Sikap Empati Pelaku Bullying Peserta Didik SMA SIKAP EMPATI PELAKU BULLYING PESERTA DIDIK SMA Pramesti Widya Cahyani Jurusan Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universita Negeri Surabaya 20019@mhs. Bakhrudin All Habsy Jurusan Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya bakhrudinhabsy@unesa. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menjelaskan secara lebih tepat mengapa pelaku bullying memiliki empati rendah dalam perilaku bully. Selanjutnya perlu diketahui ilustrasi empati pelaku bullying di SMA sangat banyak terjadi. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan studi Individu yang terlibat pada penelitian ini terdapat dua yang dipilih berdasarkan teknik purposive sampling, dan teknik pengumpulan data berdasarkan observasi serta wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab terjadinya perilaku bullying yang dilakukan oleh pelaku bullying antara lain adalah karakteristik korban, sikap korban, tradisi, serta budaya bullying di sekolah. Para pelaku bullying juga melakukan intimidasi karena mereka memiliki empati rendah. Tidak mampunya pelaku kekerasan berempati berarti mereka tidak bisa melihat sudut pandang orang lain, kurang mengenali emosi orang lain, serta kurang tepatnya mengungkapkan kekhawatirannya. Dampak berkurangnya empati pelaku, pelaku tidak memahami keadaan korban, tidak memedulikan korban, serta cenderung melakukan tindak kekerasan terhadap orang dan Seseorang melakukan perilaku bullying ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya pola asuh, balas dendam, menonton media masa, dan juga lingkungan sekitar. Sehingga empati harus dimiliki oleh seseorang karena agar dapat merasakan apa yang dirasakan setiap orang sehingga dapat menjadikan hidup lebih bermakna bagi diri sendiri maupun orang lain. Kata Kunci : pelaku bullying, siswa SMA, empati ABSTRACT The purpose of this study is to identify and explain more precisely why bullying perpetrators have low empathy in bully behavior. Furthermore, it is necessary to know the illustration of empathy of bullying perpetrators in high school is very much happening. This research includes qualitative research that uses a case study approach. There are two individuals involved in this study who were selected based on purposive sampling technique, and data collection techniques based on observation and in-depth interviews. The results showed that the causes of bullying behavior carried out by bullying perpetrators include victim characteristics, victim attitudes, traditions, and bullying culture at school. The bullying perpetrators also bully because they have low empathy. The abusers' inability to empathize means that they cannot see other people's point of view, do not recognize other people's emotions, and do not accurately express their concerns. The impact of the perpetrators' lack of empathy is that the perpetrators do not understand the victim's situation, do not care about the victim, and tend to commit acts of violence against people and victims. Someone committing bullying behavior can be caused by several factors including parenting, revenge, watching mass media, and also the surrounding environment. So empathy must be possessed by someone because in order to feel what everyone feels so that it can make life more meaningful for yourself and others. Keywords: bullying, high school students, empathy Sikap Empati Pelaku Bullying Peserta Didik SMA . bullying seksual berupa kekerasan fisik, verbal, ataupun relasional. Misalnya pemerkosaan, menyebarkan rumor seksual, menyentuh bagian pribadi seseorang, ciuman paksa, dan sebagainya. Bersumber pada beberapa penelitian, ditemukan korelasi positif antara perilaku bullying dan rendahnya keterampilan empati. Dengan meningkatkan empati maka perilaku bullying dapat dikurangi. Selain itu individu dicirikan oleh penggunaan kekerasan untuk mengontrol orang lain dan menunjukkan sedikit ataupun tidak adanya empati terhadap korbannya. Menurut Goleman . , pelaku bullying mungkin berbohong pada dirinya sendiri untuk membenarkan tindakannya karena mereka tidak mampu mendeteksi penderitaan korbannya. Pembenaran diri ini didasarkan pada pernyataan orang-orang yang pernah dirawat karena masalah ini. Mereka menggunakan bahasa pembenaran ketika menyerang atau bersiap menyerang korbannya. Empati ialah salah satu elemen pentingdalam korelasi antarmanusia dengan selaku konstruksi multidimensi yang meliputi komponen kognitif dan afektif . Empati ada kalanya ditafsirkan sebagai berbagi perasaan secara emosional dengan orang Goleman . mengartikan empati sebagai kemampuan untuk mengetahui perasaan orang lain, sedangkan (Sari, dkk. mengartikan empati sebagai kebolehan untuk mengetahui perasaan orang lain perasaan dan pikiran orang lain tanpa fokus pada apa yang diperlukan. Terjebak dalam emosi dan reaksi orang Para pelaku bullying dan pelaku kurang memiliki empati, yaitu kemampuan menilai bagaimana tindakan mereka memengaruhi emosi orang lain dan berempati terhadap emosi orang lain. Selain itu, pelaku bullying mungkin memiliki penyimpangan kognitif dan kognisi sosial yang dapat menyebabkan mereka menerima masalah lingkungan dengan cara yang bias, sehingga membuat perilaku agresif menjadi kurang efektif dalam memecahkan masalah (Merrell & Isava, 2. Beberapa peneliti juga setuju bahwa pelaku bullying memiliki sifat kognitif yang tidak berperasaan yang membuat mereka tidak mampu memahami perasaan orang lain, dan jika korban merasa tertekan, itu berarti perilaku pelaku bullying diperkuat . nzkan & Cifci, 2. Bavolek . mengkategorikan empati menjadi dua aspek yang tidak dapat dipisahkan: aspek emosional, atau kemampuan berbagi emosi dengan orang lain, dan aspek kognitif, atau kemampuan memahami emosi dan sudut pandang orang lain. Di sisi lain dapat didefinisikan dimensi kognitif sebagai dua bidang: kemampuan menempatkan diri dalam perspektif orang lain . engambilan perspekti. dan imajinasi . , dan dimensi emosional sebagai empati . dengan fokus pada aspek pribadi . isalnya PENDAHULUAN Latar Belakang Menurut Prayudha, perilaku pelecehan atau yang biasa disebut dengan bullying kini semakin banyak terjadi di kalangan remaja, khususnya di sekolah. Ada juga yang menyatakan bahwa frekuensi perilaku bullying di sekolah meningkat selama dasa warsa Kekerasan pada teman di sekolah menjadi perhatian untuk guru serta sekolah di kebanyakan kota di Bukti yang ada menunjukkan perilaku bullying di sekolah mempunyai beragam dampak negatif bagi pelaku juga korbannya. Perilaku bullying menghadirkan kenyataan yang AuunikAy dan AuberbedaAy. Bullying melibatkan serangan, intimidasi, serta perlawanan kepada korban yang jauh lebih lemah dibandingkan pelaku intimidasi . elaku bullyin. , dengan perbedaan kekuatan fisik, kekuatan sosial, kekuatan psikologis, dan faktor lainnya . diartikan sebagai jenis tindakan yang berulang . Orpinas dan Horne . mengatakan bahwa bullying ialah sekelompok perilaku agresif yang ditandai dengan ketidakseimbangan kekuasaan dan tindakan disengaja maupun tidak sengaja yang dilakukan berulang kali dalam jangka waktu yang lama. Ketakseimbangan kekuasaan berarti adanya kesenjangan atau perbedaan jarak kekuasaan antara pelaku intimidasi dan korban. Pelaku mempunyai kuasa lebih besar daripada Kekuasaan yang lebih besar bagi pelaku kekerasan dapat berasal dari status/jabatan, popularitas, kecerdasan, atau sikap pelaku yang lebih tinggi dibandingkan korbannya. Selanjutnya, kekuatan pelaku melakukan bullying bukan hanya didasarkan pada karakteristik individu melainkan pula pada hubungan dengan kelompok sosial lainnya. Misalnya, anak-anak diajari oleh teman sebayanya bahwa penindasan adalah strategi penyelesaian masalah yang tepat. Penindasan dapat terjadi di sekolah, di tempat kerja, dan bahkan di Internet. Bullying di sekolah dapat terjadi antara guru dan siswa, atau teman sebaya (Sejiwa, 2. Ada berbagai jenis bullying: bullying secara fisik adalah bullying yang mengakibatkan kematian, kecacatan, atau cedera. Contoh tindakan antara lain, pembunuhan, perkelahian dengan senjata, pukulan, tendangan, dorongan, gigitan, pencabutan rambut, cakaran, pelemparan, pengrusakan harta benda. bullying verbal merupakan bullying berupa kata-kata yang menimbulkan dampak psikologis maupun emosional yang tidak menyenangkan. Contoh: Penyebutan nama, hinaan, julukan, dll. Sikap Empati Pelaku Bullying Peserta Didik SMA kepentingan pribad. dan aspek pribadi. Aspek tersebut terbagi menjadi tekanan . ersonal stres. Empati menjadi faktor risiko dan solusi terhadap perilaku bullying di sekolah. Sebuah studi yang dilakukan oleh Gini. Albiero. Benelli, dan Altoe . menunjukkan bahwa perilaku bullying dikaitkan dengan tingkat empati yang lebih rendah terhadap pelaku intimidasi laki-laki. Penelitian Jolliffe dan Farrington . menunjukkan hasil yang lebih konkrit. Jolliffe dan Farrington menemukan bahwa pelaku bullying laki-laki memiliki tingkat empati kognitif dan emosional yang lebih rendah. Di sisi lain, perempuan pelaku bullying memiliki empati yang rendah dalam hal cinta. Hasil kedua penelitian tersebut menunjukkan bahwa berkurangnya empati dapat mendorong perilaku bullying. Pada sebuah penelitian. Gini. Albiero. Benelli, dan Altoy . menemukan bahwa empati mungkin merupakan cara lain untuk mengurangi perilaku bullying di sekolah dengan meningkatkan empati terhadap pelaku dan orang yang menyaksikan insiden bullying. Hasil ini didukung oleh penelitian Caravita dan Blasio . , serta ynzkan dan Cifci . Bullying adalah ketika seseorang menggunakan kekuasaan maupun posisinya untuk menyakiti, mengintimidasi, atau mempermalukan orang lain. Penindasan bisa bersifat fisik, verbal, atau sosial. Ketika dua siswa berdebat atau berkelahi menggunakan kekuatan yang sama, hal itu tidak disebut bullying (Studi oleh Olweus dan Limber, 2. Menurut Olweus & Solberg . , tiga unsur utama dalam pengertian bullying ialah niat guna menyakiti korban, pengulangan, dan ketidakseimbangan kekuasaan antara korban dan bullying didefinisikan pada berbagai literatur berupa perilaku berulang . ermasuk tindakan verbal dan fisi. yang terjadi seiring waktu dalam hubungan yang ditandai dengan ketidakseimbangan kekuasaan dan Beberapa bullying dianggap sebagai agresi proaktif karena mengganggu pencarian target, jarang diprovokasi, dan terjadi dalam jangka waktu lama (Espelage dan Holt, 2007 ). Solberg & Olweus . menyatakan bahwa perilaku bullying tergolong dalam verbal Perilaku ini ditunjukkan dengan mengucapkan hal yang menyakiti hati . enceritakan leluco. , memanggil seseorang dengan namanya atau menyebut untuk menyebarkan isu palsu tentang seseorang. Mengeluarkan seseorang dari kelompok teman, dengan sengaja menjauhkan orang tersebut dari sesuatu, atau mengirimkan catatan untuk memicu siswa lain tidak menyenangi orang Fisik. Perilaku ini berupa tindakan menendang, mendorong, menggoda atau mengancam, serta tindakan yang dimaksudkan untuk menimbulkan Garrett . mengemukakan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi perilaku bullying yaitu faktor keluarga, faktor sekolah, faktor komunitas atau lingkungan, dan faktor kepribadian, dan juga kurangnya empati terhadap penderitaan orang lain. Empati melibatkan kemampuan merasakan keadaan emosi orang lain, merasakan simpati, berupaya memecahkan suatu masalah, dan mengadopsi sudut pandang orang lain (Davis dalam Andreansyah, 2. Kritikus Modern (Taufik 2. menerangkan bahwa empati terdiri dari dua komponen: keramahan dan empati. Unsur kognitif yang membedakan sura moralina vegamica dengan emosi orang lain. Komponen emosional dari empati ditandai dengan respons emosional yang sama atau serupa yang terkait dengan pengalaman emosional lainnya. Secara khusus, faktor ini menggambarkan kesesuaian antara emosi seseorang dan emosi orang lain. Dengan kata lain, empati emosional merupakan perasaan terhadap emosi orang lain (Muno et al. , 2. Davis (Nashori, 2. menyebutkan empat aspek empati, yaitu: Pengambilan perspektif, tendensi seseorang secara spontan menerima sudut pandang orang lain. Imajinasi, bertransformasi secara imajinatif dengan mengalami emosi beserta tindakan karakter imajiner dalam buku, film, dan drama yang dibaca atau Kepedulian empatik, yaitu perasaan simpati kepada orang lain dan kepedulian terhadap kesusahan orang lain. Stres pribadi, yakni ketakutan pribadi terhadap egosentrisme atau ketakutan terhadap situasi interpersonal yang tidak menyenangkan, kadangkadang disebut empati negatif. Tujuan dari adanya penelitian ini adalah untuk menyelidiki secara lebih rinci perilaku empati pelaku bullying dan menjelaskan alasan mengapa pelaku bullying melakukan perilaku bullying. Terdapat dua bagian manfaat dari penelitian ini yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis. Secara teoritis, penelitian ini kelak bisa memberikan kontribusi positif bagi perkembangan ilmu psikologi pada umumnya dan psikologi pendidikan pada khususnya mengenai perilaku empati pelaku bullying . alam hal ini sisw. di sekolah. Manfaat praktis yang diharapkan dari penelitian ini yaitu baik pelaku bullying maupun subjek penelitian, serta pihak sekolah Sikap Empati Pelaku Bullying Peserta Didik SMA dan masyarakat umum, akan diberikan informasi mengenai perilaku empati pelaku intimidasi dan akan mampu mengurangi dampak yang ditimbulkan dari perilaku bullying tersebut berarti mereka akan mampu memanfaatkan perilaku empati yang diketahui. Penelitian ini dapat digunakan untuk mengurangi terjadinya perilaku bullying. Berdasarkan penjelasan tersebut, peneliti tertarik untuk menyelidiki perilaku empati pelaku bullying METODE Dalam penelitian yang dilakukan, menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Tema penelitian dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Pemilihan subjek berdasarkan kriteria di atas didasarkan pada teknik purposive sampling. Dengan kata lain, subjek penelitiannya adalah dua remaja pelaku intimidasi di bangku SMA. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ialah observasi non-terlibat dan wawancara . awancara mendala. Pertanyaan dari responden bersifat terbuka. Data yang diperoleh dalam penelitian berupa transkrip wawancara verbatim. Kami kemudian menganalisis secara kualitatif transkrip kata demi kata dari wawancara ini. Kemudian kami melakukan analisa secara kualitatif transkrip kata demi kata dari wawancara. Namun, transkrip tersebut dilakukan analisa terlebih dahulu secara kualitatif melalui pengkodean, klasifikasi, dan interpretasi. Secara kualitatif, metode analisis transkrip verbatim adalah analisis tematik. Analisis tematik adalah proses pengkodean informasi yang dapat menghasilkan daftar topik, model atau indikator topik yang kompleks, kualifikasi yang kebanyakan dikaitkan dengan suatu topik, atau apa pun di antaranya, atau kombinasinya (Poerwandari, 2. Reliabilitas dalam penelitian ini dicapai dengan menggunakan teknik triangulasi sumber. Reliabilitas mengacu pada seberapa akurat hasil penelitian dari sudut pandang peneliti, partisipan atau subjek penelitian, dan pembaca laporan. DATA TEKS Perilaku Bullying Sikap Empati Bullyin KODE DATA DT/SJW/2008 DT/OKN&CFI/200 Alasan Sikap Pelaku Bullying DT/SJW/2008 DT/PWIK/2007 Emphaty Level on Peer Bullying Schools. Humanity Social Sciences Journal Data teks. Buku karya: Sejiwa. Tahun Bullying Data teks. Buku Poerwandari, . Tahun 2007. Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia HASIL DAN PEMBAHASAN Perilaku Bullying Mereka tidak menyadari atau mengakui bahwa tindakan tersebut merupakan bullying. Mereka juga menampik bahwa tindakan mereka merupakan kekerasan sebab mereka yakin akan dikucilkan jika melakukan hal Berdasarkan kedua pelaku, gaya bercanda siswa Sekolah X adalah sebagai berikut: Ternyata salah satu korbannya adalah seorang anak pendiam yang tidak menganggap temannya sebagai keluarga. Misalnya, jika seorang korban diminta membantu temannya dalam hal pendidikan, mereka tidak mau melakukannya. Dia hanya akan bercanda, mengolok-olok satu sama lain. Selain menyebut nama, cara bercanda yang dilakukan A adalah menyinggung korbannya. Misalnya, saat korban sedang menulis, ia diraba-raba dan mejanya ditendang, namun ia tidak dipukul dengan keras . Bagi mereka, perilaku mereka adalah hal biasa. Menurutnya, tidak mungkin bersekolah tanpa adanya konflik antar siswa. Konflik yang terjadi di sekolah biasanya tidak Perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan kedua subjek tersebut tidak hanya ditujukan kepada salah satu korban saja, namun juga kepada teman lainnya melalui tindakan fisik seperti memukul, berkelahi, dan mengejek orang lain. Perilaku perundungan yang dilakukan kedua sasaran tersebut dilakukan tanpa adanya rasa takut bahwa korban akan terluka, tidak senang, atau tertekan atas perbuatan KETERANGA Data teks. Buku karya: Sejiwa. Tahun Bullying Data teks. Buku karya: Ozkan & Cifci. Tahun judul The Effect Sikap Empati Pelaku Bullying Peserta Didik SMA Seringkali pelaku tidak berkomunikasi langsung dengan korbannya. Para korban biasanya tidak memprotes bahwa perlakuan seperti itu tidak dapat Menurut mereka, jika korban memberi tahu, mereka tidak akan melakukannya. Perilaku bullying banyak disebabkan oleh beberapa faktor. Adapun ahli yang berpendapat bahwa faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku bullying antara lain: . Kepuasan diri, kepuasan diri yang didapat seorang individu akan menimbulkan rasa berkuasa dibandingkan yang lainnya karena ia telah menunujukkan kekuatan dirinya kepada orang lain. Dengan demikian, individu yang melakukan perilaku bullying akan mempersepsikan dirinya sebagai seseorang yang berkuasa dan popular. Minimnya empati yang dimiliki, hal ini mengakibatkan pelaku tidak bisa merasakan apa yang dirasakan oleh korbannya. Rendahnya rasa empati yang dimiliki pelaku ini membuat pelaku memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk menindas korbannya. Tidak memiliki teman. Hal ini membuat pelaku menjadi merasa takut bahwa dia akan menjadi korban suatu saat nanti dikatenakan karena tidak mempunyai teman, oleh sebab itu, pelaku bullying ini berinisiatif untuk menindas orang lain lebih dulu agar diakui dan ditakuti yang . Balas dendam. Hal ini juga dapat terjadi pada mantan korban bullying, mereka cenderung akan melakukan hal serupa yang bermaksud untuk melampiaskan apa yang telah terjadi pada dirinya di masa lalu selama menjadi korban perilaku bullying (Kusuma & Pratiwi, 2. Ada beberapa ciri-ciri atau karakteristik yang dapat dilihat untukmengetahui apakah seorang anak tersebut merupakan pelaku bullying atau korban bullying. Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ari Hermansyah (Hermansyah, 2. ciri-ciri yang ditunjukkan oleh anak yang menjadi korban bullying adalah sebagai berikut: . Anak menjadi lebih pendiam dan penurut, . Anak terlihat lemah, . Anak tidak termotivasi untuk belajar maupun berkegiatan yang lain, . Susah berkonsentrasi, . Sering melamun, . Sering menghabiskan waktu dengan berdiam diri ataupun mengurung diri di kamar daripada bersosialisasi dengan keluarga, . Kehilangan selera makan, . Sering mudah marah, . Tampak lebih sensitif dan emosional, . Mulai menunjukkan perilaku agresif pada temantemannya, . Perilaku yang bertambah buruk, . Mulai menarik diri dan tidak banyak bersosialisasi dengan temannya, . Rendahnya minat belajar serta banyak tugas sekolah yang terbengkalai, . Berusaha menyakiti diri sendiri. Dalam hal ini, maka tugas guru BK lah yang membantu siswa dalam memecahkan berbagai masalah siswa, salah satunya kasus perundungan / bullying. Sangat dibutukan layanan bimbingan dan konseling untuk membantu siswa, oleh sebab itu siswa perlu untuk mendapatkan bimbingan yang tepat dengan media yang Salah satu jalan alternatifnya dengan melakukan layanan konseling kelompok berpusat pada pribadi untuk mengurangi perilaku bullying. Menurut Prayitno . konseling kelompok merupakan upaya untuk membantu sekelompok siswa agar kelompok itu menjadi besar, kuat, dan mandiri, melalui dinamika kelompok siswa mampu untuk mencapai tujuan-tujuan dalam bimbingan dan konseling yang berorientasi pada pengembangan individu, pencegahan, dan pengentasan masalah. Juntika Nurihsan . alam Kurnanto, 2013:. mengatakan bahwa konseling kelompok adalah suatu bantuan kepada individu dalam sitiasi kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan serta diarahkan pada pemberian kemudahan dalam perkembangan dan Semua tanda-tanda diatas menunjukkan bahwa anak memiliki energi yang rendah sehingga akan mudah untuk melakukan perilaku yang menyimpang. Sedangkan untuk pelaku bullying memiliki ciri-ciri sebagai berikut: . Lebih mendominasi anak lain, . Suka memanfaatkan anak lain, . Sulit melihat situasi dari sudut pandang anak lain, . Egois karena hanya lebih peduli dengan keinginan dan kesenangannya sendiri, . Saat tidak dalam pantauan orang dewa, mereka cenderung melukai anak lain, . Memandang orang lain lebih rendah, . Sulit untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah mereka perbuat, . Acuh tak acuh dengan masa depan, . Suka mencari perhatian. Tindakan yang mengindikasikan perilaku bullying menurut Andrew Mellor . alam Angraini, 2. yang terjadi antara korban dan pelaku dapat ditandai dengan perilaku sebagai berikut: . Menyisihkan seseorang dari pergaulan, . Menyebarkan gosip, membuat julukan yang bersifat ejekan, . Mengerjai seseorang untuk mempermalukan, . Mengintimidasi atau mengancam korban, . Melukai secara fisik, dan . Melakukan Dari semua ciri-ciri dan karakteristik di atas maka kita dapat mengetahi anak atau remaja yang menjadi korban atau pelaku bullying. Dengan demikian, hal tersebut mempermudah kita untuk melalukan tindakan lebih lanjut (Angraini, 2. Namun, bullying juga dapat terjadi karena korban memprovokasi korbannya untuk melakukan tindakan tersebut, misalnya dengan menanggapi perundungan atau melakukan perlawanan ketika dimintai uang atau barang lainnya. Kedua subjek mengaku tak menyesal melakukan tindakan tersebut sebab yakin apa yang dilakukannya adalah benar. Perilaku bullying yang dilakukan kedua pelaku meliputi perilaku bullying secara Sikap Empati Pelaku Bullying Peserta Didik SMA fisik, relasional, dan verbal. Subjek dalam penelitian ini melakukan perilaku bullying secara fisik seperti memukul korban, merusak barang korban, dan menyepak meja korban sehingga korban tidak bisa menulis atau belajar di Sebaliknya, perundungan relasional berbentuk penyebaran pesan bahwa korban tidak ingin berteman, tidak mau membantu teman-temannya belajar, pelit, atau menceritakan hal-hal buruk lainnya tentang dirinya kepada teman-temannya. Selain itu, kedua subjek sering mengalami bullying verbal. Pada dasarnya, kedua pelaku kurang berempati terhadap orang lain, terutama korbannya. Ciri khas dari individu ini adalah mereka tetap tenang dan tetap tenang meskipun menerima perlakuan tidak menyenangkan dari korbannya, seperti dipukul, dihina dengan kata-kata yang tidak pantas, atau dipermainkan. Mereka juga tidak melakukan tindakan nyata dengan berbuat baik dan sikap positif untuk membantu korban bersosialisasi di lingkungan sekolah jika korban pendiam dan tidak mempunyai teman. Kendati kedua partisipan merasa apa yang dilakukannya bukanlah perundungan, namun ada pula korban yang justru AuditindasAy oleh pelakunya. Bullying adalah salah satu bentuk kekerasan yang terjadi antara pelaku dan korban, dimana korbannya adalah orang yang tidak berdaya. Dengan kata lain, apa yang dilakukan pelaku sebenarnya adalah bullying. Selain itu, kedua pelaku juga melakukan perbuatan serupa terhadap beberapa siswa. Berdasarkan sudut pandang kedua pelaku, kami yakin bahwa perilaku korban perlu diubah. Bullying dianggap biasa, seperti siswa saling mengejek, mempermalukan seseorang di depan umum, atau menghina seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa perundungan . adalah suatu kenyataan yang wajar dan terjadi sehari-hari. Akan tetapi, hal ini menunjukkan mengapa penindasan masih berlangsung begitu lama dan sudah mendarah daging dari generasi ke generasi. Ada meremehkannya, dan melihatnya sebagai proses dari tumbuh kembang alami anak. Lebih jauh lagi, ditemukan juga pelaku bullying kemungkinan besar hanya mengulangi apa yang mereka lihat atau alami DT/SJW/2008. Pernyataan ini sesuai dengan hasil penelitian ini. Kedua peneliti yang melakukan bullying memandang perilaku mereka sebagai sesuatu yang biasanya sering dilakukan teman lain. Bullying merupakan tindakan kekerasan yang sering terjadi di lingkungan sekolah. Tindakan kekerasan dan bullying ini biasanya bersumber dari lingkungan sosial dan lingkungan sekitar pelaku. Adapun dalam hal ini subjek melakukan hal tersebut karena dianggap lazim dan merupakan tradisi kelompoknya. Tradisi bullying ini cenderung menjadi tradisi yang diwariskan kepada generasi berikutnya dalam kelompok, umumnya karena pengaruh teman sebaya. Perilaku bullying di dalam kelas biasanya terjadi karena guru lalai saat siswa harus menyelesaikan suatu tugas atau saat pergantian kelas. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan DT/SJW/2008 bahwa bullying dapat terjadi di lingkungan sekolah, apalagi di luar pengawasan guru dan orang tua. SIKAP EMPATI PELAKU BULLYING Guru yang menyadari potensi penindasan harus lebih sering memeriksa area seperti ruang kelas, lorong sekolah, kafetaria, halaman, halaman, dan toilet ketika siswa tidak mengharapkan untuk diperiksa. Kurangnya kesadaran target terhadap tindak kekerasan yang dilakukan juga sangat dipengaruhi oleh kurangnya empati pelaku. Diketahui bahwa pelaku cenderung memiliki tingkat empati yang rendah, artinya pelaku mengungkapkan rasa simpati, kepedulian terhadap korban, dukungan terhadap korban dalam menghadapi lingkungan, atau emosi, sikap, dan perilaku lainnya emosi khusus apa pun seperti menunjukkan. Misalnya, setelah menghadapi kejadian bullying, pelaku mungkin merasa kasihan pada korbannya, namun perasaan tersebut hanya perasaan sementara tanpa ada reaksi lebih lanjut. Sebab pada kenyataannya, pelaku akan terus melakukan hal yang sama kepada orang lain. Akibat kurangnya kepekaan empati pelaku, korban tidak mampu memahami kondisi korban, tidak peduli terhadap korban, dan cenderung melakukan tindakan kekerasan terhadap orang lain dan korban. Meskipun pelaku mungkin merasa bersalah, namun targetnya mungkin juga percaya bahwa tindakan tersebut dibenarkan oleh aturan dan standar perilaku dalam kelompok, sehingga pelaku biasanya memberikan dampak negatif pada korban. Berhentilah menindas korban, bukan karena rasa kasihan. Sedangkan bagi korbannya sendiri kemungkinan besar disebabkan oleh perasaan malas atau tidak ingin membuat masalah lagi dengan korban. Penelitian sebelumnya menemukan hubungan positif antara perilaku bullying dan rendahnya empati DT/OKN&CFI/2009. Yang lain menjelaskan bahwa ketika wawasan dan kemampuan kognitif anakanak bertumbuh, mereka secara bertingkat belajar mengenali isyarat emosional orang lain dan menerjemahkan kekhawatiran mereka ke dalam tindakan yang tepat. Kedua pelaku pelaku bullying dalam penelitian ini menjadi pelaku bullying karena memiliki empati yang rendah. Orang dengan tingkat empati yang tinggi cenderung menolong dan membantu mereka yang membutuhkan, sedangkan anak dengan tingkat empati yang rendah cenderung menjauhkan diri dari anak yang membutuhkan, bahkan ada yang menjadi agresif. Perilaku empati dapat ditandai oleh aspek kognitif Sikap Empati Pelaku Bullying Peserta Didik SMA empati, yang berhubungan dengan kemampuan memahami emosi dan sudut pandang orang lain. Dengan kata lain, empati mengacu pada kemampuan kognitif untuk mengerti keadaan mental dan emosional orang lain, atau wawasan sosial. Empati adalah kemampuan untuk mengambil peran orang lain dan melihat diri sendiri dari sudut pandang orang lain. Di sisi lain. Yazemin Ozkan dan Elif Cifci . menyebut empati sebagai kemampuan seseorang untuk mengambil posisi orang lain dan memandang permasalahan orang lain dari sudut pandang orang tersebut. Pelaku intimidasi ditandai dengan mengendalikan orang lain melalui kekerasan dan menunjukkan sedikit atau tidak ada empati terhadap korbannya. Ternyata sikap diam para korban tidak serta merta menjadikan mereka sasaran perundungan. Jika seseorang bersikap tegas dan menolak menuruti tuntutan pelaku, hal ini juga bisa menjadi alasan pelaku melakukan perundungan terhadap Terlebih lagi, ketika situasi ini diperkuat oleh organisasi dan pihak yang berwenang, dalam hal ini budaya sekolah, perilaku bullying semakin meningkat dan berkembang seiring berjalannya waktu dan terjadi lintas generasi, terutama tanpa adanya pencegahan dan intervensi yang dilakukan oleh organisasi dan lembaga. Ada sekolah untuk mengatasi perilaku intimidasi. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi berkembangnya perilaku bullying. ALASAN SIKAP PELAKU BULLYING Inilah mengapa empati menjadi landasan terpenting dalam membangun hubungan, dalam hal ini persahabatan dengan teman sebaya. Hubungan akan sehat jika dimulai dengan empati, sehingga memungkinkan Anda memahami sudut pandang orang lain. Karena pelaku kurang empati maka ia akan menyangkal dirinya yang melakukan perundungan. Kedua pelaku bersikukuh bahwa perbuatannya bukanlah bagian dari kekerasan karena kekerasan tidak boleh terjadi di sekolah. Mereka condong tidak menempatkan diri pada posisi korban, sehingga ketika korban dihina, diejek, atau dijadikan sasaran perundungan dalam bentuk lain, pihak yang bersangkutan tidak mampu memahami atau merasakan emosi korban. Mereka menindas korbannya karena tidak memahami kondisi mental dan emosional Pelaku hanya menganggap perilaku seperti itu sebagai hal yang normal dalam kelompoknya. Kurangnya kepekaan terhadap kondisi orang lain berimbas pada orang yang tidak dapat memahami kondisi korban dan perasaan sedih, tidak nyaman, dan terhina yang dirasakannya. Artinya ketika bullying terjadi, pelaku sama sekali tidak mempertimbangkan perasaan korban. Faktor penyebab terjadinya bullying di sekolah diantaranya adalah sifat korban yang pendiam, sikap korban yang tidak menuruti keinginan pelaku, dan adanya tradisi yang ada di lingkungan sekolah. Temuan ini sejalan dengan anggapan bahwa siswa yang tidak bisa akur lebih besar kemungkinannya menjadi korban bullying DT/SJW/2008. Selain itu, ada pemahaman di kalangan sebagian masyarakat bahwa perilaku bullying merupakan upaya untuk memberikan pelajaran DT/PWIK/2007. Pelaku dalam penelitian ini melakukan perundungan terhadap korban untuk memberikan pelajaran agar korban bisa berinteraksi dengan korban dan teman lainnya. Sikap pelaku yang merasa lebih baik dari korbannya seringkali menyebabkan sasarannya . melakukan perilaku bullying terhadap PENUTUP KESIMPUAN Para pelaku bullying melakukan bullying karena mereka memiliki empati yang rendah. Ketidakmampuan pelaku kekerasan untuk berempati menunjukkan mereka tidak mampu dalam melihat sudut pandang orang lain, mengenali emosi orang lain, dan mengungkapkan kekhawatirannya dengan tepat. Kurangnya kepekaan terhadap kondisi orang lain berimbas pada orang yang tidak dapat memahami kondisi korban dan perasaan sedih, tidak nyaman, dan terhina yang dirasakannya. Artinya ketika bullying terjadi, subjek sama sekali tidak Penyebab terjadinya perilaku bullying antara lain adalah perbedaan antara korban dan pelaku, sikap korban terhadap pelaku, serta tradisi dan budaya perilaku bullying di sekolah. Faktor lingkungan yang menyebabkan terjadinya perilaku bullying mungkin ada beberapa hal. Berdasarkan temuan tersebut, ada beberapa petunjuk yang bisa diberikan kepada pelaku. Para pelaku intimidasi cenderung memiliki empati yang rendah. Subjek membuktikan kurangnya simpati, rasa bersalah, dan keinginan dalam memahami kondisi korban. Sikap empati pelaku intimidasi dapat ditingkatkan dengan mengubah persepsi dan pola pikirnya, serta menempatkan dirinya pada posisi korban. Hal ini juga dapat ditingkatkan dengan berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan sosial, sehingga Anda dapat lebih memahami situasi orang lain, terutama mereka yang menjadi korban Bullying umumnya terjadi pada orang-orang yang sulit bergaul dengan orang lain, memiliki rasa percaya diri yang rendah, lemah, dan kurang berani untuk berdiri teguh ketika di-bully oleh pelaku. Sekolah perlu meninjau kembali budaya sekolahnya untuk memastikan Sikap Empati Pelaku Bullying Peserta Didik SMA bahwa hal tersebut tidak menjadi peluang bagi siswa untuk menjadi korban perundungan. Selain itu, sekolah perlu menjelaskan dengan jelas konsep bullying, seperti bullying verbal dan bullying emosional, agar siswa tidak menganggap bahwa bullying hanyalah kekerasan fisik. Disiplin yang kuat juga dianjurkan, terutama ketika terjadi perundungan, dengan aturan dan sanksi yang jelas untuk mencegah siswa melakukan apa yang mereka inginkan. Perilaku bullying pula dapat teratasi dengan sekolah memberlakukan program intervensi bagi pelakunya. Program intervensi ini dimaksudkan guna meningkatkan keterampilan empati pelaku, termasuk melakukan konseling kelompok dan lokakarya untuk mengurangi perilaku bullying dan mendorong sikap empati. Einarsena. Hoelb. H, & Notelaersa. Measuring Exposure to Bullying and Harassment at Work: Validity. Factor Structure and Psychometric Properties of The Negative Acts Questionnaire-Revised. Work & Stress, 23, 1, 24_44. Goleman. Emotional Intelligence: Mengapa EI lebih penting daripada IQ. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hamarusa. , & Kaikkonen. School Bullying As A Creator of Pupil Peer Pressure. Educational Research, 50, 4, 333Ae345 Jolliffe. Farrington. Is Low Emphaty Related To Bullying After Controlling For Individual and Social Background Variables? Journal of Adolescence, 34: 59-71. SARAN Peneliti menyarankan adanya pelathan untuk peningkatan diri, seperti pelatihan rasa percaya diri, pelatihan ketegasan, dan pelatihan keterampilan sosial, untuk mencegah korban pengalaman yang sama atau menjadi korban perbuatan bullying yang terus-menerus. Selain itu, korban dapat mencegah terjadinya konflik dengan pelaku kekerasan dan mengungkapkan perbedaan mereka dengan cara yang positif. Kepada pihak sekolah diharapkan dapat berperan lebih kepada pelaku bully untuk diberikannya sanksi atau hukumuan agar merasakan rasa jera Diberikannya tempat atau layanan khusus untuk pengaduan korban bully agar tersampaikan perasaan yang ada di dalam diri korban Merrell. Isava. How Effective are School Bullying Intervention Programs? A MetaAnalysis of Intervention Research. APA School Psychology Quarterly. Vol:23. no I, 26-42. Orpinas. , & Horne. Bullying Prevention Creating a Positive School Climate and Developing Social Competence. Washington DC: American Psychological Association. , & Cifci. The Effect of Emphaty Level on Peer Bullying in Schools. Humanity & Social Sciences Journal, 4 . , 31-38. DAFTAR PUSTAKA