https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 DOI: https://doi. org/10. 38035/jpsn. https://creativecommons. org/licenses/by/4. Kompetensi Pedagogik Guru Sejarah Mengimplementasikan Pendidikan Inklusi pada Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Teras Dwi Mukti Hartanti1. Musa Pelu2 Universitas Sebelas Maret. Indonesia, dwimuktihartanti@student. Universitas Sebelas Maret. Indonesia, musapelu@staff. Corresponding Author: dwimuktihartanti@student. Abstract: This study aims to . understand the pedagogical competence of history teachers in implementing inclusive education in history learning at SMA Negeri 1 Teras, . identify the obstacles faced by history teachers in implementing inclusive education, and . examine solutions to these obstacles in the implementation of inclusive education by history teachers. This study employs a qualitative method with a case study approach. The data sources include observation reports of history learning activities in inclusive classrooms, interview reports with informants . istory teachers, vice principal of curriculum, and inclusive student. , and supporting documents (KOSP and History Teaching Module. The sampling technique used is purposive sampling. Data collection techniques include observation, interviews, and document analysis. The validity of the data is tested using source triangulation and technique Data analysis is conducted using an interactive analysis technique. The results of this study are as follows: . The pedagogical competence of history teachers in implementing inclusive education includes understanding student characteristics, lesson planning, implementation, and evaluation of learning, but it is not yet optimal. The obstacles faced include limited in-depth understanding of inclusive education among teachers, limited instructional time, and inadequate facilities and infrastructure. The solutions include improving teacher competence through training, effective lesson planning, and school collaboration in providing facilities and infrastructure, so that inclusive history learning can be implemented more effectively and accommodate the needs of all students. The pedagogical competence of history teachers plays an important role in the successful implementation of inclusive education, but it still needs to be enhanced through training and support from the education system. Keywords: Pedagogical Competence. History Teachers. History Learning. Inclusive Education. Inclusive Students. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk . memahami kompetensi pedagogik guru sejarah dalam mengimplementasikan pendidikan inklusi pada pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Teras, . memahami hambatan yang dihadapi guru sejarah dalam mengimplementasikan 90 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 pendidikan inklusi, . memahami solusi terhadap hambatan dalam implementasi pendidikan inklusi oleh guru sejarah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan studi Sumber data penelitian meliputi laporan hasil observasi kegiatan pembelajaran sejarah di kelas inklusi, laporan hasil wawancara dengan informan (Guru Sejarah. Waka Kurikulum, dan siswa inklus. dan dokumen pendukung (KOSP dan Modul Ajar Sejara. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan teknik observasi, wawancara dan analisis dokumen. Teknik uji validitas menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Analisis data menggunakan teknik analisis interaktif. Hasil penelitian ini sebagai berikut. Kompetensi pedagogik guru sejarah dalam implementasi pendidikan inklusi telah mencakup pemahaman karakteristik siswa, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, namun belum optimal. Hambatan yang dihadapi meliputi keterbatasan pemahaman mendalam guru tentang pendidikan inklusi, waktu pembelajaran yang terbatas, keterbatasan sarana prasarana, serta. Solusinya adalah peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, perencanaan pembelajaran yang efektif dan kolaborasi sekolah tentang pengadaan sarana prasarana, sehingga pembelajaran sejarah yang inklusif dapat terlaksana secara lebih efektif dan mampu mengakomodasi kebutuhan seluruh peserta Kompetensi pedagogik guru sejarah berperan penting dalam keberhasilan implementasi pendidikan inklusi, namun masih perlu ditingkatkan melalui pelatihan dan dukungan sistem Kata kunci : Kompetensi Pedagogik. Guru Sejarah. Pembelajaran Sejarah. Pendidikan Inklusi. Siswa Inklusi. PENDAHULUAN Guru adalah pekerjaan yang memerlukan pengetahuan, keterampilan, kemampuan, keahlian dan talenta sehingga dapat memberikan suatu yang bermakna kepada siswa. Guru juga berperan sebagai pendidik utama dan bertanggung jawab sepenuhnya atas pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah bagi siswanya. Guru merupakan figur yang paling dekat dengan siswa dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pembelajaran, guru menjadi pengelola dan pengarah utama dalam mencapai kesuksesan pendidikan siswa sebagai peserta didik (Hamid. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembelajaran di sekolah. Guru yang tidak aktif menyebabkan pendidikan tidak memiliki makna yang optimal. Kurikulum, visi, misi, dan manajemen sekolah yang baik namun guru bersikap pasif dan tidak mengalami perkembangan, maka kualitas pendidikan yang diharapkan tidak tercapai. Guru menempati posisi yang sangat strategis dalam pelaksanaan pendidikan (Ofita & Sururi, 2. Guru diharuskan memiliki kompetensi tertentu agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Kompetensi menjadi hal yang wajib dimiliki oleh guru sebagai kemampuan, kecakapan, dan keterampilan dalam mengelola pendidikan (Ramaliya, 2. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, disebutkan bahwa kompetensi merupakan kumpulan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang wajib dimiliki, dipahami, serta dikuasai oleh Guru atau Dosen dalam menjalankan tugasnya secara profesional. Menurut Undang-undang Guru dan Dosen No. 14/2005 Pasal 10 ayat 1 dan Peraturan Pemerintah No. 19/2005 pasal 28 ayat 3 dituliskan bahwa kompetensi guru terdiri atas empat aspek utama, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional, yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Menurut Meutia . alam Akbar, 2. Kompetensi menjadi ciri khas dan pembeda utama antara guru dengan profesi lain adalah kompetensi pedagogik. Kompetensi ini mencakup berbagai keterampilan yang diperlukan agar seorang guru dapat bekerja secara profesional. Kompetensi 91 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 pedagogik adalah kemampuan guru dalam memahami peserta didik serta baik dalam mengelola, melaksanakan pembelajaran dan melakukan evaluasi pembelajaran. Kompetensi pedagogik ialah kemampuan yang mencerminkan kecakapan seorang guru dalam mengajar serta mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi ini mencakup pemahaman terhadap karakteristik peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, serta pengembangan peserta didik dalam mengaktualisasikan potensinya (Sulfemi, 2. Konsep pedagogik menurut Irwantoro & Suryana . ebagaimana dikutip Sulfemi, 2. mengutamakan pentingnya bimbingan bagi anak-anak dalam mengembangkan kepribadian mereka hingga mencapai kedewasaan secara psiko-fisik dan psikologis, yang mencakup berbagai aspek perkembangan, termasuk individu, sosial, moral, serta aspek lainnya. Konsep pendidikan inklusi menekankan pada pemberian kesempatan yang sama bagi seluruh peserta didik, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus, untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas di sekolah reguler. Menurut Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 Ayat 1 serta Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dijelaskan bahwa negara menjamin sepenuhnya hak anak berkebutuhan khusus untuk mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas. Konsep ABK memiliki makna yang lebih luas dibandingkan dengan istilah anak luar biasa . xceptional childre. Konsep anak berkebutuhan khusus (ABK) ialah anak yang membutuhkan layanan khusus karena menghadapi hambatan dalam belajar dan perkembangan, seperti tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunagrahita, tunadaksa, dan tunalaras. Hal ini bertujuan agar mereka dapat mencapai kemajuan dalam belajar yang setara dengan peserta didik normal, termasuk dalam mengelola emosi dan berinteraksi secara sosial (Kadir, 2. Hal ini menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama dengan anak lainnya . dalam memperoleh pendidikan (Mulyah & Khoiri, 2. Akses pendidikan yang layak bagi anak berkebutuhan khusus hingga saat ini masih terdapat banyak ketimpangan. Permasalahan ini disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, keterbatasan pengalaman dan kompetensi pendidik dalam mengajar serta menangani peserta didik berkebutuhan khusus. Kedua, kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung serta ramah bagi anak berkebutuhan khusus (Wahyuni & Sartika, 2. Data dari UNICEF menunjukkan ada sekitar 93 juta anak berkebutuhan khusus di seluruh dunia (Sriasih dkk. , 2. Menurut Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2017, terdapat sekitar 1,6 juta anak berkebutuhan khusus di Indonesia. Namun, baru 18% di antaranya yang telah mendapatkan layanan pendidikan inklusi. Sebanyak 115 ribu anak berkebutuhan khusus menempuh pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB), sementara sekitar 299 ribu anak bersekolah di sekolah reguler yang menyelenggarakan program inklusi. Data tersebut membuktikan bahwa jumlah anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di sekolah reguler berbasis inklusi lebih Pendidikan inklusi dapat menjadi pilihan bagi orang tua yang ingin menyekolahkan anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler. Tetapi, tidak semua sekolah reguler dapat menerima siswa ABK, karena pendidikan inklusi hanya diselenggarakan oleh sekolah-sekolah yang ditunjuk oleh pemerintah untuk menjalankan program inklusi maupun sekolah swasta yang secara mandiri menginisiasi program inklusi (Kadir, 2. SMA Negeri 1 Teras terletak di Kecamatan Teras. Kabupaten Boyolali. Sekolah ini didirikan pada 1989-1990 menurut Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0389/O/1990 tentang Pembukaan dan Penegerian Sekolah Tahun pelajaran 1990/1991. Kebijakan Pendidikan Inlusif SMA Negeri 1 Teras mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Menurut UUD 1945 pasal 28h ayat 2, dijelaskan bahwa setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan. SMA Negeri 1 Teras menunjukkan komitmen dalam mendukung Program Sekolah Inklusi 92 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Nasional dengan merancang layanan pendidikan inklusif sejak tahun 2022 sebagai upaya pemenuhan hak pendidikan yang setara bagi seluruh peserta didik. Hal ini menuntut guru di SMA Negeri 1 Teras untuk memiliki kompetensi yang mendalam dalam mengajar siswa yang berkebutuhan khusus secara efektif terkhusus dalam pembelajaran sejarah. Salah satu kendala utama adalah rendahnya kompetensi pedagogik guru dalam menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan prinsip inklusivitas. Menurut Sulfemi . kompetensi guru sejarah yaitu sekumpulan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki, dipahami, dikuasai, serta diterapkan oleh guru dalam menjalankan tugas profesionalnya. Seorang guru sejarah harus memiliki kompetensi yang mencakup aspek kepribadian, pedagogik, profesional, dan Guru di SMA Negeri 1 Teras masih mengalami kesulitan dalam merancang metode, media, dan evaluasi pembelajaran yang dapat menjangkau seluruh siswa, termasuk siswa berkebutuhan khusus. Berdasarkan hasil observasi awal di SMA Negeri 1 Teras, ditemukan bahwa sebagian besar guru sejarah masih menggunakan pendekatan konvensional dalam pembelajaran sejarah, sehingga kurang efektif dalam mendukung kebutuhan belajar siswa Penelitian oleh Wahyudi dkk. ditemukan bahwa peran kompetensi pedagogik guru dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di MTS Al-Irsyad 7 Kota Batu dinilai sudah cukup baik. Hal ini tercermin dari kemampuan guru dalam beberapa aspek penting, yaitu: . memahami karakteristik peserta didik. merancang kegiatan pembelajaran. melaksanakan pembelajaran secara dialogis dan mendidik. melakukan evaluasi. mengembangkan potensi siswa. Adapun kendala yang dihadapi peserta didik terletak pada mekanisme pembelajaran yang menggunakan bahasa Arab serta perbedaan kemampuan Untuk mengatasi kesulitan tersebut, guru SKI melakukan pendekatan khusus terhadap siswa yang mengalami hambatan belajar, serta menerapkan metode ceramah dan latihan . dalam proses pembelajaran. Penelitian oleh Maulidya & Ulfah . ditemukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kompetensi guru dengan tingkat pemahaman materi pelajaran siswa. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kompetensi guru berperan penting dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Untuk mendukung peningkatan tersebut, strategi yang dapat diterapkan melalui pendekatan kompetensi guru antara lain adalah memperbaiki proses pengajaran, menyediakan bimbingan belajar, menumbuhkan kebiasaan belajar, memberikan umpan balik dalam proses pembelajaran, memotivasi siswa, serta melaksanakan pengajaran perbaikan atau remedial teaching. Penelitian oleh Meka dkk. ditemukan bahwa pendidikan inklusi memberikan manfaat besar bagi anak berkebutuhan khusus maupun masyarakat secara luas. Manfaat utama yang diperoleh dari penerapan pendidikan inklusi adalah terbentuknya nilai-nilai sosial, khususnya kesetaraan. Sekolah inklusi memberikan ruang bagi siswa berkebutuhan khusus untuk mengembangkan sikap positif melalui interaksi sosial yang terjalin dalam lingkungan pertemanan dan kerja sama dengan teman sebaya. Melalui proses ini, siswa secara umum belajar menjadi lebih peka, menghargai perbedaan, memahami keberagaman, dan merasa nyaman dalam keberagaman individu. Bagi siswa berkebutuhan khusus, pendidikan inklusi juga membantu dalam pengembangan keterampilan sosial serta mempersiapkan mereka untuk beradaptasi dan hidup di tengah masyarakat. Di samping itu, keberadaan mereka di sekolah umum turut menghindarkan mereka dari dampak negatif yang mungkin muncul akibat pendidikan yang bersifat segregatif. Penelitian oleh Wulandari & Hendriani . ditemukan bahwa kompetensi pedagogik guru di sekolah inklusi di Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perbedaan latar belakang pendidikan guru, kurangnya pemahaman terhadap karakteristik dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus, serta ketidakmampuan dalam membedakan metode pembelajaran antara siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus. 93 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Keberagaman siswa juga menyulitkan guru dalam mengidentifikasi kebutuhan individu dan mengevaluasi proses belajar secara tepat. Rendahnya kompetensi pedagogik ini diperburuk oleh minimnya pelatihan, seminar, atau workshop yang mendukung peningkatan kualitas guru Data menunjukkan bahwa sebagian besar guru berlatar belakang pendidikan umum, dengan hanya sedikit yang berasal dari pendidikan khusus atau konseling, yang berkontribusi pada rendahnya persentase guru dengan kompetensi pedagogik tinggi hanya 7% yang dinilai baik, sementara sisanya berkisar dari cukup hingga sangat rendah. Penelitian oleh Edo Setiawan . ditemukan bahwa guru sejarah telah memenuhi sebagian besar indikator kompetensi pedagogik, meskipun beberapa masih kurang optimal dalam pelaksanaannya. Faktor utama yang memengaruhi hal ini adalah keterbatasan informasi dan kondisi pembelajaran jarak jauh selama pandemi, guru hanya menggunakan aplikasi Kaizala yang difasilitasi sekolah secara terbatas, tanpa memanfaatkan platform tatap muka daring lain. Selain itu, tindakan reflektif yang dilakukan guru masih minim dan terbatas, sehingga belum efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013 revisi 2017, guru sejarah secara umum telah memenuhi ketentuan yang ada, terutama dalam penyusunan perangkat pembelajaran sesuai format kebijakan terbaru. Masih ditemukan kekurangan seperti tidak dicantumkannya model pembelajaran dalam tujuan pembelajaran. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru juga belum secara maksimal menerapkan unsur Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), baik secara langsung maupun tersisip dalam materi, yang dipengaruhi oleh keterbatasan interaksi dalam sistem daring. Penelitian ini memiliki fokus utama pada kompetensi pedagogik guru sejarah dalam mengimplementasikan pendidikan inklusi di SMA Negeri 1 Teras, yang membedakannya dari penelitian sebelumnya. Penelitian terdahulu lebih menyoroti tentang kompetensi guru sejarah dijenjang sekolah menengah pertama (MTS), kompetensi guru pada pemahaman materi pelajaran di sekolah, pendidikan inklusi dari sisi social dan psikologis siswa secara umum, kompetensi pedagogik guru sekolah inklusi diseluruh Indonesia dan kompetensi guru sejarah dalam implementasi kurikulum 2013 revisi 2017 dalam pembelajaran daring selama pandemi. Keunikan dari penelitian ini ada pada objek penelitiannya yaitu SMA Negeri 1 Teras, karena sekolah ini menjadi sekolah inklusi baru 4 tahun yaitu, sejak 2022. Berdasarkan wawancara guru sejarah di SMA Negeri 1 Teras pada tanggal 14 Juni 2024 terdapat satu anak berkebutuhan khusus yang sudah lulus pada tahun 2024, kemudian wawancara guru sejarah SMA Negeri 1 Teras pada tanggal 9 April 2026 terdapat 2 peseta didik berkebuthan khusus yaitu siswa kelas XF dan siswi kelas XIIE dengan kategori disabilitas fisik atau tuna daksa sehingga penelitian ini menarik dan belum pernah dikaji sebelumnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kompetensi pedagogik guru sejarah dalam mengimplementasikan pendidikan inklusi pada pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Teras, serta hambatan yang dihadapi guru sejarah dalam mengimplementasikan pendidikan inklusi di SMA Negeri 1 Teras dan solusi dari hambatan dalam implementasi pendidikan inklusi oleh guru sejarah di SMA Negeri 1 Teras. Implementasi pendidikan inklusi dalam pembelajaran sejarah membutuhkan kompetensi pedagogik yang mumpuni dari guru sejarah agar dapat mengakomodasi kebutuhan semua peserta didik. Maka dari itu berdasarkan pada latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, penelitian ini mengangkat tema AuKompetensi Pedagogik Guru Sejarah dalam Mengimplementasikan Pendidikan Inklusi pada Pembelajaran Sejarah Di SMA Negeri 1 TerasAy. Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian kompetensi guru sejarah dalam pendidikan inklusi, memperkaya literatur tentang kompetensi pedagogik guru sejarah di kelas inklusi, memberikan informasi sebagai bahan evaluasi serta dapat menjadi bahan referensi. 94 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 KAJIAN TEORI Kompetensi Pedagogik Kompetensi pedagogik menurut PP nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 28, ayat 3, menjelaskan jika kompetensi pedagogik merupakan kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi . pemahaman peserta didik, . perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, . evaluasi hasil belajar, . pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya (Utiarahman, 2. Dalam konteks pembelajaran di kelas, kompetensi pedagogik adalah landasan utama bagi seorang guru dalam menjalankan perannya di dunia pendidikan, yang dalam praktiknya memiliki keterkaitan erat dengan interaksi bersama siswa. Berdasarkan Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran yang berkaitan dengan peserta didik. Kompetensi ini mencakup pemahaman terhadap wawasan dan landasan kependidikan, pemahaman karakteristik peserta didik, pengembangan kurikulum atau silabus, perancangan serta pelaksanaan pembelajaran yang bersifat mendidik dan dialogis, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, evaluasi hasil belajar, serta pengembangan peserta didik agar dapat mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya secara optimal (Khofifah & Ulfah, 2. Pendidikan Inklusi Pendidikan inklusif merupakan sistem pendidikan yang disusun dan disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan semua peserta didik, baik yang berkemampuan normal maupun yang memiliki kebutuhan khusus. Setiap peserta didik berhak mendapatkan layanan pendidikan yang setara tanpa adanya perbedaan atau diskriminasi (Khairuddin, 2. Konsep dasar pendidikan inklusi ialah 1. ) proses berkelanjutan dalam menemukan pendekatan yang tepat untuk menanggapi perbedaan individu pada setiap anak, 2. ) berupaya mencari berbagai solusi guna mengatasi kendala yang dihadapi anak dalam belajar, memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk bersekolah, 3. ) berpartisipasi aktif serta memperoleh pengalaman belajar yang bermakna bagi kehidupannya (Islam dkk. , 2. Pembelajaran Sejarah Pembelajaran sejarah adalah sarana mentransfer ilmu dan membantu peserta didik dalam proses pendewasaan. Dengan memahami peristiwa-peristiwa sejarah, siswa dapat mengenali identitas, jati diri, serta karakter bangsanya, sehingga memiliki kesadaran yang lebih dalam terhadap nilai-nilai kebangsaan (Susanto, 2. Pembelajaran sejarah adalah pembelajaran yang bertujuan untuk membangun kepribadiaakann dan sikap mental peserta Mengajarkan peserta didik tentang kesinambungan perubahan dari masa lalu menuju masa depan, serta menanamkan nilai kejujuran, kebijaksanaan, cinta terhadap bangsa, dan sikap kemanusiaan. Secara fundamental, sejarah berperan sebagai alat untuk memahami serta menyelesaikan permasalahan masa kini dengan mengambil pelajaran dari pengalaman di masa lampau (Asmara, 2. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Teras. Boyolali, selama 6 bulan pada MeiAeJuni 2025 dan Desember 2025AeMei 2026. Populasi penelitian meliputi seluruh pihak yang terlibat dalam pembelajaran sejarah di sekolah tersebut, dengan sampel ditentukan melalui teknik purposive sampling, yaitu guru sejarah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, serta siswa inklusi yang dipilih berdasarkan pertimbangan relevansi dan kedalaman informasi. Instrumen utama penelitian adalah peneliti sendiri yang didukung oleh pedoman wawancara, lembar observasi, dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipasi pasif, wawancara semi-structured, dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data menggunakan teknik analisis interaktif menurut Miles dan Huberman yang meliputi data collection, data 95 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 condensation, data display, dan conclusion drawing/verification, dengan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, teknik. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Kompetensi Pedagogik Guru Sejarah dalam Mengimplementasikan Pendidikan Inklusi pada Pembelajaran Sejarah Berdasarkan hasil wawancara dengan guru sejarah dan siswa inklusi, kompetensi pedagogik guru dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Teras menunjukkan kemampuan dalam memahami karakteristik peserta didik, merencanakan, melaksanakan, serta mengevaluasi pembelajaran secara inklusif. Guru mampu mengenali keberagaman siswa, termasuk siswa berkebutuhan khusus, dan menyesuaikan strategi pembelajaran agar seluruh siswa dapat mengikuti proses belajar sesuai kemampuan masing-masing. Penyesuaian dilakukan pada aspek penyampaian materi, metode, serta evaluasi dengan pendekatan yang fleksibel dan tidak diskriminatif. Hal ini sejalan dengan ketentuan Undang-Undang No. Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang menekankan pentingnya pemahaman karakteristik peserta didik dalam pembelajaran. Meskipun demikian, dalam praktiknya masih terdapat keterbatasan dalam memberikan perhatian secara merata kepada seluruh siswa karena keberagaman kebutuhan di kelas inklusi. Kegiatan Pendahuluan Pada kegiatan pendahuluan, guru menyusun tujuan pembelajaran berdasarkan kurikulum yang berlaku dan menyesuaikannya dengan kondisi siswa, termasuk siswa berkebutuhan khusus, dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Pelaksanaan pembelajaran diawali dengan kegiatan yang sistematis seperti menyapa siswa, berdoa, serta memberikan pertanyaan pemantik untuk menghubungkan materi sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari. Guru juga melakukan apersepsi untuk membantu siswa memahami kesinambungan materi sejarah serta mendorong keterlibatan aktif seluruh siswa sejak awal pembelajaran. Selain itu, guru menciptakan suasana kelas yang nyaman, inklusif, dan tidak diskriminatif sehingga siswa merasa diterima dan siap mengikuti Penerapan ini menunjukkan bahwa guru telah memiliki kompetensi pedagogik dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, meskipun efektivitasnya masih dipengaruhi oleh konsistensi pelaksanaan di kelas. Kegiatan Inti Pada kegiatan inti, guru menerapkan pembelajaran dengan metode ceramah interaktif yang dikombinasikan dengan diskusi, penggunaan media seperti video, serta kerja kelompok untuk meningkatkan partisipasi siswa. Guru menyampaikan materi dengan bahasa yang sederhana dan bertahap agar mudah dipahami, serta menyesuaikan metode dan tugas sesuai kemampuan siswa, termasuk siswa berkebutuhan khusus. Pembelajaran dilaksanakan secara inklusif dengan memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh siswa untuk terlibat aktif, baik dalam diskusi maupun presentasi. Selain itu, pembentukan kelompok heterogen mendorong interaksi sosial dan kerja sama antar siswa, meskipun dalam praktiknya masih terdapat ketimpangan partisipasi dalam kelompok. Hasil wawancara menunjukkan bahwa siswa inklusi merasa nyaman dan terbantu dengan cara guru mengajar yang jelas, tidak terburu-buru, serta adanya dukungan dari teman sebaya. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran telah berjalan secara inklusif, meskipun masih memerlukan pengembangan metode yang lebih variatif agar dapat mengakomodasi kebutuhan belajar yang beragam secara optimal. Kegiatan Penutup Pada kegiatan penutup, guru melaksanakan pembelajaran secara terstruktur dengan mengajak siswa melakukan refleksi terhadap materi yang telah dipelajari, menyusun 96 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 kesimpulan bersama, serta memberikan penguatan terhadap konsep yang dipahami siswa. Penyampaian dilakukan dengan bahasa sederhana agar dapat diakses oleh seluruh siswa, termasuk siswa berkebutuhan khusus. Guru juga memberikan umpan balik dan motivasi secara positif untuk meningkatkan semangat belajar serta menyampaikan rencana pembelajaran berikutnya. Tugas yang diberikan telah disesuaikan dengan kemampuan siswa sehingga tidak menimbulkan beban berlebih. Berdasarkan hasil wawancara, siswa inklusi merasa terbantu dengan penjelasan ulang yang diberikan guru dan tetap dilibatkan dalam kegiatan kelas, sehingga meningkatkan rasa percaya diri mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan penutup telah dilaksanakan sesuai prinsip pembelajaran inklusif dan mendukung pemahaman siswa secara menyeluruh. Hambatan Guru Sejarah dalam Mengimplementasikan Pendidikan Inklusi Pemahaman Guru tentang Pendidikan Inklusi Pemahaman guru mengenai pendidikan inklusi masih menjadi hambatan karena belum sepenuhnya mendalam dan aplikatif, meskipun telah ada sosialisasi dari pihak sekolah. Guru umumnya memahami konsep dasar inklusi, tetapi masih mengalami kesulitan dalam menerapkannya secara praktis di kelas, terutama dalam menentukan strategi pembelajaran, asesmen, dan pengelolaan kelas yang sesuai dengan kebutuhan siswa berkebutuhan khusus. Keterbatasan ini menyebabkan pembelajaran sering dilakukan berdasarkan pengalaman dan penyesuaian spontan. Selain itu, guru juga mengalami kendala dalam mengidentifikasi kebutuhan siswa secara lebih spesifik. Hal ini menunjukkan bahwa diperlukan peningkatan pemahaman yang lebih komprehensif dan berbasis praktik agar guru mampu mengelola pembelajaran inklusi secara efektif. Keterbatasan Waktu Keterbatasan waktu menjadi hambatan yang cukup signifikan dalam implementasi pembelajaran inklusif, mengingat alokasi waktu pembelajaran sejarah hanya 2 jam pelajaran materi sejarahnya karena yang 1 jam untuk kegiatan kokulikuler. Guru harus membagi waktu antara penyampaian materi sesuai kurikulum dan memberikan pendampingan kepada siswa berkebutuhan khusus yang memerlukan penjelasan tambahan. Kondisi ini menimbulkan dilema antara mengejar ketuntasan materi dan memastikan seluruh siswa memahami pembelajaran. Selain itu, keterbatasan waktu juga berdampak pada proses evaluasi dan pemberian umpan balik yang belum optimal bagi setiap siswa. Akibatnya, pembelajaran inklusif belum dapat berjalan secara maksimal karena kebutuhan siswa yang beragam belum sepenuhnya terakomodasi dalam waktu yang tersedia. Sarana dan Prasarana Kondisi sarana dan prasarana sekolah juga menjadi hambatan dalam penerapan pendidikan inklusi karena belum sepenuhnya mendukung kebutuhan siswa berkebutuhan Meskipun fasilitas dasar telah tersedia, aksesibilitas fisik seperti ramp untuk siswa tunadaksa masih terbatas, sehingga menyulitkan mobilitas siswa. Selain itu, keterbatasan fasilitas teknologi seperti LCD dan jaringan wifi yang belum optimal menghambat penggunaan media pembelajaran yang lebih variatif dan menarik. Hal ini menyebabkan guru lebih sering menggunakan metode konvensional dalam pembelajaran. Keterbatasan tersebut menunjukkan bahwa dukungan sarana dan prasarana yang belum memadai menjadi faktor penghambat dalam menciptakan pembelajaran yang inklusif dan efektif. Solusi terhadap Hambatan Implementasi Pendidikan Inklusi Peningkatan Kompetensi Pedagogik Peningkatan kompetensi pedagogik guru menjadi solusi utama dalam mengatasi hambatan pembelajaran inklusif, yang dapat dilakukan melalui pelatihan, workshop, serta kegiatan kolaborasi antar guru. Guru perlu mengembangkan pemahaman yang lebih 97 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 mendalam dan aplikatif terkait strategi pembelajaran inklusif, diferensiasi pembelajaran, serta teknik asesmen yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Selain itu, kegiatan berbagi praktik baik melalui forum seperti MGMP juga dapat membantu guru dalam menemukan solusi yang efektif berdasarkan pengalaman di lapangan. Sekolah juga berperan penting dalam menyediakan program pengembangan profesional yang berkelanjutan agar kompetensi guru terus meningkat dan mampu mendukung pembelajaran inklusif secara Perencanaan Pembelajaran yang Fleksibel Perencanaan pembelajaran yang efektif dan fleksibel menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan waktu dan keberagaman kebutuhan siswa, dengan memprioritaskan materi esensial yang berfokus pada pemahaman konsep dan peristiwa penting. Guru dapat menyesuaikan metode, media, dan penugasan agar sesuai dengan kemampuan siswa, termasuk siswa berkebutuhan khusus, sehingga pembelajaran tidak membebani mereka. Fleksibilitas ini juga memungkinkan guru menyediakan alternatif strategi pembelajaran dan bentuk tugas yang beragam. Selain itu, pengelolaan waktu yang lebih terstruktur membantu guru dalam menyeimbangkan antara penyampaian materi dan kebutuhan pendampingan siswa, sehingga tujuan pembelajaran tetap tercapai secara optimal. Pengadaan Sarana dan Prasarana Pengadaan sarana dan prasarana yang mendukung pembelajaran inklusif menjadi solusi penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, terutama dalam hal aksesibilitas dan penggunaan teknologi. Sekolah perlu menyediakan fasilitas yang ramah inklusi seperti ramp untuk siswa tunadaksa serta mengoptimalkan penggunaan LCD dan jaringan wifi untuk mendukung pembelajaran berbasis media. Dengan fasilitas yang memadai, guru dapat menyampaikan materi secara lebih variatif dan menarik, sehingga membantu siswa memahami materi dengan lebih baik. Selain itu, penyediaan fasilitas pendukung lainnya seperti ruang layanan khusus atau tenaga pendamping juga dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran inklusif. Dengan demikian, sarana dan prasarana yang memadai menjadi faktor penting dalam mewujudkan pembelajaran yang inklusif, efektif, dan merata bagi seluruh siswa. Tabel 1. Hasil Observasi Implementasi Pendidikan Inklusi pada Pembelajaran Sejarah di Kelas XF Skor Aspek Indikator Observasi Ketera-ngan Guru mampu mengenali karakteristik siswa inklusi Pemahaman Guru memahami . , namun kepada peserta karakteristik siswa ue pemahaman belum berkebutuhan khusus sepenuhnya mendalam dan masih berkembang. Guru menyesuaikan metode. Identifikasi Guru menyesuaikan penjelasan, dan tugas sesuai pembelajaran sesuai ue kemampuan siswa kebutuhan siswa berkebutuhan khusus. Tujuan pembelajaran disusun Tujuan pembelajaran fleksibel, menggunakan Perencanaan disesuaikan dengan bahasa sederhana dan ue kondisi siswa menyesuaikan kondisi kelas Materi disederhanakan dan Materi sejarah Materi dijelaskan bertahap, namun dimodifikasi agar ue belum banyak modifikasi mudah dipahami khusus secara sistematis. 98 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Metode Guru menggunakan metode pembelajaran Media Media pembelajaran mendukung siswa berkebutuhan khusus Hambatasn Guru Kompetensi Pedagogik Guru ue Hambatas Guru Guru menghadapi keterbatasan alokasi waktu pembelajaran sehingga pelaksanaan pendidikan inklusi ue Hambatan Fasilitas belum pembelajaran inklusif ue Solusi Kompetensi Guru Dukungan Sekolah ue Penyesuaian Guru menyesuaikan strategi pembelajaran ue Dukungan Dukungan terkait pendidikan inklusi ue ue ue Guru menggunakan ceramah interaktif dan diskusi, tetapi variasi metode masih Penggunaan media masih terbatas karena kendala fasilitas seperti LCD dan wifi. Guru perlu terus mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam terkait konsep, prinsip, serta praktik pendidikan inklusi Guru menghadapi keterbatasan alokasi waktu pembelajaran sehingga pelaksanaan pendidikan inklusi belum dapat berjalan secara optimal. Sarana seperti ramp. LCD, dan wifi belum optimal sehingga menghambat pembelajaran inklusif. Dukungan ekolah berupa sosialisasi dan merencanakan workshop lanjutan untuk pendidikan inklusi yang baik Guru melakukan diferensiasi pembelajaran, penyesuaian tugas, dan pendekatan Sekolah berupaya memperbaiki sarana dan prasarana penunjang pembelajaran inklusif Berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran sejarah di kelas X F, kompetensi pedagogik guru dalam mengimplementasikan pendidikan inklusi menunjukkan capaian, terutama pada aspek pemahaman karakteristik peserta didik dan kemampuan melakukan penyesuaian pembelajaran. Guru telah mampu mengenali keberagaman kondisi siswa, termasuk siswa berkebutuhan khusus tunadaksa, serta mengadaptasi tujuan, materi, dan tugas secara fleksibel. Hal ini menunjukkan bahwa praktik pembelajaran telah mengarah pada prinsip inklusi, yaitu memberikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh siswa. Namun demikian, jika dianalisis lebih mendalam, penyesuaian yang dilakukan masih bersifat praktis dan situasional, belum sepenuhnya berbasis pada perencanaan diferensiasi yang sistematis, sehingga optimalisasi layanan terhadap kebutuhan individual siswa belum sepenuhnya Pada aspek pelaksanaan, penggunaan metode ceramah interaktif dan diskusi memang mampu menciptakan keterlibatan siswa, tetapi variasi strategi pembelajaran yang terbatas serta minimnya pemanfaatan media menjadi faktor yang menghambat efektivitas pembelajaran Kondisi ini diperkuat oleh adanya keterbatasan waktu pembelajaran dan sarana prasarana yang belum memadai, sehingga ruang bagi guru untuk melakukan inovasi pembelajaran menjadi terbatas. Selain itu, hambatan pada aspek kompetensi pedagogik yang belum sepenuhnya mendalam menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman konseptual dan praktik di lapangan. Meskipun demikian, upaya guru dalam menerapkan strategi diferensiasi serta dukungan sekolah melalui rencana peningkatan kompetensi dan 99 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 perbaikan fasilitas menunjukkan adanya arah pengembangan yang positif. Dengan demikian, implementasi pendidikan inklusi di kelas X F dapat dikatakan telah berjalan, tetapi masih berada pada tahap adaptif awal dan memerlukan penguatan pada aspek perencanaan, strategi pembelajaran, serta dukungan sistem agar dapat mencapai praktik inklusi yang lebih optimal. Pembahasan Kompetensi Pedagogik Guru Sejarah dalam Mengimplementasikan Pendidikan Inklusi pada Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Teras Kompetensi pedagogik guru sejarah dalam mengimplementasikan pendidikan inklusi pada pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Teras pada dasarnya dapat dipahami sebagai kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang mampu mengakomodasi keberagaman karakteristik peserta didik, termasuk siswa berkebutuhan khusus. Secara teoretis, kompetensi pedagogik mencakup pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, serta pengembangan potensi siswa sebagaimana dijelaskan dalam PP nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 28, ayat 3, menjelaskan jika kompetensi pedagogik merupakan kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi . pemahaman peserta didik, . perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, . evaluasi hasil belajar, . pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya (Utiarahman, 2. Dalam konteks pembelajaran di kelas, kompetensi pedagogik adalah landasan utama bagi seorang guru dalam menjalankan perannya di dunia pendidikan, yang dalam praktiknya memiliki keterkaitan erat dengan interaksi bersama siswa. Hal tersebut selaras dengan teori kompetensi pedagogik, dimana syarat utama dalam pelaksanaan pembelajaran yang efektif bagi peserta didik guna mencapai tujuan pendidikan (Solihin dkk. , 2. Hasil penelitian di SMA Negeri 1 Teras menunjukkan bahwa guru sejarah telah memiliki kompetensi pedagogik, dalam aspek pemahaman karakteristik peserta didik dan penyesuaian Guru mampu mengenali adanya keberagaman siswa, termasuk siswa tunadaksa, kemudian menyesuaikan tujuan, metode, serta evaluasi pembelajaran agar sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa. Hal ini selaras dengan prinsip pendidikan inklusi menurut Ernawati Harahap yang menekankan pemenuhan kebutuhan individu serta penciptaan lingkungan belajar yang menghargai perbedaan (Harahap dkk. , 2. Berdasarkan hasil observasi, diketahui Guru tidak membedakan perlakuan secara diskriminatif, tetapi memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh peserta didik untuk belajar sesuai dengan kemampuan masing-masing. Hal ini sesuai dengan pemberian kesempatan yang setara dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, seperti keterlibatan dalam diskusi kelompok dan penyelesaian tugas. Temuan ini menunjukkan adanya upaya guru dalam menerapkan prinsip kesetaraan dalam pembelajaran inklusi. Namun demikian, dalam praktiknya masih terdapat keterbatasan, terutama dalam pemberian perhatian yang merata kepada seluruh peserta didik, sehingga peserta didik berkebutuhan khusus terkadang memerlukan pendampingan lebih lanjut agar dapat mengikuti pembelajaran secara optimal. Pada tahap perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, kompetensi pedagogik guru sejarah dapat diketahui melalui kemampuannya menyusun tujuan pembelajaran yang fleksibel serta menggunakan metode yang variatif, seperti ceramah interaktif, diskusi, dan penggunaan media visual. Guru juga menyederhanakan bahasa dan materi agar mudah dipahami oleh semua siswa, termasuk siswa berkebutuhan khusus. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian Wahyudi dkk. yang menyatakan bahwa kompetensi pedagogik guru tercermin dari kemampuan merancang dan melaksanakan pembelajaran secara dialogis serta memahami karakteristik peserta didik. Praktik yang dilakukan guru sejarah di SMA Negeri 1 Teras menunjukkan adanya kesesuaian antara teori dan implementasi di lapangan. 100 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Pada aspek pelaksanaan pembelajaran inklusif, guru juga telah menerapkan prinsip student-active learning dengan melibatkan siswa secara aktif melalui tanya jawab, diskusi kelompok, serta pemberian kesempatan yang sama untuk berpendapat. Guru menyesuaikan bentuk tugas sesuai kemampuan siswa sehingga tidak menimbulkan beban berlebih bagi siswa berkebutuhan khusus. Kondisi ini didukung oleh penelitian Maulidya & Ulfah . yang menunjukkan bahwa kompetensi guru berpengaruh signifikan terhadap pemahaman siswa, terutama ketika guru mampu memberikan umpan balik, motivasi, dan penyesuaian Artinya, semakin kompeten seorang guru, maka semakin optimal pula keterlibatan dan pemahaman siswa dalam pembelajaran sejarah. Hal ini juga didukung oleh teori konsep dasar pendidikan inklusi ialah 1. ) proses berkelanjutan dalam menemukan pendekatan yang tepat untuk menanggapi perbedaan individu pada setiap anak, 2. ) berupaya mencari berbagai solusi guna mengatasi kendala yang dihadapi anak dalam belajar, memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk bersekolah, 3. ) berpartisipasi aktif serta memperoleh pengalaman belajar yang bermakna bagi kehidupannya (Islam dkk. , 2024, Pada tahap evaluasi dan penutup pembelajaran, guru juga menunjukkan kompetensi pedagogik melalui kegiatan refleksi, pemberian umpan balik, serta penyesuaian tugas sesuai kemampuan siswa. Guru memastikan seluruh siswa memahami materi melalui penjelasan ulang yang sederhana dan tidak terburu-buru. Hal ini menunjukkan bahwa guru tidak hanya berorientasi pada pencapaian kognitif, tetapi juga memperhatikan aspek afektif dan kenyamanan belajar siswa. Temuan ini relevan dengan penelitian Meka dkk. yang menyatakan bahwa pendidikan inklusi mampu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung interaksi sosial, meningkatkan rasa percaya diri, serta menumbuhkan sikap saling menghargai antar siswa. Kompetensi pedagogik guru sejarah di SMA Negeri 1 Teras masih menghadapi beberapa keterbatasan, terutama dalam pemahaman mendalam tentang pendidikan inklusi. Guru cenderung mengandalkan pengalaman mengajar dan penyesuaian spontan di kelas, karena pelatihan yang diperoleh masih bersifat umum. Kondisi ini sejalan dengan temuan Wulandari & Hendriani . yang menyebutkan bahwa kompetensi pedagogik guru di sekolah inklusi di Indonesia masih relatif rendah akibat kurangnya pelatihan dan pemahaman tentang kebutuhan siswa berkebutuhan khusus. Secara keseluruhan praktik pembelajaran sudah inklusif secara operasional, namun secara konseptual dan sistematis masih perlu penguatan. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kompetensi pedagogik guru sejarah di SMA Negeri 1 Teras telah menunjukkan implementasi pendidikan inklusi, terutama dalam aspek adaptasi pembelajaran, penciptaan suasana kelas yang inklusif, serta pemberian kesempatan belajar yang setara. Sejalan dengan teori pendidikan inklusif yaitu bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, tanpa diskriminasi, serta memastikan bahwa semua peserta didik dapat mengakses, berpartisipasi, dan memperoleh manfaat dari proses pendidikan sesuai dengan potensi mereka (Meka dkk. , 2023, hlm. Praktik tersebut telah sesuai dengan konsep teoretis kompetensi pedagogik dan prinsip pendidikan inklusi. Namun, optimalisasi masih diperlukan, khususnya dalam peningkatan pemahaman konseptual dan keterampilan praktis melalui pelatihan berkelanjutan, agar implementasi pendidikan inklusi tidak hanya bersifat adaptif, tetapi juga sistematis, terencana, dan berkelanjutan. 101 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Hambatan Guru Sejarah dalam Mengimplementasikan Pendidikan Inklusi pada Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Teras Hambatan yang dihadapi guru sejarah dalam mengimplementasikan pendidikan inklusi pada pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Teras tidak dapat dilepaskan dari aspek kompetensi pedagogik guru sebagai fokus utama penelitian ini. Secara teoretis, kompetensi dalam memahami karakteristik peserta didik, merancang dan melaksanakan pembelajaran, serta melakukan evaluasi yang sesuai dengan kebutuhan siswa, termasuk siswa berkebutuhan Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi tersebut belum sepenuhnya optimal, khususnya dalam pemahaman mendalam tentang pendidikan inklusi. Guru masih berada pada tahap pemahaman konseptual dasar dan belum mampu mengimplementasikannya secara sistematis dalam pembelajaran sejarah, sehingga praktik pembelajaran lebih banyak didasarkan pada pengalaman dan penyesuaian spontan di kelas. Kondisi ini sejalan dengan penelitian Wulandari & Hendriani . yang menyatakan bahwa rendahnya kompetensi pedagogik guru di sekolah inklusi disebabkan oleh kurangnya pemahaman terhadap kebutuhan siswa berkebutuhan khusus serta minimnya pelatihan yang bersifat aplikatif. Dengan demikian, hambatan utama terletak pada belum optimalnya kompetensi pedagogik guru dalam mengintegrasikan prinsip inklusi ke dalam pembelajaran sejarah secara terencana dan sistematis. Keterbatasan waktu juga menjadi hambatan yang secara langsung berkaitan dengan kemampuan pedagogik guru dalam mengelola pembelajaran. Dalam konteks pendidikan inklusi, guru dituntut untuk mampu menerapkan pembelajaran diferensiasi, memberikan perhatian individual, serta melakukan evaluasi yang adaptif sesuai kebutuhan siswa. Alokasi waktu pembelajaran sejarah yang terbatas menyebabkan guru kesulitan menjalankan seluruh komponen tersebut secara optimal. Secara teoretis, kompetensi pedagogik menuntut kemampuan guru dalam mengelola waktu pembelajaran secara efektif agar seluruh siswa dapat memperoleh layanan yang sesuai dengan kebutuhannya. Dalam praktiknya, guru lebih cenderung memprioritaskan penyelesaian materi dibandingkan pendalaman pemahaman siswa. Hal ini diperkuat oleh penelitian Maulidya & Ulfah . yang menunjukkan bahwa keterbatasan dalam pemberian bimbingan, umpan balik, dan remedial berdampak pada rendahnya pemahaman siswa. Hambatan waktu tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menunjukkan keterbatasan dalam optimalisasi kompetensi pedagogik guru dalam mengelola pembelajaran inklusif. Kondisi sarana dan prasarana yang belum sepenuhnya mendukung juga menjadi hambatan yang berkaitan erat dengan kompetensi pedagogik, khususnya dalam pemanfaatan media dan teknologi pembelajaran. Secara teoretis, kompetensi pedagogik mengharuskan guru mampu menggunakan berbagai media dan sumber belajar untuk mendukung proses pembelajaran yang efektif dan inklusif. Keterbatasan fasilitas seperti aksesibilitas bagi siswa tunadaksa serta belum optimalnya penggunaan teknologi pembelajaran menyebabkan guru kesulitan mengembangkan pembelajaran sejarah yang variatif dan adaptif. Kondisi ini berdampak pada terbatasnya inovasi pembelajaran, sehingga guru cenderung kembali menggunakan metode konvensional. Penelitian Meka dkk. menyatakan bahwa lingkungan belajar yang inklusif seharusnya didukung oleh fasilitas yang memungkinkan seluruh siswa berpartisipasi secara setara. Keterbatasan sarana dan prasarana turut memperkuat hambatan dalam implementasi kompetensi pedagogik guru sejarah dalam pembelajaran Secara keseluruhan, hambatan dalam implementasi pendidikan inklusi pada pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Teras menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara teori, hasil penelitian, dan kondisi empiris di lapangan. Hambatan tersebut tidak hanya berasal dari faktor eksternal seperti waktu dan fasilitas, tetapi juga dari faktor internal berupa belum optimalnya kompetensi pedagogik guru. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan saling 102 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 memengaruhi, sehingga implementasi pendidikan inklusi dalam pembelajaran sejarah memerlukan penguatan kompetensi pedagogik guru secara menyeluruh agar mampu mengakomodasi keberagaman kebutuhan peserta didik secara optimal. Solusi Terhadap Hambatan dalam Implementasi Pendidikan Inklusi oleh Guru Sejarah pada Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Teras Solusi terhadap hambatan dalam implementasi pendidikan inklusi oleh guru sejarah pada pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Teras perlu dianalisis melalui keterkaitan antara temuan penelitian di lapangan, teori kompetensi pedagogik dan pendidikan inklusi, serta hasil penelitian yang relevan. Salah satu solusi utama adalah peningkatan kompetensi pedagogik guru sejarah. Hal ini sesuai dengan faktor keberhasilan pendidikan inklusi. Guru yang mengajar di kelas inklusi harus memiliki kompetensi profesional, termasuk pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif terhadap materi serta pemahaman terhadap karakteristik peserta didik. Guru juga perlu menguasai berbagai aspek pengajaran seperti pengelolaan kelas, penggunaan media dan metode pembelajaran, serta pelaksanaan penilaian terhadap proses maupun hasil belajar (Temon Astawa, 2. Secara teoretis, kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam memahami karakteristik peserta didik, merancang dan melaksanakan pembelajaran, serta melakukan evaluasi yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Dalam konteks pendidikan inklusi, kemampuan ini menjadi sangat penting karena guru dituntut untuk mampu menyesuaikan pembelajaran dengan keberagaman kebutuhan siswa. Hasil penelitian di SMA Negeri 1 Teras menunjukkan bahwa guru masih membutuhkan pelatihan yang lebih mendalam dan aplikatif terkait strategi pembelajaran inklusif, diferensiasi pembelajaran, serta asesmen adaptif. Kondisi ini sejalan dengan penelitian Wulandari & Hendriani . yang menyatakan bahwa rendahnya kompetensi pedagogik guru disebabkan oleh minimnya pelatihan yang relevan dengan kebutuhan pembelajaran inklusi. Solusi berupa pelatihan, workshop, serta kolaborasi antar guru melalui forum seperti MGMP menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kompetensi pedagogik secara berkelanjutan. Analisis ketiga aspek tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi pedagogik tidak hanya menjadi solusi individual, tetapi juga merupakan kebutuhan sistemik dalam mendukung keberhasilan pendidikan inklusi. Perencanaan pembelajaran yang efektif dan fleksibel dengan menyesuaikan kebutuhan siswa serta memprioritaskan materi esensial bisa menjadi solusi. Pendidikan inklusi menekankan pada prinsip pemenuhan kebutuhan individu dan fleksibilitas kurikulum, di mana pembelajaran harus disesuaikan dengan karakteristik serta kemampuan masing-masing peserta Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru sejarah di SMA Negeri 1 Teras telah berupaya menyusun pembelajaran dengan menyederhanakan materi, menekankan pada konsep penting, serta menyediakan variasi metode dan penugasan yang disesuaikan dengan kemampuan siswa. Upaya ini sejalan dengan prinsip diferensiasi pembelajaran yang menjadi bagian penting dalam pendidikan inklusi. Penelitian Maulidya & Ulfah . juga menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pembelajaran dapat dilakukan melalui pemberian bimbingan, umpan balik, serta perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan. Perencanaan pembelajaran yang fleksibel tidak hanya membantu mengatasi keterbatasan waktu, tetapi juga menjadi bentuk implementasi nyata kompetensi pedagogik dalam menciptakan pembelajaran yang inklusif. Analisis menunjukkan bahwa keterpaduan antara teori, hasil penelitian, dan praktik di lapangan memperkuat pentingnya perencanaan yang adaptif sebagai solusi utama dalam pembelajaran Pengadaan dan optimalisasi sarana dan prasarana yang mendukung pembelajaran inklusif juga diperlukan. Keberhasilan pendidikan inklusi dipengaruhi oleh ketersediaan fasilitas yang mampu menunjang kebutuhan seluruh peserta didik, termasuk aksesibilitas fisik dan media pembelajaran yang adaptif. Hal ini sesuai dengan faktor keberhasilan pendidikan inklusi yaitu, 103 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 keberhasilan pendidikan inklusif juga ditentukan oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang sesuai dengan kurikulum yang diterapkan, seluruh sarana dan prasarana yang telah disediakan oleh sekolah tersebut diharapkan dapat digunakan secara maksimal oleh siswa dan guru dalam mendukung proses pembelajaran inklusif (Suvita dkk. , 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di SMA Negeri 1 Teras masih terdapat keterbatasan fasilitas, seperti akses bagi siswa tunadaksa serta pemanfaatan teknologi pembelajaran yang belum optimal. Pengadaan fasilitas seperti ramp, optimalisasi penggunaan LCD dan wifi, serta penyediaan media pembelajaran yang variatif menjadi solusi yang penting untuk mendukung proses pembelajaran sejarah. Hal ini sejalan dengan penelitian Meka dkk. yang menyatakan bahwa lingkungan belajar yang inklusif harus mampu memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh siswa untuk berpartisipasi aktif. Dengan adanya sarana yang memadai, guru dapat lebih mudah mengembangkan inovasi pembelajaran yang menarik dan adaptif sesuai dengan kebutuhan Secara keseluruhan, solusi terhadap hambatan dalam implementasi pendidikan inklusi pada pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Teras menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara teori, hasil penelitian, dan kondisi empiris di lapangan. Peningkatan kompetensi pedagogik guru, perencanaan pembelajaran yang fleksibel, serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai merupakan tiga solusi utama yang saling melengkapi. Ketiga solusi tersebut tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus dilaksanakan secara terpadu agar mampu mengatasi hambatan yang ada secara efektif. Analisis ini menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi pendidikan inklusi sangat bergantung pada sinergi antara kemampuan guru, dukungan sistem sekolah, serta penerapan prinsip-prinsip pendidikan inklusi secara konsisten dalam pembelajaran sejarah. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai kompetensi pedagogik guru sejarah dalam mengimplementasikan pendidikan inklusi pada pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Teras, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Kompetensi Pedagogik Guru Sejarah dalam Mengimplementasikan Pendidikan Inklusi pada Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Teras Kompetensi pedagogik guru sejarah di SMA Negeri 1 Teras dalam mengimplementasikan pendidikan inklusi. Guru telah mampu memahami karakteristik peserta didik, termasuk siswa berkebutuhan khusus, serta menyesuaikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Pembelajaran dilakukan secara fleksibel, menggunakan metode variatif, serta menciptakan suasana kelas yang inklusif, tidak diskriminatif, dan memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran sejarah. Hambatan Guru Sejarah dalam Mengimplementasikan Pendidikan Inklusi pada Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Teras Hambatan dalam implementasi pendidikan inklusi yang dihadapi guru sejarah di SMA Negeri 1 Teras meliputi beberapa aspek yang saling berkaitan. Salah satu hambatan utama adalah pemahaman pendidikan inklusi yang belum mendalam, sehingga pelaksanaan pembelajaran masih bersifat adaptif dan spontan, serta belum dirancang secara sistematis sesuai kebutuhan siswa berkebutuhan khusus. Selain itu, keterbatasan waktu pembelajaran juga menjadi kendala yang signifikan karena guru mengalami kesulitan dalam menyeimbangkan antara penyampaian materi sesuai kurikulum dengan pemenuhan kebutuhan individu siswa yang beragam. Di sisi lain, keterbatasan sarana dan prasarana turut memperkuat hambatan tersebut, terutama terkait dengan aksesibilitas bagi siswa tunadaksa serta pemanfaatan teknologi pembelajaran yang belum optimal. Ketiga hambatan ini menunjukkan bahwa implementasi pendidikan inklusi belum sepenuhnya 104 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 berjalan secara maksimal karena masih dipengaruhi oleh faktor kompetensi guru, keterbatasan waktu, dan dukungan fasilitas yang belum memadai. Solusi Terhadap Hambatan dalam Implementasi Pendidikan Inklusi oleh Guru Sejarah pada Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Teras Solusi terhadap hambatan dalam implementasi pendidikan inklusi pada pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Teras dilakukan melalui beberapa upaya yang saling mendukung. Salah satu solusi utama adalah peningkatan kompetensi pedagogik guru melalui pelatihan, workshop, serta kolaborasi antar guru, sehingga guru memiliki pemahaman yang lebih mendalam dan mampu menerapkan strategi pembelajaran inklusif secara lebih sistematis. Selain itu, perencanaan pembelajaran dilakukan secara fleksibel dengan memfokuskan pada materi esensial serta menerapkan diferensiasi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa. Upaya ini membantu guru dalam mengakomodasi keberagaman peserta didik meskipun dalam keterbatasan waktu Solusi lainnya adalah pengadaan dan optimalisasi sarana dan prasarana, seperti penyediaan aksesibilitas fisik bagi siswa berkebutuhan khusus serta pemanfaatan media pembelajaran berbasis teknologi. Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu mendukung terciptanya pembelajaran sejarah yang lebih inklusif, efektif, dan memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh siswa. REFERENSI