Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam ISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 9. Nomor 2. Desembe This is an open access article under the CCBYSA Naskah masuk Direvisi Diterima Diterbitkan 19-November31-Desember23-Juli-2025 31-Agustus-2025 DOI : https://doi. org/10. 58518/alamtara. Dari Pelecehan menjadi Stigma: Normalisasi Kekerasan Patriarki dalam AuWomen from Rote IslandAy Dwi Oktarina UIN Raden Fatah. Palembang. Indonesia E-mail: oktarina. dwi@icloud. Eni Murdianti UIN Raden Fatah. Palembang Indonesia E-mail: enimurdianti_uin@radenfatah. Muslimin UIN Raden Fatah Palembang Indonesia E-mail: muslimin_uin@radenfatah. ABSTRAK: Penelitian ini mengkaji representasi budaya patriarki dalam film Women from Rote Island dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis semiotika Roland Barthes. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk menelusuri makna simbolik, nilai budaya, dan ideologi gender yang terkandung dalam teks audio-visual. Data primer berupa film Women from Rote Island dianalisis melalui elemen dialog, gesture, ekspresi wajah, kostum, setting, properti, sinematografi, dan alur cerita. Data sekunder meliputi buku, jurnal, ulasan film, serta literatur tentang semiotika, gender, dan media. Data dikumpulkan melalui observasi dokumenter . enayangan film berulang, transkrip dialog, dan tangkapan layar adegan releva. serta studi pustaka. Analisis dilakukan dengan tiga tahapan Barthes: denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa patriarki bekerja melalui pelecehan, objektifikasi, stigma, dan pembiaran sosial yang menormalisasi kekerasan dan menyalahkan perempuan . ictim blamin. Film ini menegaskan kritik moral berupa: hentikan victim blaming, tafsirkan adat sebagai pelindung martabat, bangun maskulinitas empatik, ciptakan ruang publik yang aman, bongkar stigma sebagai alat pembungkaman, serta pastikan negara dan aparat berpihak pada korban. Dengan demikian, film Women from Rote Island tidak hanya Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 membuka luka patriarki, tetapi juga menyuarakan etika perlindungan dan ajakan membangun budaya yang adil dan setara bagi perempuan. Kata Kunci: Representasi Patriarki. Gender. Pesan Moral. Semiotika Roland Barthes. ABSTRACT:This study explores the representation of patriarchy in the film Women from Rote Island using a qualitative approach with Roland BarthesAos semiotic analysis. This approach was chosen because it enables the researcher to uncover symbolic meanings, cultural values, and gender ideologies embedded in the audiovisual text. Primary data consist of the film itself, analyzed through elements such as dialogue, gestures, facial expressions, costumes, setting, props, cinematography, and narrative plot. Secondary data include books, journal articles, film reviews, and literature on semiotics, gender, and media. Data were collected through documentary observation . epeated screenings, transcription of key dialogues, and relevant screenshot. and literature review. Analysis followed BarthesAos three stages: denotation, connotation, and myth. The findings reveal that patriarchy operates through harassment, objectification, stigma, and social neglect, which normalize violence and shift blame onto women . ictim blamin. The film articulates moral imperatives such as: ending victim blaming, reinterpreting customary law as protection of dignity, fostering empathetic masculinities, ensuring safe public spaces, dismantling stigma as a silencing tool, and demanding state and law enforcement support for survivors. Thus. Women from Rote Island not only exposes the wounds of patriarchy but also conveys an ethical call for protection and the construction of a just and gender-equal culture. Keywords: representations of patriarchy, gender, moral messages. Roland Barthes' semiotics PENDAHULUAN Budaya merupakan sistem sosial yang diturukan dari generasi ke generasi dan memberikan pengaruh terhadap hampir seluruh aspek kehidupan manusia. bukan hanya ada dalam bentuk nilai, norma, maupun tradisi, tetapi juga tercermin dalam praktik keseharian masyarakat (Fitriani et al. , 2. Dalam sosial, budaya seringkali menunjukan sistem kekuasaan yang berlaku, termasuk persoalan gender. Salah satu bentuk sistem budaya yang paling dominan di banyak masyarakat adalah budaya patriarki (Halizah & Faralita, 2. Patriarki dapat dipahami sebagai sistem sosial yang menempatkan laki-laki pada posisi dominan, sementara perempuan ditempatkan pada posisi subordinat. Sistem ini membentuk cara berpikir, pola perilaku, hingga peran sosial yang dilekatkan kepada laki-laki dan perempuan (Riyanto et al. , 2. Dalam kenyataan sosial, patriarki sering melanggengkan ketidakadilan gender melalui pembatasan Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 hak, ruang gerak, dan kesempatan perempuan. Fenomena ini telah menjadi isu global yang terus diperbincangkan dalam ranah akademis maupun praktis (Apriliandra & Krisnani, 2. Di Indonesia, patriarki masih menjadi kultur yang melekat, walaupun perkembangan zaman membawa semangat kesetaraan gender. namun praktik patriarki dapat ditemukan dalam berbagai ranah kehidupan, baik dalam institusi keluarga, pendidikan, maupun pekerjaan. Representasi budaya patriarki juga muncul dalam karya seni, khususnya film, yang merupakan media populer dan efektif dalam membentuk sekaligus mereproduksi pandangan masyarakat tentang gender (Syahputra et al. , 2. Patriarki adalah sebuah sistem sosial dan budaya yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kekuasaan, sedangkan perempuan diposisikan lebih rendah dan kerap kehilangan hak atas dirinya sendiri. (Ponto et al. , 2. Sistem ini bisa muncul dalam banyak bentuk, mulai dari kehidupan keluarga, adat dan budaya, ekonomi, tubuh perempuan, hingga hukum dan institusi sosial. (Salfa, 2. Dalam keluarga, perempuan sering dianggap hanya di dapur sebagai penjaga rumah tangga tanpa bisa memberi suara yang setara. (Saniria Benu & Andrian Wira Syahputra, 2. Dalam adat, aturan tradisi mengekang kebebasan perempuan, seperti dalam ritual kematian atau turunan (Kunci & Dui, 2. Dalam ranah ekonomi, perempuan kerap dipandang hanya sebagai tenaga kerja murah yang rawan eksploitasi. Bahkan tubuh perempuan pun tidak selalu dipandang sebagai milik dirinya sendiri, melainkan bisa diatur, dikontrol, atau bahkan diambil secara paksa (Sari & Rusliawati, 2. Lebih jauh lagi, institusi sosial dan hukum pun sering gagal memberi perlindungan pada perempuan, malah menyalahkan mereka sebagai sumber masalah (Lukman et al. , 2. Salah satu film Indonesia yang menyoroti persoalan gender dan budaya adalah AuWomen from Rote IslandAy. Dalam kisah ini. Orpa tidak dapat menguburkan suaminya sesuai dengan wasiat suaminya untuk menunggu kedatangan Martha. Ketika pulang ke kampung halaman. Martha menunjukan prilaku yang aneh. Ia sering histeris dan banyak melamun karena mengalami kekerasan seksual ketika ia menjadi imigran di namun ia tidak menerima perlindungan di kampungnya rote. Ia malahan Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 di pasung masyarakat karena di anggap gila. bahkan ia perkosa berkali kali hingga Orpa merasa gagal dan kehilangan banyak hal termasuk suaminya. Martha dan bertha adiknya yang hilang. Patriaki dalam budaya dan adat akan merusak keluarga dan kehidupan sosial. Melalui film ini, terlihat jelas bahwa ketidakadilan gender tidak hanya terjadi di luar negeri, tetapi juga di tanah kelahiran, di mana perempuan seharusnya mendapatkan perlindungan dan rasa aman. Jika prilaku Patriarki terus di biarkan hidup dalam adat, ekonomi, dan cara pandang masyarakat, maka perempuan akan terus menjadi korban yang kehilangan suara, martabat, dan hak kemanusiaannya (Apriliandra & Krisnani, 2. Sejauh ini, terdapat beberapa penelitian yang memfokuskan pada isu budaya patriarki dalam film. Salah satunya adalah penelitian oleh Dasmarlitha. Mayasari, dan Yanti Tayo berjudul AuRepresentasi Budaya Patriarki dalam Film Yuni (Analisis Semiotika Roland Barthe. Ay. Persamaan dengan penelitian ini yaitu terletak pada kajian representasi budaya patriaki dalam analisis semiotika Roland Barthes. Perbedaanya terletak pada film. Film tersebut menganalisis film yuni. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa film Yuni mampu menggeser persepsi masyarakat tentang perempuan yang selama ini dianggap lemah dan berada di bawah laki-laki. Film ini menegaskan bahwa perempuan memiliki hak atas dirinya, kemampuan yang setara, bahkan dalam beberapa hal melebihi laki-laki. Representasi ini menjadi bentuk perlawanan terhadap sistem sosial patriarki yang kerap menjadikan perempuan sebagai korban ketidakadilan dan kekerasan (Dasmarlitha et al. , 2. Penelitian lainnya dilakukan oleh Febriani dan Yulianti, berjudul AuRepresentasi Budaya Patriarki dalam Film Ngeri-Ngeri SedapAy. Persamaan dengan penelitian ini yaitu mengkaji representasi budaya patriaki dalam film. Perbedaanya yaitu terletak pada film dan tidak mengkaji semiotik Roland Barthes. Penelitian ini menunjukkan bagaimana dominasi laki-laki dalam keluarga tercermin dalam tokoh Pak Domu, seorang kepala keluarga yang keras dan dominan. Visual dan audio dalam film ini memperlihatkan bagaimana peran patriarki dalam keluarga tradisional Batak bisa berdampak pada keharmonisan keluarga. Namun, film ini juga menyampaikan pesan pentingnya kerja sama antara suami dan istri dalam peran sebagai orang tua. Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 serta membuka ruang untuk refleksi dan perbaikan diri dalam sistem keluarga yang patriarkal (Febriyani & Yulianti, 2. Penelitian ini memiliki kebaruan . Pertama, dalam budaya lokal. Masyarakat Rote, memberikan kajian baru mengenai representasi patriarki dalam Kedua, penelitian ini mengungkap patriarki melalui semiotik Barthes, dengan fokus pada tradisi, ritual, dan norma adat turut memperkuat ketimpangan Ketiga, kajian ini menambahkan perspektif dari daerah yang belum banyak terjangkau dalam penelitian sebelumnya. Selain menjadi kajian penting dalam konteks budaya dan media, representasi patriarki dalam film juga dapat dilihat dari perspektif nilai-nilai keadilan dalam Islam. Hal ini penting, terutama dalam konteks kemanusiaan melalui berbagai medium komunikasi. Kajian tentang budaya patriarki dan ketimpangan gender sejatinya tidak hanya penting dalam ranah sosial-budaya, tetapi juga memiliki relevansi yang kuat dalam konteks dakwah Islam. Islam sebagai agama rahmatan lil Aoalamin menegaskan prinsip keadilan dan kesetaraan derajat antara laki-laki dan perempuan di hadapan Allah SWT. Hal ini termaktub dalam firman Allah AuWahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Ay (QS. Al-Hujurat: . Ayat tersebut menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, status sosial, ataupun budaya, tetapi oleh Dalam perspektif dakwah, hal ini menjadi landasan untuk menyeragamkan peran, melainkan keseimbangan dan penghormatan terhadap kodrat masing-masing. Film Women from Rote Island dengan segala bentuk realitas sosial yang ditampilkannya dapat menjadi media reflektif dalam dakwah Islam kontemporer. Melalui film ini, dakwah dapat mengangkat isu kemanusiaan dan keadilan gender sebagai bagian dari amar maAoruf nahi munkar yang menyeru pada keadilan, menolak penindasan, serta memulihkan martabat perempuan sebagai hamba Allah Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Sebagaimana dikemukakan oleh berbagai peneliti, menyediakan prinsip-prinsip yang mendukung kesetaraan dan keadilan gender sebagai bagian dari ajaran agamanya. Syah dan Huriani menjelaskan bahwa Islam merupakan agama yang "memanusiakan manusia," menekankan penghargaan terhadap hak-hak individu tanpa memandang jenis kelamin, dan bahwa keadilan gender adalah bagian dari tujuan prinsip-prinsip moral dalam Islam (Syah & Huriani, 2. Sejalan dengan penelitian oleh Ikhwanudin mengungkapkan bahwa keadilan tidak hanya memperhatikan aspek kuantitatif tetapi juga kualitatif termasuk dalam konteks gender, yang memastikan bahwa setiap individu mendapatkan haknya sesuai prinsip keadilan (Ikhwanudin. Adapun permasalahan yang mendasari penelitian ini penting untuk dilakukan lebih mendalam adalah karena beberapa alasan, seperti patriaki dalam adat, stigma, dan sistem sosial yang mengekang perempuan. Tokoh Orpa, seperti, tidak bebas menentukan sikap bahkan di saat duka karena terikat pada aturan adat yang Sementara Martha, sebagai tenaga kerja migran, menjadi korban kekerasan seksual. Ia menjadi korban kekerasan seksual di perantauan, ketika ia pulang kampung ia justru dipasung karena dianggap gila. Bahkan lebih parahnya ia di jadikan korban seksual berkali kali hingga hamil. Di kampung halaman masyarkat Film penderitaan yang bertubi-tubi. terikat adat, menjadi korban ekonomi migran, disisihkan oleh masyarakat, hingga kehilangan kendali atas tubuhnya akibat kekerasan seksual yang berulang. Berpijak pada uraian-uraian latar belakang tersebut di atas, penelitian ini penting dilakukan untuk memberikan gambaran empiris mengenai AuRepresentasi Budaya Patriarki dalam Film Women from Rote Island (Analisis Semiotika Roland Barthe. Ay. Harapannya, penelitian ini dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana budaya patriarki direpresentasikan melalui medium film, sehingga pembaca tidak hanya memahami cerita yang ditampilkan di layar, tetapi juga mampu menangkap makna simbolik yang tersembunyi di baliknya. Dengan Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 begitu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan kecil bagi kajian media, budaya, dan gender di Indonesia. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika Roland Barthes. Pendekatan ini dipilih karena memberikan ruang bagi peneliti untuk memahami makna-makna simbolik dan ideologis yang terkandung dalam teks audio-visual film Women from Rote Island. Pendekatan kualitatif representasi budaya patriarki dalam konteks sosial masyarakat Rote. Analisis semiotika Barthes menyoroti tiga lapisan makna, yaitu denotasi . akna litera. , konotasi . akna sosial dan emosiona. , dan mitos . akna ideologis yang merepresentasikan pandangan duni. Melalui ketiga lapisan ini, penelitian berupaya mengungkap bagaimana sistem patriarki direproduksi dalam film melalui bahasa visual dan naratif. Data utama penelitian ini adalah film Women from Rote Island itu sendiri yang dianalisis sebagai teks audio-visual. Data primer meliputi dialog antar tokoh, gerak tubuh, ekspresi wajah, kostum, setting, properti, sinematografi, serta alur cerita. Sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur pendukung seperti buku, jurnal ilmiah, dan ulasan film terkait isu patriarki, gender, dan semiotika. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dokumenter dan studi pustaka. Observasi dilakukan dengan menonton film secara berulang untuk memahami alur, mencatat simbol penting, dan menangkap adegan bermakna. Studi pustaka digunakan untuk memperkuat analisis dengan teori-teori semiotika, wacana gender, dan budaya patriarki. Analisis data dilakukan secara bertahap melalui tahapan semiotika Barthes. Pada tahap denotasi, peneliti mengidentifikasi makna literal dari tanda visual. Tahap konotasi menafsirkan makna sosial yang terkandung dalam tanda, sedangkan tahap mitos menyingkap ideologi patriarki yang tersembunyi di balik narasi film. Dengan teknik ini, penelitian diharapkan dapat mengungkap sistem nilai yang bekerja di balik representasi perempuan dan budaya patriarki dalam film. Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Semiotik Roland Barthes Pada Film Representasi Budaya Patriaki Dalam AuWomen from Rote IslandAy Pelecehan Orpha di Pasar sebagai Kontrol Sosial Patriarki Adegan pelecehan Orpha di pasar menunjukkan patriaki mengatur kontrol sosial bekerja dalam masyarakat patriarkal. Bukannya melindungi korban. Masyarakat setempat justru menilai, menekan, dan menyalahkan. Gambar 4. 1 Adegan Orpha di salahkan setelah menjadi korban pelecehan Seksual Sumber: Film Woment From Rote Island Tabel 4. 1 Pelecehan Orpha di Pasar sebagai Kontrol Sosial Patriarki Durasi 07:20 Ae 09:07 Narasi Orpha dilecehkan di pasar oleh remaja. Saat kembali dari pasar, bukanya mendapat empati. Orpha justru dimarahi dan disalahkan oleh masyarakat. Ia dianggap memancing laki-laki dan bahkan dinilai kualat karena belum segera menguburkan suaminya sesuai Sumber Film Women from Rote Island Analisis Denotasi Adegan menampilkan tindakan pelecehan seksual yang dialami Orpha di ruang publik. Setelah kejadian itu, masyarakat tidak menunjukkan simpati malahan menuduh Orpha sebagai penyebab Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 terjadinya pelecehan dengan alasan moral dan adat. Konotasi Adegan ini merepresentasikan budaya patriarki dalam masyarakat Rote, perempuan tidak hanya diposisikan sebagai korban, tetapi juga disistem sebagai pihak yang bersalah. Adat dijadikan legitimasi untuk mengontrol tubuh dan perilaku perempuan, sehingga pengalaman kekerasan seksual tidak dilihat sebagai pelanggaran terhadap martabat perempuan, melainkan sebagai konsekuensi atas AukesalahanAy perempuan itu sendiri. Mitos Mitos yang terbentuk adalah bahwa tubuh perempuan dipandang sebagai sumber masalah dalam masyarakat. Patriarki meyakini bahwa jika seorang perempuan tidak patuh pada norma adat atau tradisi, seperti kewajiban menguburkan suami tepat waktu, maka segala bentuk pelecehan atau kekerasan yang menimpanya dianggap wajar, bahkan pantas diterima. Sumber: Diolah oleh peneliti . Analisis semiotik di atas memperlihatkan bahwa mengapa pasar yang seharusnya ruang aman, berubah menjadi tempat yang menormalkan pelecehan, sementara simpati publik dibekukan oleh klaim adat dan wacana malu. Kerangka ini bersinggungan erat dengan gagasan Yanuarius You . dalam Patriarki. Ketidakadilan Gender, dan Kekerasan atas Perempuan: Model Laki-Laki Baru Masyarakat Hubula Suku Dani. You menunjukkan bahwa patriarki bukan hanya dominasi laki-laki, tetapi rezim makna yang dihidupkan oleh komunitas melalui nilai, stigma, dan sanksi sosial (You, 2021. Dalam rezim itu, perempuan kepatuhanAyperempuan pada adat seperti tudingan kualat kepada Orpha karena belum memakamkan suaminya sesuai ketentuan. Ada tiga implikasi penting: Legitimasi budaya atas kekerasan Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Ketika adat ditafsir sebagai alat kontrol, ia beralih fungsi dari etika perlindungan menjadi perangkat normalisasi. Film menyingkap kalimat-kalimat AuseharusnyaAy menggeser fokus dari pelaku ke korban, sehingga victim blaming dan secondary victimization menjadi lazim. Disiplin sosial melalui rasa malu You menekankan peran rasa malu kolektif dan ancaman sanksi sosial. Di layar, stigma memancing birahi dan kualat bekerja sebagai mekanisme pendisiplinan yang membuat perempuan menanggung risiko yaitu luka dari pelaku dan hukuman dari . spiral of silence Kombinasi mitos, stigma, dan tafsir adat melahirkan spiral of silence yaitu, korban dan saksi enggan melapor karena takut dicap melawan adat. Ini menjelaskan keberlanjutan kekerasan dalam ruang publik sekalipun. Transformasi menuntut redefinisi maskulinitas yaitu dari maskulinitas yang mengontrol menuju maskulinitas yang merawat dan akuntabel. Dalam praktiknya, ini berarti: Menegaskan akuntabilitas pelaku dan solidaritas pada korban, bukan menawarbalikan kesalahan ke korban. Menafsir ulang adat sebagai etika perlindungan martabat . rotection ethic. yaitu adat menjadi dasar melindungi yang rentan dan memulihkan, bukan alat untuk memberi stempel salah pada tubuh perempuan. Membangun budaya kontra-mitos di level komunitas bahwa keselamatan perempuan adalah prasyarat keteraturan sosial, bukan ancamannya (Wulan. Akhirnya, film Women from Rote Island tak sekadar memperlihatkan tragedi menormalisasi kekerasan. Mengikuti arah yang ditawarkan You, jalan keluarnya bukan sekadar menghukum pelaku, tetapi juga mengubah pembangunan makna yang memutus rantai mitos, merestorasi empati, dan menegakkan tafsir adat (Nur. Oleh karena itu, yang berpihak pada keselamatan dan martabat manusia Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 terutama perempuan yang selama ini paling sering diposisikan sebagai pihak yang Objektifikasi Tubuh Martha dalam Ruang Publik Adegan Martha di pohon menunjukkan bagaimana ruang publik yang seharusnya aman berubah menjadi objektifikasi. Bukanya datang mrnolong, dua laki-laki dalam adegan itu malahan menatap dan memberikan sentuhan patriarki untuk menguasai tubuh perempuan. Gambar 4. 2 dua laki-laki enggan menolong namun justru melecehkan Sumber: Film Woment From Rote Island Tabel 4. 2 Objektifikasi Tubuh Martha dalam Ruang Publik Durasi 40:10 Ae 42:02 Narasi Martha memanjat pohon. Dua laki-laki yang menyaksikan tidak menolongnya turun, mereka justru menatap bagian intim Martha. Saat Martha jatuh, salah satu dari mereka memegang payudara Martha. Sumber Film Women from Rote Island Analisis Denotasi Peristiwa pelecehan terjadi di ruang terbuka, tatapan seksual diikuti sentuhan tanpa persetujuan ketika Martha berada dalam posisi rentan setelah jatuh. Dua laki-laki berperan sebagai pengamat sekaligus pelaku. Konotasi Adegan menegaskan akal patriarki yang menormalisasi Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 objektifikasi tubuh perempuan dan menanggalkan empati. Ketiadaan tindakan menolong, bahkan berubah menjadi pelecehan, mengkomunikasikan relasi kuasa timpang yaitu tubuh perempuan dilihat sebagai objek tontonan dan kepemilikan laki-laki. Ruang alam yang seharusnya aman menjadi arena reproduksi dominasi maskulin, di mana keselamatan perempuan tidak menjadi prioritas. Mitos Stigma laki-laki berhak atas tubuh perempuan menunjukkan bahwa dalam situasi apa pun, terutama saat perempuan dalam posisi lemah, akses laki-laki pada tubuh perempuan dianggap lumrah. Mitos ini menempatkan hegemoni patriarki, empati digantikan dan pelanggaran batas tubuh dipersepsi sebagai tindakan wajar bukanya kekerasan yang harus ditolak. Sumber: Diolah oleh peneliti . Adegan ini memperlihatkan bagaimana ruang alam yang seharusnya menghadirkan keamanan justru berubah menjadi panggung objektifikasi. Barthes membantu membaca pergeseran makna dari fakta denotatif yaitu tatapan dan sentuhan yang nyata. Konotasi yaitu normalisasi dominasi maskulin atas tubuh perempuan dan mitos yaitu keyakinan sosial bahwa laki-laki memiliki hak alami atas tubuh perempuan. Melalui analisis semiotik, film menyingkap bahwa yang terjadi pada Martha bukan sekadar godaan atau kebetulan, melainkan bagian dari arah makna yang ketimpangan gender. Keterkaitan ini selaras dengan gagasan Yanuarius You . dalam bukunya Dominasi Patriarki dan Kekerasan atas Perempuan Hubula Suku Dani: Model Laki-Laki Baru Masyarakat Hubula Suku Dani. You menegaskan bahwa patriarki tidak hanya mengekang perempuan melalui aturan formal, tetapi juga melalui cara pandang lakilaki terhadap tubuh perempuan. Tubuh perempuan dilihat bukan sebagai pribadi yang utuh dengan hak martabat, melainkan sebagai objek kepemilikan, tontonan, bahkan arena penyaluran hasrat (You, 2021. Hal itu tampak jelas dalam adegan Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 ketika kedua laki-laki bukan hanya gagal menunjukkan empati, tetapi malah menjadikan kerentanan Martha sebagai peluang untuk melakukan pelanggaran. Ada beberapa hal penting yang bisa ditarik dari dialog antara film dan buku You: Objektifikasi sebagai praktik kekuasaan You menjelaskan bahwa kekuasaan patriarki hadir dalam keseharian yaitu lewat tatapan, komentar, hingga tindakan fisik. Dalam film, tatapan laki-laki ke tubuh Martha menegaskan bahwa bahkan tanpa kata-kata, tubuh perempuan terus ditempatkan dalam posisi objek. Absennya empati sebagai bentuk kekerasan Menurut You, salah satu tanda kuat dominasi patriarki adalah hilangnya tanggung jawab sosial terhadap perempuan. Tidak menolong Martha yang jatuh, dan malah menjamah tubuhnya, memperlihatkan bagaimana empati telah digantikan oleh klaim semu bahwa tubuh perempuan tersedia untuk laki-laki. Mitos hak laki-laki atas tubuh perempuan Buku You menyoroti bagaimana patriarki mereproduksi keyakinan kultural bahwa laki-laki selalu lebih berhak mengatur dan mengakses tubuh perempuan. Adegan ini menjadi representasi visual yang gamblang: ketika Martha berada pada titik paling lemah, yang hadir bukan pertolongan, melainkan klaim hak yang diwujudkan dalam sentuhan tanpa persetujuan. (You, 2021. Film ini dengan demikian menghadirkan kritik sosial yaitu ruang publik tidak otomatis netral, ia bisa menjadi tempat kekuasaan di mana perempuan selalu berisiko mengalami pelecehan. (Asti et al. , 2. Film Women from Rote Island memperlihatkan kepentingan untuk menggeser paradigma maskulinitas atas tubuh perempuan menuju peran aktif melindungi martabat perempuan. Hanya dengan cara itu, ruang publik dapat sungguh-sungguh menjadi ruang aman, bukan panggung kekerasan yang dibenarkan oleh mitos patriarki. Perlawanan Martha dan Bertha yang Dibungkam dengan Stigma AuGilaAy Adegan Martha dan Bertha menggambarkan bahwa perlawanan perempuan terhadap kekerasan seksual tidak selalu mendapat pengakuan. Bukanya dihargai. Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 keberanian Martha justru dipersepsikan sebagai gangguan jiwa, sehingga stigma digunakan sebagai alat untuk membungkam suara korban. Gambar 4. 3 Martha di pasung Sumber: Film Woment From Rote Island Tabel 4. 3 Perlawanan Martha dan Bertha yang Dibungkam dengan Stigma AuGilaAy Durasi 52:52 Ae 1:06:06 Narasi Martha dan Bertha diperkosa. Martha berusaha melawan dengan mengejar pelaku hingga ke sebuah tempat yang kemudian ia bakar. Namun Sebaliknya. Martha justru dipasung karena dianggap Sumber Film Women from Rote Island Analisis Denotasi Adegan memperlihatkan perlawanan Martha saat ia dan Bertha menjadi korban pemerkosaan. Martha mengejar pelaku sebagai bentuk upaya mempertahankan harga diri dan keadilan. Namun, masyarakat sekitar tidak peduli dengan penderitaan korban dan memilih memasung Martha dengan alasan ia telah kehilangan akal Konotasi Adegan ini merepresentasikan kuatnya budaya patriarki yang tidak hanya melegitimasi kekerasan seksual, tetapi juga menolak pengakuan terhadap perlawanan perempuan. Bukanya dilihat sebagai tindakan heroik, keberanian Martha dipersepsikan sebagai ancaman terhadap Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 tatanan sosial dan adat. Label AugilaAy yang disematkan masyarakat adalah strategi kultural untuk membungkam suara perempuan dan menjaga dominasi laki-laki. Mitos Mitos yang terbentuk adalah bahwa perempuan yang berani melawan dianggap tidak waras, tidak patuh, dan berbahaya bagi masyarakat. Patriarki melanggengkan narasi bahwa perempuan harus pasrah menerima perlakuan laki-laki, bahkan ketika mereka menjadi korban Dengan demikian, peminggiran Martha melalui pasungan kekuasaannya: dengan menghapuskan ruang perlawanan perempuan melalui stigma dan represi. Sumber: Diolah oleh peneliti . Adegan ini menyingkap ironi besar dalam budaya patriarki yaitu ketika perempuan memilih diam dan pasrah, mereka dipandang baik dan sesuai adat tetapi ketika mereka berani melawan, justru dilabeli sebagai gila atau tidak waras. Dalam analisis semiotik Barthes, fakta denotatif berupa perlawanan Martha yang membakar tempat pelaku bergerak ke lapisan konotatif yaitu keberanian itu dipersepsikan sebagai ancaman terhadap stabilitas sosial dan akhirnya mencapai mitos: perempuan yang melawan dianggap berbahaya, sehingga harus dibungkam. Situasi ini sejalan dengan uraian Nurhidayah . dalam bukunya Meretas Belenggu Patriarki dengan Berpendidikan. Nurhidayah menegaskan bahwa dalam banyak kasus kekerasan seksual, justru korbanlah yang kerap disalahkan. Dalih yang digunakan antara lain pakaian korban, waktu kejadian, atau justifikasi bahwa lakilaki adalah pihak yang tergoda sehingga seolah-olah menjadi korban. Pola ini menunjukkan adanya mekanisme patriarki yang sistematis untuk mengalihkan kesalahan dari pelaku ke tubuh dan perilaku perempuan (Hidayah, 2. Hal yang dialami Martha adalah bentuk ekstrem dari pola tersebut: bukan hanya disalahkan, tetapi juga dipasung dan distigmatisasi sebagai Augila. Ay Film ini dengan demikian berfungsi sebagai kritik tajam terhadap budaya yang terus mereproduksi narasi menyalahkan korban. Ia memperlihatkan bagaimana Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 stigma dapat lebih melukai daripada luka fisik itu sendiri, karena stigma mencabut hak perempuan untuk diakui sebagai manusia penuh. Nurhidayah . menekankan bahwa jalan keluar dari belenggu patriarki adalah melalui pendidikan yakni kesadaran kritis untuk menolak justifikasi yang menyalahkan korban dan keberanian untuk mendobrak stigma. (Hidayah, 2. Oleh karena itu, film ini mengajak penonton menyadari bahwa melawan patriarki berarti juga melawan stigma budaya yang membungkam. Perempuan yang berani melawan tidak seharusnya dianggap gila, melainkan justru dilihat sebagai agen perubahan yang menolak tunduk pada ketidakadilan. Normalisasi Kekerasan Seksual terhadap Martha melalui Stigma dan Pembiaran Sosial Kisah Martha menampilkan kekerasan seksual tidak berhenti pada tindakan pelaku, tetapi diperparah oleh pembiaran aparat dan stigma masyarakat. Bukanya melihatnya sebagai korban, masyarakat justru menormalisasi kekerasan dengan menyalahkan Martha dan keluarganya. Gambar 4. 4 Masyarakat menyalahkan Orpha Sumber: Film Woment From Rote Island Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Tabel 4. 4 Analisis Semiotik Normalisasi Kekerasan Seksual terhadap Martha melalui Stigma dan Pembiaran Sosial Durasi 1:15:10 Ae 1:31:01 Narasi Martha sebagai korban perkosaan tidak mendapat perlindungan. Sebaliknya, ia justru mengalami perkosaan berulang oleh warga hingga hamil. Saat keluarganya melapor ke polisi, bantuan tidak Masyarakat malah menyalahkan Martha dan keluarganya dengan anggapan bahwa Martha AukeenakanAy dan ibunya dianggap tidak mampu menjaga anak perempuan. Sumber Film Women from Rote Island Analisis Denotasi Adegan menunjukkan Martha mengalami kekerasan seksual berulang Laporan keluarga ke pihak berwajib tidak ditindaklanjuti. Masyarakat sekitar justru melontarkan stigma negatif, menyalahkan Martha sebagai korban dan keluarganya sebagai pihak yang gagal menjaga anak perempuan. Konotasi Adegan perempuan sebagai objek seksual sekaligus kambing hitam ketika terjadi kekerasan. Perkosaan yang dialami Martha tidak dipandang sebagai kejahatan terhadap martabat manusia, melainkan dialihkan Narasi masyarakat yang menyalahkan korban memperlihatkan sistem sosial patriarkal yang membungkam suara perempuan, menormalisasi kekerasan, serta menjadikan tubuh perempuan sebagai arena kontrol moral dan sosial. Mitos Mitos yang terbentuk adalah bahwa perempuan dianggap penyebab terjadinya kekerasan seksual, bahkan ketika mereka jelas-jelas menjadi Keyakinan bahwa perempuan AukeenakanAy atau bahwa keluarga gagal menjaga anak perempuannya memperkuat mitos patriarki: perempuan harus selalu menjaga kesucian dan kepatuhan, sementara kegagalan sekecil apapun membuka ruang pembenaran Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 bagi kekerasan yang mereka alami. Dengan demikian, patriarki direproduksi sebagai sistem budaya yang membiarkan ketidakadilan terhadap perempuan tetap berlangsung. Sumber: Diolah oleh peneliti . Adegan ini menunjukkan betapa kuatnya budaya pembiaran dalam sistem Secara denotatif. Martha mengalami perkosaan berulang kali hingga hamil. Namun peristiwa itu tidak dianggap sebagai kejahatan yang melanggar martabat Konotasinya, masyarakat mengalihkan fokus dari kejahatan pelaku menuju kesalahan korban. Martha dianggap Aukeenakan,Ay sementara ibunya dituduh tidak becus menjaga anak. Pada akhirnya, mitos patriarkal terbentuk yaitu perempuan selalu dianggap sumber masalah, bahkan ketika ia jelas-jelas menjadi korban. Gambaran ini sejalan dengan temuan Handayani. Arsoniadi, dan Sholihah . dalam Perempuan dalam Belenggu Patriarki. Mereka menegaskan bahwa dalam sistem patriarki, perempuan sering diposisikan sebagai objek seks sekaligus kambing hitam. Kekerasan yang menimpa perempuan bukan hanya tidak dilihat sebagai bentuk pelanggaran hak asasi, tetapi justru dipahami sebagai konsekuensi dari kesalahan perempuan (Handayani et al. , 2. Buku ini menyoroti bahwa masyarakat kerap menggunakan alasan moral, adat, bahkan agama untuk menormalisasi kekerasan sehingga korban justru kehilangan perlindungan, sementara pelaku lolos dari tanggung jawab. Ada tiga hal yang tampak jelas dari keterhubungan film dengan kajian Handayani Kekerasan yang dinormalisasi Perkosaan terhadap Martha tidak ditangani sebagai tindak kriminal, melainkan sebagai masalah AumoralAy yang dibebankan pada korban. Aparat yang pasif memperkuat budaya pembiaran. Stigma sebagai senjata sosial Komentar masyarakat bahwa Martha AukeenakanAy adalah bentuk victim blaming yang brutal. Ia bukan sekadar mengabaikan penderitaan korban, tetapi juga menolak mengakui eksistensi kekerasan sebagai persoalan struktural. Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Patriarki sebagai sistem berlapis Masyarakat, keluarga, dan aparat semuanya ikut serta dalam melanggengkan Korban tidak hanya berhadapan dengan pelaku, tetapi juga dengan jaringan sosial yang memperkuat mitos bahwa tubuh perempuan adalah sumber (Handayani et al. , 2. Film Women from Rote Island dengan demikian membuka kenyataan pahit yaitu kekerasan seksual bukan hanya tindakan individu, melainkan gejala sistem patriarki yang didukung oleh stigma dan pembiaran institusional. Sejalan dengan gagasan Handayani dkk. , belenggu ini tidak bisa dilepaskan tanpa perubahan kultural yang menghentikan kebiasaan menyalahkan memastikan aparat menegakkan hukum tanpa bias gender, dan membangun budaya yang menghormati tubuh serta martabat perempuan. Dengan menghadirkan penderitaan Martha secara berulang dan telanjang, film ini mengingatkan kita bahwa patriarki hidup melalui dua wajah: kekerasan langsung dari pelaku dan kekerasan simbolik dari masyarakat. Jika keduanya tidak dibongkar, maka kekerasan akan terus dianggap wajar, sementara perempuan akan tetap terjebak dalam lingkaran stigma dan ketidakadilan. Film ini menyoroti tokoh-tokoh perempuan seperti Orpha. Martha, dan Bertha sebagai simbol penderitaan dan perlawanan dalam masyarakat patriarkal. Kisah mereka memperlihatkan bagaimana perempuan dipaksa tunduk pada adat, kehilangan hak atas tubuh dan suaranya, serta menjadi korban kekerasan yang Dalam adegan pelecehan Orpha di pasar, misalnya, masyarakat lebih memilih menyalahkan korban ketimbang menghukum pelaku. Secara denotatif, adegan ini memperlihatkan tindakan pelecehan di ruang publik, namun secara konotatif menggambarkan norma sosial yang menormalisasi kekerasan terhadap Mitos yang muncul adalah keyakinan bahwa perempuan yang melanggar adat atau dianggap tidak sopan pantas menerima hukuman sosial. Film menegaskan bahwa adat, yang seharusnya menjadi pelindung moral, justru menjadi alat kontrol terhadap tubuh perempuan. Selanjutnya, adegan Martha yang menjadi objek tatapan dua laki-laki menunjukkan bagaimana ruang publik berubah menjadi arena objektifikasi. Tatapan Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 dan tindakan laki-laki memperlihatkan hegemoni pandangan maskulin . ale gaz. yang menempatkan tubuh perempuan sebagai objek kenikmatan visual dan kepemilikan sosial. Dalam lapisan mitos, keyakinan bahwa laki-laki berhak atas tubuh perempuan direproduksi sebagai sesuatu yang alami dan wajar. Film menantang keyakinan tersebut dengan menghadirkan narasi penderitaan Martha sebagai bentuk kritik terhadap cara pandang patriarkal yang menghapuskan empati dan rasa kemanusiaan. Salah satu simbol paling kuat dalam film adalah adegan ketika Martha melawan pelaku kekerasan seksual. Alih-alih mendapat dukungan, ia justru dipasung dan diberi label AugilaAy. Adegan ini menjadi gambaran bagaimana sistem patriarki menggunakan stigma untuk membungkam perlawanan perempuan. Perlawanan yang seharusnya dilihat sebagai tindakan keberanian justru dianggap sebagai gangguan moral dan sosial. Dalam perspektif semiotika Barthes, adegan ini mencerminkan mitos bahwa perempuan yang menolak tunduk kepada sistem dianggap berbahaya dan tidak waras. Dengan demikian, film mengungkap bagaimana patriarki mempertahankan kekuasaan melalui pembungkaman simbolik dan penyingkiran perempuan dari ruang publik. Kekerasan seksual yang dialami Martha secara berulang memperkuat kritik film terhadap budaya pembiaran sosial. Tidak hanya pelaku yang berperan dalam melanggengkan kekerasan, tetapi juga masyarakat dan aparat yang diam dan tidak memberikan perlindungan. Dalam konteks ini, film menghadirkan mitos sosial bahwa perempuan menjadi sumber masalah moral, sementara pelaku justru dilindungi oleh norma sosial dan adat. Denotasi yang tampak adalah tindakan perkosaan, konotasinya adalah pengabaian tanggung jawab sosial, dan mitos yang terbentuk adalah bahwa perempuan harus menanggung akibat dari Aukesalahannya sendiriAy. Narasi ini menggambarkan pola victim blaming yang masih sangat kuat dalam masyarakat patriarkal Indonesia. Selain itu, film ini juga mengungkap dimensi moral dan spiritual dari penderitaan perempuan. Tokoh Orpha. Martha, dan Bertha bukan sekadar korban, tetapi representasi perempuan yang berjuang mempertahankan martabat di tengah tekanan sosial. Ketika masyarakat lebih memilih diam, film menegaskan pentingnya Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 keberanian untuk bersuara. Dengan demikian, film ini bukan hanya memotret penderitaan, tetapi juga menjadi media kritik terhadap cara berpikir masyarakat yang masih bias gender. Pesan moral yang diangkat adalah pentingnya menafsir ulang adat sebagai etika perlindungan, bukan sebagai instrumen kontrol sosial yang menindas perempuan. Melalui analisis semiotik Barthes, dapat disimpulkan bahwa sistem tanda dalam film bekerja untuk membuka kesadaran penonton terhadap makna-makna tersembunyi yang selama ini dianggap wajar. Pelecehan di ruang publik, stigma gila, dan pembiaran kekerasan adalah bentuk-bentuk mitos yang dihadirkan film untuk Film ini tidak hanya berfungsi sebagai karya seni, tetapi juga sebagai wacana sosial yang menyerukan pembebasan perempuan dari struktur budaya yang Dengan menampilkan penderitaan yang dialami perempuan Rote secara realistis dan emosional. Women from Rote Island mendorong lahirnya refleksi kritis tentang pentingnya kesetaraan gender, empati sosial, serta peran aktif masyarakat dan negara dalam melindungi perempuan dari segala bentuk kekerasan. Lebih jauh lagi, film ini memberikan tawaran transformasi budaya. Ia mengajak penonton untuk menghentikan kebiasaan menyalahkan korban dan membangun maskulinitas baru yang didasarkan pada empati dan tanggung jawab. Film juga menuntut peran negara dan hukum untuk hadir sebagai pelindung, bukan sekadar penonton dalam kasus kekerasan seksual. Dengan pesan moral yang kuat. Women from Rote Island menjadi contoh nyata bagaimana sinema mampu menjadi alat kritik sosial dan ruang advokasi untuk membongkar mitos-mitos patriarki yang telah mengakar dalam kesadaran kolektif masyarakat. KESIMPULAN Analisis semiotik Roland Barthes terhadap film Women from Rote Island menunjukkan bahwa budaya patriarki bekerja melalui pelecehan, objektifikasi, stigma, dan pembiaran sosial terhadap perempuan. Orpha dan Martha tidak hanya menjadi korban kekerasan fisik, tetapi juga korban sistem makna yang menyalahkan mereka atas penderitaan yang dialami. Ruang publik ditampilkan sebagai arena normalisasi pelecehan, perlawanan dibungkam dengan stigma AugilaAy, dan perkosaan Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 dianggap konsekuensi dari kesalahan perempuan. Film ini mengkritik bagaimana patriarki melanggengkan kekerasan melalui victim blaming dan pembiaran, sekaligus menegaskan pentingnya redefinisi adat dan maskulinitas yang melindungi martabat perempuan. Pesan moralnya. Film Women from Rote Island tidak hanya menyingkap luka patriarki, tetapi juga menghadirkan pesan moral tentang etika perlindungan. Pesan utama yang disampaikan antara lain: hentikan victim blaming, tafsirkan adat sebagai pelindung martabat, bangun maskulinitas yang empatik, jadikan ruang publik aman, bongkar stigma sebagai alat pembungkaman, serta pastikan negara dan aparat hadir berpihak pada korban. Selain itu, pendidikan kesetaraan sejak dini, keberanian mendengar suara korban, pembangunan budaya kontra-mitos, dan keterlibatan komunitas menjadi kunci transformasi. Dengan demikian, film ini mengajak memutus rantai patriarki dan membangun budaya yang adil serta melindungi BIBLIOGRAFI Apriliandra. , & Krisnani. Perilaku Diskriminatif Pada Perempuan Akibat Kuatnya Budaya Patriarki Di Indonesia Ditinjau Dari Perspektif Konflik. Jurnal Kolaborasi Resolusi Konflik, 3. , 1. Asti. Febriana. , & Aesthetika. Representasi Pelecehan Seksual Perempuan dalam Film. Komuniti : Jurnal Komunikasi Dan Teknologi Informasi, 13. , 79Ae87. Dasmarlitha. Tayo. , & Singaperbangsa Karawang. Representasi Budaya Patriarki Dalam Film Yuni: Analisis Semiotika Roland Barthes. MEDIALOG: Jurnal Ilmu Komunikasi, 6. , 62Ae72. Febriyani. , & Yulianti. Representasi Budaya Patriarki Dalam Film AuNgeri-Ngeri SedapAy: Kajian Semiotika Rolland Barthes. Jurnal Sinestesia, 13. , 1143Ae1158. Fitriani. Dana. Sari. Putri. , & SaAodiyah. Kepribadian Kolektif: Kebudayaan Membentuk Pola Berpikir. Journal of Education and Culture, 5. , 1Ae7. Halizah. , & Faralita. Budaya patriarki dan kesetaraan gender. Wasaka Hukum, 11. , 19Ae32. Handayani. Arsoniadi, & Sholihah. Perempuan dalam Belenggu Patriarki. Penerbit NEM. Hidayah. Meretas Belenggu Patriarki dengan Berpendidikan. CV Jejak (Jejak Publishe. Ikhwanudin. Penerapan Kesetaraan Gender dalam Sistem Pembagian Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Waris Berdasarkan Hukum Islam di Indonesia. Syntax Idea, 5. , 1734Ae1745. https://doi. org/10. 46799/syntax-idea. Kunci. , & Dui. Adat Bugis Mappatekka DuiAo Menurut Pandangan Hukum Islam. Sipakainge: Inovasi Penelitian. Karya Ilmiah. Dan Pengembangan, 2. Lukman. Moonti. Kadir. , & Kasim. Analisis Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Kekerasan dalam Rumah Tangga. Politika Progresif : Jurnal Hukum. Politik Dan Humaniora, 2. , 229Ae245. Nur. Good Boys Doing Feminism: Maskulinitas dan Masa Depan Laki-Laki Baru. EA Books. Ponto. Tampake. , & Lauterboom. Studi Histori-Feminis Di Zaman Kolonial: Domestifikasi Sebagai Resistensi Perempuan Minahasa. Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi, 7. , 353Ae367. Riyanto. Ariyanto. Ibnasya. Falah. Rahmadina. Awalia. , & Supriyadi. Internalisasi Patriarki dan Dampaknya Terhadap Harga Diri Seorang Perempuan. Scientific Journal of Social Humanities, 3. , 1Ae14. Salfa. Peran Sosial Perempuan dalam Masyarakat dan Implikasinya terhadap Penempatan Perempuan Anggota Legislatif Pada Komisi-Komisi di DPR RI Periode 2019-2024 [WomenAos Social Role in Society and Its Implication to The Division of Job of WomenAos MP]. Jurnal Politica Dinamika Masalah Politik Dalam Negeri Dan Hubungan Internasional, 13. , 162Ae181. Saniria Benu, & Andrian Wira Syahputra. Teori Feminisme: Peran Perempuan Yang Bekerja Keras Dalam Keluarga di Era Modern. WISSEN : Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 3. , 301Ae320. Sari. , & Rusliawati. Eksploitasi Perempuan sebagai Komoditas dalam Novel Jatisaba Karya Ramayda Akmal. MANTRA: Jurnal Sastra Indonesia (Sastra. Bahasa. Buday. , 1. , 23Ae35. Syah. , & Huriani. Islam dan Gender: Semangat Dasar Ajaran Islam dan Keadilan Gender. Jurnal Iman Dan Spiritualitas, 3. , 207Ae218. https://doi. org/10. 15575/jis. Syahputra. Bangun. , & Handayani. Budaya Patriarki Dan Ketidaksetaraan Gender Dalam Pendidikan Di Desa Bontoraja. Kabupaten Bulukumba. Sustainable Jurnal Kajian Mutu Pendidikan, 6. , 608Ae616. Wulan. Norma Maskulinitas pada Masa Orde Baru - Membaca Sastra Anak dan Remaja Indonesia dalam Perspektif Kajian Maskulinitas. Airlangga University Press. You. Dominasi Patriarki dan Kekerasan atas Perempuan Hubula Suku Dani: Model Laki-Laki baru Masyarakat Hubula Suku Dani. Nusamedia. You. Patriarki. Ketidakadilan Gender, dan Kekerasan atas Perempuan: Model Laki-Laki baru Masyarakat Hubula Suku Dani. Nusamedia. Dwi Oktarina. Eni murdianti. Muslimin Dari Pelecehan menjadi Stigma