e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. WAYANG TIMUN MAS: DIPLOMASI BUDAYA DAN LITERASI NILAI ISLAMI UNTUK HARMONI LINTAS BANGSA Diah Kusyani1. Sukma Adelina Ray2. Sri Handayani3. Afril Lita Karyani4 1,2,3,4 FKIP. Universitas Alwashliyah diahkusyani13@gmail. Sukma Adelina Ray2 ABSTRAK Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berfokus pada pemanfan cerita rakyat Wayang Timun Mas sebagai media diplomasi budaya dan literasi nilai Isalam dalam upaya menumbuhkan harmoni lintas bangsa. Pemilihan Wayang Timun Mas didasarkan pada kekayaan nilai moral dan kearifan likal yang terkandung di dalamnya, yang relevan untuk ditanamkan kepada generasi muda dalam konteks pendidikan, sosial, dan Analisis kebutuhan menunjukkan bahwa masih rendahnya keterampilan menyimak siswa dalam memahami dongeng serta keterbatasan guru dalam menggunakan media pembelajaran yang variatif menjadi kendala utama dalam proses pembelajaran. Minimnya pemanfaatan media audio-visual interaktif juga membuat pembelajaran dongeng kurang menarik dan sulit dipahami secara mendalam. Metode pelaksanaan pengabdian dilakukan melalui beberapa tahapan, antara lain: . sosialisasi pentingnya literasi berbasis budaya lokal dan nilai Islami. pelatihan penggunaan media wayang interaktif dalam pembelajaran. praktik pembelajaran menggunakan dongeng Timun Mas yang dipadukan dengan nilai-nilai Islami. evaluasi serta refleksi terhadap hasil kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan perhatian dan konsentrasi siswa dalam menyimak cerita, meningkatnya pemahaman terhadap nilai-nilai moral dan Islami dalam dongeng, serta bertambahnya kreativitas guru dalam memanfaatkan media interaktif. Selain itu, kegiatan ini juga membuka ruang diplomasi budaya yang mampu menjembatani pemahaman lintas budaya dan menumbuhkan sikap toleransi di kalangan siswa maupun masyarakat. Kata Kunci : Wayang Timun Mas. Literasi. Nilai Islami. Diplomasi Budaya. Harmoni Lintas Bangsa. ABSTRACT This community service initiative focuses on utilizing the Wayang Timun Mas folktale as a medium for cultural diplomacy and Islamic values literacy, aiming to foster cross-cultural harmony. The selection of Wayang Timun Mas is based on the wealth of moral values and local wisdom it embodiesAielements highly relevant for instilling in the younger generation within educational, social, and cultural contexts. A needs analysis revealed that primary obstacles in the learning process included students' low listening comprehension skills regarding folktales and teachers' limited use of diverse instructional media. Furthermore, the minimal use of interactive audio-visual media rendered folktale lessons less engaging and hindered deep understanding. The implementation involved several stages: . raising awareness about the importance of literacy grounded in local culture and Islamic values. training on the use of interactive wayang . media in instruction. practical teaching sessions using the Timun Mas story integrated with Islamic values. evaluation and reflection on the activity's outcomes. Results indicated increased student attention and concentration while listening to the story, a better grasp of the moral and Islamic values within the folktale, and enhanced teacher creativity in utilizing interactive media. Additionally, the initiative opened avenues for cultural diplomacy, bridging cross-cultural understanding and fostering tolerance among both students and the wider community. Keywords: Timun Mas Puppet. Literacy. Islamic Values. Cultural Diplomacy. Cross-Cultural Harmony. e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. PENDAHULUAN 1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu sarana strategis dalam membentuk karakter dan jati diri bangsa. Salah satu aspek penting dalam pendidikan adalah keterampilan menyimak, khususnya dalam pembelajaran cerita atau dongeng. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa keterampilan menyimak siswa masih rendah. Banyak siswa yang kurang fokus dan sulit mempertahankan konsentrasi saat guru membacakan atau memutar cerita, sehingga pesan moral dan nilai penting dari cerita sering terabaikan. Kondisi ini semakin diperparah dengan terbatasnya variasi metode pembelajaran yang digunakan guru, yang umumnya masih bersifat Menurut Muslich . , keterampilan menyimak merupakan fondasi utama dalam berbahasa karena memengaruhi keterampilan membaca, berbicara, dan menulis. Jika keterampilan menyimak tidak dilatih dengan media inovatif, maka peserta didik akan kesulitan memahami informasi, baik secara lisan maupun Oleh karena itu, diperlukan pendekatan baru yang memadukan budaya dan teknologi agar pembelajaran lebih efektif. Indonesia sendiri memiliki kekayaan budaya berupa cerita rakyat yang sarat dengan nilai moral, kearifan lokal, serta relevansi universal. Salah satunya adalah dongeng Timun Mas, yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi. Suyanto . menegaskan bahwa cerita rakyat memiliki fungsi edukatif karena mengajarkan norma sosial, nilai moral, serta memperkuat identitas budaya generasi muda. Cerita Timun Mas yang mengandung pesan moral keberanian, kecerdikan, dan pengorbanan dapat dijadikan media pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan saat ini. Kegiatan budaya lintas negara dapat menjadi sarana untuk mempererat pemahaman bersama. Misalnya, di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (Malaysi. , pertunjukan wayang kulit dimanfaatkan sebagai diplomasi budaya untuk membangun karakter diaspora Indonesia. Pendekatan serupa kini mendapat dukungan pemerintah di era digital, karena diplomasi budaya diyakini mampu memupuk saling pengertian dan menghargai keberagaman. Hal ini sejalan dengan Melissen . yang menekankan bahwa diplomasi budaya merupakan instrumen soft power efektif untuk menciptakan kepercayaan dan dialog antarbangsa. Cerita Timun Mas kisah pewayangan Jawa tentang perjuangan melawan kejahatan telah lama menjadi bagian penting dari kebudayaan Indonesia. Wayang sebagai media tradisional terbukti fleksibel untuk berbagai Heryanto . menjelaskan bahwa wayang bukan hanya hiburan, melainkan juga sarana pendidikan, dakwah, dan diplomasi budaya yang dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk melalui Selain itu, anak-anak migran sering menghadapi tantangan integrasi budaya dan agama. Dalam konteks ini, pendidikan moderasi beragama berperan penting untuk membangun identitas inklusif yang menghargai Mujiburrahman . menegaskan bahwa Islam moderat Indonesia yang menekankan toleransi, inklusivitas, dan rahmatan lil Aoalamin merupakan modal sosial strategis sekaligus aset diplomasi nasional dalam kancah global. Dengan demikian, penggabungan nilai Islami dalam media budaya seperti wayang akan memperkuat karakter sekaligus mempromosikan identitas bangsa. Lebih jauh, pertunjukan wayang tradisional juga tidak terlepas dari unsur musik, seperti gamelan, yang memperkaya nilai estetik dan makna. Di era transformasi digital, pemerintah bahkan memanfaatkan kecerdasan buatan dan media sosial untuk menyebarkan konten budaya tradisional secara global. UNESCO menegaskan bahwa literasi digital merupakan kompetensi abad ke-21 yang mencakup kemampuan berpikir kritis, evaluasi informasi, serta keterampilan menyebarkan konten budaya secara bertanggung jawab. Sejalan dengan itu, program pengabdian ini mengajarkan siswa memanfaatkan teknologi digital dalam mengabadikan dan membagikan warisan budaya, sehingga literasi digital dapat terintegrasi dengan literasi budaya dan nilai Islami. Dengan demikian, urgensi kegiatan pengabdian ini terletak pada dua hal pokok. Pertama, kebutuhan mitra . uru dan sisw. terhadap media pembelajaran yang inovatif, menarik, dan relevan dengan perkembangan Kedua, perlunya strategi pendidikan yang mampu memperkuat literasi budaya, keterampilan digital, dan religiusitas dalam menghadapi tantangan global. Melalui pengabdian ini, diharapkan siswa mampu meningkatkan keterampilan menyimak, memahami nilai-nilai moral Islami, serta memiliki kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya sebagai sarana diplomasi dan harmoni lintas bangsa. e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. 2 Analisis Kebutuhan Berdasarkan hasil identifikasi di lapangan, terdapat beberapa kebutuhan mendasar yang menjadi dasar pelaksanaan kegiatan pengabdian ini, yaitu: Rendahnya perhatian dan fokus siswa saat mendengarkan cerita dongeng. Siswa sering kali kurang fokus ketika mendengarkan cerita, baik yang dibacakan guru maupun yang diputar melalui media audio. Hal ini berdampak pada rendahnya kemampuan mereka menangkap pesan moral dari cerita. Menurut Muslich . , menyimak adalah keterampilan dasar yang harus dilatih dengan strategi variatif, karena menjadi fondasi bagi keterampilan berbahasa lainnya. Terbatasnya metode pembelajaran menyimak yang digunakan guru. Guru cenderung masih menggunakan metode ceramah dan membaca teks secara langsung tanpa variasi media. Padahal, metode yang monoton membuat siswa cepat bosan. Suyanto . menekankan bahwa pemanfaatan cerita rakyat dalam pembelajaran dapat membantu guru menanamkan nilai moral sekaligus meningkatkan minat belajar siswa. Minimnya penggunaan media audio-visual interaktif. Media digital seperti video dongeng, animasi, maupun pertunjukan wayang berbasis teknologi masih jarang digunakan dalam pembelajaran. Padahal, penggunaan media interaktif terbukti mampu meningkatkan konsentrasi dan pemahaman siswa. UNESCO . menyebut literasi digital sebagai kompetensi abad ke-21 yang harus diintegrasikan dalam proses pembelajaran agar peserta didik tidak hanya memahami isi teks, tetapi juga mampu menilai dan memanfaatkan media digital secara kritis. 3 Permasalahan Mitra Berdasarkan hasil analisis kebutuhan, diskusi bersama guru, serta pengamatan langsung di lapangan, dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang dihadapi mitra sebagai berikut: Siswa kurang fokus saat mendengarkan cerita dongeng. Guru belum memiliki instrumen analisis keterampilan menyimak yang efektif. Kurangnya variasi media pembelajaran menyimak. METODE PELAKSANAAN PENGABDIAN 1 Tahap Pelaksanaan Tahap pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan melalui beberapa langkah berikut: Tahap Persiapan Melakukan koordinasi dengan mitra . uru dan pihak sekola. Menyusun rencana kegiatan, jadwal, serta perangkat pembelajaran. Menyiapkan media pembelajaran berupa wayang Timun Mas . anual maupun berbasis digita. Menyusun instrumen evaluasi keterampilan siswa. Tahap Sosialisasi Memberikan penjelasan awal kepada guru dan siswa tentang tujuan kegiatan. Menyampaikan materi mengenai pentingnya keterampilan menyimak, literasi Islami, serta diplomasi budaya melalui cerita rakyat. Memotivasi guru agar dapat mengintegrasikan media berbasis budaya dalam pembelajaran. Tahap Pelatihan Memberikan pelatihan kepada guru mengenai penggunaan media wayang Timun Mas dalam pembelajaran menyimak. Memberikan pengenalan kepada siswa tentang cerita rakyat Timun Mas serta nilai-nilai karakter dan Islami yang terkandung di dalamnya. Mengajarkan siswa cara memanfaatkan teknologi digital sederhana untuk mendokumentasikan Tahap Implementasi Melaksanakan pembelajaran menyimak menggunakan media wayang Timun Mas. e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. Siswa berperan akif dalam kegiatan menyimak, kemudian diminta menceritakan kembali isi Guru mengintegrasikan nilai-nilai Islam dan budaya dalam proses pembelajaran. Tahap Evaluasi dan Refleksi Melakukan evaluasi keterampilan menyimak siswa melalui tes lisan mauppun tulisan. Melakukan observasi keterlibatan siswa selama pembelajaran. Melaksanakan refleksi bersama guru mengenai kelebihan dan kekurangan media yang Menyusun laporan kegiatan serta memberikan rekomendasi untuk pengembangan lebih lanjut. 2 Tugas dan Peran Anggota Tim Dalam pelaksanaan program pengabdian masyarakat ini, setiap anggota tim memiliki peran dan tugas yang berbeda sesuai dengan kompetensi masing-masing. Adapun pembagian peran tersebut adalah sebagai Ketua Tim Mengoordinasikan seluruh rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat. Menyusun rencana kerja, jadwal, serta memastikan kegiatan berjalan sesuai dengan tujuan. Bertanggung jawab atas penyusunan laporan akhir kegiatan. Menjalin komunikasi dan kerja sama dengan mitra . ihak sekolah/gur. Anggota Dosen Memberikan materi mengenai literasi Islam, moderasi beragama, dan diplomasi budaya. Mendampingi guru dalam pelatihan penggunaan media wayang Timun Mas. Membantu evaluasi hasil pembelajaran keterampilan menyimak siswa Mengkaji nilai-nilai karakter yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran. Mahasiswa Membantu persiapan media pembelajaran wayang Timun Mas, termasuk media digital. Mendampingi guru dan siswa selama proses implementasi pembelajaran Membantu mendokumentasikan kegiatan . oto, video, laporan lapanga. Mengumpulkan data hasil evaluasi keterampilan menyimak siswa. 3 Indikator Capaian Keberhasilan program pengabdian masyarakat ini diukur melalui beberapa indikator capaian berikut: Bagi Siswa Mampu meningkatkan keterampilan menyimak cerita dengan konsentrasi lebih baik. Dapat memahami isi, alur, dan pesan moral dari cerita rakyat Timun Mas. Menunjukkan pemahaman terhadap nilai-nilai Islam . ujur, berani, sabar, dan tolong menolon. Mampu menceritakan kembali isi cerita dengan bahasa sendiri. Bagi Guru Mampu menggunakan media wayang Timun Mas sebagai alternatif pembelajaran menyimak. Terampil mengintegrasikan nilai budaya dan Islam ke dalam proses belajar mengajar. Meningkatkan kreativitas dalam memanfaatkan media lokal maupun digital. Bagi Program Pengabdian Terdokumentasikannya kegiatan pembelajaran melalui media digital . oto, video, atau lapora. Terpublikasinya kegiatan sebagai bentuk diplomasi budaya dan penguatan literasi Islami. Memberikan kontribuasi nyata dalam memperkuat harmoni litas budaya dan lingkungan sekolah. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Kegiatan Kegiatan pengabdian masyarakat AuWayang Timun Mas: Diplomasi Budaya dan Literasi Nilai Islam untuk Harmoni Lintas BangsaAy dilaksanakan di Sanggar Bimbingan At-Tanzil. Malaysia pada 20 Agustus 2025. Kegiatan berjalan sesuai dengan tahapan yang telah direncanakan, yaitu: e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. Tahap Persiapan Tim pengabdian melakukan koordinasi dengan pihak sekolah mitra mengenai teknis pelaksanaan kegiatan. Media pembelajaran berupa wayang Timun Mas, modul cerita, serta instrumen evaluasi keterampilan menyimak berhasil disiapkan. Guru mitra menyatakan dukungan penuh dan menyediakan sarana pendukung pembelajaran . uang kelas, proyektor, dan perangkat audi. Tahap Sosialisasi Siswa diperkenalkan dengan pentingnya keterampilan menyimak dalam kehidupan sehari-hari, serta kaitannya dengan pembelajaran bahasa Indonesia. Guru diberikan pemahaman awal tentang cara mengintegrasikan nilai Islami dan moral dalam cerita rakyat. Tahap Pelatihan Siswa dikenalkan dengan tokoh-tokoh dalam cerita Timun Mas, serta pesan moral dan nilai Islami yang terkandung di dalamnya. Tim memberikan contoh praktik penyampaian cerita dengan media wayang sederhana maupun berbasis digital. Tahap Implementasi Pembelajaran menyimak dilakukan dengan menampilkan pertunjukan wayang Timun Mas. Siswa mengikut cerita dengan antusias, kemudian diminta untuk: Menjawab pertanyaan isi cerita. Menyebutkan nilai moral dan Islam yang terkandung dalam cerita. Menceritakan kembali alur cerita dengan bahasa mereka sendiri Guru mendampingi siswa dalam memahami pesan utama cerita dan mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Tahap Evaluasi Evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman siswa terhadap isi cerita. Siswa mampu menjawab pertanyaan isi cerita dengan lebih baik dibandingkan sebelum kegiatan. Terlihat peningkatan konsentrasi siswa selama proses menyimak. 2 Pembahasan Hasil kegiatan pengabdian menunjukkan bahwa penggunaan media wayang Timun Mas mampu meningkatkan keterampilan menyimak siswa sekaligus menanamkan nilai-nilai budaya dan Islam. Hal ini dapat dilihat dari antusiasme siswa saat mengikuti pembelajaran, kemampuan mereka menjawab pertanyaan isi cerita dengan lebih tepat, serta kemampuan mmenceritakan kembali alur cerita menggunakan bahasa Peningkatan keterampilan menyimak ini sejalan dengan pendapat Ubaidillah, dkk. yang menegaskan bahwa keterampilan menyimak merupakan pondasi utama bagi pengembangan keterampilan berbahasa lainnya. Dengan demikian, inovasi pembelajaran melalui media budaya lokal seperti wayang dapat menjadi solusi untuk mengatasi rendahnya minat dan konsentrasi siswa dalam menyimak. Lebih lanjut. Hutagalung. Nasution, & Rusli . menunjukkan bahwa metode storytelling terbukti meningkatkan keterampilan menyimak siswa kelas V sekolah dasar, karena media cerita membuat siswa lebih fokus dan termotivasi dalam belajar. Hasil ini sejalan dengan penelitian Bawamenewi. Laia. Laoli, & Gulo . yang juga membuktikan bahwa strategi storytelling dapat meningkatkan pemahaman mendengarkan melalui cerita yang dekat dengan kehidupan siswa. Pemanfaatan media wayang juga relevan dengan penelitian Salma & Wiranti . yang menemukan bahwa penggunaan media wayang kertas dapat meningkatkan keterampilan menyimak siswa secara signifikan, ditandai dengan kenaikan rata-rata nilai dari 59 pada pre-test menjadi 82 pada post-test. Penelitian Taftahjani. Kuntoro, & Pujiani . memperkuat hasil tersebut dengan menunjukkan bahwa model paired storytelling menggunakan media wayang kartun juga efektif meningkatkan keterampilan menyimak siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia. e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. Sejalan dengan perkembangan zaman, pembelajaran berbasis cerita rakyat dapat dipadukan dengan teknologi digital. Lestari & Pertiwi . menunjukkan bahwa digital storytelling mampu meningkatkan keterampilan menyimak siswa sekolah dasar secara signifikan, dengan hasil post-test lebih tinggi dibandingkan pre-test. Hal ini mendukung gagasan bahwa pengembangan media wayang Timun Mas berbasis multimedia di masa depan akan semakin meningkatkan efektivitas pembelajaran sekaligus memperluas diplomasi budaya Indonesia di era global. Dari sisi literasi budaya. Misriani. Kurniawan, & Cintari . menegaskan bahwa pembelajaran sastra berbasis kearifan lokal memiliki peran penting dalam memperkuat karakter dan identitas budaya siswa, khususnya di era digital pasca pandemi. Hal ini menunjukkan bahwa integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran, termasuk keterampilan menyimak, dapat menjadikan siswa tidak hanya terampil berbahasa, tetapi juga memahami nilai budaya yang hidup di masyarakatnya. Dengan demikian, hasil pengabdian ini tidak hanya meningkatkan keterampilan menyimak siswa, tetapi juga menanamkan nilai karakter Islami dan melestarikan budaya lokal. Program ini memberikan kontribusi nyata bagi mitra dalam meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia sekaligus memperkuat diplomasi budaya lintas bangsa. Gambar 1. Pengabdian Masyarakat di Sanggar Bimbingan At-Tanzil. Malaysia 20 Agustus 2025 KESIMPULAN DAN UCAPAN TERIMA KASIH Kesimpulan Kegiatan pengabdian yang dilaksanakan dengan menggunakan media wayang Timun Mas telah memberikan dampak positif bagi mitra. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa media berbasis budaya lokal efektif dalam meningkatkan keterampilan menyimak siswa, ditunjukkan melalui peningkatan konsentrasi, kemampuan memahami isi cerita, serta keterampilan menceritakan kembali dengan bahasa sendiri. Selain itu, cerita rakyat Timun Mas sarat dengan pesan moral seperti kejujuran, keberanian, kesabaran, dan kecerdikan, yang dapat menumbuhkan karakter Islami pada siswa. Guru dan sekolah mitra juga mendapatkan manfaat berupa pengalaman baru dalam memanfaatkan media tradisional sebagai sarana pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Dengan demikian, program pengabdian ini bukan hanya berkontribusi pada peningkatan keterampilan bahasa siswa, tetapi juga berperan dalam pelestarian budaya lokal serta memperkuat diplomasi budaya Indonesia lintas bangsa. Ucapan Terima Kasih Puji syukur kehadirat Allah SWT atas selesainya kegiatan pengabdian masyarakat berjudul AuWayang Timun Mas: Diplomasi Budaya Dan Literasi Nilai Islami Untuk Harmoni Lintas BangsaAy. Tim pengabdian menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Universitas Alwashliyah Medan dan FKIP atas dukungan yang diberikan, serta kepada LPPM Universitas Alwashliyah Medan, khususnya Dr. Yurmaini, . , atas bimbingan dan fasilitas administratifnya. Apresiasi tinggi juga kami sampaikan kepada pihak mitra, yaitu pengelola, guru, dan siswa di Sanggar Bimbingan At-Tanzil. Malaysia, yang telah memfasilitasi sarana tempat dan berpartisipasi dengan penuh antusias. Terakhir, terima kasih kepada seluruh anggota tim pengabdian atas kerja sama solidnya, dengan harapan semoga kegiatan ini membawa manfaat luas bagi pelestarian budaya dan pengembangan literasi. e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. Daftar Pustaka