JURNAL COMM-EDU ISSN : 2622-5492 (Prin. 2615-1480 (Onlin. Volume 9 Nomor 1. Januari 2026 ANALISIS PEMBERDAYAAN KADER POSYANDU DALAM PENANGULANGAN STUNTING PADA BALITA DI RT 27 CENDANA KOTA SAMARINDA Shinta Padang1. Ridwan2. HepyTri Winarti3. Muhammad Alisalman4 1,2,3,4 Pendidikan Masyarakat. Universitas Mulawarman . Kalimantan Timur. Indonesia said@fkip. , 2hepytriw@gmail. com, 3alisalmanmuhamad@gmail. Received: Oktober, 2025. Accepted: Januari, 2026 Abstract This study aims to analyze the empowerment of Posyandu cadres in addressing stunting among toddlers in RT 27 Cendana. Teluk Lerong Ulu. Samarinda City. Stunting remains a major public health issue caused by chronic malnutrition and inadequate parenting practices. As the frontliners of communitybased health services. Posyandu cadres play a crucial role in monitoring child growth, providing nutrition education, delivering supplementary feeding programs (PMT), and raising parental awareness. A qualitative descriptive method was applied, with data collected through interviews, observations, and documentation involving Posyandu cadres, health center officers, parents, and community leaders. The findings reveal that cadre empowerment encompasses preparation, capacity building, implementation, and evaluation stages. Cadres were found to actively contribute as agents of change in promoting balanced nutrition, maternal and child health, and proper parenting practices. Therefore. Posyandu cadre empowerment significantly contributes to community-level stunting prevention efforts. Keywords: community empowerment, stunting Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemberdayaan kader Posyandu dalam penanggulangan stunting pada balita di RT 27 Cendana. Kelurahan Teluk Lerong Ulu. Kota Samarinda. Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius akibat kekurangan gizi kronis dan pola asuh yang kurang tepat. Kader Posyandu memiliki peran penting sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat, baik melalui pemantauan tumbuh kembang balita, edukasi gizi, pemberian makanan tambahan (PMT), maupun sosialisasi kepada orang tua. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, di mana data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap kader Posyandu, pihak puskesmas, orang tua balita, dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan kader meliputi tahapan persiapan, penguatan kapasitas, pelaksanaan, hingga evaluasi. Kader terbukti mampu berperan sebagai agen perubahan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang, kesehatan ibu dan anak, serta pola asuh yang tepat. Dengan demikian, pemberdayaan kader Posyandu memberikan kontribusi signifikan terhadap upaya pencegahan stunting di tingkat komunitas. Kata Kunci: community empowerment,stunting How to Cite: Padang. Ridwan. Winarti. & Aliasalman. Analisis Pemberdayaan Kader Posyandu Dalam Penangulangan Stunting Pada Balita Di RT 27 Cendana Kota Samarinda. Comm-Edu (Community Education Journa. , 9 . , 110-115. PENDAHULUAN Stunting merupakan masalah gizi kronis yang menyebabkan anak memiliki tinggi badan di bawah standar usianya. World Health Organization (WHO, 2. mendefinisikan stunting sebagai kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis dalam jangka panjang, terutama 000 hari pertama kehidupan. Menurut Black et al. , kekurangan gizi pada masa Volume 9. No. Januari 2026 pp 110-115 tersebut berpengaruh besar terhadap perkembangan otak, metabolisme, dan produktivitas di masa dewasa. Stunting juga menjadi tantangan global yang berimplikasi pada kualitas sumber daya manusia. UNICEF . menegaskan bahwa anak yang mengalami stunting berpotensi mengalami gangguan kognitif, daya tahan tubuh rendah, serta kesulitan dalam proses belajar. Di Indonesia, berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI, 2. , prevalensi stunting masih mencapai 21,5%. Angka ini masih jauh dari target nasional sebesar 14% pada tahun 2024. Menurut Kementerian Kesehatan RI . , strategi penurunan stunting dilakukan melalui penguatan peran Posyandu sebagai lembaga pelayanan kesehatan masyarakat berbasis Posyandu tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan ibu dan anak, tetapi juga sebagai media edukasi dan pemberdayaan masyarakat dalam upaya perbaikan gizi. Dalam konteks pemberdayaan. Suharto . menjelaskan bahwa pemberdayaan merupakan proses peningkatan kapasitas individu atau kelompok agar memiliki kemampuan, kepercayaan diri, dan kesempatan untuk mengambil keputusan serta tindakan yang memengaruhi Sementara Ife dan Tesoriero . menekankan bahwa pemberdayaan harus berorientasi pada partisipasi aktif masyarakat dan transformasi sosial yang berkelanjutan. Kader Posyandu sebagai pelaksana kegiatan di lapangan memiliki peran vital. Megawati dan Wiramihardja . menyebut kader sebagai penggerak utama kegiatan kesehatan masyarakat yang berfungsi sebagai motivator, penyuluh, dan penghubung antara masyarakat dengan tenaga Oleh karena itu, kemampuan kader dalam mendeteksi dini risiko stunting dan mem berikan edukasi gizi menjadi hal yang sangat penting. Kalimantan Timur, termasuk Kota Samarinda, masih menghadapi angka stunting yang cukup Berdasarkan Kemenkes . , prevalensi stunting di provinsi ini mencapai 24,3%, dan beberapa kelurahan di Samarinda masih menjadi fokus intervensi. Di RT 27 Cendana. Kelurahan Teluk Lerong Ulu, telah dilakukan berbagai upaya pencegahan melalui program Posyandu Kembang Goyang. Namun demikian, masih ditemukan kendala dalam pelaksanaan, seperti kurangnya pelatihan, keterbatasan alat ukur, dan rendahnya partisipasi masyarakat. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pemberdayaan kader Posyandu dalam penanggulangan stunting pada balita di RT 27 Cendana, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat yang memengaruhi keberhasilan METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai pelaksanaan pemberdayaan kader Posyandu dalam konteks penanggulangan stunting di tingkat komunitas. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti menangkap realitas sosial secara holistik, kontekstual, dan naturalistik, sesuai dengan karakteristik fenomena yang diteliti. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi digunakan untuk mengamati secara langsung pelaksanaan kegiatan pemberdayaan kader Posyandu, termasuk aktivitas pelayanan, edukasi, dan interaksi antara kader dan masyarakat. Wawancara dilakukan secara mendalam dengan kader Posyandu, pihak Puskesmas, orang tua balita, serta pengurus RT setempat untuk menggali informasi terkait program pemberdayaan, peran aktor, mekanisme pelaksanaan, serta dinamika sosial yang memengaruhi keberhasilan program. Dokumentasi meliputi analisis 112 Padang. Ridwan. Winarti & Alisalman. Analisis Pemberdayaan Kader Posyandu Dalam Penangulangan Stuanting Pada Balita Di RT 27 Cendana Kota Samarinda dokumen kegiatan, laporan program, serta foto-foto aktivitas lapangan yang berfungsi sebagai data pendukung dan penguat temuan penelitian. Analisis data dilakukan dengan mengacu pada model analisis kualitatif Creswell . , yang mencakup tiga tahapan utama, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada tahap reduksi data, informasi yang diperoleh diseleksi, dikelompokkan, dan disederhanakan dengan memfokuskan pada data yang relevan dengan tujuan penelitian, sehingga memungkinkan identifikasi pola, kecenderungan, serta hubungan antarkonsep yang bermakna (Yin, 2. Tahap selanjutnya adalah penarikan kesimpulan, yaitu proses interpretasi data secara sistematis untuk merumuskan makna, pola temuan, dan implikasi teoretis maupun praktis berdasarkan bukti empiris yang kuat (Creswell & Poth, 2. Proses analisis ini dipandang sebagai bagian integral dari penelitian kualitatif karena berfungsi tidak hanya untuk memahami fenomena sosial secara mendalam, tetapi juga untuk menjawab pertanyaan penelitian secara ilmiah serta mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti. Dengan analisis yang sistematis dan reflektif, penelitian ini diharapkan memiliki validitas, reliabilitas, dan kredibilitas yang memadai sebagaimana ditegaskan oleh Miles. Huberman, dan Saldaya . HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan kader Posyandu dalam penanggulangan stunting di RT 27 Cendana. Kota Samarinda, dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Ketiga tahapan tersebut membentuk suatu proses yang saling berkesinambungan dan menjadi kerangka kerja dalam pelaksanaan kegiatan pemberdayaan di tingkat komunitas. Proses ini menggambarkan bahwa kader tidak hanya menjalankan kegiatan rutin, tetapi juga terlibat dalam upaya sistematis untuk meningkatkan peran masyarakat dalam menjaga kesehatan balita. Pemberdayaan kader berfungsi sebagai mekanisme untuk memperkuat kapasitas lokal dalam upaya pencegahan stunting, sehingga masyarakat secara bertahap diarahkan untuk lebih mandiri dalam mengelola permasalahan gizi dan kesehatan anak. Pada tahap perencanaan, kader Posyandu memulai kegiatan dengan melakukan identifikasi permasalahan gizi melalui pengumpulan data pertumbuhan balita. Kegiatan ini dilakukan dengan pengukuran tinggi dan berat badan, pencatatan hasil pada Kartu Menuju Sehat (KMS), serta koordinasi dengan petugas Puskesmas. Data yang diperoleh digunakan untuk mengidentifikasi balita yang berisiko mengalami stunting dan sebagai dasar dalam penyusunan program kerja. Program yang direncanakan meliputi kegiatan penyuluhan gizi, pemberian makanan tambahan (PMT), serta kunjungan rumah kepada keluarga dengan balita berisiko. Tahap perencanaan ini menunjukkan bahwa kegiatan yang dilaksanakan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan nyata masyarakat di wilayah penelitian. Pada tahap pelaksanaan, kader Posyandu melaksanakan berbagai kegiatan yang bersifat promotif dan preventif. Kegiatan tersebut meliputi pemantauan pertumbuhan balita secara rutin, pemberian edukasi kepada ibu balita mengenai gizi seimbang, kebersihan lingkungan, dan pentingnya pemberian ASI eksklusif, serta pelaksanaan PMT sesuai dengan arahan tenaga Dalam pelaksanaan kegiatan, kader berperan sebagai penghubung antara layanan kesehatan dan masyarakat, sehingga informasi dan praktik kesehatan dapat diterapkan secara langsung dalam kehidupan keluarga. Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan Posyandu menunjukkan adanya partisipasi aktif, yang mendukung kelancaran pelaksanaan program. Volume 9. No. Januari 2026 pp 110-115 Tahap evaluasi dilakukan secara berkala untuk menilai capaian kegiatan pemberdayaan. Evaluasi mencakup penilaian terhadap perubahan status gizi balita, tingkat kehadiran dan keaktifan masyarakat dalam kegiatan Posyandu, serta perubahan perilaku orang tua dalam pemberian gizi dan perawatan anak. Hasil evaluasi digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan dan penyesuaian terhadap kegiatan yang telah berjalan, sehingga program dapat terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Selain tahapan kegiatan, penelitian ini juga mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pelaksanaan pemberdayaan kader Posyandu. Faktor pendukung meliputi adanya pelatihan kader, ketersediaan sarana dan prasarana, dukungan dari tenaga kesehatan dan pemerintah setempat, partisipasi masyarakat, serta kerja sama lintas sektor antara kader, pengurus RT, dan tenaga kesehatan. Faktor-faktor tersebut berkontribusi dalam menciptakan kondisi yang mendukung keberlangsungan kegiatan. Di sisi lain, faktor penghambat yang ditemukan antara lain keterbatasan pengetahuan dan keterampilan kader dalam pencatatan dan pelaporan, keterbatasan fasilitas dan media edukasi, motivasi kader yang tidak stabil, rendahnya partisipasi sebagian orang tua balita, serta keterbatasan koordinasi dan dukungan anggaran. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun pemberdayaan kader telah berjalan, masih terdapat berbagai tantangan yang perlu diatasi agar upaya penanggulangan stunting dapat dilaksanakan secara lebih optimal dan berkelanjutan. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan kader Posyandu dalam penanggulangan stunting di RT 27 Cendana telah dilaksanakan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi secara berurutan. Pola ini sejalan dengan kerangka konseptual pemberdayaan kesehatan masyarakat yang menempatkan perencanaan sebagai dasar penentuan kebutuhan dan strategi intervensi (Notoatmodjo, 2. Namun demikian, temuan lapangan juga menunjukkan bahwa meskipun perencanaan telah berbasis data pertumbuhan balita, kualitas perencanaan masih dipengaruhi oleh keterbatasan kapasitas kader dalam pencatatan dan analisis data, sehingga berpotensi memengaruhi ketepatan sasaran intervensi. Hal ini mengindikasikan bahwa perencanaan berbasis kebutuhan belum sepenuhnya optimal sebagaimana ditekankan oleh Nursalam . Pada tahap pelaksanaan, peran kader sebagai fasilitator edukasi gizi dan pemantauan pertumbuhan mencerminkan penerapan pendekatan partisipatif. Temuan ini menguatkan gagasan Freire . bahwa pemberdayaan efektif menuntut keterlibatan aktif masyarakat dalam proses pembelajaran untuk mendorong perubahan perilaku. Namun, rendahnya partisipasi sebagian orang tua menunjukkan adanya kesenjangan antara konsep partisipasi ideal dan realitas di lapangan. Selain itu, kolaborasi lintas sektor yang telah berjalan mendukung pandangan Effendi . mengenai pentingnya sinergi antar lembaga, meskipun keterbatasan koordinasi dan anggaran masih menjadi hambatan struktural. Tahap evaluasi yang dilakukan secara berkala telah memberikan ruang refleksi, sejalan dengan Handayani . , tetapi hasil evaluasi belum sepenuhnya ditindaklanjuti secara sistematis untuk penguatan program. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa secara konseptual praktik pemberdayaan telah selaras dengan teori, namun masih diperlukan penguatan kapasitas, koordinasi, dan mekanisme tindak lanjut agar efektivitas pemberdayaan kader dapat lebih optimal. 114 Padang. Ridwan. Winarti & Alisalman. Analisis Pemberdayaan Kader Posyandu Dalam Penangulangan Stuanting Pada Balita Di RT 27 Cendana Kota Samarinda KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian, dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan kader Posyandu di RT 27 Cendana dalam upaya penanggulangan stunting telah dilaksanakan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang saling berkesinambungan. Proses ini menunjukkan bahwa kader Posyandu telah berperan aktif dalam identifikasi masalah gizi, pelaksanaan kegiatan promotif dan preventif, serta pemantauan hasil kegiatan di tingkat Dukungan lintas sektor, khususnya dari Puskesmas, pemerintah setempat, dan unsur masyarakat, menjadi faktor penting yang memperkuat keberlangsungan program serta meningkatkan efektivitas pelaksanaan kegiatan di lapangan. Meskipun demikian, temuan penelitian juga mengindikasikan bahwa pelaksanaan pemberdayaan kader belum sepenuhnya optimal. Keterbatasan kapasitas kader dalam aspek pencatatan, pelaporan, dan analisis data, serta keterbatasan sarana dan prasarana, masih menjadi kendala yang memengaruhi kualitas perencanaan dan tindak lanjut program. Selain itu, partisipasi masyarakat yang belum merata dan fluktuasi motivasi kader turut membatasi keberlanjutan kegiatan. Oleh karena itu, penelitian ini menegaskan perlunya penguatan kapasitas kader melalui pelatihan berkelanjutan, peningkatan dukungan fasilitas, serta penguatan mekanisme koordinasi lintas sektor dan strategi peningkatan partisipasi masyarakat. Penguatan pada aspek-aspek tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan program pemberdayaan kader Posyandu, sehingga kontribusinya terhadap penurunan stunting di tingkat komunitas dapat lebih optimal dan terukur. DAFTAR PUSTAKA