INSTITUT FILSAFAT DAN TEKNOLOGI KREATIF LEDALERO PROGRAM STUDI ILMU FILSAFAT LEDALOGOS: JURNAL FILSAFAT https://journal. id/index. php/JLOG Dimensi Keberadaan ODGJ dalam Perspektif Metafisika Emmanuel Levinas: Wajah yang Menuntut Tanggung Jawab Oktavianus Gili Leo1. Protasius Karsa2. Yohanes Apriano Bawo3. Petrus Katon Tenda4 1Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Maumere. Indonesia . ktavianusgili81@gmail. 2Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Maumere. Indonesia . utrakarsa452@gmail. 3Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Maumere. Indonesia . nobawo070405@gmail. 4Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Maumere. Indonesia . etruskatont@gmail. ABSTRAK Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) sering kali ditempatkan Article history: Received: 11 November 2025 pada posisi marginal dalam masyarakat, direduksi menjadi Revised: 7 Mei 2026 sekadar objek medis atau sosial, serta dipandang dari kacamata Accepted: 9 Mei 2026 Available online: 31 Mei 2026 ontologis sebagai Auyang tidak sempurna. Ay Artikel ini berupaya membaca keberadaan ODGJ melalui perspektif metafisika Kata Kunci: Emmanuel Levinas yang menekankan relasi etis dengan Yang ODGJ. Emmanuel Levinas. tanggung jawab etis. Lain. Dalam pemikiran Levinas, metafisika bukan sekadar kajian tentang being, melainkan perjumpaan dengan wajah Keywords: Yang Lain yang menyingkap tanggung jawab tanpa syarat. PwMD. Emmanuel Levinas. ethical responsibility. Melalui kerangka ini. ODGJ dipahami bukan sebagai objek pasif, melainkan sebagai subjek yang memanggil tanggung jawab etis. Wajah ODGJ, meski sering diselubungi stigma dan keterasingan, tetap menghadirkan tuntutan untuk menghormati martabat dan keberadaan mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui analisis kepustakaan terhadap berbagai literatur terkait metafisika Levinas, etika, dan kajian sosial tentang ODGJ. Analisis dilakukan secara konseptual untuk menafsirkan gagasan Levinas tentang wajah dan tanggung jawab, lalu menerapkannya pada realitas eksistensial ODGJ. Hipotesis filosofis yang diajukan dalam penelitian ini adalah bahwa keberadaan ODGJ, ketika dibaca melalui metafisika Levinas, mengungkap dimensi etis terdalam dari keberadaan manusia itu sendiri, yakni panggilan tanggung jawab terhadap Yang Lain sebagai dasar sejati metafisika. Dengan demikian, keberadaan ODGJ bukan sekadar persoalan medis atau sosial, melainkan pengingat metafisis tentang relasi etis yang mendahului segala bentuk pengetahuan dan kekuasaan manusia. ARTICLE INFO ABSTRACT People with Mental Disorders (PwMD) are often placed in a marginal position within society, reduced to mere medical or social objects, and viewed ontologically as Auimperfect beingsAy. This article seeks to interpret the existence of PwMD through Emmanuel LevinasAos metaphysical perspective, which emphasizes ethical relations with the Other. In LevinasAos thought, metaphysics is not merely the study of being, but a genuine encounter with the face of the Other that reveals unconditional responsibility. Through this framework. PwMD are understood not as passive objects, but as subjects who call forth ethical responsibility. The face 65 | L e d a l o g o s Ledalogos: Jurnal Filsafat Vol. No. Mei 2026 of PwMD, although often veiled by stigma and alienation, still presents a demand to respect their dignity and existence. This study employs a qualitative method through a literature-based analysis of various sources related to LevinasAos metaphysics, ethics, and social studies on PwMD. The analysis is conducted conceptually to interpret LevinasAos ideas on the face and responsibility and then apply them to the existential reality of PwMD. The philosophical hypothesis proposed in this study is that the existence of PwMD, when read through LevinasAos metaphysics, reveals the deepest ethical dimension of human existence itself, namely the call to responsibility toward the Other as the true foundation of metaphysics. Thus, the existence of PwMD is not merely a medical or social issue, but also a metaphysical reminder of the ethical relationship that precedes all forms of human knowledge and power. PENDAHULUAN Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) merupakan bagian dari masyarakat yang kerap ditempatkan pada posisi marginal. Mereka sering kali mengalami stigma sosial . abeling, stereoti. , diskriminasi, pengucilan, bahkan kekerasan, baik secara verbal maupun fisik, dari lingkungan sekitar. Stereotipe yang kerap dilekatkan pada ODGJ antara lain bahwa mereka dianggap sebagai individu yang berperilaku agresif atau berpotensi menjadi pembunuh, memiliki dorongan seksual yang tidak terkendali, bersifat murung, sering tertawa tanpa alasan yang jelas, serta dianggap tidak jujur ketika berinteraksi dengan tenaga medis (Herdiyanto. Tobing, & Vembriati, 2017: Dalam banyak kasus. ODGJ dipersepsikan sebagai ancaman atau aib keluarga sehingga keberadaan mereka disembunyikan atau dikurung di dalam rumah (Byrne, 2000: . Studi yang dilakukan oleh Subu. Holmes, dan Elliot . 6: . menunjukkan bahwa stigmatisasi terhadap ODGJ tidak hanya berdampak pada penolakan sosial, tetapi juga memicu kekerasan timbal balik antara penderita, keluarga, tenaga medis, dan masyarakat. Fenomena ini memperlihatkan bahwa stigma telah menjadi kekuatan sosial yang mereduksi kemanusiaan penderita gangguan jiwa serta memengaruhi perilaku tidak adil masyarakat terhadap mereka (Dhogo, 2015: . Meminjam ungkapan sosiolog Peter L. Berger. ODGJ masih dipandang sebagai bentuk anomi yang dapat menimbulkan guncangan dalam tatanan sosial. Jalan keluar untuk kembali pada nomos atau keteraturan sosial adalah dengan mengusahakan terciptanya harmoni Status sebagai ODGJ sering kali menjadikan individu dipersepsikan sebagai Auorang asingAy yang terasing dan tercabut dari lingkungan sosialnya sendiri (Nahak, 2024: . Kenyataan tersebut diperkuat oleh penelitian Nasriati . 7: 56Ae. yang menemukan bahwa stigma negatif masyarakat berdampak langsung pada berkurangnya dukungan keluarga terhadap anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Stigma sosial bukan hanya melahirkan sikap penolakan, tetapi juga menambah beban psikologis bagi keluarga sehingga kerap berujung pada tindakan represif, seperti pemasungan. Dalam konteks Indonesia, tindakan pemasungan terhadap ODGJ masih ditemukan di berbagai daerah. Praktik ini mengindikasikan bahwa paradigma sosial yang memandang ODGJ sebagai AuYang LainAy yang berbahaya dan tidak normal masih merebak di berbagai tempat. 66 | L e d a l o g o s Oktavianus Gili Leo. Protasius Karsa. Yohanes Apriano Bawo & Petrus Katon Tenda Kondisi serupa juga diungkapkan oleh Mane. Kuwa, dan Sulastien . 2: . yang menjelaskan bahwa ODGJ menghadapi dua bentuk penderitaan, yaitu penderitaan medis akibat penyakitnya dan penderitaan sosial akibat stigmatisasi Akibatnya, banyak ODGJ mengalami pengucilan sosial, kekerasan, dan kesulitan dalam proses pemulihan. Lebih jauh, mereka tidak hanya kehilangan hak untuk hidup layak, tetapi juga kehilangan pengakuan atas eksistensi kemanusiaan Fenomena ini mengindikasikan bahwa masyarakat masih gagal melihat ODGJ sebagai pribadi yang memiliki nilai dan martabat manusiawi. Berangkat dari persoalan tersebut, pendekatan medis dan psikologis semata tampak belum cukup untuk memahami secara utuh keberadaan ODGJ dalam konteks Diperlukan pendekatan filosofis yang mampu menyingkap dimensi terdalam eksistensi manusia sebagai Auyang ada bersama yang lainAy. Dalam hal ini, pemikiran metafisis Emmanuel Levinas menjadi sangat relevan. Levinas . alam Jauhari, 2016: 15Ae. mengkritik tradisi filsafat Barat yang terlalu berpusat pada subjek (Auaku berpikir maka aku adaA. sehingga akhirnya menegasikan keberadaan Yang Lain. Baginya, dasar metafisika bukan terletak pada ontologi, melainkan pada etika relasional yang berakar pada tanggung jawab terhadap Yang Lain. Lebih lanjut. Levinas menegaskan bahwa relasi dengan Yang Lain pertama-tama terwujud melalui AuwajahAy yang menampakkan dirinya sebagai panggilan etis (Utang, 2023: 2Ae. Wajah orang lain tidak bisa direduksi menjadi objek pengetahuan atau fungsi sosial, melainkan merupakan penyingkapan eksistensial yang menuntut tanggung jawab tanpa syarat. Tanggung jawab ini bersifat asimetris, karena yang lain selalu hadir lebih dahulu sebelum kehendak dan kebebasan subjek (Sobon, 2018: 47Ae Dalam perspektif ini, keberadaan ODGJ harus dipahami bukan sebagai objek penderitaan, melainkan sebagai Yang Lain yang memanggil kesadaran etis manusia untuk bertanggung jawab. Berdasarkan uraian di atas, artikel ini hendak mendiskusikan pertanyaan berikut: AuBagaimana memahami keberadaan ODGJ dalam perspektif metafisika Emmanuel Levinas?Ay Adapun tujuan penelitian ini adalah membuka horizon baru dalam memahami eksistensi ODGJ sebagai Yang Lain yang menuntut tanggung jawab etis manusia. Pendekatan metafisika Levinas membantu mengungkap bahwa relasi manusia dengan ODGJ bukanlah relasi kuasa atau belas kasihan, melainkan relasi etis yang mengandaikan keterbukaan, penghormatan, dan tanggung jawab terhadap wajah Yang Lain sebagai dasar kemanusiaan sejati (Rohid & Riyanto, 2024: 17Ae. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. Pendekatan ini dipilih karena topik yang dikaji bersifat filosofis dan reflektif, yakni memahami keberadaan ODGJ dari perspektif metafisika Emmanuel Levinas. Metode kualitatif memungkinkan peneliti menafsirkan fenomena sosial dan kemanusiaan secara mendalam melalui analisis teks, konsep, dan gagasan yang relevan (Rohid & Riyanto, 2024: . Studi pustaka digunakan untuk menelusuri berbagai literatur teoretis terkait metafisika Levinas serta literatur empiris yang menggambarkan realitas sosial ODGJ di Indonesia. 67 | L e d a l o g o s Ledalogos: Jurnal Filsafat Vol. No. Mei 2026 KERANGKA TEORETIS Metafisika Emmanuel Levinas: Gambaran Umum Emmanuel Levinas . 6Ae1. adalah salah satu filsuf terpenting dalam tradisi filsafat kontinental abad ke-20. Ia dikenal karena keberaniannya menentang arus utama metafisika Barat yang selama berabad-abad menempatkan ada . dan kesadaran manusia sebagai pusat segala makna dan pengetahuan. Sejak masa Thomas Aquinas . 5Ae1. pada zaman Skolastik, refleksi filosofis dan teologis berpusat pada konsep esse . da, sei. , yang bermuara pada pengakuan tentang AuAda yang MahasempurnaAy (Ens Perfectissimu. , yaitu Allah sendiri. Bagi Aquinas, seluruh realitas dan eksistensi menemukan dasarnya dalam Esse Subsistens, yakni Allah sebagai sumber segala keberadaan (Jaimut & Meko, 2022: . Kemudian pada masa modern. Reny Descartes . 6Ae1. menggeser pusat refleksi filsafat dari esse menuju cogito (Auaku yang berpikirA. Dengan demikian, fokus filsafat berpindah dari realitas ilahi dan metafisis menuju kesadaran subjek manusia sebagai dasar kepastian pengetahuan dan kebenaran (Leo, 2025: . Filsafat Barat cenderung menegaskan otonomi subjek, seolah seluruh realitas harus dipahami dan dinilai dari perspektif kesadaran manusia. Levinas menilai kecenderungan tersebut sebagai bentuk AutotalisasiAy, yakni usaha untuk menyerap segala yang berbeda dan asing ke dalam kerangka berpikir subjek sendiri sehingga dunia dianggap harus tunduk pada logika dan kategori manusia. Cara berpikir semacam ini pada dasarnya bersifat tertutup dan meniadakan kehadiran Yang Lain. Totalitas ini menggambarkan suatu tatanan berpikir yang kaku, di mana segala sesuatu dipahami hanya sejauh dapat dimasukkan ke dalam kerangka pengetahuan dan pengalaman ego. Namun, struktur totalitas tersebut tiba-tiba AudihancurkanAy oleh kehadiran Yang Tak Berhingga, yaitu Yang Lain (Autrui. LAoAutr. Kehadiran Yang Lain tidak dapat dimasukkan ke dalam lingkup pengetahuan atau dikendalikan oleh kemampuan ego. Dalam perjumpaan eksistensial ini. Yang Lain hadir sebagai sesuatu yang melampaui batas-batas subjektivitas manusia dan menghadirkan realitas yang tak dapat direduksi menjadi bagian dari diri sendiri (Magnis-Suseno, 2006: . Bagi Levinas . 9: . , filsafat Barat selama ini gagal melihat keberadaan sesama manusia secara tepat. Yang Lain bagi Levinas merupakan fenomena sui generis, yaitu fenomena yang benar-benar unik dan tak tergantikan. Yang Lain tidak termasuk dalam totalitas AuakuAy. ia adalah eksistensi yang hadir secara eksterior, penuh kepadatan makna yang tak dapat dijangkau oleh kesadaran. Ia bukan alter ego, yakni cerminan diri sendiri, melainkan sosok yang sepenuhnya berbeda. Dalam perjumpaan dengan Yang Lain, manusia tidak dapat memulai dari kesadarannya sendiri, sebab Yang Lain selalu hadir sebagai AupendatangAy . AoEtrange. , sebagai wajah yang asing dan tak terduga. Justru di sanalah letak panggilan etis yang paling Dengan demikian, metafisika dalam pemikiran Levinas . 9: . tidak lagi dipahami sebagai refleksi tentang ada . , melainkan sebagai keterbukaan terhadap dimensi Yang Tak Berhingga yang dihadirkan melalui Yang Lain . o hetero. Ia menegaskan bahwa metafisika sejati selalu bersifat etis, karena perjumpaan dengan Yang Lain adalah momentum etis yang mendahului segala bentuk pengetahuan dan 68 | L e d a l o g o s Oktavianus Gili Leo. Protasius Karsa. Yohanes Apriano Bawo & Petrus Katon Tenda refleksi ontologis. Oleh sebab itu, bagi Levinas etika adalah Aufilsafat pertama. Ay Ia mengadopsi istilah yang pernah digunakan Aristoteles untuk metafisika namun dengan makna baru: bahwa prioritas metafisika terletak pada tanggung jawab etis terhadap Yang Lain. Pandangan ini sejalan dengan gagasan Plato bahwa ide tentang AuYang BaikAy harus ditempatkan di atas ide tentang AuAda. Ay Dalam pengertian ini, metafisika Levinas adalah metafisika yang melampaui ontologi dan menemukan maknanya dalam momentum etis (Jauhari, 2016: . Dalam pandangan Levinas, filsafat semacam ini mengabaikan kehadiran Yang Lain sebagai sesuatu yang tidak dapat diserap oleh totalitas ego. Ia menyebutnya sebagai Aufilsafat tentang yang samaAy . a philosophie du Mym. , yakni filsafat yang menolak keberlainan dan perbedaan (Jauhari, 2016: . Sebagai alternatif. Levinas menegaskan bahwa dasar metafisika bukanlah ontologi, melainkan relasi dengan Yang Lain. Metafisika sejati, menurutnya, adalah keterbukaan terhadap kehadiran Yang Lain yang tak dapat direduksi ke dalam kategori rasional atau konseptual. Dengan demikian, metafisika tidak lagi berbicara tentang hakikat being, melainkan tentang perjumpaan dengan Yang Lain yang menyingkap tanggung jawab etis. Konsep AuWajahAy Perjumpaan dengan Yang Lain dihadirkan melalui konsep AuwajahAy . ace, visag. sebagai inti dari sistem pemikiran Levinas. Wajah bukanlah fenomena empiris atau objek visual, melainkan kehadiran etis yang memanggil subjek untuk bertanggung Dalam Ethics and Infinity . 5: . Levinas menegaskan bahwa wajah menyatakan perintah moral paling dasar: AuJangan membunuh. Ay Wajah mematahkan kecenderungan manusia untuk mendominasi dan menegaskan bahwa Yang Lain tidak dapat dijadikan objek atau alat bagi tujuan siapa pun. Dalam perjumpaan dengan wajah, eksistensi subjek tidak lagi didasarkan pada kesadaran, melainkan pada tanggung jawab. AuWajah Yang LainAy, demikian juga wajah saya di hadapan Yang Lain, hadir dalam penolakannya untuk dikendalikan atau dimiliki. Wajah bukanlah objek yang dapat dikuasai oleh pengetahuan atau kehendak manusia, melainkan sebuah kehadiran yang menuntut pengakuan. Oleh karena itu, hubungan antara saya dan wajah Yang Lain bersifat unik, sebab relasi yang terjadi bukanlah relasi epistemologis, melainkan relasi etis yang berlandaskan tanggung jawab. Dalam pandangan Levinas, perjumpaan dengan wajah merupakan panggilan moral yang menggerakkan manusia untuk keluar dari dirinya sendiri dan membuka diri terhadap Yang Lain (Lemanto, 2022: . Oleh karena itu. Levinas menolak gagasan cogito ergo sum Descartes dan menggantinya dengan prinsip baru: respondeo ergo sum (Auaku bertanggung jawab, maka aku adaA. Tanggung jawab ini muncul sebelum segala bentuk kesadaran, kehendak, atau hukum moral yang jelas (Magnis-Suseno, 2006: . Ia hadir sebagai panggilan yang tidak bisa dihindari, seolah manusia AuterikatAy oleh kehadiran orang Dalam keadaan itu, seseorang menjadi subjek sejati bukan karena kemampuannya berpikir, tetapi karena kesediaannya untuk menanggapi dan bertanggung jawab terhadap Yang Lain. Dalam perjumpaan face-to-face dengan orang lain, subjek manusia mengalami Yang Lain . he Othe. sebagai pribadi yang menyapa, menuntut, dan mewajibkan 69 | L e d a l o g o s Ledalogos: Jurnal Filsafat Vol. No. Mei 2026 secara etis untuk bertindak dengan penuh tanggung jawab. Perjumpaan ini tidak bersifat abstrak, melainkan konkret, nyata, dan faktual. Dalam momen tersebut, subjek dituntut untuk mengapresiasi, mengakui, dan menerima kehadiran Yang Lain dengan segala keunikan serta keberadaannya yang mutlak (Weruin, 2024: . Bagi Levinas. Yang Lain merupakan kewajiban sekaligus tujuan utama kehidupan manusia yang bersifat etis dan asimetris, karena relasi yang terjalin sepenuhnya tertuju kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan apa pun. Filsafat Barat yang dipengaruhi oleh pemikiran Sokrates dan Hegel cenderung menempatkan secara berlebihan gagasan tentang otonomi, keakuan, dan identitas sebagai sesuatu yang bersifat mutlak dan fundamental dalam memahami manusia maupun realitas. Etika dalam tradisi filsafat Barat jatuh pada kecenderungan berpusat pada diri . , di mana subjek menjadi ukuran dan pusat segala nilai moral (Weruin & Yuniarwati, 2023: . Sebaliknya, etika Levinas berpangkal pada Yang Lain sebagai pusat makna etis. Ia menolak pandangan bahwa moralitas bermula dari refleksi subjek atas dirinya sendiri, dan sebaliknya menegaskan bahwa dasar etika terletak pada tanggapan terhadap kehadiran Yang Lain. Maka, tanggung jawab etis bukanlah hasil kesadaran reflektif, melainkan panggilan langsung yang muncul dari wajah Yang Lain yang menyingkapkan diri dalam relasi antar manusia. Dengan demikian, etika menjadi filsafat pertama . thics as first philosoph. Etika tidak lagi dipahami sebagai cabang dari filsafat praktis, melainkan sebagai fondasi dari seluruh filsafat itu sendiri. Dalam kerangka ini, metafisika Levinas adalah metafisika etis: suatu cara berpikir yang menempatkan tanggung jawab sebagai inti eksistensi Etika tidak sekadar berisi aturan normatif, tetapi merupakan dasar keberadaan manusia yang membuatnya terbuka terhadap Yang Tak Terhingga, melampaui batas pengetahuan dan logika. Relevansi bagi Studi tentang Keberadaan Manusia Pemikiran Levinas menawarkan cara pandang baru dalam memahami eksistensi Jika eksistensialisme klasik . eperti Heidegge. memandang manusia melalui hubungan dengan being, maka bagi Levinas, manusia justru dipahami melalui hubungannya dengan yang lain. Keberadaan manusia bukan sekadar being-with . , melainkan being-for . da-untu. yang lain. Manusia sejati adalah makhluk yang terbuka terhadap perbedaan dan menyambut kehadiran yang lain dengan tanggung jawab. Jauhari . 6: . menjelaskan bahwa relasi ini bersifat asimetris, artinya tanggung jawab subjek terhadap yang lain tidak menunggu balasan. Subjek dipanggil untuk menanggapi bahkan sebelum ia sempat memilih. Levinas menyebut kondisi ini sebagai bentuk AupenyanderaanAy . , di mana manusia menanggung keberadaan yang lain dalam dirinya sendiri. Dengan demikian, eksistensi manusia bersifat interpersonal dan etis, bukan individualistik. Ia tidak dapat dipahami sematamata sebagai subjek otonom yang berdiri sendiri, melainkan selalu terikat dalam jalinan tanggung jawab terhadap sesama. Paradigma etika-metafisika Levinas menghadirkan pergeseran radikal dalam memahami relasi manusia dengan sesamanya. Bagi Levinas . 5: 33-. , dasar eksistensi manusia tidak terletak pada kesadaran atau pengetahuan rasional, 70 | L e d a l o g o s Oktavianus Gili Leo. Protasius Karsa. Yohanes Apriano Bawo & Petrus Katon Tenda melainkan pada tanggung jawab etis yang muncul dalam perjumpaan dengan wajah yang lain. Paradigma ini menantang pandangan modern yang cenderung menempatkan manusia lain sebagai objek pengetahuan, sistem, atau institusi, termasuk dalam konteks kelompok yang termarginalkan seperti Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Dalam konteks sosial dan medis. ODGJ sering direduksi menjadi Auyang sakitAy atau Auobjek intervensiAy, sehingga keberadaan mereka dikonstruksi berdasarkan norma rasionalitas dan produktivitas sosial. Dalam pandangan Levinas . 5: . , reduksi ini merupakan bentuk kekerasan ontologis, yakni penaklukan yang lain ke dalam kategori yang sama dengan diri. Sebaliknya, metafisika Levinas mengajarkan bahwa wajah ODGJ, dengan segala keterbatasannya, bukanlah tanda kekurangan, melainkan panggilan etis yang menuntut tanggung jawab tanpa syarat. Wajah tersebut berkata: AuJangan abaikan aku. Ay Seruan ini bukan sekadar permintaan empati, melainkan panggilan eksistensial yang menyingkap kedalaman tanggung jawab manusia terhadap sesamanya. Perjumpaan dengan ODGJ bukan sekadar peristiwa sosial, melainkan momen etis yang menguji kemanusiaan kita. Dalam momen itu, manusia ditantang untuk melampaui batas-batas penilaian rasional, stigma sosial, dan kategorisasi medis. Tanggung jawab terhadap ODGJ bukanlah tindakan belas kasihan, melainkan pengakuan atas martabat yang tak dapat direduksi, martabat yang mendahului segala bentuk pengetahuan atau sistem nilai (Sobon, 2018: 61Ae. Dengan demikian, manusia sejati, menurut Levinas, tidak hadir dalam dominasi terhadap yang lain, tetapi dalam kesediaan untuk memikul tanggung jawab terhadap yang lain. Metafisika Levinas, dengan demikian, tidak hanya berfungsi sebagai teori etika abstrak, tetapi juga sebagai fondasi kemanusiaan baru bagi praksis sosial. Etika yang lahir dari perjumpaan dengan yang lain dapat menjadi dasar bagi pembangunan masyarakat yang lebih manusiawi, yakni masyarakat yang memandang setiap individu, termasuk mereka yang dianggap Autidak normal,Ay sebagai wajah yang memanggil tanggung jawab, penghormatan, dan cinta kasih yang melampaui kategori KEBERADAAN ODGJ DALAM PERSPEKTIF SOSIAL DAN ONTOLOGIS Setiap kelompok sosial dan budaya memiliki cara pandang yang berbeda terhadap keberadaan ODGJ dalam kehidupan sosial. Tidak dapat dipungkiri bahwa cara pandang masyarakat sangat berpengaruh terhadap kondisi mental penderita. Terdapat beberapa perspektif dalam memahami ODGJ, antara lain perspektif medis, sosial, psikologis, dan ontologis. Semua perspektif ini memberikan interpretasi yang beragam tentang keberadaan ODGJ. Setiap interpretasi dapat memengaruhi cara masyarakat memperlakukan penderita, baik dalam bentuk stigma, sikap, perilaku, maupun dukungan sosial. Beragamnya interpretasi tersebut umumnya dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti tingkat pengetahuan, pengalaman pribadi, budaya, serta nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Kirana. Anggreini, dan Litaqia . 2: 77Ae. memaparkan bahwa dari perspektif medis, gangguan jiwa dipahami sebagai fenomena biologis yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, faktor keturunan atau genetik. Seseorang 71 | L e d a l o g o s Ledalogos: Jurnal Filsafat Vol. No. Mei 2026 berpotensi mengalami gangguan jiwa apabila dalam garis keturunannya terdapat anggota keluarga yang memiliki riwayat gangguan serupa. Kedua, faktor lingkungan juga memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan jiwa Faktor ini meliputi kondisi keluarga, masyarakat, sekolah, dan tempat Pengalaman masa kecil yang traumatis, tekanan ekonomi, konflik keluarga, pola asuh yang tidak sehat, serta kurangnya dukungan sosial dapat meningkatkan risiko gangguan kejiwaan. Ketiga, faktor neurobiologis, yakni gangguan pada struktur dan fungsi otak atau ketidakseimbangan neurotransmitter seperti dopamin dan serotonin, yang dapat menimbulkan gejala skizofrenia, stres berat, kecemasan, atau depresi. Oleh karena itu, dalam perspektif medis. ODGJ dipandang sebagai pasien yang harus mendapatkan penanganan intensif melalui terapi, pengobatan, dan pendampingan Selain itu. Kirana. Anggreini, dan Litaqia . 2: 77Ae. juga menyebutkan bahwa gangguan jiwa dapat disebabkan oleh faktor psikologis, seperti trauma dan ketidakpastian hidup yang menimbulkan stres, kecemasan, serta depresi. Kondisi ini berdampak pada cara seseorang berpikir dan memaknai realitas, sehingga individu tersebut dapat mengalami gangguan dalam memahami situasi konkret di sekitarnya. Dari perspektif psikologis. ODGJ perlu didampingi secara konsisten, diberi kepercayaan, serta mendapatkan dukungan medis dan emosional yang optimal agar dapat memulihkan keseimbangan mentalnya. Dari perspektif sosial, sebagian besar masyarakat masih memandang ODGJ sebagai individu yang menakutkan, berbahaya, dan berbeda dari manusia AunormalAy yang sehat secara fisik, mental, dan sosial. Pelabelan seperti Auorang gilaAy menyebabkan mereka mengalami stigma sosial yang berat, dikucilkan dari lingkungan, bahkan tidak jarang menjadi korban kekerasan atau pemasungan (Saluhang et al. , 2022: 86Ae. Pandangan semacam ini menimbulkan dampak psikologis yang serius, seperti rasa malu, kehilangan kepercayaan diri, dan keengganan untuk mencari pertolongan. Akibatnya, proses pemulihan kesehatan jiwa menjadi terhambat, bahkan berpotensi gagal. Sikap diskriminatif tersebut memperkuat marginalisasi terhadap ODGJ dan memperlebar jarak sosial antara mereka dengan masyarakat sekitarnya. Lebih jauh lagi, stigma sosial yang melekat juga memperlambat upaya pencegahan serta promosi kesehatan mental karena ODGJ sering kali kehilangan akses terhadap layanan kesehatan yang memadai. Ketika penderita tidak memperoleh ruang sosial yang aman dan dukungan publik yang memadai, maka proses rehabilitasi psikologis menjadi semakin sulit dicapai. Nahak . 9: 261Ae. menegaskan bahwa stigma negatif terhadap ODGJ merupakan bentuk diskriminasi yang AumematikanAy karena melumpuhkan semangat penderita untuk mencari bantuan dan memperoleh perawatan yang optimal. Dengan demikian, perubahan paradigma sosial sangat dibutuhkan untuk membangun lingkungan yang lebih inklusif, empatik, dan mendukung pemulihan martabat manusia bagi setiap ODGJ. Secara ontologis, keberadaan ODGJ kerap dipandang sebelah mata karena masyarakat AunormalAy menganggap mereka sebagai individu yang tidak sempurna dan tidak mampu berfungsi secara optimal dalam kehidupan sehari-hari. Ketidaksempurnaan ini sering diartikan sebagai sesuatu yang tidak lazim sehingga 72 | L e d a l o g o s Oktavianus Gili Leo. Protasius Karsa. Yohanes Apriano Bawo & Petrus Katon Tenda keberadaan mereka kerap disangkal. Dalam kehidupan sosial, mereka dianggap tidak layak diberi ruang karena identitas AukegilaanAy yang melekat pada diri mereka. Padahal, keberadaan ODGJ merupakan fakta sosial yang tidak dapat direduksi atau diobjektifikasi menjadi sesuatu yang lain. Dalam kodratnya, mereka adalah manusia, citra Allah . mago De. yang memiliki kesempurnaan dan martabat . GS A . Meskipun berbeda dari manusia yang sehat secara mental, mereka tetap memiliki hak-hak asasi, seperti hak untuk hidup, hak atas perawatan kesehatan, hak untuk dihormati, dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu. ODGJ harus diterima, dipahami, dan dihargai sebagaimana manusia pada umumnya. Persoalan besar yang perlu diatasi dewasa ini adalah stigmatisasi dan diskriminasi terhadap ODGJ, karena keduanya berdampak langsung pada proses pemulihan dan kualitas hidup penderita. Perspektif sosial yang memandang ODGJ sebagai Auorang gilaAy perlu diubah menuju paradigma yang lebih inklusif dan Kehadiran mereka harus dipahami sebagai bagian integral dari kehidupan sosial, bukan sebagai ancaman. Pandangan yang menerima dan menghargai keberadaan ODGJ justru dapat menjadi kekuatan pemulihan bagi mereka untuk menerima dirinya secara utuh. Upaya menciptakan lingkungan sosial yang ramah dan mendukung tidak hanya membantu proses penyembuhan, tetapi juga menegaskan nilai kemanusiaan bahwa setiap manusia . erlepas dari kondisi mentalny. memiliki martabat yang sama dan layak dihormati. Dalam konteks ODGJ, hal ini dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan Misalnya, masyarakat dapat menghindari penggunaan istilah merendahkan seperti Auorang gilaAy dan menggantinya dengan sebutan yang lebih manusiawi seperti Auorang dengan gangguan jiwa. Ay Pemerintah dan lembaga sosial juga dapat menyediakan ruang publik yang inklusif, seperti pusat rehabilitasi berbasis komunitas, kegiatan sosial bersama warga sekitar, atau program kerja produktif bagi ODGJ yang telah pulih. Selain itu, keluarga dan masyarakat dapat berperan aktif dengan memberikan dukungan emosional, tidak mengucilkan, serta melibatkan mereka dalam aktivitas sosial sehari-hari. Langkah-langkah ini mencerminkan bahwa penghormatan terhadap martabat ODGJ bukan hanya wacana moral, tetapi praksis sosial yang membangun solidaritas dan kemanusiaan sejati. MEMBACA ODGJ DALAM PERSPEKTIF METAFISIKA LEVINAS Emmanuel Levinas, seorang filsuf Prancis berdarah Yahudi, menempatkan etika sebagai inti dari seluruh refleksi filsafatnya. Ia menekankan pentingnya tanggung jawab tanpa syarat terhadap Yang Lain . he Othe. , yaitu setiap manusia yang hadir di hadapan kita dengan wajah dan keberadaannya yang unik. Dalam konteks ini. ODGJ dapat dibaca sebagai Yang Lain yang menampakkan dirinya melalui keterbatasan, kerentanan, dan penderitaan. Bagi Levinas, wajah Yang Lain menuntut respons etis yang mendahului segala bentuk pengetahuan, kehendak, atau kepentingan diri. Dengan demikian. ODGJ bukan sekadar objek belas kasihan atau perawatan medis, melainkan subjek etis yang martabatnya harus diakui dan dihormati. Empati radikal terhadap ODGJ berarti membuka diri terhadap keberadaan mereka apa adanyaAi menerima perbedaan, memberi perhatian tanpa pamrih, serta mendukung mereka secara emosional dan sosial sebagai sesama manusia yang memiliki nilai intrinsik. 73 | L e d a l o g o s Ledalogos: Jurnal Filsafat Vol. No. Mei 2026 Setiap manusia pada dasarnya memiliki keunikan dalam dirinya . n s. Keunikan tersebut merupakan hal yang wajar dan tidak dapat disangkal karena menjadi bagian dari kodrat manusia itu sendiri. Keberbedaan antarmanusia bersifat alami, baik secara biologis maupun eksistensial. Dalam situasi dan konteks apa pun, justru perbedaan inilah yang memperkaya kehidupan sosial serta menentukan arah perkembangan komunitas manusia. Levinas . 9: 39Ae. menyebut keberbedaan ini sebagai the Other atau Yang Lain. Istilah tersebut mengacu pada entitas atau pribadi lain yang tidak dapat direduksi menjadi bagian dari diri sendiri, termasuk mereka yang dianggap berbeda, seperti ODGJ. Levinas menegaskan bahwa the Other qua Other berarti Yang Lain harus dipahami sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai perpanjangan atau cerminan dari Aku. Yang Lain selalu memiliki identitas dan keberadaan yang tidak bisa dilebur ke dalam sifat ke-aku-an. Relasi antara Aku dan Yang Lain lahir dari kesadaran etis untuk menghargai wajah yang lain. Melalui wajah, manusia mengenali keunikan dunia dan menemukan panggilan untuk bertanggung jawab, menghormati martabat, serta mengakui keistimewaan sesama. Panggilan etis ini hendaknya disadari sebagai proyek kemanusiaan universal yang menuntut keterbukaan, kepedulian, dan komitmen tanpa henti terhadap keberadaan Yang Lain (Nahak, 2019: . Dalam konteks ODGJ, wajah mereka adalah wajah yang lain yang harus dihormati martabat dan kepribadiannya. Penghargaan terhadap ODGJ tidak semata-mata didasarkan pada kewajiban untuk menghormati hak-hak asasi manusia yang melekat dalam diri mereka, tetapi juga merupakan imperatif moral dan kesadaran etis-sosial bahwa mereka adalah makhluk sosial yang berdaulat dan otonom. Namun, pada saat yang sama, mereka juga bersifat heteronom, yakni membutuhkan kehadiran orang lain untuk mendukung kualitas hidup dan kesejahteraan mereka. Levinas . alam Baghi, 2012: . secara sadar dan reflektif menegaskan keberpihakannya terhadap Yang Lain sebagai entitas yang tidak dapat direduksi ke dalam sifat ke-aku-an. Dalam refleksinya, ia menegaskan bahwa AuAku bertanggung jawab terhadap Yang Lain bahkan sebelum aku sadarAy (Levinas, 1974: . Pernyataan ini menandaskan bahwa tanggung jawab terhadap sesama bukanlah hasil keputusan rasional, melainkan kesadaran etis yang mendahului segala bentuk kesadaran reflektif manusia. Bagi Levinas, wajah orang lain merupakan sumber etika sebab di dalamnya tersimpan panggilan untuk bertanggung jawab, mencintai, dan menegakkan keadilan (Baghi, 2012: . Dengan demikian, etika tanggung jawab terhadap ODGJ harus menjadi kekuatan yang mendorong manusia untuk menyalurkan cinta dan perhatian tanpa syarat sebagai wujud nyata kepedulian sosial. Pengakuan terhadap keberadaan mereka harus diwujudkan dengan tidak mengobjektifikasi atau mereduksi pribadi mereka, melainkan dengan menjaga dan memelihara martabat mereka sebagai manusia yang autentik. Wajah yang rapuh justru menyingkapkan tanggung jawab etis tanpa batas. Wajah ODGJ tetap memanggil manusia untuk hadir dan peduli, meskipun sering diabaikan atau ditutupi oleh stigma sosial. Dalam keterbatasan mereka, tersimpan panggilan etis bagi setiap orang untuk tidak menutup mata terhadap keberadaan mereka (Levinas, 1974: . Wajah bukan sekadar penampakan fisik, melainkan manifestasi kehadiran yang mengandung makna spiritual dan mengajak manusia 74 | L e d a l o g o s Oktavianus Gili Leo. Protasius Karsa. Yohanes Apriano Bawo & Petrus Katon Tenda untuk menghormati serta bertanggung jawab terhadap sesama secara tulus (Baghi, 2012: 34Ae. IMPLIKASI ETIS DAN METAFISIS Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) menuntut untuk diperhatikan. Mereka bukanlah makhluk asing, melainkan bagian dari kehidupan manusia. Keterbatasan dalam aspek kehidupan yang mereka miliki menjadikan mereka sedikit berbeda. Perbedaan itu tidak mereduksi eksistensi mereka sebagai manusia, melainkan hanya menunjukkan keterbatasan dalam hal fisik, mental, dan sosial. Meskipun demikian, di kalangan masyarakat mereka sering dianggap sebagai beban. Pemahaman yang sempit mengenai ODGJ melahirkan stigma negatif terhadap Stigma tersebut menyebabkan ODGJ terasing dan dijauhi dari pergaulan Berbagai upaya dilakukan untuk menyingkirkan mereka, seperti tindakan kekerasan fisik baik dari lingkungan sekitar maupun dari keluarga sendiri. Mereka dipasung dan disekap agar tidak dianggap membahayakan orang lain (Subu. Holmes, & Elliot, 2016: . Dunia kesehatan pun menempatkan mereka sebagai objek ODGJ tidak lagi dilihat sebagai Audiriku yang lainAy yang menuntut untuk dirawat, melainkan sebagai Auyang lainAy yang sepenuhnya berbeda. Keberadaan ODGJ dianggap sebagai eksistensi yang asing dan bukan bagian dari dunia seorang individu. Pergeseran makna manusia sebagai sesama menempatkan ODGJ sebagai kaum Baghi . 2: . menjelaskan bahwa penyangkalan atas eksistensi Yang Lain, termasuk ODGJ, menjadikan manusia sebagai subjek yang egoistis. Segala sesuatu di luar diriku (Yang Lai. dianggap sebagai persoalan. Yang Lain sering dijadikan objek pemikiran sang subjek. Levinas mengkritik cara pandang ini. Ia berpendapat bahwa Yang Lain . ang berada di luar sang ak. bukanlah objek, dan bukan pula ancaman. Dirinya termanifestasi dalam diriku, dan kebernilaiannya adalah kebernilaianku. Yang Lain harus dinilai dari dirinya sendiri karena ia juga merupakan subjek. Menilai Yang Lain berarti menempatkan diri dalam posisinya dan berangkat dari dirinya. Sang aku tidak dapat menilai Yang Lain berdasarkan dirinya sendiri. Demikian pula dengan ODGJ: mereka harus dipahami dari sudut pandang mereka sebagai subjek yang memiliki keterbatasan fisik, mental, dan sosial. Keberadaannya tidak boleh direduksi menjadi objek perawatan, melainkan harus dipahami sebagai panggilan tanggung jawab dari sesamanya. Filsafat wajah yang dikemukakan Levinas secara jelas menampilkan epifani wajah sesama sebagai subjek yang memanggil tanggung jawab. Ia hadir bersama sang aku dan menjadi bagian dari kehidupannya. Oleh karena itu, respons atas kehadiran sesama harus diwujudkan dalam sikap tanggung jawab. Respons itu sendiri, menurut Baghi . 2: . , merupakan bentuk jawaban atas panggilan Yang Lain. Jawaban dan kesiapsediaan menjadi implikasi etis sebagai seorang pelayan yang dengan kerendahan hati mau melayani. ODGJ pun memanggil sesamanya untuk bertanggung jawab atas keberadaannya. Panggilan itu tampak dalam wajah yang menderita dan jiwa yang terluka. Mereka ingin dilepaskan dari belenggu yang mengikat kebebasan hidupnya sebagai subjek yang berada di dunia dan memiliki kebebasan yang sama dengan yang lain. Ia eksis dalam dirinya sendiri dan menjadi dirinya. Ia tidak menjadi 75 | L e d a l o g o s Ledalogos: Jurnal Filsafat Vol. No. Mei 2026 aku, dan aku tidak menjadi dia. Perspektif ini hendaknya menggeser paradigma universal yang menempatkan ODGJ sebagai objek perawatan menuju pemahaman bahwa mereka adalah subjek yang menuntut tanggung jawab dari sesamanya. Tanggung jawab menjadi identitas khas manusia yang melekat dalam kodratnya sebagai subjek. Tanggung jawab dapat menjadi sebuah keunikan dan kebernilaian apabila dialami dan diterima secara utuh oleh setiap orang (Rohid & Riyanto, 2024: Pergeseran paradigma mengenai subjektivitas ODGJ perlu mendapat perhatian dari semua manusia. Mereka bukan lagi objek yang membutuhkan penanganan, melainkan subjek yang memanggil tanggung jawab. Agar penghormatan terhadap harkat dan martabat mereka terpenuhi, maka etika publik perlu dibangun. Etika seharusnya menempati posisi utama dalam filsafat agar manusia mampu memahami makna kehadirannya bersama Yang Lain. Prinsip cogito ergo sum yang diperkenalkan Descartes harus segera diruntuhkan, sebab pemikiran seperti ini telah menjebak sang aku menjadi manusia yang egoistis. Ia berpikir bahwa di luar dirinya tidak ada apaapa. Dari sinilah muncul kekerasan terhadap Yang Lain. Model pemikiran seperti ini sudah semestinya ditinggalkan dan diganti dengan etika kemanusiaan yang bertanggung jawab. Etika kemanusiaan itu dibentuk melalui sikap terbuka terhadap keberadaan Yang Lain. Menurut Baghi . 2: . , terdapat dua alasan mengapa sang aku harus membuka diri. Pertama, karena ia merasa tidak aman dengan dirinya sendiri. Jika aku terlalu asyik dengan duniaku sendiri, maka aku akan menjadi tertutup dan tidak mampu menerima realitas lain di luar diriku. Kedua, sikap membuka diri menimbulkan rasa tanggung jawab terhadap Yang Lain dan terhadap segala sesuatu. Jika aku tidak terbuka, aku akan menutup mata terhadap penderitaan orang lain. Hal ini menjadikan diriku Auneraka bagi yang lain. Ay Kehadiranku tidak berarti apa-apa. ada secara fisik, tetapi sesungguhnya tidak ada secara sosial. Sikap membuka diri memampukanku untuk melihat penderitaan sesama dan memperjuangkan keadilan bagi mereka yang mengalami ketidakadilan. Perspektif metafisis yang menekankan relasi etis dengan Yang Lain harus diperluas dalam tindakan tanggung jawab terhadap keberadaan Yang Lain. Implikasinya jelas: Yang Lain tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang asing, tetapi sebagai bagian dari diriku. Etika tanggung jawab menjadi bentuk nyata dari pengakuan etis. Dalam pengakuan itu, aku disadarkan untuk mengenali kembali mereka yang selama ini terabaikan dalam hidupku. Aku memberi ruang baru dalam diriku bagi kehadiran mereka dan menjadikan mereka bagian dari hidupku. Aku perlu menumbuhkan kepekaan terhadap kemanusiaan sesamaku. Dengan demikian, aku menjadikan Yang Lain berharga sama seperti diriku. Perspektif publik pun harus dibentuk untuk membuka diri terhadap kehadiran ODGJ. Hak-hak mereka wajib dijaga dan dilindungi. PENUTUP Dalam perspektif ontologis, keberadaan ODGJ kerap dipahami secara dangkal, tanpa melihat hakikat kemanusiaannya secara lebih mendalam. Hal ini menempatkan ODGJ semata-mata sebagai objek perawatan. Hadirnya filsafat wajah Levinas 76 | L e d a l o g o s Oktavianus Gili Leo. Protasius Karsa. Yohanes Apriano Bawo & Petrus Katon Tenda mengungkapkan keberadaan ODGJ sebagai wajah yang menuntut tanggung jawab. Mereka memanggil manusia melalui wajah yang mendambakan kasih dan pengakuan. Metafisika Levinas membuka jalan baru untuk memahami ODGJ bukan sebagai yang kurang, tetapi sebagai Yang Lain yang menyingkap makna sejati tanggung jawab Tanggung jawab menjadi bentuk konkret dari respons terhadap kehadiran Hal ini menegaskan bahwa hidup tidak hanya berpusat pada diriku sendiri, karena sang aku selalu hidup bersama Yang Lain. Keberadaan bersama ini menuntut aku untuk rela berbagi dan bertanggung jawab terhadap sesamaku. Kesadaran dan tanggung jawab etis demikian berawal dari pengenalan terhadap diri sendiri. Pengenalan terhadap diri memungkinkan manusia keluar dari diri dan mengenali sesama sebagai Yang Lain yang bermartabat. Dalam konteks kehidupan bersama ODGJ, masyarakat perlu memahami dirinya agar dapat memahami ODGJ sebagai entitas lain yang memanggil kita untuk berada bersama mereka sebagai sesama subjek. Dalam hal ini, metafisika membuka perspektif baru tentang relasi etis sebagai relasi subjek dengan subjek, bukan subjek dengan objek. Relasi demikian menegaskan bahwa setiap manusia memiliki hak atas dirinya sendiri dan tidak berhak menguasai orang lain. Relasi etis ini menandakan bahwa setiap manusia harus memahami makna keberadaannya dan memiliki tanggung jawab moral dalam Dengan demikian, perspektif komunal terhadap ODGJ tidak lagi menempatkan mereka sebagai beban, tetapi sebagai rekan kemanusiaan. Filsafat wajah yang dikemukakan Levinas merupakan salah satu perspektif yang dapat digunakan untuk menanggapi kehadiran ODGJ dan kekerasan yang sering mereka alami. Dari sudut pandang iman Katolik, kehadiran ODGJ dapat dikaitkan dengan pertanyaan orang Farisi . Luk. : AuSiapakah sesamaku manusia?Ay Pertanyaan ini dapat membuka kajian baru mengenai sikap memanusiakan manusia. Kehadiran ODGJ juga dapat ditelusuri dalam kerangka stratifikasi sosial dalam ilmu sosiologi. Pada intinya, penelitian ini menegaskan bahwa keberadaan ODGJ bukan sekadar objek perawatan yang ditentukan oleh kebutuhan subjek lain, melainkan panggilan tanggung jawab dari sesamanya, yang menyadarkan bahwa eksistensiku hanya dapat dipahami bersama eksistensi mereka sebagai sesama subjek. DAFTAR PUSTAKA