Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 12 No. 2 Tahun 2024 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 RESPON PENGGUNAAN PUPUK NPK MUTIARA PADA TANAMAN BAWANG MERAH (Allium cep. DENGAN APLIKASI MIKORIZA ARBUSKULAR Alif Hilman Muttaqin1*. Dini Mufriah1. Eri Samah1. Adriansyah2 Prodi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Prodi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Alwashliyah Medan Jl. Sisingamangaraja Km 5. 5 No. 10 Medan. Telp/fax : 061-7851881 email:muttaqinalif98@gmail. ABSTRAK Bawang merah (Allium cepa L) merupakan salah satu komoditi hortikultura yang termasuk ke dalam sayuran rempah yang digunakan sebagai pelengkap bumbu masakan guna menambah citarasa dan kenikmatan masakan. Pemupukan merupakan salah satu faktor penentu dalam upaya meningkatkan hasil tanaman. Tujuan dari Penelitian ini adalah Untuk mengetahui pengaruh pemberian CMA dan NPK Mutiara terhadap pertumbuhan tanaman bawang merah. Metode Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan Faktor I. Pupuk NPK Mutiara yang terdiri dari 4 taraf yaitu:M0 = Kontrol,M1 = Pupuk NPK 0,75 gram / tanaman,M2 = Pupuk NPK 1,5 gram / tanaman,M3 = Pupuk NPK 3 gram / tanaman. Faktor II : Cendawan Mikoriza arbuskula terdiri dari 3 taraf yaitu C0 = 0 gram / tanaman. C1 = 10 gram / tanaman. C2 = 20 gram / tanaman. Penggunaan Pupuk NPK tidak berbeda nyata terhadap tinggi tanaman, dan jumlah daun. Penggunaan pupuk CMA tidak berbeda nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun, begitu juga interaksi antara penggunaan pupuk NPK dan pupuk CMA tidak berbeda nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun. Tanaman bawang merah tertinggi terdapat pada perlakuan M1C2 yaitu sebesar 27. 08 cm dan jumlah daun tertinggi pada perlakuan M2C1 sebesar 15 helai daun. Kata Kunci : Bawang merah, mikoriza abuskular. NPK ABSTRACT Shallots (Allium cepa L) are one of the horticultural commodities which are included in the spice vegetables which are used as a complement to cooking spices to add flavor and enjoyment to cooking. Fertilization is one of the determining factors in efforts to increase plant yields. The aim of this research is to determine the effect of giving CMA and NPK Mutiara on the growth of shallot plants. This research method uses a factorial Randomized Group Design (RAK) with Factor I. Mutiara NPK Fertilizer which consists of 4 levels, namely: M0 = Control. M1 = 0. 75 gram NPK Fertilizer / plant. M2 = 1. 5 gram NPK Fertilizer / plant ,M3 = NPK fertilizer 3 grams / plant. Factor II: Arbuscular mycorrhizal fungi consist of 3 levels, namely C0 = 0 grams / plant. C1 = 10 grams / plant. C2 = 20 grams / plant. The use of NPK fertilizer was not significantly different to plant height and number of leaves. The use of CMA fertilizer was not significantly different to plant height and number of leaves, nor was the interaction between the use of NPK fertilizer and CMA fertilizer significantly different to plant height and number of leaves. Shallot plants The highest was in the M1C2 treatment, namely 27. 08 cm and the highest number of leaves in the M2C1 treatment was 15 leaves. Key words: Shallots. Arbascular mycorrhiza. NPK Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 12 No. 2 Tahun 2024 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil, serta melestarikan kesuburan tanah (Suwandi et Pada penggunaan CMA, akar tanaman akan secara aktif mensekresikan berbagai macam senyawa ke dalam tanah yang disebut eksudat akar. Peran eksudat akar antara lain melumasi ujung akar danmelindungi akar dari kekeringan . serta menstabilkan agregat mikro tanah. Selain itu, eksudat akar akan menyebabkan terjadinya interaksi antara tanaman dengan mikroba melalui pertukaran senyawa di rhizosfer. Widyati . menyatakan terbentuknya akar benih yang berkecambah pada tanah menjadi awal terbentuknya rhizosfer akibat sekresi eksudat akar secara terus menerus yang awalnya bertujuan untuk memudahkan akar menembus Jumlah dan macam eksudat akar yang dihasilkan tanaman dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik lingkungan, serta jenis dan umur tanaman (Badri dan Vivanco, 2. Adapun Tujuan dari Penelitian ini adalah Untuk mengetahui pengaruh pemberian CMA dan NPK Mutiara terhadap pertumbuhan tanaman bawang merah PENDAHULUAN Bawang merah (Allium cepa L) merupakan salah satu komoditi hortikultura yang termasuk ke dalam sayuran rempah yang digunakan sebagai pelengkap bumbu masakan guna menambah citarasa dan kenikmatan Di samping itu, tanaman ini juga berkhasiat sebagai obat tradisional, misalnya obat demam, masuk angin, diabetes melitus, disentri dan akibat gigitan serangga (Samadi dan Cahyono, 2. Data Badan Pusat Statistik Sumatera Utara . menunjukkan, produksi bawang merah terus menurun dari tahun ke tahun. Tahun 2004 produksi bawang merah adalah 16. 024 ton turun menjadi 9. 226 ton pada tahun 2005, dan 666 ton pada tahun 2006, sementara produktivitas bawang merah pada tanah subur mampu mencapai 12 ton /ha (Mozumder et Pemupukan merupakan salah satu faktor penentu dalam upaya meningkatkan hasil Pupuk yang digunakan sesuai anjuran diharapkan dapat memberikan hasil yang secara ekonomis menguntungkan. Penggunaan pupuk anorganik . upuk kimi. dalam jangka panjang menyebabkan kadar bahan organik tanah menurun, struktur tanah rusak, dan pencemaran Hal ini jika terus berlanjut akan menurunkan kualitas tanah dan kesehatan lingkungan (Hilman, 2. Salah satu cara memperbaiki kerusakan tanah adalah dengan penggunaan pupuk hayati. Pupuk hayati merupakan mikroorganisme hidup yang diberikan/dimasukkan ke dalam tanah sebagai inokulan untuk membantu tanaman memfasilitasi atau menyediakan unsur hara tertentu bagi tanaman, sehingga unsur hara tertentu tersebut yang sebelumnya tidak tersedia menjadi tersedia dan dapat diserap oleh tanaman untuk pertumbuhannya. Misalnya penambatan unsur hara N dari udara sehingga hara N dapat tersedia bagi tanaman. Salah satu cara untuk menciptakan kondisi lingkungan rhizosfer yang lebih baik, mempermudah tersedianya nutrisi . bagi tanaman, penyerapan hara tanaman dan dekomposisi bahan organik untuk mendukung pertumbuhan dan meningkatkan produksi tanaman dapat dilakukan melalui pemanfaatan pupuk hayati. Pupuk hayati merupakan salah satu cara pengelolaan hara ramah lingkungan untuk METODE PENELITIAN Penelitian di lakukan di lahan praktek Fakultas Pertanian Universitas Al Washliyah Medan. Jalan Bunga Rampe Kelurahan Simalingkar B Kecamatan Medan Tuntungan dengan ketinggian A 15 m diatas permukaan Bahan dan Alat Bahan yang digunakan pada penelitian ini diantaranya Cendawan Mikoriza Arbuskular didapat dari Laboratorium UMA, pupuk NPK mutiara, bawang merah, polybag, triplek, insektisida, fungisida. Alat yang digunakan yaitu Cangkul, gombor, meteran, timbangan Desain Penelitian dan Analisa Data Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu: Faktor I. Pupuk NPK Mutiara yang terdiri dari 4 taraf yaitu: M0 = Kontrol Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 12 No. 2 Tahun 2024 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 M1 = Pupuk NPK 0,75 gram / tanaman M2 = Pupuk NPK 1,5 gram / tanaman M3 = Pupuk NPK 3 gram / tanaman Faktor II : Cendawan Mikoriza arbuskula terdiri dari 3 taraf : C0 = 0 gram / tanaman C1 = 10 gram / tanaman C2 = 20 gram / tanaman Analisa data yang diambil pada penelitian ini meliputi : Tinggi tanaman . dan Jumlah daun (Hela. SelanjutnyaApabila hasil uji penelitian menunjukkan perbedaan yang nyata dari perlakuan yang dicoba, dapat dilanjutkan ke metode uji beda rata-rata duncan (DMRT) Tabel 1. Rataan Tinggi Daun Bawang Merah Pada Umur 8 minggu Setelah Tanam Perlakuan Rataan 22,67 22,33 14,48 19,82 23,64 17,25 27,08 22,65 22,94 20,00 24,00 22,31 19,05 18,78 25,83 21,22 Rataan 22,07 19,59 22,84 Penggunaan pupuk NPK mutiara tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman bawang merah pada umur 4 dan 8 MST, sedangkan pada umur 6 MST perlakuan pupuk NPK mutiara berpengaruh nyata. Hal ini dikarenakan tinnginya curah hujan yang menyebabkan pupuk mudah larut. Menurut (Chen et al,2. pemberian pupuk tunggal yang selama ini digunakan belum memberikan dampak yang signifikan karena mempunyai kelemahan bersifat mudah larut dalam air dan mudah hilang. Pupuk NPK Mutiara merupakan pupuk majemuk yang mengandung unsur hara N . %) dalam bentuk NH3. %) dalam bentuk PO5 dan K. %) dalam bentuk (K2O). Unsur Nitrogen (N) diperlukan untuk pembentukan karbohidrat, protein, lemak dan persenyawaan organik lainnya dan unsur Nitrogen memegang peranan penting sebagai penyusun klorofil yang menjadikan daun berwarna hijau. Unsur fosfor (P) yang berperan penting dalam transfer energi di dalam sel tanaman, mendorong perkembangan akar dan pembuahan lebih awal, memperkuat batang meningkatkan serapan pada awal pertumbuhan. Unsur kalium (K) juga sangat berperan dalam pertumbuhan tanaman misalnya untuk memacu translokasi karbohidrat dari daun keorgan tanaman (Aguslina, 2. Pengaplikasian CMA tidak berpengaruh terhadap semua parameter tinggi tanaman bawang merah, terlihat dari perlakuan dosis tertinggi CMA tidak semuanya berpengaruh nyata pada tinggi tanaman bawang merah. Hal ini dikarenakan efektifitas CMA kurang maksimal dalam memperpanjang jangkauan akar tanaman bawang merah. Pelaksanaan Penelitian Persiapan Areal Areal yang digunakan untuk penelitian ini dibersihkan dari rerumputan dan sisa sisa tanaman lain. Setelah areal bersih kemudian dibuat plot-plot berukuran 1 x 1 meter Pengambilan Tanah Pengambilan tanah yang akan diisi ke polybag menggunakan tanah yang berada di lokasi penelitian Pengisian Tanah Ke Polybag Tanah yang sudah disediakan kemudian diisi kedalam polybag berukuran 3 kg sebanyak 180 polybag Aplikasi CMA dan NPK Pemberian CMA saat penanaman dan pemberian NPK dilakukan dengan dosis yang sudah disesuaikan pada setiap plot Penanaman Penanaman dilakukan dengan melubangi tanah di polybag sedalam A 5 cm, setiap polybag ditanam 1 benih bawang merah, kemudian ditutup dengan tanah Panen Panen dilakukan setelah tanaman berusia 8 HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi Tanaman Bawang Merah (C. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian pupuk NPK mutiara. CMA, dan interaksi CMA & NPK tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman bawang umur 8 MST. Rataan tinggi daun bawang merah pada umur 4 minggu setelah tanam disajikan pada Tabel 1 Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 12 No. 2 Tahun 2024 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 Peningkatan tinggi tanaman disebabkan dengan pemberian mikoriza terjadi hubungan yang saling menguntungkan antara akar tanaman dengan cendawan dari mikoriza dalam mengikat unsur hara sehingga unsur hara tersebut dapat diserap oleh tanaman. Seperti ditemukan oleh Eri Samah dkk . dengan Pengaruh Flavonoid dan Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) terhadap Pertumbuhan Akar Bibit Manggis In-Vitro Saat Aklimatisasi menunjukkan bahwa CMA jenis G. dan G. etunicatum mampu meningkatkan/ memperbaiki pertumbuhan akar bibit manggis. Dari Tabel 2, jumlah daun terbanyak didapat pada perlakuan M2C2 . dan terendah pada perlakuan M3C0 . dapat dilihat pada Gambar 1. Penggunaan pupuk NPK mutiara dan CMA tidak berpengaruh nyata terhadap banyaknya jumlah daun. Hal ini dikarenakan curah hujan yang tinggi sehingga unsur hara yang diberikan larut. Unsur hara fosfor (P) berperan penting dalam pertumbuhan tanaman terutama tanaman yang berumur pendek seperti bawang merah. Ketersediaan yang tinggi sampai dengan sangat tinggi akan memberikan pertumbuhan yang baik pada tanaman bawang merah (Sumarni, , 2. Syahrul . menambahkan bahwa penggunaan Cendawan Mikoriza arbuskular (CMA) dapat meningkatkan serapan hara N. K dalam tanah sehingga dapat mencukupi kebutuhan hara tanaman. Akar tumbuhan yang bersimbiosis dengan Cendawan Mikoriza arbuskular (CMA) lebih efisien dalam penyerapan air dan unsur hara dibandingkan dengan akar tumbuhan yang tidak bersimbiosis dengan Cendawan Mikoriza arbuskular (CMA). Jumlah Daun (Hela. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian pupuk NPK mutiara. CMA, dan interaksi CMA & NPK tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun bawang umur 8 MST. Rataan jumlah daun bawang merah pada umur 8 minggu setelah tanam disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Rataan Jumlah Daun Bawang Merah Terhadap Pengaruh NPK Mutiara Dan CMA Umur 8 MST Perlakuan Rataan 14,00 13,67 14,00 13,89 14,00 12,33 13,33 13,22 13,67 15,00 13,00 13,89 11,67 14,33 14,33 13,44 Rataan 13,34 13,83 13,67 KESIMPULAN Penggunaan pupuk NPK Mutiara dan pupuk CMA tidak berpengaruh terhadap semua parameter tinggi tanaman dan jumlah daun. Tinggi daun tertinggi terdapat pada perlakuan M1C2 yaitu sebesar 27. 08 cm dan jumlah daun tertinggi pada perlakuan M2C1 sebesar 15 helai DAFTAR PUSTAKA