Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar Melalui Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) IPAS Berbasis Problem Based Learning I Made Astra Winaya Universitas Dwijendra astrawinayadwijendra@gmail. Ni Putu Dea Utami Dewi Universitas Dwijendra deautamidewi1@gmail. Abstrak-Penelitian ini bertujuan untuk menigkatkan berpikir kritis dan kemandirian siswa melalui pengembangan LKPD berbasis problem base learning pada muatan IPAS tentang materi Panas dan Perpindahannya tema 6 kelas V sekolah dasar. Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian dan pengembangan (Research and Depelovment ) model ADDIE, yang meliputi lima tahapan, yaitu : Analyze. Design. Depelovment. Implementation, and Evaluation. Subjek penelitian ini adalah LKPD berbasis problem base learning, sedangkan objek penelitian adalah Validitas dan kepraktisan LKPD berbasis problem base Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara penyebaran kuisioner di beberapa sekolah yang berada di Gugus RA Kartini Kecamatan Denpasar Barat. Adapun produk hasil pengembangan divalidasi oleh tiga pakar yaitu ahli materi dan ahli media pembelajaran. Hasil validasi dianalisis dengan formula Gregory dan diperoleh koefisien validitas isi sebesar nilai 0, 82 yang berarti sangat tinggi atau dalam kualitas sangat baik dalam kategori valid. Hasil pengembangan LKPD menunjukan validitas dari segi materi 0,82 dalam katagori sangat tinggi, validitas dari segi media 0,78 dalam katagori tinggi. Rata-rata skor validitas LKPD secara keseluruhan yaitu 0,8 . Hasil respon guru diperoleh skor 97,5% dalam kualifikasi sangat praktis dan respon siswa berdasarkan persentase tingkat ketuntasan siswa diperoleh 90,6%. Hal ini menunjukkan LKPD berbasis problem base learning memenuhi kriteria sangat valid, sangat praktis dan layak digunakan dalam pembelajaran oleh guru dan siswa. Kata Kunci : Problem Base Learning. Berpikir kritis dan kemandirian siswa. ADDIE. PENDAHULUAN Salah satu cita-cita nasional yang harus diperjuangkan oleh Bangsa Indonesia ialah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan nasional. Pendidikan pengembangan sumber daya manusia dan insan yang berkualitas. Masa depan dan keunggulan bangsa kita ditentukan oleh keunggulan sumber daya manusia (SDM) yang dimilikinya, di samping sumber WIDYA ACCARYA 2025 daya alam modal (Undang-Undang Dasar RI No. 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasiona. Sumber daya manusia merupakan salah satu permasalahan pokok yang dihadapi oleh negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia dalam rangka pembangunan bangsa dan negara. Sehubungan dengan itu pengelolaan sumber daya manusia hal yang sangat penting untuk meningkatkan efektivitas dan efisiennya dalam satu organisasi, masyarakat, maupun negara yang dikenal dengan istilah manajemen sumber daya manusia. P a g e 245 Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Kualitas SDM mempunyai keterkaitan erat dengan kualitas pendidikan sekolah, karena SDM berkualitas adalah keluaran sistem pendidikan, proses pendidikan harusnya menjadikan kreativitas penguasaan dan kemampuan mengembangkan IPTEK, serta moralitas sebagai acuan dasar (AuStevi Halean, dkk 2021, jurnal holisticA. Kondisi Pendidikan di Indonesa. Kondisi para pelajar Indonesia ini masih sangat jauh dari harapan sebagai generasi yang cerdas dan mampu bersaing di kancah internasional. Jika ditarik garis kebelakang, dapat disaksikan bersama bahwa Indonesia terkenal dengan jati diri bangsa yang berkaraker dan berbudi luhur. Bahkan. Programme International Student Assesement (PISA) pendidikan Indonesia menurun jauh apabila dibandingkan dengan 2015 degan perolehan nilai sains, skor rata-rata 389 dengan skor rata-rata OECD yakni 489, sehingga Indonesia menunjukan kategori peringkat urutan 71 yakni dengan rata-rata skor 396. PISA sendiri merupakan suatu program dari Organization Economic Co-operation and Development (OECD) yang mengevaluasi penilaian peserta didik atau pelajar di tingkat internasional dengan berdasarkan beberapa bahan uji, yaitu kemampuan membaca. Ilmu Pengetahuan Alam, dan Matematika (Sutika dkk, 2. Hasil observasi yang peneliti dilakukan terhadap proses pembelajaran di kelas V A SD 11 Peguyangan, ditemukan beberapa permasalahan terkait Masalah yang ditemukan yaitu, rendahnya pengetahuan siswa mengenai materi IPA, kurangnya siswa berpikir kritis dalam suatu pembelajaran, kurangnya kemandirian siswa dalam mengerjakn tugas yang diberikan oleh guru pengajar, siswa cpeat merasa bosan mengantuk, rebut dalam didominasikan oleh model ceramah, sehingga akan berdampak tidak baik bagi WIDYA ACCARYA 2025 siswa berdampak pada hasil belajar siswa yang rendah, kurangnya siswa berpikir kritis, kurangnya kemandirian siswa karena siswa akan tergantung kepada orang lain pada saat mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Sehingga guru bahan ajar yang sering dipakai saat pembelajaran adalah buku paket. Sementara Lembar Kerja Peserta Dididik (LKPD) yang biasa digunakan hanya berisi pertanyaan- pertanyaan uraian yang dibuat oleh guru dan juga narasumber dari buku paket. Penggunaan LKPD ini belum sepenuhnya menekankan pada kegiatan yang mengarahkan siswa dalam membangun pengetahuannya sendiri dan memahami suatu konsep materi (Winaya, 2. Oleh sebab itu, sangat diperlukan LKPD yang berisi materi dengan Menurut guru LKPD yang menarik, bergambar, dan disusun dengan bahasa yang mudah dipahami siswa juga dapat menarik perhatian siswa menggunakan LKPD. Dari hasil pengamatan juga ditemukan bahwa guru sering menggunakan model konvensional yang menekan diskusi dan ceramah. Model pembelajaran ini digunakan karena dirasa sesuai dengan kondisi siswa dan juga mudah digunakan. Dalam kurikulum pendidikan dasar. IPA sebagai mata pelajaran wajib yang mampu mengesahkan kemampuan berpikir kritis siswa dan menuntut kemandirian siswa. Dengan adanya pembelajaran IPA, siswa memperoleh ilmu dan mampu memahami lingkungan sekitar. Bahan ajar inovatif yang perlu digunakan guru yakni LKPD ialah bahan ajar yang dicetak dalam bentuk lembaran berisikan materi, rangkuman, panduan, dalam melaksanakan kegiatan atau tugas yang akan dikerjakan oleh siswa selama pembelajaran berlangsung yang mana berpedoman pada capaian kopetensi dasar siswa (Prastowo,2. Melalui LKPD, siswa akan menemukan pedoman terstruktur secara mempermudah pemahaman materi yang Selain itu, dengan adanya LKPD dapat meminimalkan peran guru sebagai seorang pengajar, dan mendorong siswa untuk aktif berpartisipasi saat pembelajaran sehingga akan terbentuk interaksi yang efektif antara peserta didik dengan pendidik, sehingga dapat meningkatkan aktifitas peserta didik dalam peningkatan prestasi belajar. Penggunaan LKPD dalam pembelajaran perlu disesuaikan dengan penerapan model pembelajaran sehingga pembelajaran dapat terlaksanaa dengan Salah satu model pembelajaran yang bisa P a g e 246 Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index digunakan sebagai acuan dalam menyusun rangakaian kegiatan untuk siswa dalam LKPD ialah Problem Based Learning (PBL). PBL ialah model pembelajaran yang dalam kegiatannya berorientasi pada menumbuhkembangkan kemampuan pemecahan masalah dan berpikir t Tingkat tinggi (Shoimin, 2. Pembelajaran mengunanakan PBL menekan pada kegiatan siswa yang mengarah pada proses Masalah tersebut guna merangsang siswa agar timbul rasa ingin tahu dan terdorong untuk mengumpulkan informasi sebagai upaya pemecahan masalah akan membantu siswa menyusun LKPD sebagai upaya menumbuhkan kemampuan siswa untuk berpikir keritis dan meningkatkan kemandirian siswa pada pembelajaran IPA. LKPD berisi berbagai aktivitas siswa yang mendorong siswa untuk aktif, semangat untuk memecahkan suatu permasalahan yang didalamnya perlu berpikir kritis dan dilakukan secara mandiri, sekaligus membantu siswa untuk memahami materi. Berdasarkan pemaparan diatas, ada kebutuhan terhadap media berisi bahan ajar yang inovatif dan tampil lebih menarik yang menekan pada kegiatan terstruktur yang berpusat pada siswa untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan kemandirian (Nugraha, 2. dalam penelitiannya menunjukan bahwa melalui PBL dalam IPA meningkatkann kemampuan berpikir kritis dan kemandirian siswa. Pembelajaran PBL dipilih karena pembelajaran ini dimulai dari masalah sebagai titik awal pembelajaran dimana dalam prosesnya mendorong siswa aktif belajar, merangsang pemikiran kritis siswa, sekaligus membantu siswa dalam membangun pengetahuanya secara mandiri. Dimana didalam proses pembelajaran siswa akan melakukan kegiatan penyelidikan, menemukan dan menyelesaikan masalah secara mandiri. Penelitin menggunakan model PBL untuk dijadikan acuan dalam WIDYA ACCARYA 2025 P a g e 247 Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Muatan IPA berbasis Problem Based learning pada Topik TEMA 6 kelas VA SD dengan jumlah siswa 32 siswa, materi semester 2 yaitu Panas Dan Perpindahannya. Adapun partisipan yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah Ahli Materi. Ahli Media, dan Praktisi. Ahli materi dan ahli media merupakan dosen pakar Universitas Dwijendra. Sedangkan praktisi merupakan guru kelas V A SD No. Peguyangan. Adapun objek dalam penelitian ini adalah LKPD muatan IPA berbasis Problem Based learning Pada Topik Panas dan Perpindahannya . uhu dan kalo. , dan Keterkaitannya dengan pikiran kritis dan kemandirian siswa Kelas V Sekolah Dasar. Validitas berdasarkan penilaian ahli (Expert Judge. Uji validitas AikenAos V dapat dilakukan perhitungan validitas isi instrumen dengan rumus dibawah ini Oc ycu II. METODE Penelitian menghasilkan produk LKPD berbasis Problem Based Learning untuk kelas V SD. Jenis (Research and Depelopmen. Metode pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model ADDIE ini dikembangkan secara sistematis dan didasarkan pada landasan teori desain Model pengembangan ini tersusun secara sistematis sebagi upaya pemecahan masalah dalam pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta Model ini terdiri dari 5 langkah yaitu : . , . , . , . , dan . Kriteria validasi isi: Analisis data yang digunakan untuk uji kepraktisan pengguna dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif. Skor yang terisi melalui kuisioner penilaian kepraktisan dijumlahkan kemudian dibagi dengan total skor maksimal. Rumus yang digunakan untuk menghitung presentase hasil penilaian kepraktisan adalah sebagai Subjek dan objek penelitian ini akan LKPD0,80 Ae 1,00 : validasi isi sangat tinggi 0,60 Ae 0,79 :validasi isi tinggi 0,40 Ae 0,59 : validasi isi sedang 0,20 Ae 0,39 : validasi rendah 0,00 Ae 0,19 Penilaian WIDYA ACCARYA 2025 : validasi sangat rendah P a g e 248 Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Selanjutnya ditentukan skor rata-rata hasil penilaian kepraktisan oleh seluruh pengguna dengan rumus sebagai berikut : Tabel 2. 3 Kriteria Efektivitas Produk. Interval (%) Kriteria 87,50 < X O 100 Sangat Tinggi 73,61 < X O 87,50 Tinggi 59,72 < X O 73,61 Sedang 45,83 < X O 52,79 Rendah X < 48,53 Sangat Rendah Tabel 2. 2 Kriteria Praktikalitas Produk Presentase Kriteria 86% - 100% Sangat Praktis 76% - 85% Praktis 60% - 75% Cukup Praktis < 59% Tidak Praktis (Sumber : Sugiyono, 2. Penilaian uji efektifitas Data yang terkumpul melalui hasil tes berpikir kritis dan kemandirian materi IPA siswa dijumlahkan kemudia dibagi dengan skor total skor maksimal. Rumus yang digunakan untuk menghitung persentase tes berpikir kritis dan kemandirian materi IPA siswa adalah sebagai berikut. jycycoycoycaEa ycoycuyc yceycoycycycEa ycnycyceyco ycEyceyc yceycuycyca yce = jycycoycoycaEa ycoycuyc ycoycayco ycnycoycayco y 100% Tolak ukur efektifitas produk adalah persentase siswa kelas V yang mencapai nilai 75. Berdasarkan hasil tes ber pikir kritis dan kemandirian IPA siswa ditemukan persentase ketuntasan siswa secara klasikal dengan rumus sebagai berikut. ycEyceyc yceycuycyca yce = jycycoycoycaEa ycn ycyca ycycycuycyca jycycoycoycaEa ycoyce yceycoycycycEaycaycu ycn ycyca y 100% WIDYA ACCARYA 2025 (Sumber : Sugiyono, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengembangan media LKPD pada pembelajaran IPA khususnya materi Panas dan Perpindahanya dapat memberikan warna baru atau inifasi baru bagi siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kemandirian siswa kelas V. ini berkaitan dengan penelitian yang dikekemukakan oleh (AuAini dkk, 2019A. yang menyatakan bahwa pembelajaran menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Selain itu dapat melatih keterampilan pemecahan masalah sekaligus memperoleh pengetahuan dan konsep esensi dari materi yang dipelajari. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2022/2023 disemester genap jenjang sekolah dasar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan LKPD muatan IPA berbasis problem based learning pada topic panas dan perpindahannya kelas V sekolah Subjek penelitian ini adalah LKPD berbasis Problem Based Learning. Hasil penelitian ini dijabarkan berdasarkan tahap penggembangan ADDIE yang meliputi, . Analisis (Analyz. , . Perencanaan (Desig. , . Pengembangan Developmen. , . Implementasi (Implementatio. , . valuasi (Evaluatio. P a g e 249 Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Hasil dari validitas ahli materi LKPD muatan IPA berbasis Problem Based Learning memiliki nilai persentase 0, 82 yang berarti sangat tinggi atau dalam kualitas sangat baik sehingga produk LKPD sangat layak digunakan sebagaimana fungsinya dalam pembelajaran dan hasil dari validitas ahli media LKPD muatan IPA Problem Based Learning memiliki nilai persentase 0. 78 yang berarti tinggi atau dalam kualitas baik sehingga produk LKPD sangat layak digunakan Uji kepraktisan merupakan tahap uji yang berfungsi untuk mengetahui tingkat kepraktisan produk yang digunakan. Uji kepraktisan dilakukan oleh 1 . praktisi yaitu guru wali kelas V A SD N 11 Peguyangan dengan skor presentase 97,5% atau dalam kualifikasi sangat praktis sehingga produk LKPD sangat praktis digunakan sebagaimana fungsinya. Berdasarkan persentase ketuntasan siswa yang diperoleh yaitu mencapai 90,6% dengan kriteria produk sangat tinggi. Terdapat 3 siswa yang tidak tuntas dan 29 siswa tuntas. Maka produk LKPD IPA dinyatakan efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep siswa. Menurut Gabriella dalam (Ayunda et al. , 2. LKPD adalah media/alat pembelajaran yang berisi lembaran-lembaran dengan petunjuk tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik. LKPD berbasis PBL dapat digunakan untuk mengaktifkan dan mengkontruksi kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam mengatasi masalah yang berhubungan dengan kehidupan nyata. Hal ini menyebabkan peserta didik lebih mudah untuk memahami pembelajaran. Pada penelitian ini, penulis berfokus pada kemampuan berfikir kritis siswa. Peningkatan dengan menerapkan LKPD berbasis Problem Based Learning. Dari penelitian WIDYA ACCARYA 2025 yang dilakukan, ditunjukkan bahwa penerapan LKPD berbasis Problem Based Learning (PBL) sangat berdampak pada peningkatan kompetensi berpikir kritis siswa. Model PBL, yang mengutamakan pembelajaran berbasis masalah, melibatkan siswa dalam proses pencarian solusi terhadap masalah nyata atau konteks dunia nyata. Shafira . Penggunaan LKPD berbasis masalah menunjukkan pengaruh dan efek yang lebih besar terhadap keterampilan berpikir kritis peserta didik pada materi sistem ekskresi dibandingkan dengan peserta didik yang menggunakan LKPD yang berisi latihan soal. LKPD berbasis Problem Based Learning yang digunakan dalam proses pembelajaran ini juga berfungsi untuk informasi secara lebih interaktif, dengan LKPD berbasis Problem Based Learning memungkinkan siswa untuk berinteraksi dengan soal-soal reflektif, tugas, dan kuis yang merangsang kemampuan berpikir kritis mereka dalam menganalisis informasi dan data. Selama proses pembelajaran di kelas, peneliti juga mengamati adanya peningkatan interaksi peserta didik. Siswa terlihat lebih antusias untuk menanyakan ataupun menjawab soal dan pertanyaan yang disampaikan langsung dari pengajar ataupun pertanyaan yang muncul secara spontan saat diskusi kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa LKPD berbasis Problem Based Learning mampu merangsang peserta didik untuk lebih antusias dan kritis, terbuka, yang peningkatan keterampilan berpikir kritis LKPD berbasis Problem Based Learning, peserta didik didorong untuk berpikir kritis melalui merumuskan isu, menganalisis informasi, dan menilai Siswa menyimpulkan, membandingkan argumen, serta menyaring informasi yang relevan. Mereka tidak hanya mencari jawaban, tetapi juga menyusun solusi berdasarkan analisis yang mendalam. Proses ini kemampuan siswa berfikir logis, memecahkan isu atau P a g e 250 Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index masalah, dan menyimpulkan yang Siswa menyimpulkan, membandingkan argumen, serta menyaring informasi yang relevan. Mereka tidak hanya mencari jawaban, tetapi juga menyusun solusi berdasarkan analisis yang mendalam. Proses ini kemampuan siswa untuk berpikir logis, mengembangkan masalah, dan membuat keputusan yang terinformasi (Fardiana et ,2. IV. KESIMPULAN Media LKPD meningkatkan kemampuan berpikir kritis Panas Perpindahannya pada materi IPA tematik 6 Kelas V SD. Berdasarkan hasil validasi ahli media, media LKPD integrasi sosial memenuhi lriteria kelayakan Aucukup baik/cukup layakAy, sedangkan berdasarkan hasil validasi ahli materi, media LKPD kelayakan Ausangan baik / sangat layakAy. DAFTAR PUSTAKA