Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 KEANEKARAGAMAN SEMUT (HYMENOPTERA: FORMICIDAE) DI BUKIT NENEK. TAMAN WISATA ALAM GUNUNG PERMISAN, BANGKA SELATAN Fitri Husada Sri Bulan1. Budi Afriyansyah1. Rion Apriyadi2 dan Henri1 Program Studi Biologi. Fakultas Pertanian Perikanan dan Biologi. Universitas Bangka Belitung. Indonesia Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian Perikanan dan Biologi. Universitas Bangka Belitung. Indonesia E-Mail : biology. henry@gmail. Submit: 02-11-2022 Revisi: 27-7-2023 Diterima: 27-10-2023 ABSTRAK Keanekaragaman Semut (Hymenoptera:Formicida. di Bukit Nenek Taman Wisata Alam Gunung Permisan. Bangka Selatan. Taman Wisata Alam Gunung Permisan. Kabupaten Bangka Selatan merupakan kawasan konservasi yang berisi flora dan fauna. Keanekaragaman fauna di kawasan konservasi penting untuk diperhatikan karena fauna dapat menjaga keseimbangan ekosistem alam. Selain itu, jenis fauna tanah juga dapat digunakan sebagai bioindikator dalam perubahan habitat, seperti semut, hal ini dikarenakan kepekaannya yang tinggi terhadap gangguan habitat. Penelitian tentang keanekaragaman semut di Bangka juga masih terbatas, sehingga perlu dilakukan penelitian ini terutama di Bukit Nenek sebagai tempat konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis semut dan mengetahui keanekaragaman semut di Taman Wisata Alam Bukit Nenek Gunung Permisan Kabupaten Bangka Selatan dengan menggunakan metode pitfall trap, hand collection dan beat sheets. Analisis yang digunakan adalah indeks keanekaragaman, kekayaan jenis, kemerataan, kelimpahan relatif, dominasi dan hubungan antara keberadaan semut dengan parameter lingkungan menggunakan analisis PCA. Penelitian dilakukan di 7 stasiun dengan 21 petak dengan menggunakan metode Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ditemukan 23 jenis semut dengan 5 subfamili yaitu Cerapachyinae. Dolichoderinae. Formicinae. Myrmicinae dan Ponerinae. Hasil analisis PCA menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara jumlah individu semut dengan suhu udara, kelembaban udara, kelembaban tanah sedangkan jumlah spesies semut berkorelasi positif dengan suhu udara, kelembaban udara, kelembaban tanah dan pH. Kata kunci : Bangka Selatan. Formicidae. Gunung. Permisan. TWA. ABSTRACT Diversity of ants (Hymenoptera:Formicida. at Bukit Nenek Natural Tourism Park Gunung Permisan. South Bangka. Natural Tourism Park Gunung Permisan. South Bangka Regency is a conservation area that contains flora and fauna. The diversity of fauna in conservation areas is important to note because fauna can maintain the balance of natural ecosystems. In addition, the type of soil fauna can also be used as a bioindicator in habitat change, such as ants, this is due to their high sensitivity to habitat disturbances. Research on the diversity of ants in Bangka is also limited, so it is necessary to do this recearch, especially in Bukit Nenek as a place of conservation. The study aims to identify the types of ants and to find out the diversity of ants in Bukit Nenek Natural Tourism Park Gunung Permisan. South Bangka Regency by using the pitfall trap, hand collection and beating sheets method. The analysis used is the index of diversity, species richness, evenness, relative abundance, dominance and the relationship between the presence of ants and environmental parameters using PCA analysis. The research was conducted at 7 stations with 21 plots using the method Based on the research that has been done, 23 species of ants were found with 5 subfamilies, namely Cerapachyinae. Dolichoderinae. Formicinae. Myrmicinae dan Ponerinae. PCA analysis results show that there is a positive correlation between the number of individual ants with air temperature, air humidity, soil This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Keanekaragaman Semut A Bulan et al. moisture while the number of ant species has a positive correlation with air temperature, air humidity, soil of moisture and pH. Keywords : Bangka Selatan. Formicidae. Gunung. Permisan. TWA. PENDAHULUAN Semut merupakan salah satu serangga eusosial dari ordo Hymenoptera family Formicidae, yang tersebar hampir diseluruh dunia (Arifin, 2. Terdapat kurang lebih 13. 152 spesies yang tersebar di dunia (Paul et al. , 2. Sebagian besar berada di kawasan tropis (Suhara, 2. , diperkirakan jumlah semut yang berada di Indonesia yaitu sekitar 1500 spesies yang telah dideskripsikan (Holldobler & Wilson, 1. Semut berkembang membentuk 14-25% dari biomassa hewan Kisaran suhu udara 25-32AC merupakan suhu optimal dan toleran bagi aktifitas semut di daerah tropis (Rahmawati, 2. Habitat semut sangat bervariasi, mulai dari padang pasir, savana, hutan hujan tropis, sampai pada area yang dihuni manusia (Rosnandi. Semut dapat dibedakan kedalam dua tipe, yaitu terestrial dan arboreal. Semut terestrial adalah semut yang bersarang dan beraktivitas di permukaan tanah, sedangkan semut arboreal adalah menghabiskan hidupnya diatas pohon (Nazarreta, 2. Semut merupakan kelompok hewan darat yang mendominasi (Rizka, 2. Keanekaragaman jenis semut dihutan tropis umumnya dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya ketinggian tempat. Keanekaragaman penurunan pada tempat dataran tinggi, sebaliknya didataran rendah mengalami Hal ini kemungkinan dikarenakan adanya suatu perubahan ekosistem (Kurniawan, 2. Indeks indeksnya maka semakin beragam pula Indeks keanekaragaman yang rendah dipengaruhi oleh makanan yang ada pada suatu daerah dan umumnya jenis semut ini adalah sebagai predator. Indeks kemerataan jenis menunjukkan perataan penyebaran individu dari jenis-jenis organisme yang menyusun Kemerataan rendah juga dipengaruhi oleh banyak sedikitnya makanan yang tersedia dan pada umumnya semut juga sebagai predator. Spesies menggunakan indeks Simpson, apabila sebaran tidak merata, maka terdapat dominasi suatu spesies atau hanya spesies tertentu yang banyak jumlahnya (Rizal et , 2. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan indeks keanekaragaman semut pada tiap tipe Jenis semut tertentu dapat ditemukan pada kawasan yang terdapat aktivitas manusia, misalnya jenis Selonopsis sp. yang banyak ditemukan di kawasan pemukiman penduduk (Agosti. Jenis semut lainnya hanya dapat ditemukan pada kawasan hutan dengan keadaan lingkungan yang masih baik, misalnya Leptomyrmex sp. (Rosnandi. Keberadaan semut yang melimpah di alam berkaitan dengan pengaruh ketersediaan makanan dan kesesuaiannya dengan kondisi lingkungan. Salah satu faktor yang mengontrol suhu lingkungan dan struktur habitat bagi semut yaitu Adapun beberapa jenis semut dapat hidup pada habitat dengan suhu sangat rendah, tetapi jumlah mereka tidak dapat (Rosnandi. Keberadaan semut cukup melimpah dan beragam pada daerah tropis dan beriklim Salah satunya Kawasan Bukit Nenek, kawasan ini memiliki topografi work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. perbukitan dan ditumbuhi vegetasi yang bertipe hutan tropis. Bukit Nenek Taman Wisata Alam Permisan memiliki tinggi 300 mdpl. Berdasarkan SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang penetapan fungsi pokok kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam sebagai Hutan TWA Gunung Permisan. Kabupaten Bangka Selatan. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung seluas A 3. 69 hektar (Kharis, 2. Semut sangat penting bagi ekosistem karena memasuki berbagai kontribusi yang sangat penting sebagai bioindikator dalam perubahan habitat suatu kawasan misalnya seperti predator, pengurai dan penyebar biji (Lee, 2. Hal ini dikarenakan oleh sensitivitas yang tinggi terhadap gangguan habitat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keanekaragaman semut, mengetahui analisis vegetasi serta mengetahui uji korelasi antara semut dan faktor lingkungan di Bukit Nenek Taman Wisata Alam Gunung Permisan. Kabupaten Bangka Selatan. Manfaat dari penelitian ini yaitu sebagai bahan rujukan bagi keanekaragaman semut dan menjadi data tambahan bagi BKSDA terkait pendataan jenis semut yang berada dikawasan TWA Gunung Permisan. Kecamatan Simpang Rimba. Kabupaten Bangka Selatan. METODA PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2021 di Bukit Nenek yang termasuk dalam TWA Gunung Permisan. Kecamatan Simpang Rimba. Kabupaten Bangka Selatan. Provinsi Bangka Belitung. Pengidentifikasian semut dilakukan ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 di Laboratorium Entomologi. Balai Karantina Pertanian Kelas II Pangkalpinang. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan adalah label, alat tulis, alkohol 70%, deterjen, plastik bening, kayu penyangga atap, kantong plastik. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah penggaris, sasak, tali rafia, gelas plastik . berdiameter bibir 10,5cm dan tinggi 10cm, roll meter, meteran pita, botol sampel, sendok semen, kamera, thermo hygrometer, pH meter, lux positioning system (GPS), pinset dan mikroskop stereo, sedangkan untuk identifikasi semut yaitu buku kunci determinasi sesuai rujukan buku AuIdentification Guide To The Ant Genera Of The WorldAy (Bolton 1. , buku AuIdentification Guide To The Ant Genera Of BorneoAy (Hashimoto dan Rahman 2. dan sumber lainnya yang relevan. Rancangan Penelitian Berdasarkan ketinggian yaitu 300 mdpl maka jarak ketinggian setiap stasiun yaitu 40m sehingga secara keseluruhan terdapat 7 stasiun yang dimulai dari ketinggian 20 mdpl. Setiap stasiun ditarik transek berupa garis lurus secara horizontal sepanjang 100m . m ke kanan dan 50m ke kiri dari titik koordina. (Saragih 2018 dengan Sepanjang diletakkan pitfall trap dengan jarak perangkap 10m, sehingga didapatkan 10 perangkap pada setiap stasiun (Ruslan, 2012. Sofiyana, 2013. Saragih, 2. Untuk metode hand collection memiliki ukuran plot 50cm x 50cm dan untuk ukuran plot metode beating sheets yaitu 5m x 5m (Saragih, 2018 dengan modifikas. Penentuan This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Keanekaragaman Semut A Bulan et al. lingkungan dan data tumbuhan dibagi menjadi tiga titik yaitu pada bagian tengah dan ujung kedua stasiun. Sehingga skema titik pengambilan sampel semut, data tumbuhan dan data mikroklimat dapat disajikan pada Gambar 2 berikut Gambar 1. Skema metode pengamatan dan faktor lingkungan (Saragih 2018 dengan modifikas. Keterangan: : Perangkap pitfall trap : Perangkap beating sheet : Hand collection :Titik pengambilan faktor lingkungan dan data tumbuhan 4 Prosedur Pelaksanaan Penelitian Pengambilan Sampel Pengambilan sampel menggunakan tiga metode yaitu metode pitfall trap . erangkap sumura. , hand collection dan beating sheets. Metode pitfall trap Setiap titik perangkap pitfall trap, ditanam gelas plastik . pada tanah sedalam 10cm sehingga permukaan gelas sejajar dengan permukaan tanah. Perangkap cup ditutupi dengan atap berupa plastik tebal bening yang diikat menghindari air hujan dan daun kering masuk ke dalam perangkap (Ruslan 2. Setiap cup yang sudah ditanam diisi dengan larutan deterjen sebagai killing agent untuk menarik perhatian semut. Volume deterjen adalah A dari volume Perangkap dibiarkan selama 1x24 jam (Noor, 2. Keesokan harinya semut yang terperangkat diambil menggunanakan pinset dan dimasukan ke Dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali pada dua hari berikutnya (Saragih, 2. Metode hand collection Metode ini dilakukan menggunakan frame yang berukuran 50cm x 50cm diletakkan pada titik pengamatan. Frame diletakkan di permukaan tanah dan serasah yang masuk kedalam frame dibuka untuk menemukan semut. Semut yang terlihat langsung diambil dengan menggunakan pinset dan dimasukan ke dalam botol sampel yang telah berisi alkohol 70%. Metode ini dilakukan selama 3 menit (Saragih, 2. Metode beating sheets Metode ini dilakukan dengan memasang plot 5m x 5m pada bagian ujung dan tengah transek dan hanya mengambil tumbuhan tingkat pancang yang berada dalam plot. Kemudian dibawah setiap tumbuhan di pasang penadah yang berukuran 2m x 2m dengan jarak 1m dari permukaan tanah (Rubiana. Pohon tersebut di goyangkan selama 30 detik sehingga semut yang berada di atas pohon jatuh ke penadah yang telah di siapkan. Semut yang didapatkan di masukkan kedalam botol sampel yang telah di isi alkohol 70 % (Fitrada, 2. Pengukuran faktor lingkungan Faktor pengukuran mikroklimat seperti suhu tanah dan udara kelembaban udara dan tanah, dan intensitas cahaya dilakukan pada setiap stasiun dengan cara pengukuran harian yang akan dilakukan pada waktu pagi . :00 WIB) siang . :00 WIB) dan sore . :00 WIB), pengukuran dilakukan pada bagian tengah stasiun dan work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 kedua bagian ujung stasiun, yang mana pengukuran mikroklimat akan dilakukan dengan tiga kali pengulangan disesuaikan penangkapan semut. Pengukuran tebal serasah dilakukan pada setiap plot pitfall Pendataan vegetasi dilakukan pada stadium pertumbuhan pancang dengan petak ukur pancang 5m y 5m, yaitu anakan dengan tinggi >1,5m dan diameter setinggi dada <10cm. Data vegetasi yang dikumpulkan yaitu nama dan jumlah jenis (Maysarah, 2. Identifikasi Semut dan Tumbuhan Sampel yang telah ditemukan Laboratorium Entomologi Balai Pertanian Kelas II Pangkalpinang. Identifikasi meliputi karakter morfologi. Karakter morfologi yang diidentifikasi yaitu bagian kepala, toraks, dan abdomen. Identifikasi menggunakan mikroskop stereo yang mengacu pada buku identifikasi semut berjudul AuIdentification Guide To The Ant Genera Of The WorldAy (Bolton, 1. , buku AuIdentification Guide To The Ant Genera BorneoAy (Hashimoto &Rahman, 2. dan sumber lainnya yang relevan dan hasil identifikasi di validasi oleh ahli entomologi dari LIPI bagian bidang zoologi (MZB). Identifikasi semut dilakukan hingga tingkat genus dan Identifikasi berdasarkan ciri morfologi dengan cara diperoleh dengan spesimen tumbuhan yang ada di Herbarium Bangka Belitungense dan juga sumber yang 5 Analisis Data Hubungan kemerataan jenis, kekayaan jenis, kelimpahan relatif diuji dengan korelasi Principal Component Analysis (PCA) Biplot. PCA Biplot mendeskripsikan posisi beberapa objek dengan beberapa variabel . secara serempak dengan menggambarkan datadata dengan grafik berdimensi dua. Program untuk analisis data yang digunakan yaitu statica. Pendataan Tumbuhan Pendataan vegetasi dilakukan di setiap plot pengamatan yang telah HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Keanekaragaman Semut (Formicida. di Bukit Nenek TWA Gunung Permisan Bangka Selatan Jumlah keseluruhan semut yang didapatkan di Bukit Nenek TWA Gunung Permisan yaitu 1710 individu dengan 23 Jenis semut yang paling banyak ditemukan yaitu Plagiolepis sp. Leptogenys masing-masing berjumlah 391 dan 358 individu dan yang paling sedikit yaitu Pheidole sp berjumlah 1 individu (Tabel . This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Keanekaragaman Semut A Bulan et al. Tabel 1. Jumlah dan jenis semut yang ditemukan di Bukit Nenek TWA Gunung Permisan. Sub Famili Nama Spesies Cerapachyinae Dolichoderinae Formicinae Myrmicinae Ponerinae Cerapachys sp. Dolichoderus sp. Dinomyrmex sp. Iridomyrmex sp. Philidris sp. Anoplolepis sp. Camponotus sp. Plagiolepis sp. Polyrhachis sp. Polyrhachis sp. Polyrhachis sp. Aphaenogaster sp. Cataulacus sp. Crematogaster Mayriella sp. Pheidole sp Gauromyrmex sp. Diacamma sp. Hypoponera sp. Hypoponera sp 2 Leptogenys sp. Leptogenys sp. Odontomachus sp. Oc individu Oc Spesies Jumlah Individu Semut Pada Setiap Stasiun Analisis Indeks Keanekaragaman. Kekayaan Jenis. Kemerataan. Kelimpahan Relatif dan Dominansi. Secara keanekaragaman pada stasiun pengamatan termasuk pada kategori sedang, sedangkan pada indeks kekayaan jenis ditemukan bahwa terdominasi pada kategori sedang kecuali pada stasiun 1, stasiun 4 dan stasiun 6 yang menunjukan dalam kategori Indeks Oc terdominasi pada kategori tinggi kecuali pada stasiun 1, stasiun 3 dan stasiun 6 termasuk kategori rendah. Indeks kelimpahan relatif didominasi pada kategori rendah kecuali stasiun 1 dan stasiun 7 termasuk kedalam kategori sedang dan stasiun 6 termasuk kedalam kategori tinggi. Indeks dominansi secara keseluruhan termasuk kedalam kategori work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Tabel 2. Indeks keanekaragaman, kekayaan jenis, kemerataan, kelimpahan dan dominansi. Stasiun HAo Dmg KR (%) 1,333 2,331 0,505 15,44 0,379. 2,231 3,092 0,857 3,92 0,121. 1,520. 2,558. 0,593. 6,37. 0,388. 1,566 2,347 0,611 9,71 0,311. 1,921 2,568 0,728 9,24 0,178. 1,547. 2,415. 0,546. 44,04. 0,309. 2,015. 2,666. 0,744. 11,17. 0,183. Keterangan: HAo (Indeks keanekaragama. DMg (Indeks kekayaan jeni. E (Indeks kemerataan jeni. Kr (Kelimpahan Relati. C (Dominans. , r . , s . , t . Komposisi Vegetasi Hasil analisis vegetasi menunjukkan bahwa komposisi vegetasi dilokasi habitat semut (Hymenopter. terdiri dari 22 jenis Jumlah spesies vegetasi penyusun pada masing-masing stadium pertumbuhan pada lokasi penelitian Analisis vegetasi dilakukan di 21 titik yang berbeda, pada stadium pertumbuan tingkat pancang dengan nilai INP paling tinggi pada jenis Coffea sp. dengan nilai INP sebesar 23,78 (Tabel . Coffea sp. digunakan semut sebagai tempat tinggal dan juga sebagai makanan untuk memperoleh protein, karbohidrat, gula dan mineral yang ditemukan pada tanaman kopi seperti daun, bunga dan buah (Male, 2. Semut yang banyak ditemukan pada tanaman kopi yaitu Dolichoderus sp. Tabel 3. Hasil analisis vegetasi pada lokasi habitat semut (Hymenopter. di Bukit Nenek TWA Gunung Permisan. Famili Annonaceae Combretaceae Euphorbiaceae Fagaceae Lauraceae Moracea Malvaceae Myrtacea Phyllanthaceae Primulaceae Pentaphylacaceae Rubiaceae Sapotaceae Simaroubacaea Theaceae Jenis/Spesies Stelechocarpus burahol Goniothalamus sp. Terminalia catappa Hevea brasiliensis Ficus sp Mallotus paniculatus Lithocarpus blumeanus Endiandra rubescens Arthocarpus altilis Durio zibethinus Syzygium polyanthum Syzygium cumini Syzygium malacceae Baccaurea motleyana Bischofia javanica Ardisia lurida Embelia viridiflora Adinandra sarosanthera Coffea sp. Palaquium sp Eurycoma longifolia Gordonia axillaris Jumlah Nama Umum Kepel Tendani Ketapang Karet Beringin Balik angin Kikembu Medang Sukun Durian Salam Jamblang Jambu bol Rambai Gadog Lampeni badak Akar kelimpar Pelembang putih Kopi Nyatoh Pasak bumi Daun telur goreng 0,14 0,14 0,14 0,28 0,28 0,14 0,14 0,14 0,28 0,14 0,14 0,14 0,14 0,14 0,14 0,14 0,14 0,28 0,28 0,14 0,28 0,14 3,57 3,57 3,57 7,14 7,14 3,57 3,57 3,57 7,14 3,57 3,57 3,57 3,57 3,57 3,57 3,57 3,57 7,14 7,14 3,57 7,14 INP 11,89 13,92 12,39 21,78 16,61 9,92 12,87 11,89 17,49 12,97 12,29 10,21 7,45 11,04 13,92 12,53 12,97 13,87 23,78 11,04 17,49 3,57 11,56 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Keanekaragaman Semut A Bulan et al. Keterangan : KR (Kerapatan Relati. FR (Frekuensi Relati. DR (Dominasi Relati. INP (Indeks Nilai Pentin. 28,12C-31,74C, kelembaban udara 31,84%-36,42%, kelembaban tanah 5,236,45, suhu tanah 28,36-29,59C, pH tanah 6,24-6,58 dan ketebalan serasah 3,30-7,80 cm (Tabel . Faktor Lingkungan pada Lokasi Penelitian Hasil pengukuran faktor lingkungan di Bukit Nenek yaitu dengan intensitas cahaya 0,45-1,74 klx, suhu udara berkisar Tabel 4. Nilai rata-rata parameter kondisi lingkungan di Bukit Nenek TWA Gunung Permisan. Stasiun K . IC . SU (CA) KU (%) ST (CA) pH Tanah KTS . 0,89 28,12 36,42 5,73. 29,17 6,32. 3,35 1,44 29,42 34,90 5,23. 29,59 6,33. 3,85 1,74 28,97 35,51 5,63. 28,81 6,33. 3,30 32,42 5,91 . 29,07 6,24 . 4,20 6,17 . 6,32 . 3,70 6,09 . 6,37 . 7,80 0,67 0,57 0,45 29,59 31,26 31,74 31,84 35,85 . 28,36 28,69 . 1,24 31,16 35,33 6,45 28,52 6,58 5,40 Keterangan : IC . ntensitas cahay. K (Ketinggia. SU . uhu udar. KU . elembaban udar. KT . elembaban tana. ST . uhu tana. KTS . etebalan serasa. , k . , l . , b . , am . gak masa. , m . ,n . , sr . angat renda. , s . , r . , t . Uji Korelasi dan Diagram PCA Biplot Hasil korelasi parameter faktor lingkungan dengan keberadaan semut menunjukan bahwa indeks Kelimpahan Relatif (KR) dan dominansi (C) berkorelasi negatif dengan ketiga indeks lainnya yaitu indeks keanekaragaman (HA. , indeks kekayaan jenis (Dm. dan kemerataan jenis (E). Indeks KR dan C berkorelasi positif dengan suhu udara, kelembaban udara, kelembaban tanah, pH tanah, jumlah jenis, ketebalan serasah dan Indeks keanekaragaman (HA. , indeks kekayaan (Dm. dan indeks kemerataan jenis berkorelasi positif dengan intensitas cahaya dan suhu tanah. Stasiun 6 dan 2 berada pada kuadran yang menunjukan bahwa variasi data tinggi dan memiliki kemiripan data yang rendah. Stasiun 1, stasiun 3 dan stasiun 4 memiliki nilai yang tinggi pada variabel suhu tanah. Stasiun 5 dan stasiun 7 memiliki nilai yang tinggi pada variabel pH tanah, kelembaban tanah, suhu udara, dan ketebalan serasah (Gambar . Gambar 2. Analisis Korelasi antara Faktor Lingkungan dengan Keberadaan Semut Menggunakan PCA work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. 2 Pembahasan Identifikasi Jenis Semut di Kawasan Bukit Nenek Berdasarkan dilakukan ditemukan 5 subfamili yaitu Cerapachyinae. Dolichoderinae. Formicinae. Myrmicinae dan Ponerinae. Subfamili Cerapachyinae hanya memiliki satu genus yaitu Cerapachys. Karakter morfologi spesifik yang dimiliki genus Cerapachys adalah mempunyai dua petiole, pygidium berbentuk rata yang terdapat duri halus di permukaan luarnya, dan frontal lobes tidak terlihat (Nazareta. Subfamili Dolichoderinae memiliki kepala berbentuk oval, memiliki satu segmen petiole yang terletak antara alitrunk dan gaster, permukaan gaster licin, tanpa penyempitan antara segmen, tidak memiliki sting dan ujung gaster hypopygium pada ujung gaster tidak membentuk acidopore dan tidak memiliki rambut pendek (Supriati, 2. Terdapat 4 genus yang ditemukan yaitu Dolichoderus sp. dengan petiole node yang muncul dan tidak tertutup oleh abdomen segmen pertama, dilihat dari depan, posterior margin di kepala membulat dan mata terletak diatas frontal Clypeus pada margin depan terdapat rambut pendek dan propodeum berbentuk cekung (Hashimoto, 2. Genus Dinomyrmex sp. dengan jumlah petiole ada satu, acidopore pada ujung gaster tidak terlihat, petiole tidak tertutupi propodeum berbentuk membulat, bagian kepala dilihat dari atas bagian posterior margin di kepala membulat dan mata terletak diatas frontal carina (Nazareta. Bolton, 1. Genus Iridomyrmex dengan satu petiole dan tidak ditutupi oleh abdomen pertama, acidopore tidak terlihat, propodeum membulat (Rosnandi. Genus philidris sp. dengan petiole node yang muncul dan tidak tertutup oleh ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 abdomen segmen pertama dan dilihat dari depan, posterior margin di kepala berbentuk cekung dan mata terletak dibawah dekat frontal carina (Bolton. Hashimoto, 2. Subfamili Formicinae mempunyai satu petiole dan terdapat acidopore pada ujung abdomen. Terdapat 6 genus yang ditemukan yaitu Anoplolepis sp. Antenna scape panjang . ebih dari setengah panjang posterior margin di kepal. , pronotum memanjang dan Antenna terdiri dari 11 segmen (Nazareta, 2017. Bolton. Hashimoto. Genus Camponotus sp. dengan Antenna terdiri dari 12 segmen . ermasuk scap. Jika dilihat dari sisi samping, spirakel tidak propodeum melengkung, tergite abdomen pada segmen pertama lebih sedikit atau sama dengan panjang tergite kedua. petiole tidak memiliki duri (Putri, 2. Genus Plagiolepis sp. dengan Antenna terdiri dari 11 segmen . ermasuk scap. Antennal scape pendek dan pendek. Genus Polyrhachis sp. dengan duri di pronotum, propodeum, atau tubuh biasanya diliputi dengan rambut halus, kemudian propodium melengkung. Antenna terdiri dari 12 segmen . ermasuk scap. (Rizka, 2. Subfamili Myrmicinae mempunyai dua petiole, mata umumnya kecil dan bulat, pronotum bergabung dengan Ditemukan 6 genus yaitu Crematogaster sp. dengan Post-petiole menempel di permukaan atas gaster, mata umumnya kecil dan membulat. promesonotal umumnya tidak terlihat (Hashimoto, 2. Genus Aphaenogaster 1 terdapat petiole dan post petiole, post-petiole menempel di depan gaster dan pronotum melengkung ke bawah. Antenna 12 segmen dan club pada Antenna dengan 4 segmen (Nazareta. Bolton, 1994. Hashimoto, 2. Genus Cataulacus sp. dengan mata This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Keanekaragaman Semut A Bulan et al. umumnya kecil dan membulat. promesonotal umumnya tidak terlihat. Post-petiole menempel di depan gaster. Antenna 11 segmen. Antennal scrobes terlihat dibawah mata (Siriyah, 2. Genus Pheidole sp memiliki petiole dan post petiole, memiliki 3 club Antenna, petiole dengan anterior peduncle yang panjang, kepala berbentuk dimorphic dengan bagian permukaan tubuhnya (Latumahina. Genus Gauromyrmex sp. dengan Antenna 11 segmen. Antennal scrobes tidak terdapat diatas permukaan kepala. Club pada Antenna terdapat 3 segmen, terdapat duri kecil dan pendek di propodeum. datar (Bolton, 1994. Hashimoto, 2. Subfamili Ponerinae terdapat satu petiole, sengat terlihat dan petiole tidak menempel atau terpisah dari permukaan Terdapat 6 genus yaitu Genus Diacamma sp. dengan petiole tidak menempel atau terpisah dari permukaan gaster. Tibia pada tungkai belakang terdapat dua taji . atu taji berbentuk pectinate dan satu taji di depannya kecil berbentuk simpl. , mandibel triangular. petiole node terdapat sepasang duri diatasnya (Nazareta, 2. Genus Hypoponera sp. dengan tibia pada tungkai belakang terdapat satu taji berbentuk pectinate, permukaan bawah petiole tidak terdapat lubang kecil (Bolton, 1. Genus Leptogenys sp. dengan petiole node sederhana dan tidak terdapat duri diatasnya, mandibel triangular, petiole tidak menempel atau terpisah dari permukaan gaster dan sengat terlihat, tibia pada tungkai belakang terdapat dua taji . atu taji berbentuk pectinate dan satu taji di depannya kecil berbentuk simpl. (Putri, 2. Genus Odontomachus sp. terdapat satu petiole dan sengat terlihat, petiole tidak menempel atau terpisah dari permukaan gaster, mandibel panjang dan lurus, permukaan atas kepala biasanya halus (Hashimoto, 2. Keanekaragaman. Kekayaan. Kemerataan. Kelimpahan Dominansi Jenis Semut. Terdapat 23 spesies semut yang ditemukan pada lokasi penelitian, jenis semut terbanyak terdapat pada subfamili Formicinae. Subfamili Myrmicinae dan Subfamili Ponerinae yang masing-masing sebanyak 6 jenis. Hal ini diduga karena Formicinae persebaran yang cukup luas dan dapat hidup ditempat yang lembab dan hutan tropis dataran rendah (Saragih, 2. Subfamili Myrmicinae subfamili terbesar dengan lebih dari 6700 spesies dan subspesies 155 genus dengan keluarga yang kosmopolitan. Subfamili Ponerinae bersarang di tanah, serasah hutan atau batang kayu yang membusuk dan subfamili ini bersifat predator, jika ditemukan banyak subfamili ini disuatu suatu tempat maka ditandai dengan tidak adanya tekanan ekosistem (Lach et al. Hal ini sesuai dengan kondisi lingkungan yang berada di Bukit Nenek. Kondisi lingkungan pada saat penelitian memiliki kelembaban 31,84%-36,42% yang tergolong sangat rendah karena banyaknya kanopi hutan yang menutupi tempat penelitian. Kelimpahan jenis semut ini diduga dipengaruhi oleh faktor kemampuan mencari makanan, jenis sumber makanan dan persaingan dalam mendapat sumber makanan. Spesies semut yang lebih kuat akan memonopoli sumber makanan dan areal jelajah. Subfamili yang paling sedikit Cerapachyinae. Menurut Noor . , berpendapat bahwa semut Cerapachys kebiasaannya mengirim satu semut pengintai . dalam aktivitas mencari Cerapachyinae adalah predator semut spesies lain dan memiliki anggota kurang lebih 200 spesies yang terdistribusi ke seluruh daerah tropis (Ikbal, 2. Dengan memiliki satu genus saja yaitu Cerapachys. Jumlah semut yang paling banyak ditemukan yaitu plangiolepis sp. Leptogenys sp. 1 yang masing-masing berjumlah 391 dan 358 individu (Tabel . Jumlah semut yang paling sedikit adalah work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. phediole sp. Hasil penelitian tersebut berbeda dengan penelitian Seragih . yang mendapatkan Crematogaster sp. , penelitian Arifin . di Jalur pendakian Cibodas Taman Nasional Gunung Gede Pangran go di dapatkan semut yang paling banyak yaitu Pheidole sp. , penelitian Noor . di Kawasan Cagar Alam Telaga Warna Jawa Barat dengan semut tebanyak yaitu Lephomyrmex sp. 2 individ. Perbedaan tersebut terjadi karena ketersedian makanan yang berbeda pada setiap lokasi penelitian (Saragih, 2. Banyaknya jumlah Plangiolepis sp. dapat dipengaruhi oleh ketersedian pakan dan kondisi lingkungan yang sesuai. Hal ini sesuai dengan penyataan Robinson . , yaitu kelimpahan semut dapat ditentukan oleh aktivitas dan reproduksi yang didukung oleh lingkungan yang cocok dan tercukupinya kebutuhan sumber makanan. Plangiolepis sp. ditemukan paling banyak di stasiun 6. Menurut Wilson . , menyatakan bahwa semut Plangiolepis sp. menyukai daerah dengan suhu lebih Pernyataan ini sesuai dengan kondisi lingkungan pada stasiun tersebut. Berdasarkan hasil pengukuran faktor lingkungan menunjukan bahwa suhu udara 31,74AC tergolong tinggi. Beberapa jenis semut mengadakan simbiosis dengan tanaman berkayu (Adonovan, 2. Plangiolepis sp. tergolong pada spesies semut invasif karena tersebar luas dan mampu menurunkan populasi semut lain. Plangiolepis sp mampu mengusai ruang jelajahnya menggunakan senyawa kimia berupa asam format yang digunakan untuk memperoleh karhohidrat dan asam amino dari nektar tanaman. Plangiolepis sp. termasuk semut yang bersarang ditanah, pohon maupun kayu mati (Salata, 2. Plangiolepis sp. dapat bersarang pada tumbuhan kayu manis, jeruk, kopi dan Spesies ini mencari makan ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 memangsa berbagai fauna diserasah dan sumber bahan organik tanah. Semut ini juga mampu bergabung dengan koloni semut lainnya seperti Dolichoderus sp. yang juga ditemukan distasiun 6 yang hidup ditanaman kopi sebagai musuh alami untuk hama yang dapat menurunkan produksi kopi, semut ini dapat hidup pada kanopi pohon kopi. Leptogenys sp. 1 adalah salah satu semut yang beragaman dan melimpah didaerah tropis dan subtropis. Semut ini hidup dilapisan tanah atau mencari makan melalui serasah daun. Phediole sp. ditemukan sedikit pada saat penelitian yaitu sebanyak 1 individu (Tabel . , sebenarnya spesies ini termasuk jenis semut kosmopolit dan sering ditemukan berkoloni dengan jumlah yang banyak (Arifin, 2. Tetapi hal ini berbanding terbalik dengan hasil penelitian. Hal ini diduga Phediole sp. yang ditemukan termasuk kedalam kasta pekerja, sehingga semut tersebut sedang mencari makan. Terdapat 5 jenis semut yang memiliki distribusi yang luas dibandingkan yang lainnya karena ditemukan pada setiap stasiun penelitian yaitu Dinomyrmex sp. Camponotus sp. Crematogaster sp. Leptogenys sp. 1 dan Odontomachus sp. Keberadaan semut Dinomyrmex sp. karena ketersedian makanan yang diperlukan semut ini sangat mudah ditemukan seperti mengonsumsi cairan lengket yang kaya akan gula yang sekresikan oleh kutu daun dan juga akan mengosumsi serangga dan kotoran burung sebagai asupan protein (Khairunisa. Menurut Haneda ditemukan genus Camponotus sp. berkemungkinan karena adanya tumbuhan karet (Hevea brasiliesi. yang termasuk dalam famili Moraceae menghasilkan jenis zat tertentu yang disukai oleh spesies Hal ini sesuai dengan tumbuhan yang ada dilokasi penelitian. Crematogaster sp. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Keanekaragaman Semut A Bulan et al. dapat ditemukan diseluruh stasiun penelitian hal ini dikarenakan spesies ini merupakan spesies aboreal, ditemukan cukup banyak menjelajahi batang, pepohonan, ranting dan cabang pohon. Spesies ini bersifat omnivora berprilaku seperti pemburu karena kasta pekerja cukup agresif dan akan menyerang jika diganggu, berperan sebagai predator Hemyptera, namun dapat pula sebagai pemakan madu dengan melindungi Hemyptera (Nakamura, 2. Leptogenys sp. 1 dapat ditemukan pada kondisi lingkungan yang lembab dan adanya keberadaan makanan seperti isopoda (Putra ,2. Kondisi kelembaban berkisar antara 5,23-6,45 yang mana semua stasiun termasuk kedalam kategori lembab. Odontomachus merupakan semut ini termasuk predator atau pemangsa di alam, khususnya rayap dan colembola, sumber makanan semut ini dapat ditemukan diseluruh stasiun penelitian. Jumlah jenis berkaitan dengan kemerataan jenis, sedangkan kelimpahan relatif bergantung pada jumlah individu dari suatu jenis. Jumlah individu yang ditemukan mencapai 1710 individu. Jumlah individu berbanding lurus dengan nilai kelimpahan relatif sehingga nilai kelimpahan relatif pada stasiun 6 tinggi yaitu 44,04%. Indeks keanekaragaman dan kekayaan jenis pada stasiun 6 menunjukkan nilai berturut-urut yaitu 1,54 dan 2,41 tidak tergolong dalam kategori sedang. Kemudian, persebaran semut kurang merata meskipun jumlah individu dan jumlah spesies semut yang ditemukan tinggi. Hal ini dikarenakan adanya dominansi spesies semut tertentu yaitu plangiolepis sp. Keanekaragaman semut dapat menjadi indikator kestabilan ekosistem karena makin tinggi keragaman semut maka rantai makanan dan proses ekologis kompetisi, simbiosis dan predasi dalam ekosistem makin kompleks dan bervariasi Keanekaragaman mengindikasikan adanya keseimbangan ekosistem yang baik karena memiliki tingkat elastisitas yang tinggi dalam menghadapi guncangan dalam ekosistem dan sebaliknya ekosistem dengan keragaman yang rendah menunjukkan Bioindikator atau indikator ekologis adalah taksa atau kelompok organsime yang sensitif terhadap lingkunganya dan terhadap tekanan lingkungan akibat aktifitas manusia (Supriati, 2. Kelimpahan semut di Bukit Nenek tergolong tinggi yang menandakan kondisi lingkungan di Bukit tersebut masih bagus sehingga semut dapat dijadikan suatu bioindikator lingkungan. Hal ini dapat juga dilihat dari keanekaragaman dan kerapatan vegetasi di Bukit tersebut karena semut memiliki peran dalam proses penyuburkan tanah, hal ini terjadi selama proses pembuatan sarang dalam tanah. Semut pekerja membuat rongga-rongga tanah yang secara tidak langsung dapat merubah struktur fisik tanah. Selain itu, aktifitas semut mencari makan dan mengumpulkan bahan makanan di sarang, ikut memicu bertambahnya kesuburan di daerah sekitar sarang semut. Umumnya lapisan tanah di sekitar sarang semut memiliki lapisan humus dan kesuburan yang lebih tinggi dibandingkan daerah yang jauh dari sarang semut (Supriati, 2. Semut juga dapat menjaga aerasi dan pencampuran tanah sehingga meningkatkan infiltrasi air yang menyebabkan tanah tetap sehat. Sehingga keberadaan semut di Bukit Nenek memberikan dampak yang baik bagi lingkungan (Arifin, 2. work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. Hubungan Indikator Keanekaragaman Semut dengan Faktor Lingkungan Spesies semut memiliki tingkat toleransi yang sempit dan respon yang cepat terhadap perubahan lingkungan. Ukuran semut yang kecil dan relatif bergantung pada kondisi temperatur, membuat mereka sangat sensitif terhadap perubahan iklim dan iklim mikro dalam suatu habitat (Yuniar, 2. Oleh karena itu, dilakukan pengamatan terhadap beberapa faktor fisik atau lingkungan yang kemungkinan berpengaruh terhadap keberadaan semut di setiap ekosistem. Permukaan tanah merupakan tempat semut melakukan aktivitas seperti menjelajah untuk mencari makan. Tingginya suhu permukaan tanah akan menghambat aktivitas semut sehingga semut cenderung mencari tempat untuk bersarang pada tempat yang memiliki tajuk pohon yang rapat atau masih banyaknya tanaman tutupan tanah yang memiliki suhu permukaan tanah lebih Suhu udara berkolerasi positif dengan, jumlah individu dan jenis semut sehingga semakin tinggi suhu udara maka semakin tinggi juga kelembaban udara, jumlah individu, jenis semut dan kelembaban udara. Suhu pada kawasan penelitian berkisar antara 28,36-29,59AC. Menurut Yulminarti et al. , kisaran suhu 25-32AC merupakan suhu optimal dan toleran bagi aktifitas semut di daerah Suhu tanah yang tidak terlalu dingin disukai oleh arthropoda terutama fauna di permukaan tanah . , sehingga seluruh stasiun dapat ditemukan jenis semut. Suhu udara dan suhu tanah juga salah satu faktor yang sangat menentukan kehadiran dan kepadatan organisme tanah. Suhu tanah akan menentukan tingkat dekomposisi material organik tanah. Secara tidak langsung terdapat hubungan kepadatan organisme tanah dan suhu, bila dekomposisi material ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 tanah lebih cepat maka vegetasi lebih subur dan mengundang serangga untuk pH tanah pada lokasi penelitian yaitu berkisar antara 6,24-6,58 yang tergolong agak asam. Pengukuran Balai Penelitian Tanah . yaitu pH yang berkisar antara 5,6-6,5 tergolong agak pH tanah sangat penting dalam melakukan penelitian kepadatan fauna tanah, karena bila pH tidak sesuai maka semut tidak dapat bertahan dan berkembang biak pada habitatnya (Yuniar. Menurut Rizali . menyatakan bahwa nilai pH tanah yang ideal untuk kehidupan semut berkisar dari 4,5-6,8. Sehingga pada setiap stasiun penelitian ditemukan semut karna semua pH tersebut toleran terhadap kehidupan semut. berkolerasi positif dengan intensitas cahaya, suhu udara, kelembaban udara, kelembaban tanah, ketinggian dan ketebalan serasah. Ketinggian tempat berpengaruh terhadap suhu udara dan curah hujan (Ping et al. , 2013. Saeed et al. Semakin tinggi tempat maka suhu udara semakin rendah dan curah hujan semakin tinggi serta tanahnya semakin subur (Sari, 2. Mengakibatkan pertumbuhan tanaman yang baik, maka akan menyebabkan serasah yang lebih ban yak pula dan intensitas cahaya yang lebih Adanya perubahan faktor iklim tersebut akan berdampak pada proses dekomposisi bahan organik dan komposisi kimia di dalam tanah (Somporn et al. Stasiun 6 berada pada kuadran yang berbeda dengan stasiun-stasiun lainnya, hal ini menunjukkan nilai dari variabel atau peubahnya tidak memiliki kemiripan. Hal ini diduga karena perbedaan kerapatan vegetasi, dimana vegetasi di stasiun 6 lebih rapat dari stasiun lainnya sehingga cahaya matahari lebih sulit menebus Menurut Adonovan . This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Keanekaragaman Semut A Bulan et al. mempunyai pohon pelindung dengan tajuk yang rapat menyebabkan penetrasi cahaya matahari ke lantai hutan lebih sedikit sehingga didapatkan jumlah individu yang lebih banyak dibandingkan dengan lahan yang mempunyai tajuk pohon yang tidak begitu rapat. Stasiun 2 vegetasi tidak terlalu banyak tetapi dilokasi penelitian ini memiliki indeks kemerataan yang tinggi dilihat dari indeks keanekaragaman dan indeks kekayaan jenis tidak ada dominasi sehingga indeks kemerataan tinggi. Jumlah individu berkorelasi positif dengan kelembaban udara, suhu udara, suhu tanah, pH tanah. Ketinggian tempat dan ketebalan serasah. Menurut Putri . menyatakan bahwa jika jumlah serasah berbanding lurus dengan keberadaan fauna tanah termasuk semut. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang didapatkan bahwa serasah pada stasiun 6 cukup tebal yaitu 7,8cm. Pemanfaatan serasah atau sisa makanan dari aktivitas manusia digunakan sebagai kebutuhan protein (Mele & Cuc, 2. Jumlah jenis dan individu terbanyak didapatkan pada Hal ini menunjukkan kondisi habitat pada kawasan ini lebih baik dibandingkan stasiun lainnya (Arifin. Selain itu pada stasiun 6 memiliki INP paling tinggi dibandingkan dengan stasiun lainnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kurniawan . yang menyatakan bahwa semakin beragam jenis vegetasi suatu hutan maka semakin tinggi keragaman yang menunjukan hubungan antara jumlah spesies dengan jumlah individu. Stasiun 6 juga didapatkan jenis semut Dolichoderus sp. yang merupakan jenis semut yang hidup pada kanopi pohon kopi . Hasil analisis vegetasi menunjukkan komposisi dan struktur vegetasi pada masing-masing ekosistem hutan nilainya bervariasi pada setiap jenis karena adanya masing-masing Menurut Gunawan . , variasi komposisi dan struktur vegetasi dalam suatu komunitas dipengaruhi antara lain oleh fenologi vegetasi, dispersal, dan Pengambilan vegetasi hanya pada stadium pancang, hal ini dikarena untuk pengambilan sampel semut aboreal dengan metode beating sheet. Vegetasi berhubungan erat dengan keberadaan semut karena vegetasi menyediakan makanan, relung dan tempat berkembang KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian di Kawasan Bukit Nenek TWA Bukit Permisan Kabupaten Bangka Selatan didapatkan jumlah keseluruhan semut yaitu 1710 individu dari 23 spesies dengan 5 subfamili semut. Spesies yang Cerapachys Dolichoderus sp. 1 Dinomyrmex sp. Iridomyrmex sp. Philidris sp. Anoplolepis Camponotus sp. Plagiolepis sp. Polyrhachis sp. Polyrhachis sp. Polyrhachis sp. 3 Aphaenogaster sp. Cataulacus sp. Crematogaster sp. Mayriella sp. Pheidole sp. Gauromyrmex Diacamma sp. Hypoponera sp. Hypoponera sp. 2 Leptogenys sp. Leptogenys sp. 2 dan Odontomachus sp. Jenis semut yang paling banyak ditemukan yaitu plangiolepis sp. Leptogenys sp. Indeks keanekaragaman termasuk pada kategori sedang, sedangkan pada indeks kekayaan jenis ditemukan terdominasi pada kategori sedang. Indeks kemerataan jenis terdominasi pada kategori tinggi. Indeks kelimpahan relatif didominasi pada kategori rendah dan indeks dominansi secara keseluruhan termasuk kedalam kategori rendah. Analisis vegetasi menunjukkan jenis tumbuhan yang paling mendominasi adalah Coffe sp. Dengan memiliki INP 23,78. Hasil analisis PCA menunjukkan jumlah individu dan jumlah jenis berkolerasi positif dengan suhu udara, work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. kelembaban udara, kelembaban tanah dan DAFTAR PUSTAKA