Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Vol. No. Oktober 2024: 203-211 MENELUSURI EKSISTENSI DAN FUNGSI TEKNOLOGI TRADISIONAL MASYARAKAT ADAT KAMPUNG NAGA Elis Suryani Nani Sumarlina1. Rangga Saptya Mohamad Permana2, dan Wina Erwina3 Departemen Sejarah dan Filologi. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Padjadjaran. Jatinangor. Sumedang Program Studi Televisi dan Film. Fakultas Ilmu Komunikasi. Universitas Padjadjaran. Jatinangor. Sumedang Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi. Fakultas llmu Komunikasi. Universitas Padjadjaran. Jatinangor. Sumedang E-mail: 1elis. suryani@unpad. saptya@unpad. erwina@unpad. ABSTRAK. Perkembangan teknologi di era milenial saat ini memang tidak bisa kita hindari. Namun sebagai generasi muda, kita dituntut agar pandai memilih dan memilah serta mencerna budaya asing yang masuk, mana yang baik, dan mana yang tidak baik untuk diterima. Khususnya kearifan lokal yang berkaitan dengan teknologi serta seluk-beluknya, yang harus tetap dirawat dan dilestarikan, bahkan kalau bisa dikembangkan tanpa menghilangkan keasliannya. Teknologi yang canggih memacu kita menuju kebudayaan industri. Tetapi, dari sekian banyak suku bangsa di Indonesia, masih terdapat beberapa suku bangsa yang tetap bersikukuh mempertahankan budaya tradisional dan adat istiadat, serta tradisinya. Salah satunya masyarakat adat Kampung Naga, yang tinggal di Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Teknologi tradisional yang masih tersimpan dan digunakan oleh masyarakat adat Kampung Naga ditelusuri dan dikaji melalui metode penelitian deskriptif analisis, serta metode kajian hermeneutik, sosiologis, antropologis, dan kajian budaya. Diharapkan mampu mengungkap beragam teknologi tradisional yang ada di Kampung Naga dari berbagai alat, fungsi, dan makna yang terkandung di dalamnya, sesuai dengan adat dan tradisinya. Kata Kunci: Menelusuri Eksistensi dan Fungsi. Teknologi Tradisional. Masyarakat Kampung Naga EXPLORING THE EXISTENCE AND FUNCTION OF TRADITIONAL TECHNOLOGY IN THE KAMPUNG NAGA COMMUNITY ABSTRACT. We cannot ignore technological advancements in the modern day. However, as a young generation, we are tasked with assisting pandas in selecting and improving foreign religions, as well as determining which are good and which are not. Especially local wisdom related to technology and its intricacies, which must continue to be maintained and preserved, even if possible developed without losing its authenticity. Cutting-edge technology has propelled us into the industrial age. However, among the many suku bangsa in Indonesia, there are a few that continue to uphold traditional beliefs and practices. The most populous village is Naga, which is located in Desa Neglasari. Kecamatan Salawu. Kabupaten Tasikmalaya. Jawa Barat. Traditional technology that has been developed and used by the community in Kampung Naga has been studied and documented using deskriptif analytic methods, as well as hermeneutic, sociological, and anthropological methods. It is hoped that it would be able to capture a variety of traditional technologies found in Kampung Naga, including various tools, functions, and materials, in accordance with local customs and traditions. Keywords: Exploring Existence and Function. Traditional Technology. Kampung Naga Community PENDAHULUAN Unsur budaya yang dikenal masyarakat, secara universal terdiri atas tujuh unsur, yakni: sistem religi atau keagamaan, sistem teknologi dan benda materil, sistem mata pencaharian hidup atau ekonomi, sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial, sistem ilmu pengetahuan atau pendidikan, sistem bahasa, dan seni (Sumarlina. Namun, dalam tulisan ini hanya menjelaskan seluk beluk teknologi, khususnya peralatan tradisional besertra fungsi dan maknanya. Meskipun demikiam, bukan berarti tidak mengungkap unsur kearifan lokal budaya lainnya, karena tentu saja peralatan tradisional dimaksud tidak terlepas dari struktur sosial lainnya, seperti religi, kemasyarakatan, mata pencaharian hidup, pendidikan, bahasa, dan seni. yang tidak bisa dipisahkan dari adat dan tradisi yang mengirinya, yang ada di Kampung Naga. Permasalahan peralatan tradisional yang ada di masyarakat adat Kampung Naga, berkaitan erat dengan produk, berproses, dan sebagai paradigma etika. Teknologi itu sendiri termasuk ke dalam ilmu terapan yang telah dikembangkan, meliputi baik perangkat keras . maupun perangkat lunak . Sementara itu, teknologi pun berbeda kedudukannya, antara negara berkembang, dengan negara masyarakat Meskipun ilmu dan teknologi amat didambakan karena besar manfaat yang bisa diperoleh manusia dari padanya, namun masyarakat di Mengungkap Eksistensi dan Fungsi Teknologi Tradisional Masyarakat Adat Kampung Naga (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana, dan Wina Erwin. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 negara berkembang sering merasakan dampak ilmu dan teknologi yang merusak atau melunturkan nilai-nilai kebudayaan yang dijunjung tinggi. Kebudayaan modern yang didominasi oleh ilmu dan teknologi menciptakan krisis identitas yang kurang baik. Orang cenderung merasakan alienasi budaya di masyarakatnya sendiri. Namun, tidak demikian halnya dengan fungsi dan makna teknologi yang ada di masyarakat adat, seperti di Kampung Naga. (Adimihardja. Kusnaka, dkk. dalam Sumarlina, 2. Sistem teknologi dan benda materiil khususnya yang terjadi pada Masyarakat Kampung Naga, tampaknya berbeda dengan masyarakat lainnya di daerah Sunda maupun di Indonesia. Kampung Naga dikenal sebagai masyarakat adat/tradisional yang masih kuat dan kukuh memegang serta mempertahankan adat istiadat yang menjadi prinsip hidup mereka sejak dahulu hingga sekarang, mungkin juga sampai masa yang akan datang. Ketaatan terhadap adat serta tradisi yang dijaganya merupakan amanat leluhur atau nenek moyangnya yang harus dijaga dengan baik serta tidak boleh diabaikan. Berkaitan dengan hal tersebut, segala tindakan perkataan, dan perbuatan senantiasa atas dasar pertimbangan adat dan kepercayaan yang diamanatkan oleh berkelanjutan, sehingga dalam menentukan penggunaan peralatan teknologi dan industri untuk kepentingan berbagai keperluan seperti rumah, peralatan sehari-hari, bertani, bercocok tanam, penggunaan alat-alat dapur atau berdagang harus memenuhi persyaratan yang tidak bertentangan dan dilarang oleh adat dan kepercayaan yang dianutnya. Hal ini cukup menarik untuk dikaji dan diungkap, agar dapat diketahui falsafah hidup, fungsi, dan maknanya. METODE Metode penelitian yang digunakan untuk mengungkap fungsi dan makna peralatan tradisional di masyarakat adat Kampung Naga, adalah deskriptif analisis, mencoba untuk mendeskripsika data dan fakta ada di masyarakat, melalui tahap heuristik, seleksi, gradasi, dan presentasi, sehingga didapatkan data valid untuk Sementara itu, untuk menggaji data sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai untuk mengetahui jenis alat, fungsi, dan maknanya, sesuai dengan adat dan tradisi masyarakat adat Kampung Naga, digunakan merode kajian semantik, hermeneutik, antropologi budaya, sosiologi, mengacu kepada kajian budaya yang bersifat multidisiplin, yang sangat bergantung pada ketentuan upaya atas dasar kondisi data yang ada. Teknik pengumpulan sumber data, baik sumber data primer maupun sumber data sekunder ditempuh melalui studi pustaka dan kerja lapangan, sehingga tulisan ini menjadi referensi literasi bagi ilmu lain. HASIL DAN PEMBAHASAN Sekilas Eksistensi Masyarakat Adat Kampung Naga Kampung Naga berada di suatu lembah berketinggian rata-rata 500 meter di atas permukaan laut, udaranya sejuk dan curah hujan setiap tahun mencapai 3. 468 mm. Di sebelah Utara, berbatasan dengan Kampung Nangtang. Desa/Kecamatan Cigalontang. Sebelah selatan berbatasan dengan bukit dan jalan raya Tasikmalaya-Garut. Sedangkan di sebelah timur dibatasi oleh Bukit Naga yang sekaligus menjadi batas pemisah Kampung Naga dengan Kampung Babakan. Jarak tempuh dari kota Tasikmalaya sekitar 30 km, dari kota Garut hanya 25 km atau sekitar 90 km dari Bandung melalui Garut. Sementara kondisi jalan relatif baik (Disbudpar, dalam Sumarlina & Aswina SM, 2. Kampung Naga merupakan kampung adat yang secara khusus menjadi tempat tinggal Warga Masyarakat Naga, yang meliputi tidak lebih dari 10,5 hektar. Meskipun demikian, kampung kecil tersebut merupakan kampung indah nan asri, serta sejuk, dan damai, di sekelilingnya mengalir Sungai Ciwulan. Yang paling menarik, ternyata Kampung Naga menyimpan khazanah budaya dan lingkungan yang tidak kalah indahnya oleh kampung adat (Suganda dalam Sumarlina, 2. Keterjalinan Kepercayaan dan Teknologi Perkembangan budaya di Nusantara mengalami pasang surut, sesuai dengan zaman dan teknologinya, yang dipengaruhi oleh nilainilai agama. Di antara kebudayaan yang berpengaruh adalah kebudayaan Hindu. Budha. Islam, dan Barat. Kebudayaan Sunda sendiri sejak dulu dikuasai oleh nilai-nilai agama, nilai solidaritas, dan nilai lainnya, yang mewarnai kehidupan masyarakat kecil. Kepercayaan animisme dan dinamisme sangat kuat di dalam kehidupan masyarakat Sunda pada waktu itu. Namun masyarakat Sunda tidak meninggalkan kepercayaannya, yang dikenal dengan sebutan Sunda Wiwitan. Berkaitan dengan Masyarakat Kampung Naga, setelah Islam masuk ke wilayah Sunda, mereka penganut agama Islam. Mereka Mengungkap Eksistensi dan Fungsi Teknologi Tradisional Masyarakat Adat Kampung Naga (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana, dan Wina Erwin. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 menjalankan ibadahnya di sebuah mesjid berbentuk bangunan panggung yang didirikan di tengah permukiman mereka, yang berfungsi, selain sebagai tempat melaksanakan shalat, juga digunakan untuk acara-acara keagamaan lainnya. Mesjid bagi masyarakat Kampung Naga digunakan untuk mengakomodir kepercayaankepercayaan yang selama ini dianutnya untuk mengadakan upacara ritual keagamaan, seperti pelaksanaan upacara Hajat Sasih yang menggambarkan perpaduan antara adat, tradisi, dengan syariat agama yang dianutnya. Masyarakat Kampung Naga sebagai masyarakat tradisional, seperti halnya masyarakat adat lainnya, mempercayai bahwa hari-hari memiliki makna magis religius. Hal ini berkelindan erat dengan penetapan aktivitas kehidupannya, yang dipertimbangkan serta dise-suaikan dengan hari baik atau hari mana yang dianggapnya cocok . Mereka juga masih mempercayai adanya mahluk halus, yang menghuni lubuk-lubuk sungai terdalam, pohon besar, serta tempat-tempat yang dianggap angker atau Untuk menangkal gangguan roh jahat dan mahluk halus lainnya, mereka mema-sang peralatan kandang jaga, terdiri dari dua lapis pagar bambu yang dianyam sedemikian rupa dengan tinggi rata-rata satu setengah meter. Pagar tersebut akan diganti pada waktu-waktu tertentu. Sistem kepercayaan yang dianut Masyarakat Kampung Naga, berkaitan erat dengan pantangan-pantangan lainnya yang harus dipatuhi oleh seluruh masyarakat, termasuk di dalamnya menjaga kebersihan jiwa raga dari anasir buruk yang mungkin sudah merasuki jiwanya. Untuk keperluan itu, mereka menjaganya dengan cara AutabuAy, yang dilakukan selama tiga hari dalam seminggu, yakni hari Selasa. Rabu, dan Sabtu, kecuali apabila bertepatan dengan upacara Selama AotabuAo. Masyarakat Kampung Naga masih tetap melakukan kegiatan rutin sehari-hari, seperti mencari nafkah, mengolah sawah, berjualan. Kaum wanitanya pun melakukan kegiatan seperti biasa di dapur. Bentuk mesjid yang digunakan oleh masyarakat adat Kampung Naga untuk beribadah, tentu saja disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan sekitarnya, seperti bentuk rumah, serta peralatan lainnya, yang tidak melanggar aturan, serta disesuaikan dengan peralatan yang sudah ditentukan. Gambar 1 Mesjid Teknologi dan Peralatan Tradisional Alat-alat pertanian yang digunakan oleh Masyarakat Kampung Naga untuk keperluan bercocok tanam maupun bertani hanya menggunakan bedog Aogolok, arit , pacul, koryd, ytym Aosejenis ani-aniAo, parang, dan pisau. Sesuai dengan aturan adat, warga Kampung Naga tidak diperbolehkan menggunakan peralatan modern ataupun menggunakan mesin. Hal ini bukan berarti mereka tidak mampu membeli, namun didasarkan atas pertimbangan adat dan pelestarian alam serta lingkungan sekitarnya. Pembatasan penggunaan teknologi bukanlah tidak beralasan, karena komunitas masyarakat Kampung Naga lebih memper-timbangkan pemeliharaan kesuburan tanah dan bentuk perlakuan manusia secara baik dan arif terhadap makhluk hidup lainnya yang ada di dalam tanah atau permukaan tanah untuk tanaman lainnya. samping menanam padi, mereka pun menanam palawija dan apotik hidup. Dalam sistem tanam, mereka tidak diperbolehkan menggunakan pupuk buatan dan pestisida, yang dianggap dapat merusak unsur-unsur tanah dan kesehatan manusia. Mata pencaharian lainnya yang dilakukan oleh komunitas Kampung Naga adalah industri kerajinan yang diproduksi sebatas pada industri kerajinan tangan yang biasanya mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti cenderamata. Mereka pun memproduksi kerajinan anyaman, berupa anyaman bambu untuk pembuatan bilik yang digunakan untuk keperluan rumah mereka sendiri dan anyaman kulit kayu untuk pembuatan tas dan lainnya. Kerajinan anyaman ini pada akhirnya berkembang sejalan dengan banyaknya tamu, baik tamu lokal maupun tamu asing dari mancanagara yang berkunjung ke Kampung Naga. Mereka memproduksi barangbarang dari anyaman, untuk souvenir atau hadiah, seperti pernak-pernik, dan sebagainya. Peralatan yang digunakan untuk memproduksi anyaman adalah kayu dan bambu yang dibuatnya sendiri serta digunakan secara manual, sehingga tidak menyebabkan polusi udara dan pencemaran lingkungan. Mata pencaharian menganyam merupakan pekerjaan sampingan mereka untuk mengisi kekosongan waktu, di luar kegiatannya sehari-hari di sawah. Sistem teknologi dan benda materiil bagi komunitas Kampung Naga, sebenarnya masih berpegang teguh kepada alat-alat tradisional sesuai dengan kuatnya adat istiadat mereka. Hal ini tampak dalam alat-alat pertanian maupun perlengkapan dapur. Selain itu, karena masyarakat Kampung Naga masih belum menerima penerangan melalui listrik . ereka masih menggunakan cempor atau lampu tympyl/typlok. Mengungkap Eksistensi dan Fungsi Teknologi Tradisional Masyarakat Adat Kampung Naga (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana, dan Wina Erwin. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 maka alat dan perlengkapan rumah tangga pun masih disesuaikan dengan kondisi tanpa listrik. Perlengkapan dapur yang gunakan, di antaranya: Hawu, menggoreng, atau merebus yang terbuat dari tanah liat yang mereka buat sendiri atau membeli dari luar Kampung Naga. Syyng, tempat menanak nasi yang terbuat dari seng atau tembaga, yang diperolehnya perkampungan Naga. Aseupan. yakni anyaman bambu, tempat mengukus atau memasak nasi berbentuk . Hihid. yakni kipas yang terbuat dari mendinginkan nasi . Leukeur. yakni tutup aseupan yang terbuat dari anyaman bambu yang digunakan pada saat memasak nasi. Dulang. yakni tempat nasi yang baru masak atau setengah matang, dan digunakan untuk ngakeul atau mengadukaduknya agar tidak lengket dan agar cepat . Katyl. yakni tempat penggorengan. Susuk. yakni alat untuk menggoreng. Pangarih. yakni cyntong untuk mengaduk . Kyly. yakni tempat mengambil dan menyimpan air bersih yang terbuat dari . Pabyasan. yakni gentong kecil yang terbuat dari tanah liat yang digunakan untuk tempat beras. Nyiru. yakni tempat membersihkan beras dari gabah/daun padi, dari debu serta . Songsong. yakni alat peniup api yang terbuat dari sepotong bambu. Panyiuk. yakni alat untuk mengambil air masak yang akan dituangkan ke dalam tyko. Boboko. yakni bakul kecil atau tempat nasi yang disajikan pada saat makan. Peralatan makan yang biasa mereka gunakan, yakni: Tyko. yakni tempat air yang sudah masak yang terbuat dari alumunium dan botol besar atau plastik. Cangkir/Emuk. yakni tempat minum yang terbuat dari kaleng atau sejenisnya sebelum mengenal gelas. Sendok. yakni alat makan yang terbuat dari batok kelapa atau aluminium, sendok. Sinduk. yakni sendok besar yang terbuat dari batok kelapa/plastik. Centong. yakni sendok besar untuk mengambil nasi. Gambar 2 Perlengkapan Dapur Keterjalinan Teknologi dengan Kosmologis Bentuk rumah Kampung Naga yang khas, menjadi salah satu daya pikat tersendiri, dengan letak membujur arah utara-selatan. Dari kejauhan, sudah terlihat atap bangunannya bagai deretan trapesium yang memanjang dengan ijuk berwarna hitam. Letak bangunan rumah tersebut saling berhadapan, serta tidak boleh membelakangi bagian depan rumah lainnya. Selain berkelompok, dindingnya seragam berwarna putih dilabur kapur, sedangkan sebagian lainnya dibiarkan sesuai dengan warna aslinya. Sedangkan kusen jendela dan kusen pintunya tidak boleh dicat, kecuali dimeni agar bisa tahan lebih lama. Kampung Naga sebelum dibumihanguskan DI/TII tahun 1956, bangunan rumahnya masih belum dilengkapi jendela seperti bangunan Bumi Ageung yang dikelilingi pohon Hanjuang. Tetapi saat ini, mereka mulai melengkapinya dengan jendela, sehingga ada ventilasi agar matahari bisa lebih banyak masuk ke dalam ruangan. Namun bentuk bangunan dan warna dindingnya tidak berubah. Atapnya yang dilapisi ijuk berwana hitam, di samping arsitekturnya yang seragam, menjadi cirri khas wastuwidya/arsitektur masyarakat Kampung Naga. Bangunan rumah masyarakat Kampung Naga berbentuk rumah panggung. Bahan Mengungkap Eksistensi dan Fungsi Teknologi Tradisional Masyarakat Adat Kampung Naga (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana, dan Wina Erwin. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 bangunannya hampir seluruhnya terbuat dari bahan-bahan lokal yang mudah didapat di daerah setempat, kecuali untuk beberapa bagian tertentu, seperti paku dan kaca untuk jendela. Hal ini disesuaikan dengan pikukuh leluhurnya, tabu membangun rumah tembok dengan atap genting, walaupun secara ekonomi memungkinkan. Bentuk bangunan masyarakat Kampung Naga, dilihat dari suhunan yang atapnya dilapisi ijuk berbentuk memanjang, biasa disebut suhunan panjang atau julang ngapak Aobentuk bangunan rumah yang di bagian depan belakangnya memakai sorondoy seperti sayap julang yang sedang terbang atau mengepakkan sayapnyaAo, yang merupakan ciri khas bangunan tradisional Sunda. Betapapun rapatnya bangunan rumah di Kampung Naga, bagian ujungnya tidak boleh menutup atap bangunan rumah di sebelahnya. Setiap rumah masyarakat Kampung Naga, ujung atap bagian atasnya dipasangi AogelanggelangAo. Tiang gelang-gelang terbuat dari sepasang bambu setinggi kurang lebih setengah meter dari puncak atas, sehingga bentuknya menyerupai tanduk atau huruf AoVAo. Bambu Aogelang-gelangAo tersebut kemudian dililit tambang ijuk, kemudian bagian atasnya ditutup dengan batok kelapa, sehingga terlindung dari terik mataharti dan siraman air hujan. Sebagian orang menamainya dengan sebutan Aocagak gunting atau capit hurangAo. Gelang-gelang tersebut sebagai simbol ikatan kesatuan dalam kepercayaan mereka terhadap alam semesta dengan segenap isinya, di mana matahari bergerak dari timur ke barat. Itu sebabnya rumah masyarakat Kampung Naga tidak boleh menghadap ke arah timur, karena dianggap melanggar kodrat alam. Gambar 3 Rumah adat Kampung Naga Rumah bagi masyarakat adat Kampung Naga, tidak hanya sekadar tempat berteduh dari terik matahari dan hujan, serta dinginnya cuaca di malam hari, namun berkelindan erat dengan makna yang terkandung di balik rumah itu Hal ini, jika dihubungkan dengan kata AoimahAo atau AobumiAo, yang berarti AoduniaAo, sebagaimana dalam tatanan tata surya, yang merupakan planet urutan ketiga dari matahari. (Murniatmo, dalam Sumarlina, 2021. Ayatrohaedi, 2. Rumah bagi masyarakat Kampung Naga dianggap bukan hanya sebagai tempat tinggal, namun merupakan bagian dari konsep kosmologisnya, sebagaimana tercermin dalam penataan pola kampung, bentuk rumah, serta pembagian ruang-ruangnya. Untuk menjaga keseimbangan dalam kehidupannya, mereka berkeyakinan bahwa hubungan antara makrokos-mos dengan mikrokosmos harus tetap dijaga agar senantiasa terjalin keharmonisan dan keselarasan dalam kehidupan Kampung Naga. Salah satu pengejawantahan dan cerminan dari hubungan antara mikrokosmos dan makromokosmos, dalam kehidupan masyarakat Kampung Naga, mereka menganggap bahwa tempat tinggal manusia yang masih hidup bukanlah di Audunia bawahAy, karena Aodunia bawahAo menurut mereka adalah AotanahAo. Manusia berada di Aodunia bawahAo apabila sudah meninggal dunia. Manusia yang masih hidup, tinggal dan berada di Aodunia tengahAo, sedangkan yang dimaksud Aodunia atasAo adalah AolangitAo. Konsep tata ruang masyarakat Sunda secara kosmologis, yang berupaya mencari makna dunia menurut eksistensinya, banyak tersurat dalam naskah-naskah Sunda Kuno. Manusia memang pada dasarnya terikat pada alam semesta dan memiliki pandangan akan adanya hubungan spiritual secara timbal balik, antara manusia dengan alam semesta. (Ekadjati, 1984. Sumarlina, dkk. , 2. Pandangan hidup masyarakat Sunda, termasuk masyarakat Kampung Naga, seperti tercermin dalam naskah Sunda Kuno Sang Hyang Hayu . isingkat SHH). Menurut SHH, tata ruang jagat . terbagi menjadi tiga susunan, yaitu: susunan dunia bawah, saptapatala Aotujuh nerakaAo, . buhloka bumi tempat kita bernaung atau madyapada. susunan dunia atas, saptabuana atau buanapitu Aotujuh sorgaAo. Tempat di antara saptapatala dengan saptabuana disebut madyapada, yakni pratiwi. Pandangan tersebut tampak dalam masyarakat Sunda, termasuk masyarakat Kampung Naga, seperti tercermin dalam naskah Sunda Kuno Sang Hyang Hayu . isingkat SHH). Menurut SHH, tata ruang jagat . terbagi menjadi tiga susunan, yaitu: . susunan dunia bawah, saptapatala Aotujuh nerakaAo, . buhloka bumi tempat kita bernaung atau dan . susunan dunia atas, saptabuana atau buanapitu Aotujuh sorgaAo. Tempat di antara saptapatala dengan saptabuana disebut madyapada, yakni pratiwi (Ekadjati, 2000. Sumarlina, 2. Konsep tata ruang masyarakat Sunda secara kosmologis bersifat triumvirate Aotiga serangkai, tritunggalAo. Dalam tatanan ini, berupaya mencari makna dunia menurut eksistensinya, yakni Mengungkap Eksistensi dan Fungsi Teknologi Tradisional Masyarakat Adat Kampung Naga (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana, dan Wina Erwin. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 menyangkut keleluasaan-nya yang mengandung segala macam dunia dengan seluruh bagian dan aspeknya, sehingga tidak ada sesuatu pun yang Masyarakat Sunda memiliki pandangan tentang kesejajaran antara makrokosmos dan mikrokosmos, antara jagat raya dan dunia manusia (Ekadjati, 1984 & 2006. Darsa, dalam Sumarlina, 2. Sistem tata ruang secara kosmologis dalam masyarakat Kampung Naga, sebagaimana tampak dan dapat dihubungkan dalam bentuk rumah yang mereka bangun dan mereka tempati. Rumah dianggap sebagai cerminan dari dunia kecil yang dijadikan tempat tinggalnya, berkenaan dengan itu, pembangunan rumah senantiasa didahului dengan berbagai upacara, yang dilakukan sejak menebang pohon untuk kebutuhan balok, papan, atau bahan bangunan lainnya, melalui upacara AongarajahAo (Rosidi, 2. Keterjalinan Teknologi dengan Pembagian Tata Ruang Rumah Pengerjaan rumah dipercayakan kepada tukang AodulahAo. Pembangunannya dimulai dengan memasang balok-balok kayu untuk tiang, kemudian bagian lainnya sebagai penyangga. Berhubung bentuk rumahnya panggung, maka tiang-tiang utama bangunan tersebut diberi alas yang disebut tatapakan, bisa berupa batu, tetapi ada juga berupa kayu keras. Ukuran sisi bagian atas tatapakan sekitar 20 x 20 cm, dan bagian bawahnya 30 x 30 cm, dengan tinggi sekitar 4050 cm. Tatapakan tersebut sebenarnya berfungsi untuk mencegah kontak langsung bagian bawah tiang rumah dengan tanah, agar tiang tersebut tidak cepat lapuk akibat kontak dengan tanah. Tatapakan juga berfungsi sebagai fondasi yang menahan gaya berat rumah. Bahan bangunan untuk membuat sebuah rumah di Kampung Naga masih sangat sederhana, seperti halnya kayu, biasanya untuk memenuhi pembuatan tiang, pamikul, ryng, tihang adeg-adeg, usuk, dan papan. Selain kayu, diperlukan juga bambu untuk membuat dinding atau lantai rumah yang dikenal dengan istilah AopalupuhAo. Sedangkan atapnya terbuat dari alangalang, agar pada usim hujan tidak bocor. Pada bagian atas susunan alang-alang tersebut dilapisi dengan ijuk, yang sebelumnya sudah dirapikan terlebih dahulu pada sebuah bambu yang disebut Beralih kepada hal lain, masih bagian rumah masyarakat Kampung Naga, yakni dinding rumahnya terbuat dari anyaman bambu yang disebut AobilikAo. Selama ini, mereka menggunakan dua jenis bilik sesuai dengan ragam anyamannya, yakni bilik nyaman kypang, karena cara menjalin anyamannya berbentuk kypang, biasanya digunakan untuk penyekat ruangan, antara ruang tengah dan ruang tidur, dan bilik anyaman sasag yang biasanya juga digunakan untuk daun pintu. Dinding rumah bilik tersebut, memiliki celah-celah dan lubang kecil yang sekaligus berfungsi sebagai ventilasi untuk keluar masuk udara dan sinar matahari. Dinding rumah di Kampung Naga memiliki makna sosial, sesuai dengan pandangan hidup mereka, yang mencerminkan sifat kegotongroyongan mereka yang masih sangat kuat. Melalui celah dinding, setidaknya mereka bisa tahu keadaan tetangganya jika terjadi suatu musibah yang menimpanya, misalnya saja Karena masalah kebakaran ini hal sangat ditakuti dan menjadi AotraumaAo bagi masyarakat Kampung Naga. Karena Kampung Naga pernah dibumihanguskan oleh DI/TII, sehingga banyak peninggalan karuhun atau nenek moyang berharga yang ikut hangus terbakar, seperti halnya naskah-naskah Sunda kuno yang tidak tersisa sama sekali. Bentuk dan bagian rumah di Kampung Naga menurut pandangan Naga, harus dilihat sebagai kategorisasi ritual, yang ditata berdasarkan kategori jenis kelamin, serta perannya dalam Kaum laki-laki menempati bagian depan, sedangkan kaum perempuan, yang bertugas mengatur keluarga, menguasai ruang lainnya yang berada di dapur. Kesederhanaan Kampung Naga, mencerminkan kesederhanaan hidup mereka sehari-hari. Sebelum masuk ke rumah, di bagian paling depan ada yang disebut golodog, yang terbuat dari bambu dibelah dua, namun ada juga yang terbuat dari papan. Golodog biasanya terdiri dari satu atau dua tahapan, dengan panjang masing-masing sekitar dua meter dan lebar 30-40 cm. Golodog selain berfungsi sebagai tangga memasuki rumah panggung, pada waktu tertentu biasa digunakan tempat duduk-duduk, semacam teras untuk sekedar ngabungbang atau berangin-angin. Sudah dijelaskan di muka, bahwa pembagian ruang dalam masyarakat Kampung Naga disesuaikan dengan peran dan fungsi Ruang depan yang biasa dijadikan sebagai ruang tamu disebut tepas imah atau ruang laki-laki apabila menerima tamu atau menghabiskan waktu senggangnya. Tepas imah di Kampung Naga tidak dilengkapi dengan meja kursi. Mereka duduk di lantai yang dikenal dengan sebutan palupuh, yang terbuat dari bambu atau papan dengan alas Tepas imah juga berfungsi sebagai filter untuk menyaring kemungkinan pengaruh buruk Mengungkap Eksistensi dan Fungsi Teknologi Tradisional Masyarakat Adat Kampung Naga (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana, dan Wina Erwin. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 atau jelek yang akan masuk ke dalam rumah, yang bisa mengganggu keharmonisan keluarga. Sebagai pencegah hal yang tidak diinginkan, di bagian atas pintu masuk, mereka menggantungkan semacam anyaman yang disebut tantang angin, yang dianggap sebagai penolak bala bagi penghuni rumah. Setiap Bulan Muharam, tantang angin diganti dengan yang baru. Letak pintu depan tempat menggantungkan tantang angin pun tidak boleh sejajar dengan pintu belakang/dapur. Hal ini dipercaya bisa mengakibatkan penghuninya selalu mengalami kesulitan ekonomi. Bagian rumah yang berada di tengah disebut tengah imah, yang berfungsi sebagai ruaang tempat berkumpulnya anggota keluarga, yang berfungsi juga sebagai tempat belajar anakanak mereka. Rumah Kampung Naga rata-rata berukuran 6 x 8 meter, maka dari itu, tengah imah tersebut pada malam hari, biasa juga dipakai sebagai tempat tidur. Ruangan tempat tidur bagi masyarakat Kampung Naga disebut pangkyng, yang di dalamnya hanya dilengkapi dengan kasur dan bantal, yang digelar di atas palupuh. Secara khusus digunakan bagi suami istri pemilik rumah Untuk rumah yang lebih besar biasanya memiliki dua buah pangkyng. Ruang yang dikenal sebagai wilayah kekuasaan kaum perempuan, disebut dapur, yang berfungsi sebagai tempat memasak dan menyiapkan hidangan, sedangkan goah merupakan tempat menyimpan beras atau gabah, sebagai makanan pokok hidupnya. Tempatnya biasanya Goah dalam kehidupan masyarakat Kampung Naga berperan penting, sehingga untuk menentukan letak goah tersebut dibutuhkan perhitungan tertentu berdasar atas weton Aohari lahirAo sang istri. Berdasarkan weton tersebut, ditetapkan apakah goah akan ditempatkan di sebelah timur atau barat. Dengan ditetapkannya letak goah, maka ujung bambu atau kayu bangunan yang digunakan ketika membangun rumah tersebut harus searah dengan ruang goah. Ada bagian lain dari bentuk rumah di Kampung Naga yang tidak kalah pentingnya dari ruangan lain, yakni kolong imah. Tingginya kurang lebih 60 cm, berfungsi sebagai tempat menyimpan alat-alat pertanian, kayu bakar dan Kolong imah bisa juga dijadikan sebagai kandang hewan peliharaan untuk memelihara ayam atau itik. Dengan adanya kolong imah, akibat buruk akibat udara lembab yang berasal dari permukaan tanah bisa dikurangi, karena Kampung Naga memiliki curah hujan yang cukup tinggi Ada suatu kelebihan dalam penataan bangunan di Kampung Naga, yakni kemampuan masyarakatnya dalam melakukan harmonisasi dan menyelaraskan kehidupannya dengan lingkungan sekitarnya. Dengan kearifan lokal yang dimilikinya, mereka berusaha menyesuaikan dan menyelaraskan kebutuhan hidupnya akan lahan pemukiman dengan memperhitungkan topografi wilayahnya yang berbukit-bukit. Lahan pemukiman masyarakat Kampung Naga adalah daerah yang permukaan tanahnya tidak rata/berbukit-bukit. Kondisi permukaan tanah seperti itu, sebenarnya mudah terkena longsor, apalagi daerahnya memiliki curah hujan yang cukup tinggi. Sebagai antisipasi terjadi bencana erosi atau longsor tersebut, mereke membuat syngkydan, yang diperkuat dengan susunan batu kali, sehingga bentuknya menyerupai teras dan tampak indah serta artistik. Gambar 4 Golodog Gambar 5 Syngkydan Yang berkaitan dengan masalah teknologi dan benda materiil yang terdapat di Kampung Naga, yang sangat mencolok dan berbeda dengan daerah lainnya adalah belum adanya penerangan Masalah penerangan ini sebenarnya sudah dianjurkan oleh pemerintah setempat, tapi mereka menolaknya karena bertentangan dengan adat serta kepercayaan mereka. Sampai saat ini masyarakat Kampung Naga masih menggunakan lampu tympyl atau lampu typlok, cempor, atau mereka membuat sendiri dari bekas kaleng susu atau barang semacam cangkir yang sudah tidak terpakai. Kadangkala mereka menggunakan minyak kelapa sebagai bahan bakarnya untuk menyalakan lampunya, karena itu juga dianggap mengurangi Kenyataan di lapangan, lampu yang mereka gunakan nyalanya sangat kecil, itu juga hanya untuk menerangi bagian dalam rumah seadanya, sementara di luar jarang ada yang menggunakan lampu untuk penerangan. Halaman atau jalan-jalan dibiarkan gelap, terutama ketika mereka susah mendapatkan Mengungkap Eksistensi dan Fungsi Teknologi Tradisional Masyarakat Adat Kampung Naga (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana, dan Wina Erwin. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 minyak tanah, karena harganya tidak terjangkau. Namun, berkat bantuan Kapolwil Priangan pada waktu itu, mereka akhirnya membuka kembali daerahnya yang sempat ditutup untuk sementara, karena mendapat subsidi dari pemerintah pusat. Mereka pun tidak bisa beralih kepada listrik atau peralatan masak dengan menggunakan gas, karena bertentangan dengan adat istiadat serta tradisi mereka. Peralatan lainnya yang ada di Kampung Naga adalah saung lisung, yang tersedia satu buah di setiap kampung di Kampung Naga, yakni sebuah gubuk lebar 2 m dan panjang sekitar 6 meter sampai 8 meter dengan 6 hingga 8 tiang tanpa dinding, atasnya ditutup dengan hateup. Di dalam saung lisung terdapat 3. buah lesung panjang, di antaranya ada yang panjangnya berkisar antara 2 sampai 3 meter, yang digunakan khusus untuk menumbuk padi, serta beberapa halu AoaluAo terbuat dari kayu bulat panjang yang digunakan sebagai alat penumbuk Sisa-sisa hasil penumbukan padi berupa huut yaitu gabah padi yang sangat halus dan sapu yakni batang padi yang dimanfaatkan untuk keperluan sapu dan makanan ternak ayam atau sebagai pupuk kandang. Sarana penyimpanan padi yang baru dipanen, untuk komunitas masyarakat Kampung Naga disimpan di sebuah bangunan kecil berbentuk panggung yang disebut leuit Aolumbung padiAo, yang dibangun di sebelah perkampungan penduduk secara terpisah. Bentuk leuit di Kampung Naga sama. Masih banyak contoh lain berkaitan dengan peralatan gtradisional yang ada dan digunakan oleh masyarakat Kampung Naga, yang tidak dapat disertakan dalam tulisan ini. Gambar 8 Saung Lisung SIMPULAN Perkembangan teknologi yang canggih saat ini, memacu masyarakat menuju kebudayaan Tetapi, masyarakat adat Kampung Naga. Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya masih tetap bersikukuh mempertahankan budaya tradisional dan adat istiadat, serta tradisinya dari gempuran budaya kekinian. Eksistensi teknologi tradisional yang masih tersimpan dan digunakan oleh masyarakat adat Kampung Naga dapat ditelusuri dan diungkap, sehingga diketahui berbagai peralatan, fungsi, dan makna yang terkandung di dalamnya, sesuai dengan adat dan tradisinya. Teknologi tradisional tersebut, ditelusuri melalui perlengkapan dapur dan peralatan makan yang mereka gunakan, keterjalinan teknologi dengan kosmologis, dan keterjalinan teknologi dengan pembagian tataruang rumah sesuai dengan aturan yang harus dijalani dan diharuskan, tanpa melanggarnya. Hal ini menunjukkan, bahwa masyarakat adat Kampung Naga taat dan teguh serta kokoh mempertahankan adat istiadat, tradisi, dan norma, tanpa terganggu oleh arus modernisasi teknologi masa kini. Mereka tetap hidup sederhana, aman, tentram, dan damai, di tengah hiruk pikuk dan canggih teknologi era milenial. DAFTAR PUSTAKA