Jurnal Humaniora Vol. No. 419 - 434 http://jurnal. id/index. php/humaniora p-ISSN: 2684-9275 e-ISSN: 2548-9585 Makna Upacara Tabar Kampung Ulungali Manggarai Dalam Terang Filsafat Fenomenologi Heidegger Yulius Darus1 . Paskalis Datus1 Mahasiswa. Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana. Malang. Jawa Timur. Indonesia yuliusdarussmm@gmail. https://doi. org/10. 30601/humaniora. v%vi%i. Published by Universitas Abulyatama Abstract Artikel Info Submitted: 25-09-2024 Revised: 30-09-2024 Accepted: 07-10-2024 Online first : 16-10-2024 The focus of this paper is to explore the philosophical meaning and values behind the Tabar ceremony of the Ulungali community in Manggarai-Flores. NTT. The methodology employed in this paper is the phenomenological philosophical approach, where the author delves into philosophical matters related to local wisdom, particularly the Tabar ceremony, and connects it with the phenomenological philosophy of Heidegger. The approach used to explore the Tabar ceremony is qualitative, drawing from various literary sources and conducting interviews. The objectives of this paper are twofold. First, to gain a deeper understanding of the philosophical meaning behind the local wisdom of the Tabar ceremony in the Ulungali Manggarai community in relation to Heidegger's phenomenological Second, to raise awareness among individuals to build a pattern of subject-subject relations or "being in the others" in establishing a harmonious relationship between humans and nature, and to encourage government stakeholders to implement sustainable development that prioritizes environmental preservation. Keywords: Tabar. Phenomenology. Heidegger Abstrak Fokus pembahasan dari tulisan ini untuk menggali makna dan nilai-nilai filosofis di balik upacara Tabar masyarakat Ulungali Manggarai-Flores-NTT. Metodologi yang digunakan dalam tulisan ini adalah menggunakan filosofis fenomenologis yaitu penulis menggarap perkara filsafat berupa kearifan lokal terutama upacara Tabar dan dikaitkan dengan pemikiran filsafat fenomenologis Heidegger. Pendekatan yang digunakan dalam upaya menggali upacara Tabar ialah pendekatan kualitatif dengan mengacu pada beberapa sumber kepustakaan dan dan wawancara. Tujuan dari pembahasan tulisan ini ialah pertama, memahami lebih dalam makna filosofis di balik kearifan lokal upacara Tabar masyarakat Ulungali Manggarai dalam kaitannya dengan Filsafat fenomenologis Heidegger. Kedua, menggugah kesadaran setiap orang untuk membangun suatu pola relasi subjek-subjek atau relasi being in the others dalam membangun relasi dengan alam, sehingga tercipta relasi yang harmonis antara manusia dengan alam dan bagi para pemangku pemerintahan agar mampu mengimplementasikan pembangunan yang berkelanjutan dimana tetap mengutamakan kelestarian alam. Kata Kunci: Tabar, fenomenologi. Heidegger This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. International License. A Yulius Darus. Paskalis Datus PENDAHULUAN Permasalahan lingkungan hidup yang ada sekarang ini semakin kompleks dan beragam seiring dengan pertumbuhan ekonomi, penduduk dan juga teknologi. (Laily & Najicha, 2. Kerusakan lingkungan, baik yang berskala kecil maupun besar, memiliki konsekuensi negatif bagi kelangsungan hidup manusia. Kerusakan-kerusakan lingkungan yang terjadi disebabkan karena banyak hal, seperti menebang pohon sembarangan, membakar hutan tanpa adanya reboisasi, membuang sampah sembarangan, peperangan, dan sebagainya. Tindakan-tindakan seperti ini bukanlah hal baru terjadi, khususnya di Indonesia (Adon & Asman, 2. Jika menilik lebih jauh, salah satu penyebab dari persoalan tersebut di atas ialah karena ulah manusia. Ulah manusia itu lahir dan berawal dari gaya hidup konsumtif, hedonis, materialis, egois yang mengarah pada kerusakan ekosistem global (Heydemans & Langi, 2. Pola hidup ini mengarah pada relasi subjek-objek antara manusia dengan alam. Alam dilihat sebagai objek semata dan manusia sebagai subjek yang kapan saja dapat AomemanfaatkanAo alam. Realitas ini pada dasarnya dilandasi oleh persoalan fundamental filosofis dimana manusia menempatkan dirinya sebagai pusat dari tata semesta ini (Putra, 2. Walaupun demikian, sampai saat ini belum ada penanggulangan yang cocok dari pemerintah. Indonesia merupakan negara majemuk atau plural society. Salah satu kemajemukan Indonesia yang begitu nampak adalah kebudayaan. Berbicara tentang kebudayaan, dijelaskan oleh Budiono Kusumohamaidjojo sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin . kal bud. manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. Selain itu, kebudayaan juga dilihat sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk social yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya (Budiono Kusumohamaidjojo, 2. Pandangan Ini didukung oleh Luong Dinh Hai yang mengatakan bahwa kebudayaan baik dalam arti sempit maupun dalam arti luas merupakan daya pendorong yang tetap bagi perkembangan social secara umum, yang di dalamnya terdapat perkembangan filsafat (Dinh Hai Luong, 2. Kebudayaan sebagai sesuatu hal yang semiotic. Hal tersebut diungkapkan karena dalam kebudayaan, terdapat penggunaan simbol-simbol yang mencerminkan pemikiran manusia yang berbudaya. Terdapat dua pesan utama di sini, yaitu ungkapan segala hal yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata manusia dan penjelasan tentang pelaksanaan upacara ritual. Terkait dengan hal ini, dapat disimpulkan bahwa kebudayaan merupakan hasil kreativitas A Yulius Darus. Paskalis Datus manusia, yang melahirkan dan hidup dalam jaringan simbol-simbol kebudayaan (Geetrz, 1. Pernyataan tersebut dengan jelas menyiratkan bahwa manusia adalah pemilik dan pencipta Melalui kebudayaan yang mereka ciptakan, mereka merasa ada dan menjadi bagian dari budaya serta komunitas lokal (Geetrz, 1. METODE PENELITIAN Penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah menggunakan studi kepustakaan atau pendekatan library research . enelitian kepustakaa. (Sugiyono, 2. Penelitian kepustakaan ini dimulai dari pengumpulan sumber yang menjelaskan terkait dengan tema yang akan dibahas penulis baik itu melalui buku, jurnal, artikel, majalah, dan berbagai penelitian sastra budaya yang dinarasikan oleh peneliti terdahulu. Selain metode yang sudah disampaikan, metode lain yang digunakan adalah melakukan wawancara. Setelah melakukan metode pengumpulan data, penulis mencoba menganalisis berbagai data yang ada yang memiliki korespondensi dengan tema yang digagas oleh penulis. Data-data yang dikumpulkan kemudian dilihat dalam terang filsafat fenomenologi Heidegger. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengertian Dan Makna Upacara Tabar (Darus, 2. Tabar adalah salah satu upacara yang biasa dilakukan oleh masyarakat Manggarai terlebih khusus warga kampung Ulungali Manggarai, yang merupakan salah satu daerah persawahan yang cukup besar dan luas. Tabar merupakan istilah kuno masyarakat Ulungali yang artinya kudut ako . endak memanen pad. Dari istilah di atas dapat dipahami bahwa tabar merupakan upacara adat yang biasa dilakukan sebelum memanen padi. Upacara ini hendak mengekspresikan sikap penghormatan, penghargaan . eku agu hian. , tanggung jawab dan terima kasih kepada Tuhan (Mori Kraen. , para leluhur . ta paAoang bl. , cakar tana. Tabar merupakan salah satu sebutan untuk berbagai macam ritual yang menggambarkan relasi dan perhatian manusia terhadap Mori Kraeng dan semua ciptaan-Nya. Ada beberapa makna dari upacara Tabar ini, antara lain: Pertama, ucapan terima kasih kepada Mori Kraeng. Taber merupakan salah satu bentuk ungkapan syukur dan terima kasih kepada Tuhan sebagai Sang Pencipta (Mori jari agu dede. Ekspresi syukuran ini berawal dari kesadaran masyarakat Ulungali Manggari bahwa adanya A Yulius Darus. Paskalis Datus campur tangan Tuhan dalam setiap proses mulai dari proses penanaman benih sampai pada realitas ako woja . Masyarakat Ulungali Manggarai menyadari bahwa adanya hubungan yang mendalam manusia dengan Tuhan. Kedua, tombo agu ata ngara tana . erbicara dengan pemilik tana. Ata ngara tanah yang dimaksud di sini merupakan para leluhur yang sudah meninggal dan para panitia yang ikut terlibat aktif dalam pembagian tanah. Keyakinan kebudayaan masyarakat manggarai akan roh alam dan roh leluhur. Roh berpengaruh atas berbagi peristiwa dan kejadian yang di alami manusia dan ciptaan yang lainnya Dalam upacara ini, sebutan untuk para panitia tidak disebutkan secara umum tetapi disebut secara pribadi dengan namanya. Untuk mengetahui siapa saja para panitia yang terlibat dalam pembagian tanah, dapat dibuktikan dengan melihat dalam sertifikat tanah. Adapun goAoet . yang biasa di sebut dalam upacara ini yakni Auai ata bae te ciwal kalik aku, ata sor monggong agu nggelak nata ga iteAy artinya bahwa saya hanya tahu membersihkan atau merawatnya tetapi yang bekerja keras untuk merebut tanah ini adalah kalian. Ungkapan ini sebetulnya merupakan berawal dari kesadaran masyarakat Ulungali Manggarai yang hanya tahu membersihkan kebun tetapi untuk sampai pada tahap itu pasti ada usaha keras dan perjuangan dari para leluhur. Ketiga, tombo agu cakar tana/kaka tana. Upacara ini merupakan saatnya berbicara dengan siapa saja yang terlibat dalam menjaga tanah. Dalam upacara ini hal pertama yang disampaikan adalah ucapan terima kasih atas keterlibatan dalam menjaga tanah dan juga segala macam jerih payah sehingga sampai pada tahap terkahir yakni memanen. Masyarakat Ulungali Manggarai meyakini bahwa tanpa campur tangan dan keterlibatan secara penuh dari cakar tanah, tentu hasilnya tidak sampai pada tahap seperti ini. Selain ucapan terima kasih, masyarakat Ulungali Manggarai juga menyampaikan gesar . kepada cakar tana supaya mereka tetap terlibat secara penuh dalam tahap selanjutnya. Hal ini dapat ditemukan dalam goAoet Aueme manga at aba le balak, ba le lawo, ba le peti, nio laun nio len, porong ba kole ceAoes lite. Porong moncok neho poco kali wa cadar/loce rikAy artinya . ika ada yang dibawa oleh kadal, tikus, burung pipi ke mana-mana, ambilkan kembali dan bawalah semuanya kesini. Supaya hasilnya tetap membukit seperti gunung dalam terpal . ebutan untuk pengalas yang digunakan saat penggilingan pad. Alasan lain berbicara dengan cakar tana ini adalah supaya tidak adanya babang agu bentang . aget, bertanya-tanya, kesalahpahama. dengan bertanya-tanya Aunia dise poAoong sot lami dami?Ay artinya . i mana semua pohon dan tanaman yang kami jaga?) Menurut keyakinan dari A Yulius Darus. Paskalis Datus masyarakat Ulungali Manggarai inilah pertanyaan yang sering muncul dari cakar tana. Dari sini dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa, berbicara dengan cakar tana sebelum memanen merupakan sebauh ritual yang sangat penting. Kepentingannya terletak dari konsekuensi yakni apabila ritual ini tidak dilakukan maka sang pemilik kebun mengalami sakit perut saat menikmati jerih payahnya itu. Dalam melaksanakan upacara ini, masyarakat Ulungali Manggarai sering menggunakan beberapa bahan sebagai sesajian yang akan dipersembahkan, antara lain: cepa-kala raci . irih pinan. , manuk cepang . yam tiga warn. , ruha . Pertama, cepa-kala raci . irih pinan. Makna dari bahan ini adalah sebagai sapaan untuk para leluhur yang ikut dalam upacara ini. Setelah para leluhur dipersilahkan bergabung, sebagai hidangan yang akan dipersembahkan adalah sirih-pinang . Kedua, manuk cepang . yam tiga Masyarakat Ulungali Manggarai adalah kumpulan orang-orang dari keturunan Pongkor. Dan, pongkor itu adalah salah satu dalu . eturunan kerajaa. dalam wilayah Manggarai. Jadi, manuk cepang dalam upacara Tabar masyarakat Ulungali Manggarai merupakan suatu kebiasaan dalam keturunan Pongkor. Ketiga, ruha . Bahan yang ketiga ini biasa disebut dengan tuak. Biasanya bahan ini akan digunakan apabila dalam upacara Tabar tidak ada satu orang yang pandai berbicara dengan menggunakan ayam. Dengan kata lain, bahan ini tidak harus digunakan. Akan digunakan sebgaai ganti bahan kedua yakni manuk Dimensi-Dimensi Upacara Tabar (Darus, 2. Upacara Tabar merupakan upacara yang sangat sakral. Kesakralannya terletak pada dimensi-dimensi yang merupakan gambaran umum tentang kepada dan untuk siapa upacara itu dilakukan. Setelah melihat tentang pengertian, makna-makna dan bahan-bahan dari upacara Tabar, maka penulis melihat adanya empat dimensi dari upacara Tabar, yaitu dimensi kosmologis, dimensi religius, dimensi sosial dan dimensi moral. Pertama, dimensi kosmologis. Dalam upacara Tabar, dimensi kosmologis merupakan elemen yang sangat mencolok. Hal ini terbukti dari jalannya ritual di mana adanya hubungan antara manusia dengan alam. Hubungannya ini didasari dengan adanya sikap penghargaan dari manusia kepada alam semesta. Dalam ritual itu, manusia berbicara kepada alam melalui mulut si penutur. Manusia menyampaikan syukur dan terima kasih kepada alam, pertama-tama karena sudah memberikan hasil yang memuaskan. Selain syukur, manusia juga memohon berkat yang meilmpah untuk segala usaha dan proses pengerjaan selanjutnya. Ritus inilah yang A Yulius Darus. Paskalis Datus menjadi sebuah potret paling jelas akan sikap dan penghormatan akan alam (Asman & Riyanto. Kedua, dimensi religius. Tabar merupakan salah satu upacara syukuran masyarakat Ulungali Manggarai kepada Mori Kraeng Ata Jari Dedek (Allah Sang Pencipt. Syukuran yang disampaikan berawal dari kesadaram manusia akan penyertaan Tuhan dalam setiap usaha mereka khususnya dalam proses mulai dari penanaman padi sampai pada hasilnya bisa Sukuran ini akan menjadi suatu ungkapan atau cita rasa religius masyarakat Ulungali Manggarai. Melalui upacara ini, masyarakat Ulungali Manggarai sebetulnya ingin mensyukuri atas keterlibtan Tuhan dalam usaha mereka. Penulis tidak berhenti menyatakan bahwa dimensi religius merupakan dimensi yang sangat sakral. Kesakralannya terletak pada hubungan antara manusia dengan Mori Kraeng Ata Jari Dedek sebagai realitas tertinggi. Relasi antara manusia dengan Allah dalam upacara ini tergambar dalam proses ritual yang dilakukan, seperti katakatanya dan sajian yang dipersembahkan. Ketiga, dimensi sosial. Salah satu dimensi yang sangat penting dalam upacara Tabar adalah dimensi sosial. Dikatakan sebagai dimensi yang sangat penting karena dalam upacara ini adanya suatu relasi yang sangat mendalam, baik relasi antara manusi-alam, manusia-Tuhan, tetapi juga adanya relasi antara sesama manusia. Dalam relasi manusia dengan alam atau relasi manusia dengan Tuhan mempunyai hubungan yang mendalam sebagaimana yang sudah dijelaskan pada bagian awal. Tetapi, mengenai relasinya dengan sesama akan tergambar dalam beberapa hal penting, seperti dalam melaksanakan upacara ini, satu keluarga berkumpul untuk bersamasama mengambil bagian. Setiap anggota yang hadir, hal yang perlu dilakukan adalah jangan ribut dengan tujuan supaya selama upacara berlangsung, setiap anggota memohon dan berdoa di dalam hati. Dalam kebersamaan itu, mereka bersama-sama bersyukur untuk segala keberhasilan yang boleh mereka capai. Dalam suasana itu juga. Mereka meminta ijin dan memohon pertolongan Tuhan supaya proses memanen yang akan dilaksanakan dapat berjalan dengan lancar dan diberikan cuaca yang baik. Dimensi sosial dalam upacara ini, tergambar juga dalam relasi manusia dengan paAoang ble . ara nenek moyan. Hal pertama yang dilakukan dalam upacara ini mempersembahkan sesajean kepada para leluhur berupa cepa-kala,raci . irih pinan. Mempersemabahkan sesajean kepada para leluhur pertama-tama karena masyarakat Ulungali mengakui bahwa merekalah yang dekat dengan Tuhan. Para leluhur sudah berada bersama dengan Tuhan. Maka, membangun relasi dengan para leluhur dalam upacara Tabar dengan tujuan menghantar atau A Yulius Darus. Paskalis Datus membawa segala doa dan harapan kepada Tuhan. Di sini, para leluhur diakui sebagai jembatan untuk membangun relasi antara manusia dengan Tuhan. Keempat, dimensi moral. Dalam upacara Tabar dimensi moral sangat ditonjolkan melalui larangan-larangan dan kewajiban yang harus ditaati. Hal ini merupakan bentuk penghormatan kepada alam yang sudah memberikan kehidupan. Contoh larangan-larangan itu seperti neka wenang . angan pile. saat upacara berlangsung, jangan bicara sembarang, jangan melukai binatang dengan sengaja. Dikatakan sebagai larangan, mengandaikan bahwa harus ditaati. Tentu, apabila larangan-larangan itu dilanggar, tentu ada konsekuensi yang harus ditanggung. Salah satu konsekuensi yang ditanggung adalah salah satu dari anggota keluarga mengalami Supaya tidak mengalami sakit, hal utama dan pertama sebelum melakukan sesuatu adalah harus meminta ijin kepada para leluhur. Maka. Kesakralannya terletak pada keyakinan masyarakat Ulungali Manggarai bahwa alam mempunyai roh-roh yang dengan setia menjaga. Oleh karena itu, masyarakat Ulungali Manggarai dituntut untuk menjaga dan merawat alam sebagai sesuatu yang hidup. Masyarakat Ullungali Manggarai diharapkan untuk menjaga tingkah laku saat upacara Tabar berlangsung dan menjunjung tinggi norma-norma yang dipercayai dalam masyarakat. KONSEP FILSAFAT FENOMENOLOGI HEIDEGER Martin Heidegger . adalah seorang filsuf asal Jerman. Ia belajar di Universitas Freiburg di bawah Edmund Husserl, penggagas fenomenologi, dan kemudian menjadi Profesor di sana pada 1928. Heidegger sangat dikenal dengan konsep filsafatnya tentang fenomenologis. Fenomenologi menurut Martin Heidegger adalah sebuah pendekatan filsafat yang berfokus pada pemahaman mendalam tentang pengalaman manusia dan bagaimana kita berinteraksi dengan dunia. Heidegger adalah salah satu filosof Jerman terkemuka abad ke-20 yang memainkan peran penting dalam pengembangan fenomenologi. Pendekatan fenomenologi Heidegger sangat dipengaruhi oleh pandangan Edmund Husserl, pendiri fenomenologi, tetapi Heidegger mengembangkan pandangan-pandangan tersebut dengan caranya sendiri. Beberapa konsep sentral dalam pemikiran fenomenologis Heidegger adalah "Dasein" yang dapat diterjemahkan sebagai "Keberadaan" atau "Eksistensi". Being and Time Dasein (Sein und Zei. , dan Perhatian" . A Yulius Darus. Paskalis Datus Dasein . eberadaan atau eksistens. Dalam pemikiran Heidegger, proses Hermeneutika berusaha membuat dasein keluar dari ketersembunyiannya (Rosyadi, 2. Usaha ini bertujuan untuk membawa keluar pemahaman kita tentang ada. Ini tidak salah karena merupakan hakikat dari berpikir. Dasein bukan sesuatu yang dapat hidup sendiri artinya bahwa keberadaannya dapat diakui karena tinggal dalam manusia, ini mengandaikan bahwa, dasein membutuhkan manusia. Dalam bahasa yang lebih tepat, manusia adalah tempat men-da-nya dasein. Dasein butuh tempat tinggal , ruang untuk tempat berada, dan ruang itu adalah pikiran manusia. Dengan demikian aktifitas filsafatmya Heidegger adalah berpikir tentang berpikir. Berpikir benar-benar berpikir adalah denken dasein . enerima sang ad. , mendengarkan dengan hormat suara dasein . ukan mencengkram, menguasai, memaksakan kekuasaan pada dasei. Pikiran adalah hadiah, rahmat dasein karena dasein bukan hasil pikiran (Rosyadi, 2. "Dasein" yang dapat diterjemahkan sebagai "keberadaan" atau "eksistensi" adalah manusia sebagai entitas yang memiliki kesadaran, eksistensial, dan berada dalam dunia. Heidegger menekankan pentingnya kita untuk memahami fenomena . secara murni, tanpa banyak konsep atau interpretasi teoretis yang mengganggu. Ia juga menggambarkan dua model eksistensi manusia: "inauthentic" . dan "authentic" . Pertama. Eksistensi inauthentic. Eksistensi ini terjadi ketika manusia hidup dalam kebingungan, tanpa kesadaran mendalam tentang eksistensinya sendiri dan terjerat dalam rutinitas sehari-hari. Penulis melihat bahwa eksistensi ini menampilkan diri yang tidak sebenarnya atau ada topeng yang sedang dikenakannya. Eksistensi ini lebih kepada menggambarkan sesuatu yang tidak asli, palsu, atau tidak tulus. Contohnya adalah Pengalaman ini terasa sangat inauthentic karena semua orang di sini berpura-pura menjadi seseorang yang mereka sebenarnya tidak. Kedua, eksistensi authentic adalah ketika seseorang menjadi lebih sadar akan eksistensinya dan menghadapi makna sejati keberadaan manusia. Kata "authentic" digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang benar, asli, atau tulus. Sesuatu yang dianggap autentik adalah sesuatu yang tidak dipalsukan atau tidak palsu. Ini berarti sesuatu itu sejalan dengan nilai-nilai, karakter, atau sifat sejati. Seseorang yang autentik adalah seseorang yang berperilaku sesuai dengan diri mereka sendiri dan tidak berusaha untuk menjadi orang lain. Contohnya adalah A Yulius Darus. Paskalis Datus Karya seni ini sangat authentic karena mencerminkan perasaan sang seniman dengan jujur dan "Being and Time" (Sein und Zei. AuBeing and TimeAy (Sein und Zei. diterbitkan pertama kali di musim semi tahun 1927 dalam bahasa Jerman di Jahrbuch fyr Phynomenologie undphynomenologische Forschung yang diedit oleh Edmund Husserl, yang mengagumi muridnya. Martin Heidegger. Terjemahan bahasa Inggris pertama kali terbit tahun 1962. Dipandang sebagai Authe most influentialphilosophy of the 20th century (Riyanto, 2. Dalam "Being and Time," Heidegger mengajak kita untuk melihat eksistensi manusia dalam konteks masyarakat dan budaya serta merenungkan pertanyaanpertanyaan esensial tentang makna hidup, kematian, dan eksistensi. Karya ini telah memberikan kontribusi penting dalam perkembangan filsafat kontemporer dan eksistensialis, dan gagasangagasan Heidegger tentang "Being and Time" tetap menjadi titik fokus dalam diskusi filosofis tentang eksistensi manusia. Heidegger memulai dengan menyelidiki pertanyaan mendasar tentang apa arti "keberadaan" atau "being. " Ia menekankan pentingnya mengeksplorasi "Dasein," yang berarti "keberadaan di sini," yaitu eksistensi manusia. Dalam "Being and Time," Heidegger mengungkapkan bahwa Dasein adalah entitas yang berhubungan dengan dunia dengan cara yang unik, melalui pemahaman, kekhawatiran, dan Ia mengusulkan bahwa manusia selalu hidup dalam hubungan dengan dunia sekitarnya dan dengan diri mereka sendiri. Dalam karya-karyanya seperti "Being and Time" (Sein und Zei. Heidegger mencoba untuk menjelaskan bagaimana manusia menghadapi berbagai fenomena dan bagaimana kita bisa lebih memahami diri kita sendiri serta hubungan kita dengan Ia menekankan pentingnya memahami waktu . dan makna yang terkandung dalam tindakan sehari-hari kita. Being in the other "Being in the other" adalah konsep filosofis yang diperkenalkan oleh Martin Heidegger. Konsep ini mengusulkan bahwa manusia tidak boleh hanya fokus pada diri sendiri, tetapi harus memiliki keterhubungan dan perhatian terhadap orang lain dalam masyarakat. Konsep "Being in the Other" Merujuk pada kesadaran dan kepedulian kita terhadap keberadaan orang lain. Ini melibatkan pembangunan hubungan yang saling menghormati, empati, pengorbanan, dan kerjasama dalam memperkuat komunitas. Makna dan signifikansi konsep ini mendorong kita untuk melampaui ego kita sendiri dan memberikan perhatian dan perhatian kepada orang lain. Konsep "Being in the Other" . erada A Yulius Darus. Paskalis Datus dalam yang lai. yang dicetuskan oleh filsuf Jerman. Martin Heidegger, merujuk pada pemahaman dan pengalaman kita tentang diri kita sendiri melalui hubungan dengan orang lain atau dengan lingkungan kita. Ini merupakan bagian penting dalam pemikiran Heidegger tentang eksistensialisme dan filosofi fenomenologi. "Being in the Other" menekankan bahwa kita tidak bisa memahami diri kita sendiri atau makna hidup kita sepenuhnya tanpa mempertimbangkan bagaimana kita berhubungan dengan orang lain dan dunia di sekitar kita. Perhatian . Heidegger menyebut manusia sebagai Dasein yang dalam bahasa Jerman berarti AuAda di sanaAy (Elley-Brown. Margie J. & Pringle, 2. AuDi sanaAy artinya Audi duniaAy, jadi manusia itu AuAda di duniaAy. AuAda di duniaAy berarti ada bersama yang lain . anusia lain, makhluk lain, benda lai. Dalam tulisannya. Puspo Kuntjoro mengatakan Auada bersama yang lainAy ini mengimplikasikan adanya kepdulian, perhatian, serta keterlibatan emosional dan praktis. AuAda bersama yang lainAy mengandaikan adanya hubungan timbal balik satu sama lain: memedulikan dan dipedulikan. Menurut Heidegger, kepedulian juga mempunyai orientasi ke masa depan (Elley-Brown. Margie J. & Pringle, 2. Heidegger percaya bahwa "care" adalah dasar dari pemahaman diri manusia, dan melalui "care," manusia membangun makna dalam Dalam prosesnya, manusia juga mengungkapkan eksistensinya yang sejati. Konsep "care" ini mengajarkan kita bahwa eksistensi manusia tidak terpisah dari dunia, melainkan terjalin erat dengan hubungan, perasaan, dan tindakan mereka terhadap diri mereka sendiri, orang lain, dan Dengan kata lain. Heidegger menggarisbawahi pentingnya "care" dalam membentuk identitas manusia dan memberikan kerangka kerja konseptual untuk memahami eksistensi manusia sebagai sebuah perjalanan yang melibatkan hubungan yang kompleks dengan diri sendiri, orang lain, dan dunia. Heidegger juga mengembangkan gagasan tentang "perhatian" . sebagai bagian penting dari eksistensi manusia, yang mencakup tiga aspek: sorge mencerminkan hubungan manusia dengan diri mereka sendiri, termasuk ketakutan, kecemasan, dan pemeliharaan eksistensinya, fyrsorge mengacu perhatian atau kepedulian mereka terhadap orang lain dan pengalaman bersama, dan besorgen mengacu kepada perhatian atau keperawatan manusia kepada hal-hal yang ada dalam dunia atau di luar diri mereka. Hal ini mencangkup aktivitas sehari-hari seperti bekerja, membuat, dan mencipta. Ini adalah konsep-konsep yang membantu A Yulius Darus. Paskalis Datus menjelaskan cara kita berhubungan dengan diri kita sendiri, orang lain, dan dunia di sekitar kita dalam konteks fenomenologi Heidegger. UPACARA TABAR DALAM TERANG FILSAFAT FENOMENOLOGI HEIDEGGER Penjelasan tentang upacara Tabar masyarakat Ulungali Manggarai dan dilanjutkan dengan gagasan Heidegger, memunculkan sebuah pertanyaan tentang bagaimana upacara Tabar dalam masyarakat Ulungali Manggarai itu dimengerti dalam terang filsafat Heidegger. Penulis akan menerangkan ke dalam beberapa bagian. Pertama, upacara Tabar merupakan bentuk penghormatan terhadap alam semesta. Penghormatan itu terjadi karena manusia menyadari bahwa alam telah memberikan kehisupan kepada mereka melalui kehadiran sesama manusia dan makhluk ciptaan lainnya, juga termasuk semua penghasilan yang sudah dicapai oleh Manusia dalam kehidupannya sehari-hari tidak hanya membangun relasi dengan sesama manusia, tetapi dengan semua ciptaan lainnya. Dalam keberadaan manusia di dunia, mereka tidak hanya manjadi penikmat apa yang diberikan alam, tetapi mereka juga menjadi perancang makna di dalamnya. Dalam hal ini, hanya manusia yang mampu merancang dan mendesain makna dalam dunia. Ini adalah satu keunggulan dari manusia. Penulis hendak mengatakan bahwa, dengan manusia mendesain makna dalam dunia, merupakan bentuk penghormatan mereka terhadap dunia. Sebaliknya, jika mereka tidak mendesain makna dalam dunia berarti manusia tidak mengakui dan menyangkal kemampuan dan keunggulan mereka. Penulis menyimpulkan bahwa, ketika manusia mampu menghormati dan menghargai alam sebagai sesuatu yang hidup maka manusia secara tidak langsung menghormati kemanusiaannya. Dasein merupakan dia yang ada di sana dan mengada di sana. Fenomenologi merupakan proses menafsirkan diri manusia itu sendiri untuk mengetahiui hakekat dirinya yang mencari posibilitas potensinya (Melki Nino, 2. Masyarakat Ulungali Manggarai sangat menghargai upacara Tabar, karena merupakan bentuk penghormatan mereka terhadap alam ciptaan. Mereka meyakini bahwa alam merupakan sumber kehidupan. Umumnya, masyarakat Manggarai memiliki sikap saling menghormati baik melalui kata-kata maupun perbuatan. Sikap saling menghormati tidak hanya dilakukan terhadap sesama manusia teapi juga terhadap alam dan segala isinya. Kedua, upacara Tabar sebagai bentuk penghormatan terhadap para leluhur. Pera leluhur yang dimaksud di sini adalah ata ngara tana . emilik tanah dan para panitia yang ikut membagi A Yulius Darus. Paskalis Datus Penghormatan terhadap para leluhur ditunjukan melalui ritual-ritual yang dilakukan. Dalam ritual yang dilakukan, dalam bagian-bagian tertentu disebutkan nama-nama dari para leluhur yang sudah meninggal. Penghormatan ini sebetulnya dikarenakan masyarakat ulungali manggarai menyadari bahwa para leluhur telah berjuang dalam merebut tanah, sehingga saat ini perjuangan mereka dapat dinikmati. Menjaga dan merawat merupakan tugas utama manusia sebagai tanda syukur. Ucapan syukur kepada para leluhur tidak terlepas dari cara berpikir manusia bahwa para leluhur sebagai Mereka yang ada dan dekat dengan Tuhan. Dengan mengucap syukur dan berdoa melalui perantaran mereka, segala doa dan harapan akan sampai kepada Tuhan. Masyarakat Ulungali Manggarai meyakini bahwa, segala keberhasilan dan kesuksesan yang sudah diperoleh merupakan campur tangan dari para leluhur. Heidegger mengungkapkan bahwa Dasein adalah entitas yang berhubungan dengan dunia dengan cara yang unik, melalui pemahaman, kekhawatiran, dan perhatian. Dasein berelasi dengan dunia dan akan mengada lainya seperti halnya: alat-alat, benda-benda alami, dan Untuk alat-alat Heidegger menyebutnya mengada, dan alat ini memiliki jejaring relasi (Alimin Mubarok, 2. Syukuran kepada para leluhur salah satu tujuan selain yang sudah dijelaskan bagian awal adalah supaya relasi manusia yang masih hidup dengan para leluhur tetap terjaga. Ada begitu banyak konsekuensi yang terjadi ketika tidak mengadakan acara Tabar, salah satunya adalah sakit. Ini mengandaikan bahwa, dalam membangun relasi itu ada hal atau perbuatan manusia yang tidak berkenan di hati para leluhur. Dari realita yang seperti itu, masyarakat Ulungali Manggarai mendapat suatu pemahaman bahwa pentingnya membangun relasi dengan para leluhur. Salah satunya adalah mengucap syukur dengan mempersembahkan sesajean. Dalam karya-karyanya seperti Being and Time. Heidegger mencoba untuk menjelaskan bagaimana manusia menghadapi berbagai fenomena dan bagaimana kita bisa lebih memahami diri kita sendiri serta hubungan kita dengan dunia. menekankan pentingnya memahami waktu . dan makna yang terkandung dalam tindakan sehari-hari kita. Ketiga, upacara Tabar menggambarkan hambor agua ata jaga tana . ekonsiliasi dengan semua yang menjaga tanah baik bintang-binatang maupun para leluhu. Hambor dapat diartikan sebagai situasi damai yang terberi, maka kata lain yang sepadan dengannya yaitu adalah kata damu. Kemungkinan kata ini berasal dari dua asal usul yaitu damai . ahasa Indonesi. dan sejenis kayu damu/ndamu (Sardono, 2. Upacara ini didasari oleh pemikiran A Yulius Darus. Paskalis Datus manusia yang melihat alam sebagai sesama ciptaan. Cara pandang seperti ini membawa manusia kepada suatu pemahaman bahwa sebagai ciptaan sama-sama mempunyai nilai Rekonsiliasi dengan binatang sebagai penjaga tanah mempunyai maksud dan tujuannya, yakni rewos beti . emohon kesembuha. Hal ini dilakukan ketika salah satu dari anggota keluarga mengalami sakit. Tujuan lain dari ritual ini adalah karena masyarakat Ulungali Manggarai meyakini bahwa selama masa proses mulai dari tahap pertama sampai memanen, para penjaga tanah sudah mengambil bagian secara penuh. Masyarakat Ulungali Manggarai sungguh meyakini bahwa keberhasilan yang sudah dicapai merupakan bentuk campur tangan dari penjaga tanah berupa binatang dan para leluhur. Maka, ketika ada salah satu manusia yang melukai baik secara sengaja maupun tidak sengaja, harus melakukan rekonsiliasi . Sebagaimana yang sudah disampaikan bagian awal, apabila hal ini tidak dilakukan maka salah satu dari anggota keluarga mengalami sakit. Hal ini tidak hanya dilakukan saar mengadakan syukuran panen, tetapi saat membuka kebun. Di sini, hal penting yang dilakukan adalah meminta maaf dan memohon perlindungan. Proses rekonsiliasi dengan alam, tidak berbeda jauh dengan rekonsiliasi dengan sesama manusia. Ini merupakan bentuk kesadaran manusia yang tertinggi di mana alam dilihat sebagai sesama. Hidup dalam perdamaian sangat diharapkan oleh semua orang. Berkaitan dengan hal ini. Heidegger menyodorkan bahwa Being in the Other menekankan bahwa kita tidak bisa memahami diri kita sendiri atau makna hidup kita sepenuhnya tanpa mempertimbangkan bagaimana kita berhubungan dengan orang lain dan dunia di sekitar kita. Mengadakan rekonsiliasi berarti manusia sedang berusaha memahami yang lain. Tentu saja, sesuatu yang sulit untuk memahami mereka yang berbeda tempat. Tetapi, melalui ritual rekonsiliasi akan mendamaikan semuanya. RELEVANSI Setelah melihat penjelasan tentang upacara Tabar dalam masyarakat Ulungali Manggarai, dan dikaitkan dengan filsafat fenomenologi Heidegger, maka sangat penting untuk melihat relevansinya, baik untuk dunia luar maupun untuk masyarakat setempat. Pertama, sekarang dunia dilandai dengan cuaca yang sangat panas. Hal itu disebabkan karena salah satunya manusia tidak menjaga alam dengan baik. Penebangan dan pembakaran hutan terjadi di mana-mana. Burung-burung tidak ada tempat untuk bersarang. Dengan menyadari hal ini, sudah waktunya untuk mengambil tindakan massal guna memperbaiki keadaan lingkungan. Namun, sangat penting untuk segera mengubah persepsi manusia A Yulius Darus. Paskalis Datus terhadap alam agar kita dapat mencapai tujuan ini. Ini mengandaikan bahwa, persoalan lingkungan hidup bukan menjadi persoalan pribadi tetapi persoalan bersama. Maka, sangatlah penting untuk menjaga dan merawat lingkungan secara bersama (Sallsabillah, 2. Industri kayu ada di mana-mana. Cuaca panas serentak naik. Semuanya disebabkan karena cinta manusia akan uang dan kekayaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu hakekat dari manusia merupakan tidak pernah puas dengan apa yang ada. Dalam tulisannya. Pius Pandor menyodorkan satu hal penting dalam menangkal fenomena ini, yakni sebuah gerakan amorisasi melalui penataan diri dan tindakan praktis (Pandor, 2. Pendekatan multi dimensi . osial, budaya, ekonomi politi. untuk melihat dan mengatasi persoalan lingkungan ini menjadi sesuatu yang penting (Prakasa, 2. Kedua. Bagimasyarakat Indonesia diharapkan untuk menjaga lingkungan yang ada. Dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi Aymembentuk suatu pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia. Ay, serta dikaitkan dengan hak penguasaan kepada negara atas bumi, air, dan kekayaan yang terkandung didalamnya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, sebagaimana ketentuan Pasal 33 . UUD 1945 (Putu Lantika Oka Permadhi. Hak AtasA 21, n. Peraturan melindungi lingkungan sudah ditetapkan oleh para pendiri bangsa sejak awal. Pentepan peraturan-peraturan ini karena adanya ancaman baik dari luar maupun dari dalam Negeri Republik Indonesia. Indonesia dipandang sebagai negara yang kaya akan kekayaan alam, hutan yang luas, gudang emas, nikel, dan sebagainaya. Semuanya ini mejadi asset untuk negara Indonesia. Maka, sangatlah penting bagi masyarakat Indonesia untuk menjaga dan merawat kekayaan-kekayaan ini. Upacara Tabar merupakan upacara yang sudah mulai pudar dalam masyarakat Ulungali Manggarai. Kepudarannya disebabkan karena adanya ancaman dari luar yang tidak bisa ditangkis oleh masyarakat dari dalam. Kehadiran masyarakt dari luar menghilangkan sedikit demi sedikit upacara ini. Dalam menghadapai realita seperti ini, masyarakat Ulungali Manggarai tidak mempunyai pendirian untuk menangkalnya. Ketiga, bagi masyarakat Ulungali Manggarai sendiri. Tabar merupakan budaya yang khas dari suku Ulungali Manggarai. Kearifan lokal yang begitu mendalam nilai dan maknanya ini harus tetap dipelihara dan menjadi pedoman dalam berelasi dengan alam semesta. Tabar tidak boleh menjadi sebuah kearifan yang pada akhirnya tertinggal hanya sebuah kisah dan berlaku hanya sampai pada generasi tertentu saja. Tentu sangatlah disayangkan jika yang terjadi A Yulius Darus. Paskalis Datus Menggali dan mendalami budaya Tabar tentu saja menjadi sebuah cara untuk menggugah kesadaran orang Manggarai itu sendiri untuk semakin hari semakin bertumbuh alam cita rasa ekologis. Oleh karena itu, peran semua masyarakat pada umumnya dan lembaga keluarga pada khususnya sangat penting dalam menanamkan kearifan lokal ini kepada generasi Selain itu budaya Tabar hendaknya juga dimaknai dengan sungguh-sungguh supaya tidak jatuh pada ritualisme dan kecenderugan antroposentrisme. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kehadiran upacara Tabar menyadarkan masyarakat Ulungali Manggarai bahwa mereka adalah sesama Aubeing in the othersAy sebagai ciptaan. Kesadaran itulah yang membuat mereka untuk senantiasa saling menjaga dan melindungi. Tidak hany itu, upacara Tabar menyadarkan manusia akan pentingnya membangun relasi yang akrab dengan dunia sekitar tidak hanya sesama manusia tetapi juga dengan para leluhur. Sebagai masyarakat yang cinta akan alam, hal terpenting yang mesti dilakukan adalah menjaga keharmonisan relsi di antara semua pihak yang membentuk alam yang indah. Hal ini juga mempunyai maksud tertentu yakni kesadaran bahwa segala sesuatu yang ada dalam dunia merupakan sesuatu yang hidup. Sangatlah penting untuk menjada keharmonisan. Jika ada kekacauan atau kesalahpahaman, sangatlah penting untuk mengadakan rekonsiliasi dengan tujuan memulihkan kembali. Saran Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih sangat jauh dari kata sempurna. Setidaknya, penulis sangat bersyukur atas selesainya tulisan ini dengan baik dan sesuai dengan template yang diberikan. Untuk segala kesalahan dan kekeliruan dalam tulisan ini penulis memohon Penulis juga meminta kepada team editor untuk memberi masukan dan saran yang bersifat membangun semangat dalam menulis. Tidak hanya itu, penulis juga meminta masukan dan koreksi untuk mengubah tulisan ini menjadi lebih baik. DAFTAR PUSTAKA