JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA http://jktp. com/jktp/index VOLUME 07 NOMOR 02 DESEMBER 2024 ISSN 2654 - 5756 ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN BEBAN KERJA PERAWAT DENGAN KEPATUHAN PELAKSANAAN EARLY WARNING SYSTEM DI BANGSAL RAWAT INAP DEWASA THE RELATIONSHIP BETWEEN NURSES' WORKLOAD AND THE EARLY WARNING SYSTEM IMPLEMENTATION COMPLIANCE IN ADULT INPATIENT WARD Tulus BukhoriA. Widuri1*. Jennifa1. Tri Arini2 STIKES Guna Bangsa. Yogyakarta. Indonesia Akademi Keperawatan Yayasan Keperawatan Yogyakarta. Yogyakarta. Indonesia Abstrak Article history Received date: 4 Oktober 2024 Revised date: 27 November 2024 Accepted date: 10 Desember 2024 *Corresponding author: Widuri. STIKES Guna Bangsa. Yogyakarta. Indonesia, mahfud@gmail. Kepatuhan pelaksanaan early warning system (EWS) oleh perawat dalam upaya menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien di rumah sakit salah satunya dipengaruhi oleh faktor beban kerja. Meningkatnya beban kerja perawat di unit perawatan dapat diakibatkan karena kurangnya tenaga, banyaknya prosedur administratif yang harus diselesaikan, dan beban tugas atau job description yang masih kurang jelas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan beban kerja perawat dengan kepatuhan pelaksanaan EWS di ruang rawat inap dewasa. Penelitian menggunakan desain korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 41 responsen. Instrumen penelitian menggunakan time and motion study dan cheklist EWS yang sudah ada petunjuk teknis di Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI. Analisis data menggunakan uji KendallAos Tau-b. Hasil penelitian menunjukkan beban kerja perawat mayoritas masuk kategori sedang . %) dan kepatuhan pelaksanaan EWS mayoritas masuk kategori kurang patuh . ,5%). Ada hubungan yang signifikan antara beban kerja perawat dengan kepatuhan pelaksanaan EWS . = 0,. Sedangkan usia . = 0,. , jenis kelamin . = 0,. , masa kerja . = 0,. , dan tingkat pendidikan . = 0,. tidak berhubungan dengan kepatuhan pelaksanaan EWS. Manajemen Rumah Sakit dapat merumuskan kebijakan baru terkait penambahan SDM perawat sesuai dengan kapasitas pelayanan dan menyelenggarakan kegiatan pelatihan EWS. Kata Kunci: Beban kerja perawat, early warning system, kepatuhan Abstract Copyright: A 2024 by the authors. This is an open access article distributed under the terms and conditions of the CC BY-SA. The compliance of implementing the early warning system (EWS) by nurses in an effort to reduce morbidity and mortality of patients in hospitals is influenced by factors such as workload. An increase in nurses' workload in the care unit may be caused by a lack of staff, numerous administrative procedures that need to be completed, and unclear job descriptions. The purpose of this study is to determine the relationship between nurses' workload and compliance with the implementation of EWS in adult inpatient This study used a correlational design with a cross-sectional approach. The research sample consisted of 41 respondents. The research instruments used included time and motion study and EWS checklist, which had technical guidelines available at Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI. Data analysis was performed using Kendall's Tau-b test. The results of the study showed that most nurses' workload was categorized as moderate . %), and the majority of compliance with EWS implementation was categorized as non-compliant . 5%). There was a significant relationship between nurses' workload and compliance with EWS implementation . = 0. Minewhile Age . = 0. , gender . = 0. , years of service . = 0. , and education level . = . were not found to be related to compliance with EWS implementation. Hospital management may formulate new policies related to increasing the nursing workforce in accordance with service capacity and conduct EWS training activities. Keywords: Nurse workload, early warning system, compliance PENDAHULUAN Deteksi dini melalui pengkajian harus dilakukan secara terfokus dan berkesinambungan sehingga data yang dihasilkan dapat digunakan untuk merawat pasien sebaik mungkin. Kegagalan perawat mengenali perubahan kondisi klinis pasien di ruang rawat inap rumah sakit dapat mengakibatkan kejadian yang tidak diharapkan, misalnya mengakibatkan pemindahan pasien yang tidak direncanakan ke unit perawatan intensif, kejadian henti Tulus Bukhori. Widuri. Jennifa. Tri Arini: Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 120-125 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. ardiac arres. dan kematian (Triwijiyanti & Rahmania, 2. Jumlah angka kematian menjadi salah satu indikator kinerja sebuah proses pelayanan kesehatan. Angka kematian yang terjadi di bangsal Ruhama. Madinah, dan Arofah rawat inap dewasa Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI (RSIY PDHI) pada 3 bulan terakhir sebanyak 25 pasien yang meninggal. Kematian itu sendiri secara umum terbagi atas dua jenis yaitu kematian >48 jam dan <48 jam. Kondisi kematian yang memiliki rentang < 48 jam merupakan kondisi perburukan dan kematian secara fisiologi (Fauzan et al. , 2. Perubahan kondisi pasien inilah yang harus bisa dideteksi lebih dini oleh perawat sehingga pasien tidak perlu melewati fase kegawatan atau kritis. Pelaksanaan monitoring kondisi pasien di RSIY PDHI salah satunya menggunakan early warning system (EWS). EWS merupakan alat dan prasarana perawat dalam mengidentifikasi perubahan kondisi pasien. EWS didasarkan atas penilaian terhadap perubahan keadaan pasien melalui pengamatan yang sistematis terhadap semua perubahan fisiologis pasien. Sistem ini merupakan konsep pendekatan proaktif untuk meningkatkan keselamatan pasien dan hasil klinis pasien yang lebih baik dengan standardisasi pendekatan asesmen dan menetapkan skoring parameter fisiologis yang sederhana (Zuhri & Nurmalia, 2. Laporan tahun 2013 di Amerika Serikat setiap tahun terdapat 440. 000 kematian akibat kesalahan medis dan merupakan penyebab kematian ke-3 setelah penyakit jantung dan kanker (Yupartini & Aminah, 2. Kebijakan rumah sakit dalam penanganan korban dengan henti jantung tidak terbatas hanya pada respons terhadap pasien dengan henti jantung tetapi juga meliputi strategi pencegahan yang melibatkan seluruh komponen rumah sakit. Pengenalan dini dari penurunan kondisi pasien dan pencegahan kejadian henti jantung adalah komponen pertama dari rantai keselamatan (Chain of surviva. Sistem pencegahan ini penting mengingat banyaknya kegagalan rumah sakit dalam mengenali secara dini gejala dan penurunan kondisi pasien, atau bereaksi lambat untuk mencegah kejadian henti jantung. Penerapan EWS salah satunya dipengaruhi oleh kepatuhan perawat (Mulyati & Safitri, 2. Berdasarkan hasil penelitian Widegdo et al. kepatuhan perawat dalam pendokumentasian EWS berada pada kategori rendah, yaitu 10,5%. Penyebab kurangnya kepatuhan perawat dalam melengkapi pendokumentasian dikarenakan adanya kendala melakukan pendokumentasian yaitu perawat enggan melakukan dokumentasi asuhan keperawatan karena jumlah formulir dokumentasi terlalu banyak, serta ada sebagian perawat yang menyatakan sibuk dan pasien kurang kooperatif untuk dilakukan pengkajian (Widegdo et al. , 2. Pada pelaksanaan pengisian EWS, kepatuhan perawat diukur berdasarkan standar kriteria dari setiap tahap asuhan keperawatan. Kepatuhan perawat dalam pelaksanaan EWS dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi . mur, pendidikan, status pegawai, dukungan sosial, buday. , faktor rumah sakit . elatihan, beban kerja, insenti. , dan faktor petugas . engetahuan, sikap, keyakinan, persepsi, pemahaman terhadap instruksi, kepribadian dan risik. (Luthfiyah, 2. Berdasarkan hasil penelitian Yupartini & Aminah . diketahui sebagian besar responden kurang patuh melaksanakan EWS dan code blue yaitu sebanyak 55 responden . ,4%). Penelitian yang dilakukan Chintya . menyatakan beban kerja perawat dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Faktor penyebab meningkatnya beban kerja perawat di unit perawatan antara lain kurangnya tenaga kerja di unit perawatan, banyaknya prosedur administratif yang harus diselesaikan, serta beban tugas atau job description petugas yang masih kurang jelas sehingga menyebabkan kelebihan beban atau kesibukan (Wahyuningsih et al. , 2. Beban kerja yang tinggi menyebabkan perawat menjadi tidak patuh dalam melakukan dokumentasi EWS, sehingga menyebabkan beberapa bagian kecil terlewat (Widegdo et al. , 2. Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di bangsal rawat inap dewasa yaitu di bangsal Ruhama. Madinah dan Arofah didapatkan 12 dari 40 pasien yang tidak termonitoring secara berkala pada lembar EWS. Sedangkan hasil wawancara yang dilakukan pada empat perawat yang jaga pagi di bangsal tersebut mengatakan belum melakukan pengisian lembar EWS karena beberapa alasan, antara lain jumlah pasien tidak sebanding dengan jumlah perawat jaga, kegiatan perawat yang banyak baik produktif langsung maupun tidak langsung, jumlah pasien pulang dan pasien baru yang banyak dalam sekali dinas, perawat masih mengurus administrasi pasien pulang dan perawat mengambil seluruh obat untuk pasien di bagian farmasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara beban kerja perawat dengan kepatuhan pelaksanaan EWS di bangsal rawat inap dewasa. METODE Desain Penelitian ini menggunakan desain penelitian korelasi dengan pendekatan cross sectional. Desain penelitian korelasi bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel(Sujarweni, 2. Penelitian dilaksanakan di bangsal rawat inap Ruhama. Arofah, dan Madinah Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI PDHI pada bulan November 2023. Sampel Populasi penelitian yaitu seluruh perawat yang berdinas di bangsal rawat inap Ruhama. Arofah, dan Madinah RSIY PDHI berjumlah 44 orang. Kriteria inklusi penelitian meliputi perawat yang berdinas di tiga bangsal tersebut dan bersedia menjadi responden, sedangkan kriteria eksklusi yaitu perawat yang berstatus sebagai Kepala Bangsal atau sedang cuti. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yaitu seluruh responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 41 responden. Peneliti Tulus Bukhori. Widuri. Jennifa. Tri Arini: Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 120-125 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. melakukan perekrutan kepada calon responden yang memenuhi kriteria dengan menjelaskan semua prosedur yang terkait dalam proses pengambilan data penelitian. Variabel Variabel dalam penelitian ini yaitu beban kerja perawat dan kepatuhan pelaksanaan EWS. Beban kerja perawat adalah seluruh aktivitas yang dilakukan perawat selama bertugas dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien di ruang rawat inap. Kategori tingkat beban kerja dibagi menjadi tiga, yaitu bila waktu kerja produktif lebih dari 85% dikategorikan beban kerja bera, 75% hingga 85% dikategorikan beban kerja sedang, dan kurang dari 75% dikategorikan beban kerja ringan. Kepatuhan pelaksanaan EWS adalah ketaatan dalam melaksanakan pengisian EWS sesuai indikator yang ada, diantaranya laju pernafasan, saturasi oksigen, penggunaan alat bantu nafas, suhu tubuh, tekanan darah sistolik, denyut nadi, dan tingkat kesadaran. Kepatuhan dikategorikan sebagai patuh jika hasilnya antara 75% hingga 100%, kurang patuh jika hasilnya antara 50% hingga 70%, dan tidak patuh jika hasilnya kurang dari 50%. Pengumpulan Data Instrumen penelitian variabel beban kerja menggunakan instrumen baku time and motion study dari Nursalam . , di mana responden mengisi lembar penghitungan beban kerja dengan cara menuliskan waktu tindakan produktif . indakan keperawatan langsung dan tidak langsun. , frekuensi tindakan dan jumlah waktunya sesuai dengan shift . agi, siang, mala. yang sedang dijalankan. Melalui pengisian dengan instrumen time and motion study, peneliti dapat mengetahui proporsi untuk kerja langsung, tindakan tidak langsung, tindakan yang relevan, tindakan pribadi, dan tindakan lainnya. Pengambilan data kepatuhan EWS menggunakan checklist EWS yang sudah ada petunjuk teknis yang sudah baku digunakan di RSIY PDHI. Checklist terdiri dari 49 item yang diisi oleh peneliti selama observasi terhadap responden dalam melaksanakan EWS di masing-masing bangsal. Analisis Data Pengolahan data pada penelitian ini meliputi tahap pengeditan, pengodean, entri data, tabulasi, dan Uji analisis data menggunakan uji KendallAos Tau-b untuk mengetahui apakah ada hubungan antara beban kerja perawat dengan kepatuhan pelaksanaan EWS. Analisis statistik dilakukan dengan alat bantu software IBM SPSS 26. Etika Penelitian Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komite Etik STIKES Guna Bangsa Yogyakarta dengan nomor 017/KEPK/X/2023. Pada saat pengambilan data, peneliti menjelaskan maksud dan tujuan, manfaat, prosedur, sifat kerahasiaan, dan kesukarelaan menjadi responden kepada calon responden. Calon responden yang bersedia mengikuti penelitian kemudian mengisi lembar persetujuan menjadi responden. Selama penelitian, data responden dijamin kerahasiaannya dengan hanya mencantumkan kode pada lembar observasi. Data penelitian hanya diketahui oleh peneliti dan dipergunakan untuk keperluan penelitian. HASIL Tabel 1. Karakteristik responden Karakteristik Usia 15 - 24 25 - 34 35 - 44 Jenis kelamin Laki Ae laki Perempuan Masa Kerja O1 Tingkat pendidikan D3 Keperawatan S1 Profesi Ners Total Tabel 1 menunjukkan responden mayoritas berusia 25-34 tahun . ,4%) dan berjenis kelamin perempuan . ,4%). Berdasarkan masa kerja responden mayoritas >1 tahun . %). Berdasarkan tingkat pendidikan sebagian memiliki tingkat pendidikan D3 Keperawatan . ,2%). Hasil penelitian pada Tabel 2 menunjukkan sebagian besar beban kerja perawat masuk kategori sedang . %). Berdasarkan kepatuhan pelaksanaan EWS mayoritas responden termasuk dalam kategori kurang patuh . ,5%). Tabel 3 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan usia . = 0,. , jenis kelamin . = 0,. , masa kerja . = 0,. , dan tingkat pendidikan . = 0,. dengan kepatuhan pelaksanaan EWS. Tulus Bukhori. Widuri. Jennifa. Tri Arini: Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 120-125 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Tabel 2. Distribusi beban kerja perawat dan kepatuhan pelaksanaan EWS Variabel Beban Kerja Perawat Ringan Sedang Berat Kepatuhan Pelaksanaan EWS Patuh Kurang Patuh Tidak Patuh Tabel 3. Hubungan karakteristik responden dengan kepatuhan pelaksanaan EWS Karakteristik Responden Usia . Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Masa kerja . O1 Tingkat pendidikan D3 Keperawatan Ners Kepatuhan pelaksanaan EWS Patuh Kurang Tidak Patuh Patuh Total p-value Coefficient 0,491 -0,107 0,612 0,080 0,839 0,032 0,855 0,029 Tabel 4. Hubungan beban kerja dengan kepatuhan pelaksanaan EWS Beban Kerja Perawat Ringan Sedang Berat Total Kepatuhan Pelaksanaan EWS Patuh Kurang Tidak Patuh Patuh 12 29,3 12,2 20 48,8 17 41,5 24 58,5 Total p-value Coefficient 0,001 0,545 Tabel 4 menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara beban kerja perawat . = 0,. dengan kepatuhan pelaksanaan EWS PEMBAHASAN Hasil penelitian ini sesuai dengan Hamsah et al. di mana responden mayoritas berusia 26-35 tahun sebanyak 22 orang . ,7%). Sebanding dengan pernyataan Suyanti et al. yang mengatakan bahwa usia dewasa muda . -40 tahu. adalah tahapan di mana individu aktif dalam berkarir dan tahap ini merupakan fase yang produktif untuk melakukan pekerjaan. Analisis data menunjukkan bahwa usia tidak berhubungan dengan kepatuhan pelaksanaan EWS oleh perawat. Hal ini sesuai penelitian Rajagukguk & Widani . yang menyatakan tidak ada hubungan antara usia perawat dengan kepatuhan pelaksanaan monitoring EWS. Hasil data demografi menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah perempuan. Hal ini senada dengan hasil penelitian Pane et al. yang menyatakan mayoritas respondennya adalah perempuan yaitu sebanyak 52 orang . ,2%). Analisis data menunjukkan tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kepatuhan pelaksanaan EWS. Penelitian Pradana . menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal pemecahan masalah, keterampilan analitis, daya saing, motivasi, kemampuan bersosialisasi, atau kemampuan belajar. Karakteristik responden berdasarkan masa kerja sesuai dengan hasil penelitian Suyanti et al. yang menyebutkan responden dengan masa kerja 1-5 tahun lebih mendominasi yaitu sebanyak 14 responden . ,95%). Hasil analisis menyebutkan bahwa tidak ada hubungan antara masa kerja dengan kepatuhan pelaksanaan EWS. Hasil ini mendukung penelitian Rajagukguk & Widani . yang menyebutkan tidak ada hubungan antara pengalaman kerja perawat dengan kepatuhan pelaksanaan monitoring EWS. Tingkat pendidikan responden Tulus Bukhori. Widuri. Jennifa. Tri Arini: Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 120-125 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. senada dengan penelitian Hamsah et al. yang menyatakan mayoritas latar belakang pendidikan responden adalah D3 Keperawatan sebanyak 24 orang . ,7%). Hasil penelitian didapatkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan pelaksanaan EWS. Namun. Pane et al. menyatakan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah menerima informasi dan memiliki pengetahuan yang lebih Perawat dengan pengetahuan yang baik akan menumbuhkan komitmen yang tinggi dalam meningkatkan kesehatan pasien serta kesadaran akan peraturan yang berlaku di rumah sakit. Hasil penelitian terkait beban kerja sesuai dengan penelitian Monalisa et al. yang menyatakan sebagian besar responden mengalami tingkat beban kerja dalam kategori sedang. Kepatuhan pelaksanaan EWS sejalan dengan penelitian Widegdo et al. yang menyebutkan bahwa mayoritas responden sebanyak 65,8% masuk dalam kategori kepatuhan cukup dalam pendokumentasian EWS di rawat inap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beban kerja berhubungan dengan kepatuhan pelaksanaan EWS oleh perawat. Hal ini dapat dikatakan perawat yang memiliki beban kerja ringan mayoritas lebih patuh terhadap kepatuhan pelaksanaan EWS dibandingkan dengan perawat yang memiliki beban kerja sedang, karena adanya perbedaan jumlah kegiatan keperawatan, jumlah pasien, jumlah perawat, serta kondisi pasien yang berubah-ubah. Hasil penelitian ini selaras dengan penelitian Mulyati & Safitri . yang menyatakan ada hubungan antara beban kerja mental dengan tingkat kepatuhan perawat dalam penerapan EWSdi ruang rawat inap RSUD Khidmat Sehat Afiat Kota Depok (A= 0,. Penelitian ini juga mendukung penelitian Widegdo et al. yang menunjukkan bahwa ada hubungan beban kerja dengan kepatuhan perawat dalam pendokumentasian EWS di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rahayu Gunung Kidul. Penghitungan beban kerja dilakukan berdasarkan jumlah total waktu kegiatan langsung dan kegiatan tidak langsung, yang memiliki kaitan dengan pelaksanaan EWS. Di mana hasil pengisian time and motion study menunjukkan bahwa beban kerja yang paling banyak adalah mengantar jemput pasien hemodialisa, mengantar pemeriksaan penunjang diagnostik seperti Head CT scan ke radiologi yang terpisah gedung cukup jauh dari bangsal rawat inap yang harus menggunakan transportasi ambulans. Selain itu, pendokumentasian asuhan keperawatan, mengisi resume medis di SIM RS, mengurus persyaratan pasien pulang, mengambil obat sentral unit dose dispensing (UDD) membutuhkan waktu yang lama, dan telekomunikasi dengan dokter jaga yang lama sehingga waktu perawat tersita untuk melaksanakan asuhan keperawatan dan mengisi lembar EWS. Hal ini akan mempengaruhi kualitas pemberian pelayanan asuhan keperawatan. Sejalan dengan penelitian Kusumaningsih . bahwa sebagian besar perawat mengalami pekerjaan terlalu banyak yang dapat menurunkan produktivitas dalam bekerja. Hal-hal yang seharusnya dilakukan untuk menjaga keselamatan pasien sering tidak dilaksanakan, dan berisiko melakukan kesalahan dalam tindakan keperawatan, sehingga berpengaruh terhadap kinerja perawat menjadi kurang optimal. Beban kerja perawat dapat dipengaruhi oleh kurangnya tenaga perawat di ruangan dibandingkan dengan jumlah pasien yang dirawat (Wahyuningsih et al. , 2. Kurangnya tenaga yang berdinas dapat menyebabkan adanya beban kerja yang lebih besar dihadapi perawat. Selain itu, adanya tindakan penyelamatan pasien, di mana perburukan kondisi pasien yang terjadi secara mendadak sehingga membutuhkan tenaga tambahan perawat dalam memberikan bantuan semaksimal mungkin. Selain itu, adanya tuntutan dari pihak rumah sakit untuk tetap memberikan pelayanan yang terbaik dan tuntutan dari keluarga pasien kepada perawat untuk memberikan pilihan yang tepat dan cepat dalam memberikan keputusan. Penyebab kegagalan EWS dapat berasal dari sumber daya manusia, yaitu karena pengisian EWS belum menjadi kebiasaan bagi para petugas kesehatan di rumah sakit, maka penilaian EWS akan dirasakan sebagai tambahan beban kerja sehingga menyebabkan tingkat kepatuhan yang rendah dan kegagalan yang tinggi (Subhan et al. , 2. Menurut Suwaryo et al. , ketidaklengkapan dokumentasi EWS dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain, kurangnya sosialisasi terkait cara pengisian, alur baca dalam isian EWS dan beban kerja perawat di ruang perawatan. IMPLIKASI DAN KETERBATASAN Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk membantu dalam menghitung proporsi jumlah perawat yang berada di bangsal rawat inap dengan mengupayakan beban kerja yang tidak terlalu berat dan menjadi masukan bagi perawat agar lebih patuh dalam pelaksanaan EWS sehingga dapat menjadi sinyal awal suatu respon kegawatan dalam mengawasi kondisi kesehatan pasien. Penelitian ini hanya terbatas pada analisis hubungan dua variabel saja yaitu beban kerja dan kepatuhan pelaksanaan EWS. KESIMPULAN Beban kerja perawat sebagian besar termasuk kategori sedang, kepatuhan pelaksanaan EWS mayoritas termasuk dalam kategori kurang patuh, dan ada hubungan beban kerja perawat dengan kepatuhan pelaksanaan EWS. Tidak ada hubungan antara karakteristik responden . sia, jenis kelamin, masa kerja, dan tingkat pendidika. dengan kepatuhan pelaksanaan EWS. Diharapkan manajemen rumah sakit dapat merumuskan kebijakan baru terkait penambahan SDM perawat sesuai dengan kapasitas pelayanan yang berada di Rumah Sakit dan menyelenggarakan kegiatan pelatihan EWS untuk meningkatkan pengetahuan perawat terkait penerapan EWS guna meningkatkan kepatuhan pelaksanaan EWS pada pasien. Tulus Bukhori. Widuri. Jennifa. Tri Arini: Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 120-125 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, terutama kepada perawat dan Manajemen Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI yang telah memberikan izin pengambilan data dan mendukung penelitian ini sehingga dapat berjalan dengan baik dan lancar. REFERENSI