Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. 2 (June 2. 221 Ae 234 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) e-ISSN 2775-4006 https://ejurnal. id/index. php/juteolog p-ISSN 2774-9355 https://doi. org/10. 52489/juteolog. Women's Witnesses in the Resurrection of Jesus and Implications in Church Service Ayub Sugiharto. Junio Richson Sirait. )* Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup, sugihartoayub@gmail. Recommended Citation Turabian 8th edition . ull not. Ayub Sugiharto and Junio Richson Sirait. AuWomenAs Witnesses in the Resurrection of Jesus and Implications in Church Service,Ay Jurnal Teologi (JUTEOLOG) 2, no. 2 (June 1, 2. : 1, accessed June 10, 2022, https://ejurnal. id/index. php/juteolog/article/view/74. American Psychological Association 7th edition (Sugiharto & Sirait, 2022, p. Received: 21 November 2021 Accepted: 11 Mei 2022 Published: 01 June 2022 This Article is brought to you for free and open access by Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta. It has been accepted for inclusion in Christian Perspectives in Education by an authorized editor of Jurnal Teologi (JUTEOLOG). For more information, please contact juniorichson1995@gmail. Ayub Sugiharto. Junio Richson Sirait Abstract It is undeniable that women have been involved in the ministry, although their involvement is often debated to date. There are various reasons used to justify the group that disagrees, but also many arguments are given to support the involvement of women in services. This paper seeks to raise the role of women in the ministry of the church based on the New Testament. Hopefully this research is to clarify the understanding of Christians on the role of women in church services. In the midst of the struggles related to the position and dignity of women at that time, the New Testament records the involvement and role of women that cannot be taken lightly in the ministry. This can be seen from the Bible, how women were involved in the time of the Lord Jesus, the Acts of the Apostles which records the role of women in church ministry accompanying the apostles. as well as in Paul's letters where not a few women were partners with the Apostle Paul in the ministry. Keywords: The Role Of Women. Ministry. New Testament. Abstrak Tidak dapat dipungkiri bahwa perempuan sebagaimana laki-laki telah terlibat dalam pelayanan, meskipun keterlibatannya masih sering diperdebatkan sampai saat ini. Ada berbagai alasan yang dipakai untuk membenarkan kelompok yang tidak setuju, namun banyak juga argumentasi yang diberikan untuk mendukung keterlibatan perempuan dalam Artikel ini berusaha mengangkat peranan perempuan dalam pelayanan Gereja berdasarkan Perjanjian Baru. Diharapkan hasil penelitian ini semakin memperjelas pemahaman orang Kristen terhadap peran perempuan dalam pelayanan Gereja. Di tengahtengah pergumulan berkaitan dengan kedudukan dan martabat perempuan pada masa itu. Perjanjian Baru mencatat keterlibatan dan peranan perempuan yang tidak bisa dianggap sepele dalam pelayanan. Hal ini bisa dilihat mulai dari Kitab Injil, bagaimana keterlibatan perempuan pada masa Tuhan Yesus. Kisah Para Rasul yang mencatat peranan perempuan dalam pelayanan Gereja mendampingi para rasul. maupun dalam surat-surat Paulus di mana tidak sedikit perempuan yang menjadi rekan kerja Rasul Paulus dalam pelayanan. Kata Kunci: Peranan Perempuan. Pelayanan. Perjanjian Baru. PENDAHULUAN Gereja dipanggil untuk melakukan tugas yang dipercayakan Kristus kepadanya, sesuai yang dinyatakan dalam Amanat Agung-Nya (Mat. 28:19-. Tugas penting itu salah satunya adalah melakukan pelayanan. Karena pelayanan ini ditujukan kepada Gereja, hal ini berarti bahwa semua dituntut melayani tanpa terkecuali kaum perempuan. Untuk itu kaum perempuan juga memegang peranan penting dalam mendukung kelancaran dan kemajuan Alkitab merupakan dasar untuk melaksanakan berbagai pelayanan dan yang menekankan bahwa setiap orang percaya harus turut terlibat dalam pelayanan. Kedudukan dan peran perempuan dalam Gereja perlu dipahami dengan baik mengingat sampai saat ini penolakan mengenai peranan perempuan dalam pelayanan masih terjadi, dengan alasan yang Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. 2 June 2022 Ayub Sugiharto. Junio Richson Sirait tidak tepat, karena perempuan diciptakan setelah laki-laki. Alasan lainnya karena perempuan lah yang menyebabkan laki-laki berbuat dosa, oleh karena itu perempuan tidak layak melayani di Gereja (Simamora 2. Diskriminasi terhadap perempuan juga nampak dalam kehidupan keseharian masyarakat Yahudi. Sikap merendahkan perempuan sangat terlihat dalam doa pagi para pria Yahudi di mana dalam mereka selalu mengucap syukur karena tidak diciptakan sebagai budak, orang kafir dan perempuan (Simamora 2. Penelitian ini berusaha menjelaskan bagaimana perempuan mengambil bagian dalam pelayanan di tengah-tengah Gereja Tuhan. Dalam Perjanjian Baru nampak jelas bahwa para perempuan juga dipilih oleh Allah sendiri dan dipakai untuk menyatakan kuasa dan kehendak-Nya bagi dunia ini. Menurut Borrowdale . , perempuan juga dipanggil untuk melayani tubuh Kristus dengan berkat apapun yang mereka miliki. Perempuan diciptakan dalam citra Allah dengan beraneka ragam kreativitas di dunia ini. Allah tidak pernah memandang rendah kaum perempuan tetapi justru Allah menciptakannya untuk mendampingi laki-laki. Oleh sebab itu kaum perempuan juga dipanggil untuk turut berperan serta menangani pelayanan. Menurut Andar Ismail . pada hakikatnya setiap orang Kristen adalah pelayan Tuhan. Dalam hal ini tidak ada pemilahan jenis kelamin. Dalam sebuah essay David M. Scholer, seorang professor Perjanjian Baru menulis bahwa tidak ada orang yang dipanggil dan diberi karunia oleh Tuhan yang kemudian harus ditolak peran pelayanan atau kepemimpinannya di Gereja karena jenis kelamin (Scholer 1. Tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak diterima dalam pelayanan Gereja karena jenis kelaminnya. Lebih lanjut Ismail menegaskan bahwa tiap warga Gereja bertugas sebagai actor dalam pelayanan dan bukan sebagai penonton (Ismail 2001:. Laki-laki dan perempuan yang sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat seharusnya melakukan peran masingmasing secara efektif dalam pelayanan. Pelayanan bukan milik dan tugas gembala, pendeta, atau pengurus Gereja tetapi milik semua anggota jemaat. Lantas apa yang terjadi jika Gereja tidak melibatkan perempuan dalam pelayanan? Retnowati secara tegas menyatakan bahwa tanpa peran dan keterlibatan perempuan dalam pelayanan Gereja, maka pelayanan menjadi timpang, tidak seimbang. Gereja akan dianggap tidak mampu mengekspresikan berita dan pelayanannya secara utuh dan tidak optimal (Retnowati 2004:. Hal ini berarti kaum perempuan dituntut untuk bekerjasama dengan anggota jemaat lainnya, bertanggung jawab memajukan pelayanan Gereja serta membantu menunaikan tugasnya. Beberapa penelitian terhadap perempuan dalam hubungannya dengan pelayanan yang telah dilakukan. Menurut Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. 2 June 2022 Ayub Sugiharto. Junio Richson Sirait Yunita Sumirah . banyak perempuan yang merasa bahwa beberapa pelayanan tertentu tidak bisa mereka lakukan. Namun tentu saja anggapan demikian kurang tepat karena setiap orang diberi potensi, talenta maupun karunia yang berbeda untuk melayani Tuhan. Dalam penelitiannya. Sumirah menjelaskan bahwa sebenarnya ada banyak peran yang dilakukan oleh kaum perempuan dalam pelayanan pada masa kini. Lebih lanjut Nunuk Rinukti . menyatakan bahwa seorang perempuan bukan hanya bisa menjadi anggota Gereja tetapi dia juga bisa menjadi pemimpin dan menurutnya hal itu tidak melanggar Firman Tuhan. Tetapi kodrat perempuan sebagai penolong bagi suaminya tidak boleh dilupakan. Hal ini senada dengan kesimpulan yang dibuat oleh Elim Simamora . , bahwa Gereja menghargai keduanya, baik laki-laki maupun perempuan sama seperti penghargaan yang Tuhan berikan kepada mereka. Oleh karena itu kepemimpinan dalam Gereja juga berlaku bagi perempuan. Dari sudut pandang sejarah. Jemali Maksimilianus . berpendapat bahwa pengembangan pelayanan Gereja tidak terlepas dari peran dan keterlibatan Kesadaran ini harus dimiliki semua orang percaya. Peran perempuan sangat besar dalam pelayanan Tuhan Yesus maupun pelayanan Gereja. Pada Alkitab terdapat saksi-saksi wanita dalam kebangkitan Yesus (Mat. 28:1-10. Luk. 4:1-12. Yoh. 20:1-10. Mrk. 16:1-. Saksi-saksi tersebut mengambil bagian dalam pelayanan Yesus Kristus saat di bumi. Mereka merupakan pengikut Kristus yang setia dan memiliki hati melayani jiwa-jiwa. Pada waktu Yesus menjalani penderitaan yang dimulai dari taman Getsemani sampai bukit kalvary para wanita tersebut setia menemani Yesus. Mereka menangisi Yesus, memberi minum, dan bahkan akan meminyaki Yesus yang telah mati. Saksi-saksi wanita dalam kebangkitan Yesus merupakan salah satu bagian dari orang-orang yang berkerja dalam pelayanan. Saksi-saksi wanita dalam kebangkitan Yesus merupakan topik yang sangat jarang diteliti oleh para peneliti di Indonesia. Pada umumnya para peneliti hanya berfokus kepada kajian praktis tentang kelayakan wanita dalam mengampil peran di pelayanan Gereja. Peneliti sangat tertarik untuk mengkaji tentang saksi-saksi dalam kebangkitan Yesus. Peneliti juga berupaya untuk mendapatkan implikasi dari saksi-saksi wanita dalam pelayanan Gereja. Saksi-saksi wanita dalam kebangkitan Yesus dalam penelitian ini didasarkan dari wanitawanita yang terlibat dalam pelayanan di dalam Perjanjian Baru. Sasaran penelitian ini yaitu untuk mengetahui kedudukan, keterlibatan dalam pelayanan, dan peran wanita dalam menjadi saksi-saksi kebangkitan Kristus, sebelum mati, dan setelah Yesus Kristus naik ke Sorga. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. 2 June 2022 Ayub Sugiharto. Junio Richson Sirait METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data atau informasi terkait tema pembahasan, dengan menjadikan Alkitab sebagai sumber utama (Wijaya 2. Literatur-literatur lain yang relevan juga digunakan dengan mempertimbangkan kompetensi para penulisnya. Berdasarkan sumber-sumber literatur tersebut peneliti berusaha mengolah dan mensistematiskan pembahasan, dan selanjutnya menjelaskan dasar keterlibatan perempuan dalam pelayanan serta peranan apa saja yang diberikan oleh perempuan dalam pelayanan Gereja Perjanjian Baru. HASIL DAN PEMBAHASAN Kedudukan Perempuan Pada Masa Perjanjian Baru Perjanjian Baru menyatakan bahwa martabat perempuan dianggap berada di bawah laki-laki. Bahkan dalam budaya Yahudi kekuasaan sepenuhnya di tangan laki-laki. Padahal Kejadian 1:27 menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam gambar Allah dan dikatakan bahwa perempuan adalah Aupenolong yang sepadanAy bagi laki-laki (Kejadian 2:. Dengan demikian maka seharusnya seorang ibu yang adalah seorang perempuan harus dihormati dan ditaati (W. Browning 2. Namun dalam kenyataannya, kebenaran tentang kedudukan perempuan tidak diajarkan secara seimbang di kalangan Yahudi sehingga masyarakat tetap beranggapan bahwa perempuan memiliki martabat lebih rendah jika dibandingkan denagn laki-laki. Bahkan mereka dianggap tidak punya kuasa dan tidak dapat membuat keputusan apa pun. Dalam surat-suratnya. Rasul Paulus memberikan pengajaran yang jelas tentang peranan dan kedudukan perempuan di tengah-tengah jemaat Perjanjian Baru. Tentu pendekatan yang dilakukan Rasul Paulus terhadap peran perempuan menimbulkan perdebatan yang sangat serius karena pada masa itu perempuan dianggap lebih rendah dari laki-laki. Lebih parah lagi dalam budaya seperti itu masyarakat melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandang laki-laki Pada masa Perjanjian Baru, sangat jelas bahwa perempuan juga tidak mendapat kesempatan pendidikan memadai (Frommel 2. Ternyata bukan hanya perempuan Yahudi saja yang tidak mendapat pendidikan, tetapi hampir semua perempuan bangsa lain pun mengalami yang sama (Guthrie 2. Intinya kaum perempuan diperlakukan semena-mena dan tidak adil, sangat berbeda dengan kaum laki-laki yang selalu mendapat prioritas dalam berbagai aspek kehidupan. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. 2 June 2022 Ayub Sugiharto. Junio Richson Sirait Secara hukum, kedudukan seorang perempuan di Israel juga dipandang lebih lemah dari laki-laki (J. Packer 2. Contoh dalam Perjanjian Lama, seorang istri tidak diperbolehkan menceraikan suami, apa pun alasannya. Namun suami boleh menceraikan istri apabila dianggap tidak senonoh kepadanya (Ulangan 24:1-. Pada Bilangan 5:11-31, juga menyatakan dengan jelas perbedaan perlakuan terhadap suami dan istri yang berbuat serong. Istri harus menjalani ujian cemburuan, namun suami serong tidak mendapat perlakuan Dalam Yohanes 8:3-11 dikisahkan tentang seorang perempuan yang kedapatan telah Orang Farisi membawa perempuan itu kepada Tuhan Yesus untuk diadili dan dihukum dengan cara melemparinya dengan batu. Tetapi laki-laki yang berzinah dengan perempuan itu tidak dianggap bersalah dan bebas begitu saja. Semua contoh tersebut menunjukkan betapa lemahnya kedudukan hukum seorang perempuan. Kesalalahan pemahaman atau penafsiran terhadap tulisan Rasul Paulus dalam 1 Korintus 14:34 yang menyatakan bahwa perempuan tidak boleh berbicara dalam pertemuanpertemuan jemaat semakin menambah kuat penolakan terhadap keterlibatan perempuan dalam pelayanan Gereja. Pernyataan Rasul Paulus dalam ayat ini tidak bisa dikatakan sebagai bentuk larangan terhadap perempuan untuk terlibat pelayanan. Ini juga bukan berartibahwa Rasul Paulus menghentikan peran perempuan dalam pelayanan di Gereja (Pfitzner 2. Rasul Paulus sebenarnya sedang mengingatkan jemaat Korintus untuk melakukan ibadah secara tertib, teratur sesuai dengan kebiasaan mereka sehingga ibadah tidak menjadi kacau. Yang dimaksud dengan Atidak diperbolehkan berbicaraA adalah mengajukan pertanyaan atau interupsi ketika ibadah sedang berlangsung. Ada kemungkinan sering terjadinya gangguan dalam ibadah sehingga perempuan diharuskan berdiam diri ketika ibadah sedang berlangsung (Pfeiffer. Charles F. and Harrison 2. Apabila mereka ingin menanyakan sesuatu, sebaiknya mereka bertanya kepada para suami ketika sudah berada di Jika aturan ini tidak diberikan maka pertemuan ibadah jemaat tidak bisa berjalan dengan baik dan jemaat tidak diberkati. Beberapa uraian di atas menunjukkan bahwa pelayanan perempuan di lingkungan Gereja pada masa Perjanjian Baru bukanlah hal yang mudah untuk diterima. Ini merupakan pandangan revolusioner yang mendobrak pola pikir masyarakat pada masa itu di mana lakilaki ditempatkan di atas perempuan dan diakui memiliki predikat lebih unggul. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. 2 June 2022 Ayub Sugiharto. Junio Richson Sirait Dasar Keterlibatan Perempuan dalam Pelayanan Dalam pelayanan. Tuhan Yesus sering menaruh perhatian bagi kaum perempuan. Dia juga dikenal sangat bersahabat dengan mereka (Luk 7:35-. (Jemali 2. Dalam mewartakan Injil. Yesus sebenarnya bersentuhan dengan banyak perempuan, entah dengan perempuan Yahudi maupun bukan Yahudi. Ia menyembuhkan ibu mertua Simon (Mrk 1:2. , anak perempuan Yairus (Luk 8:40-42, 49- . , perempuan yang sakit pendarahan selama dua belas tahun (Luk 8:43-. , perempuan yang bungkuk punggungnya karena sudah delapan tahun kerasukan roh jahat (Luk 13:10- . Ia membiarkan kakinya di basuh dan dijamah oleh seorang perempuan (Luk 7:38. Luk 8:. Ia bersahabat dengan Maria dan Marta (Luk 10:38-42 Yoh 11:1-44, 12:1-. Kalau merujuk pada Injil, maka murid-murid Yesus terdiri dari laki-laki dan Kata AumengikutiAy dalam Injil mempunyai arti keterlibatan dalam kehidupan Yesus, berkaitan dengan kemuridan. Misi Yesus juga digambarkan sebagai pelayanan. Yang melakukan pelayanan adalah para perempuan: ibu mertua Simon (Mrk 1:31. Mat 8:15. Luk 4:. Maria Magdalena dan beberapa perempuan lain (Mat 27:. , dan Marta (Luk 10:40. Yoh 12:. Karakter lain seorang murid dalam Injil adalah sebagai pendoa yang setia, beriman dan menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Allah, yang tampak pada sosok perempuan seperti Elisabet. Maria, dan Hana (Luk 1-. , janda yang tekun memohon keadilan (Luk 18:1-. , dan janda miskin yang mempersembahkan seluruh miliknya (Luk 21:1-. Kitab Kisah Para Rasul menunjukkan dengan jelas bahwa wanita adalah bagian dari Gereja mula-mula di Yerusalem dan juga terlibat dalam proses pertumbuhan serta penyebar Gereja (Scholer 1. Kelompok 120 murid (Kisah Para Rasul 1:. yang menunggu kedatangan Roh Kudus di Yerusalem termasuk wanita seperti yang disebutkan sebelumnya dalam Lukas sebagai murid yang mengikuti Yesus dan Maria ibu Yesus (Kisah Para Rasul 1:. Perempuan-perempuan itu melanjutkan pelayanan sehingga Gereja di Yerusalem mengalami pertumbuhan. Hal ini dibuktikan dalam Kisah Para Rasul 5:14 yang menyebutkan bahwa semakin hari semakin banyak orang menjadi percaya Yesus. Menurut Scholer, perempuan sering disebutkan dalam Kisah Para Rasul sebagai wadah yang diberikan bagi penyebaran Gereja (Scholer 1. Dalam surat-suratnya Rasul Paulus menyebut banyak perempuan yang semuanya adalah rekan kerja pelayanannya di dalam Tuhan. Roma 16 merupakan contoh yang sangat Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. 2 June 2022 Ayub Sugiharto. Junio Richson Sirait jelas di mana ada sederet nama perempuan yang menjadi rekan kerja Rasul Paulus dalam Di bagian lain Rasul Paulus merumuskan satu maklumat teologis yang sangat penting bagi pengalaman kaum kecil dan tertindas teristimewa perempuan (Jemali 2. AuKamu semua yang telah dibaptis dalam Kristus telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada laki-laki dan perempuan, karena kamu semua satu di dalam Kristus. dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji. Ay (Gal 3:27-. Teks ini mengungkapkan secara jelas paham Rasul Paulus tentang kesatuan gender. Hal ini dapat dimengerti dari konteks pertumbuhan sebuah kelompok baru yang ingin merangkul semua orang sebagai murid- murid Kristus yang sederajat dan semartabat dalam nama Kristus. Menurut Scholer . , teologi biblika yang mendasari "ciptaan baru di dalam Kristus" di mana "tidak ada laki-laki dan perempuan" adalah penegasan yang kuat akan komitmen kesetaraan dalam Injil. Gereja, dan semua pelayanannya. Kesetaraan atau persamaan ini telah meniadakan pembedaan peran dalam pelayanan. Hal yang bisa dilihat sebagai dasar kesetaraan ini adalah keterpautan dalam Tuhan . Kor 11:11-. Peranan Perempuan dalam Pelayanan Gereja Pelayanan kaum perempuan sudah dimulai pada masa Tuhan Yesus. Bahkan Tuhan Yesus sendiri sebagai tokoh utama Perjanjian Baru tampaknya terus memperjuangkan kesamaan dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Dalam Lukas 8:1-3 diceritakan bagaimana Tuhan Yesus mengizinkan beberapa perempuan menjadi teman seperjalanan. juga mendorong Maria dan Marta untuk duduk dekat dengan kaki-Nya seperti yang dilakukan murid-murid (Lukas 10:38-. Sikap hormat Tuhan Yesus kepada para perempuan adalah sesuatu baru pada masa itu dan terkesan sangat mencolok (J. Packer 2. Kedua kisah tentang Elisabet dan Hana juga merupakan bagian dari kisah tentang masa kanak-kanak Yesus menurut Injil Lukas. Kisah tentang Elisabeth tampil pada tempat paling awal dalam Injil Lukas dan ditenun apik dalam kisah tentang Maria (Luk 1:39-. sedangkan cerita tentang Hana berada pada penghujung kisah tentang masa kanak-kanak Yesus, pada waktu kanak-kanak Yesus dipersembahkan di kenisah (Luk 2:36-. Kedua perempuan ini, samasama terbilang usur, sudah melewati usia untuk bisa memperoleh keturunan: Elisabet hidup menikah namun tidak mempunyai anak, sedangkan Hana hidup menjanda dan tidak mempunyai anak. Keduanya menunjukkan kedudukan istimewa di dalam masyarakat: Elisabet, keturunan Harun, adalah istri Zakharia yang termasuk dalam rombongan imam Abia Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. 2 June 2022 Ayub Sugiharto. Junio Richson Sirait . sedangkan Hana adalah anak Fanuel yang berasal dari suku Asyer, salah satu suku yang terbilang makmur di antara kedua belas suku Israel . Keduanya juga dikenal oleh karena relasi mereka yang benar dengan Allah: Elisabet, demikian pula suaminya Zakharia, dilukiskan sebagai orang Aubenar di hadapan Allah, tidak bercacatAy . sedangkan Hana disebut sebagai nabi perempuan yang siang malam berada di Bait Allah. Ketika bayi Yesus dibawa ke Bait Allah. Hana mengenal-Nya sebagai Mesias yang dijanjikan itu (Lukas 2:3. (Ryken 2. Kata Mesias dapat diartikal sebagai orang yang menjadi juruselamat umatNya (Sugiharto 2020:. Perempuan sebagai Saksi Kebangkitan Kepahlawanan para perempuan dalam kisah sengsara Tuhan Yesus juga layak Banyak perempuan mengikuti Yesus ke kayu salib dan menderita bersama-Nya. Mereka mendampingi mayat Yesus ke kubur dan mempersiapkan rempah-rempah untuk membubuhi mayat Yesus. Mereka adalah saksi dan mereka judg saksi pertama kebangkitan (Ryken 2. Semua Injil menunjukkan bahwa para murid perempuan Yesus adalah orang pertama yang menyatakan pesan kebangkitan Yesus (Markus 16:1-. Dalam konteks jemaat perdana, banyak perempuan Kristen yang menjadi pemimpin dan pelayan jemaat. Lewat uraian singkat ini ditemukan satu titik simpul bahwa ternyata kaum perempuan sangat berperan dalam sejarah Perjanjian Baru meskipun secara eksplisit tidak disebutkan. Implikasi dalam Pelayanan Gereja Pendoa Sesudah kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Kisah Para Rasul mencatat banyak hal yang telah dilakukan para perempuan dalam pelayanan. Mereka berkumpul di Ruang Atas untuk berdoa bersama orang percaya lainnya. Tidak dinyatakan dengan jelas bagaimana mereka berdoa namun bisa jadi para perempuan ini berdoa di depan banyak orang dengan mengeluarkan suara keras sehingga bisa didengar oleh semua orang di sekelilingnya. Pada saat Petrus ditangkap dan dipenjara, orang percaya tanpa melihat jenis kelamin sepakat mendoakan kelepasan Petrus (Kis 12:1-. Para perempuan juga terlibat sebagai pendoa dalam jemaat Korintus dan juga bernubuat . Kor 11:2-. Fakta ini menyebabkan Rasul Paulus merasa perlu untuk memerintahkan kepada mereka cara yang benar Ketika berdoa di depan umum. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. 2 June 2022 Ayub Sugiharto. Junio Richson Sirait Penyalur Berkat Tuhan Dorkas atau Tabita . yang disebutkan dalam Kisah Para Rasul 9:36 terkenal karena kasihnya di Gereja Yope. Tidak banyak informasi yang bisa diperoleh mengenai Dorkas, tetapi Birney menyimpulkan bahwa Dorkas adalah contoh yang baik dari seorang perempuan pelayan Tuhan dengan menyatakan bahwa ketenaran Dorkas lebih bergantung kepada perbuatan baik yang dilakukannya ketimbang mode pakaian yang dikenakannya (Birney 1. Perempuan ini berlimpah dengan perbuatan kebaikan dan amal, yang di lakukannya secara terus-menerus. Perbuatan baiknya yang melimpah itu menyebabkan semua orang merasa kehilangan dan tidak bisa menerima kematian Dorkas. Itulah sebabnya mereka meminta Petrus berdoa dan Dorkas hidup Kembali. Pemberita Injil dan Pengajar Sebagai anggota tubuh Kristus, kaum perempuan turut bertanggung jawab dalam menghayati imannya. Mereka berpartisipasi aktif mewartakan Kristus yang menderita, mati dan bangkit itu. Para wanita yang yang mengikuti Yesus menjadi pemberita Kabar Baik, bahwa Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan yang bangkit. Wanita Samaria bertanggung jawab untuk menginjili kotanya (Yohanes 4:39-. Kisah Para Rasul 16:14-15 bercerita tentang. Tuhan membuka hatinya ketika ia mendengar kebenaran Firman Tuhan sehingga ia menjadi percaya kepada Tuhan Yesus. Lidia adalah seorang perempuan bukan Yahudi yang telah menerima ajaran Yudaisme dan dikenal sebagai orang yang cukup kaya (Pfeiffer. Charles F. and Harrison 2. Menurut Kisah Para Rasul 17:4, 12 Lidia juga termasuk dalam kelompok perempuan terkemuka dan menurut Ensiklopedi Alkitab Masa Kini. Lidia adalah seorang kepala dalam suatu rumah Maksudnya ia adalah seorang janda atau tidak menikah (Douglas 1. Dia bekerja sebagai seorang penjual kain ungu di kota Filipi. Satu hal yang menarik dari Lidia adalah kerinduannya memberitakan Firman Allah kepada orang-orang di sekelilingnya. Ia adalah seorang pemberita Injil. Meskipun tidak ditulis secara jelas tentang apa yang dilakukan Lidia kepada orang-orang disekelilingnya sehingga mereka percaya kepada Tuhan, namun Ryken menyatakan bahwa Lidia telah membawa anggota keluarganya kepada Kristus (Ryken 2. Bahkan menurut Pfeiffer dan Harrison, bukan hanya anggota keluarganya saja yang Sejumlah pelayan Lidia juga mengikuti teladannya, mereka menjadi percaya dan dibaptis (Pfeiffer. Charles F. and Harrison 2. Dalam Kisah Rasul 18:1-3, . Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. 2 June 2022 Ayub Sugiharto. Junio Richson Sirait Priskila yang melayani bersama Akwila disebut sebagai tuan rumah yang menerima Rasul Paulus untuk tinggal. Priskila dan Akwila menyertai Rasul Paulus dalam perjalanan pekabaran Injil di Efesus. Di sini mereka juga yang mengambil prakarsa dalam mengoreksi kekeliruan teologis Apolos (Kisah Para Rasul 18:. (Ryken 2. Priskila dan Akwila telah dipakai oleh Allah untuk menjelaskan jalan Allah kepada Apolos (Sumirah 2019:. Leroy Birney menulis bahwa dalam kasus-kasus tertentu bisa saja seorang perempuan memiliki lebih banyak pelatihan atau pengetahuan di beberapa bidang daripada laki-laki dalam suatu kepengurusan pelayanan sebagaimana terjadi dalam dalam kasus Apolos. (Birney 1. Memang masih sering menjadi perdebatan tentang fakta bahwa Priskilla lebih baik mengajar Apolos di rumah daripada di Gereja, tetapi harus diakui bahwa dia memang mengajar Apolos . Timotius 2:. (Scholer 1. Peran perempuan sebagai pengajar kebenaran Firman Allah bagi anak-anak juga sangat dihargai oleh Rasul Paulus. Pengajar merupakan pribadi yang memiliki tugas yang sangat penting (Sahertian et al. Peran seorang perempuan Kristen sebagai istri dan ibu juga lebih penting daripada yang disadari secara umum. Ajaran seorang ibu dapat mempengaruhi seluruh arah kehidupan seseorang. Tidak bisa dipungkiri bahwa peran perempuan sebagai seorang ibu Kristen sangat penting (Scholer 1. Lois sebagai seorang ibu Kristen telah mengajarkan imannya kepada Eunike, anak perempuannya. Pengajaran iman Kristen yang diterima Eunike juga diajarkan kepada anaknya bernama Timotius memberikan pengaruh besar sehingga imannya juga bertumbuh dengan benar . Tim. Diaken Meskipun Rasul Paulus sering mengkritik perempuan di beberapa jemaat Perjanjian Baru, khususnya jemaat Korintus, atas perilaku dan cara perpakaian mereka, namun Rasul Paulus mengasihi dan memperlakukan para sejawat perempuannya sebagai rekan kerja di dalam Tuhan. Dalam Roma 16 Rasul Paulus menyebutkan daftar nama perempuan yang dikatakannya sebagai rekan kerja dan sekaligus penolong. Pada ayat 1-2 Rasul Paulus menyebutkan tiga hal mengenai Febe: dipanggil dengan sebutan saudari kita, ia adalah pelayan jemaat, dan ia memberikan bantuan kepada banyak orang (Hagelberg 1. Febe adalah seorang diaken, seorang pemimpin jemaat di Kengkrea, sebuah kota Pelabuhan besar yang ramai. Sebagai seorang diaken, tugas Febe bersifat sangat umum seperti tugas diaken lainnya, yakni berusaha memenuhi kebutuhan baik materi maupun rohani orang-orang Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. 2 June 2022 Ayub Sugiharto. Junio Richson Sirait disekitarnya (Pfeiffer. Charles F. and Harrison 2. Dunn sebagaimana dikutip Hagelberg memberi catatan bahwa kata memberi bantuan dalam ayat 2 lebih tepat diterjemahkan dengan kata pelindung atau penolong (Hagelberg 1. Sebagai seorang hamba Tuhan yang kaya dan berpengaruh, rupanya Febe banyak membantu bukan saja Rasul Paulus, tetapi juga orang-orang percaya dari daerah lain yang datang ke kota itu maupun yang sekedar singgah di Pelabuhan itu. Itulah sebabnya Rasul Paulus meminta kepada jemaat Roma untuk menerima dan menyambut Febe sebaik mungkin. Permintaan Rasul Paulus sangat masuk akal sebab Febe sendiri telah membantu banyak orang. Sikap Rasul Paulus ini sekaligus secara tegas menepis anggapan bahwa dia menentang perempuan terlibat dalam pelayanan. Perintis Jemaat dan Gembala Jemaat Rumah Selain disebut dalam Kisah Para Rasul, nama Priska juga muncul dalam surat Roma. Nama Priska disebut lebih awal, baru kemudian diikuti oleh Akwila suaminya (Roma 16:. Penyebutan nama perempuan di depan dan nama suami di belakang tentu bukan hal yang lazim pada masa itu. Pasti ada alasan dibalik penyebutan dengan urutan demikian. Ada kemungkinan karena sang istri lebih popular atau lebih menonjol status sosialnya, atau bisa juga karena sang istri lebih giat dalam pelayanan daripada suaminya (Sukardi 2. Rasul Paulus sudah mengenal Priska dan Akwila di Korintus. Mereka tinggal serumah dan memiliki profesi yang sama sebagai tukang tenda. Bisa jadi pertemuan inilah yang mendorong mereka giat memberitakan Injil dan melayani (Pfeiffer. Charles F. and Harrison 2. Mereka giat dalam memberitakan Injil Kerajaan Allah. Bahkan sebagai rekan pelayanan telah mempertaruhkan nyawa mereka bagi Rasul Paulus. Bahkan Hagelberg menulis bahwa pelayanan mereka pelayanan mereka luar biasa (Hagelberg 1. Priska dan Akwila juga merintis jemaat dan menggembalakan anggota jemaat dengan mengadakan ibadah di rumah Ini sesuai dengan pernyataan Sukardi bahwa kedua suami istri ini tidak hanya giat dalam membantu pelayanan, namun juga giat dalam perintisan jemaat sehingga di rumah mereka pun berdiri Gereja (Sukardi 2. Semangat mereka bagi Kristus tidak berubah di mana pun mereka berada. Kenyataan adanya beberapa jemaat rumah dalam Roma 16 sekaligus juga menunjukkan bahwa jemaat Roma terdiri dari kelompok-kelompok kecil dan bukan merupakan satu jemaat lokal yang besar (Pfeiffer. Charles F. and Harrison 2. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. 2 June 2022 Ayub Sugiharto. Junio Richson Sirait Pelayan yang Bekerja Keras dalam Tuhan Pada bagian ini Rasul Paulus masih menyebutkan empat nama perempuan yakni Maria (Roma 16:. Trifena. Trifosa, dan Persis (Roma 1. Oleh Rasul Paulus, keempat nama perempuan tersebut sangat dihargai dan disebut telah bekerja keras dalam Tuhan. Rasul Paulus tidak secara tegas menyebutkan kerja keras dalam Tuhan seperti apakah yang sudah mereka lakukan, tetapi hal ini menunjukkan bahwa mereka adalah perempuanperempuan yang giat dan telah mati-matian bekerja tanpa kenal lelah dalam pelayanan Tuhan Yesus Kristus (Sukardi 2. Ini bisa ditunjukkan dengan pemakaian Aorist Indicative yang mengindikasikan bahwa perempuan-perempuan itu Ausudah bekerja kerasAy pada waktu lampau, meskipun tidak ditunjukkan dengan jelas kerja keras dalam pelayanan seperti apa yang telah dilakukan (Hagelberg 1. REKOMENDASI PENGEMBANGAN PENELITIAN Penelitian tentang saksi-saksi wanita dalam kebangkitan Yesus dan implikasinya dalam pelayanan Gereja ini diharapkan dapat berkontribusi dalam perkembangan peraturan Peneliti juga berharap kiranya penelitian ini menjadi bahan rujukan bagi para peneliti selanjutnya. Penelitian ini dapat dikembangkan melalui penelitian tentang implementasi pengajaran tentang saksi-saksi kebangkitan Kristus dalam melayani bagi Siswa-siswa . iswa-siswa dapat di sesuaikan dengan lokus penelitia. KESIMPULAN Meskipun keterlibatan perempuan masih terus didiskusikan oleh Gereja, namun berdasarkan Perjanjian Baru, peranannya memang ada. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: Pertama, keterlibatan perempuan dalam pelayanan didasarkan pada pada masa pelayanan Tuhan Yesus, banyak perempuan yang mengikuti Dia dan juga terlibat dalam Bahkan mereka menjadi pemberita Kabar Baik. Pada zaman para rasul, kelompok-kelompok murid yang di dalamnya juga melibatkan perempuan-perempuan terus bersekutu dan melayani sebagai pemberita Injil sehingga dari hari ke hari jumlah orang percaya semakin bertambah-tambah (Kis 1 dan . Rasul Paulus dalam surat-suratnya menyebut banyak nama perempuan yang terlibat sebagai rekan kerjanya yang bisa dilihat dengan jelas dalam Roma 16. Dasar lainnya adalah pernyataan yang menyebutkan bahwa di dalam Kristus tidak ada laki-laki dan perempuan (Gal 3:27-29 dan 1 Kor 11:11-. Kedua. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. 2 June 2022 Ayub Sugiharto. Junio Richson Sirait pada masa Perjanjian Baru peranan perempuan dalam pelayanan Gereja adalah: Sebagai nabi/nabiah, pendoa dan juga bernubuat, menyalurkan berkat Tuhan secara materi, memberitakan Injil dan mengajar, menjadi diaken dan penolong, perintis jemaat dan gembala. BIODATA Ayub Sugiharto. Ag adalah dosen Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup Solo. Dia mendapat gelar sarjana Teologi pada tahun 2012 dan Magister Agama pada tahun 2017. Dia menfokuskan penelitiannya pada bidang Teologi Biblika. Misiologi dan Humaniora. Melalui penelitiannya kiranya dapat berkontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Ayub Sugiharto Surel: sugihartoayub@gmail. My name is Junio Richson Sirait. After graduated from Sekolah Tinggi Teologi KADESI Yogyakarta in 2019 and continued my study at Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta. Now I still work at Researching and publishing Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta. Junio Richson Sirait Surel: juniorichson1995@gmail. DAFTAR PUSTAKA