Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 DUPLIKASI WAYANG BEBER TAWANG ALUN PACITAN Tri Hartanto 1. Agoes Hendriyanto 2. Muhammad Rafid M 3 Email: rumahwayangb@gmail. Corresponding author email: rafid. musyffa@gmail. Email: rafidmusyafaa21@gmail. Abstract Wayang Beber Tawang Alun is an intangible cultural heritage typical of Pacitan. East Java, consisting of six scrolls with a total of 23 stories. Based on the candrasengkala AuGawe Srabi Jinamah Wong,Ay this artifact is estimated to have originated from 1614 Saka . 2 AD). Increasing age and physical vulnerability make the original artifact no longer suitable for use in Therefore, this study aims to preserve and develop Wayang Beber through duplication activities, so that it can still be used as an educational and performance medium without damaging the original artifact. This study uses a qualitative descriptive method with the objects of study including the process of making daluang paper, sungging techniques, and dissemination of works. The results of the duplication of six replica scrolls show the effectiveness of a collaborative preservation strategy between local and national artists. Replicas not only maintain visual aspects and narrative values, but also become educational media that strengthen cultural identity and the regeneration of traditional art actors in a sustainable manner. Keywords: Wayang Beber, cultural preservation, daluang paper, sungging technique, intangible cultural heritage PENDAHULUAN Istilah "budaya" memiliki akar yang Dalam literatur kebudayaan modern, cukup tua dan menarik dalam peradaban Williams . Pada mulanya, kata ini digunakan "culture" adalah salah satu dari tiga kata yang dalam dunia pertanian untuk merujuk pada paling kompleks dalam bahasa Inggris karena aktivitas merawat dan mengolah tanaman penggunaannya yang luas dan bervariasi. atau hewan. Seiring waktu, makna budaya Dari pemahaman tentang budi pekerti hingga meluas dan berkembang menjadi konsep bentuk-bentuk ekspresi kesenian, budaya yang kompleks dalam ranah sosial, politik, telah mengalami pergeseran makna dari dan peradaban manusia. sesuatu yang hanya bersifat material menjadi representasi nilai dan makna simbolik. Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Salah satu tokoh awal Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945 menyatakan bahwa negara bertanggung jawab dalam dalam konteks modern adalah (Matthew Arnold, 1. Dalam karyanya Culture and Indonesia sebagai bagian dari peradaban Anarchy . Arnold menyatakan bahwa Pelaksanaan dari UUD tersebut, ddiperkuat melalui Undang-Undang Nomor 5 literatur dan seni yang mendalam. Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan (Pemerintah RI, 2. mengkritik pandangan yang menyempitkan Undang-undang tersebut menetapkan budaya hanya sebagai bentuk elitisme estetis bahwa negara memiliki tanggung jawab tidak yang jauh dari realitas sosial. hanya dalam pelestarian budaya, tetapi juga Namun. Arnold menekankan bahwa pemajuan, perlindungan, dan pemanfaatan budaya seharusnya menjadi instrumen untuk secara berkelanjutan. Hal ini mencerminkan upaya negara dalam menjaga warisan budaya sekadar bentuk konsumsi kalangan terpelajar. agar tetap relevan dan dinamis di tengah Budaya dalam pandangannya harus berperan perkembangan global. aktif dalam memperbaiki kondisi moral dan Salah satu bentuk budaya yang menjadi spiritual masyarakat secara keseluruhan. fokus pelestarian adalah seni pertunjukan Dengan kata lain, budaya bukan hanya tradisional, seperti Wayang Beber. UNESCO tentang seni, tetapi juga tentang etika dan . cita-cita sosial. Di sisi lain, pendekatan antropologis pertunjukan, dan pengetahuan tradisional, ke seperti yang dikemukakan oleh Tylor . dalam kategori yang harus dilindungi. Wayang Beber merupakan salah satu contoh kompleks dari pengetahuan, kepercayaan, warisan budaya takbenda yang memiliki nilai seni, hukum, moral, adat istiadat, dan sejarah dan estetika tinggi. kemampuan-kemampuan lain yang diperoleh Duplikasi atau reproduksi Wayang Beber Pendekatan ini memperluas makna budaya pelestarian budaya. Dalam konteks ini, teori menjadi cara hidup kolektif. Cultural Reproduction dari Bourdieu . Pandangan tentang pentingnya budaya juga ditegaskan dalam konstitusi Indonesia. relevan digunakan. Teori ini menjelaskan Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya dipertahankan dan direproduksi oleh suatu Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Sunan Kalijaga disebut sebagai tokoh kelompok sosial dalam rentang waktu penting dalam menyelaraskan Wayang Beber Dalam Wayang Beber, nilai-nilai Islam. Dengan menyederhanakan bentuk pertunjukan dan penggambaran cerita dilakukan melalui gulungan gambar di atas kertas atau daluang, menjadikan Wayang Beber sebagai media yang kemudian dibacakan oleh dalang. dakwah yang efektif. Ini menunjukkan Praktik ini merupakan bentuk seni visual kemampuan seni budaya untuk beradaptasi yang kaya akan simbolisme dan nilai-nilai terhadap perubahan sosial dan religius. etis, sekaligus menjadi sarana komunikasi budaya yang sangat kuat di masa lampau. Wayang Beber Tawang Alun hingga turun-temurun Wayang Beber Pacitan, khususnya keluarga pewaris di Dusun Tawang Alun, versi Tawang Alun, dipercaya berasal dari Desa Gedompol. Kecamatan Donorojo, tahun 1614 Jawa atau 1692 M, sesuai Kabupaten Pacitan. Pewaris ke-13. Tri sengkalan "Gawe Srabi Jinamah ing Wong". Hartanto. Cerita ini mengangkat kisah Jaka Kembang Wayang Beber merupakan hadiah dari Prabu Kuning, yang berbeda dengan Wayang Beber Brawijaya kepada Ki Roro Naladremo, yang Wonosari yang mengangkat lakon Remeng kemudian diwariskan dari generasi ke Mangunjoyo. Bahan utama Wayang Beber adalah Peninggalan ini dipercaya berasal dari daluang, sejenis kertas dari kulit pohon yang Keraton dan berhasil diselamatkan saat memiliki nilai sakral. Menurut Pigeaud peristiwa Geger Pacinan pada tahun 1742 M. daluang awalnya digunakan untuk Konteks pelestarian budaya, usaha menjaga keperluan keagamaan atau busana, sebelum dan mendokumentasikan artefak seperti kemudian difungsikan sebagai media tulis Wayang Beber adalah wujud nyata dari atau gambar dalam pertunjukan Wayang praktik konservasi kultural yang disebut Beber, terutama pada masa transisi Majapahit Lowenthal menuju era Islam. "dibangun kembali" oleh ingatan kolektif Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa . ) sebagai warisan yang Wayang Beber telah ada sebelum era Pelestarian Wayang Beber melalui Kerajaan Majapahit, bahkan sejak masa pendekatan adaptif dan teknologi mutakhir Kerajaan Jenggala di Kediri (Sumanto. Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya multimodalitas dari (Kress. Gunther. Van Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 menyebabkan interpretasi terhadap tokoh- Leeuwen, 2. Teori ini menekankan tokoh utama menjadi bervariasi dan rancu. pentingnya mengemas pesan budaya ke Hasil Sintya, dalam berbagai bentuk simbolik agar mudah Hendriyanto. , dengan judul diakses oleh khalayak modern, terutama AuSimbolisme Dan Makna Dalam Ritual generasi muda. Suguh Sesaji Kesenian Jaranan Pegon Kyai Wayang Beber tidak hanya menjadi Menggung Desa Mangunharjo, warisan budaya yang disakralkan, tetapi juga Kecamatan Arjosari. Kabupaten Pacitan sebagai media edukasi dan inspirasi kreatif. mengkaji makna sesaji dalam pertunjukan Upaya Jaranan Pegon. Pacitan. Walaupun sama- kekuatan budaya dalam membangun jati diri sama memilih pertunjukan di wilayah bangsa sekaligus menjaga kesinambungan Pacitan, namun subyek dan obyeknya nilai-nilai luhur dalam arus globalisasi yang semakin deras. Sementara Menurut penelitian Warto . , duplikasi Wayang Beber Tawang Alun lebih Wayang Beber Pacitan adalah seni tradisi yang langka dan unik, tidak ditemukan di Wayang Beber tempat lain. Warto menyoroti keunikan seni pembuatan replika. Replika ini dibuat untuk tradisi Wayang Beber secara umum. Hasil melindungi wayang beber asli dari kerusakan kajian Permadi T . , konsentrasi pada yang mungkin terjadi jika digunakan secara sebagai salah satu upaya penyelamatan teknologi tradisional nusantara. Urgensi pelestarian Wayang Beber Tawang Alun melalui proses duplikasi Penelitian Sunaryo A. bertujuan terletak pada kebutuhan untuk menjaga untuk menafsir dan mengidentifikasi ulang keberadaan warisan budaya yang kian rapuh tokoh-tokoh utama dalam wayang beber Jaka Kembang Kuning asal Pacitan yang terdiri Duplikasi tidak hanya dari 24 adegan visual. Keragaman ekspresi melestarikan bentuk fisik artefak, tetapi juga wajah, bentuk mata, sikap tubuh, dan busana mempertahankan nilai estetika, narasi cerita, membuat beberapa tokoh sulit dikenali secara dan ajaran moral yang terkandung di Tidak adanya naskah baku dan Mengingat artefak asli memiliki perbedaan penuturan dari para dalang nilai historis tinggi dan rentan terhadap Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 lebih dalam makna dan peran seni Wayang memungkinkan seni tradisional ini untuk Beber tetap hidup dan dikenalkan secara lebih luas pelestarian yang dilakukan oleh komunitas kepada masyarakat, khususnya generasi muda yang menjadi kunci keberlanjutan Metode pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta pengumpulan dokumentasi lapangan METODE PENELITIAN Penelitian berupa foto dan video pertunjukan, yang Wayang Beber. metode studi kasus (Sugiyono, 2. Wawancara dengan melibatkan narasumber Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji seperti: ahli waris seni Wayang Beber, tokoh pelestarian tradisi Wayang Beber di Pacitan, masyarakat, seniman lokal, dan pemerintah. yang memiliki nilai budaya yang tinggi Teknik analisis data menggunakan analisis sebagai bagian dari warisan seni Indonesia. tematik untuk mengidentifikasi tema-tema Pembuatan replica 6 gulung wayang beber utama yang muncul dari hasil wawancara dan observasi, serta multimodal analysis untuk Replika wayang beber akan mengeksplorasi aspek visual dan simbolis menyelamatkan artefact wayang beber asli dalam pertunjukan Wayang Beber. yang telah berusia 333 tahun. Tempat penelitian mengambil lokasi di HASIL DAN PEMBAHASAN Kabupaten Wonogiri. Kabupaten Pacitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Sleman duplikasi enam gulung replika Wayang Yogyakarta. Waktu penelitian dimulai dari Beber Tawang Alun memiliki peran penting Bulan Desember 2024 sampai Agustus 2025. dalam upaya pelestarian dan pengembangan Salah satu pusat pelestarian Wayang seni tradisional. Hasil duplikasi ini dipandang Beber yang penting terletak di Dusun sebagai aset budaya yang strategis karena Karangtalun. Desa Gedompol. Kecamatan mampu mempertahankan aspek visual seni Donorojo. Kabupaten Pacitan. Penelitian ini tradisi sekaligus menjaga narasi cerita dan mengadopsi pendekatan kualitatif deskriptif nilai-nilai dengan menggunakan metode etnografi (Spradley James, 1. untuk memahami Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Kegiatan mereproduksi bentuk asli Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Replika Wayang Beber digunakan Wayang Beber dalam medium kertas daluang secara aktif dalam kegiatan pementasan dan ataupun mirip dengan medium artefact aslinya, untuk memberikan karya estetis yang komunitas budaya, maupun dalam event seni mirip dengan artefact aslinya. Selain itu juga tradisional yang lebih luas. Penggunaan duplikasi Wayang Beber lebih mudah dipelihara dan digunakan, upaya pelestarian frekuensi pertunjukan ditingkatkan tanpa menjadi lebih inklusif dan berkelanjutan. risiko kerusakan terhadap artefak asli. Penggunaan replika memungkinkan warisan Melalui masyarakat menjadi lebih terpapar dengan bentuk seni ini, sehingga dapat mendorong nilai historis tinggi. kekayaan budaya lokal. Proses duplikasi Wayang Beber ini mengorbankan artefak asli yang memiliki Selain sebagai media hiburan dan estetika, pementasan Wayang Beber juga seniman dari beberapa kota di Indonesia, difungsikan sebagai sarana edukatif yang termasuk seniman spesialis kertas daluang, memperkenalkan nilai-nilai moral, sejarah. Ahmad Bandung. dan identitas budaya Jawa kepada generasi Keterlibatan seniman dari luar daerah muda secara lebih kontekstual dan menarik. menunjukkan bahwa pelestarian Wayang Artikel ini membahas terkait terkait Beber bukan hanya menjadi tanggung jawab proses pembuatan duplikat Wayang Beber komunitas lokal semata, tetapi juga menarik yang dimulai dari mempersiapkan media perhatian praktisi seni dan budaya dari sungging berupa 6 lembaran kertas daluang. tingkat nasional. Di sisi lain, komunitas lokal Ukuran tiap lembaran dengan ukuran 0,8 cm Mufid Sururi x 4,4 m, persiapan kertas daluang, proses duplikasi dengan teknik sungging, desiminasi hasil duplikasi berupa 6 gulung replika dalam Wayang Beber. Hal ini mencerminkan Wayang Beber. Berikut peneliti uraiakan pola pelestarian yang berbasis kolaborasi, proses replica atau duplikasi dengan Teknik sungging, serta desiminasi duplikasi Wayang nilai-nilai pemberdayaan masyarakat. Beber Tawangalun. Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Kertas Tradisional Daluang Tri Hartanto Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 wilayah, yaitu Kecamatan Leles. Lebakjero, dan Ngamplang di Kabupaten Garut serta Dokumentasi Karya Pengetahuan maestro Kecamatan Majalaya dan Cicalengka di 2024 dengan judul AuDuplikasi Wayang Beber Kabupaten Bandung. Tawangalun. Pacitan untuk media duplikasi Proses pembuatan daluang di yang Wayang beber gunakan kertas tradisional dilakukan di Tenggilis Bandung dilakukan Daluang. Kertas Daluang dibuat dari kulit melalui beberapa tahapan, dimulai dari Pohon Saeh yang bias tumbuh baik di dataran pengulitan kayu dan penghilangan kulit ari rendah maupun tinggi. untuk memperoleh bagian tengah kulit yang Menurut Permadi T . , pohon Setelah itu, kulit kayu direndam Saeh yang dikenal secara ilmiah sebagai semalam agar menjadi lunak, lalu dilipat Broussonetia papyrifera atau Papermulberry menjadi sepertiga panjang aslinya dan dalam bahasa Inggris tumbuh luas di berbagai dipukul agar melebar. Tiga helai kulit wilayah Indonesia dan memiliki sebutan kemudian disatukan dan dipukul kembali untuk membentuk lembaran yang lebih lebar Minangkabau dikenal sebagai Jeluang, di dan menyatu. Setelah proses ini, bahan Basemah disebut Sepukau, di Kepulauan direndam lagi selama semalam dalam proses Seram disebut Malak, di Benggal disebut yang disebut diseuseuh. Terakhir, bahan Linggawas, di Tembuku dikenal sebagai Bea, dijemur di bawah sinar matahari dengan cara Ivo, atau Iwo, di Sumba disebut Kembala ditempelkan pada batang pohon pisang dan atau Rowa, di Madura disebut Dhalubang, di diratakan menggunakan daun ki kandel Jawa dikenal dengan nama Dluang, dan di (Hoya spec. ), hingga menghasilkan kertas daerah Sunda disebut Saeh. yang halus dan rata (Permadi T, 2. Menurut Misalnya. Ekadjati . Wirasoetisna . dan Noorduyn . , pembuatan daluang atau kertas sayh di Kampung Tunggilis menggunakan kulit kayu pohon sayh (Broussonetia papyrifera VENT). Karena pohon sayh tidak banyak tumbuh di kampung tersebutAihanya sekitar dua hingga tiga pohon yang dipelihara sebagai contoh Gambar 1. Pohon Zaeh berusia 4 bulan bahan bakunya didatangkan dari beberapa Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Media kertas Daluang tim duplikasi Wayang Beber Tawangalun Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Donorojo Pacitan memesan kepada pengrajin Mufid dari Bandung. Bahan baku kertas Daluang Zaeh ketelitian yang sangat tinggi. Apalagi kertas Daluang yang sangat baik jika sebagai media Wayang Beber. Cat Gambar 1. Potongan pohon Saeh 2 meter (Foto: Ahmad Mufid Masrur. Pengupasan Kulit Kayu disungging di kertas Daluang tidak berubah Pohon Saeh yang telah ditebang harus dan bias diberikan lapisan cat lainnya dibersihkan dari kulit bagian luarnya. Kulit sehingga akan membentuk struktur warna kayu dari pohon Saeh atau daluang dikupas yang khas. Hal ini berbeda jika gunakan secara hati-hati dengan alat sederhana seperti kertas selain Daluang. Selain meniru artefact pisau tajam. Pengupasan dilakukan untuk asli Wayang Beber yang menggunakan kertas memisahkan bagian luar yang keras dari Daluang sebagai media sunggingnya. lapisan dalam yang halus. Proses ini penting Berikut karena lapisan dalam kulit kayu merupakan Daluang oleh pengrajin Ahmad Mufid bahan utama pembuatan kertas daluang. Masruri Bandung. Bagian luar yang lebih kasar dan gelap Pemotongan Pohon Zaeh dibuang agar tidak menurunkan kualitas Pohon Zaeh (Broussonetia papyrifer. Pengupasan biasanya dimulai dari salah yang sudah ditebang kemudian dipotong satu ujung batang dan dilakukan perlahan sembari disayat jika diperlukan. bagian-bagian Pemotongan ini bertujuan untuk selanjutnya, seperti pengupasan kulit dan Bagian terutama adalah kulit kayunya yang masih segar agar mudah diolah menjadi bahan dasar kertas daluang. Gambar 2. Pengupasan Kulit (Foto: Ahmad Mufid Masrur. Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Pemisahan Lapisan Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Luar Pembersihan Kulit Kulit yang digunakan, bagian dalam kulit pohon Saeh. Setelah kulit luar dilepas, akan tampak lapisan dalam yang lebih cerah, lembut, dan lentur. Lapisan ini dibersihkan dari sisa-sisa kulit luar menggunakan alat seperti pisau tumpul atau scraper. Proses ini dilakukan untuk memastikan hanya lapisan Gambar 4. Perendaman Kulit 24 jam (Foto: Ahmad Mufid Masrur. Pemukulan Serat dengan Teknologi Tradisional Setelah dipukul-pukul menggunakan alat tradisional seperti palu kayu atau batu. Tujuannya adalah untuk meratakan dan menghaluskan serat sehingga membentuk lembaran yang tipis. Gambar 3. Pemisahan Lapisan Luar dan Pembersihan Kulit (Foto: Ahmad Mufid Masrur. Proses mencerminkan kearifan lokal masyarakat pembuat kertas daluang. Irama pukulan bahkan menjadi bagian dari budaya turun- Perendaman Kulit Daluang Kulit daluang yang telah dibersihkan Proses utama dari pembuatan Daluang Perendaman ini berfungsi untuk melunakkan yaitu, kulit kayu dipukul-pukul atau ditempa tekstur kulit serta mempersiapkan bahan dengan menggunakan alat pukul berupa dasar agar lebih mudah ditumbuk dan batangan tembaga, hingga menjadi lembaran. dibentuk menjadi lembaran. Proses ini Kemudian dilipat dan dipukul kembali dilakukan di wadah tradisional seperti bak hingga menjadi lembaran kertas Daluang. atau ember. Kulit kayu bagian dalam yang telah dikupas, direndam selama 24 jam, agar kotoran yang ada pada kulit bagian dalam Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Kulit yang telah bersih ditempa satu per satu untuk membentuk lembaran. Gambar 5. Pemukulan Serat l (Foto: Ahmad Mufid Masrur. Perendaman Ulang Setelah Pemukulan Setelah dipukul, kulit daluang kembali direndam untuk melembutkan serat lebih lanjut dan memudahkan proses penyamakan. Gambar 7. Penyamakan (Foto: Ahmad Mufid Masrur. Proses ini dimulai dengan 18 lembar kulit yang masing-masing telah dipotong sesuai ukuran. Teknik penempaan dilakukan bolak-balik agar serat menyatu kuat. Dua lapis pertama digabung menjadi empat lapis dan terus ditempa. Proses ini diulang hingga membentuk satu lembar panjang sekitar 4 meter, menghasilkan bahan kertas yang kokoh dan lentur. Gambar 6. Perendaman Ulang (Foto: Ahmad Mufid Masrur. Proses Penempaan Lanjutan dan Finishing Awal Proses penempaan dilanjutkan hingga menghilangkan sisa-sisa serat kasar yang menjadi sempurna. Pengrajin melakukan Pemeriksaan bahan sebelum masuk tahap berikutnya. sebelum pengeringan. Proses ini dilakukan Penempaan Lembaran Proses pemeraman kertas Daluang dilakukan untuk memastikan kebersihan Penyamakan tiga hari sebelum pengeringan untuk menjaga kestabilan bahan. dilakukan selama 3 atau 5 malam dengan menggunakan daun pisang, agar serat-serat kulit pohon Saeh menjadi semakin saling Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Gulungan dimasukkan ke kotak khusus yang dilengkapi lampu listrik untuk membantu pengeringan Setelah itu, permukaan kertas daluang dihaluskan kembali agar siap digunakan untuk proses kalkir dan sungging dalam Gambar 8. Penempaan Lanjutan dan Finishing Awal (Foto: Ahmad Mufid Masrur. pembuatan Wayang Beber. Penghalusan ini Pengeringan Kertas Daluang Lembaran daluang yang telah ditempa digulung dan dikeringkan untuk mengurangi kadar air. Pengeringan dilakukan di ruangan teduh dengan cara diangin-anginkan, tidak terkena sinar matahari langsung. Tujuannya agar permukaan kertas tetap halus dan tidak Pembuatan kertas tradisional Daluang memiliki satu proses yang berbeda jika yang dibuat memiliki ukuran yang besar. Proses pengeringan kertas tradisional Daluang yang memiliki ukuran besar tidak menggunakan menggunakan papan besar dengan alas kain. Gambar 10. Kertas Daluang Siap Dikirim Kertas daluang yang telah selesai menggambar tokoh-tokoh Wayang Beber. Pewarnaan tradisional menggunakan bahan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan. Proses ini membutuhkan ketelitian dan keahlian tinggi agar hasil akhirnya menyerupai karya asli wayang yang telah berusia ratusan tahun. Duplikasi Wayang Beber Tawangalun. Donorojo Pacitan Duplikasi Wayang Beber Tawangalun Donorojo Pacitan, gunakan teknik sungging. Gambar 9. Pengeringan Kertas Daluang (Foto: Ahmad Mufid Masrur. Teknik yang dipilih oleh Tri Hartanto dalam menyelesaikan Duplikasi Wayang Beber dengan memilih teknik sungging, metode Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya tradisional yang digunakan untuk mewarnai Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 memilih gambar dari Museum Nasional dan memperindah permukaan wayang di atas Etnografi di Leiden. Belanda (Rijksmuseum media kertas daluang, untuk hasilkan detail Proses ini menjadi bagian penting wayang beber asli dengan nomor inventaris dalam pembuatan duplikasi Wayang Beber Lombard . menilai bahwa Tawang Alun, khususnya dalam rangkaian koleksi tersebut terdiri dari beberapa fragmen yang indah dan bernilai seni tinggi. Alasan Berdasarkan Sutopo . , proses Volkenkund. Faris Wibisono gambar Wayang Beber dari pewarnaan sungging dalam seni wayang Leiden mempunyai kemiripan terdiri dari tiga jenis sunggingan dengan Wayang fungsi dan penerapan yang berbeda. Pertama. Pacitan. Gambar tersebut hasil dari gambar digital Wayang Beber yang tersimpan di pewarnaan, di mana satu warna digunakan Beber Tawangalun. Donorojo Museum Leiden Belanda. untuk melapisi seluruh tubuh wayang, kecuali pada bagian busana . odot wayan. Warna ini sering diberikan kontur untuk mempertegas bentuk dan menjadi dasar bagi elemen warna lainnya. Kedua, warna sorotan atau susun diterapkan dengan gradasi warna, mulai dari putih ke warna terang, lalu ke warna sedang, hingga warna gelap. Teknik kedalaman, sehingga memberikan nuansa dinamis pada karakter wayang. Ketiga, warna runan menggunakan kombinasi dua warna kontras, seperti merah dan hijau, pada satu Metode ini menonjolkan detail melalui kontras tajam, memberikan daya tarik visual, serta memperkaya estetika pewarnaan wayang. Penelitian. Sutopo . menyatakan bahwa sunggingan pada Wayang Beber tidak memiliki aturan atau ciri khas tertentu. Namun demikian, seni tradisi Jawa mengenal lima warna pokok, yaitu hitam . , putih . , merah . , biru, dan kuning emas . uning ma. Faris Wibisono, seniman yang terlibat dalam proses sungging dalam Dokumentasi Karya Pengetahuan Maestro berjudul Duplikasi Faris Wibisono yang mendapatkan tugas melakukan duplikasi Gambar 11. Bahan dan alat Sungging Wayang Beber, menjelaskan bahwa proses wayang beber Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya sungging dilakukan secara sangat detail. Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Wayang Beber Tawangalun. Kertas kalkir pemberian warna putih pada kertas daluang, diletakkan di atas pola asli dan gambar sketsa, prosesi kalkir, penerapan warna dasar, ditelusuri menggunakan pensil atau pena mengisi isen-isen atau ornamen bunga, memberikan karakter terutama pada tokoh dalam cerita Wayang Beber. Gambar dihamparkan di lantai untuk diberikan warna Proses pewarnaan awal sungging dasar putih secara merata. Tahap pewarnaan menggunakan warna-warna dasar hitam dasar dimulai dengan memberikan warna untuk memberikan penguatan pada karakter dasar putih pada seluruh permukaan gambar Wayang Beber Tawangalun. yang telah dikalkir, kecuali pada area seperti Pewarnaan perhiasan atau ornamen khusus. Warna dasar dilakukan oleh satu penyungging yang seperti hitam, oranye muda, merah bata, dan dianggap paling menguasai ilmu sungging. cokelat kemerahan diaplikasikan secara Selain dari kalkir lembaran daluang yang merata menggunakan kuas halus untuk hasil telah siap juga dilakukan oleh penyungging yang rapi. yang telah berpengalaman. Ketelitian memastikan ketebalan dan kerataan warna putih sangat penting untuk mempermudah proses sketsa Wayang Beber Tawangalun. Hasil kalkir ini kemudian digunakan sebagai penyempurnaan detail. Seniman membuat Gambar 12. Kalkir, pelapisan dengan warna dasar, pewarnaan hitam sebagai karakter sketsa awal pada permukaan kulit atau kertas daluang, menampilkan ornamen dan karakter sesuai cerita. Garis utama pada sketsa kertas daluang, yang dipesan dari pengrajin dipertegas dengan alat ukir tipis sebagai Mufid asal Bandung, berukuran 0,8 cm x 4,4 panduan pewarnaan. Pemilihan Proses kalkir Wayang Beber Tawang Alun di Donorojo dimulai dengan menyalin pola dari sumber asli dari gambar Museum Leiden Belanda yang mempunyai kemiripan Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 tahap ini, detail kecil seperti motif pakaian, ornamen perhiasan, dan ekspresi wajah ditambahkan untuk memperkaya tampilan Seniman memastikan setiap elemen harmonis dan menonjolkan keindahan serta makna dalam gulungan Wayang Beber. Pewarnaan detail ini memperkuat karakter Gambar 13. Proses Penyunggingan Selanjutnya, cerita, menjadikan Wayang Beber tidak hanya indah secara visual tetapi juga sarat makna simbolik dan filosofis. tambahan dengan warna hijau, biru, dan kuning untuk menciptakan efek gradasi yang memberikan kedalaman dan dimensi pada Warna biru bisa mencerminkan ketenangan, sedangkan hijau menciptakan Gambar 14. Proses Detail dengan Menekankan Karakter tiap gambar nuansa kesejukan alam. Penyatuan warna dan tekstur juga diperhatikan, agar transisi antarwarna lebih mulus dan tekstur kulit atau kertas tampak Proses ini menggunakan acuan gambar asli dari cerita Wayang Beber Tawang Alun . erita 1 hingga 4 dalam Proses dilakukan dalam lima tahapan sesuai tingkat lapisan warna. Kerja tim menjadi sangat penting dalam tahap ini, sehingga para penyungging harus memiliki keterampilan yang setara agar hasil akhir konsisten dan berkualitas tinggi. Tahap pewarnaan detil merupakan kelanjutan dari proses pewarnaan dasar. Pada Duplikasi Wayang Beber Tawang Alun ancaman kerusakan dan kehilangan. Namun. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengeksplorasi teknologi reproduksi yang lebih inovatif dan ramah lingkungan. Desiminasi Duplikasi Wayang Beber Tawang Alun Donorojo Pacitan Seni tradisi Wayang Beber, yang sarat dengan nilai historis dan estetika, kembali mendapatkan ruang apresiasi publik melalui kegiatan bertajuk Eksebisi dan Diseminasi Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Karya Wayang Beber. Diselenggarakan di dua lokasi bersejarah, yaitu Gua Song Terus di Pacitan dan Museum Ullen Sentalu di Yogyakarta, acara ini berhasil menarik perhatian masyarakat, pecinta seni, serta kalangan pelajar dan tokoh budaya. Kegiatan desiminasi duplikasi Wayang Beber. Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Gambar 15. Peserta Lomba Mewarnai Wayang Beber Desiminasi duplikasi Wayang Beber AuJagong 1-2Ay, pertunjukan Wayang Beber AuTawang AlunAy, serta peluncuran Buku Wayang Beber Tawang Alun Donorojo. Pacitan sebagai bentuk dokumentasi dan upaya pelestarian. implementasi Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 Pemajuan Kebudayaan, menjadi dasar hukum pelestarian budaya Kegiatan Duplikasi Wayang Beber Tawang Alun Donorojo Pacitan pada Rabu, 11 Juni 2025 di Museum Song Terus. Selain itu juga dilaksanakan lomba mewarnai dan menggambar Wayang Beber Tawangalun, yang diikuti oleh 108 siswa-siswi SD/MI dari Kecamatan Punung dan Donorojo dalam dua sesi kegiatan kreatif, yaitu mewarnai . elas 1Ae. dan menggambar . elas 4Ae. , yang bertujuan memperkenalkan Wayang Beber secara interaktif kepada generasi muda. Gambar 16. Ki Tri Hartanto Melakonkan Cerita 1-4 hasil Duplikasi WB Desimasi duplikasi Wayang Beber Tawangalun Donorojo Pacitan melakukan pameran hasil duplikasi di Museum Ullen Sentalu Yogyakarta. Selain itu juga membedah buku duplikasi Wayang beber Tawangalun Donorojo Pacitan. Melalui dua panggung istimewa ini, kegiata Duplikasi Wayang Beber Tawang Alun Donorojo Pacitan bukan hanya tampil sebagai tontonan, tetapi juga sebagai sarana edukasi, pelestarian budaya, serta penguat Pacitan. Harapannya, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk hadirnya kembali Wayang Beber Pacitan yang selama ini terkendala dengan Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya artefact asli Wayang Beber yang tekah Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Dengan demikian, duplikasi Wayang berusia 333 tahun jika digunakan akan Beber tidak hanya menjadi solusi konservasi semakin rusak. Nilai artefact yang sangat artefak, tetapi juga strategi kultural yang tinggi perlu segera adanya upaya untuk memperluas akses, memperkuat apresiasi, melakukan reserfasi dari artefact asli Wayang dan menjamin keberlanjutan warisan budaya beber Tawangalun. Pacitan. secara lebih inklusif dan adaptif. Simpulan Implikasinya. Duplikasi memberikan peluang besar dalam konteks Wayang Beber Tawang Alun terbukti edukasi, penguatan identitas budaya, serta memainkan peran penting dalam pelestarian seni tradisional Jawa, khususnya dalam berbasis lokal. Penggunaan replika dalam menjaga keberlangsungan aspek visual, pementasan hingga pendidikan di sekolah terkandung di dalamnya. Proses reproduksi dan komunitas, mendorong partisipasi aktif yang dilakukan dengan medium daluang dan masyarakat serta regenerasi pelaku seni teknik sungging menghasilkan karya yang Lebih dari itu, keberhasilan ini mendekati artefak asli, namun lebih mudah menciptakan model pelestarian berbasis dirawat dan digunakan dalam berbagai kolaborasi yang dapat direplikasi untuk konteks edukatif dan pertunjukan. nilai-nilai Kolaborasi antara seniman lokal dan memperkuat ketahanan budaya lokal di nasional menunjukkan bahwa pelestarian tengah tantangan globalisasi dan perubahan Wayang Beber telah menjadi kepedulian bersama, yang mendorong pola pelestarian Pemanfaatan replika dalam berbagai kegiatan budaya dan pendidikan memperkuat peran Wayang Beber tidak hanya sebagai warisan seni, tetapi juga nilai-nilai sejarah, moral, dan identitas budaya bagi generasi muda. Daftar Pustaka