Jurnal Ilmiah Keagamaan. Pendidikan dan Dakwah Jurnal Ilmiah Keagamaan. Pendidikan dan Dakwah eISSN: 2809-0330 Vol. 18 No. Desember 2022 Sikap Keagamaan Siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Harlina Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Jami Banjarmasin Email: harlina@staialjami. Muhammad Jamaludin Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Jami Banjarmasin Email: muhammad. jamaludin5744@gmail. Zainuddin Sahbana Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Jami Banjarmasin Email: zainudinsahbana@staialjami. Abstrak Permasalahan yang akan dicari jawabannya dalam penelitian ini adalah bagaimana sikap keagamaan siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi sikap keagamaan siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui secara jelas sikap keagamaan siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin dan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap keagamaan siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin yang berjumlah 525 orang siswa tahun pelajaran 2020/2021. Kemudian dari populasi tersebut ditarik sampel kelas IV dan V dengan menggunakan teknik random sampling yakni mengambil jatah dari kelas tersebut di mana setiap kelas ditarik sampel 10 orang siswa sehingga seluruhnya berjumlah 50 orang siswa. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan pada penelitian ini adalah observasi, angket, wawancara, dan dokumenter. Selanjutnya data yang terkumpul diolah melalui teknik editing, koding, tabulating dan interpretasi data. Sedangkan untuk menganalisis data digunakan analisis deskriptif kuatitatif. Adapun untuk mengambil kesimpulan menggunakan metode induktif. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa sikap keagamaan siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin tinggi. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi sikap keagamaan siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin adalah : Faktor intern, yaitu faktor yang berasal dari dalam seperti kesadaran individu . yang tinggi. dan faktor ekstren, yaitu faktor yang berasal dari luar, yaitu : Adanya bimbingan dan arahan orang tua yang tinggi, adanya perhatian dan motivasi yang tinggi dari guru, keadaan lingkungan disekitar tempat tinggal siswa yang Kata Kunci:sikap, keagamaan, siswa. Harlina. Muhammad Jamaludin & Zainuddin Sahbana Pendahuluan Pendidikan Agama Islam saat ini memiliki tantangan yang jauh lebih berat dari pada tantangan yang dihadapi pada masa permulaan penyebaran agama Islam. Tantangan tersebut berupa timbulnya aspirasi idealitas manusia yang mempunyai banyak kepentingan yang berdimensi nilai ganda dengan tuntutan hidup yang komplek. Jadi tugas Pendidikan Agama Islam dalam proses pencapaian tujuannya tidak lagi menghadapi problem kehidupan yang sederhana melainkan amat komplek pada permasalahan hidup kejiwaannya, maka semakin tidak mudah jiwa manusia itu diberi napas agama. Sistem pendidikan kita perlu diperbaharui. Sebagaimana sistem pendidikan nasional kita sekarang ini, yaitu Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 Bab i pasal 4 yang berbunyi: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Pendidikan agama sebagai salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan di sekolah-sekolah mulai tingkat dasar, menengah sampai tingkat atas bukan hanya memberikan bekal ilmu pengetahuan semata-mata pada siswa, melainkan juga membentuk sikap serta memberi kemampuan kepada siswa dalam mengembangkan kehidupan beragama nantinya, sehingga mereka dapat menjadi manusia yang beriman kepada Allah SWT, berakhlak mulia sebagai pribadi maupun anggota masyarakat. Seseorang belum dapat dikatakan beriman dan bertakwa kepada Allah SWT kalau di dalam dirinya masih belum tertanam sikap yang baik terhadap nilai-nilai agama, dengan kata lain siswa dituntut tidak hanya memiliki pengetahuan agama Islam saja atau memiliki Pendidikan Agama Islam saja melainkan harus ditumbuh kembangkan pula sikap keinginan untuk melaksanakan ajaran agama Islam dalam kehidupan seharihari. Dalam hal ini Pendidikan Agama Islam mempunyai andil yang besar, karena Pendidikan Agama Islam menjamin dan mempertinggi akhlak manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Berdasarkan informasi yang diperoleh dalam penjajakan pendahuluan pada Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin terlihat adanya kecenderungan sikap keagamaan sebagian siswa masih rendah, hal ini di duga disebabkan beberapa faktor, yaitu antara lain kurangnya bimbingan, arahan dan perhatian dari orang tua siswa terhadap anaknya, juga kurangnya motivasi dari siswa itu sendiri untuk beribadah, terbatasnya waktu yang dimilik oleh guru untuk memberikan bimbingan keagamaan, lingkungan teman dan masyarakat lingkungan siswa yang sebagian masih kurang mendukung. Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, maka penulis merasa tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang permasalahan tersebut dan menuangkannya dalam sebuah skripsi dengan judul : Sikap Keagamaan Siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin. 1 Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Penjelasannya. Departemen Pendidikan nasional. Jakarta, 2009, h. 2 | AL JAMI: Jurnal Ilmiah Keagamaan. Pendidikan dan Dakwah. Vol. 18 No. Desember 2022 Sikap Keagamaan Siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kerangka Teori Istilah sikap keagamaan berasal dari dua kata, yakni kata sikap dan kata agama. Untuk mempermudah memahami pengertian sikap keagamaan tersebut, maka terlebih dahulu dikemukakan masing-masing pengertian dari sikap dan keagamaan tersebut. Pengertian sikap Pengertian sikap telah di definisikan dalam berbagai versi oleh para ahli, perkowadz bahkan menemukan lebih dari tiga puluh definisi sikap, puluhan definisi dan pengertian itu pada umumnya dapat dimasukkan ke dalam salah satu di antaranya tiga kerangka pemikiran. Kerangka pemikiran pertama menurut mereka sikap adalah Ausuatu bentuk evaluasi atas reaksi perasaan, sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak . maupun perasaan tidak mendukung atau memihak . n favorabl. pada objek tersebutAy. 2 Kerangka pemikiran yang kedua Ausikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentuAy. 3 Dapat dikatakan bahwa kesiapan yang dimaksud adalah kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon. Sedangkan kerangka pemikiran ketiga mengatakan bahwa Ausikap adalah konstilasi komponen-komponen kognitif, afektif dan psikomotor yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan dan bertingkah laku terhadap suatu objekAy. Selanjutnya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia perkataan sikap diartikan sebagai Ausuatu perbuatan dan sebagainya yang berdasarkan pada pemikiran . endapat atau keyakina. Ay. Dari beberapa definisi yang dikemukakan dapat disimpulkan bahwa sikap adalah kecenderungan atau pendirian seseorang yang mendasari untuk bertingkah laku dengan cara tertentu. pengertian keagamaan Kata keagamaan berasal dari kata agama yang mendapat awalan Auke" dan akhiran AuanAy. Kata agama berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti peraturan dalam bahasa Indonesia. Menurut H. Ibrahim Lobis dalam bukunya Agama Islam Suatu Pengantar mengemukakan bahwa : Istilah agama itu sebenarnya berasal dari bahasa sansekerta AugamAy dan AuaAy. AugamAy berarti pergi, kata AugamAy ini dipakai dalam bahasa Inggris AugoAy, bahasa Belanda AugaAy yang artinya sama juga yakni pergi. AuaAy artinya tidak. Jadi kata agama berarti Autidak pergiAy. Autetap ditempatAy. AulenggangAy diwariskan secara turun temurun. Inilah arti istilah agama tetapi arti dalam jiwa kerohanian, agama merupakan darma dan kebenarannya abadi yang mencakup seluruh jalan kehidupan . ay of lif. 2Syaifuddin Anwar. Sikap Manusia (Teori dan Pengukuranny. Balai Pustaka. Jakarta, 1995, h. 3 Ibid, h. 4 Ibid, h. 5 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta, 1990, h. 6 H. Ibrahim Lubis. Agama Islam Suatu Pengantar. Ghalia Indonesia. Jakarta, 1983, , h. Jurnal Kajian Keagamaan. Pendidikan dan Dakwah. Vol. 18 No. Desember 2022 | 3 Harlina. Muhammad Jamaludin & Zainuddin Sahbana Menurut M. Sodiq dalam bukunya Kamus Istilah Agama mengartikan agama dengan Auajaran/kepercayaan yang mempercayai gaib yang mengatur dan menguasai alam, manusia dan jalan hidupnya, baik kehidupan dunia maupun akhiratAy. 7 Kemudian menurut WJS. Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia bahwa pengertian keagamaan adalah Ausifat-sifat yang terdapat dalam agama, segala sesuatu mengenai agamaAy. Dari beberapa pengertian sikap dan keagamaan di atas, maka dapatlah diambil kesimpulan atau garisan bahwa yang dimaksud dengan sikap keagamaan adalah kecenderungan atau pendirian baik segala tingkah laku, ucapan, perbuatan dan aktivitas lainnya yang dilakukan dalam menjalankan ajaran agama, terutama agama Islam. Dalam kaitannya dengan keagamaan ini. Islam mengemukakan istilah yang erat hubungan dengannya yaitu akhlak. Pengertian akhlak dari segi bahasa berasal dari bahasa Arab "akhlak". Akhlak adalah suatu keadaan yang melekat pada manusia, yang dari padanya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah, tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan atau penelitian. Jika keadaan hal tersebut melahirkan perbuatan yang baik dan terpuji menurut pandangan akal dan syarak hukum Islam, disebut akhlak yang baik. Jika perbuatan-perbuatan yang timbul tidak baik dinamakan akhlak yang buruk. Kata akhlak merupakan bentuk jamak dari kata al-khuluq atau al-khulq, yang secara etimologis berarti tabiat, budi pekerti, kebiasaan atau adat, keperwiraan, kesatriaan, kejantanan, agama, dan kemarahan . l-gada. 10 Dengan demikian akhlak dapat diartikan perbuatan atau tingkah laku yang lahir dari sifat yang ada di dalam jiwa tidak bisa dipisahkan dari Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah sikap, tingkah laku, perangai, tabiat atau moral yang tertanam pada jiwa manusia tanpa dipikir dan direnungkan lagi. Dalam kehidupan sehari-hari istilah lain yang dipakai sama maknanya dengan akhlak adalah etika, moral, tingkah laku, budi pekerti, tata krama, adab dan sopan santun. Jadi pengertian akidah akhlak adalah salah satu bagian dari mata pelajaran agama Islam yang digunakan sebagai wahana pemberian pengetahuan, bimbingan dan pengembangan kepada siswa agar dapat memahami, meyakini dan menghayati kebenaran ajaran Islam, serta bersedia mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya perlu dikemukakan bentuk-bentuk yang dikategorikan dalam sikap keagamaan yaitu sikap keagamaan yang berhubungan dengan Allah SWT antara lain shalat, puasa, dan membaca Al-Quran, dan sikap keagamaan yang berhubungan dengan sesama manusia antara lain adab terhadap orang tua, adab terhadap guru, sesama teman, tetangga dan lingkungan sekitar serta partisipasi dan aktivitas keagamaan lainnya, yang harus dilaksanakan sebagai kewajiban bagi seorang muslim. Demikian di antara gambaran tentang bentuk-bentuk sikap keagamaan yang sering mewarnai kehidupan seorang muslim. Di mana sikap tersebut merupakan cerminan 7 M. Shodiq. Kamus Istilah Agama. Bona Cipta. Jakarta, 1995, h. 8 WJS. Peorwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta, 1995, h. 9 Departemen Agama RI. Buku Pelajaran Akidah Akhlak Untuk Madrasah Tsnawiyah. Depag RI, 2008, 10 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Ensiklopedi Islam 1. PT. Ichtiar Baru Van Hoeve. Jakarta, 1997, h. 4 | AL JAMI: Jurnal Ilmiah Keagamaan. Pendidikan dan Dakwah. Vol. 18 No. Desember 2022 Sikap Keagamaan Siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 kepribadian seorang muslim baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan Sebagai seorang muslim yang baik, dalam melaksanakan segala perintah haruslah diiringi dengan hati yang tulus dan ikhlas kepada Allah SWT dan semata-mata mengharapkan ridha dari Allah SWT bukan karena sebab-sebab lain. Proses pembentukan sikap keagamaan Bukan hal yang mudah untuk membentuk sikap keagamaan dalam kepribadian muslim, artinya dalam membentuk sikap positif dari seluruh ajaran agama Islam, baik sebagai seorang hamba maupun sosial, misalnya pembentukan kemampuan melaksanakan shalat, puasa dan memiliki akhlakul karimah diperlukan suatu proses yang terpadu, sistematis dan berkesinambungan. Dalam konsep agama Islam kewajiban agama wajib dilaksanakan oleh seseorang agar memperoleh keridhaan-Nya dengan berupaya mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Agama Islam mempunyai ajaran tentang syariah, akidah dan Ajaran tentang syariah terbagi dua bagian yaitu ibadah dan muamalah. Dalam bentuk yang lebih sederhana ibadah kepada Allah SWT sebagai berikut : Pelaksanaan sholat Ibadah shalat merupakan pencerminan penyerahan diri yang tulus dari seorang hamba, pengakuan lahir bathin akan keagungan Allah SWT, serta janji untuk tetap taat dan tunduk atas perintah dan larangan-Nya. Shalat dalam ajaran agama Islam adalah tiang agama yang berarti tegak atau runtuhnya pelaksanaan agama, dan merupakan ukuran keimanan dan keislaman seorang hamba dan shalat dapat pula memberikan dampak positif bagi sikap dan prilaku seorang muslim. Shalat juga merupakan sebuah kesejukan bagi yang melaksanakannya, laksana sebagai sebuah sungai yang mengalir dengan memberikan suatu ketenangan dan keberkahan. Oleh karena itu seorang hamba yang telah menegakkan shalatnya dengan benar, maka dalam perjalanan hidupnya akan senantiasa melakukan perbuatan terpuji serta terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Pelaksanaan ibadah puasa Puasa merupakan ibadah yang telah jelas hukumnya dan kedudukannya, bagi muslim yang mampu terpanggil, maka diwajibkan atasnya untuk melaksanakan puasa Puasa yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, maka kemungkinan menjadi hamba Allah yang benar-benar sejati, derjat dan taqwa yang Puasa juga mempunyai hikmah yang sangat penting dalam diri seseorang yaitu sebagai latihan fisik dan mental serta mendidik manusia berakhlak mulia, kemudian berlanjut terhadap kepekaan terhadap sosial, serta kemanusiaan, dan moral serta agama. Pelaksanaan akhlakul karimah Dalam sikap keagamaan untuk membentuk kepribadian muslim dalam kemampuannya sebagai hamba yang beragama maka diperlukan adanya akhlakul karimah yang mapan dan sangat mengakar dalam dirinya. Bahkan Nabi pernah mengatakan, keimanan seseorang tidak sempura bila tidak disertai dengan akhlak yang Mahmud Ahmad Assayyid mengemukakan dalam bukunya Mendidik Generasi QurAoani bahwa : Akhlak merupakan pondasi . yang utama dalam pembentukan pribadi muslim yang seutuhnya. Pendidikan yang mengarah pada terbentuknya pribadi Jurnal Kajian Keagamaan. Pendidikan dan Dakwah. Vol. 18 No. Desember 2022 | 5 Harlina. Muhammad Jamaludin & Zainuddin Sahbana berakhlak, merupakan hal pertama yang harus dilakukan, sebab akan melandasi kestabilan kepribadian manusia secara keseluruhan. Jadi akhlakul karimah merupakan salah satu sub sistem dari sikap keagamaan seorang hamba, sebagaimana makhluk beragama, guna meraih kematangan kepribadian muslim sejati. Jika didalam jagat raya ini tidak ada lagi dihiasi dengan moral agama dan akhlak mulia, maka akan terjadi berbagai kerusakan. Oleh karena itu sikap keagamaan seorang muslim, bila dilaksanakan dengan baik akan berpeluang membentuk sikap yang positif terhadap ajaran agama dan memiliki kepribadian muslim yang sempurna, yang nantinya akan membawa keberuntungan bagi hidupnya. Selanjutnya dilihat dari pengalaman yang ada, maka proses pembentukan sikap keagamaan ini minimal melalui proses yaitu : Proses pembentukan melalui lembaga keluarga Keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama bagi setiap anak, maka dari orang tua berkewajiban untuk mendidiknya dengan penuh tanggung jawab. Allah SWT menegaskan agar mendidik diri keluarga supaya terhindar dari siksaan api neraka. Hadari Nawawi dengan bukunya Pendidikan dalam Islam mengemukakan bahwa tugas pokok pendidikan keluarga adalah : Membantu anak-anak memahami posisi dan peranannya masing-masing sesuai jenis kelaminnya, agar mampu saling menghormati dan saling menolong dalam pelaksanaan perbuatan baik dan diridahi Allah SWT. Membantu anak-anak mengenal dan memahami nilai-nilai yang mengatur kehidupan berkeluarga, bertetangga dan bermasyarakat. Mendorong anak-anak mencari ilmu di dunia dan di akhirat, agar mampu merealisasikan dirinya sebagai salah satu diri yang beriman dalam anggota . Membentuk anak-anak untuk memasuki kehidupan bermasyarakat setahap demi setahap melepaskan ketengantungan dari orang tua dan keluarga untuk bertanggung jawab. Kemudian Ahmad Tafsir dalam bukunya Ilmu Pendidikan Dalam Persfektif Islam menjelaskan bahwa : Pendidikan agamalah yang berperan besar dalam membentuk pandangan hidup seseorang. Ada dua arah mengenai kegunaan pendidikan dirumah Pertama penanaman nilai-nilai dalam arti pandangan hidup, yang kelak akan mewarnai perkembangan jasmani dan akalnya, kedua penanaman sikap yang kelak akan menjadi basis dalam menghargai guru dan pengetahuan di sekolah. Adanya pendapat Ahmad Tafsir di atas, maka Mahzuban Magazina dalam bukunya Pendidikan Anak Sejak Usia Dini Hingga Masa Depan mengemukakan ada 4 . peranan penting dalam keluarga yaitu : Struktur keluarga Dalam hal ini keluarga harus memiliki tanggung jawab untuk upaya pembentukan kepribadian anak, juga dalam penentuan kebijaksanaan yang akan diambil olehnya pada sekarang dan pada masa yang akan datang. 11 Mahmud Ahmad Assayyid. Mendidik Generasi QurAoani. Pustaka Mantiq. Bandung, 1992, h. 12 Hadari Nawawi. Pendidikan Dalam Islam. Al Ikhlas. Surabaya, 1993, h. Persfektif Islam. Remaja Rosdakarya. Bandung, 1994, h. 13 Ahmad Tafsir. Ilmu Pendidikan Dalam 6 | AL JAMI: Jurnal Ilmiah Keagamaan. Pendidikan dan Dakwah. Vol. 18 No. Desember 2022 Sikap Keagamaan Siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 . Peran budaya keluarga Keluarga merupakan pusat penting bagi alih peradaban, sehingga derajat kemanusiaan dan peradaban seseorang bergantung pada asal usul keluarga dan jenis peradaban tempat ia dibesarkan. Peran sosial budaya Keluarga memikul tanggung jawab bagi tegaknya masyarakat yang baik. Ini karena dasar pemikiran dan jiwa anak terletak dalam pusat tersebut. keluarga merupakan lingkungan pertama yang mengarahkan pada kehidupan sosial masyarakat, serta menjadikannya sebagai sumber cita-cita, kehendak, pemikiran ideologis, sosial dan . Peran emosi dan moral agama Lingkungan yang pertama yang memberikan anak kekuatan dan kelemahan emosi serta perasaan adalah keluarga. Keluarga bertindak sebagai alat transformasi tradisi, alat istiadat, moralitas dan ritual. Jadi dengan adanya peranan dan fungsi keluarga yang strategis itu diharapkan akan tumbuh pada sikap anak kepeduliannya atau kemampuannya menerima seluruh pesanpesan agama secara mendalam, sehingga mampu pula merealisasikan secara benar. Berarti membentuk sikap keagamaan yang positif dari pembentukan jiwa kepribadian muslim sejati. Proses pembentukan melalui lembaga pendidikan sekolah Orang tua bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya. Tetapi karena beberapa aspek yang perlu untuk mendapatkan bantuan pendidikan lain yang dikelola secara profesional, maka orang tua merasa sangat penting untuk membagi limpahan tanggung jawab pendidikan itu kepada lembaga pendidikan sekolah. Menurut Piet A. Sahertian dalam bukunya Profil Pendidikan Profesional mengemukakan bahwa : Pendidikan adalah orang yang diserahkan tanggung jawab mendidik, orang tua adalah pendidikan kodrati, maka ayah dan ibu mempunyai tanggung jawab secara kodrati. Tugas orang tua adalah mendidik anak-anaknya. Oleh karena itu sebagian dari tugas mendidik, misalnya mengajar, tidak dapat dilaksanakan orang tua maka sekolah sebagai lembaga formal diserahi tanggung jawab untuk Selanjutnya Jalaluddin dalam bukunya Psikologi Agama juga mengemukakan bahwa : Pendidikan agama dilembaga bagaimanapun akan memberikan pengaruh bagi pembentukan jiwa keagamaan pada anak. Namun demikian besar kecilnya pengaruh sangat tergantung dalam berbagai faktor yang dapat memotivasi anak untuk dapat memahami nilai-nilai agama, sebab pendidikan agama pada hakekatnya merupakan pendidikan nilai. Oleh karena itu, pengajar dan pendidik harus memahami konsepsi dasar ini, bahwa pendidikan umum dan pendidikan agama harus berjalan secara seimbang, selaras dan saling mengisi guna mewujudkan intelektual anak, sikap dan keterampilan termasuk 14 Mahzuban Magazina. Pendidikan Anak Sejak Usia Dini Hingga Masa Depan. Firdaus Pemandu Ilmu Hikmah. Surabaya, 1992, h. 15 Piet A. Sahertian. Profil Pendidikan Profesional. Andi Offset. Yogyakarta, 1994, h. 16 Jalaluddin. Psikologi Agama. Raja Grapindo Persada. Jakarta, 1990, h. Jurnal Kajian Keagamaan. Pendidikan dan Dakwah. Vol. 18 No. Desember 2022 | 7 Harlina. Muhammad Jamaludin & Zainuddin Sahbana dalam hal kemampuan memperdulikan secara sadar akan makna agama dan keagamaan itu sendiri bagi proses pembentukan jiwa yang tenang, kreatif dan terampil bagi anak. Sehingga kepribadian muslim bagi anak dilembaga pendidikan benar-benar terbina dengan maksimal, selaras dengan hakekat pendidikan itu sendiri. Lembaga pendidikan di sekolah ini mempunyai tujuan sebagaimana yang dikemukakan oleh H. Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati dalam bukunya Ilmu Pendidikan sebagai berikut : Tempat sumber ilmu pengetahuan . Tempat untuk mengembangkan bangsa . Tempat untuk menguatkan masyarakat bahwa pendidikan itu penting guna bekal kehidupan di masyarakat sehingga siap pakai. Proses pembentukan melalui interaksi sosial masyarakat Selain upaya membentuk sikap keagamaan . esediaan untuk melaksanakan ajaran agama Isla. dalam kepribadian muslim di lingkungan keluarga dan lembaga pendidikan di sekolah, maka melalui interaksi di masyarakat pun proses itu harus berlangsung dengan baik. Artinya dikeluarga tercipta programnya yang matang, di sekolah sebagai upaya mempercepat prosesnya dan di masyarakat kegiatan itu semakin dipadukan sekaligus akan membentuk tatanan baru apalagi sudah tercipta secara Persoalan ini bukanlah hal yang mudah, karena memang harus diawali dari pendidikan di rumah tangga. Anggota masyarakat adalah juga anggota keluarga, jadi setiap keluarga mampu mencerminkan sikap keagamaan yang positif, tentu akan melahirkan jiwa keagamaan pula bagi lingkungan sosial masyarakat. Upaya yang akan dilakukan dalam membentuk tatanan kehidupan masyarakat agar bisa memberikan penyaluran bagi proses pembentukan sikap keagamaan anak, dalam kepribadian muslim antara lain dengan melakukan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan secara rutin. Oleh karena itu peran para ulama dan tokoh masyarakat sangat penting dalam menciptakan kondisi ini, sehingga terjalin suatu kerjasama. Dengan hadirnya ulama dan tokoh masyarakat maka akan terciptanya keadaan untuk menjalin ajaran Islam secara Ulama merupakan pengalihan fungsi kenabian. Setiap ulama harus mampu mengemban misi para nabi kepada seluruh masyarakat dalam keadaan sangat sulit Amanat menegakkan Islam pada setiap sisi kehidupan menuntut peran aktif ulama dengan perjuangan, kesabaran, keikhlasan, dan sikap tawakal. Dengan demikian umat Islam dapat mengamalkan nilai-nilai ke Islaman dalam kehidupan sehari-hari. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa situasi dan kondisi masyarakat dengan segala dinamikanya merupakan lembaga pendidikan budaya yang dapat dijadikan alat untuk membentuk sikap keagamaan anak, dalam rangka melaksanakan kepribadian muslim secara kaffah, tentu saja dalam hal ini proses kehidupan masyarakat yang mampu mencerminkan pelaksanaan ajaran agama dengan baik. Fungsi Sikap Keagamaan dalam Pembentukan Kepribadian Muslim 17 Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati. Ilmu Pendidikan. Rineka Cipta. Jakarta, 1991, h. 18 Bahruddin. Dilema Ulama Dalam Perubahan Zaman. Andi Offset. Jakarta, 1991, h. 8 | AL JAMI: Jurnal Ilmiah Keagamaan. Pendidikan dan Dakwah. Vol. 18 No. Desember 2022 Sikap Keagamaan Siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Fungsi sikap keagamaan sangat menentukan upaya pembentukan kepribadian muslim bagi anak dalam pendidikannya. Artinya terbentuk tidaknya kepribadian muslim pada diri seseorang, fungsi sikap keagamaan sangat menentukan. Menurut Bimo Walgito dalam bukunya Psikologi Sosial (Suatu Penganta. mengemukakan bahwa fungsi sikap itu ada empat yaitu sebagai berikut : Fungsi instrumental atau fungsi penyesuaian atau fungsi manfaat Fungsi ini berkaitan dengan sasaran tujuan. Di sini sikap merupakan sarana untuk mencapai tujuan. Orang memandang sampai sejauh mana objek dapat digunakan sebagai sarana atau alat dalam rangka mencapai tujuan. Fungsi pertahanan ego Fungsi ini merupakan sikap yang diambil oleh seseorang demi untuk mempertahankan ego. Sikap ini diambil oleh seseorang pada waktu orang yang bersangkutan terancam keadaan dirinya. Fungsi ekspresi nilai Fungsi ini merupakan sikap yang ada pada diri seseorang yang merupakan jalan bagi individu untuk mengekspresikan nilai yang ada pada dirinya dengan ekspresi itulah seseorang akan mendapatkan kepuasan dan dapat menunjukkan keadaan dirinya. Fungsi pengetahuan Fungsi ini di mana individu mempunyai dorongan untuk ingin mengerti dengan pengalamannya, untuk memperoleh pengetahuan. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa fungsi sikap keagamaan yakni suatu upaya kesiapan dan tidak siapnya untuk menerima konsepsi agama, sangat besar fungsi dan peranannya untuk membentuk kepribadian muslim. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap Keagamaan Siswa Sekolah Dasar Islam Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi sikap keagamaan ini adalah kesadaran individu siswa, perhatian dan bimbingan orang tua, arahan dan motivasi guru dan lingkungan tempat tinggal. Untuk lebih jelasnya mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi sikap keagamaan siswa tersebut, maka berikut ini penulis uraikan secara singkat, yaitu : Faktor kesadaran individu Kesadaran individu siswa di sekolah merupakan salah satu faktor yang turut mempengaruhi terhadap sikap keagamaan mereka. Zakiah Daradjat dalam bukunya Ilmu Jiwa Agama, mengemukakan bahwa ada 4 . sikap terhadap agama, yaitu : Percaya turut-turutan . Percaya dengan kesadaran . Percaya tapi ragu-ragu. Tidak percaya sama sekali. Berdasarkan pada pernyataan di atas, maka kualitas dan kuantitas ibadah yang para siswa lakukan salah satunya di pengaruhi oleh faktor kesadaran diri mereka. Oleh karena itu para siswa dalam melakukan ibadah seperti melaksanakan shalat, puasa ada kalanya mereka lakukan karena ikut-ikutan atau karena terpaksa namun ada juga mereka lakukan atas kesadaran sendiri. Kesadaran diri dalam melaksanakan ajaran agama yang 19 Bimo Walgito. Psikologi Sosial (Suatu Penganta. Andi Offset. Jakarta, 1991, h. 20 Zakiah Daradjat. Ilmu Jiwa Agama. Bulan Bintang. Jakarta, 1985, h. Jurnal Kajian Keagamaan. Pendidikan dan Dakwah. Vol. 18 No. Desember 2022 | 9 Harlina. Muhammad Jamaludin & Zainuddin Sahbana tertanam kuat dalam diri seseorang akan mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas sikap keagamaannya. Oleh karena itu kesadaran diri dalam melaksanakan ajaran agama tersebut perlu diperhatikan dan di tanamkan agar kesadaran itu senantiasa tumbuh dan Faktor perhatian dan bimbingan orang tua Arifin dalam bukunya Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama di Lingkungan Sekolah dan Keluarga mengemukakan bahwa :Semua perbuatan anak itu adalah selalu merupakan identifikasi dari orang tuanya atau berpangkal dari perbuatan orang tuanya itu sendiri, hal ini memberikan pengertian bahwa antara lain : Orang tua tua mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan jiwa anak secara . Kehidupan etika serta agama anak merupakan proses pengadopsian dari etika serta agama orang tuanya karena anak suka meniru. Perkembangan perasaan etika melalui tahap demi tahap menuju pengertian dan kesadaran tentang kesusilaan. Sebelum mengerti tentang kesusilaan orang tua harus mempersiapkan anak ke arah itu dengan contoh-contoh perbuatan yang ethis pula. Dengan demikian peran orang tua sangat besar dalam memberikan perhatian dan bimbingan terhadap anak-anak mereka dalam membiasakan dan membentuk sikap keagamaan anak tersebut. Dalam membimbing anak jalan yang ditempuh orang tua adalah di samping melalui contoh teladan juga melalui nasehat, teguran-teguran, anjuran, perintah dan larangan terhadap mereka. Faktor arahan dan motivasi guru Guru adalah salah satu faktor yang turut menentukan dalam mempengaruhi pembentukan sikap keagamaan siswa, oleh karena itu pengaruh terhadap siswa begitu besar maka setiap guru harus sekurang-kurangnya mengetahui tentang agama dan mempunyai sikap positif terhadap agama. Di samping itu kepribadian dan akhirnya akhlaknya yang harus sesuai dengan ajaran agama Islam. Berkenaan dengan hal ini Zakiah Daradjat dalam bukunya Pendidikan Agama Islam Pembinaan Mental mengemukakan bahwa: Sesungguhnya guru yang ideal untuk madrasah adalah guru yang sanggup membawa siswanya kepada ajaran Islam. Melalui madrasah hendaknya di samping menguasai ilmu yang diajarkan, dia juga harus menguasai ajaran Islam. Dengan kemampuan ilmiah seperti itu ia akan mampu membawa siswanya kepada penghayatan agama dalam segala segi kehidupan, dengan demikian para guru akan benar-benar membantu pembinaan jiwa agama pada siswa. Faktor lingkungan Maksud lingkungan di sini adalah Auberupa benda-benda, orang-orang ataupun kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang ada di sekitar siswaAy. Semua kejadian atau hal yang ada di sekitar siswa mempunyai pengaruh langsung terhadap perkembangan dan pembentukan sikap keagamaan siswa. Lingkungan dapat 21 H. Arifin. Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama di Lingkungan Sekolah dan Keluarga. Bulan Bintang. Jakarta, 1987, h. 22Zakiah Daradjat. Pendidikan Agama Islam Dalam Pembinaan Mental. Bulan Bintang. Jakarta, 1985, 23 Sardiman. AM. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Rajawali Press. Jakarta, 1999, h. 10 | AL JAMI: Jurnal Ilmiah Keagamaan. Pendidikan dan Dakwah. Vol. 18 No. Desember Sikap Keagamaan Siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan dan pembentukan sikap keagamaan siswa, sebaliknya lingkungan dapat pula memberikan pengaruh negatif. Memberikan pengaruh positif maksudnya apabila lingkungan memberikan kesempatan yang baik serta memberikan dorongan atau motivasi terhadap pembentukan dan perkembangan sikap keagamaan siswa. Lingkungan dikatakan memberikan pengaruh negatif apabila lingkungan tersebut tidak memberikan kesempatan yang baik serta tidak mendorong atau memotivasi terhadap pembentukan dan perkembangan sikap keagamaan siswa. Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan . ield researc. dengan pendekatan kuantitatif yang bertujuan mengetahui secara jelas sikap keagamaan siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin dan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap keagamaan siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin yang berjumlah 525 orang siswa tahun pelajaran 2020/2021. Kemudian dari populasi tersebut ditarik sampel kelas IV dan V dengan menggunakan teknik random sampling yakni mengambil jatah dari kelas tersebut di mana setiap kelas ditarik sampel 10 orang siswa sehingga seluruhnya berjumlah 50 orang siswa. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan pada penelitian ini adalah observasi, angket, wawancara, dan dokumenter. Selanjutnya data yang terkumpul diolah melalui teknik editing, koding, tabulating dan interpretasi data. Sedangkan untuk menganalisis data digunakan analisis deskriptif kuatitatif. Adapun untuk mengambil kesimpulan menggunakan metode induktif. Hasil Penelitian dan Pembahasan Data tentang sikap keagamaan siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin Berkut ini akan dipaparkan data-data tentang sikap keagamaan siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasini: Data tentang keaktifan siswa melaksanakan sholat lima waktu Dari data yang didapatkan melalui angket diketahui bahwa siswa yang menyatakan selalu melaksanakan shalat lima waktu termasuk dalam kategori tinggi sekali yaitu sebanyak 86%, dan siswa yang menyatakan kadang-kadang melaksanakan shalat lima waktu termasuk dalam kategori rendah sekali yaitu sebanyak 14%, dan tidak ada siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin yang menyatakan tidak pernah melaksanakan shalat lima waktu. Data tentang keaktifan siswa melaksanaka sholat sunat Berdasarkan data yang didapatkan melalui angket diketahui bahwa siswa yang menyatakan kadang-kadang melaksanakan shalat sunat termasuk dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 78%, dan siswa yang menyatakan selalu melaksanakan shalat sunat termasuk dalam kategori rendah sekali yaitu sebanyak 14%, dan siswa yang menyatakan tidak pernah melaksanakan shalat sunat juga termasuk dalam kategori rendah sekali yaitu sebanyak 8%. Jurnal Kajian Keagamaan. Pendidikan dan Dakwah. Vol. 18 No. Desember 2022 | 11 Harlina. Muhammad Jamaludin & Zainuddin Sahbana Data keaktifan siswa menunaikan puasa ramadhan Dari hasil angket diketahui bahwa siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin yang menyatakan selalu menunaikan puasa ramadhan termasuk dalam kategori tinggi sekali yaitu sebanyak 86%, dan siswa yang menyatakan kadang-kadang menunaikan puasa ramadhan termasuk dalam kategori rendah sekali yaitu sebanyak 14%, dan tidak ada siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin yang menyatakan tidak pernah menunaikan puasa ramadhan. Data keaktifan siswa melaksanakan puasa sunat Dari hasil angket diketahui bahwa siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin yang menyatakan kadang-kadang melaksanakan puasa sunat termasuk dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 78%, dan siswa yang menyatakan selalu melaksanakan puasa sunat termasuk dalam kategori rendah sekali yaitu sebanyak 16%, dan siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin yang menyatakan tidak pernah melaksanakan puasa sunat termasuk dalam kategori rendah sekali yaitu sebanyak 8%. Data keaktifan siswa membantu pekerjaan orang tua di rumah Dari hasil angket diketahui bahwa siswa yang menyatakan selalu membantu pekerjaan orang tunya di rumah termasuk dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 76%, dan siswa yang menyatakan kadang-kadang membantu pekerjaan orang tuanya di rumah juga termasuk dalam kategori rendah yaitu sebanyak 24%, dan tidak ada siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin yang menyatakan tidak pernah membantu pekerjaan orang tuanya di rumah. Data keaktifan siswa dalam meminta izin orang tua ketika keluar rumah Dari hasil angket diketahui bahwa siswa yang menyatakan selalu meminta izin kepada orang tuanya untuk keluar rumah termasuk dalam kategori tinggi yaitu 76%, dan siswa yang menyatakan kadang-kadang meminta izin kepada orang tuanya untuk keluar rumah termasuk dalam kategori rendah sekali yaitu 18%, dan siswa yang menyatakan tidak pernah meminta izin kepada orang tuanya untuk keluar rumah juga termasuk dalam kategori rendah sekali yaitu 6%. Data keaktifan siswa mengucapkan salam ketika masuk dan keluar rumah Dari hasil angket diketahui bahwa siswa yang menyatakan selalu memberi salam kepada orang tuanya ketika masuk dan keluar rumah termasuk dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 76%, dan siswa yang menyatakan kadang-kadang memberi salam kepada orang tuanya ketika masuk dan keluar rumah termasuk dalam kategori rendah sekali yaitu sebanyak 18%, dan siswa yang menyatakan tidak pernah memberi salam kepada orang tuanya ketika masuk dan keluar rumah juga termasuk dalam kategori rendah sekali yaitu sebanyak 6%. Data tentang adab siswa ketika ketemu guru di luar jam pelajaran Dari hasil angket diketahui bahwa siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin yang menyatakan selalu memberi salam ketika bertemu dengan guru di luar jam pelajaran termasuk dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 74%, dan siswa yang menyatakan menyapa dan mengangguk ketika bertemu dengan guru di luar jam pelajaran termasuk dalam kategori rendah yaitu sebanyak 26%, dan tidak ada siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan 12 | AL JAMI: Jurnal Ilmiah Keagamaan. Pendidikan dan Dakwah. Vol. 18 No. Desember Sikap Keagamaan Siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin yang menyatakan pura-pura tidak melihat ketika bertemu dengan guru di luar jam pelajaran. Data keaaktifan siswa memberi salam ketika masuk kelas Dari data yang didapatkan melalui angket diketahui bahwa siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin yang menyatakan selalu memberi salam bila masuk kelas termasuk dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 74%, dan siswa yang menyatakan kadang-kadang memberi salam bila masuk kelas termasuk dalam kategori rendah yaitu sebanyak 26%, dan tidak ada siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin yang menyatakan tidak pernah memberi salam bila masuk kelas. Data keaktifan siswa mengikuti peringatan hari besar Islam Dari data yang didapatkan melalui angket diketahui bahwa siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin yang menyatakan selalu mengikuti peringatan hari besar Islam (PHBI) termasuk dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 74%, dan siswa yang menyatakan kadang-kadang mengikuti peringatan hari besar Islam (PHBI) termasuk dalam kategori rendah yaitu sebanyak 22%, dan siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin yang menyatakan tidak pernah mengikuti peringatan hari besar Islam (PHBI) termasuk dalam kategori rendah sekali yaitu sebanyak 4% Data keaktifan siswa mengikuti sholat berjamaah di lingkungan masyaraka Dari data yang didapatkan melalui angket diketahui bahwa siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin yang menyatakan kadang-kadang melaksanakan shalat berjamaah di masyarakat termasuk dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 70%, dan siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin yang menyatakan selalu melaksanakan shalat berjamaah di masyarakat termasuk dalam kategori rendah yaitu sebanyak 26%, dan siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin yang menyatakan tidak pernah melaksanakan shalat berjamaah di masyarakat termasuk dalam kategori rendah sekali yaitu sebanyak 4%. Data tentang faktor-faktor yang mempengaruhi sikap keagamaan siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin Faktor kesadaran individu Dari data yang didapatkan melalui angket diketahui bahwa siswa yang menyatakan dengan kemauan sendiri sebab aktif dalam melaksanakan shalat lima waktu termasuk dalam kategori tinggi sekali yaitu sebanyak 86%, dan siswa yang menyatakan karena dorongan orang tua sebab aktif dalam melaksanakan shalat lima waktu termasuk dalam kategori rendah sekali yaitu sebanyak 14%, dan tidak ada siswa yang menyatakan karena terpaksa dan ikut-ikutan sebab aktif dalam melaksanakan shalat lima waktu. Kemudian dari data yang dihasilkan melalui angket juga diketahui bahwa siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin yang menyatakan dengan kemauan sendiri melaksanakan puasa ramadhan termasuk dalam kategori tinggi sekali yaitu sebanyak 86%, dan siswa yang menyatakan karena dorongan orang tua melaksanakan puasa ramadhan termasuk dalam kategori rendah sekali yaitu sebanyak 14%, dan tidak ada siswa yang menyatakan karena terpaksa dan ikut-ikutan melaksanakan puasa ramadhan. Jurnal Kajian Keagamaan. Pendidikan dan Dakwah. Vol. 18 No. Desember 2022 | 13 Harlina. Muhammad Jamaludin & Zainuddin Sahbana Faktor bimbingan dan arahan orang tua Dari data yang didapat melalui angket diketahui bahwa siswa yang menyatakan selalu menganjurkan orang tuanya untuk shalat, puasa dan berakhlak mulia termasuk dalam kategori tinggi sekali yaitu sebanyak 88%, dan siswa yang menyatakan kadangkadang menganjurkan orang tuanya untuk shalat, puasa dan berakhlak mulia termasuk dalam kategori rendah sekali yaitu sebanyak 12%, dan tidak ada siswa yang menyatakan tidak pernah menganjurkan orang tuanya untuk shalat, puasa dan berakhlak mulia. Kemudian dari data yang dihasilkan melalui angket diketahi juga bahwa siswa yang menyatakan memberi nasehat orang tuanya apabila ia melanggar perintah agama/melanggar salah satu norma agama termasuk kategori tinggi sekali yaitu sebanyak 96%, dan siswa yang menyatakan memberi hukuman orang tuanya apabila ia melanggar perintah agama/melanggar salah satu norma agama termasuk dalam kategori rendah sekali yaitu 4%, dan tidak ada siswa yang menyatakan membiarkan saja orang tuanya apabila ia melanggar perintah agama/melanggar salah satu norma agama. Faktor perhatian dan motivasi guru Dari data yang didapatkan melalu angket diketahui bahwa siswa yang menyatakan guru selalu memberikan nasehat apabila siswa melanggar peraturan sekolah termasuk dalam kategori tinggi sekali yaitu sebanyak 90%, dan siswa yang menyatakan guru kadang-kadang memberikan nasehat apabila siswa melanggar peraturan sekolah termasuk dalam kategori rendah sekali yaitu sebanyak 10%, dan tidak ada siswa yang menyatakan guru tidak pernah memberikan nasehat apabila siswa melanggar peraturan Kemudian dari data yang dihasilkan melalui angket diketahui pula bahwa siswa yang menyatakan guru selalu memberikan arahan dan motivasi ke arah terbentuknya perilaku yang baik termasuk dalam kategori tinggi sekali yaitu sebanyak 90%, dan siswa yang menyatakan guru kadang-kadang memberikan arahan dan motivasi ke arah terbentuknya perilaku yang baik termasuk dalam kategori rendah sekali yaitu sebanyak 10%, dan tidak ada siswa yang menyatakan guru tidak pernah memberikan arahan dan motivasi ke arah terbentuknya perilaku yang baik. Faktor lingkungan Dari data yang dihasilkan melalui angket diketahui bahwa siswa yang menyatakan tergolong masyarakat yang agamis lingkungan tempat tinggalnya termasuk dalam kategori tinggi sekali yaitu sebanyak 86%, dan siswa yang menyatakan hanya sebagian yang agamis lingkungan tempat tinggalnya termasuk dalam kategori rendah sekali yaitu sebanyak 14%, dan tidak ada siswa yang menyatakan tidak ada masyarakat yang agamis lingkungan tempat tinggalnya. Kesimpulan Berdasarkan penyajian dan analisis data yang telah dikemukakan, maka dapat penulis simpulkan bahwa : Sikap keagamaan siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin tinggi. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap keagamaan siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin yaitu :Faktor intern, yaitu faktor yang berasal dari dalam seperti kesadaran individu . yang tinggi, faktor ekstren, yaitu faktor yang berasal dari luar, yaitu : adanya bimbingan dan 14 | AL JAMI: Jurnal Ilmiah Keagamaan. Pendidikan dan Dakwah. Vol. 18 No. Desember Sikap Keagamaan Siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 arahan orang tua yang tinggi. Adanya perhatian dan motivasi yang tinggi dari guru Keadaan lingkungan disekitar tempat tinggal siswa yang mendukung. Jurnal Kajian Keagamaan. Pendidikan dan Dakwah. Vol. 18 No. Desember 2022 | 15 Harlina. Muhammad Jamaludin & Zainuddin Sahbana DAFTAR PUSTAKA