Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 669-684 Available at: https://journal. id/index. php/jmdb EISSN: 2797-9555 Analisis komparatif dampak fear of missing out (FOMO) terhadap impulse buying pada generasi milenial dan generasi Z di Kota Bandung Audie Fricylia Juliandhani*. Sri Surjani Tjahjawati Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung. Indonesia *) Korespondensi . -mail: audie. abs421@polban. Abstract The development of technology and social media has influenced consumption behavior, especially among Generation Z and Millennials. One of the consequences that arises is the Fear of Missing Out (FOMO) phenomenon, which is a feeling of anxiety about missing out on trends or information that encourages someone to make spontaneous purchases. The purpose of this study is to analyze the effect of FOMO on impulsive buying behavior and to compare its impact on Generation Z and Millennials in Bandung City. This study uses a quantitative approach with a purposive sampling technique. The study involved 270 respondents, comprising 135 from Generation Z and 135 from Millennials. Data collection was carried out through an online survey with a research duration of 40 days. The results of the analysis show that FOMO has a significant influence on impulsive buying in both generation groups. However, its influence is greater in Generation Z compared to Millennials. This condition is due to Generation Z's closeness to technology and social media, which makes them more susceptible to FOMO. Keywords: Fear of Missing Out (FOMO). Impulse Buying. Generasi Z. Generasi Milenial. Social Media Abstrak Perkembangan teknologi dan media sosial telah memengaruhi perilaku konsumsi, terutama di kalangan Generasi Z dan Milenial. Salah satu konsekuensi yang timbul adalah fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa cemas akan ketinggalan tren atau informasi yang mendorong seseorang untuk melakukan pembelian secara spontan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh FOMO terhadap perilaku pembelian impulsif, serta membandingkan dampaknya pada Generasi Z dan Generasi Milenial di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Melibatkan 270 responden, yang masing masing terdiri dari 135 responden Generasi Z dan Milenial. Pengumpulan data dilakukan melalui survei online dengan durasi penelitian selama 40 hari. Hasil analisis menunjukkan bahwa FOMO memiliki pengaruh signifikan terhadap pembelian impulsif pada kedua kelompok generasi. Namun, pengaruhnya lebih besar pada Generasi Z dibandingkan Milenial. Hal ini disebabkan oleh kedekatan Generasi Z dengan teknologi dan media sosial, yang menjadikan mereka lebih rentan terhadap FOMO. Kata kunci: Fear of Missing Out (FOMO). Impulse Buying. Generasi Z. Generasi Milenial. Media Sosial How to cite: Juliandhani. , & Tjahjawati. Analisis komparatif dampak fear of missing out (FOMO) terhadap impulse buying pada generasi milenial dan generasi Z di Kota Bandung. Journal of Management and Digital Business, 5. , 669Ae684. https://doi. org/10. 53088/jmdb. Copyright A 2025 by Authors. this is an open-access article under the CC BY-SA License . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 670 Pendahuluan Seiring dengan berkembangnya zaman, teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Saat ini, hampir semua aktivitas telah tersentuh oleh teknologi, yang memberikan kemudahan dalam mengakses informasi, berkomunikasi, hingga Perkembangan teknologi telah membentuk preferensi konsumen yang mengutamakan kemudahan, efisiensi, dan fleksibilitas dalam berbelanja. Kemudahan yang ditawarkan oleh ekonomi digital ini mempengaruhi kebiasaan konsumsi masyarakat, ditandai dengan meningkatnya penggunaan e-commerce, dan metode pembayaran digital. Salah satu kelompok masyarakat yang paling merasakan dampak dari perkembangan teknologi dalam kehidupan sehari-hari adalah generasi muda, khususnya Gen Milenial dan Gen Z. Yang dimana Generasi Milenial merupakan kelompok yang dibesarkan pada masa peralihan menuju era digital, di mana mereka menjadi saksi perubahan dari teknologi analog ke digital. Sementara itu. Generasi Z lahir dan berkembang di lingkungan yang sudah akrab dengan teknologi, seperti internet dan perangkat digital lainnya (Saputra & Aulia, 2. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik . jumlah penduduk gen z yang ada dikota bandung 500 jiwa, sedangkan gen milenial sebanyak 998. 800 jiwa. Jumlah yang besar ini menjadikan kedua generasi sebagai target utama dalam strategi pemasaran digital, terutama karena karakteristik mereka yang cenderung cepat beradaptasi terhadap teknologi, aktif di media sosial, dan memiliki kecenderungan konsumsi yang tinggi terhadap tren digital. Menurut laporan We Are Social . , pengguna internet di Indonesia mencapai 185 juta orang, dan lebih dari 95% di antaranya aktif di media sosial, dengan rata-rata waktu penggunaan mencapai 3 jam 11 menit per hari. Tingginya intensitas penggunaan internet dan media sosial di Indonesia berkontribusi terhadap munculnya fenomena Fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) muncul sebagai rasa cemas akibat kehilangan informasi atau pengalaman yang dialami oleh orang lain. Kondisi ini mendorong seseorang untuk terus mengecek ponsel mereka dan tetap aktif di media sosial guna mengikuti perkembangan terbaru (Panggabean & Brahmana, 2. FOMO menjadi salah satu faktor pemicu perilaku konsumtif dan pembelian impulsif yang semakin sering terjadi, terutama melalui platform e-commerce dan media sosial. Beberapa tren yang mendorong perilaku FOMO dikalangan pengguna media sosial adalah milk bun, cromboloni, coklat Dubai, dan boneka labubu, yang membuat banyak orang ikut membeli produk-produk tersebut meski tidak benar-benar membutuhkannya, hanya demi tidak tertinggal tren. Seseorang yang terkena FOMO cenderung membeli produk untuk mengikuti tren tanpa melihat fungsi dan kegunaan dari barang yang dibeli. Kecenderungan melakukan pembelian produk atau jasa yang sesungguhnya tidak diperlukan. lebih mementingkan keinginan dari pada kebutuhan menyebabkan terjadinya pembelian secara implusif. Pembelian secara implusif atau impulse buying merupakan tindakan membeli sesuatu secara spontan tanpa melalui proses pertimbangan atau Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 671 perencanaan sebelumnya (Soleha & Sagir, 2. Media sosial memfasilitasi perilaku ini dengan menghadirkan iklan yang agresif, ulasan positif dari influencer, serta strategi pemasaran berbasis urgensi dan eksklusivitas. Strategi tersebut efektif dalam mendorong konsumen untuk membeli produk secara spontan, sehingga memberikan peluang besar bagi pelaku bisnis untuk meningkatkan penjualan mereka. Banyak individu, terutama Gen Z dan Gen Milenial, saat ini mengalami tekanan sosial untuk mengikuti tren yang viral di media sosial dan membeli produk yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Kondisi ini diperkuat oleh agresivitas pemasaran digital yang menargetkan kedua kegerasi tersebut sebagai konsumen utama. Akibatnya, perilaku konsumtif dan pembelian impulsif menjadi hal yang umum terjadi. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran karena dapat memicu konsumsi berlebihan, risiko berhutang, serta ketidakstabilan keuangan jangka panjang. Beberapa penelitian sebelumnya, seperti yang dilakukan oleh Maula . Asyifa et al . Saputra & Aulia . , cenderung fokus pada pengaruh Fear of Missing Out (FOMO) terhadap perilaku pembelian impulsif dalam satu kelompok generasi saja, seperti Generasi Z, tanpa melakukan perbandingan langsung antara keduanya. Oleh karena itu dilakukan penelitian ini untuk membandingkan secara langsung pengaruh FOMO terhadap perilaku Impulse buying antara Generasi Milenial dan Z. Studi ini bertujuan untuk mengisi kekosongan tersebut dengan membandingkan generasi mana yang lebih rentan terhadap FOMO, apakah Generasi Milenial atau Generasi Z. Dan hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pelaku bisnis dalam menyusun strategi pemasaran yang tepat sasaran disesuaikan dengan karakteristik psikologis masing-masing generasi. Tinjauan Pustaka Theory of Planned Behavior Salah satu teori yang relevan dalam menjelaskan perilaku pembelian impulsif akibat pengaruh FOMO adalah Theory of Planned Behavior (TPB) yang dikemukakan oleh Ajzen . Teori ini menjelaskan bahwa niat seseorang untuk melakukan suatu perilaku dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu sikap terhadap perilaku (Attitud. , faktor sosial (Subjective Norm. , dan kontrol perilaku yang dirasakan (Perceived Behavioral Contro. Faktor pertama yaitu sikap terhadap perilaku merujuk pada evaluasi individu terhadap sejauh mana perilaku tersebut dianggap menguntungkan atau tidak. Sikap positif terhadap pembelian impulsif akan muncul ketika seseorang menilai bahwa membeli barang secara spontan dapat memberikan kepuasan emosional, kesenangan, atau memperkuat citra diri. Gen Milenial dan Gen z, yang akrab dengan perkembangan tren di media sosial, cenderung memiliki sikap positif terhadap pembelian barang yang sedang viral, karena dianggap dapat meningkatkan eksistensi dan penerimaan sosial. Kemudian faktor kedua yaitu norma subjektif atau faktor sosial berhubungan dengan pandangan individu terhadap tekanan sosial yang berasal dari lingkungan Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 672 sekitar yang mendorong atau menghambat perilaku tertentu. Dalam penelitian ini FOMO menjadi bentuk dari norma subjektif, di mana seseorang merasa khawatir akan tertinggal dari tren atau aktivitas sosial jika tidak ikut serta. Paparan terhadap konten real time dimedia sosial menyebabkan individu merasakan tekanan sosial untuk terus mengikuti apa yang sedang menjadi perhatian banyak orang. Dorongan ini kemudian meningkatkan kecenderungan mereka untuk melakukan pembelian impulsif agar tetap relevan secara sosial. Faktor ketiga adalah persepsi kontrol perilaku, faktor ini menggambarkan sejauh mana seseorang merasa memiliki kendali atau kemampuan untuk melakukan suatu Dalam penelitian ini, kemudahan akses terhadap e-commerce serta kepraktisan dalam bertransasksi memperkuat persepsi bahwa melakukan pembelian secara impulsif adalah sesuatu yang mudah. Dengan demikian, penelitian ini berlandasakan Theory of Planned Behavior (TPB) sebagai landasan teoritis untuk menjelaskan perilaku Impulse buying yang dipengaruhi oleh FOMO pada Generasi Milenial dan Generasi Z. Generasi Milenial dan Generasi Z Generasi Z adalah kelompok orang yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Gen Z juga disebut sebagai generasi teknologi karena generasi ini lahir dan tumbuh berdampingan dengan teknologi (Asriandi & Putri, 2. Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan Farida et al. yang mengatakan Gen Z adalah generasi yang lahir diera digital dengan dukungan teknologi canggih yang menyebabkan generasi ini banyak menghabiskan waktu untuk menjelajah internet dari pada bersosialisasi didunia nyata. Sedangkan Generasi Milenial adalah golongan orang yang lahir antara tahun 1981-1996. Generasi ini tumbuh diera pergantian teknologi digital yang menyebabkan gadget menjadi salah satu bagian dari lifestyle mereka (Saputra & Aulia. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa baik Gen Z dan Milenial tergolong sebagai generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi modern yang mendorong mereka untuk menghabiskan sebagian besar waktu dengan smartphone dan media sosial. Dengan adanya akses internet membuat mereka mudah terpapar informasi terbaru, tren dan promosi. Dengan adanya kebutuhan untuk selalu terhubung dan mengikuti tren memperkuat kecenderungan belanja tanpa terencana di kalangan kedua generasi ini. Impulse Buying Impulse buying atau pembelian impulsif didefinisikan sebagai tindakan membeli secara tiba-tiba tanpa perencanaan maupun pertimbangan atas konsekuensinya (Muhammad et al. , 2024. Fumar et al. , 2. Perilaku ini mencerminkan kecenderungan seseorang untuk membeli barang atau jasa yang sebenarnya tidak Asmarani et al. , menegaskan bahwa impulse buying merupakan suatu tindakan pembelian yang dilakukan secara mendadak, tanpa adanya perencanaan sebelumnya, dan bersifat spontan. Tindakan pembelian impulsif biasanya dipengaruhi oleh berbagai aspek seperti emosi pribadi, serta pengaruh atau Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 673 rekomendasi dari lingkungan sekitar. Adanya promosi dan diskon juga menjadi dorongan seseorang untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Menurut Wahyuni & Setyawati . Impulse buying memiliki empat indikator Pertama, pembelian secara spontan, yaitu tindakan membeli yang dilakukan tiba-tiba tanpa adanya rencana atau niat sebelumnya. Kedua, pembelian dilakukan secara terburu-buru, biasanya terjadi ketika seseorang melihat penawaran yang menarik sehingga terdorong untuk segera membeli agar tidak melewatkan promo yang Ketiga, pembelian dipengaruhi oleh emosi, di mana keputusan membeli didorong oleh perasaan senang atau kepuasan sesaat. Keempat, pembelian dilakukan tanpa memikirkan sebab-akibat, artinya seseorang membeli barang hanya berdasarkan keinginan tanpa mempertimbangkan kebutuhan, yang sering kali berujung pada penyesalan setelah transaksi dilakukan. Menurut Maula . Stren mengemukakan bahwa terdapat beberapa jenis impulse buying. Pertama, pure impulse buying, yaitu pembelian suatu produk tanpa adanya rencana sebelumnya, di mana hanya dengan melihat produk dapat memunculkan emosi yang pada akhirnya mendorong seseorang untuk membeli. Kedua, reminder impulse buying, yakni pembelian yang terjadi ketika seseorang mengingat produk yang telah habis atau kurang, atau karena pengaruh rekomendasi iklan dari produk yang pernah dilihat sebelumnya. Ketiga, suggestion impulse buying, yaitu pembelian yang dilakukan ketika seseorang melihat suatu produk dan tersugesti bahwa ia membutuhkannya, meskipun sebenarnya tidak mengetahui secara detail mengenai produk tersebut. Keempat, planned impulse buying, yaitu kondisi di mana seseorang sudah mengetahui apa yang akan dibeli, namun tetap membuka peluang untuk membeli produk lain berdasarkan penawaran menarik. Namun meskipun saat melakukan pembelian seseorang dapat merasakan kepuasan atau kesenangan, namun perasaan itu hanya dirasakan sesaat. Dalam jangka panjang impulse buying memberikan dampak negatif misalnya masalah finansial atau menumpuknya barangbarang yang sebenarnya tidak diperlukan (Asmarani et al. , 2. Fear Of Missing Out (FOMO) Menurut Maula . FOMO merupakan bentuk kecemasan atau rasa takut yang muncul Saat seseorang merasakan bahwa dirinya tidak turut serta atau ketinggalan dalam suatu hal atau tidak mengikuti tren, peristiwa, atau hal-hal menarik yang terjadi di media sosial di kalangan teman-temannya. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Sachiyati et al. yang menyatakan bahwa FOMO dapat muncul ketika seseorang menyaksikan orang lain terlibat dalam kegiatan atau memiliki pengalaman yang menarik di media sosial, dan merasa terdorong untuk ikut serta agar tidak ketinggalan informasi penting atau pengalaman berharga. Adapun bentuk bentuk FOMO menurut Jannah dan Rosyiidiani . yaitu keinginan untuk terus menjalin koneksi dengan orang lain, seringnya penggunaan media sosial, serta kesulitan mengendalikan diri agar tidak membuka media sosial disaat sedang mengerjakan tugas atau pekerjaan, serta sering memperbarui status media sosial demi meraih Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 674 Menurut Irza . fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dapat dikenali melalui tiga indikator utama. Pertama, ketakutan, yaitu perasaan takut yang muncul ketika seseorang tidak ikut serta dalam suatu acara, pengalaman, atau percakapan dengan orang lain. Kedua, kekhawatiran, yaitu rasa tidak nyaman yang timbul karena kehilangan kesempatan untuk bertemu atau berinteraksi dengan orang lain. Ketiga, kecemasan, yakni perasaan kurang menyenangkan yang dirasakan saat seseorang merasa terlewatkan dalam sebuah kejadian, pengalaman, atau diskusi bersama orang Semakin tinggi tingkat FOMO seseorang maka semakin takut tren atau kondisi yang ada akan meninggalkannya, yang memaksa orang tersebut untuk tetap up to date dengan kondisi terkini (Widodo, 2. Selain itu menurut Taswiyah . FOMO dapat menyebabkan depresi, kelelahan, stres, insomnia dan selalu merasa tidak cukup akan diri sendiri. Meski demikian. FOMO dapat dimanfaatkan dalam strategi pemasaran untuk mendorong terjadinya pembelian impulsif dengan cara mempengaruhi proses pengambilan keputusan konsumen melalui tekanan psikologis. Sehingga membuat konsumen lebih cepat melakukan pembelian yang akan meningkatan penjualan bisnis (Irza, 2. Dengan strategi ulasan dari influencer atau menggunakan strategi eksklusivitas dapat memberikan tekanan kepada konsumen dalam mengambil keputusan pembelian. Hubungan Fear of Missing Out dengan Impulse Buying Menurut Widodo . ketika tingkat FOMO pada seseorang meningkat, maka kemungkinan untuk melakukan pembelian tanpa perencanaan pun cenderung ikut Ditambah dengan adanya dorongan promosi penjualan yang menarik, maka kemungkinan seseorang untuk membeli saat itu juga semakin tinggi. Agustina et al. juga mengatakan bahwa FOMO berpengaruh terhadap Impulse buying, di mana peningkatan FOMO biasanya sejalan dengan meningkatnya tindakan pembelian impulsif. Pendapat tersebut diperkuat oleh pendapat Wirasukessa & Sanica . yang mengatakan FOMO merupakan faktor psikologis yang mencerminkan adanya rasa cemas, dengan begitu seseorang akan berusaha menjauh dari perasaan cemas agar tidak kehilangan tren yang sedang berlaku dengan melakukan pembelian secara konsumtif. Soleha dan Sagir . juga menegaskan bahwa dorongan berbelanja tanpa perencanaan kerap muncul pada Generasi Z akibat kekhawatiran mereka melewatkan kesempatan, baik berupa diskon, tren, maupun pengalaman H1 : FOMO memiliki pengaruh terhadap perilaku Impulse buying pada Gen Z dan Milenial. Metode Penelitian Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif, yang bertujuan untuk mengukur serta membandingkan pengaruh FOMO antara Generasi Milenial dan Generasi Z terhadap perilaku pembelian impulsif. Fokus penelitian adalah variabel Fear of Missing Out (FOMO) dan Impulse buying, dengan subjek penelitian adalah Generasi Z dan Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 675 Generasi Milenial yang berada di kota Bandung dan aktif dalam penggunaan sosial Instrumen penelitian ini diadaptasi dari Sachiyati et al. FOMO, . Impluse Buying. Kerangka dari penelitian ini menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan terikat, serta membandingkan pengaruhnya berdasarkan kelompok generasi yang berbeda, yakni Generasi Milenial dan Generasi Z. Penelitian ini melibatkan satu variabel bebas (X) adalah yaitu Fear of Missing Out (FOMO), satu variabel terikat (Y) adalah Impulse buying. Selain itu, penelitian ini membandingkan hubungan antar variabel tersebut pada dua kelompok generasi, yaitu Generasi Milenial dan Generasi untuk penggambaran lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 1. Impulse Buying(Y) Membeli secara spontan Tidak memikirkan konsekuensi Membeli dengan emosi (Wahyuni & Setyawati, 2. Fear of missing out (FOMO)(X) Ketakutan Kekhawatiran Kecemasan (Sachiyati et al. , 2. Gambar 1. Kerangka Penelitian Operasional variabel dalam penelitian ini disusun untuk menjelaskan secara sistematis bagaimana masing-masing variabel diukur melalui serangkaian indikator dan item kuesioner. Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Slovin, diperoleh jumlah minimum sampel sebanyak 100 responden per generasi (Generasi Z dan Generasi Milenia. Namun, untuk mengantisipasi kemungkinan data tidak valid atau drop-out, jumlah sampel ditambahkan menjadi 135 responden untuk masing-masing generasi, sehingga total keseluruhan responden berjumlah 270 orang. Penarikan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling, dengan kriteria partisipan yaitu: . berdomisili di Kota Bandung, . aktif menggunakan media sosial minimal 1 jam per hari Data dikumpulkan melalui distribusi kuesioner online selama kurang lebih 40 hari. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan software SmartPLS dengan tahapan analisis deskriptif, pengujian outer model, inner model, serta uji hipotesis. Variabel Fear of Missing Out (FOMO) (X) Impulse Buying (Y) Tabel 1. Operasional Variabel Indikator Ketakutan Kekhawatiran Kecemasan Membeli produk atau jasa secara spontan Tidak memikirkan konsekuensi sebelum membeli Membeli dengan melibatkan emosi Sumber (Sachiyati et , 2. (Wahyuni & Setyawati. Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian Analisis Deskriptif Nilai rata-rata . dari variabel Fear of Missing Out (FOMO) pada generasi Z sebesar 2,643 yang berada pada kategori sedang atau cukup. Hal ini menunjukkan Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 676 bahwa, responden Generasi Z di Kota Bandung memiliki tingkat FOMO yang cukup, tidak terlalu tinggi namun tetap menunjukkan kecenderungan untuk merasa takut tertinggal terhadap tren atau informasi yang beredar di media sosial. Sedangkan nilai rata-rata . dari variabel Fear of Missing Out (FOMO) pada generasi milenial sebesar 2,458 yang berada pada kategori cukup rendah hingga sedang. Hal ini menunjukkan bahwa, responden Generasi Z di Kota Bandung memiliki tingkat FOMO yang relatif rendah, meskipun kecenderungan untuk merasa takut tertinggal terhadap aktivitas sosial dan tren tetap ada. Tabel 2. Analisis Deskriptif FOMO Gen Z Pernyataan Std. Mean Deviasi Saya merasa takut ketinggalan tren 2,667 1,011 yang sedang populer Saya tertarik melihat produk yang 3,23 1,108 dibeli orang lain di media sosial Saya merasa membeli produk yang sama agar tidak 2,437 1,086 merasa tertinggal Saya merasa takut ketinggalan tren 2,733 1,194 saat tidak melihat media sosial Saya merasa khawatir jika saya tidak membeli atau memiliki barang yang 2,23 1,141 sedang tren Saya melakukan pembelian secara spontan agar ikut dalam tren, meski 2,104 1,117 tidak membutuhkannya Saya menghabiskan banyak waktu di media sosial karena takut ketinggalan 2,444 1,178 Saya merasa cemas jika teman-teman 2,637 1,19 mengikuti suatu kegiatan tanpa saya Saya merasa cemas jika saya tidak mengetahui apa yang sedang tren di 2,844 1,167 dalam kelompok sosial Saya memantau media sosial untuk 3,104 1,243 aktivitas terbaru dari orang-orang yang saya kenal FOMO (X. 2,643 1,144 Gen Milenial Std. Mean Deviasi 2,437 1,106 2,807 1,051 2,289 1,01 2,504 1,121 2,259 1,033 2,111 0,680 2,467 1,114 2,407 1,137 2,481 1,081 2,815 1,218 2,458 1,055 Nilai rata-rata pada variabel impulse buying Generasi Z sebesar 2,482 berada pada kategori cukup rendah, yang mengindikasikan bahwa perilaku pembelian impulsif pada responden belum terlalu dominan. Nilai rata-rata pada variabel impulse buying Generasi Milenial sebesar 2,286 juga termasuk dalam kategori rendah, yang mengindikasikan bahwa perilaku pembelian impulsif pada responden masih tergolong rendah dan belum menjadi kebiasaan. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 677 Tabel 3. Analisis Deskriptif Impulse Buying Gen Z Pernyataan Std. Mean Deviasi Saya membeli barang tanpa perencanaan 2,933 1,26 hanya karena tertarik saat melihatnya Saya terdorong untuk membeli barang setelah melihat teman atau influencer 3,007 1,202 membagikan produk tersebut di media sosial Saya pernah membeli suatu barang yang sedang tren tanpa menyadari bahwa saya 2,407 1,324 sebenarnya sudah memiliki barang tersebut Saya membeli barang yang tidak benarbenar saya butuhkan karena takut 2,652 1,278 Saya langsung membeli barang yang viral metode 2,193 1,274 Saya senang membeli suatu produk yang sedang tren meskipun produk tersebut tidak 2,207 1,116 terlalu saya butuhkan saya membeli produk secara tiba tiba 2,83 1,358 sebagai cara untuk mengurangi stress Saya membeli produk yang sedang tren 2,156 1,134 hanya karena takut ketinggalan Saya membeli produk yang sedang tren 1,956 1,088 hanya karena merasa iri Impulse Buying (Y. 2,482 1,226 Gen Milenial Std. Mean Deviasi 2,852 1,19 2,77 1,032 2,185 1,103 2,356 1,158 2,022 1,014 2,067 0,693 2,467 1,16 1,011 1,852 0,668 2,286 1,003 Outer Model Convergent Validity Indikator Tabel 4 Loading Factor FOMO Indikator Gen Z Gen Milenial 0,743 0,708 0,677 0,744 0,845 0,827 0,788 0,828 0,863 0,861 0,795 0,749 0,696 0,823 0,742 0,829 0,754 0,797 0,679 0,719 Impulse Buying Gen Z Gen Milenial 0,671 0,657 0,705 0,731 0,696 0,742 0,725 0,780 0,821 0,811 0,885 0,758 0,637 0,747 0,881 0,853 0,762 0,857 Berdasarkan hasil uji yang telah dilakukan, seluruh nilai loading factor pada indikator-indikator untuk Generasi Z dan Generasi Milenial memperoleh nilai di atas Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 678 0,6. Hasil ini menunjukan bahwa seluruh indikator berkorelasi kuat dengan variabel laten yang diukur. Dengan demikian, seluruh indikator valid dan layak untuk digunakan dalam analisis lebih lanjut tanpa perlu dilakukan penghapusan atau revisi. Discriminant Validity Indikator FOMO 0,743 0,677 0,845 0,788 0,863 0,795 0,696 0,742 0,754 0,679 0,504 0,625 0,602 0,625 0,719 0,740 0,486 0,820 0,694 Tabel 5. Crossloading Gen Z Impulse Buying 0,629 0,590 0,757 0,614 0,758 0,737 0,625 0,687 0,579 0,542 0,671 0,705 0,696 0,725 0,821 0,885 0,637 0,881 0,762 Gen Milenial FOMO Impulse Buying 0,708 0,461 0,744 0,536 0,827 0,655 0,828 0,558 0,861 0,697 0,749 0,681 0,823 0,651 0,829 0,691 0,797 0,573 0,719 0,544 0,567 0,657 0,671 0,731 0,608 0,742 0,599 0,780 0,583 0,811 0,533 0,758 0,536 0,747 0,663 0,853 0,587 0,857 Hasil uji crossloading untuk Generasi Z dan Generasi Milenial menunjukkan Setiap indikator menunjukkan nilai loading yang lebih besar pada variabel laten asalnya dibandingkan dengan variabel laten lainnya. Sebagai contoh, pada indikator FOMO menunjukan bahwa nilai kontruk FOMO lebih tinggi dibandingkan dengan nilai kontruk impulse buying, begitupun sebaliknya pada indikator impulse buying menunjukan bahwa nilai kontruk impulse buying lebih tinggi dibandingkan dengan nilai kontruk FOMO. Dengan demikian, hasil ini menegaskan bahwa validitas diskriminan antara FOMO dan Impulse buying telah terpenuhi, karena seluruh indikator lebih valid mengukur konstruk yang sesuai. Composite Reliability FOMO Impulse Buying Tabel 6. Reliability Generasi Z CronbachAos alpha Composite reliability Gen Gen Gen Z Gen Z Milenial Milenial 0,918 0,933 0,932 0,943 0,906 0,915 0,923 0,930 Keterangan Reliabel Reliabel Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 679 Berdasarkan hasil pengolahan data reliabilitas untuk Generasi Z dan Generasi Milenial, diperoleh nilai di atas 0,9 untuk setiap konstruk yang diuji. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa konstruk yang digunakan dalam studi ini memiliki reliabilitas internal yang tinggi. Dengan begitu, instrumen yang digunakan dapat diandalkan untuk mengukur variabel-variabel yang diteliti, sehingga memenuhi syarat untuk dianggap reliabel dan layak untuk digunakan dalam analisis lebih lanjut. Average Variance Extracted (AVE) Tabel 7. Average Variance Extracted (AVE) Average Variance Extracted Keterangan Gen Z Gen Milenial FOMO 0,579 0,624 Reliabel Impulse Buying 0,575 0,597 Reliabel Hasil uji AVE kedua Generasi. Generasi Z dan Generasi Milenial pada setiap konstruk menunjukkan nilai di atas 0,5. Nilai ini mengindikasikan bahwa setiap konstruk terbukti valid, karena AVE yang melebihi 0,5 menandakan bahwa lebih dari separuh variasi indikator dapat dijelaskan oleh konstruk tersebut. Oleh karena itu, variabel laten yang diuji dalam penelitian ini memenuhi kriteria validitas yang diperlukan. Inner Model Variance Inflation Factor (VIF) FOMO Tabel 8. VIF Impulse Buying Gen Z Gen Milenial Hasil uji VIF sebesar 1, yang berarti tidak terdapat masalah multikolinearitas antara kedua variabel yang diuji. Nilai VIF yang berada pada angka 1 mengindikasikan bahwa kedua variabel tidak saling berkorelasi secara berlebihan, sehingga tidak ada ketergantungan yang dapat mempengaruhi validitas model. Artinya model yang digunakan dalam penelitian ini bebas dari masalah multikolinearitas, dan hasil analisis dapat dipercaya untuk digunakan dalam pengujian selanjutnya. R Square Impulse Buying Tabel 9. R Square R-squre Gen Z Gen Milenial 0,747 0,600 R-square adjusted Gen Z Gen Milenial 0,745 0,598 Nilai R-square untuk variabel Impulse buying pada Generasi Z menunjukkan angka sebesar 0,747, yang berarti model ini mampu menjelaskan sekitar 74,7% variasi dalam perilaku Impulse buying. Sementara itu, nilai Adjusted R-square yang mencapai 0,745 menandakan bahwa setelah mempertimbangkan jumlah variabel dalam model, sekitar 74,5% variasi dalam Impulse buying dapat dijelaskan. Sedangkan nilai R-square untuk variabel Impulse buying pada Gen Milenial sebesar 0,600 mengindikasikan bahwa model ini dapat menjelaskan sekitar 60% variasi yang ada. Sementara itu. Adjusted R-square yang mencapai 0,598 menunjukkan bahwa setelah mempertimbangkan jumlah variabel dalam model, sekitar 59,8% variasi dalam Impulse buying masih dapat Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 680 Ini menunjukkan bahwa meskipun model sudah cukup baik dalam menggambarkan perilaku yang diteliti, masih ada faktor lain yang belum sepenuhnya terjelaskan oleh model. F Square (Effect Siz. FOMO Tabel 10. F Square Impulse Buying Gen Z Gen Milenial 2,957 1,497 Nilai f-square sebesar 2,957 untuk hubungan antara FOMO dan Impulse buying pada Generasi Z menunjukkan bahwa pengaruh FOMO terhadap Impulse buying sangat kuat. Nilai ini mengindikasikan bahwa FOMO memiliki dampak yang signifikan dalam mempengaruhi perilaku Impulse buying pada Generasi Z. Nilai fA sebesar 2,957 memang melampaui batas efek besar menurut tolok ukur. Namun, berdasarkan Hair et al. , nilai fA yang sangat tinggi dapat diterima ketika disertai path coefficient yang kuat, seperti pada penelitian ini . Ini mengindikasikan bahwa konstruk FOMO memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap impulse buying. Untuk Generasi Milenial, nilai f-square sebesar 1,497 menunjukkan bahwa pengaruh FOMO terhadap Impulse buying cukup besar. Artinya. FOMO memiliki dampak yang signifikan dalam mempengaruhi perilaku Impulse buying pada Generasi Milenial. Uji Hipotesis Tabel 11. Uji Hipotesis Original Sample Std. P values Keterangan Generasi Z FOMO > 0,864 0,867 0,024 36,042 0,000 Diterima Impulse Generasi Milenial Buying 0,774 0,781 0,0047 16,550 0,000 Diterima Hasil uji hipotesis untuk Generasi Z menunjukkan bahwa hubungan antara FOMO dan Impulse buying sangat signifikan. Dengan nilai Original Sample sebesar 0,864, ini menunjukkan adanya pengaruh positif yang kuat antara kedua variabel. Nilai T Statistics yang tinggi, yaitu 36,042, dan P-value . menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak terjadi secara kebetulan dan dapat diterima secara statistik. Oleh karena itu, hipotesis yang menyatakan bahwa FOMO mempengaruhi Impulse buying pada Generasi Z diterima. Adapun hasil uji hipotesis untuk Generasi Milenial menunjukkan bahwa hubungan antara FOMO dan Impulse buying juga signifikan. Dengan nilai Original Sample sebesar 0,774, ini menunjukkan pengaruh positif yang cukup kuat antara kedua variabel. Nilai T Statistics yang tinggi, yaitu 16,550, dan Pvalue . menunjukkan bahwa hubungan tersebut signifikan secara statistik dan tidak terjadi secara kebetulan. Oleh karena itu, hipotesis yang menyatakan bahwa FOMO mempengaruhi Impulse buying pada Generasi Milenial diterima. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 681 Pembahasan Pengaruh FOMO terhadap Impulse Buying Berdasarkan hasil penelitian, secara keseluruhan fear of missing out (FOMO) memiliki pengaruh terhadap perilaku impulse buying. Temuan ini didukung oleh Maula . yang menyimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara FOMO dengan pembelian impulsif. Kehadiran media sosial seperti TikTok berperan dalam memunculkan perasaan takut tertinggal terhadap tren yang sedang viral di halaman For You Page (FYP). Ketika individu, khususnya mahasiswi, melihat orang lain atau teman sebayanya mengikuti tren tertentu, muncul dorongan emosional untuk turut Dorongan ini kemudian memicu tindakan pembelian impulsif sebagai upaya agar tidak merasa tertinggal secara sosial. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Soleha & Sagir, 2. yang dimana hasil penelitian mengatakan FOMO mendorong konsumen, khususnya Generasi Z, untuk melakukan pembelian impulsif karena adanya rasa takut tertinggal pengalaman, promo, atau tren yang sedang berlangsung. Dukungan tambahan datang dari penelitian oleh Widodo . , yang meneliti pengaruh FOMO terhadap impulse buying dengan mempertimbangkan gender sebagai variabel moderasi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa FOMO secara signifikan memengaruhi perilaku pembelian impulsif, terlepas dari jenis kelamin responden. Ini memperkuat bukti bahwa FOMO merupakan faktor psikologis yang berperan penting dalam membentuk perilaku konsumtif, khususnya dalam konteks digital dan media sosial. Generasi yang Lebih Terpengaruh oleh FOMO dalam Melakkan Impulse Buying Berdasarkan hasil penelitian. FOMO berpengaruh terhadap Impulse buying pada kedua generasi, meskipun keduanya menunjukkan pengaruh yang kuat. Generasi Z menunjukkan dampak yang lebih besar dari FOMO terhadap Impulse buying dibandingkan dengan Generasi Milenial. Hasil ini dipengaruhi oleh perbedaan karakteristik sosial dan digital antara kedua generasi tersebut. Perbedaan karakteristik pada Gen Z didukung oleh pendapat Saputra dan Aulia . Generasi Z adalah generasi yang tumbuh berdampingan dengan teknologi seperti jaringan internet dan perangkat seperti handphone, laptop dan perangkat canggih lainnya. Kedekatan dengan teknologi ini menciptakan tekanan sosial untuk selalu mengikuti tren, hal-hal viral dan pencitraan diri di media sosial. Sehingga mereka memiliki tingkat FOMO yang lebih kuat yang mendorong perilaku konsumtif yang impulsif. Pembelian impulsif pada gen z juga diperukuat oleh Rumbik et al. teknologi membantu dalam mempermudah pembelian atau transaksi yang mendorong perilaku konsumtif pada Generasi Z. Sedangkan Generasi Milenial adalah generasi yang tumbuh diera transisi menuju dunia yang lebih terhubung dengan teknologi, mereka adalah generasi pertama yang mengalami perubahan dari teknologi analog ke teknologi digital (Saputra & Aulia, 2. Meskipun Gen Milenial juga aktif secara digital dan memiliki pengaruh fomo terhadap impulse buying namun pengaruhnya tidak sebesar Generasi Z. Perbedaan karakteristik ini turut memengaruhi jenis barang dan orientasi konsumsi kedua generasi. Rahayu et al. menyatakan bahwa FOMO secara signifikan Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 682 memengaruhi perilaku pembelian impulsif Generasi Z, khususnya pada produk fashion di platform e-commerce seperti Shopee. Sebaliknya, menurut Clove . Generasi Milenial cenderung mengalokasikan pengeluaran untuk pengalaman yang memberikan kepuasan langsung maupun jangka panjang. Sebanyak 78% dari mereka lebih memilih membelanjakan uang untuk pengalaman, seperti perjalanan, kuliner, atau kegiatan sosial, dibandingkan dengan barang material. Perbedaan perilaku ini didukung oleh Informasi mengenai produk yang sering dibeli Generasi Z dan Milenial di Indonesia pada 2023 (Santika, 2. Generasi Z lebih banyak menghabiskan uang untuk kebutuhan seperti skincare & bodycare . %) dan pakaian . %) dibandingkan milenial . % dan 68%). Mereka juga lebih konsumtif dalam membeli aksesoris gadget dan makanan & minuman, menunjukan kecenderungan Gen Z untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup dan tren. Sebaliknya, milenial lebih banyak berinvestasi pada peralatan rumah tangga, perlengkapan traveling, dan suplemen kesehatan. Ini menunjukan bahwa meskipun Gen Milenial tetap mengalami pengaruh FOMO, pengaruh tersebut cenderung dipertimbangkan dengan lebih rasional dan berorientasi pada kebutuhan jangka panjang. Kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa Fear of Missing Out (FOMO) berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku pembelian impulsif pada kedua generasi, yakni Generasi Z dan Milenial. Namun, tingkat pengaruh tersebut berbeda antara keduanya, di mana Generasi Z menunjukkan pengaruh FOMO terhadap pembelian impulsif yang lebih kuat dibandingkan Generasi Milenial. Perbedaan ini dipengaruhi oleh karekteristik masing masing generasi, dimana Generasi z yang tumbuh berdampingan dengan teknologi dan media sosial cenderung memiliki tingkat FOMO yang lebih tinggi akibat paparan tren dan informasi secara real time melalui fitur-fitur seperti likes, comments, dan stories. Mekanisme umpan balik sosial ini menciptakan tekanan untuk selalu terlibat dan up-to-date. Kondisi ini memperkuat efek Fear of Missing Out (FOMO) dan mendorong perilaku konsumtif yang impulsif. Sementara itu. Generasi Milenial cenderung lebih rasional dalam mempertimbangkan keputusan pembelian dan berorientasi pada kebutuhan jangka panjang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa meskipun FOMO memengaruhi kedua generasi. Generasi Z menunjukkan kerentanan yang lebih tinggi terhadap perilaku pembelian impulsif. Implikasi praktis dari temuan ini menunjukkan bahwa pelaku bisnis dan pemasar perlu menyusun strategi yang berbeda untuk setiap generasi. Untuk Gen Z, pendekatan promosi yang memanfaatkan urgency, tren terkini, atau limited edition akan lebih efektif. Sedangkan untuk Milenial, strategi yang menonjolkan aspek nilai guna, kualitas, dan transparansi informasi produk akan lebih sesuai. Referensi