Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1320-1328 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Impelementasi Manajemen Kurikulum Pesantren dalam Membentuk Karakter Mandiri Santri (Studi Kasus Pondok Pesantren Modern Primag. Irfan maulana. Maemunah SaAodiyah. Bahruddin Universitas Ibnu Khaldun irfanjakarta789@gmail. com, maemunah@uika-bogor. id , bahuddin@uika. ABSTRACT Forming an independent character in students is a challenging task as they are accustomed to receiving attention and being dependent on their parents, which can result in them becoming spoiled and lazy when they enter the environment of Islamic boarding schools. Hence, it is crucial to have effective curriculum management to foster the development of students' independent character. The aim of this study was to examine the implementation of curriculum management at the Primago Modern Islamic Boarding School and the strategies employed to shape students' independent character. A qualitative approach with a descriptive research design was employed, and data were collected through descriptions and illustrations. The findings revealed that the management of the pesantren curriculum is closely associated with the management functions known as POAC: planning, organizing, implementing, and These functions have been successfully implemented at the Primago Modern Islamic Boarding School. Moreover, efforts to nurture students' independent character at the school include programs such as fish farming and entrepreneurship, along with the cultivation of habits that encourage students to undertake various activities independently while being closely supervised by the boarding school caretakers. The implication is that the development of this independent character will equip students with valuable skills and qualities for their future lives beyond the boarding school environment, allowing them to become self-reliant individuals. Keywords: management, pesantren curriculum, independent character ABSTRAK Membentuk karakter mandiri pada santri merupakan tugas yang menantang karena mereka terbiasa menerima perhatian dan bergantung pada orang tua, yang dapat mengakibatkan mereka menjadi manja dan malas ketika memasuki lingkungan pesantren. Oleh karena itu, sangat penting untuk memiliki manajemen kurikulum yang efektif untuk mendorong pengembangan karakter mandiri siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji implementasi manajemen kurikulum di Pondok Pesantren Modern Primago dan strategi yang digunakan untuk membentuk karakter kemandirian santri. Pendekatan kualitatif dengan desain penelitian deskriptif digunakan, dan data dikumpulkan melalui deskripsi dan ilustrasi. Temuan mengungkapkan bahwa manajemen kurikulum pesantren sangat terkait dengan fungsi manajemen yang dikenal sebagai POAC: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Fungsi-fungsi tersebut telah berhasil diimplementasikan di Pondok Pesantren Modern Primago. Selain itu, upaya untuk menumbuhkan karakter kemandirian siswa di sekolah meliputi program-program seperti budidaya ikan dan kewirausahaan, serta penanaman kebiasaan yang mendorong siswa untuk 1320 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1320-1328 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. melakukan berbagai kegiatan secara mandiri sambil diawasi secara ketat oleh pengasuh Implikasinya, pengembangan karakter mandiri ini akan membekali santri dengan keterampilan dan kualitas yang berharga untuk kehidupannya di masa mendatang di luar lingkungan pesantren, sehingga menjadi pribadi yang mandiri. Kata kunci: manajemen, kurikulum pesantren, karakter mandiri PENDAHULUAN Dalam idealnya, manajemen kurikulum adalah suatu sistem yang melibatkan pengelolaan secara komprehensif, kooperatif, sistematis, dan sistemik guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum itu sendiri . assalwa and Syarafah. Keberhasilan suatu lembaga Pesantren sangat bergantung pada implementasi manajemen kurikulum yang baik, karena manajemen kurikulum yang ideal memiliki peran penting dalam persiapan kegiatan pembelajaran di setiap lembaga pendidikan. Kurikulum sendiri mencakup nilai-nilai yang diwujudkan dalam tujuan pembelajaran dan karakteristik mata pelajaran (Mubarok, 2. Kurikulum yang ideal adalah panduan yang ideal yang mencerminkan harapan yang tercantum dalam dokumen kurikulum Pondok Pesantren (Siti, 2. Pondok Pesantren memiliki peran yang sangat penting sebagai basis pendidikan Islam yang sangat diperlukan dalam kehidupan dan perkembangan bangsa (Huda, 2. Namun, kenyataannya menunjukkan bahwa manajemen kurikulum saat ini masih jauh dari ideal. Banyak lembaga pendidikan masih mengadopsi pendekatan "dadakan" atau "kebiasaan" dalam manajemen kurikulum. Terutama, ketika berhubungan dengan pengembangan kurikulum yang mencakup karakter sebagai isu yang baru muncul. Salah satu tantangan dalam manajemen kurikulum terkait pendidikan karakter adalah perumusan kurikulum pendidikan karakter yang masih dipengaruhi oleh kepentingan politik kelompok tertentu. Selain itu, kurikulum pendidikan karakter juga sering kali tumpang tindih dengan kurikulum pendidikan kewarganegaraan, pendidikan Pancasila, dan pendidikan agama (S. Julaeha, 2. Penelitian yang relevan mengenai manajemen kurikulum pondok pesantren telah dilakukan sebelumnya. Beberapa penelitian menggaris bawahi pentingnya pengembangan manajemen kurikulum dengan penekanan pada aspek sistematis, universal, dan holistik (N. Huda , 2. serta mengacu pada pedoman manajemen kurikulum pusat (Y. Yuhasnil , 2. Penelitian juga menekankan pentingnya perencanaan yang mempersiapkan berbagai faktor pendukung keberhasilan, pelaksanaan yang sesuai dengan rencana, dan evaluasi yang disesuaikan dengan perencanaan dan pelaksanaan sesuai kurikulum kepesantrenan (M Choiriah, 2. Penelitian lain menunjukkan bahwa nilai karakter dapat ditanamkan melalui kegiatan ekstrakurikuler, seperti pramuka (Sari. Akhwani. Hidayat and Rahayu, 2. Penelitian yang akan dilakukan oleh penulis bertujuan untuk mengungkap bagaimana penanaman karakter dalam diri santri melalui aktivitas sehari-hari di pondok Penelitian ini akan berfokus pada manajemen kurikulum pondok pesantren dan bagaimana hal tersebut membentuk karakter santri di Pondok Pesantren Modern Primago. Depok Jawa Barat. 1321 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1320-1328 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif, di mana data yang dikumpulkan berupa deskripsi dan ilustrasi, bukan data berbentuk Laporan penelitian ini berisi kutipan data yang disertai dengan deskripsi yang disampaikan oleh penulis. Data penelitian diperoleh melalui wawancara, observasi lapangan, dan dokumentasi, yang kemudian dicatat dan dideskripsikan (L. J Moleong. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis data dengan menggunakan pendekatan kualitatif, sehingga penulis dapat memiliki pemahaman yang lebih mendalam terhadap subjek penelitian. Pendekatan ini memungkinkan penulis untuk lebih terlibat dan dekat dengan subjek penelitian. Ini memungkinkan penulis untuk mengumpulkan data penelitian dengan lebih mudah, berinteraksi dengan subjek penelitian, dan memfasilitasi dalam mendeskripsikan data penelitian dengan lebih baik. Penulis melakukan penelitian tentang pelaksanaan manajemen kurikulum di Pondok Pesantren Modern Primago yang bertujuan untuk membentuk karakter mandiri santri. Data penelitian diperoleh melalui observasi dengan mengunjungi dan menyambangi pembina pesantren, wawancara, dan dokumentasi di lokasi penelitian (A. Suharsimi, 2. Observasi yang dilakukan adalah observasi non-partisipan, di mana penulis bertindak sebagai pengamat yang tidak terlibat secara aktif. Peneliti sendiri bukan anggota yayasan atau guru di pondok pesantren tersebut, sehingga catatan lapangan dapat dibuat secara objektif. Wawancara yang dilakukan juga bersifat tidak terstruktur untuk mendapatkan informasi yang lebih HASIL DAN PEMBAHASAN Manajemen Kurikulum Pesantren dalam Membentuk Karakter Santri Manajemen dan kurikulum memiliki keterkaitan yang erat dan tidak dapat Perkembangan kurikulum dari waktu ke waktu menjadi isu yang terus berkembang, dan perubahan dalam kurikulum dapat menjadi tantangan dalam implementasinya di lembaga pendidikan pesantren. Ketika membahas manajemen kurikulum pesantren, tidak dapat terlepas dari fungsi-fungsi manajemen yang dikenal sebagai POAC, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi (Maduretno and Fajri, 2. Pelaksanaan manajemen kurikulum melibatkan tahapan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi (Harun and ibrahim , 2. Menurut Fathurrochman dan Irwan, manajemen pesantren melibatkan efisiensi sumber daya kurikulum, memberikan kesempatan peserta didik untuk mencapai hasil yang maksimal, memaksimalkan pembelajaran peserta didik secara efektif dan efisien, meningkatkan kinerja guru dan aktivitas siswa dalam pembelajaran, serta melibatkan partisipasi masyarakat (Farthurrochman , 2. Indana dkk juga menyatakan bahwa manajemen kurikulum pesantren melibatkan perencanaan materi dan waktu pengajaran melalui musyawarah dengan pembina, stakeholder, dan ustadz/ustadzah, pelaksanaan pembelajaran sesuai petunjuk lembaga, serta evaluasi pembelajaran terkait dengan hasil dan faktor pendukung dan penghambat (Nurvita, 2020 ) 1322 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1320-1328 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Pondok pesantren modern Primago, yang didirikan oleh Ustaz Nur Julizar dan Ustaz Awaluddin Faj pada tahun 2016 di Depok. Jawa Barat, merupakan lembaga yang independen dan tidak terafiliasi dengan partai politik atau organisasi lainnya. Tujuan utama lembaga ini adalah memberikan pendidikan dan pengajaran yang komunikatif, efektif dalam mendidik, dan membimbing santri oleh pembina selama mereka tinggal di asrama. Konsep pesantren memiliki arti yang berbeda, misalnya "pesantren" berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari dua kata, yaitu "Sa" yang berarti orang yang berperilaku baik, dan "Tra" yang berarti suka (A Ghozali, 2. Di sisi lain, kata "pesantren" juga berasal dari kata dasar "santri" yang ditambahkan awalan "pe" dan akhiran "an", yang mengindikasikan tempat tinggal para santri. Pesantren dapat diartikan sebagai tempat di mana seseorang belajar agama Islam melalui pendidikan tertentu (Imran , 2. Pembaharuan yang diperlukan di pesantren meliputi pembaharuan horizontal dalam sistem pendidikan dan manajemen pesantren, termasuk jenis, jenjang, dan sumber daya pendidikan. Pembaharuan jenis pendidikan mencakup pengenalan jenis pendidikan lain selain pendidikan agama, seperti pendidikan akademik atau pendidikan kejuruan (Sa'diyah, 2. Perencanaan dalam manajemen kurikulum Pesantren Perencanaan dalam kurikulum pesantren memiliki tujuan untuk membuat prediksi yang akurat guna kemajuan pesantren dan pembentukan karakter mandiri Perencanaan memainkan peran yang penting dan krusial dalam manajemen kurikulum, karena melalui perencanaan, harapan dan aspirasi yang diletakkan jauh ke depan dapat mendorong pengambilan keputusan yang mendukung pencapaian tujuan pendidikan karakter mandiri santri. Sebagai manajer di Pondok Pesantren Modern Primago. Ustadz atau pembina pondok pesantren harus mampu mengelola kurikulum dan menciptakan iklim pesantren yang mencerminkan lingkungan belajar yang efektif (A. Mundiri and I. Zahra, 2. Pondok Pesantren Modern Primago di Depok. Jawa Barat, saat ini menghadapi tantangan globalisasi dan modernisasi yang mendorong adaptasi. Sebagai respons, beberapa pesantren mengadopsi model pesantren modern yang juga membawa perubahan dalam manajemen kurikulum. Manajemen kurikulum di Pondok Pesantren Modern Primago di Depok. Jawa Barat, sangat diperlukan untuk bersaing dalam era globalisasi dan menjadi dasar untuk masa depan pondok pesantren, sehingga dapat beroperasi secara efektif sesuai dengan visi, misi, dan tujuan yang telah ditetapkan. Pendirian Pondok Pesantren Modern Primago di Depok. Jawa Barat, merupakan inisiatif dari Alumni Pondok Pesantren Darussalam Gontor, karena lingkungan sekitar memiliki permasalahan yang membutuhkan solusi dalam hal akhlak anak-anak. Faktor pendukung meliputi adanya dukungan dari Alumni Gontor yang lain dan semangat antara santri dan guru, sedangkan faktor penghambat meliputi beberapa guru yang belum memahami kurikulum dengan baik sehingga pelaksanaannya tidak maksimal, dan keterbatasan fasilitas. Dalam wawancara. Ustadz Sa'bani menjelaskan bahwa di Pondok Pesantren Modern Primago di Depok. Jawa Barat, perencanaan melibatkan penjadwalan harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Pada jadwal harian, santri melakukan serangkaian 1323 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1320-1328 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. aktivitas seperti bangun pagi, salat subuh, tahfidzul Qur'an juz 30, piket kebersihan, mandi, sarapan pagi, berangkat ke sekolah, salat zuhur, istirahat, salat asar, mengaji, pembacaan surah Waqiah menjelang magrib, salat magrib, salat isya, makan malam, pendampingan belajar, dan tidur malam. Jadwal mingguan meliputi pembacaan surat Yasin dan tahlil pada malam Jumat, latihan Muhadrah pada malam Ahad, les bahasa Jerman pada hari Ahad, dan senam pada Jumat pagi. Sedangkan jadwal bulanan mencakup rapat evaluasi bulanan, berenang, dan acara-acara yang sudah Kegiatan tahunan meliputi tafakur alam, pertunjukan seni, perayaan Maulid Nabi, dan perayaan Hari Santri. Tujuan dari manajemen kurikulum pesantren adalah untuk membentuk karakter mandiri pada santri. Pendidikan karakter santri di Pondok Pesantren Modern Primago di Depok. Jawa Barat, bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai karakter religius, ikhlas, mandiri, penuh perjuangan, peduli, tanggung jawab, nasionalis, dan mengutamakan kepentingan umat. Pembentukan karakter ini dilakukan di Pondok Pesantren Modern Primago di Depok. Jawa Barat, dan menjadi salah satu fokus penulis yaitu pembentukan karakter mandiri pada santri. Pelaksanaan dalam manajemen kurikulum Pesantren Pelaksanaan kurikulum merupakan fungsi penting dalam manajemen Setelah melakukan perencanaan yang matang, kurikulum diorganisasikan sesuai dengan prioritas yang ditetapkan dalam pelaksanaan manajemen kurikulum. Perencanaan tersebut dapat dibagi menjadi perencanaan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang, dengan skala prioritas yang telah ditetapkan. Pelaksanaan kurikulum melibatkan rangkaian proses pembelajaran di lembaga pendidikan, yang memberikan kepastian terhadap proses pembelajaran dengan memanfaatkan tenaga pendidik yang tersedia dan memadai sarana dan prasarana yang diperlukan (Mubarok, 2. Pelaksanaan yang efektif dalam manajemen kurikulum pesantren dapat dicapai dengan adanya kepemimpinan yang baik. Apabila kurikulum dijalankan dengan baik, hasil yang diperoleh juga akan baik, yang pada akhirnya akan membentuk citra positif bagi lembaga pendidikan. Semakin baik pelaksanaan manajemen kurikulum pesantren berdasarkan perencanaan yang telah disusun, semakin baik pula hasil yang akan dicapai. Dengan demikian, diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat untuk mengirimkan anak-anak mereka ke pondok Manajemen kurikulum merupakan sistem pengelolaan kurikulum yang melibatkan kerja sama, komprehensif, sistemik, dan sistematis untuk mencapai tujuan kurikulum (Saajidah, 2. Oleh karena itu, manajemen kurikulum dapat dianggap sebagai kegiatan yang terjadwal dan sistematis yang melibatkan berbagai pihak yang memiliki kepentingan dalam pendidikan global, dengan tujuan mencapai sasaran pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya (A. Majir, 2. Pondok Pesantren Modern Primago di Depok. Jawa Barat, merupakan sebuah pondok pesantren yang menerapkan model pesantren modern. Di sana, terdapat dua jenis kurikulum, yaitu Kulliyatul Mualliminal Islamiyah (KMI) dan kurikulum sekolah 1324 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1320-1328 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Proses pembelajaran di Pondok Pesantren Modern Primago di Depok. Jawa Barat, dilakukan sebelum salat subuh, setelah salat asar, dan setelah magrib hingga 00 malam. Selain itu, pada pagi hari, terdapat kegiatan sekolah di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Manajemen kurikulum santri di pondok pesantren ini dijalankan sesuai dengan jadwal kegiatan pondok, yang dimulai dari sebelum subuh hingga pukul 22. 00, dan berjalan dengan baik. Hal ini sesuai dengan pandangan Majir bahwa manajemen kurikulum santri merupakan kegiatan yang terjadwal dan sistematis yang melibatkan berbagai pihak yang memiliki kepentingan dalam pendidikan global, dengan tujuan mencapai sasaran pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya (A. Majir, 2. Dalam manajemen kurikulum, fokus utamanya adalah melatih situasi belajar di pesantren agar kelancaran proses pembelajaran terjamin. Kegiatan manajemen kurikulum mencakup tiga hal utama: pertama, perencanaan kurikulum yang melibatkan pengambilan keputusan berdasarkan pertimbangan kebutuhan peserta didik melalui perencanaan yang tepat. kedua, pelaksanaan program manajemen kurikulum yang telah dikembangkan, diuji coba, dan disesuaikan dengan situasi lapangan serta karakteristik peserta didik dalam pengembangan intelektual, emosional, dan fisik mereka. dan ketiga, evaluasi kurikulum sebagai proses pengumpulan data yang sistematis untuk membantu pengajar dalam pemahaman dan penilaian kurikulum serta memperbaiki metode pembelajaran. Dalam melaksanakan manajemen kurikulum, terdapat lima prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu produktivitas, demokratisasi, kerja sama, efektivitas dan efisiensi, serta pengarahan terhadap visi, misi, dan tujuan yang telah ditetapkan (I. Nasbi, 2. Membentuk Karakter Mandiri Santri Pondok Pesantren Modern Primago Membentuk karakter mandiri bagi santri bukanlah tugas yang mudah, terutama karena mereka terbiasa dengan perhatian orang tua dan cenderung menjadi manja dan malas ketika berada di pondok pesantren. Salah satu karakter yang penting bagi seorang santri adalah kemandirian, yang mengacu pada sikap dan perilaku melakukan aktivitas sendiri tanpa bergantung pada orang lain (D. Nahdi, 2. Manajemen kurikulum dalam membentuk karakter mandiri santri melibatkan proses perencanaan, pengorganisasian, pengawasan, dan penilaian sebagai upaya dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam lembaga pendidikan (N. Qosim, 2. Karakter sendiri merupakan modal individu yang tercermin dalam nilai-nilai seperti kebaikan, kemandirian, religiositas, dan nasionalisme, serta berdampak pada perilaku dan sikap dalam berbagai aspek kehidupan sosial, agama, dan negara. Pondok Pesantren Modern Primago di Depok. Jawa Barat, manajemen kurikulum dilaksanakan untuk memastikan perencanaan, implementasi, dan evaluasi kurikulum berjalan dengan efektif, efisien, dan optimal, melibatkan berbagai komponen kurikulum dan pengalaman belajar (S. Asiyah, 2. Kemandirian merupakan kewajiban bagi seorang santri, karena mereka terpisah dari orang tua saat berada di pesantren (Ramdhani and K. Waluyo, 2. Kemandirian santri dapat dibentuk melalui usaha dan kesungguhan. Pengasuh pondok pesantren berupaya menggabungkan religiositas dengan kemandirian dalam 1325 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1320-1328 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. membentuk karakter santri. Contohnya, mereka mengajarkan santri untuk memasak sendiri, membersihkan dan merapikan tempat tidur mereka, mengatur barang sesuai tempat, serta mengajarkan santri untuk melakukan persiapan mandiri sebelum pembelajaran di kelas. Selain itu, memberikan teladan dan contoh yang baik juga menjadi penting dalam menanamkan nilai kemandirian kepada santri (A. Setiawan. Program pertanian dan peternakan juga menjadi upaya dalam membentuk kemandirian santri di Pondok Pesantren Modern Primago di Depok. Jawa Barat. Program peternakan, seperti budidaya ikan, melibatkan santri dalam kegiatan yang melatih kemandirian dan memberikan keterampilan yang dapat berguna setelah mereka menyelesaikan studi di pesantren. Program pertanian, seperti bercocok tanam sayur dan tanaman pokok, selain melatih kemandirian santri juga memberikan manfaat ekonomi karena dapat memenuhi kebutuhan pokok dengan hasil pertanian Meskipun pelaksanaannya mungkin belum sempurna karena kebiasaan yang belum terbentuk, program ini memberikan peluang luas bagi santri untuk menjadi mandiri dalam kehidupan di masa depan (A. Setiawan, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari tulisan ini adalah bahwa manajemen kurikulum memiliki peran yang tak terpisahkan, terutama dalam konteks manajemen kurikulum Manajemen kurikulum pesantren melibatkan fungsi-fungsi manajemen yang dikenal sebagai POAC, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan Dalam pelaksanaan manajemen kurikulum, perlu adanya perencanaan yang matang yang didukung oleh pengorganisasian yang tepat. Prioritas ditetapkan dalam implementasi kurikulum, sumber daya di pondok pesantren dimanfaatkan secara efektif, dan evaluasi dilakukan untuk memastikan pencapaian tujuan kurikulum. Selain itu, dalam usaha membentuk karakter mandiri santri, penting untuk melibatkan mereka dalam melakukan aktivitas sendiri dengan pengawasan yang ketat dari pengasuh pondok pesantren. Karakter mandiri ini sangat penting bagi santri ketika mereka menghadapi situasi di luar pondok pesantren dan tidak lagi bergantung pada keluarga ketika mereka dewasa. DAFTAR PUSTAKA