71 | Tasamuh. Volume 17. Nomor 1. April 2025 Tasamuh: Jurnal Studi Islam Volume 17. Nomor 1 . April, 2025. Hal 71-91 ISSN 2086-6291 . 2461-0542 . https://e-jurnal. id/index. php/Tasamuh Kepemimpinan Transformatif Kiai Dalam Sistem Pendidikan Pesantren Salaf Di Pondok Pesantren Nurul Qadim Kabupaten Probolinggo Kolifatur Rosidah* Pesantren Nurul Qadim Kabupaten Probolinggo kolifaturrosidah@gmail. *Koresponden Fardan Abdilah M Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong fardhan289@gmail. Taufani Institut Agama Islam Negeri Manado taufani@iain-manado. Syahrul Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong syahrulhs@gmail. Citra Buana Halil Universitas Khairun Ternate citrabuanahalil@unkhair. Diterima : [ 2025-02-13 ] Direvisi : [ 2025-04-28 ] Disetujui : [ 2025-04-30 ] Abstract This study approach is qualitative. The study used a Phenomenology approach. The primary data source of this study was KH. Hafidzul Hakim Noer as the main informant and the ustad and administrators of the Islamic boarding school and the male and female students as additional informants. The secondary data sources of this study were the Islamic boarding school Work Program and the kaleidoscope documentation of the transformative journey of the Islamic boarding school. Data collection methods were observation, interviews and Data analysis included data reduction, presentation, and Tasamuh. Volume 17. Nomor 1. April 2025 | 72 verification, and drawing conclusions. The findings indicate that the KiaiAos transformative leadership in the Salaf Education system at the Nurul Qadim Islamic Boarding School in Probolinggo Regency . involves all components of the management. Kiai never forces administrators beyond the capabilities. Kiai invites everyone to fight for common goals based on the capabilities of each boarding school personnels. Kiai provides examples and directions based on a concept of 3 components. Ta`rif. Ta`lif and Taklif. In the implementation of transformative leadership, the kiai becomes a charismatic figure and acts transformatively in preparing plans and determining all decisions for the success and sustainability of Education at the Islamic boarding school. This is also supported by adequate human resource synergy in innovating to advance the Islamic boarding school Keywords: transformative leadership, kiai. Islamic boarding school. Salaf PENDAHULUAN Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan islam yang berperan penting dan berkontribusi penuh dalam membentuk insan yang mulia dan kompeten dalam segala aspek. Tentu perkembangan zaman serta kemajuan teknologi berdampak sangat besar dalam sederet aspek kehidupan, termasuk tuntutan tentang penyelenggaraan pendidikan. Kemajuan teknologi membawa tantangan tersendiri pada dunia pendidikan islam khususnya. Tentunya sebuah persaingan pada kemampuan SDM dalam soft skill maupun hard skill yang semakin luas. Perubahan mutu pendidikan dapat dimulai dengan berinovasi pada seluruh aspek lembaga, antara lain kepemimpinan Kepemimpinan dikonseptualisasikan sebagai fenomena tingkat kelompok yang timbul dari Dengan mempertimbangkan hubungan di luar kelompok seperti jejaring sosial, budaya, dan lingkungan sekitar. Namun, aspek lain dari lingkungan organisasi seperti ketidakpastian jalannya roda organisasi hingga krisis yang terjadi dapat mempengaruhi pembentukan kepemimpinan (Morela Hernandez et al, 2. Kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan pada situasi tertentu (Siti Fatimah, 2. Setiap organisasi apapun jenisnya pasti memiliki seorang pemimpin yang harus menjalankan kepemimpinan dan manajemen bagi keseluruhan organisasi sebagai kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Karena kepemimpinan bersama sering didorong oleh perilaku kepemimpinan pemimpin yang ditunjuk secara formal, memiliki pengetahuan yang sangat terampil lebih cenderung mengambil alih peran dan tanggung jawab kepemimpinan (Louis Denis, 2. 73 | Tasamuh. Volume 17. Nomor 1. April 2025 Kepemimpinan merupakan aspek dinamis dari pemimpin, yaitu mengacu pada tindakan-tindakan atau perilaku yang ditampilkan dalam melakukan serangkaian pengelolaan, dan pengarahan untuk mencapai tujuan (Rahman Affandi, 2. Hingga saat ini kepemimpinan . masih menjadi pembahasan yang dianggap sangat menarik untuk terus dijadikan penelitian, terlebih lagi jika kepemimpinan dalam suatu Lembaga Pendidikan, karena ia merupakan salah satu faktor penting dan menentukan keberhasilan atau gagalnya suatu organisasi dalam mencapai tujuannya (Masrur, 2. Transformatif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan bersifat berubah-ubah bentuk, rupa, macam, dan keadaan. Makna transformatif berarti memiliki perubahan dan tidak hanya terjadi di permukaan, tetapi di tingkat yang paling dasar dan memiliki sebuah prinsip yang sangat kuat. Transformatif memaknai beberapa sifat yakni mampu mengubah sesuatu yang ada menjadi bentuk lain, sebagaimana pengubahan suatu energi yang potensial menjadi energi aktual yang berprestasi serta menjadi prestasi riil (Fatih, 2. Teori kepemimpinan transformatif berbeda dari teori kepemimpinan lainnya karena pendekatan normatif dan kritisnya yang didasarkan pada nilainilai kesetaraan, inklusi, keunggulan, dan keadilan sosial. Teori ini mengkritik praktik kepemimpinan yang tidak adil, adanya penindasan, dan pembatasan ruang gerak di mana pun mereka ditemukan dan menawarkan program tidak hanya pencapaian individu yang lebih besar tetapi juga dampak bagi kehidupan bersama yang lebih baik (Carolyn, 2. Teori kepemimpinan transformatif terdiri dari dua prinsip dasar. Prinsip dasar pertama yakni kemampuan kepemimpinan individu, cenderung menciptakan lingkungan inklusif, hormat, dan adil (Capper, 2. Prinsip dasar yang kedua adalah kepemimpinan yang berbasis demokrasi, sosial, dan memiliki prinsip kerjasama yakni berpartisipasi aktif dan memiliki pengetahuan luas dan peduli terhadap lingkungan sekitar (Carolyn & Kristina, 2. Prinsip dasar kepemimpinan transformatif bahwa setiap orang dapat menjadi pemimpin yang memiliki karakter kreatif sehingga dapat mempengaruhi orang lain dan membawa perubahan pada lingkungan sekitarnya (Montuori & Donnely, 2. Demikian juga halnya dengan Lembaga Pendidikan, sangat membutuhkan seorang pemimpin yang loyal dan mempunyai banyak visi, ide dan strategi untuk mengembangkan Lembaga Pendidikan. Satuan Pendidikan Islam harus memiliki sosok pimpinan berjiwa pemimpin transformatif yang mampu memberikan semangat dan edukasi untuk mengajak seluruh elemen dalam satuan Pendidikan Islam agar dapat merealisasikan cita-cita serta nilainilai moral sehingga menjadi role mode bagi orang lain. Hal ini diharapkan agar Tasamuh. Volume 17. Nomor 1. April 2025 | 74 satuan Pendidikan Islam dapat membangun suatu perubahan sesuai dengan nilai-nilai yang telah ditetapkan dalam pemberdayaan dari seluruh elemen melalui terbentuknya komunikasi yang terarah menuju keberhasilan bagi satuan Pendidikan Islam. Salah satu faktor dominan yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan adalah kesuksesan dalam proses pembelajaran, sebab di dalam proses pembelajaran itulah terjadinya proses internalisasi nilai-nilai dan pewarisan budaya maupun norma-norma secara langsung (Fatih, 2. Satuan Pendidikan Islam salah satunya adalah pesantren salaf yang dipimpin langsung oleh seorang Kiai. Figur kiai dalam pesantren salaf adalah sebagai penentu dan penjaga eksistensi pesantren salaf, kiai merupakan sosok yang kharismatik, yang menjadi panutan santri, pengurus, dan masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Imre Lakatos yang menyatakan bahwa program keilmuan yang dianggap tradisional akan tetap eksis selama masih ada sosok yang melindungi. Dalam konteks pesantren salaf, pesantren salaf akan tetap bertahan karena keberadaan figur Kiai (Rustam, 2. Kemudian belakangan ini semakin banyak Pondok pesantren yang berinovasi untuk memberikan pelayanan terbaik bagi santri dan semua yang terlibat di dalamnya. Bahkan istilah Pondok Pesantren terbagi lagi menjadi dua yaitu pondok pesantren tradisional atau salaf dan pondok pesantren modern (Qomar, 2. Pondok pesantren salaf atau sering juga disebut dengan pondok pesantren tradisional cenderung mempertahankan dan menjaga kemurnian unsur Ae unsur dasar dalam pesantren, baik dalam sistem pengajian, budaya pesantren dan metode pembelajaran yang digunakan. Sedangkan pondok pesantren modern yang cenderung selalu berinovasi dalam segala fasilitas maupun sistem yang berlaku (Sabdah & Sastramayani, 2. Perbedaan tersebut mempunyai nilai positif bagi perkembangan Islam di negara ini, yaitu keduanya merupakan lembaga pendidikan yang mendidik para santri melalui pengetahuan agama yang diajarkan oleh seorang kiai yang terkadang dibantu oleh ustadz (Qomar, 2. Hal tersebut kemudian didukung dengan peran kiai sebagai tokoh sentral dari perkembangan sebuah pondok pesantren. Peran Kiai didalam pondok pesantren dapat menempatkan diri dalam dua karakter, yaitu sebagai model dan sebagai terapis. Sebagai model. Kiai merupakan panutan dalam setiap tingkahlaku dan tindak-tanduknya. Sebagai terapis. Kiai memiliki pengaruh terhadap kepribadian dan tingkah laku sosial santri. Semakin intensif seorang Kiai terlibat dengan santrinya semakin besar pengaruh yang dapat diberikan. Kiai juga bisa menjadi agen kekuatan dalam mengubah perilaku dari yang tidak diinginkan menjadi perilaku tertentu yang diinginkan (Ahmad, 2. 75 | Tasamuh. Volume 17. Nomor 1. April 2025 Sebagaimana yang terjadi pada salah satu pondok pesantren salaf yang berkembang pesat di Kabupaten Probolinggo adalah Pondok Pesantren Nurul Qadim. Pondok pesantren yang di pimpin oleh KH. Hafidzul Hakim Noer menerapkan Pendidikan pesantren berbasis salaf tanpa adanya Pendidikan formal sejak didirikannya pada tahun 1947 lalu. Pondok pesantren Nurul Qadim merupakan pondok pesantren yang mengkhususkan kajian pembelajaran pada kitab kuning. Pondok pesantren Nurul Qadim adalah salah satu pondok pesantren yang masih mengadopsi sistem salaf dalam proses pembelajaran. Bahkan pendiri pertama pondok pesantren Nurul Qadim berwasiat kepada anak cucunya agar tidak pernah mengganti pendidikan pesantrennya dengan selain sistem salaf. Deskripsi tersebut menunjukkan posisional kepemimpinan kiai dalam dunia Pendidikan pondok pesantren sangat urgen sebagai satu pilar atau penyangga terhadap kemajuan institusi Pendidikan pondok pesantren. Lazim apabila ada yang menilai kunci sukses institusi Pendidikan terletak pada aspek kepemimpinan yang memobilisir sumberdaya organisasi untuk mencapai tujuan Pendidikan itu sendiri. Sebagaimana yang dijelaskan dalam penelitian ini, bahwa keberadaan pondok pesantren tidak bisa dilepaskan dari keberadaan kiai. Dimana kiai adalah aktor yang memiliki peran penting dalam sistem kepemimpinan di pondok pesantren, bahkan kiai juga memegang peran sentral dalam Perkembangan Dan Kemajuan pondok pesantren. Oleh Karena Itu Penelitian Tentang AuKepemimpinan Transformatif Kiai Dalam Sistem Pendidikan Pesantren Salaf di Pondok Pesantren Nurul Qadim Kabupaten ProbolinggoAy Menjadi Sesuatu yang layak diteliti, terlebih lagi penelitian ini berada di kabupaten Probolinggo Jawa Timur, yang secara geografis berada di kawasan Indonesia bagian barat. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Berdasarkan pendekatan, jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, penelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada suatu latar alamiah dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, tekhnik pengumpulan dengan trianggulasi . , analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Anggito & Setiawan, 2. Metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data Tasamuh. Volume 17. Nomor 1. April 2025 | 76 deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati (Moloeng, 2. Penelitian kualitatif merupakan paradigma penelitian yang menekankan pada makna dan penafsiran juga pengetahuan dalam perspektif partisipan (Ahmadi, 2. Dalam metode kualitatif peneliti mengeksplorasi pandangan yang homogen sekaligus beragam terkait suatu objek yang diteliti (Choy, 2. Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Berkaitan dengan hal itu pada bagian ini data di bagi kedalam kata-kata dan tindakan, sumber data tertulis dan foto. Kata-kata dan tindakan orang-orang yang di amati atau diwawancarai merupkan sumber data Sumber data utama di catat melalui catatan tertulis atau melalui perekaman audio, pengambilan foto (Moloeng, 2. Adapun pendekatan fenomenologi yaitu secara etimologi berasal dari kata phenomenon yang berarti realitas yang tampak, dan logos yang berarti ilmu sehingga secara terminology, fenomenologi adalah ilmu yang berorientasi untuk mendapatkan penjelasan tentang realitas yang tampak. Fenomena yang tampak adalah refleksi dari realitas yang tidak berdiri sendiri karena memiliki makna yang membutuhkan penafsiran yang lebih lanjut. fenomenologi merupakan pendekatan yang berusaha untuk mengungkap, mempelajari serta memahami suatu fenomena beserta konteksnya yang khas dan unik yang dialami oleh individu hingga tataran keyakinan individu yang bersangkutan (Astrid, 2. Pendekatan Fenomenologi ini adalah cara yang sesuai bagi peneliti dalam memahami realitas yang terjadi pada Kepemimpinan Transformatif Kiai Dalam Sistem Pendidikan Pesantren Salaf di Pondok Pesantren Nurul Qadim Kabupaten Probolinggo. Oleh sebab itu peneliti mengambil pendekatan ini karena penelitian ini akan meninjau langsung ke lapangan, menganalisi dan mendeskripsikan realitas yang ada serta melakukan pendekatan terhadap sumber informasi, sehingga diharapkan data yang didapatkan akan lebih Adapun pendekatan keilmuan dalam penelitian ini yaitu Pendekatan Pedagogis. Pedagogis bersifat . lmu pendidikan, ilmu pengajara. atau bersifat Pendekatan pedagogis berpandangan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan rohani dan jasmaniah yang memerlukan bimbingan dan pengarahan melalui proses kependidikan (Arifin, 2. Pendekatan keilmuan ini digunakan untuk menghubungkan antar manusia dan kehidupannya dalam proses pembelajaran di pesantren salaf. Data dan Sumber Data 77 | Tasamuh. Volume 17. Nomor 1. April 2025 Data yang dikelola dalam penelitian ini menggunakan 2 jenis data kualitatif, yakni data primer dan data sekunder. Sumber data dalam penelitian adalah subjek (Arikunto, 2. Sumber data dalam penelitian ini yaitu informan, yakni narasumber utama yakni KH. Hafidzul Hakiem Noor yang menjadi objek dalam penelitian ini. Ustad Mawardi Abdul Wahid salah satu santri pengabdian pondok pesantren nurul qadim yang menjadi saksi sejarah berdirinya pendidikan formal di pondok pesantren sekaligus menjadi bagian dari progress transformatif pesantren. Responden, yakni pengurus dan pengajar di pondok pesantren dan Dokumentasi, yakni semua data sebagai penunjang dalam penelitian akta pendirian, profil pondok pesantren, dan data-data penting Teknik Pengumpulan data Teknik pengumpulan data dilakukan dengan berdasarkan data faktual yang didapatkan melalui studi lapangan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Observasi dilakukan oleh peneliti di pondok pesantren Nurul Qadim untuk mengamati kepemimpinan yang direalisasikan oleh pimpinan pondok pesantren yakni KH. Hafidzul Hakiem Noer. Dalam observasi ini digunakan lembaran observasi yang tidak dibagikan kepada informan, melainkan digunakan sendiri oleh peneliti untuk mengamati dan melihat bagaimana Model Kepemimpinan Pondok Pesantren Nurul Qadim di Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo. Kemudian wawancara. Selama wawancara peneliti dianjurkan lebih aktif memberikan respon atas pernyataan-pernyataan yang dibuat. Hal ini penting untuk mendapatkan lebih banyak respon dari narasumber (Lukman. Teknik wawancara ini digunakan untuk menemukan data dari permasalahan penelitian secara terbuka. Karena itu wawancara ini menggunakan pertanyaan yang tidak terstruktur karena ingin memberikan kebebasan kepada informan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peneliti dalam wawancara terbuka dengan pengasuh pondok pesantren, ustaz atau ustazah, santri dan tokoh masyarakat terkait sejarah pendirian pondok pesantren dan ulasan bagaimana perjalanan transformatif kepemimpinan KH. Hafidzul Hakiem Noer. Dan dokumentasi. Dokumentasi yang penulis gunakan adalah untuk mengumpulkan data dari sumber-sumber non insan . ukan manusi. dokumen tersebut dapat dimanfaatkan dalam membuktikan, menafsirkan dan meramalkan suatu peristiwa. Adapun dokumentasi yang diperlukan dalam penelitian ini merupakan data-data terkait perjalanan berdirinya pondok pesantren Nurul Qadim, program kerja, biografi Kiai serta perubahan- Tasamuh. Volume 17. Nomor 1. April 2025 | 78 perubahan yang terjadi selama didirikannya pondok pesantren Nurul Qadim. Tekhnik Analisis Data Dalam penelitian ini diterapkan metode analisis data non statistik, dengan menggunakan analisis deskriptif yaitu mendeskripsikan sebuah data berdasarkan suatu gejala, peristiwa, dan kejadian yang terjadi sejak awal kegiatan penelitian sampai akhir penelitian secara sistematis, ringkas, sederhana dan faktual. Teknik analisis data melalui tahapan yang dilaksanakan yaitu: . Reduksi data. Mereduksi data berarti merangkum hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal penting dan mencari tema juga pola data. Hal tersebut dilakukan karena data yang diperoleh jumlahnya banyak dan rumit. Tentunya Reduksi data ditinjau melalui keseharian kepemimpinan transformatif KH. Hafidzul Hakiem Noor sebagai pimpinan pondok pesantren Nurul Qadim. Penyajian data. Penyajian data dilakukan dalam bentuk teks naratif yang mendeskripsikan implementasi kepemimpinan transformatif KH. Hafidzul Hakiem Noor sebagai pimpinan pondok pesantren Nurul Qadim. Verifikasi data. Sebelum menarik sebuah kesimpulan akhir, perlu adanya verifikasi atau pengecekan data awal hingga akhir terlebih dahulu. Semua data yang telah dikumpulkan dari berbagai informan disajikan dalam bentuk deskriptif secara sistematis dan dilakukan pengambilan kesimpulan sementara. Penarikan kesimpulan. Pengambilan kesimpulan akhir merupakan kegiatan tahapan terakhir dalam penelitian untuk mengambil sebuah teori dan data berdasarkan studi lapangan yang telah dilakukan. Pengecekan Keabsahan Data Keabsahan data adalah hal yang dilakukan untuk membuktikan kebenaran data. Pengecekan Keabsahan data bertujuan untuk membuktikan segala hal yang diamati sesuai dengan pernyataan narasumber. Untuk menguji keabsahan data peneliti menggunakan metode triangulasi dan triangulasi Triangulasi merupakan hal yang penting dalam kajian ini. Saat dimulai kajian dan dikumpulkan informasi mengenai sejarah berdirinya pondok pesantren nurul qadim dan transformasi program pondok pesantren. Langkah selanjutnya adalah untuk menguji kebenaran dari setiap sumber dan metode. Dalam triangulasi metode, peneliti membandingkan dan mencocokkan fenomena yang diperoleh di lapangan . erupa catatan selama observas. dengan data yang diperoleh melalui wawancara dan dokumentasi. Sedangkan dalam triangulasi data sumber, peneliti membandingkan data-data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan wawancara dari sumber yang berbeda. 79 | Tasamuh. Volume 17. Nomor 1. April 2025 PEMBAHASAN Berdasarkan data wawancara, observasi, dan dokumentasi kepemimpinan kiai di pondok pesantren Nurul Qadim Probolinggo termasuk dalam kepemimpinan transformatif. Untuk memperjelas, berikut pemaparan analisis dimensi kepemimpinan transformatif kiai di pondok pesantren Nurul Qadim Probolinggo, hal ini disampaikan oleh KH. Hafidzul Hakim Noer, yaitu: AuMenyadari hal tersebut gaya kepemimpinan kiai di pondok pesantren Nurul Qadim adalah gaya kepemimpinan transformatif. Pada prakteknya kiai menciptakan visi dan memotivasi semua pengurus untuk mewujudkan visi tersebut berdasarkan kemampuan mereka masing-masing. Visi yang diciptakan oleh kiai di pondok pesantren Nurul Qadim adalah mencetak santri yang memiliki jiwa berjuang meninggikan kalimat allah saat pulang ke maysarakatAy Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Ustad Mawardi Abdul Wahid, yaitu: AuUntuk mewujudkan hal tersebut kiai di Pondok Pesantren Nurul Qadim merumuskan misi yang disebut dengan Aupanca jiwa santriAy dan Autrilogi prosesAy. Panca jiwa santri Nurul Qadim yakni Ruh aldn, ruh al jihAd, dan ruh al dakwah dan Tiga proses tersebut yakni proses TaAorif. TaAolif, dan Taklif. Secara konsep TaAorif diartikan sebagai proses pengenalan. TaAolif diartikan sebagai proses penumbuhan kasih sayang . inta, senang, dan sejenisny. sedangkan Taklif diartikan sebagai proses pendoktrinan atau penanaman nilai. Selain itu untuk memotivasi para pengurus dalam mewujudkan visi dan misi pesantren kiai sering memberikan penguatan dengan adagium AuMun tak kellar keng tak terro . ika tidak kuat berarti kurang kuat kemauanny. , bismmilla jekajeh . engan menyebut nama allah pasti bis. Ay adagium ini seakan menjadi mantra sakti mandraguna untuk memotivasi para pengurus untuk senantiasa berjuang sungguh-sungguh dalam mewujudkan visiAy Burn mendeskripsikan bahwa kepemimpinan transformasional adalah merupakan sebuah proses saat pemimpin dan bawahan mengembangkan satu sama lain tingkat moralitas dan motivasi yang tinggi (Imakulatta, 2. Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa inti dari kepemimpinan transformasional ialah kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin untuk Tasamuh. Volume 17. Nomor 1. April 2025 | 80 mengubah karyawannya agar dapat menjadi seorang pemimpin dalam menjalankan suatu. Pada umumnya kepemimpinan transformasional mempunyai beberapa dampak positif terhadap kinerja bawahan. Hal itu dikarenakan pemimpin dengan gaya transformasional mengubah dan memotivasi anggotanya dengan membuat anggotanya lebih sadar akan pentingnya hasil-hasil suatu pekerjaan, mendorong anggotanya untuk mengedepankan kepentingan organisasi atau tim daripada kepentingan diri sendiri dan mengaktifkan kebutuhan-kebutuhan anggotanya pada yang lebih tinggi. Menurut beberapa pakar pemimpin transformational mempunyai beberapa karakteristik. Karakteristik yang banyak di adopsi adalah versinya Bass. Dalam rangka redaksi yang lain karakteristik tersebut dikenal dengan sebutan 4I yaitu: idealized influence, inspiration motivasion, intellectual stimulation, dan individualized consideration (Assingkily & Mesiono, 2. Pengaruh idealis (Idealized Influenc. , dimaknai sebagai perilaku pemimpin yang memiliki atribut-atribut ideal . erupa: kharisma, keteladanan, keyakinan yang teguh, dan mampu menularkannya pada bawahan sebagai uswah dalam organisasi pendidika. dan perilaku ideal . erupa: visi yang jelas dan konkrit, etos kerja tinggi, konsisten, komitmen, dan mampu menumbuhkan kesadaran bawahan terhadap peran dan fungsinya dalam mencapai tujuan organisas. Terkait implementasinya di pondok pesantren Nurul Qadim sosok kiai kharismatik di pondok pesantren ini sangat disegani dan dipatuhi. Berdasarkan hasil observasi dapat digambarkan bahwa semua santri tidak berani menatap wajah kiai saat berpapasan atau berhadapan langsung. Mereka para santri pasti akan berdiri mematung saat kiai lewat atau secara mendadak bertemu dengan Dalam bertutur katapun para santri menggunakan bahasa yang paling halus dengan nada suara dibawah nadanya kiai. Apapun yang diperintahkan oleh kiai dengan sangat semangat santri berusaha mewujudkannya dengan baik dan biasanya parasantri akan berebut untuk melaksanakan perintah tersebut untuk menyenangkan hati kiai. Selain kharimatik sebagaimana tergambar diatas, kiai di pondok pesantren Nurul Qadim juga memberikan contoh yang baik dalam menjalankan furudul ainiyah. Salah satu contohnya adalah kiai di Pondok Pesantren Nurul Qadim istiqomah menjadi imam sholat lima waktu dan juga istiqomah mengkaji al-quran dan beberapa kitab kuning sehabis sholat Keistiqomahan kiai di Pondok Pesantren Nurul Qadim dalam sholat berjamaah tidak hanya dilaksanakan di dalam pondok pesantren, diluar pondok 81 | Tasamuh. Volume 17. Nomor 1. April 2025 kiai juga tetap istiqomah melaksanakan sholat berjamaah bersama santrinya yang kebetulan membersamainya memenuhi undangan masyarakat dan kegiatan sosial lainnya. Motivasi yang Memberi Inspirasi (Inspirational Motivatio. dimaknai sebagai perilaku pemimpin yang melakukan transformasi atau perubahan melalui hal yang inspiratif, motivasi, dan AomendesainAo sedemikian rupa agar bawahan seolah-olah berkeinginan sama, bercita memajukan organisasi pendidikan pada hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Terlebih dan fundamental, inspirasi itu diperoleh bawahan dari setiap hal yang terdapat pada pemimpin . Berdasarkan hasil wawancara oleh KH. Hafidzul Hakim Noer, yaitu: AuKiai di Pondok Pesantren Nurul Qadim memotivasi santrinya dengan adagium AuMun tak kellar keng tak terro . ika tidak kuat berarti kurang kuat kemauanny. , bismmilla jekajeh . engan menyebut nama allah pasti bis. Ay agar mereka senantiasa sabar dan semangat dalam menjalani segala aktivitas yang ada di pondok Ay Implikasi dari adagium ini sangatlah luar biasa. Para santri seakan memiliki semangat ibarat baterai yang terisi full ketika mendengarkan adagium ini saat mereka prustasi dengan tuntutan tugas yang dihadapinya. Hal ini sesuai dengan yang di sampaikan oleh ustad Mawardi Abdul Wahid, yaitu: Aujika ingin menjadi orang yang alim alamah seperti kiai, selama menjadi seorang santri yang tinggal di pesantren, maka tidak bisa jika santri hanya mengandalkan kecerdasannya saja, akan tetapi menjadi santri juga di tuntut agar mendapatkan ilmu yang berkah dan bermanfaAoat dengan cara tirakat berkhidmah kepada pesantren, guru, dan masyarakat yang membutuhkan dengan niat karena Allah swtAy. Salah satu agar seorang santri memiliki inspirasi untuk menjadi seseorang yang alim alamah, serta menjadi kiblat dari seluruh penjuru manusia yang ingin mendapatkan keberkahan kiai, hal terpenting yang harus dilakukan yaitu memiliki motivasi yang kuat untuk menjadi seperti kiai nya, dengan begitu kesadaran hati dan keikhlasan hati dalam melaksanakan segala hal yang diwajibkan maupun yang di sunahkan di pesantren dapat dilakukan dengan suka cita dan tanpa merasa terbebani. Stimulasi Intelektual (Intellectual Stimulatio. , dimaknai sebagai Tasamuh. Volume 17. Nomor 1. April 2025 | 82 perilaku pemimpin secara kooperatif dalammenumbuhkan kesadaran anggota terkait masalah individu dan organisasi, berdampak pada kesadaran bersama dalam upaya mencapai sasaran . organisasi, peningkatan kapasitas unsur sumberdaya organisasi, kesadaran perubahan dari status quo ke organisasi pendidikan yang lebih baik, dan problem solving-solution secara Pemimpin yang memiliki faktor ini memiliki indikator inovatif, mengembangkan ide baru, menjadi pemimpin yang melibatkan bawahan, dan Berdasarkan hasil wawancara dengan KH. Hafidzul Hakim Noer. AuPada tahap ini kiai di pondok pesantren Nurul Qadim selalu mengajak pengurus untuk mengevaluasi kegiatan yang berkaitan dengan pesantren dan tarbiyah. Kegiatan evaluasi ini biasanya dilaksanakan setiap bulan. Dalam prosesnya kiai selalu mendengarkan keluhan dan mencari solusinya bersama-sama pada forum rapat bulananAy Evaluasi ini dilakukan bukan serta merta untuk seorang santri yang belajar, akan tetapi di tujukan pula kepada pengurus dan ustaz serta ustazah yang bertanggung jawab dalam mengelola santri-santri. Selain itu, fungsi dari evaluasi ini yaitu untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan para koordinasi program dalam menjalankan tugasnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ustad Mawardi Abdul Wahid dalam wawancaranya, yaitu: Auhasil dari evaluasi yang dilakukan oleh seluruh pengurus, ustad dan ustazah, yang di pimpin langsung oleh kiai dapat di buktikan bahwa bisa memberikan efek yang sangat luar biasa dalam perbaikan proses belajar mengajar, ataupun kegiatan-kegiatan santri lainnya, dengan harapan segala kekurangan yang telah di evaluasi dapat di perbaiki dan dilaksanakan dengan baik agar seluruh santri yang belajar di pondok pesantren mendapatkan pengajaran dan pembelajaran yang efektif dan maksimal sesuai yang di harapkan oleh seluruh pihakAy Berdasarkan wawancara tersebut, peran kiai, pengurus, ustad dan ustazah di pondok pesantren memiliki tujuan yang sama, yakni bersedia saling bekerjasama untuk menumbuhkan kesadaran diri masing-masing dalam mewujudkan kesuksekan visi program dalam implementasinya. Yang dapat memberikan dampak pada kesadaran bersama dalam upaya mencapai tujuan 83 | Tasamuh. Volume 17. Nomor 1. April 2025 suatu lembaga pendidikan, dengan harapan agar segala proses pendidikan dapat lebih baik, dan dapat memecahkan masalah dan mencari solusi secara Dan juga, kiai yang memiliki faktor kepemimpinan seperti ini, dapat di pastikan bahwa kiai tersebut memiliki indikator inovatif, mengembangkan ide baru, menjadi pemimpin yang melibatkan bawahan, dan kreatif. Pertimbangan Individual (Individual Consideratio. dimaknai sebagai perilaku pemimpin transformatif dalam merefleksi diri dalam keberlangsungan dan keberlanjutan organisasi pendidikan yang dipimpinnya. Hal ini dibantahkan dalam upaya mengidentifikasi kebutuhan bawahan, mengenali kapasitas bawahan, pendelegasian wewenang, memberikan respons atas kinerja bawahan, pembinaan, bimbingan, dan pelatihan kepada bawahan agar mencapai tujuan organisasi pendidikan. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan KH. Hafidzul Hakim Noor, yaitu: Aupada tahap ini yang dilakukan oleh kiai dalam memenuhi kebutuhan organisasi adalah menginstruksikan pengurus setiap lembaga untuk mengajukan rencana anggaran biaya yang dibutuhkan selama satu bulan ke depan. Pada prosesnya kiaia membentuk tim untuk menganalisis kebutuhan tersebut dan memproses pencairannya melalui bendahara yang sudah dibentuk Ay Berdasarkan paparan data diatas Untuk mengimplementasikan kepemimpinan transformatif di pondok pesantren nurul qadim pertama-tama dimulai dengan merumuskan sebuah visi yang jelas mengenai apa yang ingin dicapai oleh pondok pesantren. kiai juga membantu pengurus untuk memahami tujuan, sasaran dan prioritas dari pondok pesantren, kiai juga meyakinkan para santrinya bahwa visi itu memungkinkan. Amatlah penting untuk membuat hubungan yang jelas antara visi itu dengan sebuah strategi yang dapat dipercaya untuk mencapainya. Para pengikut tidak akan meyakini sebuah visi kecuali jika pemimpinnya memperlihatkan keyakinan diri dan pendirian. Pemimpin harus tetap optimis tentang kemungkinan keberhasilan organisasi dalam mencapai visinya, khususnya dalam menghadapi halangan dan kemunduran sementara. Keyakinan dan optimisme seorang pemimpin dapat menular. Keyakinan diperlihatkan baik dalam perkataan maupun tindakan. Pengikut akan memiliki kinerja yang lebih baik saat pemimpinnya memiliki harapan yang tinggi bagi mereka dan memperlihatkan keyakinan terhadap mereka. Membangun keyakinan dan rasa percaya diri pengikut juga dapat dilakukan Tasamuh. Volume 17. Nomor 1. April 2025 | 84 dengan cara pendelegasian wewenang pimpinan kepada bawahan tentang cara terbaik untuk mengambil keputusan dalam hal menerapkan strategi atau mencapai sasaran. Hal yang tidak kalah penting bagi seorang pemimpin transformasional adalah kemampuan memberikan sebuah contoh dalam interaksi keseharian dengan bawahan. Seorang pemimpin yang meminta bawahan untuk membuat pengorbanan khusus harus menetapkan sebuah contoh dengan melakukan hal yang sama. Nilai-nilai yang menyertai seorang pemimpin harus diperlihatkan dalam perilakunya sehari-hari, dan harus dilakukan secara konsisten bukan hanya saat diperlukan. Bila dicermati secara seksama, dipahami betapa konsep bottom up begitu terasa dengan mengimplementasikan kepemimpinan transformatif di Dan suatu keuntungan tersendiri apabila madrasah memiliki pemimpin yang mampu menerapkan kepemimpinan transformasional, sebab efektivitas proses dan hasil kerja sangat dirasakan perkembangan signifikannya oleh madrasah itu sendiri Analisis Implementasi Kepemimpinan Transformatif Kiai dalam Sistem Pendidikan Pesantren Salaf di Pondok Pesantren Nurul Qadim Berdasarkan penyajian data-data hasil penelitian yang telah peneliti lakukan, peneliti menganalisis, dan menyimpulkan. Analisis penelitian terhadap Kepemimpinan Transformatif Kiai Dalam Sistem Pendidikan Pesantren Salaf di Pondok Pesantren Nurul Qadim Kabupaten Probolinggo. Dalam hal ini, pondok pesantren Nurul Qadim melibatkan seluruh komponen kepengurusan yang ada. Dan kepemimpinan yang paling sentral berada pada tanggung jawab seorang kiai. Dalam implementasinya pada seluk beluk kehidupan di Pondok Pesantren Nurul Qadim, kiai mengajak semua pengurus yang berada dalam tanggung jawabnya untuk bersama-sama mewujudkan visi dan misi pondok pesantren Nurul Qadim. Kiai memotivasi masyarakat pondok pesantren untuk menjalankan roda kehidupan agar memperoleh tujuan yang disepakati Bersama. Namun dalam mewujudkan hal tersebut, kiai tidak memaksakan sesuatu yang diluar kemampuan semua pengurus. Kiai mengajak memperjuangkan tujuan Bersama dengan berdasarkan kemampuan masing-masing yang dimiliki oleh seluruh komponen pondok pesantren. Dengan demikian hal tersebut dapat menjadi motivasi bagi para pengurus, santriwan maupun santriwati. Mereka diajarkan untuk menjadi pribadi yang memiliki jiwa berjuang, jiwa mengabdi dan jiwa yang Ikhlas dalam meninggikan ajaran islam dan kalima-kalimat Allah SWT baik saat 85 | Tasamuh. Volume 17. Nomor 1. April 2025 masih dalam proses menuntut ilmu di pondok pesantren atau Ketika telah Kembali ke lingkungan masyarakat. Kemudian, dalam penerapan kepemimpinan transformatih kiai di pondok pesantren Nurul Qadim. Kiai memberikan contoh dan arahan yang berupa sebuah konsep yang terdiri dari 3 komponen. Ta`rif. Ta`lif dan Taklif. Konsep Ta`rif dapat diartikan sebagai pengenalan. Konsep tersebut digunakan kiai dalam menerapkan kepemimpinan transformatif untuk mengenalkan budaya, suasana dan hal-hal yang berkaitan dengan pondok Pengenalan dapat menjadi gerbang awal bagi santri untuk dapat menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Dengan sikap kepemimpinan dari sosok kiai yang dapat mengenalkan komponen-komponen pondok pesantren dengan ramah kepada santri-santrinya, system Pendidikan dapat berjalan dengan sesuai harapan. Konsep Ta`lif merupakan konsep yang bertujuan untuk menumbuhkan kasih sayang kepada sesama. Dengan menumbah rasa kasih sayang dan peduli terhadap sesama kiai dapat menerapkan kepemimpinan tranformatif yang menyebarkab kasih sayang dan rasa peduli. Pondok pesantren adalah lingkungan hidup yang berisi berbagai macam kehidupan di dalamnya, berbagai macam suku dan karakter yang berbeda-beda. Jika kiai dalam memerankan sosok pemimpin tidak memberikan contoh dan mengajak untuk saling memberi kasih sayang dan peduli terhadap sesama, dapat dipastikan kehidupan di dalam pondok pesantren tidak akan berjalan dengan harmonis. Konsep Taklif berarti adalah konsep yang dalam prosesnya untuk menanamkan nilai kepada masyarakat pondok pesantren. Menanamkan nilainilai islam, kepemimpinan dan tanggung jawab merupakan tugas kiai dalam mengimplementasikan kepemimpinan transformative. Bagaimana kiai melaksanakan tanggung jawab tersebut Bersama pengurus agar nilai-nilai yang dimaksud dapat tersampaikan dengan baik kepada para santri. Dengan demikian, figure kiai haruslan dapat memenuhi nilai-nilai tersebut terlebih Sehingga dapat memberikan pengaruh yang nyata kepada orang-orang yang berada pada lingkungan pondok pesantren. Analisis Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat dalam Implementasi Kepemimpinan Transformatif Kiai dalam Sistem Pendidikan Pesantren Salaf di Pondok Pesantren Nurul Qadim Berdasarkan data-data hasil penelitian yang telah peneliti lakukan, peneliti menganalisis, dan menyimpulkan. Analisis penelitian terhadap implementasi Transformatif Kiai Dalam Sistem Pendidikan Pesantren Salaf di Pondok Pesantren Nurul Qadim Kabupaten Probolinggo. Adapun analisis Tasamuh. Volume 17. Nomor 1. April 2025 | 86 faktor pendukung dan penghambat implementasi Transformatif Kiai Dalam Sistem Pendidikan Pesantren Salaf di Pondok Pesantren Nurul Qadim Kabupaten Probolinggo sebagai berikut: Analisis faktor pendukung implementasi Kepemimpinan kiai, kemampuan manajemen kiai dalam implementasi Kepemimpinan Transformatif Kiai Dalam Sistem Pendidikan Pesantren Salaf di Pondok Pesantren Nurul Qadim Kabupaten Probolinggo yaitu sosok kiai yang kharismatik dan bertindak transformatif dalam dalam Menyusun perencanaan serta menentukan segala keputusan yang diperlukan dalam kesuksesan dan keberlangsungan Pendidikan di pondok pesantren. Sinegritas SDM yang memadai, kunci keberhasilan dan kesuksesan suatu lembaga yang dipimpin yaitu bermula pada Kepemimpinan transformatif kiai, karena seorang pemimpin dituntut harus mampu dan terus melakukan inovasi-inovasi dalam memberdayakan SDM nya. Sehingga maju dan mundurnya suatu lembaga pendidikan yaitu adanya sinkronisasi antara pemimpin dan bawahannya untuk tetap melakukan inovasi-inovasi demi menciptakan sinegritas generasi SDM yang memadai, sehingga kelak SDM tersebut bisa menjadi manusia yang bermanfaat. Analisis faktor penghambat implementasi Ada beberapa hambatan yang di hadapi oleh pondok pesantren nurul qadim dalam Kepemimpinan Transformatif Kiai Dalam Sistem Pendidikan Pesantren Salaf di Pondok Pesantren Nurul Qadim Kabupaten Probolinggo. Tenaga pendidik dan pengurus. Pondok pesantren Nurul Qadim sebagai Lembaga Pendidikan Islam dituntut untuk mampu melaksanakan pembelajaran dan Pendidikan sesuai dengan program pondok pesantren yang telah disusun. Sistem Pembelajaran di pondok pesantren Nurul Qadim telah berjalan, namun bagi para guru masih menemui hambatan dan kendala, faktorfaktor yang menghambat keberlangsungan sistem pendidikan di pondok pesantren nurul qadim yaitu kurangnya kesadaran pengurus dan santri yang masih belum semuanya mengerti akan visi yang ingin dicapai Lembaga. Orang Tua, dukungan orang tua adalah faktor utama dalam keberlangsungan proses belajar santri di pesantren, mengingat banyak hal yang harus di hadapi santri selama proses pembelajaran di pesantren, faktor yang menjadi penghambat kesuksesan judul tes adalah kurang disiplinnya para wali santri atas peraturan pesantren yang telah ditetapkan dan disepakati, sehingga tidak sedikit santri yang melanggar peraturan pesantren hanya karena menuruti keinginan dan ke egoisan orang tua. Ekstrakulikuler, merupakan kegiatan pengembangan minat, bakat dan 87 | Tasamuh. Volume 17. Nomor 1. April 2025 kemampuan potensi dalam diri masing-masing santri. Dan sifatnya tidak di wajibkan mengikuti kegiatan tersebut, sehingga santri kurang bersungguhsungguh dan tertib dalam melaksanakan kegiatan ekstrakulikuler, bahkan ada beberapa yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler hanya karena merasa penasaran, bukan karena benar-benar ingin menggali bakat yang terdapat dalam dirinya. Sarana dan Prasarana, merupakan faktor yang sangat penting dalam keberlangsungan proses implementasi Kepemimpinan Transformatif Kiai Dalam Sistem Pendidikan Pesantren Salaf di Pondok Pesantren Nurul Qadim Kabupaten Probolinggo, khususnya pada Lembaga Pendidikan Islam. Kelengkapan sarana dan prasarana menjadi suatu keharusan bagi Lembaga Pendidikan Islam dikarenakan Sebagian besar waktu yang digunakan para santri adalah untuk proses belajar mengajar. Faktor yang menjadi penghambat implementasi Kepemimpinan Transformatif Kiai Dalam Sistem Pendidikan Pesantren Salaf di Pondok Pesantren Nurul Qadim Kabupaten Probolinggo, yaitu ruang kelas belajar, sehingga menyebabkan para santri-santri ketika belajar untuk sementara waktu masih di tempatkan di masjid, asrama dan tempat-tempat luas yang kosong lainnya, hal tersebut menjadi hambatan untuk kelancaran dan keberlangsungan proses belajar mengajar. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti mengenai Kepemimpinan Transformatif Kiai Dalam Sistem Pendidikan Pesantren Salaf di Pondok Pesantren Nurul Qadim Kabupaten Probolinggo, diketahui bahwa kiai di pondok pesantren nurul qadim menggunakan pola kepemimpinan transformatif. Hal ini dapat dibuktikan dengan 4 . dimensi yaitu perilaku idealisme, motivasi inspirasi, intelektual simulasi, dan perhatian yang diindividualisasi. Perilaku idealisme memiliki atribut-atribut ideal berupa: kharisma, keteladanan, keyakinan yang teguh, dan mampu menularkannya pada bawahan sebagai uswah dalam organisasi Pendidikan, dan perilaku ideal berupa: visi yang jelas dan konkrit, etos kerja tinggi, konsisten, komitmen, dan mampu menumbuhkan kesadaran bawahan terhadap peran dan fungsinya dalam mencapai tujuan organisasi. Pemimpin yang ideal tentu memiliki tugas pokok dan fungsi sebagai pengayom lembaga dalam mengelola, mengonsolidasikan manajemen lembaga, kepemimpinan, kebijakan, strategis dan mengembangkan Tasamuh. Volume 17. Nomor 1. April 2025 | 88 kelembagaan, menentukkan jalannya lembaga, memberikan saran dan masukan dalam keberlangsungan dan perkembangan lembaganya. Motivasi yang Memberi Inspirasi dimaknai sebagai perilaku pemimpin yang melakukan transformasi atau perubahan melalui hal yang inspiratif, motivasi, dan mendesain sedemikian rupa agar bawahan seolah-olah berkeinginan sama, bercita memajukan organisasi pendidikan pada hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Sebagaimana kiai di pondok pesantren Nurul Qadim memotivasi santrinya dengan adagium AuMun tak kellar keng tak terro . ika tidak kuat berarti kurang kuat kemauanny. , bertujuan agar mereka senantiasa sabar dan semangat dalam menjalani segala aktivitas yang ada di pondok pesantren serta memiliki motivasi yang kuat untuk menjadi seperti kiai nya, dengan begitu kesadaran hati dan keikhlasan hati dalam melaksanakan segala hal yang diwajibkan maupun yang di sunahkan di pesantren dapat dilakukan dengan suka cita dan tanpa merasa terbebani. Simulasi intelektual berupa perilaku pemimpin secara kooperatif dalam bekerjasama untuk menumbuhkan kesadaran diri masing-masing dalam mewujudkan kesuksekan visi program dalam implementasinya. Serta dapat memberikan dampak pada kesadaran bersama dalam upaya mencapai tujuan suatu lembaga pendidikan, dengan harapan agar segala proses pendidikan dapat lebih baik, dan dapat memecahkan masalah dan mencari solusi secara Dan juga, kiai yang memiliki faktor kepemimpinan seperti ini, dapat di pastikan bahwa kiai tersebut memiliki indikator inovatif, mengembangkan ide baru, menjadi pemimpin yang melibatkan bawahan, dan kreatif. Pertimbangan Individual dimaknai sebagai perilaku pemimpin transformatif dalam merefleksi diri dalam keberlangsungan dan keberlanjutan organisasi pendidikan yang dipimpinnya. Sehingga dalam praktiknya kiai mengupayakan untuk mengidentifikasi kebutuhan para pengurus dan santri, mengenali kapasitas para pengurus dan santri, pendelegasian wewenang kepada pengurus dan ustaz ustazahnya, memberikan respons berupa reward dan punishtman atas kinerja para pengurus dan ustaz ustazah, memberikan pembinaan, bimbingan, dan pelatihan kepada para pengurus serta ustaz ustazah agar mencapai tujuan organisasi pendidikan. Adapun faktor-faktor pendukung implementasi Kepemimpinan Transformatif Kiai Dalam Sistem Pendidikan Pesantren Salaf di Pondok Pesantren Nurul Qadim Kabupaten Probolinggo, kemampuan manajemen kiai dalam memimpin lembaga serta kepribadian kiai yang mampu menjadi inspiratif bagi para santri dan masyarakat sekitar, selain itu adanya kekompakan dalam tim yang solid untuk mewujudkan sinegritas SDM yang 89 | Tasamuh. Volume 17. Nomor 1. April 2025 memadai sehungga mampu membangun kinerja sesuai dengan potensinya serta dukungan dalam proses pengembangan individual. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu kurangnya kesadaran pengurus dan santri yang masih belum semuanya mengerti akan visi yang ingin dicapai Lembaga, kurang disiplinnya para wali santri atas peraturan pesantren yang telah ditetapkan dan disepakati, kurangnya fasilitas sarana dan prasarana yang tidak sebanding dengan jumlah santri, serta kurangnya santri yang bersungguhsungguh dan tertib dalam melaksanakan kegiatan ekstrakulikuler. Implikasi Berdasarkan pemaparan mengenai Kepemimpinan Transformatif Kiai Dalam Sistem Pendidikan Pesantren Salaf di Pondok Pesantren Nurul Qadim Kabupaten Probolinggo, khusussnya pada kepemimpinan transformatif, maka ada beberapa hal yang dijadikan saran dan masukan, yaitu sebagai berikut. Untuk semua yang terlibat dan bertanggung jawab dalam Kepemimpinan Transformatif Kiai Dalam Sistem Pendidikan Pesantren Salaf di Pondok Pesantren Nurul Qadim Kabupaten Probolinggo, dalam hal ini Kiai selaku pengasuh pondok pesantren, pengurus, ustaz dan ustazah, para santri serta seluruh stakeholder untuk terus berupaya saling bekerja sama dalam rangka menyukseskan Kepemimpinan Transformatif Kiai Dalam Sistem Pendidikan Pesantren Salaf di Pondok Pesantren Nurul Qadim Kabupaten Probolinggo. Pengurus serta ustaz dan ustazah sebagai ujung tombak penerapan Kepemimpinan Transformatif Kiai Dalam Sistem Pendidikan Pesantren Salaf di Pondok Pesantren Nurul Qadim Kabupaten Probolinggo, hendaknya senantiasa terus dan tetap mengembangkan kompetensi diri dan menambah kualitas diri demi tercapainya suatu program kerja yang telah di tetapkan Para santri harus menyadari tugas dan kewajibannya dalam belajar agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan target program pembelajaran serta dapat mencapai prestasi belajar yang baik. Mengingat bahwa penelitian ini belum sepenuhnya tuntas maka perlu dilakukan penelitian lanjutan. Tasamuh. Volume 17. Nomor 1. April 2025 | 90 Daftar Pustaka