JURNAL PENGABDIAN WIDYA DHARMA Volume 04 No. 01 Januari 2025 E ISSN 2962-3758 MENUMBUHKAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG DAGUSIBU OBAT ANTIBIOTIK DAN TETES MATA DI DAERAH LIMBANGAN SUMBERAHAYU Khoirul Anwar1*. Darmanto2. Reni Septiani3. Netty Fitriana Putri4. MaemunatussaAodayatul Qiftiyah5. Syahla6. Aulia Zaneta7. Delta Ayu Renitasari8. Fuji Utami9. Achmad Umar Setyadi10 1, 3-9 2, 10 Fakultas Farmasi. Universitas Wahid Hasyim. Semarang. Jawa Tengah. Indonesia Fakultas Teknik. Universitas Wahid Hasyim. Semarang. Jawa Tengah. Indonesia Email: khoirula@unwahas. Article Info ARTICLE HISTORY Received: 16/11/2024 Reviewed: 24/12/2024 Revised: 11/01/2025 Accepted: 15/01/2025 DOI: 54840/widharma. Abstract Drug-related health problems in Indonesian society continue to increase over time. The majority of these problems arise because of the public's perspective which does not yet understand the proper and correct use and handling of medicines. The DAGUSIBU drug program is one of the right solutions to overcome this problem. Based on the information obtained. Sumberrahayu Village has never received any outreach about the drug DAGUSIBU. The aim of this community service is to provide DAGUSIBU education to the community, especially women from the Krajan Village Women's Farmers Group (KWT), to increase community knowledge about how to use medicines correctly . and procedures for storing and disposing of medicines that have been damaged or expire properly. This activity is carried out using counseling methods starting from how to use and properly dispose of medicines, then interactive discussions, demonstrations as well as evaluation and monitoring through questions and answers with The socialization activities ran smoothly with participants who were cooperative and enthusiastic in participating in the program. It is hoped that this socialization will increase knowledge about drug use. Participants in this extension were given material about DAGUSIBU directly and supported by teaching aids in the form of medicines as examples of the application of DAGUSIBU in active discussions. The output of this service shows an increase in the knowledge of counseling participants about drugs through DAGUSIBU. Therefore, this socialization needs to continue to be carried out to monitor and improve cadres as good information agents to the wider community, especially in Krajan Village. With this socialization, people can apply the knowledge they have gained to their environment and family. Keywords: DAGUSIBU, extension. Krajan PENDAHULUAN IPTEK di bidang industri obat semakin maju seiring dengan perkembangan penyakit. Dengan adanya program jaminan kesehatan mendorong munculnya bermacam-macam bentuk sediaan obat di masyarakat. Kemajuan teknologi tersebut menyebabkan masyarakat memiliki akses yang mudah untuk mendapatkan informasi, misalnya tentang pengobatan. Beberapa kemudahan ini dapat menyebabkan permasalahan terkait cara mendapatkan, menggunakan. Khoirul Anwar. Darmanto, et al/WIDHARMA Vol 04 No 01 Tahun 2025 menyimpan, dan membuang obat dengan benar atau biasa dikenal dengan istilah DAGUSIBU. Kegiatan ini mengacu pada salah satu program IAI yaitu GKSO (Gerakan Keluarga Sadar Oba. Program tersebut diberdayakan untuk masyarakat supaya lebih memahami DAGUSIBU obat dan alat kesehatan yang baik dan tepat (Lutfiyati dkk. , 2. DAGUSIBU juga merupakan salah satu upaya untuk peningkatan kesehatan masyarakat melalui kegiatan pelayanan kesehatan oleh tenaga kefarmasian sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51 Bab 1 Pasal 1 tentang pekerjaan kefarmasian. DAGUSIBU merupakan singkatan dari (Dapatkan. Gunakan. Simpan. Buan. obat adalah suatu program yang dirancang oleh IAI (Ikatan Apoteker Indonesi. dalam mencapai pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan obat dengan benar. Ibu memiliki peran penting dalam keluarga, salah satunya yaitu untuk menjaga kesehatan keluarganya, hal ini dapat dikatakan tingkat pengetahuan ibu-ibu rumah tangga masih kurang dalam (Dapatkan. Gunakan. Simpan. Buan. obat (Dewi, 2. Sehingga perlu dilakukan penyuluhan DAGUSIBU (Dapatkan. Gunakan. Simpan. Buan. obat dengan benar. Program DAGUSIBU penting dilakukan karena dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang bagaimana mendapatkan hingga membuang obat yang tidak dikonsumsi lagi di tempat yang tepat, sehingga kualitas hidup masyarakat juga akan meningkat. Pada program DAGUSIBU juga dapat meningkatkan rasionalitas penggunaan obat dan meningkatkan pemahaman masyarakat dalam pengelolaan obat secara tepat (Hajrin dkk. Hingga saat ini, belum ada studi lanjut tentang tingkat pengetahuan masyarakat Desa Limbangan Sumberahayu terutama ibu rumah tangga terhadap pengelolaan obat di rumah yang Oleh karena itu, perlu diadakan kegiatan pengabdian masyarakat untuk memberikan edukasi kepada ibu rumah tangga sebagai seorang khusus di rumah mereka masing-masing terkait bagaimana bidang cara mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang (DAGUSIBU) obat dengan baik dan benar. TINJAUAN PUSTAKA DAGUSIBU (Dapatkan. Gunakan. Simpan. Buan. adalah Program Gerakan Keluarga Sadar Obat yang diprakarsai oleh Ikatan Apoteker Indonesia dalam mencapai pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan obat dengan benar (PP IAI, 2. DAGUSIBU merupakan salah satu upaya peningkatan kesehatan bagi masyarakat yang diselenggarakan melalui kegiatan pelayanan kesehatan oleh tenaga kefarmasian. Pelayanan kesehatan yang dapat diberikan tenaga kefarmasian kepada masyarakat antara lain dengan melakukan kegiatan pemberian informasi tentang penggunaan dan penyimpanan sediaan farmasi dan alat kesehatan (Pujiastuti dkk. , 2. Salah satu solusi dalam meningkatkan kesehatan bagi masyarakat di Banjar Kodok Darsana Kabupaten Karangasem yaitu dengan memberikan informasi tentang penggunaan dan penanganan obat yang benar melalui penyuluhan tentang DAGUSIBU (Dapatkan. Gunakan. Simpan. Buan. Melalui pelaksanaan kegiatan penyuluhan pengelolaan obat DAGUSIBU (Dapatkan. Gunakan. Simpan. Buan. di Banjar Kodok Darsana diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang definisi umum dan klasifikasi obat, memahami berbagai macam sediaan obat dan cara penggunaannya yang tepat . , selain itu masyarakat mampu memahami tata cara penyimpanan dan pembuangan obat yang telah rusak atau kadaluwarsa dengan tepat melalui penyuluhan DAGUSIBU. Pengetahuan yang di dapatkan oleh masyarakat dalam kegiatan ini diharapkan dapat mengubah perilaku masyarakat dalam pengelolaan obat di rumah dan penggunaan obat secara rasional dimulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga (Aswad, 2. METODE PELAKSANAAN KEGIATAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di kediaman ketua KWT yaitu di Desa Krajan Kecamatan Limbangan dan dihadiri oleh 42 orang dari ibu-ibu KWT (Kumpulan Wanita Tan. dan panitia pelaksana pada 11 Januari 2024. Tahapan dalam pelaksana program pengabdian masyarakat ini meliputi kegiatan sebagai berikut. Khoirul Anwar. Darmanto, et al/WIDHARMA Vol 04 No 01 Tahun 2025 Sosialisasi DAGUSIBU dengan cara penyuluhan Pelaksanaan penyuluhan dilakukan oleh anggota KKN dengan menjelaskan tentang penggunaan dan penanganan obat yang benar. Penyuluhan dilakukan dengan media bantu Power Point, brosur, dan contoh obat sehingga peserta dapat mengetahui dengan jelas perbedaan jenis-jenis obat yang beredar di masyarakat. Materi yaitu DAGUSIBU (DApatkan. GUnakan. SImpan. BUan. obat dengan benar, penggunaan antibiotik dan tetes mata yang benar. Diskusi dan tanya jawab Pada sesi ini ibu-ibu bertanya terkait dengan materi yang telah disampaikan serta permasalahan tentang penggunaan dan penanganan obat yang sedang dialami atau yang pernah dialami. Quiz dan pembagian dooprize Pada sesi ini panitia pelaksana memberikan dooprize kepada ibu-ibu yang bisa menjawab pertanyaan terkait dengan materi yang telah disampaikan. HASIL DAN PEMBAHASAN Program pengabdian kepada masyarakat ini dimulai dengan kegiatan sosialisasi DAGUSIBU. Sosialisasi DAGUSIBU dengan cara penyuluhan tentang penggunaan dan penanganan obat yang benar serta pembagian buku saku DAGUSIBU (DApatkan. GUnakan. SImpan. BUan. bagi ibu-ibu kelompok Wanita tani (KWT) telah dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 11 Februari 2024. Kegiatan dilaksanakan di kediaman Ketua KWT. Kegiatan dimulai dengan pembukaan dan sambutan oleh Ketua Kelompok KKN dan Ketua Acara yang menjelaskan tujuan diadakannya kegiatan sosialisasi DAGUSIBU. Total peserta yang hadir yaitu 42 orang terdiri dari anggota KWT dan panitia pelaksana Kegiatan sosialisasi diawali dengan penjelasan tentang arti dari singkatan DAGUSIBU, tempat membeli obat yang aman yaitu pada fasilitas kefarmasian . potek, rumah sakit, puskesmas, klinik utama, toko oba. serta penggolongan obat. Penggolongan obat dibagi menjadi empat, yaitu obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras. Para peserta ditekankan tentang perbedaan tiap golongan obat tersebut dan bagaimana cara mendapatkannya, wajib atau tidaknya menggunakan resep dokter (Maziyyah. Pada saat sosialisasi dijelaskan juga tentang hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan penggunaan obat, yaitu melakukan pemeriksaan tanggal kadaluwarsa obat dan memperhatikan cara penggunaan obat dengan benar. Pemateri menjelaskan dan mempraktikkan cara pemakaian obat pada bentuk sediaan khusus. Obat dalam bentuk sediaan khusus tersebut, yaitu sediaan obat tetes mata, salep mata (Lutfiyati dkk. , 2. Cara penggunaan obat-obat tersebut penting untuk dijelaskan karena sering terjadi kesalahan cara pemakaiannya disebabkan kurangnya informasi terkait hal tersebut. Penjelasan selanjutnya adalah tentang penyimpanan obat dengan benar sesuai dengan petunjuk penyimpanan yang tertera pada kemasan obat. Penyimpanan obat yang tidak sesuai dapat menurunkan stabilitas obat yang pada akhirnya akan berpengaruh pada efektivitas obat tersebut dalam memberikan efek terapi. Penyimpanan obat yang tidak memerlukan kondisi khusus sebaiknya disimpan pada kotak obat yang terlindung dari paparan sinar matahari langsung dan tidak terjangkau oleh anak-anak (Aswad, 2. Materi terakhir yang diberikan yaitu menjelaskan tentang cara membuang obat dengan benar supaya tidak disalahgunakan oleh orang lain. Pada saat akan membuang obat terlebih dahulu harus menghilangkan semua label dari wadah obat, untuk obat berbentuk padat harus dihancurkan terlebih dahulu sebelum dibuang, sedangkan untuk obat berbentuk cair dibuang ke dalam saluran air (Lutfiyati dkk. , 2. Kegiatan sosialisasi dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Para peserta yang hadir dalam sosialisasi DAGUSIBU sangat antusias dalam mendengarkan penjelasan dan aktif bertanya terkait penggunaan obat dan penanganannya. Hal ini diketahui dari respons peserta dalam menanggapi kegiatan ini secara positif dan antusias. Antusiasme peserta terlihat pada saat mendengarkan pemateri. Banyak peserta yang aktif bertanya tentang beberapa hal antara lain terkait pengelolaan obat, penggunaan obat yang sedang dikonsumsinya, efek samping yang Khoirul Anwar. Darmanto, et al/WIDHARMA Vol 04 No 01 Tahun 2025 ditimbulkan oleh obat yang sedang dikonsumsi. Peserta juga bertanya tentang kriteria kemasan obat yang baik, pemilihan obat bagi pasien yang memiliki riwayat alergi obat, makanan yang aman bagi penderita sakit kolesterol serta kepatuhan dalam meminum obat, dan masih banyak lagi pertanyaan yang lain. Kegiatan sosialisasi dilanjutkan dengan acara pembagian doorprize kepada peserta Doorprize diberikan kepada peserta yang dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh tim pelaksana. Pertanyaan yang diajukan tentang materi yang telah disampaikan selama Hal ini untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta terkait materi yang diberikan, selain itu doorprize yang diberikan diharapkan dapat menjadi kenang-kenangan bagi para peserta. Pada saat awal dilakukan penyuluhan diketahui bahwa tidak semua peserta paham dan mengerti tentang penggunaan dan penanganan obat dengan benar. Setelah pelaksanaan penyuluhan seluruh peserta menjadi mengerti bahwa pembelian obat yang benar adalah di sarana kefarmasian karena terjamin keaslian dan keamanan obatnya. Beberapa peserta yang kurang paham tentang penggunaan obat yang benar terutama untuk bentuk sediaan obat non oral, misalnya penggunaan obat tetes mata yang benar, serta posisi badan pada saat pengaplikasian obat setelah dilakukan penyuluhan menjadi lebih mengerti. Beberapa peserta penyuluhan yang pada awalnya kurang paham tentang penyimpanan obat yang benar serta tanda-tanda obat yang telah mengalami kerusakan, serta batas aman penggunaan obat setelah dibuka dari kemasan aslinya setelah pelaksanaan kegiatan menjadi lebih paham. Penyimpanan yang tidak tepat dapat merusak obat. Mayoritas obat sebaiknya disimpan dalam suhu ruang di kotak obat yang tidak dapat dijangkau oleh anak-anak, namun ada sebagian obat yang harus disimpan dalam lemari es untuk menjaga obat tetap berkhasiat. Secara umum obat tidak boleh terpapar sinar matahari langsung, oleh karena itu, obat perlu disimpan di tempat tertutup dan kering. Obat juga harus disimpan di tempat aman, terhindar dari balita agar tidak dimakan sembarangan. Saat menerima obat hendaknya dibaca informasi terkait penggunaan obat dan cara penyimpanan yang tertera di kemasan obat. Pada saat membeli obat seharusnya menerima kemasan obat secara lengkap karena semua informasi tentang obat tersebut tercantum dalam kemasan. Sebagian besar peserta telah paham tentang cara pembuangan obat yang telah rusak atau kadaluwarsa, yaitu dengan merusak obat dan bungkusnya. Hal ini telah dipahami peserta bahwa obat yang dibuang sembarangan dapat mencemari Obat dan kemasan yang akan dibuang jika tidak dirusak dapat memungkinkan untuk disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sasaran kegiatan sosialisasi DAGUSIBU yaitu anggota Kelompok Wanita Tani (KWT). Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) itu sendiri terdiri dari ibu-ibu dari berbagai rentang Dipilih target sasaran kepada ibu-ibu dikarenakan seorang ibu dapat menjadi penentu kualitas kesehatan keluarganya, tokoh ibu dianggap memiliki kepekaan dan sering kali memegang peranan dalam menentukan obat yang akan dikonsumsi keluarga. Gambar 1. Sosialisasi DAGUSIBU Gambar 2. Pembagian Doorprize Khoirul Anwar. Darmanto, et al/WIDHARMA Vol 04 No 01 Tahun 2025 Gambar 3. Foto Bersama KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil pelaksanaan program meningkatkan pengetahuan kepada masyarakat dapat disimpulkan bahwa kegiatan sosialisasi DAGUSIBU dengan cara penyuluhan tentang penggunaan dan penanganan obat yang benar berjalan dengan baik dan lancar. Hal ini diketahui dari Tingkat kehadiran dan keaktifan para peserta. Total peserta yaitu 42 orang, terdiri dari anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) dan panitia pelaksana. Para peserta yang hadir sangat antusias dalam mendengarkan penjelasan dan aktif bertanya terkait penggunaan obat dan Sosialisasi ini meningkatkan pemahaman peserta tentang pengelolaan obat dengan benar. Hasil dari kegiatan ini adalah diharapkan bagi peserta dapat menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Hal ini dapat mendukung terwujudnya program pemerintah dalam peningkatan pelayanan kesehatan bagi Masyarakat. DAFTAR PUSTAKA