Filsafat Iluinasi Suhrawardi Imam Bukhori Imam Bukhori Universitas Islam Zainul Hasan Genggong Email: bukhori32@gmail. Babul Bahruddin Universitas Islam Zainul Hasan Genggong Probolinggo, email: babulbahrudin@gmail. Abstract: The main problem in this paper is regarding the background of the emergence and establishment of the Illuminated Philosophy or the Ishraqiyah Philosophy. This philosophy is known as theosophy because of this. The teachings of this school adopted and developed the teachings of emanation and the teachings of the Persians, the adapted zardust religion. Using the symbol of light in pouring and explaining his thoughts. This paper refers to the founder of this school, namely Suhrawardi. Keywords: philosophical structure. Pendahuluan Filsafat iluminasi berkembang pada abad 12 di Persia. Hal ini, membawa dampak penting bagi perkembangan filsafat Islam. Filsafat ini muncul berdasarkan kritik tentang ide Aristoteles dan merupakan penyajian ulang filsafat Ibnu Sina yang disempurnakan. Pendiri madzhab iluminasi adalah Suhrawardi yang dikenal dalam sejarah filsafat Islam sebagai guru iluminasi. Latar belakang berdirinya aliran filasafat ini adalah karena ketidakpuasan Suhrawardi pada filsafat peripatetik yang hanya mengandalkan akal pikiran dan mengesampingkan intuisi. Hal ini berarti iluminisme adalah sebuah pemikiran filosofis yang dasar epistemologinya adalah hati atau Secara prosedural, logika yang dibangun adalah sama dengan logika emanasi dalam paripatetisme. Namun secara substansial keduanya mempunyai perbedaan yang mendasar. Tujuan dasar filsafat iluminasi Suhrawardi adalah merumuskan jalan yang jelas menuju suatu kehidupan filosofi yang secara ilmiah lebih valid untuk meneliti sifat dan hakikat sesuatu serta sarana untuk mencapai kebahagian, dan juga jalan untuk meraih kebijaksanaan yang lebih praktis. Dalam makalah ini, penulis akan menyajikan sejarah filsafat iluminasi,struktur dan metodenya serta epistemologi filsafat iluminasi perspektif Suhrawardi. Pembahasan Falsafah Ishraqiyah Sejarah Falsafah Ishraqiyah Falsafah dalam arti sederhana berarti cinta atau kecenderungan terhadap kebijaksanaan. 1 Filsafat juga dapat diartikan sebagai pengetahuan tentang cara berfikir terhadap segala sesuatu atau ilmu mencari kebenaran dan prinsip-prinsip dengan menggunakan akal. 2 Iluminasi adalah penerangan atau pencerahan . 3 Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa falsafah ishraqiyah adalah suatu aliran ilmu filsafat yang Rizal Muntasir dan Misnal Munir,Filsafat Ilmu,(Yogyakarta: Pustaka Belajar,2. , 2. Pius A Partanto dan M. Dahlan Al Barry,Kamus Ilmiah Populer,(Surabaya: Arloka,1. , 169. Ibid, 270 menggunakan symbol cahaya penerangan atau pencerahan dalam menerangkan dimensi ontologis. Diskusi tentang aliran filsafat tidak dapat lepas dari pelopor aliran atau filsuf yang mengenalkan faham aliran tersebut. Suhrawardi, lengkapnya Syihab al-Din Yahya Ibn habsy Ibn Amira' suhrawrdi al-maqtul, lahir di desa suhraward, sebuah desa kecil dekat kota zinjan di iran timur laut, tahun 545 H / 1153 M. Dari sudut pandang tekstual, filsafat iluminasi dimulai dalam buku Al-Talwihat. Di sini. Suhrawardi mengingat kembali visimimpi ketika Aristoteles menampakkan diri. Sarana dan Suhrawardi mengemukakan beberapa masalah filosofis penting. Aristoteles mengemukakan kekecewaannya pada kaum peripatetic muslim mengenai pencapaian tingkat kebijaksanaan, yang berbeda dengan yang dicapai para kaum sufi. Ini disebabkan para sufi berhasil mencapai kesatuan dengan akal aktif dengan melampaui filsafat diskursif dan menyandarkan diri pada pengalaman pribadi. 5 Hal inilah yang mendasari Suhrawardi mencoba menggabungkan kekuatan filsafat dan tasawuf. Dan lahirlah filsafat yang bergenre filsafat semi tasawuf. Suhrawardi membagi kemampuan manusia berdasarkan kedalaman berfikirnya 6menjadi tiga. sufi memiliki pengalaman dzauq yang dalam tetapi tidak mampu mengungkapkan dalam bahasa yang filosofis yang diskursif. filosof memiliki kemampuan megungkapkan pengalaman dalam bahasa yang filosofis diskursif tetapi tidak punya pengalaman mistik yang mendalam. mutaAoallih memiliki kemampuan keduanya sehingga merupakan kelompok tertinggi dari para pencari kebenaran. Simbolisme cahaya digunakan oleh suhrawardi untuk menggambarkan masalah-masalah ontologis dan khususnya untuk memaparkan struktur-struktur kosmologis. Sebagai contoh wujud niscaya . wa ad. dalam peripatetik disebut cahaya dari segala Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam,( Bandung: Mizan, 2. ,544. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, 559. Mulyadi. Kartanegara. Panorama filsafat Islam. ( Bandung: Mizan, 2. , 65. ur al-anwa. , intelek-intelek terpisah disebut cahayacahaya abstrak . nwar mujarrada. Tampaknya simbolisme cahaya dinilai lebih cocok dan sesuai untuk menyampaikan prinsip ontologis wujud ekuivokal, karena lebih mudah dipahami bahwa cahaya mungkin mempunyai intensitas yang berbeda meskipun esensinya sama. Dan juga dianggap lebih dapat diterima untuk membahas kedekatan dan kejauhan dari sumber sebagai indikasi akan derajat kesempurnaan ketika simbolisme Sebagai contoh semakin dekat suatu entitas dengan sumbernya yaitu cahaya dari segala cahaya, maka semakin terang cahaya entitas tersebut. Sedangkan ketidak adaan cahaya atau kegelapan ketidakwujudan . on-wuju. Hikmah yang didasarkan pada dualisme cahaya dan kegelapan yang ketimuran ini menurut suhrawardi merupakan warisan para guru mistis Hikmah ini sebenarnya terwakili di barat seperti plato. Albhusthomi dan al-hallajj melanjutkan tradisi ini dan puncaknya ada pada diri suhrawardi sendiri. Inti hikmah iluminasi bagi suhrawardi adalah ilmu cahaya yang membahas sifat dan cara Cahaya ini menurutnya tidak dapat di definisikan karena ia merupakan realitas yang paling nyata sekaligus menampakkan sesuatu. Cahaya ini juga merupakan substansi yang masuk kedalam komposisi semua substansi yang lainmeteril maupun imateril. Hubungannya dengan objek-objek dibawahnya cahaya ini memiliki dua bentuk yaitu, cahaya yang terang pada dirinya sendiri dan cahaya yang terang sekaligus menerangi lainnya. Cahaya yang terakhir ini menerangi sagala sesuatu, namun bagaimana statusnya, cahaya tetaplah sesuatu yang terang dan sebagaimana disebutkan ia merupakan sebab tampaknya sesuatu yang tidak bisa tidak beremanassi darinya. Sikap Suhrawardi yang sangat plural melahirkan keinginannya untuk memadukan antara berbagai macam aliran filsafat dan filosof berbeda-beda, bahkan dari lintas agama. Empedocles. Buda. Homerus. Mazdak dan ManiAo, zuhud India dan para filosof Greek dianggap Suhrawardi sebagai duta perdamaian dan reformasi. 7Suhrawardi berusaha untuk mencari relasi filsafat dengan tasawuf. Ia memperkenalkan filsafat iluminasi . l-isyryqiya. yang bersumber dari hasil dialog spritual dan intelektual dengan tradisi-tradisi dan agama-agama lain. Pemikiran suhrawardi yang menggabungkan filsafat dan tasawuf yang mempunyai corak mistis sekaligus rasionalis ini sebenarnya dipengaruhi oleh berikut: Tasawuf, khususnya sebagaimana yang diungkapkan Al-Ghozali dan Al-Hallaj. Peripatetisme, khususnya pemikiran Ibn Sina dan AlFarabi, terlihat adanya kombinasi antara pemikiran suhrawardi dengan pemikiran para filosof sebelumnya. Neo platonisme dan pythagoreanisme,yaitu paham filsafat yunani yang bersifat mistis. Kepercayaan zoroasterian persia akan tetapi suhrawardi hanya menggunakan terminologi zoroasterian ini yang dianggap cocok untuk mengungkapkan pemikiranya, karena zoroasterian mengembangkan suatu sistem pemikiran yang berbasis perlawanan antara cahaya dan kegelapan, sementara filsafat suhrawardi juga berbasis kepada hal yang sama. 8Poin terakhir inilah yang menginspirasi Suhrawardi menggunakan cahaya dalam menggambarkan dimensi ontologis. Dari pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa filsafat iluminasi berlandaskan pada teori akal sepuluh dari Al-Farabi yang bercampur dengan unsur-unsur Mazdakiyah dan Manikiyah. Teori-teori Iluminasi Teori iluminasi memaparkan pemahaman hakikat Cahaya dan sifat-sifatnya, teori Cahaya dari segala cahaya (Nur Al-Anwa. , dan yang terakhir proses penciptaan semesta berdasarkan kaidah Isyraq. Hakikat Cahaya Murni (Wujud Cahaya Agun. dan sifat-sifatNya Madkour. Ibrahim. Filsafat Islam. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1. , 59. Sharif. A History of Muslim Philosophy. ( Delhi: Low Price Publications, 1. , 375 ricky-diah. com/2011/04/filsafat-islam-illuminasi. html, . November 2. Dalam buku Hikmah Al-Isyraq, tepatnya dalam pembahasan macam-macam cahaya, guru besar Iluminasi (Suhraward. beranggapan bahwa Cahaya Murni dengan C besar merupakan suatu hakikat, yang nyata dan aksiomatik, tidak memerlukan penjelasan dan definisi. Cahaya adalah sesutau yang terang, gamlang, yang eksistensinya dibutuhkan oleh benda-benda yang menyusun eksistensi alam semesta. cahaya tidak murni, substansi gelap dan aksiden-aksiden gelap, sehingga tidak ada cahaya yang lebih terang kecuali Cahaya itu sendiri. Dan yang di maksud dengan Cahayadengan C besar-yang tidak memerlukan definisi, adalah Cahaya Murni, yang menjadi sebab wujud setiap eksistensi di alam semesta ini. Dan eksistensinya tidak bergantung pada wujud yang lain. Sebagaimana lazimnya cahaya selalu tampak jelas dan terang, baik dalam hakikat ataupun zatnya. Dan secara esensial, ia selalu memberikan penerangan . bagi yang lainnya, kejelasan dan keterangan cahaya memanglah bersifat sesensial, dan ini juga mebuktika bahwa cahaya . itu lebih terang, daripada sesuatu yang becahaya tapi sifat terangnya bersifat non-esensial. Begitupun kehadiran cahaya-cahaya yang tidak murni, mereka bukanlah sederetan sifat tambahan pada zatnya. Cahaya-cahaya ini secara esensial tidak tersembunyi dan juga tidak tampak, bahkan terkadang terang dan kehadirannya bersifat nonesensial. Hakikat Cahaya Murni murni adalah tidak dapat diindra, tidak bisa di tunjuk, tidak memiliki arah, dan sebaliknya setiap cahaya yang sensibel adalah cayaha tak Cahaya murni memancar untuk dirinya sendiri . , tidak bergantung kepada yang lain dan beridi dengan substansinya sendiri. Cahaya tak murni adalah cahaya yang bukan bercahaya dari dirinya sendiri, karena eksistensi dan keberadaanya tidaklah mandiri, ia selalu membutuh pada wujud dan realitas yang lain. Dan ketiadaan wujud yang lainpun meniscayakan ketiadaan cahayanya. Cahaya Murni memiliki pengetahuan dan mengetahui zatnya sendiri. Dan pengetahuan Cahaya Murni pada wujud dan zatnya bersifat hudhuri . adir secara langsun. , bukan dengan husuli . elalui penggambaran pikira. karena pengetahuan cahaya pada zatnya sendiri yang dihasilkan melaui gambaran, senantiasa berada di luar . Karena dalam kenyataannya, objek yang dipahami hanyalah gambaran daro zat bukanlah esensi asli yang mewujud dalam zat. Sifat Cahaya Murni yang mengetahui zatnya sendiri, menandakan ia hidup, berpengetahuan dan memiliki Adapun benda gelap, substansi, dan aksidenaksiden gelap lainnya, mereka diam dan tidak memiliki pengetahuan pada zatnya sendiri, karena mereka memiliki kebergantungan pada wujud yang lain, dan kediamannya meniscayakan tidaadanya pengetahuan dan aktivitas . Cahaya Murni memiliki pengetahuan atas dirinya sendiri, dijabarkan oleh Suhrawardi dalam satu perumpamaan sederhana yang mengangkat eksistensi A sebagai penyebab keberadaan, dan pengetahuan bagi eksistensi B. Dengan demikian, mejadi sebuah keharusan, bahwa A mengtahui dirinya sendiri dan mengetahui segala eksistensi dan wujudwujud B. Sedangkan B tidak bisa menghasilkan penetahuan akan dari dirinya sendiri karena esensinya bergantung pada eksistensi A, yang menjadi sebab keberadaannya. Berdasarkan substansinya tidak ada satu faktor pun yang dapat mengubah suatu hakikat yang memiliki pengetahian atas zatnya sendiri, menjadi hakikat yang tidak mengaetahui dirinya sendiri. dan begitupun tidak ada satupun faktor yang dapat merubah posisinya menjadi realitas yang tak berilmu menjadi hakikat yang mengetahui dirinya. Nur al-Anwar (Cahaya segala cahay. Perbedaan cahaya-cahaya murni adalah sifat gradasional, yaitu tingkatan masing-masing cahaya. Semua cahaya-cahaya murni dipandang dari zat dan hakikatnya adalah satu. Perbedaannya hanya terdiri dari aspek kesempurnaan, kekurangan, aksiden-aksiden, yang ada di luar zat. Karena jika perbedaan itu terletak pada zat, maka setiap dari cahayacahaya itu akan tersusun dari dua deferensia yang saling bertentangan, dan ini akan merujuk pada dualisme wujud cahaya, yaitu gelap dan terang. Sedangkan dualisme dalam satu zat yang sama adalah hal yang mustahil. Nur Al-Anwar tidak terdapat perbedaan antara zat dan hakikatnya, keduanya adalah satu dan bukan unsur yang berlainan, bahkan bertentangan . ahaya dan kegelapa. Wujud Cahaya di atas cahaya, adalah sebuah keniscayaan dan dapat dibuktikan dengan penalaran pada ungkapan logis. Aujikalau Cahaya Murni itu begantung pada realitas yang lain, maka kebutuhannya memuat ia menjaid substansi gelap atau benda tak hidup . arean ia butuh pada wujud yang lai. , dan jikalau ia benda gelap maka ia membutuhka pada Cahaya Murni, yang lain. Sedangkan perputaran hukum penciptaan pada rantai yang tak terhingga adalah mustahil terjadi. Dan karena ketakterhinggaan adalah mustahil maka sebab keberadaan Cahaya Murni harusla ada dan cahaya ini tidak lain adalah Cahaya segala cahaya (Nur Al-Anwa. Kebutuhan setiap eksistensi pada faktor pencipta, menetapkan sifat kemanunggalannya (Cahaya segala cahay. Karena jikalau terdapat dua Cahaya Murni yang tak saling membutuhkan adalah mustahil, karena kedua cahaya ini dari sisi zat dan hakikatnya sama, dan kesamaan kepribadian keduanya mustahil menjadi penyebab perbedaan cahayacahaya yang ada. Proses penciptaan . berdasarkan kaidah Isyraq Dalam pemaparan teori penciptaan. Suhrawardy sepakat dengan pandangan kaum Peripatetik yang meyakini bahwa AuZat manunggal hanya memancarkan pada satu bentuk yang tunggalAy. Nur Al-Anwar yang ditegaskan sebelumnya sebagai sumber penciptaan hanya memancarkan cahayaNya pada satu Cahaya murni yang juga memiliki sifat yang sama dengan Nur Al-Anwar. Pemancaran cahaya ini diakibatkan oleh aktivitas Nur Al-Anwar yang senantiasa memancarkan cahaya dari substansinya. Dan sebenarnya mata rantai dari aktivitas Nur Al-Anwar inilah, yang dalam pemikiran kelompok Iluminasioner mendasari perannya (Nur AlAnwa. sebagai pencipta alam semesta. Sebagai hasil pemancaran cahaya substansinya terjadilah satu pelimpahan atau emanasi pada Cahaya Murni-pertama dan dibarengi dengan satu materi alam abadi . ang disebut dengan Huyul. yang menjadi materi dasar pembentuk alam Cahaya murni pertama ini, seperti Nur Al-Anwar dicirikan oleh aktivitasnya yang serupa, yaitu meneruma pancaran cahaya Nur Al-Anwar dan memancarkan CahayaNya kembali dari substansinya. Tapi walaupun demikiran keduanya tetap memiliki perbedaan fundamental, baik dalam zat ataupun strata fungsionalnya. Sang guru besar (Suhraward. menjelaskannya dalam satu contoh sederhana yang mengambarkan proses pemancaran Nur Al-Anwar pada Cahaya Murni-pertama. Nur Al-Anwar digambarkan sebagai Matahari sedangkan Cahaya murni-pertama adalah cermin, pancaran sinar matahari yang tak beraturan tertampi dalam sebuah cermin yang dengannya terpantul sebuah cahaya yang berbeda dari cahaya sebelumnya. Keduanya sama-sama memancarkan cahaya, tetapi cahaya yang dipancarkan cermin tidaklah sama dengan cahaya Matahari, karena cermin hanyalah perantara yang menerima cahaya yang besar dan memantulkan cahaya sesuai kemampuannya. Proses menerima dan memancarkan cahaya, terus diulangi Suhrawardy sebagai proses penciptaan alam semesta, dan keberadaan cahaya-cahaya murni yang mengelilinginya. Dan proses pemancaran dari setiap Cahaya Murni, selalu disertai oleh materi-materi yang menjadi susunan dalam tatanan cosmos. Seperti pemancaran Cahaya Murni-kedua pada cahaya murni ketiga disertai dengan bola-bola langit yang bersesuaian dengannya, yaitu langit pertama. Dan akhir dari proses emanasional adalah dunia sublanatural yang terletak di bawah alam bulan, tempat hidupnya manusia dan mahluk-mahluk lain yang juga menerima pancaran dari Cahaya Murni-kesepuluh. Proses emanasi dari Cahaya Nur Al-Anwar ke materimateri yang ada di alam semesta, adalah pengerucutan cahaya dari bentuknya yang supra-kemilau ke dalam bentuk parsial sesuai kemamuan penerimannya. Dan inilah bukti kebenaran ungkapkan Ibnu Sina saat mengatakan bahwa nabi Muhammad adalah bentuk sesempurnaan Cahaya Al-Wujud, namun ia akan menjelma sebagaimana seseorang menangkap pancaran cahayanya. Subjek yang berjiwa rendah, akan mengatakan Muhammad layaknya manusia biasa. Adapun bagi subjek yang memiliki jiwa yang sedikit bercahaya, akan mendapatkan kebijakan-kebijaannya dalam jumlah yang Sedangkan bagi subjek yang mempunyai jiwa yang tercerahkan akan merasakan pancaran yang begitu sempurna Struktur dan MetodeFilsafat Iluminasi Dilihat secara keseluruhan tujuan filsafat Iluminasi diarahkan pada sasaran yang bersifat teoretis di samping sisi praktis yang dapat dicapai, arah tersebut dimulai dengan penyucian diri dari segalala kotoran, baik secara ruhani ataupun jasmani. Langkah ini ditempuh sebagai tahapan awal penjalinan hubungan dengan Cahaya Murni-kesepuluh yang menjadi medium antara dunia materi dan imateri. Cahaya Murni-kesepuluh adalah emanasi dari AuWujud Cahaya AgungAy yang nantinya akan menganugrahkan pengalaman visioner setelah subjek berhasil menapaki syarat dan ritual-ritual yang telah ditentukan sebelumnya. Merasuknya Cahaya-cahaya Murni ke dalam subjek mengantarkan pada pengetahuan yang tidak diperoleh melalui proses berfikir, kejadian ini berlangsung pada alam kusus yang disebut dengan mundus imaginalis (Al-yClam Al-Mitsyl. Adapun tahapan selanjutnya ditempuh dengan pendemostrasian dengan landasan logis, epistemologis dan metafisika Aristotelian Timur (Al-Mayaiun Al-Syarqiyu. sebgai cara intensif menjabarkan dari simbol-simbol bahasa yang dimengerti tetapi sulit diungkapkan. Sebuah statemen yang mungkin membingungkan, tapi akan mudah dimengerti manakala kita memahami konsep AupengetahuanAy yang diimani para sufi dan penganut Platonisme. Pengetahuan terbagi dalam dua bentuknya. materil dan imateril, rasional dan irasional, fisika dan metafisika. Dikotomi yang saling bertentangan, tapi setiap bentuk memiliki kesamaan yang hampir Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, 558-559. serupa dengan bentuknya yang lain, yaitu. antara materil, rasional dan fisika, dan begitupun antara imateril, irasional dan metafisika. Kelompok pertama lazim ditempuh dengan memaksimalkan bagian manusia yang disebut dengan akal atau intelek, yang terletak di luar jiwa . dan jasad. Pengetahuan ini dihasilkan dengan memahami fenomena alam yang terjadi di jagat raya, dengan melihat arah perubahan dan menemukan sumber penyebabnya, dengan demikian kongklusinya biasa disebut sebagai pengetahuan rasional atau diskursif. Sedang yang kedua, pengetahuan suprarasional yang berada di luar arena pengetahuan pertama, sistem yang digunankan adalah Aumemahami-akan-dirisendiriAy sebagai sumber pemahaman yang lebih mendalam Modus ini meniscayakan manifestasi ungkapan Plato yang seirama dengan diktum Al-Quran yang menyatakan bahwa AuSiapa saja yang memahami dirinya, ia akan mengetahui TuhannyaAy. Sebuah teks filosofis yang mensiratkan pesan, bahwa pengetahuan jiwa . tentang diri sendiri adalah ladasan segala pengetahuan . Lebih jelasnya, pengetahuan jiwa tentang dirinya sendiri diibaratkan pantulan cahaya . ang pengetahua. abstrak yang berasal dari Sumber Cahaya (Wujud Cahaya Agun. yang merambat dengan sendirinya begitu . umber cayah. itu menyala, yang tidak dipancarkan secara sengaja serta tidak terputus-putus. Begutupun Pengetahuan ruh tentang dirinya-sendiri menjadi AukunciAy kaum Iluminasionis mendapatkan pengetahuan melalui AukehadiranAy (Al`Ilm Al-Hudhur. Selain pengetahuan ruh tentang dirinya-sendiri, struktur filsafat Iluminasi juga kerap menggunakan dimensi-dimensi imagenalis dengan porsi yang cukup besar. Sehingga sebelum memasuki epistemologinya merupakan hal yang sangat urgen memahami komponen-komponen dasar pembangun pikiranpikiran mistik. Pemahaman itu dimulai dengan mendefinisikan arti penting trilogi kaidah Iluminasionis. imajinasi, intuisi, dan imitasi, yang secara gneologis memiliki cara pandang bebeda dengan kelompok Peripatetik Timur maupun Barat (Yunan. Imajinasi (Al-Khayyla. dalam pandangan kaum Iluminasionis adalah daya penyimpan dan penyeimbang jiwa, yang bertanggung jawab atas penyimpanan citra atau kesan mengenai hal-hal yang dapat diindra setelah mereka lenyap . ari indr. , juga pengontrolan atas citra dengan menyusun dan menguraikannya kembali, untuk kemudian dipotensikan membentuk citra yang Proses ini menjadi dasar penataran membentuk jiwa-jiwa sensitif, yang merasakan wujud-wujud benda non-sensible . idak terindr. dan yang tidak berwujud. Tapi tidak semua sensitifitas jiwa yang digambarkan imagenasi, memiliki kongklusi wujud yang sesuai dengan kenyataannya, adakalanya penggambaran citra terkontaminasi oleh emosi, rasa takut atau gembria yang terbawa dari alam nyata, sehingga citra yang tergambarkan tidaklah murni. Dan imajenasi yang demikian dinamakan imajenasi palsu, karena memberikan konkusi berbeda dengan substansi sesungguhnya, adapun imajenasi murni adalah perasaan AucerahAy yang dirasakan jiwa yang suci, yang telepas dari ketergantungannya pada dunia materi, sehingga ia tampak berseri-seri karena cahaya Ilahi telah memacar dalam hati. Adapun kekuatan intuisi memiliki peran yang sama dengan daya imajanasi,keduanya bekerja besamaan dalam proses kontemplasi, berkhayal, dan penjelajahan realitas-realitas Epistemologi Filsafat Iluminasi Dampak filsafat Suhrawardi yang paling luas adalah pada bidang epistemologi. Prinsip dasar iluminasionis adalah bahwa mengetahui sesuatu berarti memperoleh pengalaman tentangnya, sama dengan intuisi terhadap determinan sesuatu. Pengetahuan tentang sesuatu berdasarkan pengalaman dianalisis hanya setelah pemahaman intuitif yang total dan langsung tentangnya. Filsafat iluminasi terdiri atas tiga tahap yang menggarap persoalan pengetahuan, yang diikuti oleh tahap keempat yang memaparkan pengalaman. 11Tahap pertama, ditandai dengan persiapan pada diri filosof, ia harus Aumeninggalkan duniaAy agar Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, 566-567. mudah Aumenerima pengalamanAy. Tahap kedua, adalah tahap iluminasi . , ketika filosof mencapai visi . Aucahaya ilahiAy. Tahap ketiga, yaitu tahap konstruksi ditandai dengan perolehan dan pencapaian pengetahuan tak terbatas, yaitu pengetahuan iluminasionis itu sendiri. Tahapkeempat, adalah pendokuminasian atau bentuk pengalaman visioner yang ditulis Awal tahap pertama ditandai dengan kegiatan-kegiatan seperti melakukan uzlah selama 40 hari, tidak makan daging dan mempersiapkan diri untyuk menerima ilham dan AuwahyuAy. Aktivitas-aktivitas itu tergolong dalam kategori umum praktik yang mistik dan asketik. Dalam hal ini Suhrawardi berpendapat bahwa Aucahaya TuhanAy bersemayam dalam diri filosof yang memiliki daya intuitif,jadi dengan menjalankan aktiuvitas dalam tahap pertama filosof dapat melalui Auilham pribadi dan visiAy, menerima realitas eksistensi dirinya dan mengenal kebenaran intuisi dirinya sendiri. Tahap awal dari pencapaian ilmu, yang pertama adalah aktivitas, kemudian suatu syarat . ersiapan diri seorang diri filosof dalam menerima cahaya Tuha. dan AuilhamAy Tahap kedua adalah lanjutan dari tahap pertama, cahaya ilahi memasuki wujud manusia. Cahaya ini mengambil bentuk serangkaian cahaya apokaliptik, dan melalui cahaya-cahaya itu diperoleh pengetahuan yang berfungsi sebagai ilmu-ilmu sejati. Tahap ketiga adalah tahap mengkonstruksi suatu ilmu yang Dalam tahap ini, sang filosof menggunakan analisis Dalam tahapan ini subjek telah dikatakan sebagai filosof Ilumisasi yang mencapai tingkatan AumelihatAy Cahaya Ilahi, dan mengajarkannya secara langsung tanpa perantara ilham dan Dan tahapan ini disempurnakan dengan pendemostrasian Aristotelian dengan menggerakan data-data indrawi . ang di liha. kepada akalsebagai pusat pengetahuan ilmiah diskursif. Sedangkan tahapan terakhir adalah pendokumentasian pengalaman-pengalaman visioner ke dalam tulisan, adanya tahapan ini sebagai antisipasi ketika rasa ekstase itu hilang dan menjauh dari subjek. Menurut mereka yang telah merasakan, kejadian AuekstaseAy yang dirasakan para sufi hanyalah sebentar dan tidak dalam masa yang lama. Penutup Iluminisme suhrawardi telah membuka jalan bagi suatu dialog dengan wacana-wacana dan upaya-upaya modern untuk mencarikan tempat pengalaman religius atau mistik dalam dunia Usaha suhrawardi dalam mengkombinasikan berbagai aliran pemikiran, khususnya nalar diskursif dengan intuitif intelektual, ternyata membuka arah baru dalam perkembangan filsafat islam, faktanya, para filosof muslim setelah suhrawardi seperti ibn arabi, mulla sadra Aebanyak mengikuti metode penggabungan antara filsafat dengan tasawuf tersebut. Seperti ditulis oleh beberapa peneliti modern, aliran ini bisa dipandang sebagai suatu sistem pemikiran yang lengkap dan ilmiah. Daftar Pustaka