Vol. No. Desember 2020, pp 407-417 https://doi. org/10. 36590/jagri. http://salnesia. id/index. php/jagri jagri@salnesia. id, e-ISSN: 2746-802X Penerbit: Sarana Ilmu Indonesia . ARTIKEL PENGABDIAN Pemberdayaan Desa Sehat Sentra Edukasi Kesehatan Ibu dan Anak Berbasis Integrasi Sistem Teknologi Virtual Reality Empowerment of Healthy Villages Maternal and Child Health Education Centers Based on Technology System Integration Virtual Reality Yusriani1. Muhammad Khidri Alwi2*. Ida Rosada3. Rika Handayani4 Program Studi Kesehatan Masyarakat. Universitas Muslim Indonesia. Makassar. Indonesia Program Studi Keperawatan. Universitas Muslim Indonesia. Makassar. Indonesia Program Studi Ilmu Pertanian. Universitas Muslim Indonesia. Makassar. Indonesia Program Studi Magister Kesehatan Reproduksi. Universitas Megarezky. Makassar. Indonesia Abstract Maternal and child health is still a major public health problem in Indonesia, especially in rural areas. Pucak Village has great potential to be developed, because it has human resources in the form of health cadres and youth groups that can be the driving force for community empowerment. The potential of the village has not been optimally utilized in overcoming maternal health problems due to lack of access to information, conventional methods of the education process, and the use of virtual reality technology innovations in the health education process does not yet exist. The purpose of PDB (Empowerment of Fostered Village. was to improve the health of the community by optimizing the potential of the village to become a Healthy Village. The method used was a participatory approach with discussions and practical methods to improve knowledge and train the skills of health cadre groups and youth groups. The results of the activity showed that there was an increase in knowledge, attitudes and behavior of health cadre groups and youth groups in Bukit Kemuning. Pucak Village regarding the health of pregnant women, mothers in labor, postpartum mothers and breastfeeding mothers based on virtual reality The conclusion of the activity is that the Empowerment of Fostered Villages can improve the knowledge, attitudes and skills of partners which have an impact on improving the health status of mothers and children. It is hoped that activities will continue to provide outcomes in reducing maternal and child mortality rates. Keywords: child, foster village, mother, virtual reality Article history: PUBLISHED BY: Sarana Ilmu Indonesia . Address: Jl. Dr. Ratulangi No. Baju Bodoa. Maros Baru. Kab. Maros. Provinsi Sulawesi Selatan. Indonesia Submitted 09 Oktober 2024 Accepted 14 Desember 2024 Published 31 Desember 2024 Email: info@salnesia. id, jagri@salnesia. Phone: Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. No. Desember 2024 Abstrak Kesehatan ibu dan anak masih menjadi permasalahan utama kesehatan masyarakat di Indonesia terutama di daerah pedesaan. Desa Pucak mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan, karena memiliki sumber daya manusia berupa kader kesehatan dan kelompok karang taruna yang dapat menjadi motor penggerak pemberdayaan masyarakat. Potensi desa belum dimanfaatkan secara optimal dalam mengatasi masalah kesehatan ibu karena kurangnya akses informasi, proses edukasi menggunakan metode konvensional, dan pemanfaatan inovasi sistem teknologi virtual reality dalam proses edukasi kesehatan belum ada. Tujuan PDB (Pemberdayaan Desa Binaa. yaitu untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan mengoptimalkan potensi desa menjadi Desa Sehat Sentra Edukasi KIA Berbasis Integrasi Sistem Teknologi Virtual Reality. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif dengan diskusi serta metode praktik untuk meningkatkan pengetahuan dan melatih keterampilan kelompok kader kesehatan dan kelompok karang taruna. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa ada peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku kelompok kader kesehatan dan kelompok karang taruna bukit kemuning desa Pucak tentang Kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan ibu menyusui berbasis teknologi virtual Kesimpulan kegiatan yaitu Pemberdayaan Desa Binaan dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan mitra yang berdampak pada peningkatan status kesehatan ibu dan anak. Saran diharapkan kegiatan terus berlanjut sehingga memberikan outcome pada menurunnya angka kematian ibu dan anak. Kata Kunci: anak, desa binaan, ibu, virtual reality *Penulis Korespondensi: Yusriani, email: yusriani. yusriani@umi. This is an open access article under the CCAeBY license PENDAHULUAN Kesehatan ibu dan anak masih menjadi permasalahan utama kesehatan masyarakat di Indonesia terutama di daerah pedesaan. Data terakhir yang diperoleh oleh SUPAS pada tahun 2015. Angka Kematian Ibu (AKI) sebesar 305 per 1000 kelahiran hidup (KH) (Bappenas, 2. Padahal target SDGs pada tahun 2030 secara global adalah 70 000 KH. Selain itu, berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2017. Angka Kematian Neonatal (AKN) sebesar 15 per 1000 KH, dan Angka Kematian Balita (AKABA) sebesar 32 per 1000 KH. Padahal target SDGs pada tahun 2030 yaitu menurunkan AKN menjadi 12 per 1000 KH dan AKB menjadi 25 per 1000 KH. Selain itu. Indonesia memiliki jumlah anak pendek . tertinggi kelima di dunia dengan perkiraan lebih dari 7,6 juta anak (Kemenkes RI, 2. Jumlah anak kurang gizi . sekitar 2,8 juta, dan 3,8 juta anak tergolong kedalam status kurus . (Letlora et al. , 2. Data tersebut menunjukkan bahwa masih besarnya pekerjaan rumah kita untuk meningkatkan status kesehatan ibu dan anak di Indonesia khususnya di wilayah pedesaan (Irwan, 2. Intervensi upaya perbaikan gizi dan penanganan stunting, anemia ibu hamil dan KEK melalui intervensi gizi spesifik sebesar 30%, oleh bidang kesehatan dan intervensi gizi sensitif sebesar 70% yang dapat ditangani oleh lintas sektor terkait, karena permasalahan kesehatan termasuk gizi ibu dan anak disebabkan oleh faktor luar sebesar 70% (Nugroho et al. , 2021. Asrina et al. , 2. Desa Pucak mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan sentra edukasi Yusriani1 et al. Vol. No. Desember 2024 kesehatan ibu dan anak Berbasis Integrasi Sistem Teknologi Virtual Reality dan diversifikasi produk olahan daun kelor, karena memiliki potensi sumber daya manusia berupa kader kesehatan yang dapat menjadi motor penggerak pemberdayaan masyarakat, dan dapat membantu petugas puskesmas. Kader Kesehatan desa Pucak berjumlah 20 orang yang tersebar di 4 dusun yaitu dusun Pucak, dusun Bontosunggu, dusun Pangembang, dan dusun Batu Lotong. Kader kesehatan merupakan sumber daya manusia yang memiliki potensi untuk membantu petugas kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat untuk mendukung terwujudnya masyarakat yang memiliki perilaku hidup sehat (Yusriani et al. , 2. Kader diharapkan berperan aktif dan mampu menjadi pendorong, motivator dan penyuluh masyarakat (Bur et al. , 2022. Lubis, 2. Kader dapat membantu mobilisasi sumber daya masyarakat, mengadvokasi masyarakat serta membangun kemampuan lokal (Tristanti dan Khoirunnisa, 2. Desa pucak juga memiliki potensi sumber daya manusia berupa kelompok karang taruna bukit kemuning desa Pucak kecamatan Tompobulu Kabupaten Maros. Karang taruna merupakan salah satu organisasi yang menjadi bagian dari pemerintahan yang ada dalam suatu desa. Keberadaannya diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam membangun aktivitas dan kreativitas para pemuda yang ada dalam suatu desa. Karang taruna sebagai suatu sistem organisasi telah dilengkapi dengan seperangkat aturan dan program kerja yang secara khusus berfungsi untuk menampung dan memberdayakan para pemuda dalam suatu desa (Cahyanti dan Listyaningsih, 2. (Sunoto dan Nulhakim, 2. Para pemuda didorong untuk melakukan kreativitas melalui suatu organisasi yang masuk dalam struktur pemerintah desa yaitu melalui karang taruna (Khayesi dan Wegulo, 2. Karang taruna telah diatur guna mewujudkan peningkatan daya kreativitas para pemuda di masing-masing desa. Dalam menjalankan tugasnya. Karang Taruna memiliki beberapa program kerja yang disusun secara rapi (Suherman et al. Permasalahan mitra adalah keikutsertaan dalam bidang pendidikan dan pelatihan kesehatan ibu dan anak masih terbatas karena kurangnya akses informasi, proses edukasi melalui penyuluhan dilakukan dengan metode konvensional . yang berakibat pada rendahnya tingkat pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan mitra. Selain itu, pemanfaatan inovasi sistem teknologi virtual reality dalam proses edukasi kesehatan belum ada. Penggunaan teknologi Virtual Reality dapat memberikan visualisasi secara Adanya efek visual yang nyata, dapat mempermudah mitra untuk dapat memahami materi-materi mengenai kesehatan ibu dan anak dalam proses edukasi dan pelatihan (Habibi et al. , 2. (Birt et al. , 2. Desa Sehat Sentra Edukasi Kesehatan Ibu dan Anak diharapkan menjadi sebuah upaya konkret para pemimpin desa dan warga desa untuk bergotong royong meningkatkan status kesehatan masyarakat untuk membangun generasi yang unggul di masa depan, yang diperkaya dengan peningkatan pembelajaran tentang pembangunan Proses pembelajaran yang paling mudah adalah meniru dan menerapkan beragam praktik terbaik SDGs sehingga dapat menjadi Desa percontohan. METODE Program pengabdian kepada Masyarakat dilakukan di Desa Pucak pada tanggal 2425 Agustus 2024 dengan sasaran kader dan karang taruna. Kegiatan pengabdian dilakukan dengan metode ceramah interaktif, diskusi dan peragaan serta bimbingan penggunaan VR. Adapun kegiatan meliputi pemberian pretest dan posttest sebagai upaya Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. No. Desember 2024 evaluasi kegiatan pendidikan dan pelatihan tentang penggunaan VR dalam mengedukasi ibu mengenai KIA. Jumlah Peserta yang hadir sebanyak 41 orang yang terdiri dari 21 orang kader dan 20 orang karang taruna, kegiatan dilaksanakan di aula kantor desa pucak selama 2 hari mulai pukul 07. 30 WITA. HASIL DAN PEMBAHASAN Data yang dikumpulkan yaitu data primer, diperoleh dari kuesioner yang diisi oleh kader kesehatan dan pemuda karang taruna, berdasarkan data yang telah diperoleh, selanjutnya dilakukan pengolahan dan analisis data yang disesuaikan dengan tujuan penelitian dan disajikan dalam bentuk tabel disertai narasi sebagai penjelasan dari tabel. Adapun hasilnya sebagai berikut: Tabel 1. Distribusi karakteristik responden di Desa Pucak Kecamatan Tompobulu Kabupaten Maros Tahun 2024 Keterangan Kader Karang Taruna Frekuensi . Frekuensi . Umur < 20 Tahun 20-29 Tahun 30-39 Tahun 40-49 Tahun >50 Tahun Lamanya Menjadi Kader dan Karang Taruna <1 Tahun 1-9 Tahun 10-19 Tahun >20 Tahun Pekerjaan Tidak Bekerja Berusaha sendiri/wiraswasta Berusaha dibantu buruh tidak Buruh Tani Bekerja bebas di pertanian Pekerjaan Bebas bukan di Pendidikan Tidak Pernah Sekolah SD / M. Ibtidaiyah SMP / M. Tsanawiyah SMA / M. Aliyah Diploma / akademi Perguruan Tinggi Pendapatan Keluarga < Rp. Rp. 000-Rp. >Rp. Yusriani1 et al. Vol. No. Desember 2024 Keterangan Kader Frekuensi . Status Pernikahan Menikah Belum Menikah Pelatihan yang Pernah Diikuti Tidak Pernah Pernah Total Karang Taruna Frekuensi . Sumber: Data primer, 2024 Tabel 1 menunjukkan bahwa mayoritas kader memiliki usia 30-39 tahun dan >50 tahun . ,3%), dan karang taruna 20-29 tahun . %). Lama menjadi kader dan karang taruna mayoritas 1-9 tahun, pekerjaan kader mayoritas wiraswasta dan bekerja bebas di pertanian sebanyak 7 orang . ,3%) dan karang taruna mayoritas tidak bekerja sebanyak 12 orang . %). Pendidikan kader mayoritas SD sebanyak 7 orang . ,3%), dan Pendidikan karang taruna mayoritas SMA sebanyak 12 orang . %), pendapatan kader dan karang taruna mayoritas <1. 000 masing-masing 61,9% dan 85%. Mayoritas kader sudah menikah . ,5%) dan karang taruna mayoritas belum menikah . %). Mayoritas kader pernah ikut pelatihan . ,2%) dan karang taruna mayoritas belum pernah ikut pelatihan . %). Tabel 2. Distribusi responden berdasarkan pengetahuan kader dan karang taruna tentang penggunaan virtual reality (VR) di Desa Pucak Tahun 2024 Pernyat PRE TEST POST TEST Kader Karang Taruna Kader Karang Taruna Kuran Baik Kuran Ba Kura Baik Kura Baik n % n % n % % n % n % n % n % 16 76, 5 23, 1 55, 9 45, 0 0 21 100 0 0 Pengetah Tentang Penggun Media Sikap 11 52, 1 Tentang Penggun Media Perilaku 14 66, 7 Tentang Penggun Media Sumber: Data primer, 2024 1 4,8 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. No. Desember 2024 Table 2. menunjukkan bahwa pengetahuan kader dan karang taruna mengalami peningkatan Tentang Penggunaan Virtual Reality (VR) setelah diberikan edukasi dan Sikap Tentang Penggunaan Media VR juga mengalami peningkatan, namun masih ada 1 orang kader yang tidak mengalami peningkatan. Perilaku Tentang Penggunaan Media VR juga 100% mengalami peningkatan menjadi 100% baik. Tabel 3. Distribusi responden berdasarkan penilaian terhadap media virtual reality pada kader dan karang taruna di Desa Pucak Tahun 2024 Kurang Cukup Baik Sangat Pernyataan Baik Baik Baik Interaktivitas 4,9 34 82,9 (Pembelajaran Menari. Menumbuhkan motivasi 2,4 30 73,2 10 3 Fungsi yang diharapkan 19,5 25 61,0 Kemudahan memahami 14,6 26 63,4 Efisiensi waktu 9,8 26 63,4 11 penggunaan media Efektifitas untuk mengatasi 7,3 32 78,0 alat peraga 7 Kehandalan program 9,8 28 68,3 Usability . emudahan 7,3 26 63,4 12 Compatibility . apat dijalankan di perangkat 7,3 30 73,2 Tampilan media VR cukup 9,8 21 51,2 16 Komposisi warna tampilan 30 73,2 11 Keseimbangan ukuran 12 tampilan VR yang 7,3 23 56,1 15 User Interface (UI) yang 34 82,9 mudah dipahami pengguna 14 Kesederhanaan 2,4 33 80,5 Sumber: Data primer, 2024 Tabel 3. menunjukkan bahwa secara keseluruhan mayoritas mitra kader dan karang taruna menilai media VR sangat baik digunakan dari segi Interaktivitas (Pembelajaran Menari. Menumbuhkan motivasi belajar. Fungsi yang diharapkan. Kemudahan memahami materi. Efisiensi waktu penggunaan media. Efektifitas untuk mengatasi alat peraga. Kehandalan program. Usability . emudahan pengoperasia. Compatibility . apat dijalankan di perangkat lai. Tampilan media VR cukup detail. Komposisi warna tampilan VR. Keseimbangan ukuran tampilan VR yang disajikan. User Interface (UI) yang mudah dipahami pengguna. Kesederhanaan. Yusriani1 et al. Vol. No. Desember 2024 Pengetahuan Kader dan Karang Taruna Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pengetahuan kader dan karang taruna tentang penggunaan VR dalam edukasi ibu meningkat hingga 100% setelah kegiatan. Pengetahuan dan keterampilan seseorang dipengaruhi pendidikan, keterpaparan terhadap informasi, keaktifan, paritas dan pelatihan secara berkesinambungan. Dimana semakin tinggi pengetahuan maka kader akan semakin terampil dan sebaliknya semakin rendah pengetahuan kader maka akan semakin tidak terampil. Tingkat pendidikan, terpaparnya terhadap informasi, keaktifan, dan pelatihan secara berkesinambungan ini sangat berkaitan dimana jika tingkat pendidikan bagus tetapi tidak terpapar terhadap informasi . engukuran antropometr. dan kader tidak aktif bisa pengetahuan dan keterampilan kader kategori kurang. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Overt Behavio. Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Pengetahuan dapat diartikan tahu atau mengerti sesudah melihat . enyaksikan, mengalami atau diaja. Pengetahuan kader dapat meningkat seiring dengan lama menjadi kader, pengalaman di lapangan dalam menangani kasus dan pelatihan-pelatihan yang telah diikuti. Dengan pengetahuan yang bertambah diharapkan dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Green juga berpendapat bahwa pengetahuan merupakan faktor predisposisi yang menentukan perilaku seseorang. Seorang kader dan karang taruna akan tetap menjadi kader dan karang taruna sampai seseorang tersebut memutuskan untuk tidak lagi menjadi kader, karena tidak ada peraturan yang menyebutkan mengenai batasan masa kerja dan usia seseorang dapat menjadi kader dan karang taruna, sehingga ada juga seorang kader kader dan karang taruna yang sudah berusia lanjut tetapi tetap menjadi seorang kader dan karang taruna. Hal ini tidak menutup kemungkinan karena pengetahuan yang ia miliki bisa saja berasal dari pengetahuan yang dimilikinya sebelumnya, pengalaman pribadi maupun orang lain dan beberapa faktor lainnya yang dapat membentuk pengetahuan seseorang dalam jangka waktu yang lama dan akan bertahan sampai usia tua. Gambar 1. Penggunaan media VR oleh karang karuna Menjadi kader Posyandu merupakan salah satu wujud peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan. Peran kader dalam program kesehatan ibu dan anak adalah untuk menginformasikan segala permasalahan kesehatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu hamil, bayi baru lahir serta mampu menjadi penggerak bagi kelompok atau organisasi masyarakat yang ada. Salah satu fungsi kader dalam kesehatan ibu dan anak adalah membantu tenaga kesehatan untuk mengenal dan menemukan ibu hamil yang berisiko dengan melakukan kunjungan rumah. Sumber daya manusia dari masyarakat untuk masyarakat dan dipilih oleh masyarakat. Kader dan karang taruna merupakan penggerak Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. No. Desember 2024 langsung di masyarakat dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan dan melalui kerjasama antara tenaga kesehatan, keluarga, tokoh masyarakat diharapkan permasalahan dapat ditanggulangi secara bertahap. Kader maupun karang taruna yang berpengetahuan kurang mempunyai kemungkinan 10 kali lebih besar untuk tidak terampil dibandingkan dengan kader yang memiliki pengetahuan baik. Tingginya nilai pengetahuan dan keterampilan kader dipengaruhi oleh pendidikan formal, dan keaktifan kader di posyandu dalam mengikuti Hasil ini sejalan dengan penelitian Fitri et al. menyatakan bahwa ada kecenderungan semakin baik pengetahuan kader semakin terampil, begitu juga sebaliknya semakin kurang pengetahuan kader maka semakin tidak terampil dalam melakukan upaya promosi kesehatan kepada ibu hamilnya di wilayahnya. Sikap kader dan karang taruna Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pengetahuan kader dan karang taruna tentang penggunaan VR dalam edukasi ibu meningkat hingga 100% setelah kegiatan. Sikap kader yang dimaksud dalam penelitian ini ialah bagaimana sikap kader terhadap penggunaan VR, hal ini mencakup pada bagaimana peran kader dalam upaya untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak, peran dan tugas kader dalam memberikan informasi ataupun penyuluhan kesehatan yang apabila dikaitkan dengan unsur keagamaan, peran kader dalam menggunakan media penyuluhan, peran kader saat memberikan pengaruh positif serta dukungan kepada ibu dan anak. Sikap merupakan mekanisme yang mengevaluasi, membentuk pandangan, mewarnai perasaan dan akan ikut menentukan kecenderungan perilaku individu terhadap individu lainnya atau sesuatu yang sedang dihadapi oleh individu tersebut. Komponenkomponen sikap, antara lain komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen perilaku (Pandia et al. , 2. Kesehatan dan karang taruna dalam melakukan upaya promosi Kesehatan. Hal ini sejalan dengan Yusriani et al. yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang salah satunya adalah sikap dari orang tersebut. Berdasarkan pendapat-pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa sikap adalah keadaan diri dalam manusia yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan tertentu dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi objek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya. Sikap merupakan salah satu faktor yang juga mempengaruhi perilaku seseorang. Sikap merupakan faktor predisposisi seseorang melakukan sesuatu. Sikap tersebut juga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap menurut adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang yang dianggap penting, media massa, institusi lembaga pendidikan dan lembaga agama, serta faktor emosi dalam diri individu tersebut (Pandia et al. , 2. Kader dan karang taruna mempunyai peran penting dalam upaya promosi Kesehatan ibu dan anak yang dapat diberdayakan sebagai kelompok masyarakat yang mampu memberikan edukasi dan konseling bagi ibu dan anak. Pemberdayaan kader efektif meningkatkan pengetahuan, sikap dan tindakan ibu serta meningkatkan status gizi anak dan keluarga (Simbolon et al. , 2. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini, alasan pemberdayaan kader posyandu adalah karena kader dan karang taruna dinilai memiliki kemampuan dan memenuhi syarat untuk dapat melaksanakan tugasnya sebagai pendamping ibu yang memiliki anak usia 0-24 bulan dalam pemantauan pertumbuhan dan pendampingan pemenuhan asupan gizi bagi ibu dan anak. Yusriani1 et al. Vol. No. Desember 2024 Perilaku kader dan karang taruna Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pengetahuan kader dan karang taruna tentang penggunaan VR dalam edukasi ibu meningkat hingga 100% setelah kegiatan. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perilaku kader dan karang taruna yaitu berbagai faktor predisposisi . redisposing factor. , faktor pemungkin . nabling factor. , dan faktor penguat . einforcing factor. Yang termasuk dalam faktor predisposisi misalnya adalah tingkat pengetahuan, tingkat pendidikan, status pekerjaan, motivasi, sikap, nilai budaya, kepercayaan serta kondisi dari sosial ekonomi kader. Perilaku yang didasari dengan adanya pengetahuan diketahui dapat menjadi lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan, sedangkan untuk faktor pendukung berupa lingkungan fisik dan ketersediaan sarana dan prasarana yang dapat mendukung kelancaran dari pelaksanaan Posyandu. Faktor pendorong antara lain dapat berupa dukungan dari tokoh masyarakat, keluarga, dan dari pemerintah serta sikap dari petugas kesehatan (Cumayunaro dan Komalasari, 2. Kader Kesehatan dan karang taruna merupakan salah satu tenaga penyelenggara pelayanan Kesehatan ibu dan anak yang paling memahami kondisi kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut. Selama ini kader posyandu jarang dibekali dengan pengetahuan khusus tentang penggunaan media VR dan permasalahan yang sering terjadi dalam Kesehatan ibu dan anak, sehingga hal ini menyebabkan kader dan karang taruna jarang memberikan penyuluhan secara khusus terkait Kesehatan ibu dan anak, yang banyak berperan hanya bidan desa. Rendahnya perilaku kader dan karang taruna dalam memberikan promosi kesehatan dapat menjadi salah satu penyebab rendahnya cakupan Kesehatan ibu hamilnya. Akan tetapi setelah diberikan Penyegaran pengetahuan melalui Pendidikan dan pelatihan serta keterampilan yang diberikan, maka kader dan karang taruna sudah memiliki perilaku yang positif. KESIMPULAN Kegiatan pemberdayaan desa sehat Sentra Edukasi Kesehatan Ibu dan Anak Berbasis Integrasi Sistem Teknologi Virtual Reality memberikan dampak positif pada perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku kader dan karang taruna dalam melakukan promosi kesehatan ibu dan anak menggunakan Teknologi Virtual Reality. Perlu adanya penyegaran dan motivasi yang berkelanjutan sehingga pengetahuan, sikap, dan perilaku kader dan karang taruna yang baik tentang kesehatan ibu dan anak melalui menggunakan Teknologi Virtual Reality dapat meningkat secara kontinu. Memberikan pelatihanpelatihan yang terkait dengan peran kader posyandu . elaksana dan pengelola posyand. serta peran karang taruna dalam proses edukasi KIA semakin maksimal, sampai dengan praktik atau skill dan ada evaluasi pasca pelatihan bagi peserta pelatihan secara berkala. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada Direktorat Riset. Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Riset Teknologi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang telah memberikan dukungan dana untuk pelaksanaan kegiatan ini. Ucapan terima disampaikan juga kepada Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPkM) UMI. Universitas Muslim Indonesia. Kepala Desa Pucak. Kepala Kecamatan Tompobulu, beserta Kader dan Karang Taruna yang telah bersedia menjadi mitra dalam kegiatan ini. Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. No. Desember 2024 DAFTAR PUSTAKA