Vol 3 No. 1 Februari 2026 P-ISSN : 3047-1931 E-ISSN : 3047-2334. Hal 121 Ae 126 JURNAL ILMIAH AKUNTANSI Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jilak Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI: https://doi. org/10. 69714/6hg8zk49 ANALISIS GREEN ACCOUNTING. TINGKAT UTANG. DAN SUSTAINABLE GROWTH TERHADAP KUALITAS LABA DENGAN MANAJEMEN LABA SEBAGAI VARIABEL MODERASI Zahwa Bilqis Zarakhan Ifo a*. Nera Marinda Machdarb a Ekonomi dan Bisnis Prodi Akuntansi. 202310315091@mhs. Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Jl. Raya Perjuangan No. RT. 003/RW. Marga Mulya. Kec. Bekasi Utara. Kota Bks. Jawa Barat. b Ekonomi dan Bisnis Prodi Akuntasi. nmachdar@gmail. Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Jl. Raya Perjuangan No. RT. 003/RW. Marga Mulya. Kec. Bekasi Utara. Kota Bks. Jawa Barat. * Penulis Korespondensi: Zahwa Bilqis Zarakhan Ifo ABSTRACT Earnings quality is an important indicator for assessing corporate performance and sustainability. This literature review aims to analyze the influence of green accounting, leverage, and sustainable growth on earnings quality, with earnings management as a moderating variable. The method used is a systematic review of selected national and international journal articles from the 2019Ae2025 period. The results of the literature synthesis indicate that green accounting and sustainable growth positively affect earnings quality through increased transparency and financial stability. Conversely, high leverage negatively impacts earnings quality as it encourages earnings management practices. Furthermore, earnings management plays a role in weakening the positive influence of green accounting and sustainable growth, while strengthening the negative impact of leverage. This study concludes that commitment to sustainability, a healthy funding structure, and control of earnings management are key factors in improving a company's earnings quality. Keywords: Green Accounting. Leverage. Sustainable Growth. Earnings Quality. Earnings Management. Literature Review. Abstrak Kualitas laba merupakan indikator penting untuk menilai kinerja dan keberlanjutan perusahaan. Studi literatur ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh green accounting, tingkat utang . , dan sustainable growth terhadap kualitas laba, dengan manajemen laba sebagai variabel pemoderasi. Metode yang digunakan adalah tinjauan sistematis terhadap artikel jurnal nasional dan internasional terpilih periode 2019Ae Hasil sintesis literatur menunjukkan bahwa green accounting dan sustainable growth berpengaruh positif terhadap kualitas laba melalui peningkatan transparansi dan stabilitas keuangan. Sebaliknya, leverage yang tinggi berdampak negatif terhadap kualitas laba karena mendorong praktik earnings management. Lebih lanjut, manajemen laba berperan memperlemah pengaruh positif green accounting dan sustainable growth, serta memperkuat pengaruh negatif leverage. Studi ini menyimpulkan bahwa komitmen keberlanjutan, struktur pendanaan sehat, dan pengendalian manajemen laba merupakan faktor kunci dalam meningkatkan kualitas laba perusahaan. Kata Kunci: Green Accounting. Leverage. Sustainable Growth. Kualitas Laba. Manajemen Laba. Studi Literatur. PENDAHULUAN Kualitas laba menjadi salah satu faktor penting dalam mengevaluasi sehatnya dan keandalan laporan keuangan perusahaan. Kualitas laba menunjukkan seberapa jauh laba yang dilaporkan bisa mencerminkan kinerja sebenarnya perusahaan. Jika kualitas laba tinggi, itu berarti perusahaan mampu menghasilkan arus kas yang berkelanjutan dan stabil di masa depan. Sebaliknya, jika kualitas laba rendah, maka mungkin ada Naskah Masuk 17 Desember 2025. Revisi 20 Desember 2025. Diterima 2 Februari 2026. Terbit 3 Februari Zahwa Bilqis Zarakhan Ifo dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 3 No. 121 Ae 126 indikasi manipulasi laporan keuangan, penggunaan asumsi yang terlalu agresif, atau tekanan eksternal yang memengaruhi kejelasan pelaporan. Kualitas laba mencakup beberapa hal seperti keberlanjutan, kemampuan untuk diprediksi, kualitas pengakuan laba, serta relevansi nilai. Keseluruhan hal ini menunjukkan seberapa bergunanya informasi tentang laba bagi investor, kreditur, dan pihak-pihak lain yang terlibat. Fenomena kualitas laba sangat penting dalam penelitian perusahaan di Indonesia karena berbagai penelitian empiris menunjukkan bahwa kondisi keuangan seperti tingkat utang, tekanan pertumbuhan, dan pengungkapan lingkungan memengaruhi kualitas laba. Adaupun fenomena yang dilansir dari PT Unilever Indonesia Tbk, di mana pada tahun 2024 perusahaan menghadapi tekanan di pasar karena produknya diboykot, sehingga mengurangi penjualan di dalam negeri. Dalam laporan tahunan Unilever 2024, terlihat pertumbuhan volume menurun, tetapi laba bersih tetap meningkat karena efisiensi operasional dan perubahan strategi distribusi. Kondisi ini membuat orang berpikir bahwa perusahaan mungkin melakukan manajemen laba berdasarkan aktivitas nyata agar tetap terlihat stabil secara keuangan. Namun, perusahaan tetap berkomitmen pada praktek green accounting dengan melaporkan keberlanjutan secara transparan . 24 Oktober Green accounting merupakan sistem akuntansi yang mengintegrasikan aspek lingkungan ke dalam pelaporan keuangan dan operasional perusahaan. Tujuannya adalah menilai kinerja keuangan dan keberlanjutan lingkungan secara simultan. Penerapan green accounting mampu meningkatkan nilai perusahaan sekaligus mengurangi praktik earnings management karena meningkatkan transparansi informasi. Dalam sektor consumer non-cyclicals dan cyclicals, green accounting menjadi penting karena kedua sektor ini berhubungan langsung dengan penggunaan sumber daya alam dan limbah industry . Tingkat utang menunjukkan sejauh mana perusahaan membiayai asetnya menggunakan dana pinjaman. Leverage yang tinggi dapat menjadi tekanan bagi manajemen untuk menampilkan kinerja keuangan yang stabil, yang pada akhirnya memicu praktik manajemen laba. Leverage berpengaruh negatif terhadap kualitas laba karena tingginya beban bunga dan risiko gagal bayar meningkatkan peluang manipulasi akrual agar laba terlihat stabil. Dalam sektor cyclicals, leverage yang tinggi seringkali memperparah tekanan ini . Sustainable growth rate menggambarkan kemampuan perusahaan untuk tumbuh secara berkelanjutan tanpa membutuhkan pendanaan eksternal tambahan. Perusahaan dengan SGR tinggi umumnya memiliki sistem manajemen laba yang lebih terkendali dan kualitas laba yang lebih tinggi karena strategi pertumbuhannya ESG performance dan efisiensi aset berpengaruh positif terhadap SGR pada perusahaan consumer noncyclicals, menandakan hubungan erat antara pertumbuhan berkelanjutan dan stabilitas laba . Manajemen laba adalah tindakan manajerial yang memanipulasi laporan keuangan untuk memenuhi target tertentu tanpa melanggar aturan formal akuntansi. Dalam penelitian ini, manajemen laba diposisikan sebagai variabel mediasi yang menjelaskan hubungan antara karakteristik perusahaan . reen accounting, leverage, dan sustainable growt. terhadap kualitas laba. Rasio keuangan seperti leverage dan arus kas memiliki hubungan kuat dengan praktik manajemen laba di perusahaan Indonesia, menunjukkan bahwa manajemen laba menjadi mekanisme penghubung penting antara kebijakan keuangan dan kualitas pelaporan (Verdiana & Hanif, 2. Sektor consumer non-cyclicals . akanan, minuman, farmasi, consumer staple. dan consumer cyclicals . tomotif, pakaian, barang tahan lam. dipilih karena perbedaan karakteristik ekonomi dan risikonya: noncyclicals cenderung stabil dan intensitas hubungan dengan konsumen membuat isu keberlanjutan lebih sensitif, sedangkan cyclicals rentan pada siklus ekonomi dan dapat memberi gambaran komparatif bagaimana kondisi makro memengaruhi praktik pelaporan. Selain itu, perusahaan di kedua sektor ini aktif menerbitkan laporan keberlanjutan . ustainability report. sehingga data sekunder yang diperlukan . reen accounting / disclosure, laporan keuanga. umumnya tersedia. Meskipun banyak penelitian empiris menguji hubungan parsial antara variabel-variabel tersebut, masih terdapat keterbatasan dalam kajian yang mengintegrasikan green accounting, leverage, dan sustainable growth dalam satu model dengan manajemen laba sebagai moderasi, khususnya dalam konteks studi literatur yang menyintesis temuan lintas penelitian. Research gap ini menjadi landasan studi literatur ini, yang bertujuan untuk memberikan pemetaan komprehensif dan analisis kritis terhadap pola hubungan antar variabel berdasarkan sintesis penelitian terdahulu. Kontribusi penelitian adalah menyajikan kerangka konseptual terpadu dan rekomendasi untuk penelitian empiris selanjutnya, serta implikasi bagi praktik corporate reporting dan sustainability governance. JURNAL ILMIAH AKUNTANSI Vol. No. Februari 2026, pp. 121 - 126 Zahwa Bilqis Zarakhan Ifo dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 3 No. 121 Ae 126 TINJAUAN PUSTAKA Teori Pemangku Kepentingan (Stakeholder Theor. Stakeholder theory pertama kali diperkenalkan oleh (Freeman, 1. yang menyatakan bahwa perusahaan tidak hanya bertanggung jawab kepada pemegang saham, tetapi juga kepada seluruh pihak yang memiliki kepentingan terhadap aktivitas perusahaan, seperti pemerintah, masyarakat, karyawan, dan lingkungan. Dalam konteks penelitian ini, stakeholder theory menjelaskan mengapa perusahaan perlu menerapkan green accounting dan sustainable growth. Melalui pengungkapan tanggung jawab lingkungan dan kebijakan berkelanjutan, perusahaan berupaya menjaga hubungan baik dengan para pemangku kepentingan. Transparansi ini dapat meningkatkan kepercayaan publik dan menurunkan insentif manajer untuk melakukan manajemen laba, sehingga meningkatkan kualitas laba. Teori ini menekankan bahwa semakin tinggi perhatian perusahaan terhadap kepentingan stakeholder, semakin tinggi pula dorongan untuk menyajikan laporan keuangan yang jujur, relevan, dan bebas dari manipulasi. Teori Sinyal (Signaling Theor. Teori Signaling pertama kali diperkenalkan oleh Michael Spence pada tahun 1973. Dalam konteks ini, green accounting (X. dan sustainable growth (X. berfungsi sebagai sinyal positif bahwa perusahaan dikelola dengan baik, menurunkan manajemen laba (M) dan meningkatkan kualitas laba (Y). Dalam konteks perusahaan yang terbuka, penggunaan green accounting atau pengungkapan tentang keberlanjutan bisa dianggap sebagai salah satu bentuk sinyal. Sinyal ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki pengelolaan yang baik, perhatian terhadap lingkungan dan aspek sosial, serta prospek yang baik untuk jangka panjang. Dengan adanya sinyal ini, kepercayaan para pemangku kepentingan meningkat, sehingga tekanan untuk melakukan manajemen laba menjadi lebih kecil. Akhirnya, hal ini berpotensi meningkatkan kualitas laba yang dilaporkan. Teori Positive Accounting Theory (PAT) Positive Accounting Theory dikembangkan oleh Watts dan Zimmerman pada tahun 1986. Teori ini menjelaskan bahwa para manajer memilih metode akuntansi tertentu demi memenuhi kepentingan pribadi mereka, berdasarkan motivasi ekonomi seperti perjanjian gaji, utang, dan tekanan politik. Dalam penelitian ini. PAT digunakan untuk menjelaskan bagaimana para manajer mengelola laba (M). Jika tingkat utang sebuah perusahaan terlalu tinggi (X. , manajer cenderung melakukan manipulasi laba agar tidak melanggar perjanjian utang. Namun, jika perusahaan menerapkan akuntansi hijau (X. dan memiliki pertumbuhan yang berkelanjutan . ustainable growth. , maka manajer kemungkinan besar akan bersikap lebih jujur dan mengurangi manipulasi laba (Watts & Zimmerman, 1. Applied Theory Green Accounting Penerapan green accounting menunjukkan tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan. Sesuai dengan teori pemangku kepentingan, perusahaan harus menjaga hubungan baik dengan pihak-pihak yang terkait seperti pemerintah, masyarakat, dan investor melalui transparansi dan akuntabilitas lingkungan. Dengan menerapkan green accounting, perusahaan memberikan sinyal yang baik kepada pasar bahwa mereka memiliki manajemen yang baik dan berfokus pada keberlanjutan. Namun, menurut teori akuntansi positif, penerapan green accounting juga bisa dianggap sebagai strategi untuk mengurangi biaya politik, yaitu upaya perusahaan agar tidak mendapat tekanan dari masyarakat atau pemerintah. Jika green accounting diterapkan secara nyata dan bukan hanya sekadar simbol, maka hal ini akan mengurangi praktik manipulasi laba, sehingga meningkatkan kualitas laba. Tingkat Utang Teori sinyal pertama kali diajukan oleh Spence . yang menjelaskan bahwa perusahaan bisa memberi tahu pasar tentang kondisi dan prospek masa depan melalui laporan keuangannya. Informasi dalam laporan keuangan berfungsi sebagai petunjuk bagi pasar mengenai kinerja perusahaan. Dalam penelitian ini, green accounting dan pertumbuhan berkelanjutan berperan sebagai sinyal positif untuk menunjukkan bahwa perusahaan memiliki performance yang baik dan fokus pada jangka panjang. Sinyal ini membantu memperkuat keyakinan investor terhadap laporan keuangan, mengurangi kesenjangan informasi, serta meningkatkan kualitas laba. Selain itu, jika informasi yang disampaikan tidak mencerminkan realita, manajemen laba dapat merusak sinyal positif tersebut. Dengan demikian, teori sinyal menjelaskan bagaimana transparansi lingkungan dan pertumbuhan berkelanjutan menjadi cara untuk meningkatkan kredibilitas laporan keuangan. Analisis Green Accounting. Tingkat Utang, dan Sustainable Growth Terhadap Kualitas Laba Dengan Manajemen Laba Sebagai Variabel Moderasi (Zahwa Bilqis Zarakhan If. Zahwa Bilqis Zarakhan Ifo dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 3 No. 121 Ae 126 Sustainable Growth Konsep pertumbuhan berkelanjutan didasari oleh teori keberlanjutan dan didukung oleh teori pemberian Perusahaan yang tumbuh secara berkelanjutan cenderung lebih memperhatikan prestasi jangka panjang, bukan hanya laba dalam waktu singkat. Hal ini membuat mereka kurang mungkin melakukan manipulasi laba, karena manajer ingin menjaga nama baik dan kepercayaan para pemangku kepentingan. Dari sudut pandang teori akuntansi positif, perusahaan yang tumbuh stabil tidak perlu terlalu memperbaiki laporan keuangan karena masa depannya sudah baik. Sebaliknya, perusahaan yang pertumbuhannya tidak tetap lebih mungkin melakukan manipulasi laba agar bisa menarik para investor. Oleh karena itu, pertumbuhan berkelanjutan dapat mengurangi praktik-praktik yang tidak jujur dan meningkatkan kepercayaan terhadap laporan laba . Kualitas Laba Kualitas laba sebagai hasil dari gabungan faktor eksternal seperti tekanan regulasi, penerapan green accounting, keberlanjutan pertumbuhan, dan struktur pendanaan perusahaan. Misalnya, green accounting meningkatkan transparansi dan kontrol publik, sehingga mempersempit ruang manajer untuk melakukan Sebaliknya, tingginya tingkat utang . dapat meningkatkan tekanan kontraktual yang membuat manajer terdorong melakukan earnings management sehingga kualitas laba menurun. Sustainable growth justru memberikan sinyal positif bahwa perusahaan memiliki fondasi keuangan yang sehat, yang biasanya sejalan dengan pelaporan laba yang lebih berkualitas . Manajemen Laba Dalam teori akuntansi positif, manajemen laba dianggap sebagai alat strategis yang digunakan manajer untuk mencapai tujuan tertentu, baik untuk kepentingan pribadi maupun organisasi. Dalam penelitian ini, manajemen laba berperan sebagai variabel yang menghubungkan faktor eksternal seperti green accounting, tingkat utang, dan sustainable growth dengan kualitas laba. Green accounting dapat mengurangi manajemen laba, sehingga meningkatkan kualitas laba. Tingkat utang justru meningkatkan manajemen laba, yang berdampak negatif pada kualitas laba. Sementara itu, sustainable growth bisa mengurangi manajemen laba, sehingga memperbaiki kualitas laba. Dengan kata lain, adanya manajemen laba memengaruhi seberapa besar pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap kualitas laba . METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini adalah studi literatur yang dilakukan dengan cara menganalisis dan menggabungkan secara kritis berbagai teori serta hasil penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan green accounting, tingkat utang, sustainable growth, kualitas laba, dan manajemen laba. Tujuannya adalah untuk membentuk kerangka berpikir dalam penelitian ini. Dalam kajian ini, saya merangkum, mengevaluasi, dan menggabungkan berbagai hasil penelitian sebelumnya agar memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai hubungan antarvariabel yang diteliti. Sumber referensi yang digunakan dalam penelitian ini tidak hanya berupa hasil penelitian empiris, tetapi juga mempertimbangkan aspek validitas, konsistensi, dan relevansi dari penelitian Sumber-sumber pustaka dipilih secara selektif dalam rentang waktu 2019 sampai 2025 agar memastikan informasi yang digunakan tetap relevan dengan kondisi saat ini. Data dikumpulkan dari berbagai sumber ilmiah, baik berbentuk cetak maupun daring, seperti buku teks, jurnal nasional maupun internasional yang terpercaya, laporan penelitian, serta berbagai publikasi akademik yang didapatkan melalui platform daring seperti Google Scholar. Karena penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka, maka tidak melibatkan populasi dan sampel secara langsung. Keseluruhan analisis didasarkan sepenuhnya pada data sekunder yang berasal dari hasil penelitian sebelumnya. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lengkap mengenai pengaruh green accounting, tingkat utang, serta sustainable growth terhadap kualitas laba, juga peran manajemen laba sebagai variabel moderasi. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat mengidentifikasi celah-celah penelitian yang dapat dikembangkan dalam penelitian di masa HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Pengaruh Green Accounting terhadap Kualitas Laba Green accounting atau akuntansi lingkungan adalah metode pelaporan yang menggabungkan biaya, manfaat, serta dampak terhadap lingkungan dalam sistem akuntansi perusahaan. Dengan menerapkan green accounting, perusahaan menunjukkan sejauh mana mereka menerapkan prinsip keberlanjutan, transparansi, dan kepatuhan terhadap standar pelaporan lingkungan. Perusahaan yang menggunakan green accounting biasanya memiliki tingkat akuntabilitas yang lebih tinggi karena harus melaporkan pengeluaran untuk pengelolaan sampah, efisiensi energi, pengurangan emisi, serta program tanggung jawab sosial. Transparansi JURNAL ILMIAH AKUNTANSI Vol. No. Februari 2026, pp. 121 - 126 Zahwa Bilqis Zarakhan Ifo dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 3 No. 121 Ae 126 ini juga mendorong pengawasan dari masyarakat, sehingga kesempatan perusahaan untuk melakukan manipulasi laba menjadi lebih kecil. Dalam konteks ini, kualitas laba meningkat seiring peningkatan kualitas informasi lingkungan yang diberikan Penelitian empiris juga mendukung hal ini. Studi Nuritami et al. , . menemukan bahwa pengungkapan green accounting mampu meningkatkan kualitas laporan keuangan serta nilai perusahaan karena menciptakan kesan bahwa perusahaan bertanggung jawab secara sosial dan finansial. Dengan meningkatnya akuntabilitas dan pengawasan publik, perusahaan semakin terdorong untuk menyajikan laba yang berkualitas. Oleh karena itu, penerapan green accounting diperkirakan memiliki hubungan positif dengan kualitas laba. 2 Pengaruh Tingkat Utang terhadap Kualitas Laba Leverage menunjukkan seberapa besar perusahaan bergantung pada uang dari luar. Perusahaan yang memiliki utang banyak harus memenuhi janji pembayaran utang dan syarat keuangan yang ditetapkan. Menurut Teori Akuntansi Positif (PAT), perusahaan dengan utang besar cenderung melakukan tindakan yang memanfaatkan kesempatan, seperti mengelola laba, agar rasio keuangan terlihat baik di mata pihak yang memberi pinjaman. Menurut Teori Akuntansi Positif (PAT), perusahaan dengan utang besar cenderung melakukan tindakan yang memanfaatkan kesempatan, seperti mengelola laba, agar rasio keuangan terlihat baik di mata pihak yang memberi pinjaman. Hal Ini menyebabkan kualitas laba menurun karena laba yang dilaporkan tidak mencerminkan kondisi ekonomi sebenarnya dari perusahaan. Banyak penelitian, seperti Handayani et al. dan Albert & Widyastuti . , menunjukkan bahwa tingkat utang memiliki pengaruh negatif terhadap kualitas laba, terutama ketika perusahaan sedang menghadapi tekanan dari utang. 3 Pengaruh Sustainable Growth terhadap Kualitas Laba Sustainable Growth Rate (SGR) adalah tingkat pertumbuhan yang bisa terus dijaga oleh perusahaan tanpa harus meminjam utang atau menarik modal dari luar secara besar-besaran. Perusahaan yang tumbuh secara berkelanjutan biasanya memiliki keuangan yang kuat, penggunaan aset yang efisien, dan pengelolaan laba yang baik. Penelitian oleh Syafitri & Lestari . , menunjukkan bahwa SGR berdampak positif terhadap kualitas laba. Karena pertumbuhan yang stabil mencerminkan kondisi perusahaan yang sehat, maka laba yang dihasilkan cenderung lebih berkualitas dan tidak perlu diubah-ubah untuk mengatasai masalah keuangan. Maka itu, perusahaan yang tumbuh secara berkelanjutan cenderung menghasilkan laba yang lebih baik dalam KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan sintesis dan analisis terhadap sejumlah literatur terkait, dapat ditarik kesimpulan yang mendeskripsikan hubungan dinamis antara green accounting, leverage, sustainable growth, manajemen laba, dan kualitas laba sebagai berikut: Pertama, green accounting dan sustainable growth terbukti menjadi faktor pendorong signifikan bagi peningkatan kualitas laba. Mekanisme yang mendasarinya adalah melalui peningkatan transparansi dan akuntabilitas pelaporan perusahaan, yang mengurangi asimetri informasi antara manajemen dan pemangku Green accounting mendorong penyajian informasi yang lebih komprehensif dan berorientasi keberlanjutan, sehingga membatasi ruang untuk praktik pelaporan yang agresif. Di sisi lain, sustainable growth mencerminkan stabilitas keuangan jangka panjang dan efisiensi operasional, yang menghasilkan laba yang lebih persisten dan dapat diprediksi. Dengan kata lain, komitmen terhadap lingkungan dan pertumbuhan yang sehat tidak hanya memperkuat citra perusahaan, tetapi juga mendorong terciptanya laba yang lebih berkualitas dan relevan secara ekonomi. Kedua, tingkat leverage yang tinggi justru menunjukkan hubungan yang bersifat negatif terhadap kualitas Hal ini disebabkan oleh tekanan keuangan dan kewajiban kontraktual yang muncul dari beban utang, yang mendorong manajemen untuk melakukan perilaku oportunistik seperti earnings management. Dalam upaya memenuhi rasio keuangan yang disyaratkan oleh kreditur atau menjaga kinerja yang diharapkan pasar, manajemen cenderung memanipulasi akrual atau mengatur waktu pengakuan pendapatan dan beban. Analisis Green Accounting. Tingkat Utang, dan Sustainable Growth Terhadap Kualitas Laba Dengan Manajemen Laba Sebagai Variabel Moderasi (Zahwa Bilqis Zarakhan If. Zahwa Bilqis Zarakhan Ifo dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 3 No. 121 Ae 126 Akibatnya, laba yang dilaporkan menjadi kurang mencerminkan kinerja ekonomi riil perusahaan, sehingga kualitas laba menurun seiring dengan meningkatnya risiko manipulasi pelaporan. Ketiga, manajemen laba berperan sebagai variabel pemoderasi yang memperlemah pengaruh positif sekaligus memperkuat pengaruh negatif dalam hubungan antar variabel. Artinya, ketika praktik manajemen laba tinggi, dampak positif dari green accounting dan sustainable growth terhadap kualitas laba akan tereduksi, karena motivasi untuk mengelola laba dapat mengaburkan manfaat transparansi dan stabilitas yang seharusnya Sebaliknya, dalam konteks leverage, keberadaan manajemen laba justru memperkuat dampak buruk utang terhadap kualitas laba, karena tekanan finansial yang tinggi dipadu dengan kecenderungan manipulasi akuntansi akan semakin menjauhkan pelaporan dari nilai ekonomi yang sesungguhnya. Dengan demikian, manajemen laba tidak hanya berperan sebagai variabel penghubung, tetapi juga sebagai faktor penguat atau pelemah yang signifikan dalam dinamika kualitas laba perusahaan. Secara keseluruhan, temuan ini menggarisbawahi bahwa kualitas laba tidak hanya ditentukan oleh faktor kinerja keuangan semata, tetapi juga dipengaruhi oleh komitmen keberlanjutan, struktur pendanaan, dan integritas pelaporan. Implikasinya, perusahaan yang ingin meningkatkan kualitas labanya perlu mengadopsi praktik green accounting secara substantif, mengelola utang dengan hati-hati, dan menekan praktik manajemen laba melalui tata kelola yang kuat. DAFTAR PUSTAKA