seseorang. Pada penelitian Nagarale et al. , sebesar 61,9% dokter gigi berpendapat bahwa dibutuhkan pendidikan secara formal mengenai green dentistry untuk meningkatkan pengetahuan dokter gigi sejak dini. Selain pengetahuan, terdapat faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi perilaku seseorang, seperti lingkungan fisik. tersedia atau tidak tersedianya fasilitas maupun sarana dan prasarana. sikap dan perilaku orang dan lain-lain. 20 Persentase mahasiswa atau dokter gigi yang sudah menerapkan green dentistry juga bervariasi di antara penelitian-penelitian yang pernah Pallavi et al. mengemukakan bahwa sebesar 60,9% dokter gigi masih belum menerapkan konsep green dentistry ketika berpraktik di klinik. Persentase dokter gigi lulusan pascasarjana dan sarjana yang sudah menerapkan konsep green dentistry, yaitu berturut-turut sebesar 45,3% dan 29,4% . =0,. 19 Hal tersebut tidak sejalan dengan penelitian Nagarale et al. menemukan sebesar 67,46% dokter gigi sudah menerapkan strategi penghematan energi secara efisien di Penelitian lain oleh Parakh et al. sebanyak 65,6% dan 68,4% dokter gigi menggunakan gelas dan kain sekali pakai di klinik. Akan tetapi, 72,7% dokter gigi setuju untuk menggunakan gelas besi dan kain/handuk yang dapat digunakan berulang kali. Selain itu, 83,4% dokter gigi mendukung penggunaan radiografi digital dibandingkan konvensional. Hal tersebut menunjukkan mayoritas dokter gigi pada penelitian tersebut memiliki sikap yang positif terhadap green Berbeda dengan penelitian oleh Neves et al. menemukan tingkat implementasi praktik green dentistry yang tinggi terkait dengan radiografi . ,6%), amalgam . ,7%), air . ,5%), energi . ,4%), kertas . ,4%), serta perangkat dan peralatan medis . ,9%). Tingginya persentase penerapan praktik green dentistry tersebut mungkin disebabkan oleh persyaratan hukum yang ada untuk klinik gigi di wilayah terkait. PEMBAHASAN Green dentistry adalah tren baru yang muncul dalam bidang kedokteran gigi. Hal ini melibatkan pendekatan teknologi mutakhir, yang dapat mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan karena praktik kedokteran Konsep penting dari praktik berbasis green dentistry terdiri dari konservasi air dan energi. penggunaan produk tidak berbahaya dan beracun. pengurangan dan pengelolaan limbah. penghentian penularan berisiko tinggi yang berdampak buruk pada manusia serta dan mendorong penggunaan produk ramah Dikarenakan merupakan suatu tren yang baru, pengetahuan akan adanya istilah green dentistry di kalangan dokter gigi maupun mahasiswa kedokteran gigi masih belum merata. Sebuah penelitian India mengemukakan bahwa sebanyak 81,5% dokter gigi yang sedang menempuh pendidikan pascasarjana, 52,2% dokter gigi lulusan pasca sarjana, dan 48,4% dokter gigi lulusan sarjana pernah mendengar istilah green 16 Adapun penelitian lain oleh dengan subjek mahasiswa kedokteran gigi di Indonesia menunjukkan bahwa terdapat 78 mahasiswa . ,9%) yang tidak pernah mendengar istilah green dentistry dan hanya 64 mahasiswa . ,1%) yang pernah mendengar konsep 17 Sementara itu, hampir seluruh dokter gigi . ,47%) di India mengetahui istilah green dentistry. Akan tetapi, mahasiswa ataupun dokter gigi yang pernah mendengar istilah green dentistry, belum tentu memiliki pengetahuan yang baik mengenai konsep tersebut. Berdasarkan hasil penelitian ini, tingkat pengetahuan mahasiswa ataupun dokter gigi tentang green dentistry sangat bervariasi. Penelitian oleh Salim et al. mengemukakan bahwa hanya sebesar 19,71% mahasiswa memiliki tingkat pengetahuan yang baik, sedangkan 52,11% dan 28,16% mahasiswa memiliki tingkat pengetahuan yang cukup dan kurang. Adapun penelitian oleh Verma et al. menemukan tingkat pengetahuan dokter gigi mengenai green dentistry masih kurang. 16 Namun, hal tersebut bertolak belakang dengan penelitian Pallavi et al. menyatakan bahwa tingkat pengetahuan dokter gigi cukup tinggi. 19 Adanya perbedaan tingkat pengetahuan baik pada mahasiswa maupun dokter gigi dapat disebabkan oleh adanya mahasiswa atau dokter gigi yang sudah dan belum terpapar dengan penjelasan konsep green dentistry melalui perkuliahan sesuai kurikulum, jurnal, sosialisasi, atau seminar. 17 Selain itu, jenis kuesioner yang digunakan pada setiap penelitian juga berbeda, sehingga penilaian skornya juga berbeda. Tingkat pengetahuan yang berbeda juga ditemukan pada dokter gigi dengan tingkat pendidikan yang Menurut Verma et al. , dokter gigi lulusan pascasarjana memiliki tingkat pengetahuan mengenai green dentistry yang lebih baik dibandingkan dengan Journal of Indonesian Dental Association 2024 7. , 46-54 Andayani LH, et al. Penerapan konsep green dentistry selama praktik merupakan hal yang sangat penting karena mendorong kelestarian lingkungan dan juga kesejahteraan manusia. Penelitian Parakh et al. mengemukakan bahwa hampir seluruh dokter gigi yang terlibat . ,9%) menganggap bahwa praktik yang bersifat eco-friendly merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan dan seluruh dokter gigi siap untuk melaksanakannya. 21 Hal yang serupa juga ditemukan pada penelitian Neves et al. , yaitu hampir semua dokter gigi . %) menganggap bahwa praktik yang bersifat eco-friendly penting untuk dilaksanakan, meskipun terkadang terdapat kendala. Hambatan yang paling sering ditemukan adalah biaya . ,6%) dan kurangnya pelatihan/informasi . ,3%). Hambatan biaya dapat diatasi dengan program pendanaan nasional dari Pemerintah juga dapat mempertimbangkan pengurangan pajak sebagai insentif untuk klinik gigi yang menerapkan praktik green dentistry. Salah satu yang menjadi pusat permasalahan dalam konsep Green Dentistry adalah pengelolaan limbah. Limbah kedokteran mengambil bagian yang cukup besar dari seluruh limbah di bumi. 23 Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh Alencar et al. di Brazil yang menunjukkan bahwa sebanyak 83,7% ahli bedah gigi setuju bahwa limbah kedokteran gigi berkontribusi pada pencemaran/degradasi lingkungan dan sebanyak 48% sangat percaya bahwa film sinar-X dapat menjadi sampah yang berbahaya. Pengetahuan mengenai pengolahan limbah yang baik dan benar sangat diperlukan oleh seluruh tenaga medis. Penelitian yang dilakukan oleh Febrian, et al. menunjukkan bahwa sebesar 70,27% dokter gigi memiliki pengetahuan mengenai tindakan pengelolaan limbah yang baik. 23 Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Alencar et al. yang menunjukkan bahwa sebanyak 77,6% asisten kesehatan mulut memiliki pengetahuan tentang pengelolaan limbah kesehatan yang benar. Adapun penelitian oleh Puri et al. yang menunjukkan bahwa sebanyak 55,9% subjek cukup memiliki pengetahuan dalam penanganan limbah rumah sakit serta mayoritas ahli bedah gigi . ,9%) mengetahui kategori limbah gigi yang dihasilkan. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kamran et al. kepada mahasiswa sarjana, pascasarjana dan dokter gigi umum di Karachi yang menunjukkan bahwa sebanyak 64,4% . tidak mengetahui aturan pengelolaan limbah kedokteran gigi dan hanya sebanyak 67,7% . = . yang menyatakan bahwa mereka mengetahui kategori limbah kedokteran 26 Hal ini juga tidak sejalan dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa sebagian besar dokter gigi . %) tidak mengetahui proses dari limbah biomedis. Pengetahuan seseorang mengenai pengolahan limbah dapat bervariasi berdasarkan tingkat pendidikan. Penelitian oleh Kamran, et al. menunjukkan bahwa dibandingkan dengan mahasiswa sarjana, mahasiswa pascasarjana memiliki pengetahuan tentang metode yang benar untuk membuang limbah kedokteran gigi yang lebih tinggi secara signifikan . =0,. Namun, secara keseluruhan tingkat pengetahuan pengelolaan limbah yang ramah lingkungan masih kurang. Pada penelitian ini juga menunjukan bahwa sekitar 95,5% . merekomendasikan lokakarya dan seminar pendidikan kedokteran berkelanjutan untuk pengelolaan limbah. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Puri et al. menunjukkan bahwa 89,8% siswa setuju bahwa pengelolaan limbah biomedis harus dijadikan latihan praktis di sekolah kedokteran gigi untuk mengurangi Aukesenjangan pengetahuanAy antara sarjana dan Limbah yang terus bertambah harus diimbangi oleh perilaku pengelolaan limbah yang tepat yaitu perilaku yang tidak mengakibatkan pencemaran dan degradasi 28 Penelitian yang dilakukan oleh Febrian et menunjukkan bahwa sebesar 75,7% dokter gigi sudah melakukan tindakan pengelolaan limbah dengan baik di tempat praktik. 23 Adapun penelitian lain yang dilakukan oleh Alencar et al. menunjukkan bahwa sebanyak 81,6% ahli bedah gigi mengakui bahwa mereka membuang film radiografi yang telah digunakan sesuai dengan arahan . elakukan pembuangan dengan bena. sementara 18,4% membuangnya di tempat pembuangan sampah Penggunaan radiografi intraoral berisiko bagi Aktivitas ini dapat dianggap berisiko tinggi dan sedang terhadap lingkungan, tergantung pada cara penanganan dan pembuangannya. Risiko yang ditimbulkan dapat berupa fisik . %) sehubungan dengan penggunaan sinar-X dan kimia . %) berupa kontaminan dalam larutan developer dan fixer yang mengandung logam berat dan perak. KESIMPULAN Tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan dokter gigi maupun mahasiswa kedokteran gigi di dunia terkait konsep green dentistry masih belum merata. Dokter gigi lulusan pascasarjana ditemukan memiliki pengetahuan yang lebih baik dibandingkan dokter gigi lulusan sarjana. Salah satu aspek penting dalam konsep green dentistry adalah pengelolaan limbah yang ramah lingkungan. Secara keseluruhan tingkat pengetahuan tentang metode pengelolaan limbah yang ramah lingkungan masih perlu Hambatan yang dapat ditemui dalam pelaksanaan green dentistry dalam praktik kedokteran gigi adalah faktor biaya dan kurangnya pengetahuan, pelatihan ataupun pemberian informasi. Pengetahuan terkait konsep green dentistry diantara dokter gigi dan mahasiswa kedokteran gigi masih sangat perlu untuk Pemberian informasi tentang langkahlangkah terkait konsep green dentistry secara spesifik sangat diperlukan. KONFLIK KEPENTINGAN Tidak terdapat konflik kepentingan dalam penelitian ini. Journal of Indonesian Dental Association 2024 7. , 46-54 Andayani LH, et al. Sachdeva A. Sharma A. Bhateja S. Arora G. Green Dentistry: Review. Dent Oral Biol. :1144. ISSN:2475-5680 Verma S. Jain A. Thakur R. Maran S. Kale A. Sagar K, et Knowledge. Attitude, and Practice of Green Dentistry among Dental Professionals of Bhopal City: A Crosectional Survey. J Clin Diagn Res. :ZC09ZC13 Salim RC. Asia A. Gambaran Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Tentang Konsep Green Dentistry: Kajian pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi semester 7 (Laporan Penelitia. JKGT. 3:51-57 Nagarale R. Todkar M. Shaikh NJ. Shaikh SS. Wani NM. Assessment of awareness, attitude and practices regarding eco-friendly dentistry among dental professionals in Pune city of Maharashtra. Int J Appl Dent Sci. :140144 Pallavi C. Moses J. Joybell C C. Sekhar KP. Assessment of knowledge, attitude, and implementation of green dentistry among dental practitioners in Chennai. J Oral Res Rev. 12:6-10. Notoatmodjo. Soekidjo. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Parakh A. Mody J. Sahasrabudhe RV. Sotaa B. Simran. Balhara, et al. Evaluation of the Knowledge & Attitude of Dental Practitioners on Green Dentistry in Navi Mumbai Ae A Cross Sectional Study. IOSR J Dent Med Sci. :34-42. Neves CB. Santos N. Mendes S. Environmental sustainability practices in portuguese dental clinics. Rev Port Estomatol Med Dent Cir Maxilofac. Febrian F. Khairani C. Hubungan antara pengetahuan dokter gigi tentang green dentistry terhadap tindakan pengelolaan limbah tempat praktik The relationship between dentist knowledge regarding green dentistry to the practice of managing dental clinical waste. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students. 2020 Apr 4. :68-74. De Alencar TE. De Melo DD. Lins EA. Virgynia K. Botelho G. De Alencar ME. Diagnosis of the perception of dentistry professionals about radiographic waste and their Researchgate Net. :130-134. Puri S. Smriti K. Pentapati KC. Singh R. Vineetha R. Tamrakar A. Assessment of awareness about various dental waste management practices among dental students and practicing clinicians. Pesquisa Brasileira em Odontopediatria e Clynica Integrada. 2020 Jan 13. Kamran MA. Zareef U. Ahmed T. Rasool R. Khan N. Kashif M. Awareness of Dental Undergraduates. Post Graduates and Dental Practitioners' about Dental and Biomedical Waste Management. Journal of Liaquat University of Medical & Health Sciences. 2022 Apr 21. :50-4. Srinivasan K. Dental Perspective on Biomedical Waste and ManagementAeA Knowledge. Attitude, and Practice Survey: A Cross-sectional Study. Journal homepage: in Indian J Dent Adv. 2019 Jan 1. :1-2. Dewi O. Sukendi S. Siregar YI. Nazriati E. Analisis Limbah Medis Layanan Kesehatan Gigi Mandiri dan Potensi Pencemarannya di Kota Pekanbaru. Dinamika Lingkungan Indonesia. 2019 Jan. :14-9. REFERENSI