Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Volume 12. Nomor 1, 2025 pp. P-ISSN: 2355-6633 E-ISSN : 2548-5490 Open Access: https://ejournalugj. com/index. php/Deiksis Analysis Of Reading Interest Through Picture Storybooks In Grade i Students At SDN Pangrango 1Isnaeni Nur Azizah, 2Anggita Maharani 1,2Program Studi Pendidikan Profesi Guru Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Pendidikan dan Sains. Universitas Swadaya Gunung Jati Corresponding authorAos email: anggitamahari@ugj. ARTIKEL INFO A B S T R A CT Article history: Received 20 September 2024 Accepted 1 November 2024 Published 28 January 2025 Reading ability is a fundamental skill that plays a crucial role in supporting the teaching and learning process. However, reading interest among elementary school studentsAiparticularly at SDN PangrangoAiremains This study aims to analyze the reading interest of Grade i students at SDN Pangrango by utilizing picture storybooks as a medium. The study employed a descriptive methodology with a qualitative approach. The research participants consisted of 20 third-grade students. Data were collected through direct observation and interviews, using instruments such as questionnaires, interviews, and activity documentation. The analysis process included data reduction, information presentation, and drawing The research findings indicate that the reading interest of Grade i students is relatively good. This is evident from several indicators: students' enjoyment when reading picture storybooks, their interest in the story content and illustrations, enthusiasm in using picture storybooks during lessons, as well as their ability to comprehend and recall story content. Nevertheless, the habit of reading during free time still requires Keywords: Picture Storybooks. Reading Ability. Reading Interest DOI: 10. 33603/deiksis. PENDAHULUAN Membaca merupakan kompetensi dasar yang memiliki peran krusial dalam menunjang aktivitas belajar. Aktivitas membaca tidak sekedar menyediakan aksesterhadap informasi dan wawasan baru, namun juga memperkuat kapasitas analitis dan mengasah kreativitas seseorang. Ungkapan Aumembaca merupakan jendela duniaAy sering dikemukakan untuk menekankan pentingnya kegiatan membaca dalam memperluas wawasan dan membuka cakrawala pemikiran (Maryam & Dewi, 2021. Satriah, 2. Oleh karena itu, penanaman ketertarikan membaca sejak dini, khususnya pada jenjang pendidikan dasar, menjadi langkah strategis dalam membangun landasan literasi yang kokoh. Kondisi faktual menunjukkan bahwa ketertarikan membaca peserta didik sekolah dasar masih berada pada level yang memprihatinkan. Sebuah laporan yang diterbitkan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD, 2. melalui kajian PISA menyebutkan bahwa kemampuan membaca peserta didik Indonesia tergolong rendah p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Isnaeni Nur Azizah1. Anggita Maharani2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. dibandingkan dengan rata-rata negara lainnya. Rendahnya minat membaca ini berdampak negatif terhadap pemahaman materi dan pencapaian akademik peserta didik (Isworo & Rahma, 2. Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain keterbatasan materi bacaan menarik, strategi pengajaran yang kurang variatif, serta kurangnya dorongan dari lingkungan keluarga dan lembaga pendidikan terhadap budaya membaca. Dalam konteks pembelajaran di Indonesia, rendahnya minat membaca peserta didik menjadi tantangan serius bagi pendidik. Data dari Kemendikbudristek RI . menyebutkan bahwa kemampuan literasi membaca peserta didik Indonesia masih belum mencapai standar Situasi ini menunjukkan pentingnya pembaruan dalam strategi pembelajaran guna menumbuhkan minat siswa terhadap kegiatan membaca. Tantangan ini semakin kompleks dengan adanya distraksi dari penggunaan perangkat elektronik dan media digital yang lebih menarik bagi anak-anak. Penggunaan gawai oleh anak-anak tingkat sekolah dasar di Indonesia diperkirakan mencapai 4 hingga 5 jam dalam sehari, sementara waktu untuk membaca buku hanya berkisar 30 menit (Prasetyawan & Hidayat, 2. Dalam hal ini, pendidik berperan sebagai kunci untuk menciptakan suasana belajar yang mampu membangkitkan semangat membaca peserta didik. Kreativitas guru sangat dibutuhkan untuk menciptakan metode pembelajaran yang sesuai dengan ketertarikan dan karakter individu. Salah satu media yang dianggap efektif dalam meningkatan ketertarikan membaca anak-anak adalah buku cerita bergambar. Media ini menggabungkan unsur visual dan teks naratif yang sederhana, sehingga memudahkan peserta didik dalam memahami isi bacaan dan meningkatkan ketertarikan mereka terhadap kegiatan membaca (Isworo & Rahma, 2. Menurut Al Rosyid & Anwar . , penggunaan media bergambar mampu meningkatkan motivasi belajar dan hasil pemahaman membaca pada peserta didik tingkat Buku cerita bergambar menjadi pilihan yang menjanjikan dalam menumbuhkan minat membaca pada anak-anak (Al Rosyid & Anwar, 2. Pemilihan buku cerita bergambar sebagai alat pembelajaran didasarkan pada perkembangan kognitif anak-anak di usia sekolah dasar. Menurut teori perkembangan kognitif Piaget, anak-anak yang berusia antara 7-11 tahun berada pada tahap operasional konkret, dimana mereka lebih mudah memahami ide melalui benda atau kejadian yang nyata (Marinda, 2. Buku cerita bergambar dengan ilustrasi yang menarik dapat membantu anak memvisualisasikan konsep abstrak menjadi lebih konkret, sehingga memudahkan proses p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Isnaeni Nur Azizah1. Anggita Maharani2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Meskipun banyak studi telah menunjukkan bahwa buku cerita bergambar bermanfaat dalam menumbuhkan minat baca, masih sedikit penelitian secara khusus mengevaluasi efektivitas media ini di sekolah dasar negeri yang berlokasi di area perkotaan seperti SDN Pangrango di Kota Cirebon. Aspek inilah yang memberikan nilai kebaruan pada penelitian ini, yaitu menilai implementasi buku cerita bergambar sebagai instrument pembelajaran untuk meningkatkan antusiasme membaca pada murid kelas i di institusi tersebut. Berdasarkan observasi awal yang dilaksanakan di kelas i SDN Pangrango diketahui bahwa hanya sekitar 20% siswa yang secara aktif membaca buku di luar kegiatan pembelajaran inti. Sebagian besar siswa cenderung memilih aktivitas lain seperti bermain perangkat elektronik atau menonton video saat waktu luang. Hal ini menujukkan perlunya pendekatan pembelajaran yang lebih menarik dan sesuai dengan minat visual anak-anak. Buku cerita bergambar dapat menjadi alternatif untuk menganggulangi rendahnya minat membaca tersebut. Dengan demikian, penelitian ini dilaksanakan untuk mengevaluasi ketertarikan membaca pada siswa kelas i di SDN Pangrango. Diharapkan hasil penelitian dapat berkontribusi nyata dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih inovatif dan menyenangkan, serta mampu memperkuat budaya literasi di lingkungan pendidikan METODE Penelitian ini mengimplementasikan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif untuk tidak hanya mendeskripsikan, tetapi juga menganalisis pola-pola keterlibatan peserta didik dalam kegiatan membaca, khususnya dalam konteks penggunaan buku cerita Pendekatan ini dipandang paling tepat untuk mengkaji secara mendalam perubahan minat membaca peserta didik yang berlangsung secara natural di dalam kelas, serta faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Sebanyak 20 peserta didik mempertimbangkan kesesuaian karakteristik mereka terhadap tujuan penelitian. Penelitian ini berkokus pada ketertarikan membaca peserta didik yang didefinisikan sebagai tingkat keterlibatan dan ketertarikan peserta didik terhadap kegiatan membaca, yang diukur berdasarkan frekuensi membaca, antusiasme selama kegiatan membaca, dan respons terhadap buku cerita bergambar yang digunakan (Noviana & Sari, 2. Terdapat tiga teknik utama yang digunakan dalam proses pengumpulan data. Pertama, observasi langsung di kelas digunakan untuk memantau keterlibatan peserta didik dalam kegiatan membaca. Kedua, wawancara dilakukan guna menggali pandangan siswa p-ISSN : 2579-7158, e-ISSN : 2549-6050 Isnaeni Nur Azizah1. Anggita Maharani2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. dan guru terkait efektivitas pemanfaatan buku cerita bergambar dalam proses pembelajaran. Ketiga, dokumentasi berupa foto kegiatan yang digunakan sebagai pelengkap data (Sugiyono. Untuk memastikan validitas data, peneliti menrapkan metode triangulasi dengan cara mnegomparasikan informasi yang dihimpun melalui kegiatan observasi, wawancara, dan Instrumen observasi dirancang dengan fokus pada lima indikator utama minat membaca, yaitu . perasaan senang saat membaca buku cerita bergambar, . ketertarikan terhadap isi cerita dan ilustrasi, . antusiasme dalam menggunakan buku cerita bergambar saat pembelajaran, . kebiasaan membaca di waktu senggang, dan . kemampuan mamahami dan mengingat isi cerita. Peneliti menggunakan lembar observasi terstruktur yang memuat deskriptor untuk setiap indikator minat membaca, sehingga memudahkan proses pengamatan secara sistematis (Nugroho & Lestari, 2021. Widiastuti & Prasetyo, 2. Selain itu, peneliti juga menyusun pedoman wawancara semi-terstruktur yang berisi pertanyaan-pertanyaan terbuka untuk menggali informasi lebih dalam tentang pengalaman peserta didik dalam membaca buku cerita bergambar. Pertanyaan wawancara dirancang untuk mengeksplorasi aspek-aspek seperti preferensi jenis buku cerita bergambar, pengalaman emosional saat membaca, serta motivasi intrinsik dan ekstrinsik yang mendorong peserta didik untuk membaca. Wawancara dengan guru juga dilakukan untuk memperoleh perspektif dari sisi pendidik tentang perubahan minat baca peserta didik setelah diperkenalkan dengan buku cerita bergambar (Oktaviani & Putri, 2021. Simamora, 2. Analisis data dilaksanakan menggunakan model analisis interaktif Miles & Huberman . alam Puspitasari & Lestari, 2. yang mencakup tiga tahapan yaitu penyederhanaan data, penyusunan data, dan penarikan kesimpulan. Pada tahap penyederhanaan data, peneliti mengidentifikasi dan memilah informasi yang sesuai dengan arah penelitian. Penyusunan data dilaksanakan dengan mengelompokkan temuan berdasarkan kategori atau tema yang muncul dari data yang terkumpul. Pada tahap penarikan kesimpulan, peneliti menarik temuan utama yang menunjukkan dampak penggunaan buku cerita bergambar terhadap minat baca siswa (Pratama & Sari, 2022. Wulandari, 2. Melalui pendekatan ini, penelitian bertujuan memberikan pemahaman yang menyeluruh mengenai penggunaan media buku cerita bergambar sebagai sarana untuk meningkatkan minat baca pada suswa di tingkat sekolah dasar. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Isnaeni Nur Azizah1. Anggita Maharani2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Hasil Observasi Peneliti telah melakukan pengamatan, salah satunya melalui angket minat membaca yang disediakan untuk peserta didik kelas i yang berjumlah 20 anak. Angket merupakan metode pengumpulan data yang melibatkan responden untuk memberikan tangapan terhadap sejumlah pernyataan (Pramukti & Wulandari, 2020. Putri, 2. Angket ini digunakan sebagai instrumen observasi terstruktur untuk mengidentifikasi pola keterlibatan dan ketertarikan peserta didik terhadap buku cerita bergambar. Observasi dilakukan pada tanggal 3-5 Maret 2025 di SDN Pangrango sebagai lokasi penelitian. Peneliti membagikan angket yang terdiri dari 10 pernyataan yang disusun berdasarkan indikator minat membaca. Melalui hasil angket yang diisi oleh peserta didik sesuai dengan kriteria minat membaca, dapat ditarik kesimpulan bahwa: Rasa senang yang muncuk ketika membaca buku bergambar. pada indikator ini, terdapat beberapa pernyataan yang menggambarkan semangat dan kenyamanan peserta didik dalam mengapresiasi buku cerita bergambar. Salah satu pernyataan yang mewakili indikator ini adalah AuSaya senang membaca buku cerita bergambarAy. Dari 20 peserta didik, sebanyak 12 diantaranya menyatakan sangat setuju, semantara 7 lainnya setuju, dan hanya 1 orang yang tidak setuju. Sebagian besar siswa merasa senang membaca buku cerita bergambar, dengan 95% responden memilih Ausangat setujuAy dan AusetujuAy. Tingginya antusiasme ini menunjukkan bahwa buku cerita bergambar efektif dalam meningkatkan minat baca karena menyajikan isi yang ringan serta visual yang menarik. Temuan ini sejalan dengan pendapat Suyatno . yang menyebutkan bahwa rasa senang merupakan faktor kunci dalam membantuk kebiasaan membaca pada anak tingkat dasar. Ketertarikan terhadap isi cerita dan ilustrasi. indikator ini tercermin pada pernyataan AuGambar dalam buku cerita membantu saya memahami isi ceritaAy. Berdasarkan angket yang diisi, 13 peserta didik menunjukkan sangat setuju, 6 peserta didik setuju, dan 1 peserta didik menyatakan ketidaksetujuannya. Angka ini memperlihatkan bahwa ilustrasi dalam buku memiliki peran penting dalam membantu peserta didik memahami isi Sebanyak 95% siswa menyatakan bahwa gambar dalam buku sangat membantu mereka memahami cerita yang disajikan. Hal ini sesuai dengan teori Mayer . tentang multimedia learning, dimana teks yang disertai gambar lebih mudah dipahami oleh pembaca, khususnya anak-anak pada tingkat sekolah dasar. p-ISSN : 2579-7158, e-ISSN : 2549-6050 Isnaeni Nur Azizah1. Anggita Maharani2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Antusiasme yang tinggi terhadap pemanfaatan buku cerita bergambar dalam proses pernyataan AuSaya merasa bersemangat saat guru menggunakan buku cerita bergambarAy menggambarkan seberapa besar pengaruh media ini terhadap semangat belajar peserta didik. Hasilnya, 10 siswa menunjukkan sangat setuju, 8 siswa setuju, dan 2 siswa menyatakan ketidaksetujuannya. Sebagian besar peserta didik menunjukkan semangat ketika guru menggunakan media ini dalam proses belajar. Respon ini menandakan bahwa metode pembelajaran yang melibatkan buku cerita bergambar mampu membangkitkan antusiasme peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nurfadilah . , pemanfaatan media visual dalam proses pembelajaran dapat berperan signifikan dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Kebiasaan membaca di waktu sengang. untuk indikator kebiasaan membaca secara mandiri, ditinjau dari pernyataan AuSaya sering membaca buku bergambar di waktu luangAy, responnya lebih bervariasi yaitu 6 siswa menunjukkan sangat setuju, 7 siswa setuju, 6 siswa tidak setuju dan 1 siswa menunjukkan sangat tidak setuju. Walaupun siswa menyukai buku cerita bergambar hanya 65% yang mengaku sering membaca di waktu Ini menunjukkan bahwa meskipun peserta didik menyukai buku bergambar, masih ada sebagian dari mereka yang belum menjadikan membaca sebagai kebiasaan di waktu Hal ini bisa dipengaruhi oleh lingkungan rumah, akses terhadap buku, atau daya tarik hiburan digital yang lebih tinggi. Temuan ini diperkuat oleh pendapat Rahmi . yang menyatakan bahwa lingkungan keluarga memiliki pengaruh besar terhadap terbentuknya budaya membaca. Kemampuan memahami dan mengingat isi cerita. pernyataan AuSaya mudah mengingat cerita dalam buku bergambarAy mendapatkan 9 siswa sangat setuju, 7 siswa setuju, 3 siswa tidak setuju, dan 1 siswa sangat tidak setuju. Sebagian besar peserta didik merasa mudah mengingat isi bacaan, bahkan dapat menceritakan kembali isi cerita dengan baik. Hal ini menujukkan bahwa mayoritas peserta didik merasa terbantu dalam mengingat isi bacaan ketika disajikan dalam bentuk bergambar. Ini memperkuat efektivitas buku cerita bergambar sebagai alat bantu untuk meningkatkan daya serap informasi pada peserta didik (Dewi & Sari, 2. Dalam pengamatan langsung di kelas, peneliti melihat bahwa peserta didik lebih cenderung berbagi pengalaman membaca dengan teman sebaya mereka ketika menggunakan p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Isnaeni Nur Azizah1. Anggita Maharani2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. buku cerita bergambar. Beberapa peserta didik bukan menunjukkan inisiatif untuk membaca buku cerita bergambar di luar pelajaran, seperti pada waktu istirahat. Fenomena ini menggambarkan bahwa buku cerita bergambar tidak hanya memengaruhi aktivitas membaca di dalam kelas, tetapi juga memiliki potensi untuk mengubah kebiasaan membaca peserta didik di luar konteks pembelajaran formal (Faizah & Lestari, 2. Selain itu, peneliti juga mengamati bahwa peserta didik sering kali mengaitkan isi cerita dengan pengalaman pribadi mereka. Ini menunjukkan tingkat pemahaman dan keterlibatan yang lebih mendalam dengan bahan bacaan. Seperti yang diungkapkan oleh Abidin . , keterlibatan emosional dengan bahan bacaan merupakan salah satu indikator minat baca yang kuat pada anak. Pengaitan antara konten bacaan dengan pengalaman pribadi ini menunjukkan bahwa buku cerita bergambar dapat enjadi jembatan antara dunia literasi dengan realitas kehidupan anak-anak. Deskripsi Hasil Wawancara Berdasarkan wawancara terhadap 20 peserta didik menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka sangat menyukai membaca buku cerita bergambar. Sebanyak 85% peserta didik menyatakan bahwa ilustrasi dalam buku membuat cerita lebih menarik dan memudahkan mereka memahami isi cerita. Mereka merasa gambar memberikan gambaran visual yang memperkaya imajinasi mereka saat membaca. Terkait dengan frekuensi membaca, sekitar 60% peserta didik melaporkan bahwa mereka membaca buku cerita bergambar lebih dari tiga kali dalam seminggu, baik di sekolah maupun di rumah. Sementara itu, sisanya membaca setidaknya satu hingga dua kali seminggu, tergantung ketersediaan waktu dan buku yang ada. Bagian yang paling disukai oleh hampir seluruh peserta didik adalah ilustrasi karakter dan latar cerita. Mereka menyebutkan bahwa ilustrasi tersebut membantu mereka lebih memahami emosi tokoh dan situasi yang terjadi dalam cerita. Warna-warna cerah dan detail gambar juga menjadi faktor penting yang membuat buku semakin menarik. Sekitar 70% peserta didik mengungkapkan bahwa mereka sering menceritakan kembali isi buku yang telah mereka baca kepada teman sebaya atau anggota keluarga. Aktivitas ini mereka lakukan karena merasa senang berbagi kisah menarik serta mempererat hubungan sosial. Dari hasil wawancara mendalam dengan beberapa peserta didik, diperoleh informasi yang lebih spesifik tentang preferensi mereka terhadap jenis buku cerita bergambar. Peserta didik A, misalnya, menyatakan: AuSaya suka buku cerita bergambar yang ada hewanhewannya karena gambarnya lucu dan ceritanya seru. Ay Sementara itu, peserta didik B p-ISSN : 2579-7158, e-ISSN : 2549-6050 Isnaeni Nur Azizah1. Anggita Maharani2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. mengatakan: AuSaya lebih buka buku cerita bergambar yang ada petualangannya, apalagi kalua gambarnya berwarna-warni dan banyak. Ay Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan bahwa peserta didik memiliki preferensi yang berbeda-beda terhadap jenis dan tema buku cerita bergambar, yang dipengaruhi oleh minat individual mereka. Beberapa peserta didik juga memberikan komentar tentang pengalaman mereka membaca buku cerita bergambar di lingkungan rumah. Peserta didik C mengatakan: AuDi rumah, saya suka membaca buku cerita bergambar bersama saudara saya. Kami bergantian membaca halaman-halamannya. Ay Sementara itu, peserta didik D menyatakan: AuSaya sering membaca buku cerita bergambar sebelum tidur. Itu membuat saya senang dan mimpi indah. Ay Pernayataan ini mengungkapkan bahwa buku cerita bergambar dapat berperan sebagai alat untuk mempererat hubungan persaudaraan dan menumbuhkan kebiasaan membaca yang baik di lingkungan rumah. Ketika membandingkan buku cerita yang dilengkapi gambar dengan buku yang hanya mengandung teks, mayoritas peserta didik merasa lebih nyaman dan senang membaca buku Mereka berpendapat bahwa buku dengan ilustrasi membuat mereka lebih mudah fokus dan tidak cepat merasa bosan. Hampir seluruh peserta didik yang diwawancarai menganggap membaca buku cerita bergambar adalah aktivitas yang menyenangkan. Alasan utamanya adalah arena membaca menjadi lebih seru dan tidak terasa seperti tugas. Mereka juga merasa buku bergambar mengajak mereka masuk ke dunia cerita dengan cara yang lebih Selain itu, setelah menyelesaikan satu buku cerita bergambar, lebih dari 80% peserta didik menyatakan keinginan untuk segera membaca buku cerita bergambar lainnya. Rasa penasaran terhadap cerita baru dan ketertarikan terhadap ilustrasi menjadi alasan utama dibalik antusiasme tersebut. Peserta didik E menyatakan: AuSaya lebih suka buku cerita bergambar daripada buku yang hanya ada tulisannya karena kadang-kadang ada kata-kata yang sulit saya mengerti, tapi kalau ada gambarnya, saya bisa menebak artinya. Ay Pernyataan ini menujukkan bahwa ilustrasi dalam buku cerita bergambar membantu peserta didik mengatasi hambatan dalam memahami kata-kata yang belum familiar bagi mereka. Temuan ini sejalan dengan penelitian Maharsi & Pratiwi . yang mengungkapkan bahwa penggunaan elemen visual dalam buku cerita bergambar dapat mendukung anak-anak dalam memperdalam pemahaman mereka terhadap teks yang dibaca (Fatmawati & Afryaningsih, 2. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Isnaeni Nur Azizah1. Anggita Maharani2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Secara umum, wawancara ini mengungkapkan bahwa buku bergambar berperan penting dalam meningkatkan minat baca siswa. Melalui kombinasi teks dan ilustrasi yang menarik, literatur jenis ini mampu menciptakan pengalaman membaca yang lebih menyenangkan dan memotivasi peserta didik untuk membaca lebih sering (Hamidah, 2. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Wati selaku wali kelas 3 SDN Pangrango, beliau mengungkapkan bahwa penerapan buku cerita bergambar sudah dilakukan dalam proses pembelajaran, khususnya pada pelajaran Bahasa Indonesia. Peserta didik kelas i terlihat antusias dan gembira ketika materi diajarkan dengan menggunakan buku cerita Menurut pandangan Ibu Wati, mayoritas peserta didik di kelasnya lebih menyukai aktivitas membaca dibandingkan aktivitas berhitung. Literatur cerita yang digemari peserta didik adalah buku cerita fiksi, terutama jika disertai dengan unsur visual. Hal ini disebabkan oleh gambar berwarna yang dapat menarik perhatian siswa dan menciptakan rasa nyaman bagi mereka. Ilustrasi membantu siswa dalam memahami makna dan konteks kata-kata yang belum dikenal. Selain itu, buku cerita bergambar dapat membantu siswa yang merasa terbebani dengan teks panjang, memberikan motivasi agar mereka lebih tertarik untuk membaca. Ibu Wati menyatakan bahwa Auketertarikan membaca peserta didik kelas i sudah baik, mereka sangat menyukai buku cerita yang dilengkapi gambarAy. Penulis menggunakan lima indikator minat membaca, yaitu rasa senang ketika membaca buku bergambar, ketertarikan pada konten cerita dan ilustrasi, antusiasme terhadap penggunaan buku cerita bergambar dalam aktivitas belajar, rutinitas membaca di waktu luang, dan kemampuan memahami serta mengingat isi cerita. Pada indikator pertama, 95% responden menyatakan sangat setuju atau setuju bahwa mereka merasa senang membaca buku bergambar. Indikator kedua juga menunjukkan 95% responden sangat setuju bahwa ilustrasi sangat membantu dalam memahami cerita. Untuk indikator ketiga, 10 siswa sangat setuju dan 8 siswa setuju bahwa metode pembelajaran dengan buku cerita bergambar mampu membangkitkan antusiasme peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar. Indikator keempat pada keterangan hanya 65% yang mengaku sering membaca di waktu luang, dan indikator terakhir pada keterangan 9 peserta didik menyatakan sangat setuju dan 7 peserta didik setuju bahwa mereka merasa dapat dengan mudah mengingat materi yang dibaca dan mampu menceritakan kembali isi cerita dengan baik (Hidayat & Putri, 2. p-ISSN : 2579-7158, e-ISSN : 2549-6050 Isnaeni Nur Azizah1. Anggita Maharani2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Picture 1. Pelaksanaan observasi SIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana penggunaan cerita bergambar dalam meningkatkan minat baca siswa kelas i di SDN Pangrango. Kota Cirebon. Berdasarkan data yang diperoleh observasi, angket, dan wawancara terhadap 20 peserta didik, ditemukan bahwa penggunaan buku cerita bergambar memberikan dampak positif terhadap minat membaca siswa kelas i SDN Pangrango. Mayoritas peserta didik merasa senang saat membaca buku bergambar, dengan persentase lebih dari 90% menyatakan Ausangat setujuAy atau AusetujuAy. Ilustrasi gambar yang terdapat dalam buku dianggap membantu pemahaman isi cerita, menambah daya tarik, dan membuat aktivitas membaca menjadi lebih menyenangkan. Selain itu, buku cerita bergambar turut meningkatkan semangat siswa dalam kegiatan pembelajaran, meskipun kebiasaan membaca di waktu senggang masih perlu ditingkatkan. Gabungan teks dan gambar mempermudah siswa dalam mencerna dan mengingat isi cerita. Dengan demikian, buku cerita bergambar terbukti sebagai media pembelajaran yang efektif, tidak hanya dalam meningkatkan minat membacam tetapi juga dalam memperkuat pemahaman dan kemampuan siswa dalam menyerap materi bacaan. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan dalam penulisan artikel ini. Rasa syulur juga dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan kasih-Nya, yang memungkinkan penulis menyelesaikan artikel ini dengan tepat waktu. Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Isnaeni Nur Azizah1. Anggita Maharani2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Semua peserta didik kelas i SDN Pangrango dan wali kelas i yang telah meluangkan waktu untuk berpartisipasi dalam artikel ini. Tanpa partisipasi dari kalian, artikel ini tidak mungkin dapat selesai dengan baik. Rekan penulis yang sudah berbai ide, diskusi, dan kritik konstruktif yang memperkaya proses pembuatan artikel ini. Keluarga yang memberikan dukungan dan dorongan tanpa henti selama proses pembuatan artikel ini. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat yang baik bagi masyarakat secara keseluruhan. Dengan ucapan terima kasih ini, diharapkan semua pihak yang terlibat merasa dihargai atas kontribusi dalam penelitian ini. REFERENSI