Italia. Nurul Hidayati PENGARUH TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK TERHADAP PENURUNAN TINGKAT HALUSINASI PENDENGARAN PADA PASIEN SKIZOFRENIA Italia1. Nurul Hidayati2 Program Studi Di Keperawatan STIKES Mitra Adiguna Palembang Program Studi S1 Keperawatan STIKES Mitra Adiguna Palembang Komplek kenten permai blok J 9-12 Bukit sangkal Palembang 30114 email: italia. effendi@gmail. ABSTRAK Skizofrenia adalah suatu sindrom yang memiliki beragam penyebab, dengan perjalanan penyakit yang bervariasi, tergantung pada kombinasi faktor genetik, biologis, lingkungan sosial, dan latar budaya. Gejala skizofrenia umumnya terbagi menjadi dua jenis, salah satunya adalah gejala positif, yang mencakup halusinasiAiyakni persepsi yang muncul akibat adanya rangsangan yang terlalu kuat untuk diproses secara normalAiserta delusi dan gangguan dalam kemampuan berpikir secara logis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi aktivitas kelompok terhadap penurunan tingkat halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia di Yayasan Mitra Mulia Husada Kota Palembang pada Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen . re-experimental desig. dengan pendekatan one group pretest-posttest without control group. Hasil distribusi frekuensi menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki gaya hidup baik, yaitu sebanyak 35 lansia . ,5%), sedangkan yang bergaya hidup kurang sebanyak 21 lansia . ,5%). Sebelum pelaksanaan terapi aktivitas kelompok, skor rata-rata halusinasi pada 20 responden adalah 12,95. Setelah diberikan terapi tersebut, skor rata-rata meningkat menjadi 13,75. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan antara pemberian terapi aktivitas kelompok dengan penurunan intensitas halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia . value = 0,. Oleh karena itu, disarankan agar Yayasan Mitra Mulia Husada Provinsi Sumatera Selatan mengintegrasikan terapi aktivitas kelompok sebagai bagian dari intervensi non-psikofarmakologis dalam pelayanan keperawatan bagi pasien dengan gejala halusinasi pendengaran. Kata kunci : Terapi Aktivitas Kelompok. Skizoprenia. Halusinasi Pendengaran ABSTRACT Schizophrenia is a syndrome with diverse causes, with a varied course of the disease, depending on a combination of genetic, biological, social, and cultural factors. Symptoms of schizophrenia are generally divided into two types, one is positive symptoms, which include hallucinationsAiperceptions that arise due to stimuli that are too strong to be processed normallyAiand delusions and impaired logical thinking. This study aims to determine the effectiveness of group activity therapy on reducing the level of auditory hallucinations in schizophrenia patients at the Mitra Mulia Husada Foundation in Palembang City in 2024. This study used a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest approach without a control group. The results of the frequency distribution showed that the majority of respondents had a good lifestyle, namely 35 elderly people . 5%), while those with a poor lifestyle were 21 elderly people . 5%). Before the implementation of group activity therapy, the average hallucination score in the 20 respondents was 12. After being given the therapy, the average score increased to 13. Statistical test results showed a significant effect between group activity therapy and a reduction in the intensity of auditory hallucinations in schizophrenia patients . -value = 0. Therefore, it is recommended that the Mitra Mulia Husada Foundation of South Sumatra Province integrate group activity therapy as part of a non-psychopharmacological intervention in nursing care for patients with auditory hallucinations. Keywords: Group Activity Therapy. Schizophrenia. Auditory Hallucinations Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Italia. Nurul Hidayati PENDAHULUAN Kesehatan jiwa merujuk pada keadaan di mana seseorang mampu tumbuh dan berkembang secara optimal dalam aspek fisik, mental, spiritual, dan sosial. Dalam kondisi ini, individu mampu mengenali potensi dirinya, menghadapi tekanan hidup, bekerja secara efisien, serta memberikan positif bagi Berdasarkan tersebut, seseorang yang mengalami hambatan dalam perkembangan fisik, mental, spiritual, maupun sosial dapat dikategorikan sebagai individu dengan gangguan atau permasalahan dalam kesehatan jiwa, yang sering dikenal dengan sebutan Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) (Khariani, 2. Menurut WHO, prevalensi dan kejadian skizofrenia secara umum menunjukkan pola yang relatif serupa di berbagai belahan dunia. Berdasarkan standar usia per 100. 000 penduduk, prevalensi berkisar antara 343 di Afrika hingga 544 di wilayah Jepang dan Oseania untuk laki-laki, serta antara 378 di Afrika hingga 527 di Eropa Tenggara untuk Data tersebut diperoleh melalui metode diagnosis yang valid dan melibatkan populasi yang besar serta Meskipun begitu, beban atau dampak skizofrenia tertinggi ditemukan di wilayah Oseania. Timur Tengah, dan Asia Timur. Sebaliknya, negara-negara seperti Australia. Jepang. Amerika Serikat, dan sebagian besar kawasan Eropa melaporkan dampak yang lebih rendah. Menariknya, berdekatan, angka kejadian skizofrenia di Indonesia hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan di Australia. Perbedaan dalam tingkat prevalensi ini kemungkinan dipengaruhi oleh perbedaan dalam akses terhadap layanan kesehatan, sebab tahuntahun hidup dengan gangguan mental cenderung menunjukkan nilai yang jauh lebih tinggi ketika gangguan tersebut tidak ditangani secara medis dibandingkan jika telah mendapatkan pengobatan (Dewi Kompas, 2. Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. Kementerian Kesehatan pada tahun 2021 menunjukkan bahwa prevalensi skizofrenia atau psikosis di Indonesia mencapai 6,7 per 000 rumah tangga. Artinya, dalam setiap 000 rumah tangga terdapat sekitar 6 hingga 7 rumah tangga yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan skizofrenia atau psikosis. Provinsi dengan prevalensi tertinggi tercatat di Bali dan Yogyakarta, masing-masing sebesar 11,1 dan 10,4 per 1. 000 rumah tangga. Sementara itu. Provinsi Sumatera Selatan menempatkannya sebagai wilayah dengan angka kesembilan tertinggi di Indonesia. Dari total pengidap, sekitar 84,9% telah Namun demikian, 48,9% di antaranya tidak mengonsumsi obat secara rutin, sedangkan 51,1% rutin menjalani pengobatan. Selain itu, 33,7% penderita tidak menjalani perawatan secara teratur dan 23,6% lainnya tidak mampu membeli obat secara Mirisnya, sekitar 14% rumah tangga melaporkan masih melakukan pemasungan terhadap anggota keluarga yang mengidap skizofrenia atau psikosis (Dewi Kompas, 2. Gangguan halusinasi dapat dikelola melalui kombinasi pengobatan dan intervensi nonfarmakologis. Pendekatan nonfarmakologis dianggap lebih aman karena Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Italia. Nurul Hidayati tidak menimbulkan efek samping seperti yang sering terjadi pada penggunaan obatobatan, mengingat terapi ini memanfaatkan mekanisme fisiologis alami tubuh. Terdapat berbagai jenis halusinasi yang dialami oleh individu dengan gangguan jiwa. Sekitar 70% dari kasus halusinasi merupakan halusinasi pendengaran, sedangkan 20% berupa halusinasi visual, dan sisanyaAi sekitar 10%Aiterdiri dari halusinasi penciuman, pengecapan, serta perabaan. Proses pengkajian terhadap halusinasi dapat dilakukan dengan cara mengamati perilaku pasien secara langsung serta melakukan wawancara untuk menggali pengalaman sensorik yang sedang mereka rasakan (Sutejo, 2. Salah satu metode yang dapat diterapkan dalam menangani pasien dengan halusinasi adalah melalui terapi aktivitas kelompok (TAK). TAK merupakan bentuk terapi modalitas yang memungkinkan perawat atau terapis memberikan intervensi secara bersamaan kepada beberapa pasien dalam satu waktu (Maulana et al. , 2. Salah satu bentuk dari TAK adalah stimulasi sensori, yang bertujuan untuk mengaktivasi kelima indera pasien guna memunculkan respons yang sesuai dan adaptif (Sepalanita & Khairani, 2. Berdasarkan tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang berjudul AuPengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Terhadap Penurunan Tingkat Halusinasi Pendengaran Pada Pasien Skizofrenia Di Yayasan Mitra Mulia Husada Kota Palembang Tahun 2024Ay METODE PENELITIAN Ruang Lingkup Penelitian Penelitian dilakukan pada semua pasien skizoprenia dengan memberikan terapi aktifitas kelompok penurunan tingkat halusinasi pendengaran di yayasan Mitra Mulia Husada Kota Palembang tahun 2024. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Metode yang digunakan yaitu penelitian pra eksperimen (Pre Exsperimental design. dengan pendekatan without control one group pre test post tes design. (TAK) Pengukuran dilakukan pada responden, sebelum dan sesudah perlakuan sehingga diperoleh dua hasil pengukuran . re test dan post tes. (Sugiyono,2. Data Dan Cara Pengumpulan Data Data Primer Data primer merupakan informasi yang diperoleh langsung dari pihak yang memiliki otoritas serta tanggung jawab terhadap data tersebut (Notoatmodjo. Dalam penelitian ini, data primer diperoleh melalui observasi terhadap pengisian kuesioner dan pemeriksaan langsung kepada pasien skizofrenia dengan gejala halusinasi pendengaran. Data Sekunder Data sekunder adalah informasi yang tidak dikumpulkan secara langsung dari individu yang bersangkutan atau dari pihak yang tidak memiliki tanggung jawab (Notoatmodjo, 2. Sumber data sekunder dalam penelitian ini mencakup profil Yayasan Mitra Mulia Husada, buku referensi, jurnal ilmiah, serta informasi yang diperoleh melalui internet. Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Italia. Nurul Hidayati Populasi Dan Sampel Populasi Populasi pada penelitian ini adalah halusinasi pendengaran dari Januari-April 2024 berjumlah di Mitra Mulia Husada Kota Palembang tahun 2024. Sampel Sampel pada penelitian ini adalah seluruh semua pasien skizoprenia dengan halusinasi pendengaran di Mitra Mulia Husada Kota Palembang tahun 2024. Teknik Pengambilan Sampel. Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan cara total sampling yaitu pengambilan sampel dimana jumlah sampel sama dengan jumlah populasi, dimana data sampel yang digunakan harus memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi yang Teknik Pengolahan Data Menurut Hasibuan. Wahyuni,et. Menguraikan mengenai tahap pengolahan data dalam penelitian dengan jenis kualitatif sebagai berikut: Editing (Pengeditan Dat. Merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan isian check list apakah jawaban yang ada dikuesioner sudah lengkap, jelas relevan dan konsisten. Coding (Pengkodea. Koding merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka atau bilangan. Kegunaan dari koding adalah untuk mempermudah pada saat analisis data dan juga mempercepat pada saat entry Proccessing (Pemrosesa. Setelah semua isian check list terisi penuh dan benar dan juga sudah melewati pengkodingan, maka langkah selanjutnya adalah memproses data agar dapat dianalisis. Pemrosesan data dilakukan dengan cara mengentry data dari check list ke paket program Cleaning data . embersihan dat. Cleaning kembali data yang sudah di entry apakah ada kesalahan atau tidak. Teknik Analisis Analisis data dalam penelitian ini melalui prosedur bertahab antara lain: Analisis Univariat Analisa terhadap tiap variabel dari hasil penelitian variabel independen (Terapi aktifitas kelompo. serta variabel dependen . alusinasi pendengaran ) yang dianalisis dengan tabel distribusi Analisis Bivariat Pada penelitian ini, analisis bivariat dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan uji normalitas data primier menggunakan uji shapiro wilk dengan ketentuan jika Ou 0,05 berarti data terdistribusi normal dan jika jika < 0,05 berarti data tidak terdistribusi Selanjutnya untuk uji pengaruh menggunakan uji statistik berpasangan (Paired Samples t-tes. dengan tingkat kemaknaan alpha 0,05 bila data terdistribusi normal dan wilcoxon bila data tidak terdistribusi normal dengan ketentuan jika p value < 0,05 berarti ada perbedaan dan jika jika p value Ou 0,05 (Notoatmodjo, 2. Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Italia. Nurul Hidayati HASIL DAN PEMBAHASAN Analisa Univariat Tingkat Halusinasi pendengaran Pada Pasien skizoprenia Sebelum Diberikan Terapi Hasil penelitian diketahui bahwa dari 20 responden sebelum diberikan terapi aktivitas kelompok tingkat halusinasi rata-rata 12,95 dengan standar deviasi 3,348 Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan 95% diyakini rata-rata pendengaran sebelum dilakukan terapi aktifitas kelompok diantara 12,38 sampai dengan 14,52. Halusinasi pendengaran merupakan kondisi di mana individu mendengar suara atau bunyi, biasanya berupa suara manusia. Suara tersebut bisa berupa kebisingan yang samar hingga percakapan yang jelas, bahkan bisa mencakup dialog lengkap antara dua suara yang tidak nyata. Dalam beberapa kasus, suara-suara tersebut memberikan perintah kepada klien untuk melakukan sesuatu, yang dalam situasi tertentu dapat membahayakan keselamatan klien maupun orang lain (Azizah, 2. Penelitian ini sejalan dengan temuan Yudistira Afconneri . , yang menunjukkan adanya peningkatan rerata kemampuan responden dari 9,76 sebelum diberikan terapi aktivitas kelompok (TAK) menjadi 15,94 setelah intervensi dilakukan. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dalam kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran setelah diberikan TAK. Berdasarkan hasil penelitian ini, teori yang relevan, serta bukti dari studi sebelumnya, peneliti menyimpulkan bahwa halusinasi pendengaran merupakan gejala yang sangat umum pada pasien skizofrenia. Penerapan terapi aktivitas kelompok terbukti dapat pendengaran serta berkontribusi dalam meningkatkan fungsi sosial pasien, sehingga pasien dapat berinteraksi secara lebih positif dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya. Tingkat Halusinasi pendengaran Pada Pasien skizoprenia Sesudah Diberikan Terapi Dari tabel 2 didapatkan bahwa dari 20 responden sebelum diberikan terapi aktivitas kelompok tingkat halusinasi rata-rata 13,75 dengan standar deviasi 3,416 Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan 95% diyakini rata-rata pendengaran sesudah dilakukan terapi aktifitas kelompok diantara 12,15 sampai dengan 15,35. Teori yang dikemukakan oleh Devita . menyebutkan bahwa halusinasi pendengaran merupakan salah satu gejala yang paling sering dijumpai pada pasien skizofrenia, dengan prevalensi Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Italia. Nurul Hidayati antara 50% hingga 70%. Individu yang mengalami kondisi ini umumnya kesulitan dalam mengontrol pikiran mereka saat suara-suara halusinatif muncul. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan temuan Rubiyanti . , yang menunjukkan adanya penurunan skor signifikan dari hasil pretest sebesar 28,12 menjadi 18,25 pada posttest. Uji statistik menggunakan paired t-test menghasilkan nilai p = 0,000, yang menunjukkan perbedaan yang bermakna antara sebelum dan sesudah intervensi dilakukan. Berdasarkan temuan penelitian ini, teori yang relevan, serta hasil studi sebelumnya, peneliti berasumsi bahwa terapi aktivitas kelompok berperan penting dalam menciptakan ruang bagi anggota dan fasilitator kelompok untuk saling berbagi pengalaman dan memberikan pemahaman dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi oleh pasien skizofrenia dengan gejala halusinasi pendengaran. Uji Normalitas Dalam analisis bivariat ini akan dilihat secara statistik pengaruh terapi aktifitas kleompok terhadap tingkat penurunan halusinasi pendengaran pasien Sebelum analisis bivariat melakukan uji distribusi data dengan menggunakan uji normalitas Shapiro Wilk < 50 responden, jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 20 responden. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Dari hasil uji normalitas diketahui bahwa nilai p value > dari 0,05 yang berarti bahwa data berdistribusi tidak normal, sehingga analisis bivariat menggunakan uji wilcoxon. Analisis Bivariat Hasil analisis didapatkan rata-rata tingkat penurunan halusinasi pendengarana pada pasien halusinasi pendengaran kelompok sebesar 12,95 dengan standar deviasi 3,348 dan sesudah diberikan terapi aktifitas kelompok sebesar 13,75dengan standar deviasi 3,416 Hasil uji wilcoxon didapatkan p value 0,002, maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa ada pengaruh terapi aktifitas kelompok Terhadap tingkat penurunan halusinasi pendengaran pada pasien skizoprenia di Yayasan Mitra Mulia Husada Palembang. Hasil uji wilcoxon didapatkan p value 0,002, maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti ada pengaruh terapi aktifitas kelompok terhadap tingkat penurunan halusinasi pendengaran pada pasien Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Italia. Nurul Hidayati di Yayasan Mitra Mulia Husada Palembang. Penelitian ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Keliant dan Akemat . , yang menyatakan bahwa (TAK) merupakan salah satu pendekatan efektif dalam membantu pasien halusinasi untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam mengontrol gejala yang dialami, sehingga dapat mendukung proses pemulihan. Terapi ini dilakukan dalam bentuk intervensi kelompok yang ditujukan kepada beberapa klien dengan gejala halusinasi secara TAK memiliki nilai terapeutik yang signifikan karena bertujuan untuk membantu klien dalam proses adaptasi psikososial, sehingga mereka dapat menjalani kehidupan secara mandiri dalam lingkungan sosialnya. Terapi aktivitas kebutuhan klien, yang mencakup stimulasi persepsi, stimulasi sensori, orientasi realita, peningkatan kemampuan bersosialisasi, serta penyaluran energi. Temuan dalam penelitian ini konsisten dengan studi yang dilakukan oleh Pratiwi Gasril . , yang menunjukkan adanya pengaruh signifikan terapi aktivitas kelompok (TAK) jenis stimulasi persepsi terhadap kemampuan pasien dalam mengendalikan halusinasi pendengaran, dengan hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,01. Hasil ini juga diperkuat oleh penelitian Indra Maulana . , yang menyimpulkan bahwa TAK memberikan dampak positif yang signifikan dalam membantu mengelola berbagai gangguan jiwa, seperti halusinasi, skizofrenia, delusi, dan depresi. Penerapan intervensi TAK terbukti mampu menurunkan intensitas halusinasi secara bermakna pada pasien Berdasarkan hasil penelitian ini, serta didukung oleh teori dan penelitian sebelumnya, peneliti menyimpulkan bahwa pemberian terapi aktivitas kelompok pada pasien skizofrenia dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam mengendalikan halusinasi pendengaran. Selain itu, terapi ini juga membantu pasien untuk menyadari dampak negatif apabila tidak mampu mengontrol halusinasi dengan baik dan Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Berdasarkan dilakukan di Yayasan Mitra Mulia Husada Palembang, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Sebelum diberikan intervensi berupa terapi aktivitas kelompok, rata-rata skor halusinasi pendengaran pada 20 responden adalah sebesar 12,95. Setelah pelaksanaan terapi aktivitas kelompok berbasis audio, rata-rata skor meningkat menjadi 13,75. Terdapat pengaruh yang signifikan dari penerapan terapi aktivitas kelompok terhadap penurunan tingkat halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia, dengan nilai signifikansi p = 0,002. Saran Bagi Petugas Kesehatan Diharapkan pihak Yayasan Mitra Mulia Husada Provinsi Sumatera Selatan agar dapat memasukkan terapi aktifitas Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Italia. Nurul Hidayati psikofarmakologis dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien halusinasi pendengaran. Bagi Intitusi STIKES Mitra Adiguna Palembang Institusi dapat menambah kepustakaan /referensi mutakhir seperti buku-buku dan jurnal-jurnal yang berkenaan dengan halusinasi pendengaran dan implementasi evidence base nurses. Bagi Peneliti Selanjutnya Waktu pelaksanaan dimaksimalkan lagi untuk memperoleh hasil yang lebih baik dengan jumlah sampel lebih banyak lagi dan kategori sampel yang lebih spesifik lagi serta metode penelitian lainnya. Fani. Nasrul, & Aminuddin. Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Halusinasi Terhadap Kemajuan Perawatan Pada Pasien Halusinasi Di Ruangan Manggis Rumah Sakit Daerah Madani Palu. Jurnal Kesehatan Prima. Keliant B. Keperawatan Jiwa: Terapi Aktivitas Kelompok. ED. Jakarta:EGC Murdiyanti. , & Nuril. Terapi Komplementer Konsep dan Aplikasi Dalam Keperawatan. Yogyakarta: PT. PUSTAKA BARU. PPNI. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan. Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI. DAFTAR PUSTAKA Munith A . Dukungan Keluarga dengan Kemandirian Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Vol 8. No 02 Azizah. Zainuri. , & Akbar. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa Teori dan Aplikasi Praktik Klinik. Yogyakarta: Indomedia Pustaka. PPNI. Standar Luaran Keperawatan Indonesia : Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatn. Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI. Damayanti. Jumaini, & Utami. Efekifitas Terapi Musik Klasik Terhadap Penurunan Tingkat Halusinasi Pada Pasien Halusinasi Dengar Di RSJ Tampan Provinsi Riau. JOM PSIK VOL. 1, 1. Eka. , & Sapria. Efektivitas Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Dan Terapi Religius Terhadap Frekuensi Halusinasi. Jurnal Prima Stiker Mataram , 47. PPNI. (Standar Diagnosis Kperawatan Indonesia: Definisi dan Indokator Diagnostik. Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI. Pratiwi Gasril. Pengaruh Terapi Psikoreligious : Dzikir dalam Mengontrol Halusinasi Pedengaran Pada Pasien Skizofrenia yang Muslim di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 821-826. Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Italia. Nurul Hidayati Purnama. , & Rahmanisa. Pengaruh Musik Klasik Mengurangi Tingkat Kekambuhan Penderita Skizofrenia di Rumah. Majority, 51. Rinjani. Murandari. Nugraha. , & Widiyanti. Efektivitas Terapi Psikoreligius Terhadap Pasien Dengan Halusinasi. Jurnal Medika Cendikia. Sutejo. Keperawatan Jiwa Konsep dan Praktik Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa: Gangguan Jiwa dan Psikososial. Yoygyakarta: PT. PUSTAKA BARU.