Perikanan Budidaya Perairan Opie Harliani et al. Analisis Pendapatan Dan EsifiensiJurnal UsahaIlmu-ilmu Produk Olahan Udang Desa. Desliana Volume Nomor Desember Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Desember 2024:136-145 https://jurnal. univpgri-palembang. id/index. php/ikan ANALISIS PENDAPATAN DAN EFISIENSI USAHA PRODUK OLAHAN UDANG DI DESA SUNGSANG. KECAMATAN BANYUASIN II. Studi Kasus : Pempek. Botor, dan Kerupuk Udang Analysis Income And Business Efficiency Of Shrimp-Based Products In Sungsang Village. Banyuasin Ii District Case Study: Pempek. Botor. And Shrimp Crackers Desliana Opie Harliani 1*. Fitra Mulia Jaya2. Tiara Santeri3. Ragil Susilowati3. Santi Mayasari4. Panesa1 Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan. Universitas PGRI Palembang Program Studi Ilmu Perikanan. Universitas PGRI Palembang Program Studi Ilmu Kelautan. Universitas PGRI Palembang Program Studi Budi Daya Ikan. Universitas PGRI Palembang *Corresponding author: deslianaopieharliani@gmail. ABSTRAK Desa Sungsang. Kecamatan Banyuasin II, memanfaatkan potensi maritim dengan hasil tangkapan laut melimpah sebagai sumber utama pendapatan. Penelitian ini menganalisis pendapatan dan efisiensi usaha pengolahan udang, meliputi pempek, botor, dan kerupuk udang. Metode yang digunakan adalah survei dengan teknik purposive Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan literatur. Hasil analisis menunjukkan bahwa usaha pengolahan pempek udang memiliki nilai R/C ratio sebesar 1,28, sedangkan botor dan kerupuk udang masing-masing memiliki nilai R/C ratio sebesar 1,89. Nilai tersebut menunjukkan bahwa usaha ini efisien dan layak untuk dikembangkan karena setiap pengeluaran sebesar 1 rupiah mampu menghasilkan pendapatan lebih dari 1 Pendapatan rata-rata per produksi adalah Rp. 026,70 untuk pempek. Rp. 172,13 untuk botor, dan Rp. 116,77 untuk kerupuk, dengan biaya total masingmasing sebesar Rp. 306,63. Rp. 161,20, dan Rp. 883,23 Berdasarkan hasil penelitian, usaha pengolahan udang di Desa Sungsang terbukti layak secara finansial dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut. Kata kunci: Sungsang. Efisiensi usaha. R/C ratio. Pendapatan. Pengolahan udang. ABSTRACT Sungsang Village, located in Banyuasin II District, leverages its abundant marine resources as the primary source of income. This study analyzes the income and efficiency of shrimp-based processing businesses, including pempek, botor, and shrimp crackers. The research utilizes a survey method with purposive sampling techniques. Data were collected through observations, interviews, and literature reviews. The analysis results show that the R/C ratio for pempek is 1,28, while for botor and shrimp crackers, it is 1,89. These values indicate that the businesses are efficient and feasible for further development, as every expenditure of 1 rupiah generates revenue exceeding 1 rupiah. The average income per production cycle is IDR 179. 026,70 for pempek. IDR 495. 172,13 for botor, and IDR 116,77 for shrimp crackers, with total production costs amounting to IDR 630. 306,63, IDR 558. 161,20, and IDR 717. 883,23, respectively. Based on the findings, shrimp e-ISSN 2620-4622 p-ISSN 1693-6442 Analisis Pendapatan Dan Esifiensi Usaha Produk Olahan Udang Di Desa. Desliana Opie Harliani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Desember 2024:136-145 processing businesses in Sungsang Village are financially viable and hold significant potential for further development. Keywords: Business efficiency. Income. R/C ratio. Shrimp processing. Sungsang. PENDAHULUAN Indonesia, kepulauan terbesar di dunia, terdiri lebih 000 pulau yang tersebar sepanjang garis khatulistiwa (Aminuddin & Burhanuddin, 2. Dengan luas laut yang mencapai sekitar 6,4 juta kilometer persegi. Indonesia dikaruniai sumber daya kelautan yang melimpah. Potensi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara maritim terkuat di dunia, di mana sektor perikanan menjadi salah satu pilar utama perekonomian nasional (Burhanuddin & Nessa, 2. Hasil tangkapan dan budidaya ikan serta produk laut lainnya seperti udang, cumi, dan kerang, menjadi komoditas penting bagi perekonomian nasional dan berkontribusi besar terhadap pendapatan masyarakat Namun, untuk mengoptimalkan manfaat dari potensi ini, pengembangan sektor pengolahan produk perikanan menjadi salah satu langkah strategis yang perlu dikembangkan (Rahim et al. , 2. Produk olahan perikanan, seperti pempek, kerupuk udang, abon ikan, sosis ikan, dan lain sebagainya semakin diminati baik di pasar domestik maupun internasional (Ichwani et al. , 2. Produk-produk ini memiliki nilai tambah lebih tinggi dibandingkan produk segar, sehingga dapat meningkatkan pendapatan pengusaha dan nelayan (Abdullah et al. Pengolahan hasil perikanan juga dapat membantu mengatasi masalah ketahanan pangan, memperpanjang umur simpan produk, dan mengurangi potensi tangkapan (Amelia et al. , 2. Selain itu, industri pengolahan perikanan juga dapat membuka peluang kerja sekaligus meningkatkan pemberdayaan masyarakat Desa Sungsang di Kecamatan Banyuasin II. Sumatera Selatan, adalah salah satu contoh daerah yang memanfaatkan potensi maritim ini. Kehidupan masyarakat desa ini sangat bergantung pada sumber daya laut, yang menjadi sumber utama pendapatan dan Potensi masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis pengolahan hasil perikanan (Harliani et al. , 2. Desa ini dikenal sebagai penghasil udang yang berkualitas, yang kemudian diolah menjadi berbagai produk khas seperti pempek, botor, dan kerupuk udang. Produk-produk tersebut memiliki potensi nilai ekonomi yang besar dan berperan penting dalam mendukung perekonomian masyarakat Industri olahan udang di Desa Sungsang tidak hanya berkontribusi pada peningkatan pendapatan masyarakat, tetapi juga melestarikan budaya kuliner lokal yang kaya akan tradisi dan cita rasa (Hertati et al. , 2. Pempek merupakan makanan tradisional khas Palembang yang sudah dikenal luas di Indonesia (Pramono et al. Keberadaan usaha pempek di Desa Sungsang tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi lokal tetapi juga Di sisi lain, botor, makanan khas berbahan dasar sagu yang dipadukan dengan udang, juga memiliki pasar tersendiri di daerah. Begitu pula dengan kerupuk udang, yang selain memiliki cita rasa khas, juga memiliki daya tahan lama sehingga cocok untuk pasar ekspor. Namun, meskipun memiliki potensi yang besar, kelayakan usaha tetap perlu ditinjau secara mendalam. Oleh karena itu, diperlukan analisis besar biaya dan Analisis Pendapatan Dan Esifiensi Usaha Produk Olahan Udang Di Desa. Desliana Opie Harliani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Desember 2024:136-145 pendapatan dan tingkat efisiensi usaha produk olahan udang yaitu pempek, botor . ekwan kerin. dan kerupuk udang di Desa Sungsang. pertama, seperti yang disampaikan (Rusnaini et al. , 2. , menggunakan struktur biaya usaha kerupuk udang dengan rumus sebagai berikut: METODE Penelitian ini akan menggunakan metode survei. Metode survei merupakan kunjungan dan wawancara langsung dengan cara mengisi pertanyaan yang sudah disediakan pada kuisioner. Penelitian ini dilakukan di Desa Sungsang. Kabupaten Banyuasin. Sumatera Selatan. Lokasi ini dipilih karena potensi sumber daya laut yang besar serta aktivitas masyarakatnya yang sebagian besar bergerak di bidang pengolahan hasil perikanan, khususnya pempek, botor, dan kerupuk udang. Populasi dalam penelitian ini adalah pelaku usaha pempek, botor, dan kerupuk udang di Desa Sungsang. Sampel penelitian dipilih secara purposive, dengan kriteria tertentu seperti sasaran sampel merupakan pelaku usaha yang menjual ketiga produk yaitu pempek, botor, dan kerupuk udang, skala usaha kecil dan menengah, serta memberikan data. Teknik purposive sampling ini memastikan bahwa sampel yang diambil merepresentasikan kondisi nyata usaha di lokasi penelitian. Data yang digunakan mencakup data primer dan data sekunder. Data utama langsung di lokasi, wawancara, serta pengisian kuesioner yang telah disiapkan Selain itu, data sekunder dikumpulkan dari dokumen pemerintah, laporan resmi, jurnal, serta literatur Tujuan penelitian mengenai Analisis Pendapatan dan Efisiensi Usaha Produk Olahan Udang Di Desa Sungsang dapat dianalisis dengan menggunakan analisis kuantitatif. Metode analisis data yang digunakan untuk menjawab tujuan TC = FC VC Dimana : TC: Total biaya yang dikeluarkan dalam satu kali proses produksi (Rp/proses FC: Biaya tetap yang dikeluarkan dalam satu kali proses produksi (Rp/proses VC: Biaya variabel yang timbul dalam satu kali proses produksi (Rp/proses Untuk menghitung struktur pendapatan dari usaha kerupuk udang, digunakan formula sebagai berikut: TR = P x Q Keterangan: TR : Total pendapatan (Rp per proses P : Harga produk per unit (Rp per k. Q : Jumlah produk yang terjual . Sementara itu, struktur keuntungan atau laba usaha kerupuk udang dapat dihitung dengan rumus: I = TR Ae TC Keterangan: I : Keuntungan usaha (Rp per proses TR :Total pendapatan (Rp per proses TC : Total biaya produksi (Rp per proses Menurut (Wahdiy et al. , 2. Efisiensi sebuah usaha dapat diukur dengan penerimaan dengan total biaya yang dikeluarkan, untuk menjawab tujuan kedua yaitu, menggunakan rumus sebagai R/C = TR/TC Analisis Pendapatan Dan Esifiensi Usaha Produk Olahan Udang Di Desa. Desliana Opie Harliani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Desember 2024:136-145 B/C = I/TC Kriteria keputusan: Jika B/C = 0 dan R/C = 1, maka usaha olahan udang berada pada titik impas Jika B/C > 0 dan R/C > 1, maka usaha olahan udang dianggap efisien atau Jika B/C < 0 dan R/C < 1, maka usaha olahan udang dinilai tidak efisien atau HASIL DAN PEMBAHASAN Biaya produksi mencakup seluruh pengeluaran yang terkait dengan proses pembuatan barang dan penyediaan jasa (Gonibala et al. , 2. Dalam usaha produk olahan udang seperti pempek, botor, dan kerupuk udang, biaya produksi mencakup berbagai komponen penting. Biaya ini meliputi biaya bahan baku utama, seperti udang, tepung, dan bumbu, serta biaya tenaga kerja yang dibayarkan kepada pekerja yang terlibat dalam seluruh proses produksi, mulai dari persiapan bahan hingga pengemasan Berdasarkan jumlah produksi, biaya dapat diklasifikasikan menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap merupakan biaya yang jumlah totalnya tidak berubah tanpa terpengaruh oleh tingkat aktivitas, sedangkan biaya variabel adalah biaya yang mengalami perubahan seiring dengan tingkat aktivitas bisnis secara proporsional. Dengan kata lain Biaya variabel per unit tetap tidak berubah, sehingga semakin tinggi volume aktivitas, semakin besar total biaya yang dikeluarkan. Sebaliknya, jika volume aktivitas menurun, total biaya juga akan berkurang. Untuk menjamin berkelanjutan, pelaku usaha perlu memperhatikan biaya tetap dan biaya variabel untuk mencapai profitabilitas (Assegaf, 2. Tabel 1. Depresiasi Peralatan Produksi Pempek Udang di Desa Sungsang No Peralatan Penggerus Papan Gilas Dandang Kompor Baskom Fiber Penyimpanan Jumlah Penyusutan Biaya Tetap/1 kali Produksi 9,89 71,05 177,62 132,31 21,32 123,62 535,81 Keterangan: Asumsi: . Total produksi pempek udang kecil : 405 pcs dan pempek udang besar : 101 pcs. berasal dari 10 kg udang segar, . 1 kali produksi : 1 hari. 1 bulan 15 kali produksi Tabel 2. Depresiasi Peralatan Produksi Botor Udang di Desa Sungsang No Peralatan Penggerus Papan Gilas Dandang Kompor Alat Cetak Nampan Baskom Fiber Penyimpanan Jumlah Penyusutan Biaya Tetap/1 kali Produksi 6,20 45,90 114,36 83,58 822,62 340,48 13,77 78,74 505,64 Analisis Pendapatan Dan Esifiensi Usaha Produk Olahan Udang Di Desa. Desliana Opie Harliani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Desember 2024:136-145 Keterangan: Asumsi : . Total produksi botor udang adalah 21 kg, menggunakan 13 kg udang segar. Satu siklus produksi memakan waktu 6 hari. Dalam satu bulan, dilakukan 2 kali produksi. Tabel 3. Depresiasi Peralatan Produksi Kerupuk Udang di Desa Sungsang No Peralatan Penggerus Papan Gilas Dandang Kompor Pisau Nampan Baskom Fiber Penyimpanan Jumlah Penyusutan Biaya Tetap/1 kali Produksi 8,24 59,20 240,94 110,25 152,07 625,10 17,76 103,00 316,56 Keterangan: Asumsi : . Total produksi kerupuk udang mencapai 27 kg, menggunakan 17 kg udang segar. Proses produksi berlangsung selama 6 hari untuk setiap siklus. Dalam satu bulan, produksi dilakukan sebanyak 4 kali. Biaya penyusutan adalah biaya yang dialokasikan untuk menggambarkan penurunan nilai aset tetap seiring berjalannya waktu. BIaya penyusutan produk olahan udang menjadi pempek, botor dan kerupuk udang masing-masing disajikan dalam Tabel 1. Tabel 2, dan Tabel 3. Berdasarkan Tabel 1, terlihat bahwa depresiasi peralatan produksi atau biaya penyusutan peralatan yang digunakan dalam usaha pempek udang di Desa Sungsang untuk satu kali produksi adalah sebesar Rp. 535,81. Biaya ini mencakup penyusutan penggerus sebesar Rp. 9,89, papan gilas sebesar Rp. 71,05, dan dandang sebesar Rp. 177,62, kompor Rp. 132,31, baskom Rp. 21,32, dan fiber penyimpanan Rp. 123,81. Pada Tabel 2, depresiasi peralatan produksi atau biaya penyusutan peralatan yang digunakan dalam usaha botor udang di Desa Sungsang untuk satu kali produksi adalah sebesar Rp. 505,64. Ini terdiri dari penyusutan penggerus Rp. 6,20, Rp. 45,90, Rp. 114,36, kompor Rp. 83,58, alat cetak Rp. 822,62, nampan Rp. 340,48, baskom Rp. 13,77, dan fiber penyimpanan Rp. 78,74. Selanjutnya. Tabel menunjukkan bahwa depresiasi peralatan produksi atau biaya penyusutan peralatan yang digunakan dalam usaha kerupuk udang di Desa Sungsang untuk satu kali produksi adalah sebesar Rp. 505,64. Ini terdiri dari penyusutan penggerus Rp. 8,24, papan gilas Rp. 59,20, dandang Rp. 240,94, kompor Rp. 110,25, pisau Rp. 152,07, nampan Rp. 625,10, baskom Rp. 17,76, dan fiber penyimpanan Rp. 103,00. Tabel 4. Biaya Variabel Rata-Rata Produksi Pempek Udang di Desa Sungsang Jenis Biaya Udang Sagu Telur Gas Garam Penyedap Rasa Plastik Jumlah Penggunaan Per Proses Produksi 0,194 0,097 Satuan Butir Tabung . Pack Biaya (Rp/Proses Produks. 466,67 433,33 633,33 000,00 107,84 661,76 000,00 Analisis Pendapatan Dan Esifiensi Usaha Produk Olahan Udang Di Desa. Desliana Opie Harliani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Desember 2024:136-145 Jenis Biaya 8 Gula Merah 9 Cabe 10 Bawang Putih 11 Asam Jawa 12 Air 13 Tenaga Kerja Jumlah Jumlah Penggunaan Per Proses Produksi Satuan Liter HOK Biaya (Rp/Proses Produks. 000,00 002,63 000,00 000,00 105,26 360,00 770,82 Keterangan: Asumsi : . Total produksi pempek udang kecil : 405 pcs dan pempek udang besar : 101 pcs. berasal dari 10 kg udang segar, . 1 kali produksi : 1 hari. 1 bulan 15 kali produksi Tabel 5. Biaya Variabel Rata-Rata Produksi Botor Udang di Desa Sungsang Jenis Biaya Udang Sagu Gas Garam Penyedap Rasa Plastik 7 Tenaga Kerja Jumlah Jumlah Penggunaan per Proses Produksi 0,439 0,219 Satuan Tabung . Pack HOK Biaya (Rp/Proses Produks. 666,67 833,33 000,00 022,22 533,33 000,00 600,00 655,56 Keterangan: Asumsi : . Total produksi botor udang adalah 21 kg, menggunakan 13 kg udang segar. Satu siklus produksi memakan waktu 6 hari. Dalam satu bulan, dilakukan 2 kali produksi Tabel 6. Biaya Variabel Rata-Rata Produksi Kerupuk Udang di Desa Sungsang Jenis Biaya Udang Sagu Telur Gas Garam Penyedap Rasa Plastik Tenaga Kerja Jumlah Jumlah Penggunaan Per Proses Produksi 0,567 0,283 Satuan Butir Tabung . Pack HOK Biaya (Rp/Proses Produks. 666,67 000,00 333,33 500,00 066,67 600,00 000,00 400,00 566,67 Keterangan: Asumsi: . Total produksi kerupuk udang mencapai 27 kg, menggunakan 17 kg udang segar. Proses produksi berlangsung selama 6 hari untuk setiap siklus. Dalam satu bulan, produksi dilakukan sebanyak 4 kali. Biaya variabel adalah total biaya tambahan untuk setiap unit yang diproduksi (Assegaf, 2. Berdasarkan Tabel 4. Tabel 5, dan Tabel 6, terlihat ratarata biaya variabel untuk satu kali produksi dari masing-masing produk Pada Tabel 4, rata-rata biaya variabel untuk satu kali produksi pempek adalah Rp. 770,82, yang meliputi Rp. 466,67, Rp. 433,33, telur Rp. 633,33, garam Rp. 107,84, penyedap rasa Rp. 661,76, gula merah Rp. 000,00 Rp. 002,63, bawang putih Rp. 000,00, asam jawa Rp. 000,00, air Rp. 105,26, plastik Rp. 000,00, gas Rp. 000,00, serta biaya tenaga kerja Rp. 360,00. Analisis Pendapatan Dan Esifiensi Usaha Produk Olahan Udang Di Desa. Desliana Opie Harliani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Desember 2024:136-145 Pada Tabel 5, rata-rata biaya variabel untuk satu kali produksi botor adalah Rp. 655,56 yang meliputi Rp. 238,666. Rp. 833,33, garam Rp. 022,22, penyedap rasa Rp. 533,33, plastik Rp. 000,00, gas Rp. 000,00, dan biaya tenaga kerja Rp. 600,00. Selanjutnya, pada Tabel 6, ratarata biaya variabel untuk satu kali produksi kerupuk adalah Rp. 566,67 yang meliputi udang Rp. 666,67, sagu Rp. 000,00, telur Rp. 333,33, garam Rp. 066,67, Rp. 600,00, plastik Rp. 000,00, gas Rp. 500,00, dan biaya tenaga kerja Rp. 400,00. Tabel 7. Biaya Total Produksi Botor Udang. Pempek dan Kerupuk Udang di Sungsang No Uraian Biaya Tetap Biaya Variabel Jumlah Biaya Produksi (Rp per Proses produks. Botor Udang Pempek Kerupuk Udang 316,56 535,81 505,64 770,82 306,63 655,56 161,20 566,67 883,23 Keterangan: Asumsi: . Total produksi botor udang adalah 21 kg, menggunakan 13 kg udang segar. Satu siklus produksi memakan waktu 6 hari. Dalam satu bulan, dilakukan 2 kali produksi Asumsi: . Total produksi pempek udang kecil : 405 pcs dan pempek udang besar : 101 pcs. berasal dari 10 kg udang segar, . 1 kali produksi : 1 hari. 1 bulan 15 kali produksi Asumsi: . Total produksi kerupuk udang mencapai 27 kg, menggunakan 17 kg udang segar. Proses produksi berlangsung selama 6 hari untuk setiap siklus. Dalam satu bulan, produksi dilakukan sebanyak 4 Biaya total meliputi semua pengeluaran yang diperlukan untuk menghasilkan produk, yang merupakan gabungan antara biaya tetap dan biaya variabel (Ibrahim et al. , 2. Total biaya untuk setiap produk olahan dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 8, dan Tabel 9 di atas. Pada Tabel 7, total biaya produksi pempek adalah Rp. 306,63, yang terdiri dari biaya variabel sebesar Rp. 770,82 dan biaya tetap sebesar Rp. 535,81. Pada Tabel 8, total biaya untuk satu kali produksi botor adalah Rp. 161,20, dengan biaya variabel sebesar Rp. 505,64 dan biaya tetap sebesar Rp. 655,56. Selanjutnya, berdasarkan Tabel 9, total biaya untuk satu kali produksi kerupuk udang adalah Rp. 883,23, yang meliputi biaya variabel sebesar Rp. 316,56 dan biaya tetap sebesar Rp. 566,67. Tabel 8. Rata-rata volume produksi, harga jual, total penerimaan, biaya produksi, dan pendapatan usaha pempek udang dalam setiap satu kali proses produksi Uraian Produksi: Pempek Kecil Pempek Besar Harga: Pempek Kecil Pempek Besar Penerimaan Biaya Produksi Pendapatan Satuan Jumlah Pcs 405,00 101,00 Rp/Pcs Rp/produksi Rp/produksi Rp/produksi R/C B/C 000,00 000,00 333,33 306,63 026,70 1,28 0,28 Analisis Pendapatan Dan Esifiensi Usaha Produk Olahan Udang Di Desa. Desliana Opie Harliani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Desember 2024:136-145 Keterangan: Asumsi: . Total produksi pempek udang kecil : 405 pcs dan pempek udang besar : 101 pcs. berasal dari 10 kg udang segar, . 1 kali produksi : 1 hari. 1 bulan 15 kali produksi Tabel 11. Rata-rata volume produksi, harga jual, total penerimaan, biaya produksi, dan pendapatan usaha botor udang dalam setiap satu kali proses produksi Uraian Produksi Harga Penerimaan Biaya Produksi Pendapatan Satuan Rp/Kg Rp/produksi Rp/produksi Rp/produksi R/C B/C Jumlah 21,00 000,00 333,00 161,20 172,13 1,89 0,89 Keterangan: Asumsi : . Total produksi botor udang adalah 21 kg, menggunakan 13 kg udang segar. Satu siklus produksi memakan waktu 6 hari. Dalam satu bulan, dilakukan 2 kali produksi Tabel 12. Rata-rata volume produksi, harga jual, total penerimaan, biaya produksi, dan pendapatan usaha kerupuk udang dalam setiap satu kali proses produksi Uraian Produksi Harga Penerimaan Biaya Produksi Pendapatan Satuan Rp/Kg Rp/produksi Rp/produksi Rp/produksi R/C B/C Jumlah 27,00 000,00 000,00 883,23 116,77 1,89 0,89 Keterangan: Asumsi: . Total produksi kerupuk udang mencapai 27 kg, menggunakan 17 kg udang segar. Proses produksi berlangsung selama 6 hari untuk setiap siklus. Dalam satu bulan, produksi dilakukan sebanyak 4 kali. Pendapatan adalah hasil dari kegiatan ekonomi yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan. Pendapatan mengacu pada jumlah uang yang dihasilkan setelah semua biaya dikurangi, atau dengan kata lain, pendapatan penghasilan dan pengeluaran (Palandos et , 2. Jumlah rata-rata produksi untuk masing-masing produk diuraikan dalam Tabel 10. Tabel 11, dan Tabel 12. Pada Tabel 10, terlihat bahwa rata-rata produksi pempek per kali produksi adalah 405 pcs untuk pempek kecil dan 101 pcs untuk pempek besar, dengan harga jual Rp. 000,00 per pcs untuk pempek kecil dan Rp. 000,00 per pcs untuk pempek Total Rp. 333,00 per produksi. Biaya produksi sebesar Rp. 883,23 per sebesar Rp. 116,77 per kali produksi pempek udang. Nilai R/C ratio yang diperoleh sebesar 1,28 menunjukkan bahwa setiap 1 rupiah yang dikeluarkan dalam proses pengolahan menghasilkan pendapatan sebesar 1,28 rupiah, yang menunjukkan bahwa usaha pengolahan pempek udang tergolong efisien (R/C ratio > . dan layak untuk dikembangkan. Berdasarkan Tabel 11, rata-rata produksi botor per kali produksi adalah 21 kg dengan harga jual Rp. 000,00 per kg Total Rp. 000,00 per produksi. Biaya Analisis Pendapatan Dan Esifiensi Usaha Produk Olahan Udang Di Desa. Desliana Opie Harliani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Desember 2024:136-145 produksi sebesar Rp. 161,20 per sebesar Rp. 172,13 per kali produksi botor udang. Nilai R/C ratio yang didapatkan adalah 1,89, yang berarti setiap 1 rupiah yang dikeluarkan dalam pendapatan sebesar 1,89 rupiah. Ini menunjukkan bahwa usaha pengolahan botor udang tergolong efisien (R/C ratio > . dan memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Selanjutnya, berdasarkan Tabel 12, rata-rata produksi kerupuk per kali produksi adalah 27 kg dengan harga jual Rp. 000,00 per kg kerupuk udang. Total penerimaan adalah Rp. 000,00 per produksi. Biaya produksi sebesar Rp. 883,23 Rp. 116,77 per kali produksi kerupuk Nilai rasio R/C yang dihitung adalah 1,89, menunjukkan bahwa setiap 1 rupiah yang dikeluarkan dalam proses pengolahan menghasilkan pendapatan sebesar 1,89 rupiah. Ini menunjukkan bahwa usaha pengolahan kerupuk udang tergolong efisien (R/C ratio > . dan layak untuk diperluas atau dikembangkan. Studi pengolahan udang menjadi pempek, botor, dan kerupuk udang secara finansial layak untuk dijalankan. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha pengolahan udang di Desa Sungsang, yang meliputi produk pempek, botor, dan kerupuk udang, memiliki tingkat efisiensi yang baik berdasarkan nilai R/C ratio yang diperoleh. Usaha pengolahan pempek udang memiliki nilai R/C ratio sebesar 1,28, sedangkan botor dan kerupuk udang masing-masing mencapai nilai R/C ratio sebesar 1,89. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa setiap pengeluaran sebesar 1 rupiah dalam pendapatan lebih dari 1 rupiah, sehingga usaha ini tergolong efisien (R/C ratio > . Pendapatan rata-rata per produksi diketahui sebesar Rp. 026,70 untuk pempek udang. Rp. 172,13 untuk botor udang, dan Rp. 116,77 untuk kerupuk udang. Sementara itu, total biaya produksi per proses yang mencakup biaya tetap dan biaya variable, meliputi Rp. 306,63 Rp. 161,20 Rp. 883,23 untuk kerupuk. Dengan potensi pasar yang besar dan kontribusi signifikan terhadap pengolahan udang di Desa Sungsang dinilai layak untuk dikembangkan lebih lanjut baik dari segi skala produksi maupun diversifikasi produk. DAFTAR PUSTAKA