Vol. 3 No. Desember 2025, pp. https://journal. id/index. E-ISSN: 3089-6150 Korelasi Antara Waktu Interaksi Orang Tua Dengan Perkembangan Moral Anak Rifda Latifun Nisa*. Baldwine Honest G2. Yamani3. Sri Wahyuni4. Sri Purwanti5 PG-PAUD. Universitas Mulia. Indonesia *Penulis Korespondensi: rifdanisa@students. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis korelasi antara waktu interaksi orang tua dengan perkembangan moral anak di KB Shadira Balikpapan. Latar belakang penelitian ini didasari oleh fenomena keterbatasan waktu interaksi orang tua akibat tuntutan pekerjaan, yang berpotensi memengaruhi perkembangan moral pada anak. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan sampel jenuh sebanyak 50 orang tua, data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur untuk variabel waktu interaksi . eliputi kuantitas, kualitas komunikasi, dan keterlibata. dan observasi guru untuk variabel perkembangan moral . encakup kepatuhan aturan, empati, dan tanggung jawa. Hasil analisis data menunjukkan adanya korelasi negatif signifikan antara waktu interaksi orang tua dan perkembangan moral anak . = -0,530. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi intensitas interaksi orang tua, semakin baik perkembangan moral anak. Namun, kekuatan korelasi ini berada pada kategori sedang (RA = 0,. , menandakan bahwa meskipun interaksi orang tua berperan penting, perkembangan moral anak juga dipengaruhi oleh faktor lain sebesar 72%. Implikasinya, peningkatan waktu interaksi berkualitas antara orang tua dan anak sangat krusial dalam menunjang pembentukan moral anak usia dini. Saran penelitian ini kepada orang tua untuk meningkatkan interaksi berkualitas dengan anak, serta kepada lembaga PAUD untuk memperkuat kolaborasi dan program parenting demi mendukung perkembangan moral anak. Kata Kunci: Waktu Interaksi Orang Tua. Perkembangan Moral Anak. Anak Usia Dini. PAUD. Korelasi. Riwayat Artikel Diterima: 03/11/2025 Direvisi: 10/11/2025 Disetujui: 20/11/2025 Dipublikasi: 15/12/2025 PENDAHULUAN Perkembangan moral pada anak menjadi salah satu fondasi utama dalam pembentukan karakter generasi mendatang. Dalam konteks global, perhatian terhadap pembinaan moral anak terus meningkat seiring perubahan pola kehidupan keluarga dan dinamika sosial modern. Kesibukan orang tua di era saat ini sering kali membatasi intensitas interaksi dengan anak. Penelitian Bajovic dan Rizzo . mengungkapkan bahwa keterlibatan emosional orang tua melalui interaksi yang positif memiliki pengaruh besar terhadap proses internalisasi nilai-nilai moral, seperti kejujuran, empati, dan rasa tanggung jawab. Temuan serupa juga diperkuat oleh studi lintas budaya yang menyatakan bahwa tingkat intensitas interaksi orang tuaAeanak merupakan faktor kunci dalam pembentukan moral melalui mekanisme peneladanan atau modelling (Nguyen et al. , 2. Dalam konteks nasional, gejala serupa juga semakin jelas terlihat di Indonesia. Pola keluarga perlahan berubah, seiring meningkatnya jumlah rumah tangga yang kedua orang tuanya sama-sama bekerja penuh waktu atau yang kerap disebut sebagai dual earner families dalam kajian keluarga modern. Bagi banyak keluarga di perkotaan, kondisi ini bukan semata pilihan, melainkan kebutuhan ekonomi yang sulit dihindari. Situasi ini berpotensi mengurangi kesempatan untuk menciptakan waktu berkualitas bersama anak (Parinduri et al. , 2. Dampaknya, penanaman nilai moral yang idealnya berlangsung dalam lingkungan keluarga menjadi berkurang, sehingga lembaga PAUD semakin berperan dalam pendidikan moral anak usia dini. Wahyuni dan Siregar . menyatakan bahwa keterbatasan interaksi orang tua berkaitan dengan rendahnya kemampuan anak dalam memahami nilai moral dasar, seperti disiplin, empati, serta kepatuhan terhadap aturan (Wahyuni & Siregar, 2. Jurnal Pelangi. Vol. 3 No. Des 2025, pp. Secara lokal. Kota Balikpapan dikenal sebagai wilayah dengan aktivitas industri dan sektor jasa yang cukup tinggi. Pola kerja orang tua, termasuk sistem kerja shift, jam kerja yang panjang, serta pekerjaan lapangan (B. Balikpapan, 2. , turut membatasi peluang interaksi rutin antara orang tua dan anak, misalnya kegiatan membaca bersama atau berbincang di penghujung Fenomena tersebut juga didukung oleh data kuantitatif. Survei nasional Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak . menunjukkan bahwa lebih dari 58% orang tua di Indonesia bekerja lebih dari delapan jam per hari, sementara hanya 36% yang memiliki waktu bermain bersama anak lebih dari satu jam setiap harinya. Meskipun berbagai penelitian lokal telah membuktikan bahwa peran orang tua dan kualitas interaksi keluarga berpengaruh terhadap perkembangan moral anak, masih terdapat celah penelitian yang secara khusus mengkaji variabel Auwaktu interaksiAy sebagai konstruk yang terukur. Aspek kuantitas, pola komunikasi, dan tingkat keterlibatan orang tua jarang dianalisis secara terpisah dan dikaitkan langsung dengan indikator perkembangan moral anak pada konteks PAUD. Penelitian terkini di Indonesia menekankan pentingnya perhatian, keteladanan, serta keterlibatan orang tua dalam pembentukan moral anak (Masyhuri & Adawiyah, 2. Namun, sebagian besar studi masih menggunakan konsep umum seperti Aupola asuhAy atau Auperhatian orang tuaAy, tanpa menguraikan secara rinci dimensi waktu interaksi, seperti durasi, frekuensi, maupun kualitas interaksi. Padahal, pengukuran yang lebih spesifik dapat menjelaskan variasi perkembangan moral anak pada usia prasekolah. Selain itu, mayoritas penelitian bersifat crosectional atau kualitatif dengan cakupan sampel yang luas, sehingga bukti kuantitatif mengenai hubungan langsung antara durasi atau frekuensi interaksi orang tua dan indikator moral spesifikAi seperti kepatuhan, empati, dan tanggung jawabAimasih terbatas (Busriyah et al. , 2. khususnya pada layanan PAUD. Hasil wawancara dan observasi awal di KB Shadira Balikpapan menunjukkan bahwa banyak orang tua memiliki tingkat kesibukan kerja yang tinggi, sehingga interaksi anak dengan orang tua menjadi terbatas. Kondisi ini tercermin dalam perilaku anak di sekolah yang belum sesuai dengan tahap perkembangan moralnya, seperti sering melanggar aturan kelas, berkata tidak jujur, kurang menunjukkan empati terhadap teman, serta menggunakan bahasa yang kurang Temuan tersebut mengindikasikan bahwa minimnya interaksi orang tuaAeanak berpotensi berdampak pada perkembangan moral anak di lingkungan pendidikan. Berdasarkan data empiris dan kondisi lokal tersebut, penelitian ini dinilai memiliki urgensi yang tinggi untuk dilaksanakan di KB Shadira Balikpapan. Secara umum, hasil penelitian lintas budaya maupun nasional telah mengidentifikasi bahwa waktu dan kualitas Interaksi antara orang tua dan anak memegang peran yang sangat krusial dalam proses internalisasi nilai moral, seperti kejujuran, empati, dan kepatuhan. Namun, realitas dual earner families serta tuntutan kerja yang tinggi di kota industri seperti Balikpapan semakin mengurangi kesempatan interaksi yang berkualitas, sehingga tanggung jawab pendidikan moral anak berisiko sepenuhnya dialihkan kepada lembaga PAUD. Secara khusus, urgensi penelitian ini diperkuat oleh temuan awal di KB Shadira Balikpapan yang menunjukkan adanya permasalahan moral pada anak usia dini. Perilaku melanggar aturan, ketidakjujuran, rendahnya empati, serta penggunaan bahasa yang kurang sopan merupakan indikator nyata bahwa anak mengalami kesulitan dalam memahami dan menginternalisasi nilai moral dasar. Kondisi ini, yang diduga berkaitan dengan keterbatasan interaksi akibat kesibukan orang tua, memerlukan kajian kuantitatif yang sistematis dan terukur. Dengan demikian, berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti menetapkan judul penelitian AuKorelasi antara Waktu Interaksi Orang Tua dengan Perkembangan Moral Anak di KB Shadira Balikpapan. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional untuk mengkaji sejauh mana hubungan antara jumlah waktu orang tua berinteraksi dengan anak-anak mereka dan perkembangan moral anak usia dini. Pemilihan pendekatan kuantitatif didasarkan pada pertimbangan bahwa variabel yang diteliti dapat diukur secara lebih objektif melalui data Copyright A 2025. Nisa et al, e-ISSN 3089-6150 Jurnal Pelangi. Vol. 3 No. Des 2025, pp. Dengan cara ini, hubungan antar variabel tidak hanya dijelaskan secara deskriptif tetapi juga diuji secara empiris menggunakan analisis statistik, sehingga hasil penelitian diharapkan memiliki tingkat akurasi dan keandalan yang lebih tinggi (Creswell & Creswell, 2. Desain korelasional digunakan untuk mengidentifikasi arah dan tingkat keeratan hubungan antarvariabel tanpa melakukan perlakuan atau manipulasi terhadap subjek penelitian (Sugiyono, 2. Penelitian dilaksanakan di Kelompok Bermain (KB) Shadira Balikpapan, dengan subjek penelitian seluruh orang tua yang memiliki anak usia 4Ae6 tahun dan terdaftar aktif pada tahun ajaran berjalan. Jumlah populasi sekaligus sampel adalah 50 responden, dengan mempertimbangkan karakteristik populasi penelitian yang relatif terbatas, teknik sampling yang digunakan adalah sampel jenuh, di mana seluruh anggota populasi dijadikan subjek penelitian. Pendekatan ini dipilih agar data yang diperoleh dapat merepresentasikan kondisi populasi secara Selanjutnya, proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan dua instrumen utama yang disusun untuk mengukur masing-masing variabel penelitian secara sistematis dan , yaitu kuesioner untuk mengukur waktu interaksi orang tua dan skala penilaian observasional yang diisi oleh guru untuk menilai perkembangan moral anak. Variabel waktu interaksi orang tua diukur berdasarkan dimensi kuantitas waktu, kualitas komunikasi, dan keterlibatan dalam aktivitas anak, sedangkan perkembangan moral anak diukur melalui indikator kepatuhan terhadap aturan, empati, serta tanggung jawab. Analisis data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 27. Proses ini tidak langsung menguji hubungan, tetapi dimulai dengan analisis deskriptif untuk memberikan gambaran tentang karakteristik data yang diperoleh. Setelah itu, analisis inferensial dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment untuk menentukan baik kekuatan maupun arah hubungan di antara variabel yang diteliti. Namun, sebelum uji korelasi diterapkan, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat, yakni uji normalitas dan uji linearitas, untuk memastikan bahwa data memenuhi asumsi yang diperlukan dalam analisis statistik tersebut. Tingkat signifikansi ditetapkan pada = 0,05. Selain itu, koefisien determinasi dihitung untuk mengetahui kontribusi waktu interaksi orang tua dalam menjelaskan variasi perkembangan moral anak. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian ini dilaksanakan di KB Shadira Balikpapan, salah satu lembaga pendidikan anak usia dini di Kota Balikpapan. Provinsi Kalimantan Timur. KB Shadira merupakan satuan pendidikan berbentuk Kelompok Bermain (KB) yang berdiri pada tahun 2015 dan telah terdaftar secara resmi pada Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini. Pendidikan Dasar, dan Menengah (BAN- PDM) dengan NPSN 69923834. KB Shadira beralamat di Jalan Telogorejo RT 32 No. Kota Balikpapan. Kalimantan Timur, yang berada di lingkungan permukiman masyarakat sehingga mudah dijangkau oleh peserta didik maupun orang tua. Lingkungan sekitar lembaga memiliki kondisi yang relatif aman dan kondusif untuk pelaksanaan kegiatan pembelajaran anak usia dini. Karakteristik Responden Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Anak Valid Frequency Ou 4 Tahun Ou 5 Tahun Ou 6 Tahun Total Percent Valid Percent Cumulative Percent Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada usia Ou 6 tahun, yaitu sebanyak 27 anak . %). Kemudian diikuti oleh usia Ou 5 tahun sebanyak 19 anak . %) dan usia Ou 4 tahun sebanyak 4 anak . %). Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden Copyright A 2025. Nisa et al, e-ISSN 3089-6150 Jurnal Pelangi. Vol. 3 No. Des 2025, pp. berada pada kategori usia yang lebih matang dalam aspek perkembangan moral. Semakin tinggi usia anak, umumnya semakin baik pula pemahaman mereka terhadap aturan, nilai, serta perilaku Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Urutan Anak dalam Keluarga Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent anak ke-1 anak ke-2 anak ke-3 anak ke-4 anak ke 5 Total Pada Tabel 4. 3 diketahui bahwa responden didominasi oleh anak ke- 2 sebanyak 24 anak . %). Selanjutnya anak ke-1 sebanyak 14 anak . %), anak ke-3 sebanyak 9 anak . %), anak ke-4 sebanyak 1 anak . %), dan anak ke-5 sebanyak 2 anak . %). Ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden berasal dari keluarga yang memiliki lebih dari satu anak. Kondisi ini memungkinkan adanya dinamika interaksi sosial antarsaudara yang turut mempengaruhi perkembangan moral anak Uji Normalitas Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Normal Parametersa,b Mean Std. Deviation Most Extreme Difference Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. c Monte Carlo Sig. - taile. e Sig. 99% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. This is a lower bound of the true significance. Lilliefors' method based on 10000 Monte Carlo samples with starting seed 926214481. Hasil uji normalitas menunjukkan nilai signifikansi Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,200 dan Monte Carlo Sig. sebesar 0,290. Kedua nilai tersebut berada di atas tingkat signifikansi 0,05, menunjukkan bahwa data residual dalam penelitian ini terdistribusi normal. Temuan ini menegaskan bahwa asumsi normalitas pada model regresi telah terpenuhi, sehingga data yang digunakan dapat melanjutkan ke tahap analisis statistik berikutnya tanpa melanggar persyaratan pengujian dasar. Copyright A 2025. Nisa et al, e-ISSN 3089-6150 Jurnal Pelangi. Vol. 3 No. Des 2025, pp. Uji Korelasi Pearson Product Moment Tabel 4. Hasil Uji Korelasi Pearson Product Moment Waktu Interaksi Orang Tua Perkembangan Moral Anak Correlation Pearson Correlation Sig. -taile. Pearson Correlation Sig. -taile. Waktu Interaksi Orang Tua Perkembangan Moral Anak **. Correlation is significant at the 0. 01 level . -taile. Berdasarkan hasil uji korelasi Pearson Product Moment yang disajikan pada Tabel 4, koefisien korelasi antara variabel waktu interaksi orang tua dan perkembangan moral anak diperoleh sebesar -0,530 dengan nilai signifikansi 0,000. Nilai signifikansi ini lebih kecil dari tingkat kepercayaan 0,05, sehingga menunjukkan hubungan yang signifikan antara kedua variabel yang diteliti. Koefisien korelasi negatif menunjukkan bahwa hubungan yang terbentuk berlawanan arah. Dengan kata lain, semakin tinggi waktu interaksi orang tua yang diukur dalam penelitian ini, perkembangan moral anak cenderung menurun, dan sebaliknya, semakin rendah waktu interaksi orang tua, perkembangan moral anak menunjukkan kecenderungan meningkat. Kekuatan hubungan berada dalam kategori sedang, mengingat nilai koefisien korelasi berada dalam kisaran 0,40Ae0,599 Uji Signifikan (Uji . Tabel 5. Hasil Uji Signifikan (Uji . Mode 1 Std. Error (Constan. Waktu Interaksi Orang Tua Standarized Coefficients Beta Sig. Dependent Variable: Perkembangan Moral Anak Uji Koefisien Determinasi Tabel 6. Hasil Uji Koefisien Determinasi Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Model Berdasarkan hasil uji Koefisien Determinasi yang disajikan pada Tabel 4. 12, nilai Rkuadrat adalah 0,280. Angka ini menunjukkan bahwa 28% variasi dalam perkembangan moral anak dapat dijelaskan oleh waktu interaksi orang tua. Sementara itu, 72% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini, seperti gaya pengasuhan yang diterapkan di rumah, panutan guru di sekolah, intensitas interaksi dengan teman sebaya, kondisi sosial, dan paparan media digital. Lebih lanjut, nilai R-kuadrat yang disesuaikan sebesar 0,265 menunjukkan bahwa setelah disesuaikan dengan jumlah variabel dalam model, kontribusi waktu interaksi orang tua terhadap perkembangan moral anak tetap sekitar 26,5%. Temuan ini menegaskan bahwa meskipun waktu interaksi orang tua memiliki pengaruh yang signifikan, perkembangan moral anak sebenarnya dibentuk oleh berbagai faktor lain yang mungkin memainkan peran yang lebih dominan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa waktu interaksi orang tua berkontribusi pada perkembangan moral anak, tetapi pengaruhnya relatif kecil, sehingga perlu mempertimbangkan faktor eksternal lainnya dalam pembentukan moral anak. Copyright A 2025. Nisa et al, e-ISSN 3089-6150 Jurnal Pelangi. Vol. 3 No. Des 2025, pp. Pembahasan Korelasi antara Waktu Interaksi Orang Tua dan Perkembangan Moral Anak Berdasarkan hasil uji korelasi Pearson, diperoleh koefisien korelasi r = Ae0,530 dengan nilai signifikansi 0,000. Nilai signifikansi di bawah ambang batas 0,05 menunjukkan bahwa hubungan antara waktu interaksi orang tua dan perkembangan moral anak secara statistik Koefisien korelasi menunjukkan hubungan negatif yang moderat. Hubungan negatif ini tidak dapat diartikan sebagai hubungan yang merugikan, melainkan berkaitan dengan karakteristik skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini. Skor yang lebih tinggi pada variabel waktu interaksi orang tua berkorelasi dengan skor yang lebih rendah pada masalah perilaku moral anak. Ini berarti bahwa semakin intens waktu interaksi antara orang tua dan anak, semakin baik perkembangan moral anak cenderung terjadi. Oleh karena itu, hipotesis alternatif (H. diterima dan hipotesis nol (H. ditolak, yang menegaskan bahwa interaksi orang tua memainkan peran penting dalam mendukung perkembangan moral anak usia Temuan tersebut menunjukkan bahwa semakin sering orang tua terlibat dalam interaksi dengan anakAibaik melalui komunikasi, bermain bersama, pendampingan kegiatan, maupun kedekatan emosionalAisemakin besar peluang anak untuk memahami dan menginternalisasi nilai-nilai moral, seperti kejujuran, empati, tanggung jawab, kesopanan, serta kepatuhan terhadap Sebaliknya, keterbatasan waktu kebersamaan dapat mengurangi kesempatan anak untuk memperoleh arahan, bimbingan, dan teladan moral dari orang tua. Kondisi ini selaras dengan realitas yang ditemukan di KB Shadira Balikpapan, di mana sebagian orang tua memiliki beban kerja dan jam kerja yang panjang sehingga interaksi dengan anak menjadi kurang optimal. Hasil penelitian ini sejalan dengan Teori Belajar Sosial Bandura . , yang menekankan bahwa perkembangan moral anak terjadi melalui observasi, imitasi, dan pemodelan dari figur-figur penting, khususnya orang tua. Tingkat interaksi yang lebih tinggi memberikan peluang yang lebih besar bagi anak untuk mengamati dan meniru perilaku moral yang positif. Proses pemodelan ini hanya akan efektif jika terdapat kedekatan dan frekuensi interaksi yang memadai, sehingga korelasi signifikan yang ditemukan dalam penelitian ini mendukung gagasan Bandura tentang pentingnya keterlibatan langsung orang tua dalam perkembangan moral anak. Selain itu, temuan penelitian ini juga relevan dengan Teori Ekologi Perkembangan Bronfenbrenner . , yang menempatkan keluarga sebagai bagian dari mikrosistem, yaitu lingkungan terdekat yang memiliki pengaruh paling kuat terhadap perkembangan anak. Ketika interaksi dalam lingkungan keluarga terbatas, maka stimulasi moral yang diterima anak pun menjadi berkurang. Hubungan signifikan yang ditemukan dalam penelitian ini memperkuat pandangan bahwa kualitas dan intensitas interaksi dalam keluarga sangat menentukan perkembangan moral anak. Ditinjau dari Teori Perkembangan Moral Kohlberg . , anak usia dini berada pada tahap pra-konvensional, di mana pemahaman moral anak sangat dipengaruhi oleh arahan, aturan, dan konsekuensi yang diberikan oleh figur otoritas, khususnya orang tua (Kohlberg, 1. Oleh karena itu, semakin sering orang tua berinteraksi dengan anak, semakin banyak pula kesempatan anak menerima pengarahan moral serta contoh perilaku yang dapat ditiru. Temuan korelasi signifikan dalam penelitian ini sejalan dengan pandangan Kohlberg mengenai pentingnya peran orang dewasa dalam membentuk pemahaman moral anak. Hasil penelitian ini juga konsisten dengan berbagai penelitian terdahulu. Cai dkk. menemukan adanya hubungan antara keterlibatan orang tua dan perkembangan karakter anak (Ahmed et al. , 2. , sementara Masyhuri . menunjukkan bahwa parental involvement berkorelasi signifikan dengan perilaku prososial anak. Wahyuni . secara khusus menyatakan bahwa interaksi orang tua berhubungan positif dengan perkembangan moral anak. Temuan serupa juga dikemukakan oleh Nisa dan Cahyo . serta Wuryaningsih dan Prasetyo . , yang menegaskan bahwa kedekatan emosional dan keteladanan orang tua merupakan faktor penting dalam pembentukan nilai moral anak. Seluruh hasil penelitian tersebut memperkuat temuan korelasi dalam penelitian ini. Copyright A 2025. Nisa et al, e-ISSN 3089-6150 Jurnal Pelangi. Vol. 3 No. Des 2025, pp. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara waktu interaksi orang tua dan perkembangan moral anak di KB Shadira Balikpapan. Semakin tinggi intensitas interaksi orang tua, semakin baik perkembangan moral anak. Temuan ini sejalan dengan teori-teori utama perkembangan dan hasil penelitian sebelumnya. Tingkat Kekuatan Korelasi antara Waktu Interaksi Orang Tua dan Perkembangan Moral Anak Nilai koefisien korelasi r = Ae0,530 menempatkan hubungan antara waktu interaksi orang tua dan perkembangan moral anak dalam kategori sedang. Meskipun hubungan tersebut terbukti signifikan secara statistik dengan nilai signifikansi 0,000, tingkat korelasinya tidak dapat dikategorikan sebagai kuat, umumnya berkisar antara 0,60 hingga 0,799. Kondisi ini menunjukkan bahwa interaksi orang tua memang memainkan peran penting, tetapi bukan satusatunya faktor yang menentukan perkembangan moral anak. Penjelasan ini selaras dengan nilai R Kuadrat sebesar 0,280, yang menunjukkan bahwa waktu interaksi orang tua hanya menjelaskan sekitar 28% dari variasi dalam perkembangan moral Dengan demikian, 72% variasi yang tersisa dipengaruhi oleh faktor-faktor selain variabel penelitian, seperti gaya pengasuhan yang diterapkan dalam keluarga, model peran guru di sekolah, kualitas interaksi dengan teman sebaya, lingkungan sosial, dan peningkatan paparan media digital dalam kehidupan anak-anak. Hasil tersebut menegaskan bahwa interaksi orang tua merupakan faktor yang signifikan, tetapi bukan satu-satunya determinan dalam perkembangan moral anak. Intensitas interaksi yang tinggi dapat memberikan kontribusi penting dalam penanaman nilai-nilai moral, namun perkembangan moral anak usia dini juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial lain di luar Kategori korelasi sedang ini menunjukkan bahwa pengaruh interaksi orang tua bersifat nyata, tetapi tidak berdiri secara tunggal. Kekuatan hubungan yang berada pada kategori sedang ini relevan dengan Teori Pembelajaran Sosial Bandura . , yang menyatakan bahwa pembentukan perilaku moral terjadi melalui proses modeling (Bandura, 1. Korelasi yang tidak terlalu kuat mengindikasikan bahwa proses peneladanan berlangsung cukup efektif, tetapi dapat dipengaruhi oleh faktor lain, seperti ketidaksesuaian teladan antara lingkungan rumah dan sekolah atau keterbatasan waktu interaksi yang menghambat konsistensi proses imitasi. Pandangan ini juga sejalan dengan Teori Ekologi Bronfenbrenner . , yang menekankan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh berbagai sistem lingkungan, dari mikrosistem hingga makrosistem (Bronfenbrenner & Morris, 2. Oleh karena itu, meskipun keluarga memiliki peran penting, perkembangan moral anak tetap dipengaruhi oleh interaksi di lingkungan sekolah, masyarakat, dan konteks sosial yang lebih luas. Nilai korelasi sedang yang ditemukan mencerminkan sifat perkembangan moral yang bersifat multifaktorial. Dalam perspektif Teori Perkembangan Moral Kohlberg . , kekuatan korelasi yang sedang menunjukkan bahwa meskipun anak membutuhkan arahan dan interaksi dari orang tua sebagai figur otoritas utama, peran guru dan lingkungan sekolah juga berkontribusi dalam membentuk pemahaman anak tentang konsep benar dan salah (Kohlberg, 1. Dengan demikian, perkembangan moral anak merupakan hasil dari interaksi berbagai pengalaman yang diperoleh di lingkungan yang berbeda. Temuan ini didukung oleh penelitian sebelumnya, seperti Natagor . yang menyatakan bahwa hubungan antara interaksi orang tua dan perkembangan moral anak tidak selalu berada pada kategori kuat. Penelitian Cai dkk. dan Nair . juga menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua berhubungan dengan perkembangan moral, tetapi tetap dipengaruhi oleh faktor sosial lainnya. Sementara itu. Nisa . serta Wuryaningsih dan Prasetyo . menegaskan bahwa kualitas pola asuh berpengaruh signifikan, namun tidak terlepas dari peran Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tingkat kekuatan korelasi antara interaksi orang tua dan perkembangan moral anak berada pada kategori sedang. Artinya, hubungan tersebut signifikan dan bermakna, meskipun perkembangan moral anak juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain yang turut berperan dalam pembentukan karakter anak usia dini. Copyright A 2025. Nisa et al, e-ISSN 3089-6150 Jurnal Pelangi. Vol. 3 No. Des 2025, pp. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tentang korelasi antara waktu interaksi orang tua dan perkembangan moral anak di KB Shadira Balikpapan, ditemukan temuan penting mengenai hubungan antara waktu interaksi orang tua . ermasuk kuantitas, kualitas komunikasi, dan keterlibatan dalam aktivitas ana. dan perkembangan moral anak . ermasuk pengetahuan dan kepatuhan terhadap aturan, empati, serta kemandirian dan tanggung jawa. Secara statistik, hasil analisis menunjukkan korelasi yang signifikan antara kedua variabel yang diteliti. Temuan ini tercermin dalam nilai koefisien korelasi Pearson sebesar r = -0,530 dengan tingkat signifikansi sig = 0,000, yang menegaskan bahwa hubungan tersebut tidak terjadi secara kebetulan dan memiliki makna empiris. Nilai signifikansi yang jauh di bawah ambang batas 0,05 menunjukkan bahwa hubungan ini tidak terjadi secara kebetulan, sehingga mendukung penerimaan hipotesis alternatif (H. dan menolak hipotesis nol (H. Kekuatan dan pengaruh interaksi meskipun signifikan, tingkat kekuatan korelasi yang ditemukan berada pada kategori sedang. Melalui koefisien determinasi (R. sebesar 0,280, dapat disimpulkan bahwa 28% dari variabilitas perkembangan moral anak dipengaruhi secara langsung oleh waktu interaksi orang tua. Angka ini menyoroti peran substansial orang tua dalam membentuk karakter moral anak. Sisa 72% variasi perkembangan moral anak disebabkan oleh faktor- faktor lain di luar fokus penelitian, seperti pola asuh orang tua, keteladanan guru di sekolah, interaksi dengan teman sebaya, lingkungan sosial, dan media digital. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih banyak kepada KB Shadira Balikpapan atas kesempatan yang diberikan kepada Peneliti untuk melakukan penelitian di Lembaga tersebut. Terima kasih banyak kepada Pembimbing dan Penguji yang telah berkontribusi terhadap penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA