SOSFILKOM Vol. XI No. 01 Tahun 2017 STRATEGI KOMUNIKASI PENDAMPING PROGRAM KELUARGA HARAPAN DALAM MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP MASYARAKAT MELALUI KELOMPOK USAHA BERSAMA DI KABUPATEN CIREBON Teddy Dyatmika Dosen Tetap Program Studi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Cirebon. Jl. Tuparev No. 70 Cirebon. Telp/Fax: 0231-209806 Email: tedyrnt@gmail. Abstrak Program Keluarga Harapan yang dilakukan oleh pemerintah melalui kementerian sosial seiring bergantinya waktu akan digantikan dengan kelompok usaha bersama atau sering disebut KUBE. Hal tersebut dikarenakan agar masyarakat lebih mandiri dan tidak terus menerus mendapatkan bantuan dari pemerintah. Minimnya pengetahuan dari para pendamping mengenai wirausaha membuat program KUBE hanya jalan ditempat. Para pendamping tidak mampu mengkomunikasikan dengan baik bagaimana cara berwirausaha yang benar. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Cirebon dan mengambil sampel dari delapan kecamatan. Dari hasil penelitian dikatahui bahwa masyarakat kebanyakan dalam mengolah uang KUBE membuat usaha konveksi, berternak, sembako, makanan ringan, dan budidaya jahe. Banyak dari mereka yang tidak dapat menjalankan usaha dan cenderung jalan ditempat. Hal tersebut dikarenakan kurang pengetahuan mereka tentang wirausaha dan kurangnya komunikasi yang efektif dari pendamping dalam menginformasikan kepada masyarakat dalam berwirausaha. Kata Kunci : KUBE, wirausaha, komunikasi ada di Indonesia. Program ini tidak berlangsung secara terus menerus, ada jangka Hal ini agar penerima bantuan tidak terus bergantung pada pemerintah. Adapun jangka waktu dari penerima program ini adalah 6 tahun dengan perpanjangan transisi selama 3 tahun. Ada 3 tujuan utama dari program ini menurut Kementrian Sosial . meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan bagi Peserta PKH, . meningkatkan taraf pendidikan peserta PKH, . meningkatkan status kesehatan dan gizi ibu hamil . , ibu nifas, bawah lima tahun . dan anak prasekolah anggota Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM)/Keluarga Sangat Miskin (KSM) . id/i. Ketiga tujuan di atas dari program ini jelas memfokuskan pada aspek pendidikan dan kesehatan dari penerima program ini. Warga penerima program ini harus mengikuti aturan dari Kementrian Sosial agar tetap mendapatkan Penerima program ini jelas harus berstatus sebagai rumah tangga sangat miskin yang diambil dari Basis Data Terpadu tahun 2011 dengan ketentuan memiliki salah satu kriteria pesertaan program yaitu : . Latar Belakang Program Keluarga Harapan adalah salah satu program yang dikeluarkan oleh Kementrian Sosial. Program ini pertama kali muncul pada tahun 2007 dan mengalami perbaikan pada tahun 2012 agar sasaran program ini lebih tepat. Program Keluarga Harapan (PKH) adalah program pemberian uang tunai kepada rumah tangga sangat miskin (RTSM) berdasarkan persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan dengan Program semacam ini secara internasional dikenal sebagai program conditional cash transfers (CCT) atau program bantuan tunai bersyarat. Persyaratan tersebut dapat berupa kehadiran di fasilitas pendidikan . isalnya bagi anak usia sekola. , ataupun kehadiran di fasilitas kesehatan . isalnya bagi anak balita, atau bagi ibu hami. id/i. Program ini tidak untuk seluruh masyarakat Indonesia, tetapi peruntukannya hanya kepada warga atau rumah tangga sangat miskin. Harapannya dengan adanya PKH ini masyarakat atau rumah tangga sangat miskin dapat terus berlangsung kehidupannya dan dapat memutus mata rantai kemiskinan yang SOSFILKOM Vol. XI No. 01 Tahun 2017 memiliki ibu hamil/nifas/anak balita, . memiliki anak usia 5-7 tahun yang belum masuk pendidikan dasar . nak pra sekola. , . anak usia SD/MI/Paket A/SDLB . sia 712 tahu. , . anak SLTP/MTs/Paket B/SMLB (Usia 12-. , . anak 15-18 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan dasar termasuk anak dengan disabilitas. Seluruh keluarga di dalam suatu rumah tangga berhak menerima bantuan tunai apabila memenuhi kriteria kepesertaan program dan memenuhi PKH dijalankan di 7 . provinsi, 48 kabupaten/kota, dan melayani 387. RTSM (Rumah Tangga Sangat Miski. Pada tahun 2011, pelaksanaan PKH telah dikembangkan di 25 provinsi, 118 kabupaten/kota, dan melayani 1,1juta RSTM . id/i. , salah satunya di Kabupaten Cirebon. Warga Kabupaten Cirebon menerima bantuan program ini sejak Tabel1 Peserta dan Jumlah Lokasi PKH Menurut Tahun Kepesertaan 2007-2008 Sumber: UPPKH-Kemensos, 2014 Adapun hak dan kewajiban dari penerima program ini menurut w. id, warga berhak menerima bantuan uang tunai, menerima pelayanan kesehatan . bu dan bay. di Puskemas. Posyandu. Polindes, dan lainlain sesuai ketentuan yang berlaku, dan menerima pelayanan pendidikan bagi anak usia wajib belajar Pendidikan Dasar 9 tahun sesuai ketentuan yang berlaku. Sedangkan kewajiban dari penerima program ini adalah PKH persyaratan dan komitmen untuk ikut berperan aktif dalam kegiatan pendidikan anak dan kesehatan keluarga, terutama ibu dan anak. Bayi baru lahir (BBL) harus mendapat IMD, pemeriksaan segera saat lahir, menjaga bayi tetap hangat. Vit K. HBO, salep mata, konseling menyusui. Anak usia 0-28 hari . harus diperiksa kesehatannya sebanyak 3 kali: pemeriksaan pertama pada 648 jam, kedua: 3-7 hari, ketiga: 8-28 hari. Anak usia 0-6 bulan harus diberikan ASI ekslusif (ASI saj. Anak usia 0Ae11 bulan harus diimunisasi lengkap (BCG. DPT. Polio. Campak. Hepatitis B) dan ditimbang berat badannya secara rutin setiap bulan. Anak usia 6-11 bulan harus mendapatkan Vitamin A minimal sebanyak 2 . kali dalam setahun, yaitu bulan Februari dan Agustus. Anak usia 12Ae59 bulan perlu mendapatkan imunisasi tambahan dan ditimbang berat badannya secara rutin setiap bulan. Anak usia 5-6 tahun ditimbang berat badannya secara rutin setiap bulan untuk dipantau tumbuh kembangnya dan atau mengikuti program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD/Early Childhood Educatio. apabila di lokasi/posyandu terdekat terdapat fasilitas PAUD. Selama kehamilan, ibu hamil harus melakukan pemeriksaan kehamilan di fasilitas kesehatan sebanyak 4 . kali, yaitu sekali pada usia kehamilan sekali pada usia 03 bulan, sekali pada usia kehamilan 4-6 bulan, dua kali pada kehamilan 7-9 bulan, dan mendapatkan suplemen tablet Fe. Ibu melahirkan harus ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Ibu nifas pemeriksaan/diperiksa kesehatan dan mendapat pelayanan KB pasca persalinan setidaknya 3 . kali pada SOSFILKOM Vol. XI No. 01 Tahun 2017 minggu I. IV dan VI setelah melahirkan. Anak dengan disabilitas: Anak penyandang disabilitas dapat memeriksa kesehatan di dokter spesialis atau psikolog sesudai dengan jenis dan derajat kecacatan. Tentunya agar semua hak dan kewajiban dari warga penerima program dapat terpenuhi ada yang harus mengawasi. Pemerintah melalui Kementrian Sosial pendampingan kepada warganya dengan menerjunkan anggotanya langsung ke masyarakat untuk memberikan penyuluhan, melakukan komunikasi dan pemberian Para pendamping sudah diseleksi dengan ketat, harapannya pendamping bisa pemerintah agar semua hak dan kewajiban warga penerima program ini dapat berjalan beriringan dan tujuan utama dari pemerintah dapat tercapai secara maksimal. Jangka waktu yang diberikan pemerintah yaitu selama 9 tahun kepada penerima program ini 6 tahun dan 3 tahun transisi tentu harus tercapai, dan warga dapat mandiri. Selanjutnya pemerintah memberikan program pendamping yaitu pinjaman uang melalui kelompok usaha bersama dengan menggunakan pendamping yang sama. Harapannya penerima program PKH bisa terus berlansung kesejahteraannya jika pada waktunya program PKH di Penerima bantuan kelompok usaha (KUBE) id, . prioritas utama KUBE produktif/berkembang yang pernah dekonsentrasi/APBD/Masyarakat/Dunia Usaha. setiap KUBE beranggotakan berjumlah 10 KK. anggota berusia antara 15-55 tahun dan sudah berkeluarga. memiliki kegiatan social dan UEP. KUBE yang sudah memiliki pembukuan atau catatan . Pemerintah Kabupaten/Kota melalui Dinas Sosial Kabupaten/Kota dan direkomendasikan oleh Dinas/Instansi Sosial Provinsi. KUBE dicanangkan oleh pemerintah. Hal ini dikarenakan strategi komunikasi yang dilakukan oleh pendamping PKH ternyata hanya sebatas agar hak dan kewajiban warga penerima PKH dapat terpenuhi. Tetapi untuk program KUBE yang notabennya lebih pada keterampilan berwirausaha untuk mengelola uang yang dipinjami oleh pemerintah, para pendamping belum dapat memaksimalkan Warga membutuhkan pendamping yang pandai berwirausaha karena sebagian besar warga yang mengikuti program KUBE sedikit sekali pengetahuannya tentang wirausaha. Padahal para pendamping sudah diseleksi dengan ketat dan mendapatkan hak dari pemerintah. Masih perlu banyak sentuhan tentang kewirausahaan dari para pakar wirausaha agar program KUBE dapat berjalan maksimal dan warga dapat terus berlangsung kehidupannya dan mata rantai kemiskinan dapat benar benar terputus jika program PKH ini memang harus Perumusan Masalah Dari latar belakang di atas dapat diketahui bahwa masih banyak warga di Kabupaten Cirebon yang belum siap jika program PKH dihentikan dan digantikan dengan program KUBE. Hal ini dikarenakan masih banyak warga yang minim pengetahuan dan kemampuannya dalam berwirausaha. Tujuan Penelitian Mengetahui strategi komunikasi pendamping meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui kelompok usaha bersama di Kabupaten Cirebon. Teori Disonansi Kognitif Teori Festinger tentang disonansi kognitif dimulai dengan gagasan bahwa pelaku komunikasi memiliki beragam elemen kognitif, seperti sikap, persepsi, pengetahuan, dan perilaku. Elemen Ae elemen tersebut tidak terpisahkan, tetapi saling menghubungkan satu sama lain dalam sebuah sistem serta setiap elemen dari sistem tersebut akan memiliki satu dari tiga macam hubungan (Littlejohn, 2009:. Begitu juga Harapan pemerintah agar penerima program PKH dapat lepas dari bantuan dan beralih ke KUBE ternyata mendapatkan permasalahan terutama di Kabupaten Cirebon. Banyak penerima program PKH yang kesulitan jika harus lepas dari program itu dan SOSFILKOM Vol. XI No. 01 Tahun 2017 para warga penerima PKH. Mereka belum bisa lepas dari program PKH dan beralih sepenuhnya ke KUBE, hal ini dikarenakan para warga belum memiliki bekal yang cukup atau pengetahuan yang cukup dalam Pinjaman yang diberikan kepada warga sebesar 2 juta rupiah pertahun banyak yang tidak mengambil. Karena mereka ada rasa ketakutan tidak bisa mengelola dengan baik uang tersebut, yang berdampak tidak bisa mengembalikan uang yang sebenarnya adalah pinjaman dari Akan tetapi sebenarnya mereka ingin dan memang diwajibkan oleh pemerintah mengelola uang tersebut, karena sebagai pengganti program PKH yang nantinya akan dihentikan. Selain itu, kurangnya pengetahuan dan ketrampilan dari pendamping dalam berwirausaha juga menjadi faktor masalah banyak warga yang tidak mau menjalahkan program KUBE dari Group Discussion atau FGD . elompok diskusi terfoku. adalah metode riset dimana periset memilih orang-orang yang dianggap mewakili sejumlah publik atau populasi yang Dengan FGD memungkinkan periset mendapatkan data yang lengkap dari responden yang biasanya dijadikan landasan suatu program . ilot pstud. (Kriyantono, 2014: . Populasi Populasi pada penelitian ini adalah pendamping program keluarga harapan dan kelompok usaha bersama dari kementerian sosial dan warga penerima program keluarga harapan dan warga yang mengikuti kelompok usaha bersama di Kabupaten Cirebon. Sampel Dalam riset sosial, seorang periset tidak harus meriset seluruh objek yang dijadikan Hal ini disebabkan keterbatasan yang dimiliki periset, baik biaya, waktu dan Kenyataannya mempelajari, memprediksi, dan menjelaskan sifat-sifat suatu objek atau fenomena hanya dengan mempelajari dan mengamati sebagian (Kriyantono. Sampel pada penelitian ini adalah warga yang ada pada 8 kecamatan di Kabupaten Cirebon. Setiap Kecamatan diwakili oleh 25 warga. Warga yang ikut dalam diskusi tersebut adalah warga penerima PKH dan kebanyakan adalah ketua KUBE. Teori Difusi Inovasi Teori Difusi Inovasi adalah cara lain dalam melihat bagaimana orang memproses dan menerima informasi. Teori ini mengatakan bahwa seseorang akan mengadopsi sebuah ide setelah melewati 5 langkah . Kesadaran . ndividu yang bersangkutan telah terekspos dengan ide tersebu. , . Minat (Ide harus bersangkuta. , . Evaluasi (Individu harus mempertimbangkan bahwa ide tersebut berpotensi memiliki kegunaa. , . Percobaan (Indivisu tersebut mengujicobakan ide itu kepada orang lai. , . Adopsi (Tahap ini mempresentasikan penerimaan akhir dari ide tersebut setelah sukses melewati empat langkah sebelumny. Teori ini berguna dalam menjelaskan bagaimana kita sampai pada sebuah keputusan bukan aksi berdasarkan gerak hati semata. Pengujian model ini memberitahukan kepada kita bahwa media massa diperlukan dalam dua langkah pertama sementara kontak pribadi diperlukan pada dua langkah berikutnya. (Lattimore, dkk, 2010 : . Sumber Data Sumber data yang diambil pada penelitian ini berasal dari data primer yaitu pendamping program keluarga harapan dan kelompok usaha bersama dari kementerian sosial dan warga penerima program keluarga harapan serta warga yang mengikuti kelompok usaha bersama di Kabupaten Cirebon. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan dengan memberikan pertanyaan yang telah disiapkan oleh peneliti melalui FGD. Focus Group atau Group Interviewing bisa disebut sebagai metode riset ataupun metode pengumpulan Jadi FGD adalah metode pengumpulan Metode Penelitian Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode focus group discussion. Focus SOSFILKOM Vol. XI No. 01 Tahun 2017 data atau riset untuk memahami sikap dan perilaku khalayak. Biasanya terdiri dari 6-12 orang yang secara bersamaan dikumpulkan, diwawancarai dengan dipandu oleh moderator (Kriyantono. Moderator pada penelitian ini adalah peneliti sendiri. dana kelompok usaha bersama dikumpulkan semua dengan kelompoknya dan dikelola Pada kenyataannya yang terjadi di masyarakat Kabupaten Cirebon adalah . meskipun mereka berkelompok dengan jumlah warga 9-10 warga perkelompok, tetapi mereka mengelola uang mereka sendirisendiri, . warga hanya menitipkan uangnya saja kepada ketua kelompok, biasanya ketua kelompok sudah memiliki usaha, dan anggotanya hanya menitipkan uang lalu terima beres, kalau ada keuntungan dibagi Jadi yang bekerja dan mengelola hanya ketuanya saja, . uang bantuan sebagian buat usaha sendiri, sebagian lagi di kumpulkan di kelompoknya untuk dikelola bersama. Pada point ketiga ini yang lebih mendekati ketentuan yang ada, tetapi sangat sedikit sekali warga yang menerapkan cara ketiga ini. Masyarakat kebanyakan menerapkan cara pertama dan cara kedua. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan oleh peneliti berupa daftar pertanyaan yang sudah disiapkan oleh peneliti. Pertanyaan dibuat semi terstruktur artinya meskipun daftar pertanyaan sudah diurutkan dari awal peneliti, tetapi memungkinkan untuk menanyakan pertanyaan bebas yang terkait dengan Pembahasan Masyarakat Kabupaten Cirebon penerima program keluarga harapan tidak semuanya mengambil bantuan kelompok usaha bersama. Hal ini dikarenakan kebanyakan dari masyarakat tidak memiliki kemampuan Selain itu, para pendamping juga sangat minim dalam menguasai tata cara Hal ini yang menyebabkan masyarakat ragu dalam mengambil atau mengolah bantuan pemerintah melalui kelompok usaha bersama. Karena masyarakat ada kekhawatiran tidak dapat mengembalikan uang pinjaman tersebut yang rata-rata mereka peroleh 2 juta rupiah per warga. Hanya sebagian warga saja yang berani mengambil Berdasarkan data yang diperoleh, mereka berani mengambil bantuan tersebut karena . ada teman dalam satu kelompok yang sudah memiliki usaha atau berwirausaha sehingga bantuan hanya sebagai tambahan modal saja agar modal kelompok besar, . mencoba berwirausaha karena ada ketakutan penerima program keluarga harapan akan dihentikan dan harus migrasi ke program kelompok usaha bersama, meskipun keahlian yang mereka miliki minim bahkan cenderung tidak ada. Masyarakat penerima kube di Kabupaten Cirebon kebanyakan menggunakan dananya untuk usaha di bidang . makanan ringan . budidaya jahe. Akan tetapi pengelolaan nya masih banyak yang tidak sesuai. Seharusnya Konveksi Warga yang memanfaatkan dana KUBE di bidang konveksi dikarenakan para warga sebelumnya bekerja di bidang Mereka cenderung tidak berkelompok, mereka menggunakan uang bantuan secara mandiri. Sehingga kebanyakan warga banyak yang merasa modal yang diberikan terlalu kecil. Pendamping pada kelompok ini hanya pengambilan dan pengelolaan uang nya Mereka Sehingga distribusi hasil produknya kurang maksimal. Penjualan produk mereka kurang tinggi peminat. Penyebabnya dikarenakan model pakaian yang mereka buat kurang up to date. Warga tidak memiliki referensi pakaian yang sedang jadi tren. Sebenarnya kalau ada contohnya mereka bisa membuatnya. Kurangnya membuat produk mereka jalan ditempat Seharusnya pendamping juga memberikan referensi model yang sedang tren saat ini sehingga produk mereka bisa bersaing di pasar. SOSFILKOM Vol. XI No. 01 Tahun 2017 budidaya jahe maka banyak sekali warga yang mengalami kerugian karena gagal Beternak Warga yang memanfaatkan dana KUBE untuk berternak kebanyakan mereka hanya menitipkan saja modal mereka kepada orang yang mempunyai ternak atau biasa berternak. Nanti warga hanya menerima bagi hasilnya saja. Mereka hanrus menunggu cukup lama dalam bagi hasilnya karena panen ternak nya cukup Hewan yang mereka ternak biasanya adalah kambing. Sehingga perputaran uangnya juga lambat. Selain itu kesulitan mencari makanan ternak juga menjadi persolan karena sangat minim sekali pakan ternak yang ada di Kabupaten Cirebon. Sembako Warga yang memanfaatkan dana KUBE untuk berjualan sembako biasanya menggabungkan sebagian uangnya untuk dikelola bersama. Kendala pada usaha sembako adalah karena banyak warga yang berhutang. Karena mereka tidak akan jadi beli di warung apabila warung tersebut tidak memberikan keringangan dalam berhutang. Sebagian besar warga yang belanja kebanyakan berhutang dulu dan baru melakukan pelunasan jika sudah mendapatkan kiriman dari kepala Makanan Ringan Warga yang memanfaatkan dana KUBE untuk berjualan makanan ringan adalah mereka yang mengelola bantuan dana secara mandiri tidak digabungkan dengan Tetapi berdasarkan kelompok. Keuntungan yang diperoleh dari warga mendekati cukup. Mereka kebanyakan berjualan di sekolahsekolah. Para warga yang menggeluti bidang ini cenderung lebih survive. Budidaya Jahe Warga yang memanfaatkan dana KUBE untuk budidaya jahe banyak yang Hal dikarenakan banyak jahe yang gagal Mereka menggunakan pihak ketiga dalam memperoleh bibit. Karena kekurang pengetahuan warga mengenai Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis di atas dapat diambil kesimpulan bahwa masyarakat masih bergantung sekali dengan dana dari Masyarakat melakukan usaha secara mandiri. Hal ini dikarenakan tingkat pengetahuan mereka mengenai cara berwirausaha rendah, selain itu kurangnya pengetahuan dari pendamping dalam berwirausaha membuat masyarakat juga memiliki pengetahuan yang minim. Para pendamping lebih cenderung memberikan informasi bagaimana agar masyarakat dapat mencairkan dana dari pemerintah dengan lancar, tetapi pendamping tidak memberikan komunikasi yang baik kepada masyarakat tentang ide wirausaha. Sehingga masyarakat dalam berwirausaha cenderung jalan di Daftar Pustaka