Journal of Divinity. PeaceStudies and Conflict Studies Journal of Divinity. Peace and Conflict Volume 5 Nomor 2 (Januari-April 2. Submitted: 1 Maret 2025 Acepted: 18 Juli 2025 Published: 30 Agustus 2025 Beyond Boundaries Mengundang yang Terpinggirkan ke Meja Perjamuan (Tafsir Lukas 14:12-14 melalui Perspektif Disabilita. Adila Sekar Pambayun Universitas Kristen Duta Wacana. Yogyakarta pambayun@students. DOI: 10. 21460/aradha. Abstract Persons with disabilities continue to face various forms of discrimination and social exclusion, including limited access to education, employment, healthcare services, and participation in religious communities. Deeply rooted societal stigma often leads to their marginalization and In the context of Christian theology, biblical texts have often been interpreted either literally or metaphorically in ways that associate disability with sin, lack of faith, or a condition that needs healing. Such interpretations reinforce the exclusion of persons with disabilities within churches and society. This study aims to interpret Luke 14:12-14 through the lens of disability theology to foster a more inclusive understanding. The findings indicate that a theological perspective on disability can serve as a foundation for churches and society to create a more just and inclusive environment, removing structural barriers that hinder the full participation of persons with disabilities in social and religious life. Keywords: disability, inclusive theology, biblical perspective, marginalization. Abstrak Penyandang disabilitas masih menghadapi berbagai bentuk diskriminasi dan pengucilan sosial, baik dalam akses terhadap pendidikan, pekerjaan, layanan kesehatan, maupun partisipasi dalam komunitas keagamaan. Stigma yang mengakar dalam masyarakat sering kali menyebabkan mereka terasing dan kurang dihargai. Dalam konteks teologi Kristen, teks-teks Alkitab sering kali Beyond Boundaries: Mengundang yang Terpinggirkan ke Meja Perjamuan (Tafsir Lukas 14:12-14 melalui Perspektif Disabilita. Volume 5 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. ditafsirkan secara literal maupun metaforis dengan kecenderungan memandang disabilitas sebagai akibat dosa, kurangnya iman, atau kondisi yang perlu disembuhkan. Pemahaman ini memperkuat marginalisasi penyandang disabilitas dalam gereja dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menafsirkan teks Lukas 14:12-14 melalui perspektif disabilitas guna membangun pemahaman yang lebih inklusif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perspektif teologi disabilitas dapat menjadi landasan bagi gereja dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang lebih adil dan inklusif, serta menghapus hambatan struktural yang menghalangi partisipasi penuh penyandang disabilitas dalam kehidupan sosial dan Kata-kata kunci: disabilitas, teologi inklusif, perspektif Alkitab, marginalisasi. Pendahuluan Dalam realitas sosial kita saat ini, penyandang disabilitas masih sering menghadapi berbagai bentuk diskriminasi dan pengucilan. Di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, mereka sering kali dianggap sebagai kelompok yang berbeda dan diperlakukan dengan ketidakadilan yang signifikan. Akses terhadap pendidikan, pekerjaan, fasilitas umum, dan bahkan dalam berpartisipasi dalam komunitas keagamaan sering kali terbatas bagi mereka. Stigma dan prasangka negatif terhadap disabilitas sering mengakar kuat dalam masyarakat, menyebabkan penyandang disabilitas merasa terasing dan kurang dihargai. Menurut data dari World Health Organization . , lebih dari satu miliar orang di dunia hidup dengan disabilitas. Namun, meskipun mereka merupakan bagian besar dari populasi global, mereka sering kali diabaikan dalam berbagai aspek kehidupan. Di Indonesia sendiri, data dari Kementerian Sosial Republik Indonesia menunjukkan bahwa tingkat partisipasi penyandang disabilitas dalam pasar kerja jauh lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak menyandang disabilitas (Nufiani. Kasnawi, dan Hasbi, 2022: 27Ae. Selain itu, penyandang disabilitas juga menghadapi tantangan besar dalam mengakses layanan kesehatan yang memadai, pendidikan inklusif, dan infrastruktur yang ramah disabilitas. Hambatan ni tidak hanya berdampak pada kesejahteraan fisik dan ekonomi mereka, tetapi juga pada kesehatan mental dan rasa harga diri. Layak jika penyandang disabilitas merasa terisolasi, tidak dihargai, dan mengalami penurunan kualitas hidup akibat perlakuan diskriminatif yang mereka terima. Dalam konteks ini, penting untuk melihat ajaran-ajaran dalam teks-teks agama, seperti Alkitab, yang dapat menawarkan panduan dan inspirasi untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif dan ramah disabilitas. Alkitab, dalam beberapa bagian, memang terlihat Adila Sekar Pambayun Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies menggambarkan disabilitas sebagai sesuatu yang negatif atau buruk, sering dikaitkan dengan dosa, ketidaktaatan, atau ketidakberdayaan. Pandangan ini mencerminkan konteks budaya dan sosial pada zaman ketika teks-teks tersebut ditulis, di mana disabilitas sering dianggap sebagai hukuman ilahi atau tanda ketidakberuntungan. Sebagai contoh, dalam Yohanes 9:13, murid-murid Yesus bertanya apakah kebutaan seseorang disebabkan oleh dosa orang tersebut atau dosa orang tuanya, menunjukkan asumsi umum bahwa disabilitas adalah hasil dari dosa. Dalam Yohanes 5:1-15. Yesus menyembuhkan seorang pria yang telah lumpuh selama 38 tahun dan mengingatkannya untuk tidak berbuat dosa lagi, seolah mengaitkan penyakit dengan dosa. Kisah penyembuhan orang lumpuh dalam Markus 2:1-12 juga menunjukkan kaitan antara dosa dan disabilitas ketika Yesus pertama-tama mengatakan. AuHai anak-Ku, dosamu sudah diampuni,Ay sebelum menyembuhkan pria tersebut. Dalam Keluaran 4:11. Tuhan berkata kepada Musa bahwa Dialah yang membuat orang bisu, tuli, atau buta, menunjukkan bahwa disabilitas dianggap sebagai hasil tindakan ilahi. Pandanganpandangan ini menunjukkan bahwa disabilitas sering dipahami dalam konteks negatif dalam Alkitab, yang mencerminkan pemahaman budaya pada saat itu. Namun, penting untuk diingat bahwa ada juga banyak contoh dalam Alkitab di mana Yesus dan tokoh-tokoh lain menunjukkan belas kasihan, penerimaan, dan penyembuhan terhadap individu dengan disabilitas, menunjukkan bahwa perspektif yang lebih inklusif dan penuh kasih juga ada dalam teks-teks tersebut. Melihat ayat-ayat ini melalui perspektif disabilitas, kita bisa menantang pandangan-pandangan tradisional yang negatif dan menginterpretasikan kembali teks-teks ini untuk mendukung inklusi, penerimaan, dan martabat bagi semua individu, terlepas dari disabilitas mereka. Terdapat dua pendekatan dalam menafsirkan teks-teks Alkitab yang berhubungan dengan disabilitas. Pendekatan pertama adalah membaca teks secara literal, yang menekankan bahwa penyembuhan dalam disabilitas diperlukan sehingga iman berperan penting dalam upaya penyembuhan. Dengan kata lain, kondisi disabilitas dianggap menunjukkan dangkalnya iman seseorang. Pendekatan kedua menekankan pembacaan secara metaforis, artinya keadaan disabilitas berhubungan dengan keadaan lain yang disimbolkannya. Dengan pembacaan metaforis ini, disabilitas sering dikaitkan dengan hal-hal negatif, seperti Pendekatan-pendekatan ini cenderung melihat disabilitas sebagai keadaan yang negatif. Disabilitas dipandang sebagai akibat dosa, kurangnya iman, sesuatu yang ingin dieliminasi, dan ketidaktaatan (Sinaga, 2023: . Pendekatan literal dan metaforis dalam menafsirkan teks-teks Alkitab yang berhubungan dengan disabilitas sering kali membawa implikasi yang kurang menguntungkan bagi penyandang disabilitas. Pendekatan literal, yang menekankan bahwa penyembuhan disabilitas diperlukan dan mengaitkannya dengan iman, dapat memperkuat pandangan bahwa disabilitas adalah hasil dari kurangnya iman atau Beyond Boundaries: Mengundang yang Terpinggirkan ke Meja Perjamuan (Tafsir Lukas 14:12-14 melalui Perspektif Disabilita. Volume 5 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. hubungan yang buruk dengan Tuhan. Hal ini dapat mengakibatkan penyandang disabilitas merasa tertekan atau disalahkan atas kondisi mereka, alih-alih menerima dukungan yang mereka butuhkan. Pendekatan metaforis, di sisi lain, sering kali mengaitkan disabilitas dengan hal-hal negatif seperti dosa atau ketidaktaatan. Ketika disabilitas dijadikan simbol untuk kelemahan spiritual atau moral, ini tidak hanya menstigmatisasi kondisi fisik atau mental seseorang, tetapi juga memperkuat stereotip negatif yang sudah ada di masyarakat. Penyandang disabilitas bisa dianggap sebagai perwujudan dari dosa atau kesalahan, yang semakin mengisolasi dan mendiskriminasi mereka. Kedua pendekatan ini cenderung mengabaikan realitas disabilitas sebagai bagian dari keragaman manusia. Mereka tidak menawarkan perspektif yang inklusif atau empati terhadap penyandang disabilitas. Dalam upaya mengembangkan pemahaman yang lebih adil dan manusiawi, sejumlah teolog dan sarjana telah mengusulkan pendekatan alternatif. Salah satunya adalah Deborah Beth Creamer dengan AuThe Limits ModelAy, yang menawarkan cara pandang baru terhadap disabilitas, bukan sebagai kekurangan atau simbol dosa melainkan sebagai bagian dari pengalaman manusia yang wajar dan bermakna (Creamer, 2009: 6-. Sebaliknya, penafsiran yang lebih inklusif dan adil perlu dikembangkan, yang tidak melihat disabilitas sebagai kondisi yang negatif atau harus dihilangkan, tetapi sebagai bagian dari keberagaman manusia yang sama-sama berharga di hadapan Tuhan. Pendekatan seperti ini dapat membantu dalam mengubah persepsi masyarakat dan membangun lingkungan yang lebih menerima dan mendukung bagi penyandang disabilitas. Upaya membebaskan penyandang disablitas dari berbagai bentuk diskriminasi sosial, dapat dimulai dari keluarga dan gereja terlebih dahulu. Namun sayangnya masih banyak gereja dan bahkan keluarga dari penyandang disabilitas melihat bahwa disabilitas merupakan sebuah aib yang perlu ditutup rapat-rapat. Oleh sebab itu, banyak penyandang disabilitas yang tersingkir dari masyarakat. Mengapa sampai demikian? Banyak gereja yang masih menganggap bahwa penyandang disabilitas sebagai suatu ketidaksempurnaan, dan ketidaksempurnaan tersebut membuat para penyandang disabilitas tersingkir dari golongan manusia lain yang dipandang segambar dengan Allah. Dari sini dapat dilihat bahwa betapa pentingnya menafsirkan Alkitab melalui perspektif disabilitas agar banyak warga jemaat tidak salah kaprah mengenai pemahaman tentang disabilitas. Sebelum sampai pada upaya pembacaan Alkitab melalui perspektif disabilitas, perlu diketahui bahwa ada 3 tantangan yang perlu dihadapi. Pertama, teks Alkitab lahir dari budaya yang menjunjung tinggi konsep AukenormalanAy . , di mana tubuh dan pengalaman penyandang disabilitas sering kali dimarginalkan atau dianggap tidak utuh. Kedua, mayoritas tafsir Alkitab merupakan produk dari sudut pandang non-disabilitas, atau seperti yang disebut Amos Yong sebagai normate perspective, yaitu perspektif orang-orang yang terbiasa menganggap pengalaman Adila Sekar Pambayun Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies tubuh mereka sebagai standar umum bgai semua orang. Tafsir semacam ini, secara sadar atau pun tidak memuat normate bias, yaitu prasangka yang menganggap pengalaman tubuh mereka sebagai penyimpangan dari norma. Ketiga, konteks masyarakat kita saat ini masih sangat dipengaruhi oleh cara pandang yang menjunjung tinggi kesempurnaan fisik dan kognitif. Sehingga disabilitas sering kali dipandang sebagai bentuk penyimpangan, kutukan, atau kelemahan spiritual. Oleh karena itu, seperti yang disarankan Amos Yong, kita perlu menerapkan hermeneutik kecurigaan, bukan untuk mencurigai teks Alkitab itu sendiri melainkan terhadap tradisi tafsir yang selama ini membentuk cara pandang terhadap disabilitas (Yong, 2011: 11, . Untuk memahami lebih dalam bagaimana pandangan Alkitab mengenai disabilitas dapat dibaca menjadi lebih inklusif, penelitian akan mencoba membaca Lukas 14:12-14 melalui perspektif disabilitas. Dalam teks ini. Yesus mengajarkan pentingnya mengundang orang-orang miskin, cacat, lumpuh, dan buta ke dalam perjamuan, menekankan bahwa mereka yang sering diabaikan oleh masyarakat harus dihargai dan diterima. Ini bukan hanya ajakan untuk melakukan perbuatan baik, tetapi merupakan panggilan radikal untuk mengubah cara pandang dan perilaku terhadap penyandang disabilitas. Melalui perspektif ini, kita dapat melihat bahwa Yesus mengajarkan nilai inklusivitas dan penghargaan terhadap martabat manusia tanpa memandang kondisi fisik atau status sosial. Gereja dan masyarakat diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang menghargai keberagaman dan menghilangkan hambatan yang menghalangi partisipasi penuh penyandang disabilitas. Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan metode analisis naratif untuk menganalisis teks Lukas 14:12-14 dari perspektif disabilitas. Metode ini dipilih karena cocok untuk penelitian teologis yang mendalam dan interpretatif. Penelitian dimulai dengan kajian pustaka yang meliputi tinjauan tafsir Alkitab tradisional dan modern, serta literatur mengenai teologi disabilitas dan konsep solidaritas dalam teologi Kristen. Sumber data utama penelitian ini adalah teks Lukas 14:1214, didukung oleh literatur teologis yang relevan, seperti buku dan artikel jurnal. Analisis teks dilakukan melalui beberapa tahap. Pertama, analisis naratif untuk memahami struktur, plot, dan karakter dalam teks tersebut, serta bagaimana narasi ini membangun tema solidaritas melalui interaksi Yesus dengan tamu-tamu dan tuan rumah ditinjau dari perspektif disabilitas. Kedua, penelusuran tema-tema kunci yang muncul dalam narasi dan bagaimana tema-tema ini berkaitan dengan pengalaman penyandang disabilitas. Ketiga, analisis kontekstual untuk memahami latar belakang sosial dan budaya pada zaman Yesus, serta bagaimana pandangan terhadap disabilitas pada masa itu mempengaruhi narasi ini. Pembacaan teks Lukas 14: 12- Beyond Boundaries: Mengundang yang Terpinggirkan ke Meja Perjamuan (Tafsir Lukas 14:12-14 melalui Perspektif Disabilita. Volume 5 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. 14 melalui perspektif disabilitas diharapkan mampu mengungkapkan spiri solidaritas dan inklusivitas yang relevan bagi komunitas penyandang disabilitas dalam konteks teologi Kristen. Disabilitas sebagai Perspektif Pembacaan Teks Disabilitas adalah istilah yang merujuk pada kondisi fisik, mental, intelektual, atau sensorik yang secara jangka panjang dapat menyebabkan hambatan dalam berpartisipasi secara penuh dan efektif dalam masyarakat, setara dengan orang lain (Disability Support Service. Disabilitas sendiri merupakan konsep yang luas, mencakup keterbatasan aktivitas, pembatasan partisipasi, serta berbagai bentuk hambatan yang dihadapi individu dalam lingkungan fisik maupun sosial (UNESCO, 2. Mengutip dari britannica. com (Weida, 2. , sejarah menunjukkan bahwa penyandang disabilitas telah menjadi bagian dari masyarakat sejak jaman kuno. Di peradaban Mesopotamia, mereka bahkan memiliki peran religius dikuilkuil sebagai pelayan dewa. Di Yunani kuno, bukti arkeologis seperti jalur landai di kuil Asclepius menunjukkan adanya upaya aksesibilitas bagi mereka yang memiliki hambatan mobilitas. Namun, emahaman terhadap disabilitas mengalami perubahan besar seiring waktu. Pada abad pertengahan, disabilitas mulai dipandnag secara negatif seringkali dikaitkan dengan kerasukan atau hukuman dari Tuhan hingg menyebabkan penyandang disabilitas dikurung dan dijauhkan dari masyarakat. Pandangan ini berubah di era Pencerahan ketika disablitas mulai dilihat sebagai kondisi biologis yang dapat ditangani secara medis, meski pun tetap ada kecenderungan untuk melembagakan mereka. Pada abad ke-19, ideologi augenika mememperparah diskriminasi terhadap penyandang disabilitas, mereka dianggap sebagai ancaman sosial, yang puncaknya terjadi dalam rezim Nazi melalui pembunuhan massal. Terlepas dari sejarah kelam ini, abad ke-20 membawa harapan baru dengan muncul gerakan bebas hambatan dan hidup mandiri, yang menantang model medis dan melahirkan model sosial disabilitas . endekatan yang menekankan pentingnya penghapusan hambatan sosial, struktural, dan sikap diskriminatif agar tercipta masyarakat inklusi. Pembacaan teks Alkitab dengan perspektif disabilitas adalah suatu metode penafsiran yang berupaya menafsirkan dan memahami narasi Alkitab dengan memperhatikan pengalaman, suara, dan realitas penyandang disabilitas. Pendekatan ini bertujuan untuk menantang dan mengoreksi bias AukenormalanAy yang telah mengakar kuat dalam budaya penulisan dan penafsiran Alkitab, serta membebaskan penyandang disabilitas dari posisi sebagai objek penderita menuju subjektivitas yang utuh dalam komunitas iman . o author, 2024: . Langkah awal yang perlu dilakukan dalam pembacaan teks berdasarkan perspektif disabilitas adalah mengidentifikasi teks-teks yang berkaitan dengan pengalaman disabilitas Adila Sekar Pambayun Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies seperti misalnya narasi penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus. Christ H. Hulshof dalam bukunya yang berjudul AuJesus and DisabilityAy menjelaskan bahwa ia memilih narasi Alkitab yang memuat mukjizat penyembuhan yang berkaitan langsung dengan disabilitas sebagai fondasi untuk mengembangkan pola kepemimpianan gerejawi yang inklusif (Hulshof, 2022: Kemudian menganalisis bagaimana disabilitas itu dipahami dalam konteks budaya dan teologis masa itu. Berbeda dengan Hulshof, penulis memilih teks yang tidak berkaitan dengan mukjizat. teks Lukas 14:12-14 hanya menunjukkan bagaimana Yesus menyuruh orang yang hendak mengadakan perjamuan makan mengundang orang-orang termarginalkan seperti orang miskin dan orang disabilitas . alam teks disebutkan orang cacat, lumpuh dan but. hendak menyoroti bagaimana Yesus mencoba mengangkat status sosial dari penyandang disabilitas tersebut dalam kehidupan sosial mereka. Berkaitan dengan hal ini, penulis menggunakan model-model disabilitas sebagai alat bantu untuk menganalisis teks. Modelmodel disabilitas adalah kerangka konseptual yang digunakan untuk memahami, menjelaskan, dan menangani disabilitas dalam masyarakat. Model-model ini mencerminkan cara pandang yang berbeda tentang apa itu disabilitas, penyebabnya, dan bagaimana masyarakat harus Pada bagian ini, penulis hanya akan berfokus pada 2 model yaitu model sosial dan model solidaritas untuk menganalisis tindakan Yesus dalam Lukas 14:12-14. pemilihan teks ini tidak menyoroti bagaimana Yesus menyembuhkan mereka secara fisik namun juga secara sosial. Pada model sosial disabilitas menganggap bahwa disabilitas bukanlah hasil langsung dari gangguan fisik atau mental individu, melainkan dari hambatan yang diciptakan oleh lingkungan sosial. Model ini menegaskan bahwa penderitaan dan ketidakmampuan yang dialami oleh orang dengan disabilitas lebih disebabkan oleh sikap, struktur, dan kebijakan sosial yang tidak inklusif. Misalnya, seseorang di kursi roda hanya terbatas jika bangunan dan fasilitas umum tidak dirancang untuk aksesibilitas (McKenny, 2012: 4-. Dengan demikian, solusi untuk disabilitas bukan terletak pada upaya untuk AumemperbaikiAy individu, tetapi pada perubahan dalam masyarakat untuk menghilangkan hambatan dan memungkinkan partisipasi penuh orang dengan berbagai kemampuan. Meskipun model sosial disabilitas menawarkan pandangan yang lebih inklusif dan progresif dengan menekankan pentingnya perubahan sosial untuk menghilangkan hambatan bagi orang dengan disabilitas, model ini memiliki beberapa kelemahan. Pertama, model ini cenderung mengabaikan aspek medis dan fisik dari disabilitas yang tetap memerlukan perhatian medis. Kedua, model ini mungkin terlalu optimis dalam mengasumsikan bahwa semua hambatan dapat diatasi dengan perubahan sosial, sementara beberapa hambatan mungkin tidak sepenuhnya dapat Ketiga, fokus eksklusif pada perubahan sosial bisa mengabaikan kebutuhan Beyond Boundaries: Mengundang yang Terpinggirkan ke Meja Perjamuan (Tafsir Lukas 14:12-14 melalui Perspektif Disabilita. Volume 5 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. individu yang memerlukan bantuan atau adaptasi khusus yang lebih personal. Terakhir, model sosial bisa kurang praktis dalam situasi darurat atau di konteks di mana perubahan sosial memerlukan waktu yang lama, sementara individu dengan disabilitas mungkin menghadapi tantangan mendesak yang memerlukan solusi segera. Oleh karena itu, pendekatan yang holistik yang menggabungkan aspek medis dan sosial mungkin lebih efektif dalam menangani kompleksitas disabilitas. Berbeda dengan model sosial, model solidaritas menekankan bahwa semua manusia, pada dasarnya, rentan terhadap ketidakmampuan atau gangguan di berbagai titik dalam hidup mereka. Model ini menyoroti bahwa ketidakmampuan atau gangguan tidak hanya dialami oleh sebagian orang, tetapi merupakan bagian dari kondisi manusia yang universal. Dengan demikian, tidak ada garis pemisah yang tegas antara yang disebut AunormalAy dan Autidak normalAy. Solidaritas ini mendorong kita untuk melihat semua individu sebagai bagian dari komunitas manusia yang sama, tanpa mengisolasi mereka yang memiliki gangguan atau Ini menekankan bahwa hubungan yang sejati antara individu, seperti keramahan dan persahabatan, tidak harus didasarkan pada otonomi dan kemandirian, melainkan pada penerimaan dan dukungan timbal balik, yang bisa terjadi bahkan di antara mereka yang tidak sepenuhnya mandiri (McKenny, 2012: 8-. Model ini mencoba menggabungkan aspek-aspek positif dari model sosial sambil menghindari kekurangannya, dengan menekankan bahwa semua manusia memiliki nilai dan tempat dalam masyarakat. Model solidaritas disabilitas, yang menekankan bahwa ketidakmampuan atau gangguan adalah bagian universal dari kondisi manusia, memiliki beberapa kelemahan. Pertama, dengan menyamakan semua orang sebagai rentan terhadap ketidakmampuan, model ini bisa mengaburkan kebutuhan khusus dan unik yang dihadapi oleh individu dengan disabilitas tertentu, sehingga mengurangi urgensi untuk menyediakan dukungan dan sumber daya yang Kedua, meskipun menyoroti pentingnya hubungan timbal balik dan dukungan komunitas, model ini mungkin kurang memberikan panduan praktis tentang bagaimana merancang kebijakan dan program yang efektif untuk mendukung individu dengan disabilitas secara Ketiga, dalam upayanya untuk menghindari isolasi, model ini berisiko meremehkan tantangan nyata yang dihadapi oleh orang dengan disabilitas dalam mencapai inklusi dan partisipasi penuh dalam masyarakat. Terakhir, dengan menekankan solidaritas dan kesetaraan, model ini mungkin mengabaikan peran penting otonomi individu dan kemandirian, yang tetap menjadi tujuan penting bagi banyak orang dengan disabilitas. Pendekatan yang seimbang, yang mengakui kerentanan universal sambil tetap memperhatikan kebutuhan khusus, mungkin lebih efektif dalam mencapai inklusi sosial yang sejati. Pemilihan kedua model ini didasarkan pada relevansi dan potensi mereka dalam menawarkan wawasan yang mendalam tentang bagaimana teks tersebut dapat dipahami Adila Sekar Pambayun Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies dan diterapkan dalam konteks disabilitas modern. Model sosial menyoroti pentingnya perubahan dalam lingkungan sosial untuk menghilangkan hambatan bagi orang dengan disabilitas, sementara model solidaritas menekankan kesetaraan dan penerimaan universal terhadap ketidakmampuan atau gangguan sebagai bagian dari kondisi manusia. Dengan menggunakan kedua model ini, penulis bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana tindakan Yesus dalam Lukas 14:12-14 dapat dilihat sebagai upaya untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif dan mendukung. Yesus dan Batasan-batasan Sosial Pendekatan terhadap disabilitas sering dimulai dengan asumsi Aunormalitas,Ay yang menekankan apa yang tidak bisa dilakukan oleh penyandang disabilitas. Misalnya, jika kita melihat orang yang menggunakan kursi roda dari perspektif orang yang bisa berjalan, kita cenderung fokus pada keterbatasan orang tersebut. Ini adalah respons historis yang tercermin dalam model medis, di mana tubuh fisik dibandingkan dengan ideal medis dan didiagnosis berdasarkan kekurangannya. Sebaliknya, model batasan menawarkan perspektif Memahami kemanusiaan dari sudut pandang disabilitas dapat memberikan visi yang lebih realistis tentang keterbatasan manusia. Batasan kemudian bisa dilihat dan dibandingkan tanpa konotasi negatif, melainkan sebagai bagian dari keberadaan manusia yang normal (Creamer, 2009: . Batasan adalah aspek umum dalam kehidupan manusia yang sering kita abaikan atau Kata AuterbatasAy biasanya memiliki konotasi negatif, menandakan kekurangan dan Cohen menjelaskan bahwa dalam konteks sosial, batasan-batasan tidak hanya ditentukan oleh fakta dan hukum, tetapi juga oleh kesadaran dan pengalaman. Masyarakat sering menginvestasikan batasan-batasan mereka dengan simbolisme yang kuat karena batasan-batasan ini merupakan bagian integral dari identitas mereka dan merupakan predikat dari budaya mereka. Dalam antropologi, istilah AuboundaryAy . merujuk pada pengalaman dan kesadaran ini, yang tidak selalu jelas dan bisa berubah-ubah. Batasanbatasan ini tidak hanya terdapat antara kelompok sosial yang berbeda, tetapi juga di antara individu-individu yang berbagi budaya yang sama. Cohen menunjukkan bahwa masyarakat cenderung menentukan dan mempertahankan batasan-batasan sosial karena batasanbatasan tersebut memberikan identitas dan makna bagi mereka, dan karena batasanbatasan tersebut adalah hasil dari interaksi sosial dan konstruksi simbolik yang dinamis (Cohen, 1994: . Creamer mengusulkan pandangan yang lebih positif tentang batasan sebagai karakteristik alami dari keberadaan manusia. Batasan bukan hanya sekadar alternatif yang Beyond Boundaries: Mengundang yang Terpinggirkan ke Meja Perjamuan (Tafsir Lukas 14:12-14 melalui Perspektif Disabilita. Volume 5 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. tidak menguntungkan dari kemahakuasaan, tetapi sesuatu yang melekat pada sifat manusia. Jeffrey Cohen dan Gail Weiss mencatat bahwa batasan tidak selalu membatasi. mereka juga bisa menciptakan dan memungkinkan berbagai hal dalam konteks budaya. Istilah AuterbatasAy sering dianggap negatif dan berfokus pada kekurangan, sedangkan AubatasAy menyoroti adanya batas-batas alami dalam kehidupan kita. Refleksi tentang batasan manusia mengingatkan kita bahwa batasan, meskipun bisa ditembus, adalah hal yang wajar dan diperlukan (Creamer, 2009: 93-. Jika budaya bukan sesuatu yang memiliki kekuatan menentukan atas orang, maka budaya harus dianggap sebagai hasil dari proses sosial atau interaksi sosial. Dalam pandangan ini, kita melihat orang sebagai agen aktif dalam menciptakan budaya, memungkinkan mereka untuk membentuknya sesuai keinginan dan kemampuan mereka, yang merupakan aspek penting dalam politisasi identitas budaya (Cohen, 1994: . Dalam perjalanan pelayanan Yesus, terdapat berbagai batasan sosial, budaya, dan religius diciptakan dan dipelihara, dengan konsekuensi signifikan ketika batasan-batasan tersebut dilanggar. Salah satu batasan sosial yang ada adalah pembagian berdasarkan kasta dan status sosial, seperti kaum miskin, wanita, pemungut cukai, dan orang berdosa. Masyarakat Yahudi pada masa itu sangat menjaga batasan ini, dengan kelompok-kelompok tertentu dihindari atau dipandang rendah oleh yang lainnya. Namun. Yesus sering bergaul dengan pemungut cukai dan orang berdosa, serta menyembuhkan orang sakit tanpa memandang status sosial mereka, seperti yang tercatat dalam Matius 9:10-11. AuKemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa, dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Ay Pelanggaran terhadap batasan ini membuat Yesus sering dikritik oleh pemimpin agama dan sosial, menyebabkan ketidakpercayaan dan konflik. Batasan budaya dan etnis juga sangat kuat, dengan hubungan antara orang Yahudi dan non-Yahudi yang dibatasi. Orang Yahudi umumnya tidak bergaul dengan non-Yahudi dan menghindari wilayah mereka. Namun. Yesus menunjukkan kasih kepada orang non-Yahudi, seperti menyembuhkan hamba dari seorang perwira Romawi (Matius 8:5-. dan berbicara dengan wanita Samaria di sumur (Yohanes 4:7-. Tindakan Yesus ini menantang norma sosial dan menimbulkan kontroversi di antara para pemimpin Yahudi yang lebih konservatif. Dalam konteks religius, ketaatan pada Hukum Taurat sangat ketat, dengan pemimpin agama Yahudi sangat ketat dalam menegakkan aturan hukum. Yesus sering menantang interpretasi tradisional dari Hukum Taurat, seperti penyembuhan pada hari Sabat (Lukas 13:10-. dan mengizinkan murid-Nya memetik gandum pada hari Sabat (Markus 2:23-. Pelanggaran terhadap hukum agama menyebabkan konflik langsung dengan pemimpin agama seperti Farisi dan Saduki. Bait Allah dan sinagoga juga merupakan pusat utama kegiatan keagamaan, di mana hanya tindakan yang telah ditentukan yang diizinkan. Adila Sekar Pambayun Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Yesus mengusir para penukar uang dari Bait Allah, yang dianggap mencemari tempat suci (Matius 21:12-. , memicu kemarahan besar di kalangan pemimpin agama dan dianggap sebagai ancaman terhadap otoritas mereka (Kloppenborg, 2006: . Konsekuensi dari pelanggaran batasan-batasan ini sangat signifikan. Yesus dan murid-murid-Nya sering kali dianggap sebagai pemberontak sosial dan agama, menyebabkan mereka diasingkan dan mengalami penindasan. Puncak dari pelanggaran-pelanggaran ini adalah penangkapan, pengadilan, dan penyaliban Yesus, yang merupakan bentuk hukuman tertinggi dari otoritas Romawi dan Yahudi saat itu (Matius 26:57-68, 27:27-. Secara keseluruhan. Yesus menantang dan melampaui banyak batasan yang ada pada zamannya, membawa perubahan sosial yang signifikan, tetapi juga menghadapi risiko dan konsekuensi besar bagi diri-Nya dan pengikut-Nya. Tafsir Lukas 14: 12-14 melalui Perspektif Disabilitas Budaya AukenormalanAy dalam teks-teks Alkitab terlihat jelas dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, di mana tokoh-tokoh seperti nabi, raja, dan hakim digambarkan sebagai orang yang Aunormal. Ay Teks Alkitab cenderung memarjinalisasi orang dengan disabilitas (ODD) dalam budaya dan masyarakat. Penelitian menunjukkan bahwa Perjanjian Lama menggambarkan manusia sempurna sebagai yang tinggi, berkulit cerah, dan kuat, sementara orang dengan kecacatan digambarkan sebagai timpang, buta, atau berpenyakit kulit. Dalam Perjanjian Baru. Yesus digambarkan sebagai laki-laki AunormalAy tanpa cacat, dan kecacatan dipandang sebagai masalah agama dan sosial yang signifikan. Penulis Injil menekankan bahwa orang AucacatAy perlu Audinormalkan,Ay sehingga cerita-cerita mukjizat penyembuhan Yesus berfungsi dalam konteks budaya ini. Para pengikut Yesus berusaha agar komunitas mereka bebas dari cacat (Setyawan, t. : . Namun, terdapat paradoks dalam teks Alkitab yang juga menunjukkan bahwa Allah memilih nabi-nabi yang tidak sempurna secara fisik atau kondisi lainnya untuk menggenapi rencana-Nya. Misalnya. Musa memiliki masalah bicara (Keluaran 4:. Yakub yang pincang setelah bergulat dengan malaikat (Kejadian 32:25-. , dan Paulus yang memiliki Auduri dalam dagingAy . Korintus 12:7-. yang sering dianggap sebagai suatu bentuk disabilitas atau penyakit kronis. Ini menunjukkan bahwa antara yang ideal dengan realitanya sangat berbeda. Pilihan Allah atas individu-individu yang tidak sempurna ini menunjukkan bahwa disabilitas tidak mengurangi nilai atau kemampuan seseorang dalam melayani dan memuliakan Tuhan. Dengan demikian, meskipun teks Alkitab dapat digunakan untuk memarjinalisasi ODD dalam konteks budaya tertentu, contoh-contoh nabi yang tidak sempurna justru menekankan bahwa semua individu, terlepas dari kondisi fisiknya, dapat menjadi alat yang kuat dalam tangan Tuhan. Beyond Boundaries: Mengundang yang Terpinggirkan ke Meja Perjamuan (Tafsir Lukas 14:12-14 melalui Perspektif Disabilita. Volume 5 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. Relasi kekuasaan dalam membentuk penafsiran Alkitab selama berabad-abad hingga kini sering dimanfaatkan untuk kepentingan mereka yang dianggap normal. Sebagai akibatnya, pandangan ini sering kali memperlakukan orang dengan disabilitas sebagai penerima belas kasihan dari individu yang dianggap normal. Tokoh-tokoh seperti Justius Martir. Agustinus, dan Rudolf Bultman secara langsung atau tidak langsung menafsirkan teks Alkitab untuk kepentingan manusia Aunormal. Ay Orang dengan disabilitas sering dianggap sebagai objek penderita yang memerlukan perhatian, rehabilitasi, dan Aumujizat penyembuhanAy dari mereka yang Aunormal. Ay Penyandang disabilitas dianggap sebagai orang yang tidak beruntung dan perlu dibantu oleh orang yang dianggap normal (Setyawan, t. : . Pendekatan semacam ini mengabaikan pengalaman hidup orang dengan disabilitas dan memperkuat pandangan yang memarjinalkan mereka. Perjamuan Makan sebagai Sarana Perubahan Sosial Adegan makan dalam Injil Lukas lebih banyak ditemukan di bagian tengah Injilnya, sebuah bagian yang dianggap sebagai kontribusi paling khas dan mencolok dari Lukas sebagai seorang penginjil. Pada bagian ini. Yesus digambarkan secara jelas sebagai seorang guru yang mengajarkan murid-muridnya dan berdebat dengan para kritikusnya, sambil terus berjalan menuju tujuan akhirnya, yaitu Yerusalem. Motif AuperjalananAy ini menyediakan kerangka sastra yang ideal bagi Lukas untuk menempatkan ajaran dan dialog Yesus yang sebagian besar berasal dari tradisi khusus yang tersedia baginya atau yang ia bagi dengan Matius. Dan perangkat AubingkaiAy yang lebih kecil namun tidak kalah penting untuk materi tersebut adalah pengaturan meja. Maka, di tengah-tengah kisah perjalanan Lukas, kita menemukan unit AuSimposium MejaAy yang ditempatkan secara strategis di Lukas 14:1-24. Kemudian, jauh di dalam narasi . epatnya di akhir perjalanan di Yerusale. Lukas, seniman sastra terkemuka dari Perjanjian Baru, menyeimbangkan unit tersebut dengan kompleks serupa dalam pasal 22, ayat 14-38, yang merupakan adegan Perjamuan Terakhir. Banyak filsuf dan penulis kuno . eperti Plato dan Xenofo. menggunakan perangkat naratif percakapan saat makan sebagai sarana untuk menyampaikan pemikiran. Di sini. Lukas mungkin mengikuti motif dan model simposium saat ia mengaitkan diskursus meja Yesus dengan mode pengajaran ini. Seringkali dalam Injil Lukas. Yesus digambarkan mengajar saat Audi meja. Ay Namun, dua contoh yang paling panjang dan sangat berpengaruh jelas adalah yang ditampilkan dalam Lukas 14 dan 22 (Kelley, 1995: . Dalam catatan Lukas tentang makan malam, sering kali terjadi situasi tegang dan Pada makan malam ketiga yang dihadiri Yesus di rumah seorang Farisi, terjadi penyembuhan yang tidak disetujui oleh tuan rumah dan tamu-tamunya, diikuti dengan keheningan setelah pertanyaan-pertanyaan retoris dari Yesus. Lukas menggambarkan Adila Sekar Pambayun Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies suasana makan malam dengan sofa yang disusun di tiga sisi persegi panjang, memungkinkan semua tamu untuk saling melihat dan berinteraksi. Menurut tradisi, tuan rumah biasanya menentukan tempat duduk tamu berdasarkan status sosial mereka untuk mendorong percakapan yang baik. Namun, dalam perjamuan ini, para tamu memilih tempat mereka sendiri, mencerminkan prinsip egalitarian yang dipegang oleh beberapa orang seperti Timon, saudara Plutarkhos, yang percaya bahwa membiarkan tamu memilih tempat duduk mereka sendiri lebih adil (Vinson, 2008: . Dalam perikop ini. Yesus menantang kebiasaan sosial pada zamannya dengan menyerukan agar orang-orang mengundang mereka yang miskin, lumpuh, timpang, dan buta ke dalam perjamuan mereka. Perjamuan makan memiliki arti penting dalam budaya Yahudi pada zaman Yesus. Ini bukan hanya tentang konsumsi makanan, tetapi juga tentang pertemuan sosial dan ekspresi solidaritas antara anggota komunitas. Perjamuan makan sering kali menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan sosial, memperlihatkan kedermawanan, dan menunjukkan status sosial. Dalam masyarakat Yahudi pada zaman itu, undangan untuk perjamuan makan adalah tanda penghargaan dan integrasi sosial, sementara penolakan undangan dapat dianggap sebagai tindakan penolakan atau pengucilan (Levine dan Brettler, 2. Perjamuan makan sebagai seremoni berfungsi untuk memperkuat sistem nilai dan peran sosial dalam komunitas tertentu. Dalam konteks ini, perjamuan bersifat sentripetal, yang berarti kelompok tersebut berfokus ke dalam untuk menguatkan status sosial anggotanya. Peran sosial seseorang menentukan apakah ia diundang ke perjamuan dan di mana tempat duduknya. Sifat sentripetal ini menciptakan batas yang jelas antara anggota komunitas dan yang bukan, sehingga pengkotak-kotakan sosial tidak terhindarkan. Dalam budaya Yahudi, undangan perjamuan makan diberikan kepada mereka yang bisa memberikan keuntungan atau balasan serupa, mencerminkan hubungan timbal balik yang Perjamuan makan dianggap sebagai transaksi sosial, sehingga orang miskin dan mereka dengan status sosial rendah, seperti penyandang disabilitas, tidak diundang karena dianggap tidak mampu memberikan timbal balik yang setara. Dalam masyarakat yang sangat menghargai status sosial, penyandang disabilitas tidak mendapat tempat dalam perjamuan karena dianggap tidak berguna untuk meningkatkan status sosial orang lain. Mereka dipinggirkan dari komunitas dan dianggap sebagai outsider, terpisah dari struktur sosial yang ada (Sinaga, 2023: 119-. Berdasarkan hal tersebut, dapat dilihat dengan jelas bahwa Yesus secara eksplisit menabrak batas-batas sosial dengan mengundang kelompok-kelompok yang terpinggirkan ke dalam ruang sosial yang biasanya eksklusif. Yesus menggunakan perjamuan makan sebagai cara untuk menekankan bahwa status sosial penyandang disabilitas adalah setara dengan orang Dengan menempatkan mereka yang dianggap rendah oleh masyarakat pada posisi yang Beyond Boundaries: Mengundang yang Terpinggirkan ke Meja Perjamuan (Tafsir Lukas 14:12-14 melalui Perspektif Disabilita. Volume 5 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. sama dalam perjamuan. Yesus menunjukkan bahwa semua orang memiliki nilai yang sama di hadapan Tuhan. Melalui analisis interseksional, kita dapat melihat bagaimana ajaran Yesus ini menyoroti ketidakadilan sosial yang dialami oleh penyandang disabilitas dan mendorong kita untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan adil. Yesus tidak hanya mengajar tentang inklusivitas, tetapi juga secara praktis mencontohkannya dengan melibatkan orangorang yang terpinggirkan dalam perjamuan-Nya. Ini menantang pandangan tradisional dan menegaskan bahwa di Kerajaan Allah, tidak ada perbedaan antara yang AunormalAy dan yang Autidak normalAy. Pendekatan Yesus mengajak kita untuk melampaui batasan sosial yang ada dan mengakui martabat dan nilai setiap individu tanpa memandang kondisi fisik mereka. Model Disabilitas yang Digunakan Yesus dalam Lukas 14: 12-14 Dalam perikop ini. Yesus menunjukkan dua model disabilitas sekaligus. Pertama. Yesus menunjukkan model sosial disabilitas dalam Lukas 14:12-14 dengan mengajarkan bahwa hambatan sosial dan eksklusi, bukan kondisi fisik atau mental, adalah yang sebenarnya menciptakan ketidakmampuan. Yesus menantang norma sosial zamannya dengan menyerukan agar orang-orang mengundang mereka yang miskin, lumpuh, timpang, dan buta ke dalam perjamuan. Dengan tindakan ini. Yesus menggarisbawahi bahwa ketidakadilan yang dialami oleh orang-orang dengan disabilitas lebih disebabkan oleh sikap dan kebijakan sosial yang diskriminatif. Model sosial disabilitas berfokus pada mengubah lingkungan dan masyarakat untuk menghilangkan hambatan yang menghalangi partisipasi penuh orang dengan disabilitas. Yesus, melalui ajaran-Nya, menyoroti bahwa masalah utama yang dihadapi oleh penyandang disabilitas bukanlah kondisi mereka, tetapi kurangnya inklusivitas dan aksesibilitas dalam masyarakat. Dengan mengundang mereka yang biasanya terpinggirkan ke dalam perjamuan. Yesus menekankan bahwa solusi bagi disabilitas terletak pada perubahan sosial yang menghapus eksklusi dan menciptakan kesempatan yang sama bagi semua orang. Yesus mengajarkan bahwa setiap individu memiliki nilai dan martabat yang sama, dan bahwa masyarakat harus beradaptasi untuk memastikan semua anggotanya dapat berpartisipasi secara penuh. Tindakan-Nya mencerminkan pandangan bahwa ketidakmampuan bukanlah atribut individu, tetapi konsekuensi dari lingkungan yang tidak mendukung. Dengan mendobrak batas-batas sosial melalui perjamuan makan. Yesus mengajarkan bahwa inklusi sosial dan keadilan adalah kunci untuk mengatasi ketidakmampuan. Dalam konteks ini. Yesus menunjukkan bahwa perubahan sikap dan kebijakan sosial dapat mengubah cara masyarakat memperlakukan orang dengan disabilitas, dari objek belas kasihan menjadi subjek yang setara dan dihormati. Dengan demikian, ajaran Yesus dalam Lukas 14:12-14 menginspirasi upaya untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, di mana semua orang, terlepas dari kondisi fisik atau mental mereka, dapat hidup dengan martabat dan kebebasan penuh. Adila Sekar Pambayun Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Kedua. Yesus menampilkan model solidaritas disabilitas dalam Lukas 14:12-14 dengan menekankan pentingnya inklusi dan persamaan hak bagi semua orang, terlepas dari kondisi fisik atau status sosial mereka. Perdebatan mengenai kristologi, baik di ranah gereja maupun masyarakat, sering kali menyoroti Yesus sebagai sosok yang sempurna dan penyelamat, sehingga menarik kepercayaan lebih besar akan kemampuan-Nya untuk menyelamatkan Namun, pandangan ini dapat menyebabkan kurangnya perhatian terhadap bagaimana Yesus berhubungan dengan penyandang disabilitas. Tarigan menawarkan sebuah kristologi yang lebih inklusif dan dapat diterima oleh penyandang disabilitas, yaitu kristologi Kristologi ini menggambarkan Yesus sebagai pribadi yang, meskipun setara dengan Allah, bersedia mengambil rupa manusia dan mengalami penderitaan bersama umat manusia, termasuk penyandang disabilitas (Tarigan, 2016: . Solidaritas Yesus terlihat jelas dalam pelayanan-Nya yang penuh perhatian terhadap orang-orang dengan disabilitas, melalui berbagai kisah penyembuhan yang dilakukan-Nya. Yesus menunjukkan model solidaritas yang mendalam dalam Lukas 14:12-14. Dia menasihati untuk mengundang orang miskin, cacat, lumpuh, dan buta ke dalam perjamuan, tindakan yang merefleksikan penerimaan dan penghormatan tanpa syarat. Tindakan ini menegaskan bahwa yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir dalam Kerajaan Allah. Ini menunjukkan bahwa status manusia tidak berarti apa-apa di mata Allah, dan bahwa Allah akan menjatuhkan yang perkasa dan meninggikan yang rendah, terutama mereka yang merendahkan diri mereka sendiri. Pemahaman akan gambaran Allah yang tidak sempurna menyoroti solidaritas Allah dengan umat manusia, bukan menurunkan kesempurnaanNya. Hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya berhubungan dengan manusia dalam keadaan sempurna dan ideal, tetapi juga dalam kondisi ketidaksempurnaan dan kelemahan. Solidaritas Allah memperlihatkan bahwa Dia tidak mengabaikan atau menolak manusia karena kekurangan atau cacat mereka, tetapi justru terlibat secara aktif dalam kehidupan mereka, memberikan kasih, pertolongan, dan penghiburan. Dengan cara ini, gambaran Allah yang tidak sempurna menggambarkan bahwa kesempurnaan-Nya bukanlah tentang ketiadaan kelemahan atau cacat, tetapi tentang kehadiran-Nya yang penuh kasih dan solidaritas dalam segala situasi kehidupan manusia. Pada ayat 14 Yesus berkata AuDan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benarAy berdasarkan perkataan Yesus tersebut penulis melihat bahwa maksud Yesus menekankan mengenai eskatologis adalah karena Yesus hendak menunjukkan bahwa sambutan yang diberikan terhadap orangorang terpinggirkan . ang dalam perikop ini ditujukan kepada orang disabilita. sama halnya dengan memberikan sambutan kepada Yesus sendiri. Dengan melakukan hal Beyond Boundaries: Mengundang yang Terpinggirkan ke Meja Perjamuan (Tafsir Lukas 14:12-14 melalui Perspektif Disabilita. Volume 5 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. tersebut, seseorang tidak hanya menunjukkan kasih dan kebaikan kepada sesama, tetapi juga secara tidak langsung menyambut Yesus sendiri, karena Yesus mengidentifikasi diriNya dengan yang paling hina dan terlupakan. Aksi ini bukan hanya tindakan sosial atau moral, tetapi juga tindakan eskatologis yang menempatkan seseorang dalam relasi yang benar dengan Allah dan mengungkapkan solidaritas dengan Yesus. Carel Hot Asi Siburian dan Asigor Parongna Sitanggang mengupas eskatologi etika dalam Matius 25:31-46, yang mengajarkan bahwa kriteria penghakiman di akhir zaman bukanlah iman, melainkan sikap dan perbuatan terhadap sesama, terutama mereka yang lemah dan miskin. Istilah Auwajah Allah yang tersembunyiAy merujuk pada konsep bahwa kehadiran dan identitas Yesus Kristus seringkali tidak dikenali oleh manusia, terutama dalam bentuk mereka yang hina, lemah, dan miskin. Ini berarti bahwa Yesus hadir di antara kita dalam wujud yang tidak terduga dan seringkali dipinggirkan oleh masyarakat (Siburian dan Sitanggang, 2024: . Konsep ini menekankan pentingnya melihat kehadiran ilahi dalam bentuk yang tidak konvensional dan bahwa kebaikan yang dilakukan kepada orang-orang yang tampaknya tidak berpengaruh atau tidak dihargai sebenarnya merupakan kebaikan yang dilakukan kepada Yesus sendiri. Yesus mengajarkan bahwa kebaikan yang dilakukan terhadap yang paling hina di antara kita adalah bentuk penghormatan kepada-Nya sendiri. Penutup Pendekatan Yesus dalam mengatasi disabilitas menantang pandangan tradisional yang mendiskriminasi dan memarjinalkan. Dengan menyambut dan mengundang mereka yang terpinggirkan ke dalam perjamuan. Yesus tidak hanya menekankan inklusivitas dan persamaan hak, tetapi juga menunjukkan bahwa setiap individu memiliki nilai yang sama di hadapan Tuhan. Pendekatan ini menginspirasi kita untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif dan adil, di mana tidak ada perbedaan antara yang AunormalAy dan yang Autidak normal. Ay Ajaran Yesus dalam Lukas 14:12-14 memberikan kita pandangan yang mendalam tentang bagaimana ketidakmampuan dan disabilitas seharusnya diperlakukan dalam masyarakat. Yesus mengajarkan bahwa dalam kerajaan Allah, tuan rumah harus mengundang mereka yang tidak bisa membalas, termasuk orang miskin dan penyandang disabilitas, sebagai bentuk perilaku kerajaan yang mencerminkan kasih tanpa syarat. Ini menekankan bahwa semua orang, termasuk penyandang disabilitas, harus diperlakukan sebagai setara, tanpa ekspektasi Keramahan sejati bukanlah sekadar saling mengundang teman, tetapi menyambut mereka yang kurang beruntung dan duduk bersama di meja, menciptakan persekutuan yang Dalam komunitas Kristen, tidak ada yang harus dianggap sebagai Auproyek,Ay melainkan semua orang harus diperlakukan dengan penghormatan dan kasih sebagai sesama manusia Adila Sekar Pambayun Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies (Craddock, 1990: . Yesus mengajarkan bahwa orang miskin, lumpuh, timpang, dan buta tidak hanya layak untuk diundang ke perjamuan tetapi juga bahwa mereka memiliki tempat istimewa dalam Kerajaan Allah. Ini merupakan pesan yang sangat kuat dalam konteks budaya yang sering kali meminggirkan individu dengan disabilitas. Dengan memprioritaskan mereka yang terpinggirkan. Yesus menunjukkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh status sosial atau kemampuan fisiknya, melainkan oleh martabat dan cinta kasih yang diberikan oleh Allah kepada setiap individu. Perjamuan makan, dalam budaya Yahudi pada zaman Yesus, adalah sebuah simbol penting dari solidaritas dan hubungan sosial. Dengan mengundang mereka yang terpinggirkan. Yesus secara radikal merombak struktur sosial yang ada, menantang normanorma yang mengeksklusi dan memarjinalkan individu berdasarkan status sosial atau fisik Ini menekankan bahwa inklusi dan penerimaan adalah inti dari pesan Injil. Dalam ajaran dan tindakan-Nya. Yesus tidak hanya berbicara tentang cinta dan penerimaan, tetapi juga mencontohkannya secara nyata. Melalui tindakan konkret. Yesus menunjukkan bahwa inklusivitas dan penerimaan tidak hanya sekadar konsep teologis, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Yesus mempraktikkan inklusi dengan melibatkan mereka yang dianggap tidak berharga oleh masyarakat dalam perjamuan-Nya. Ini adalah contoh nyata dari bagaimana kita seharusnya memperlakukan orang lain, terutama mereka yang sering kali diabaikan dan dipinggirkan. Yesus mengajarkan bahwa kebaikan dan kasih kepada sesama adalah cerminan dari kasih kita kepada Tuhan. Pendekatan Yesus mengajak kita untuk melampaui batasan sosial yang ada dan mengakui martabat serta nilai setiap individu, tanpa memandang kondisi fisiknya. Ajaran ini tetap relevan dan menginspirasi upaya modern dalam menciptakan komunitas yang lebih inklusif dan menghormati semua anggotanya. Di akhir zaman, tindakan kebaikan dan penerimaan ini akan mendapat penghargaan dari Tuhan, sebagaimana Yesus katakan. AuSebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar. Ay Pandangan ini menegaskan bahwa inklusivitas dan keadilan sosial adalah bagian integral dari ajaran Yesus dan harus menjadi landasan bagi setiap komunitas yang mengikuti-Nya. Gereja dan masyarakat modern dapat menerapkan ajaran ini dengan menciptakan lingkungan yang inklusif dan aksesibel bagi semua orang, melalui kebijakan yang mendukung aksesibilitas fisik dan program-program yang mengatasi stigma serta menyediakan dukungan bagi mereka yang terpinggirkan. Dengan demikian. Lukas 14:12-14 mengajarkan tentang penerimaan tanpa syarat dan pemulihan martabat, serta mendorong pembangunan masyarakat yang adil dan inklusif, di mana semua orang dihargai dan diberdayakan Beyond Boundaries: Mengundang yang Terpinggirkan ke Meja Perjamuan (Tafsir Lukas 14:12-14 melalui Perspektif Disabilita. Volume 5 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. Daftar Pustaka