HUBUNGAN PANJANG BIBIR ATAS DENGAN TIPE SENYUM PADA SUKU BALI DI FKG UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR Norman Hidajah 1. Ketut Virtika Ayu2. Anak Agung Ayu Cintya Widiaswari3 1,2, Bagian Ortodonsia. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar Program Studi Pendidikan Dokter Gigi. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar *Korespondensi e-mail : ayucintyawidiaswari@gmail. ABSTRAK Pendahuluan: Estetika adalah keindahan dan daya tarik guna untuk meningkatkan harga diri pasien, dan membuat pasien merasa puas terhadap bagian penting dari tubuh mereka. Penilaian estetika tidak hanya pada wajah dan tubuh, tetapi juga senyum yang estetik. Senyum adalah bentuk dari ekspresi dan penampilan wajah. Terdapat banyak pembagian tipe senyum berdasarkan kategori tertentu. Beberapa faktor yang mempengaruhi tipe senyum agar terlihat indah salah satunya adalah panjang bibir atas. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara panjang bibir atas dengan tipe senyum pada suku Bali di FKG Universitas Mahasaraswati Denpasar. Metode: penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional menggunakan sampel sebanyak 52 subjek suku Bali yang berusia 19-24 tahun di FKG Universitas Mahasaraswati Denpasar. Sampel yang digunakan pada penelitian ini diambil dengan Teknik simple random sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran langsung pada sampel menggunakan sliding caliper untuk mengukur panjang bibir atas serta dilakukan pengamatan langsung untuk mengetahui tipe senyum. Hasil: hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara panjang bibir atas dengan tipe senyum pada suku Bali di FKG Universitas Mahasaraswati Denpasar dengan nilai 0,024 . <0,. Simpulan: adanya hubungan panjang bibir atas dengan tipe senyum menunjukkan bahwa semakin rendah ukuran panjang bibir atas maka semakin tinggi tipe senyum. Kata kunci: panjang bibir atas, tipe senyum, suku Bali. ABSTRACT Introduction: Aesthetics is beauty and attractiveness to increase the patient's self-esteem, and make the patient feel satisfied with the important parts of their body. Aesthetic assessment is not only on the face and body but also on the aesthetic smile. A smile is a form of facial expression and appearance. There are many types of smile divisions based on certain categories. Several factors affect the type of smile to look beautiful, one of which is the length of the upper lip. Purpose: this research aims to determine whether or not there is a relationship between the length of the upper lip and the type of smile in Balinese at the Faculty of Dentistry. Mahasaraswati University. Denpasar. Method: this research is an observational analytic study with a cross-sectional design using a sample of 52 Balinese subjects aged 19-24 years at the Faculty of Dentistry. Mahasaraswati University Denpasar. The sample used in this study was taken by a simple random sampling technique based on inclusion and exclusion criteria. Data was collected by direct measurement of the sample using a sliding caliper to measure the length of the upper lip and direct observation to determine the type of smile. Results: the results of this study indicate a significant relationship between the length of the upper lip and the type of smile in the BaliAos tribe group at FKG Mahasaraswati Denpasar University with a value of 0. <0. Conclusion: the relationship between the length of the upper lip and the type of smile indicates that the lower the length of the upper lip, the higher the type of smile. Key words: upper lip length, smile type. BaliAos tribe. PENDAHULUAN Senyum adalah bentuk dari ekspresi dan penampilan wajah. Secara umum senyum yang indah dalam ilmu kedokteran gigi melibatkan hubungan harmonis antara gigi anterior, scaffold gingiva dan kerangka bibir. 1,2 Senyum yang indah dalam bidang ilmu ortodonti disebut dengan mini-esthetics. Mini-esthetics merupakan suatu kerangka senyum dimana tampilan senyum dibatasi oleh bibir atas dan bawah serta mencakup penilaian tampilan gingiva, tampilan gigi anterior, ketinggian gingiva . ingival height. dan buccal corridor . ateral negative spac. Pada dasarnya terdapat dua tipe dasar senyum yaitu senyum sosial . osed smil. dan senyum spontan . nposed smil. 5 Menurut Tjan dkk . , pembagian tipe senyum berdasarkan insisivus dan gingiva maksila yang terlihat ke dalam tiga kategori, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Disebut tipe senyum rendah jika memperlihatkan kurang dari 75% tinggi cervicoincisal gigi-gigi anterior, tipe senyum sedang jika memperlihatkan 75% sampai 100% gigi-gigi anterior diatas disertai gingiva di bagian interproksimal, dan tipe senyum tinggi jika memperlihatkan cervicoincisal gigi-gigi anterior atas disertai sebagian gingiva. 6 Beberapa faktor yang mempengaruhi tipe senyum agar terlihat indah salah satunya adalah panjang bibir atas. Panjang bibir atas adalah panjang rata-rata yang diukur dari subnasal sampai dengan batas inferior dari garis tengah bibir atas . tomion superiori. pada posisi istirahat. Ratarata panjang bibir atas pada pria sekitar 23mm dan wanita 20mm. 7 Panjang bibir atas dapat di pengaruhi oleh beberapa faktor seperti jenis kelamin, usia, inklinasi insisivus rahang atas dan RAS. Ras bangsa di dunia dapat digolongkan menjadi tiga macam ras yaitu Kaukasoid. Mongoloid, dan Negroid. 8 Ras Mongoloid adalah ras manusia yang sebagian besar menetap di Asia Utara. Asia Timur. Asia Tenggara. Madagaskar dilepas pantai timur Afrika, beberapa bagian di India Timur Laut. Eropa Utara. Amerika Utara. Amerika Selatan. Oseania. Di Asia Tenggara tepatnya di Indonesia, wilayah tersebut mencakup beberapa kelompok suku dan budaya termasuk suku Jawa, suku Tionghoa, suku Madura, suku Makassar. Suku Bali. 9 Suku Bali adalah suku yang menetap dan berasal dari Pulau Bali. Berdasarkan uraian latar belakang diatas peneliti tertarik lebih lanjut untuk meneliti mengenai hubungan panjang bibir atas dengan tipe senyum pada suku Bali di FKG Universitas Mahasaraswati Denpasar. METODE Alat dan bahan yang digunakan berupa Alkohol 70%, kapas, tissue. Sliding caliper, masker, alat tulis, kamera. Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain cross sectional yaitu suatu pendekatan dengan melakukan pengumpulan data pada waktu tertentu. 11 Populasi dari penelitian ini adalah mahasiswa suku Bali Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar yang berusia 19-24 tahun sebanyak 110 orang. Tahapan penelitian yang dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, sampel yang memenuhi kriteria diberikan lembar informed consent, diinstruksikan untuk melakukan sterilisasi alat . liding calipe. dengan menggunakan kapas yang telah diberikan alkohol 70%, kemudian kapas diusapkan ke setiap sisi sliding caliper, subjek diminta untuk duduk pada kursi yang tersedia dirumah. Selanjutnya, subjek diinstruksikan untuk tersenyum selama beberapa menit dengan mengucapkan kata AucheeseAy, pengukuran ini dilakukan secara vertikal dari dasar hidung . sampai dengan bagian inferior dari garis tengah bibir atas menggunakan sliding caliper. Setelah mendapatkan pengukuran panjang bibir atas, subjek dibantu oleh pihak ketiga yang merupakan salah satu anggota keluarga dirumah untuk melakukan pengambilan foto pengukuran pada subjek penelitian. Pengambilan foto pengukuran ini dilakukan menggunakan handphone dengan jarak A 15 cm dari depan wajah subjek. Subjek diinstruksikan untuk tetap tersenyum dengan mengucapkan kata AucheeseAy untuk melihat tipe senyum dengan dibantu oleh pihak ketiga yang merupakan salah satu anggota keluarga dirumah untuk melakukan pengambilan foto menggunakan handphone dengan jarak A 15 cm dari depan wajah subjek. Selanjutnya, dilakukan pencatatan hasil pengukuran dari foto yang telah dikirim dan dilakukan pengumpulan data. Kemudian di tabulasi dan dianalisis. HASIL PENELITIAN Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 52 orang yang merupakan mahasiswa non-klinik Suku Bali di FKG Universitas Mahasaraswati Denpasar yang berusia 19-24 tahun dan memenuhi kriteria penelitian yang telah ditetapkan oleh peneliti. Adapun pengukuran panjang bibir atas menggunakan sliding caliper. Mengukur panjang bibir atas mulai dari dasar hidung . sampai dengan bagian inferior garis tengah bibir atas pada posisi tersenyum. Selanjutnya melihat tipe senyum dengan mengintruksikan sampel untuk senyum beberapa menit dengan mengucapkan kata AucheeseAy untuk melihat tipe senyum. Tabel 1. Rerata dan Standar Deviasi Panjas Bibir Atas pada Laki-laki dan Perempuan suku Bali Jenis Kelamin Frekuensi . Rerata . A SD Laki-laki 20,53 A 2,83 Perempuan 18,54 A 2,90 Jumlah 19,35 A 2,58 Hasil pengukuran tinggi bibir atas pada seluruh sampel diperoleh rerata 19,35 mm dengan standar deviasi 2,58 mm. Hasil pengukuran tinggi bibir atas pada laki-laki diperoleh nilai rata-rata 20,53 mm dengan standar deviasi A2,83 mm. Hasil pengukuran tinggi bibir atas pada perempuan diperoleh nilai rerata 18,54 mm dengan standar deviasi A2,90. Tabel 2. Distribusi tipe senyum pada Laki-laki dan Perempuan suku Bali Jenis Kelamin Frekuensi . Jumlah . Rendah Sedang Tinggi Laki-laki 9 . ,9%) 11 . ,4%) 1 . ,8%) 20,53 A 2,83 Perempuan 10 . ,3%) 16 . ,6%) 5 . ,1%) 18,54 A 2,90 Jumlah 19 . ,5%) 27 . ,9%) 6 . ,5%) 19,35 A 2,58 Hasil analisis menunjukkan tipe senyum paling banyak pada kategori tipe senyum sedang . ,9%), diikuti oleh tipe senyum rendah . ,5%) dan tipe senyum tinggi . ,5%). Tipe senyum yang paling banyak ditemui pada sampel laki-laki adalah tipe senyum sedang . ,4%), tipe senyum rendah . ,9%) dan tipe senyum tinggi . ,8%). Pada sampel perempuan tipe senyum yang paling banyak ditemui adalah sedang . ,6%), tipe senyum rendah . ,3%) dan tipe seyum tinggi . ,1%). Tabel 3. Hasil uji Kruskal Wallis Hubungan Panjang Bibir Atas dengan Tipe Senyum suku Bali Variabel Tipe Senyum Mean Rank Panjang Bibir Atas Rendah 33,61 Sedang 23,57 Tinggi 17,17 Total Nilai P (Si. 0,024 Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan uji Kruskal Wallis diperoleh nilai p = 0,024 < 0,05 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara panjang bibir atas dengan tipe senyum pada suku Bali di FKG Universitas Mahasaraswati Denpasar. PEMBAHASAN Senyum merupakan ekspresi wajah yang timbul karena adanya kontraksi pada otot wajah di sekitar mulut yang membuat garis tengah bibir memanjang secara horizontal, sudut mulut akan tertarik ke atas dan lipatan nasolabial akan menjadi semakin jelas, mulut juga dapat sedikit terbuka memperlihatkan gigi depan. 12 Terdapat pembagian tipe senyum berdasarkan kategori tertentu. Pembagian tipe senyum berdasrkan insisivus dan gingiva maksila yang terlihat seperti tipe senyum rendah, tipe senyum tinggi, tipe senyum sedang. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi senyum agar terlihat indah seperti elevasi bibir, inklinasi insisivus, tinggi vertikal gigi, tinggi mahkota, tinggi vertikal maksila, dan panjang bibir atas. panjang bibir atas adalah panjang rata-rata yang diukur dari subnasal sampai dengan batas inferior dari garis tengah bibir atas pada posisi Dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara panjang bibir atas dengan tipe senyum pada suku Bali di FKG Universitas Mahasaraswati Denpasar dengan nilai p = 0,024 < 0,05. Hasil penelitian ini sejalan dengan George dkk . Miron dkk . dan Singh dkk . yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara panjang bibir atas dengan tipe senyum dimana tipe senyum rendah memiliki panjang bibir yang lebih besar dibandingkan tipe senyum sedang dan tipe senyum tinggi. Semakin tinggi tipe senyum maka semakin rendah ukuran panjang bibir atas. 13-15 Hubungan antara panjang bibir atas dengan tipe senyum disebabkan karena adanya faktor usia yang mempengaruhinya. Seiring bertambahnya usia dapat terjadi penurunan elevasi bibir saat tersenyum akibat atrofi otot . enurunan massa otot yang menyebabkan kelemahan oto. yang terlihat seiring bertambahnya usia. 16 Dalam penelitian yang dilakukan oleh Desai dkk . yang perbedaan panjang bibir atas dengan tipe senyum diantara kelompok 5 usia yang berbeda dimana terjadi penurunana yang disebabkan oleh kemampuan otot untuk mengangkat bibir. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh nilai signifikasi 0,024 . <0,. menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara panjang bibir atas dengan tipe senyum pada suku Bali di FKG Universitas Mahasaraswati Denpasar. SARAN Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada Ras yang berbeda agar dapat menjadi perbandingan untuk penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA