Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 2 (2024) 766-774 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10.47476/reslaj.v6i2.4398 Model Manajemen Pendidikan Berbasis Adab Syarif Hidayatullah Gani1, Endin Mujahidin2, Maemunah Sa'diyah3 Universitas Ibn Khaldun Bogor syarifgani17041998@gmail.com1 , endin.mujahidin@uika-bogor.ac.id2, maemunah@uika.ac.id3 ABSTRACT Instilling adab is the most important thing for a teacher to students, because students are a mandate entrusted by Allah to be nurtured, guided, and educated carefully so that later they become useful human beings. The purpose of this research is to find out how the process of managing adab education occurs at MTs Al - Ahsan, Bogor City. The research methodology is a qualitative research method with a descriptive approach. The findings from the research show that the adab education management process is implemented by routinely reading Al-Qur'an Juz 30, praying dhuha in congregation, then continuing with listening to tausiyah and studying the book "Akhlak Lil Banin" and the results of this application are the attitude shown by students can be said to be very satisfying, meaning that the level of success of the activities implemented is very effective in instilling adab in students at school. This can be seen from the enthusiasm of students participating in the activities held by the school. Keywords: Management, Education, Adab ABSTRAK Menanamkan adab adalah hal yang terpenting bagi seorang guru kepada siswa, karena siswa adalah amanah yang dititipkan Allah untuk dibina, dibimbing, dan dididik secara seksama agar kelak menjadi manusia yang bermanfaat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses manajemen pendidikan adab terjadi di MTs Al-Ahsan Kota Bogor. Metodologi penelitian adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Adapun temuan dari penelitian menunjukkan bahwa proses manajemen pendidikan adab yang diterapkan dengan rutin membaca Al-Qur’an Juz 30, salat duha berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan mendengarkan tausiah dan mengkaji kitab “Akhlak Lil Banin” dan hasil dari penerapan ini sikap yang di tunjukan oleh siswa bisa dibilang sangat memuaskan artinya tingkat keberhasilan dari kegiatan-kegiatan yang di terapkan sangat efektif dalam menanamkan adab pada peserta didik di sekolah. Hal ini dapat dilihat dari antusiasnya siswa berpartisipasi mengikuti kegiatan yang diadakan sekolah. Kata kunci: Manajemen, Pendidikan, Adab 766 | Volume 6 Nomor 2 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 2 (2024) 766-774 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10.47476/reslaj.v6i2.4398 PENDAHULUAN Islam adalah agama yang sempurna dan penyempurna. Sebagai agama yang sempurna Islam sangat memerhatikan dan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Hal ini diisyaratkan dalam wahyu pertama yang dibawa malaikat Jibril A.S atas izin Allah SWT kepada Rasulullah SAW yaitu perintah untuk membaca, yang berarti nabi diperintahkan untuk mencari sebanyak mungkin pengetahuan yang ada di dunia ini. Dalam firman Allah SWT : ‫ﺴَﻦ َﻣﺎ ﻟَۡﻢ ﯾَۡﻌﻠَۡﻢ‬ َ ٰ ‫ﻖ ٱۡﻗَﺮۡأ َوَرﺑﱡَﻚ ٱۡﻷ َۡﻛَﺮُم ٱﻟﱠِﺬي َﻋﻠﱠَﻢ ِﺑﭑۡﻟﻘَﻠَِﻢ َﻋﻠﱠَﻢ ٱ ۡ ِﻹﻧ‬ َ ٰ ‫ٱۡﻗَﺮۡأ ِﺑﭑۡﺳِﻢ َر ِﺑَّﻚ ٱﻟﱠِﺬي َﺧﻠََﻖ َﺧﻠََﻖ ٱ ۡ ِﻹﻧ‬ ٍ َ‫ﺴَﻦ ِﻣۡﻦ َﻋﻠ‬ Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S Al-Alaq : 1-5). Al-Imam Al-Qusyairi (w. 465 H.) dalam Tafsir Al-Qusyairi mengatakan bahwa semua manusia adalah murid, atau dengan arti lain, bahwa semua manusia adalah orang yang membutuhkan, manusia telah diciptakan dalam keadaan membutuhkan ilmu pengetahuan yang benar (al-Haqq) oleh karenanya diperintahkan untuk membaca dengan nama Tuhan yang telah menciptakan mereka (baca; manusia). Ilmu bisa didapatkan dengan berbagai cara sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan setiap individu masing-masing. Salah satu proses mencari ilmu dengan pendidikan formal atau non formal. Proses pendidikan memiliki persoalan yang kompleks, banyak aspek yang dapat menunjang keberhasilan proses pendidikan itu. Pola pendidikan yang diinginkan Islam adalah pendidikan yang bisa menjadikan manusia yang unggul secara intelektual, kaya akan beramal, baik secara moral serta bijaksana dalam mengambil keputusan. Demi mendapatkan pendidikan yang baik perlu adanya manajemen yang mengatur proses berjalannya pendidikan. Tidak disangkal lagi bahwa manajemen adalah suatu hal penting yang menyentuh, memengaruhi, dan bahkan merasuki hampir seluruh aspek kehidupan manusia layaknya darah dan raga. Telah dimengerti juga bahwa dengan adanya manajemen, manusia mampu mengenali dan mengasah baik kemampuannya atau kelebihannya, dan kekurangannya. Begitu juga dalam bidang pendidikan Islam, manajemen telah menjadi sebuah istilah yang tidak dapat dihindari demi tercapainya suatu tujuan. Untuk mencapai tujuannya, pendidikan Islam harus memiliki manajemen yang baik dan terarah. Adapun manajemen pendidikan Islam yang dikenali sebagai suatu proses penataan atau pengelolaan lembaga pendidikan Islam yang melibatkan sumber daya manusia Muslim dan non-Muslim dalam menggerakkannya untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien, memiliki konsep dasar dalam Islam 767 | Volume 6 Nomor 2 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 2 (2024) 766-774 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10.47476/reslaj.v6i2.4398 sebagai suatu sistem hidup yang sempurna. Akan tetapi kesalahan kebanyakan dari kaum muslimin dalam memahami konsep manajemen dari sudut pandang Islam adalah karena masih mencampuradukkan antara ilmu manajemen yang bersifat teknis (uslub) dengan manajemen sebagai aktivitas. Kerancuan ini akan mengakibatkan kaum muslimin sulit membedakan mana yang boleh diambil dari ilmu manajemen saat ini dan mana yang tidak.(Maulida, 2015) Pendidikan Islam menurut Naquid Al-Attas harus terlebih dahulu untuk memberikan pengetahuan tentang arti dari manusia kemudian disusul dengan pengetahuan-pengetahuan lain. Dengan begitu, ia akan mengetahui siapa dirinya, mau ke mana dirinya serta apa tujuannya. Jika ia sudah mengetahui itu semua maka ia akan selalu ingat dan sadar serta mampu dalam memosisikan dirinya, baik kepada sesama makhluk atau kepada sang Khaliq Allah SWT. Jadi dalam definisi Al-Attas tentang pendidikan yang menjadi titik utama adalah nilai manusia sebagai manusia sejati, sebagai manusia yang bersifat spiritual, dan bukan hanya nilai manusia sebagai entitas fisik yang diukur dalam konteks pragmatis dan utilitarian berdasarkan kegunaannya bagi negara, masyarakat dan dunia (Daud, n.d.) .Sedangkan menurut Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi tujuan pendidikan islam adalah manusia yang berakhlak mulia, dengan kata lain output dari lembaga pendidikan Islam adalah melahirkan generasi yang berakhlak dan beradab (Busthami, 2018). Selanjutnya Abdurrahman An-Nahlawi menyatakan bahwa pendidikan sekuler berbeda jauh dengan pendidikan Islam di mana pendidikan sekuler memisahkan ajaran agama dalam proses pendidikannya. Sehingga proses pembelajaran yang terjadi adalah upaya pemberian kebebasan mutlak baik untuk laki-laki atau perempuan. Dampaknya adalah output yang dihasilkan dari berbagai institusi pendidikan yang menguasai pengetahuan hanya dari segi kognitif. Sedangkan aspek afektif sering diabaikan.(An-Nawawi, 1995) Tentu kita sebagai bangsa yang mengedepankan pendidikan dan moral demi kemajuan suatu bangsa maka pendidikan sangat penting. Sejalan dengan UU Pendidikan Nasional, N0 20/2003 dan UU Pendidikan Tinngi, No 12/2012, telah memberikan landasan yang memadai untuk membangun sistem pendidikan nasional yang beradab. Aplikasinya, menyusun komponen yang sesuai seperti sistem pendidikan, tujuan, kurikulum, proses serta evaluasi. Tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang cerdas, kreatif, berakhlak mulia, beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan memiliki budi pekerti yang luhur (Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, 2012). Dalam undang-undang sudah jelas menggambarkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah agar peserta didik dapat mengembangkan potensinya sehingga peserta didik memiliki kekuatan dari segi spiritual keagamaan, 768 | Volume 6 Nomor 2 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 2 (2024) 766-774 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10.47476/reslaj.v6i2.4398 pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang tidak hanya diperlukan bagi dirinya tetapi juga untuk masyarakat, Bangsa dan Negara. Namun realitas yang saat ini kita hadapi masih ada pendidikan berorientasi hanya semata-mata pada pengisian otak. Oleh karena itu, peran dan fungsi pendidikan Islam sangat penting untuk mengontrol dan mengarahkan perkembangan masyarakat ke arah yang lebih baik. Zaitun mengemukakan dalam buku Sosiologi Pendidikan, dilema yang banyak terjadi di sekolah antara lain bolos sekolah, narkoba, tawuran, dan bullying (Zaitun, 2015). Sehubungan dengan itu, terdapat hasil data riset Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2018 menunjukkan bahwa, murid yang mengaku pernah mengalami perundungan (bullying) di Indonesia sebanyak 41,1%. Berdasarkan angka persentase tersebut menempatkan Indonesia di posisi kelima tertinggi dari 78 negara sebagai negara yang murid sekolahnya paling banyak mengalami perundungan. Pada tingkat nasional tahun 2018, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melaporkan bahwa 84% pelajar mengalami kekerasan di lingkungan sekolah. Dari 445 kasus yang ditangani sepanjang 2018, sekitar 51,2% di antaranya merupakan kasus kekerasan fisik, seksual maupun verbal. Pelakunya, selain guru, juga sesama pelajar (Alfiah, 2022). Bullying sendiri bisa berupa fisik, verbal, dan tidak langsung. Perundungan fisik misalnya menonjok, mendorong, memukul, menendang, dan menggigit. Perundungan verbal antara lain menyoraki, menyindir, mengolok-olok, menghina, dan mengancam. Sedangkan perundungan yang terjadi secara tidak langsung antara lain berbentuk mengabaikan, tidak mengikutsertakan, menyebarkan rumor, dan meminta orang lain agar menyakiti yang lain. Fenomena lain terjadi dalam dunia pendidikan saat ini, menjadi cerminan tentang merosotnya adab siswa dalam proses pendidikan, kondisi tersebut akan berdampak terhadap kualitas pendidikan yang diharapkan. Hal itu dapat dilihat dengan banyaknya siswa atau mahasiswa yang tidak mempunyai sopan santu dalam berbicara, berperilaku dan berpakaian yang tidak sesuai dengan konsep ajaran Islam, melanggar akhlak, kode etik ditingkat mahasiswa, itu semua menunjukkan bahwa rusaknya moral, akhlak dan adab sudah sangat memprihatinkan (Salam, 2000). Menurut Psikolog Adelina Syarief, SE, M.Psi remaja yang melakukan perilaku menyimpang dalam hal ini yaitu kenakalan remaja disebabkan dari diri sendiri atau lingkungan. Sekitar tahun 2010 terjadi 128 kasus tauran antar pelajar kemudian melonjak naik 100 persen pada tahun 2011 yakni 330 kasus yang menewaskan 82 siswa (Kusmiyati, 2013). Selain dari itu tepat tanggal 23 November 2022 terjadi penganiayaan yang dilakukan oleh enam pelajar SMK kepada seorang nenek diduga orang dengan gangguan jiwa (Rossa, 2022). Jika kenyataan ini terus berkelanjutan, itu adalah generasi tertentu masa depan akan jauh dari pada sopan santun dan etika. Selain itu harapan dari kompetensi lulusan yang diinginkan, yaitu siswa yang 769 | Volume 6 Nomor 2 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 2 (2024) 766-774 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10.47476/reslaj.v6i2.4398 memiliki budi pekerti dan kaya dalam bidang pengetahuan tidak akan tercapai dengan baik. Menanamkan adab menjadi hal yang terpenting bagi seorang guru kepada siswa, karena siswa adalah amanah yang dititipkan Allah untuk dibina, dibimbing, dan dididik secara seksama agar kelak menjadi manusia yang bermanfaat bagi agama, bangsa dan Negara dan secara khusus dapat menjadi pelipur lara orang tua, penenang hati ayah dan bunda serta sebagai kebanggaan. (Ulwah, 2002) Adab yang baik hendak membagikan pengaruh dalam kehidupan. Sehingga terdapat pepatah yang berkata “adab lebih mulia dari ilmu”. Maka dari itu nilai yang tertulis dalam agama perlu dipahami, dimengerti, diyakini serta diamalkan oleh masyarakat Indonesia agar bisa menjadi dasar karakter sehingga bisa menjadi manusia yang seutuhnya. Melihat begitu berartinya adab dalam kehidupan, hingga perihal terkecil juga memiliki ketentuan – ketentuan tertentu. (Ali, 2011) Athiyah Al-Abrasyi mengatakan bahwa tujuan pendidikan Islam dirangkum menjadi lima tujuan, salah satunya adalah membentuk akhlak mulia, karena umat Islam dari dulu sampai sekarang sepakat dengan pendidikan akhlak yang mulia merupakan hakikat pendidikan Islam, dan mencapai akhlak mulia yang sempurna merupakan tujuan sebenarnya dari pendidikan Islam. Menurut pandangan penulis berdasarkan permasalahan di atas penanaman adab dalam pendidikan Islam sangat penting, kedua hal ini menjadi satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan di mana kebermaknaan yang satu tergantung pada yang lainnya. Ilmu tanpa adab seperti pohon tanpa buah, adab tanpa ilmu seperti orang yang berjalan tanpa petunjuk arah.(Abd Malik, 2009) Hal ini menjadi salah satu gagasan dalam mendukung mewujudkan tujuan pendidikan Islam, terkhusus tujuan pendidikan nasional di negara kita. Oleh karena itu, penulis ingin mengkaji dan menggali informasi dan temuan hasil penelitian yang berkaitan dengan Implementasi Manajemen Pendidikan Berbasis Adab di MTs Al-Ahsan Kota Bogor. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif yaitu bermaksud untuk memahami tentang Manajemen Pendidikan Adab. Jadi Penelitian ini bermaksud untuk mendeskripsikan bagaimana proses pendidikan berbasis ada yang terjadi di MTs Al-Ahsan Kota Bogor. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Menurut Sugiyono dalam (Walidin, 2015)menjelaskan bahwa dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya. Menurut Mantra dalam buku Moleong yang dikutip 770 | Volume 6 Nomor 2 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 2 (2024) 766-774 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10.47476/reslaj.v6i2.4398 oleh (Sandu, 2015) mengemukakan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Adapun Teknik pengumpulan data melalui observasi, survei, wawancara dan dokumentasi Sumber data yang didapatkan dalam penelitian ini ada dari data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan dari subjek penelitian yang langsung bersangkutan yaitu guru dan murid MTs Al-Ahsan Kota Bogor. Data sekunder sebagai sumber data pelengkap seperti data sekolah, jumlah siswa, visi misi, sarana prasarana dan lainnya. Pemeriksaan keabsahan data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode triangulasi. Menurut (Sugiono, 2013) triangulasi dalam pengumpulan data dapat diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada, dan sebagai pengujian kredibilitas dapat diartikan sebagai pengecekan data berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. HASIL DAN PEMBAHASAN Model Manajemen Pendidikan Adab Dalam meningkatkan pendidikan yang efektif dan efisien ada beberapa langkah manajemen pendidikan adab di MTs Al-Ahsan Kota Bogor: 1. Tahap Perencanaan dan Pelaksanaan. Tahap awal dalam melakukan pendidikan adab merupakan perencanaan. Pada tahap ini dilakukan perumusan kegiatan-kegiatan apa saja yang akan dilakukan dalam membantu membiasakan peserta didik melakukan hal-hal yang baik guna membentuk adab dalam diri peserta didik dengan melibatkan seluruh stakeholder yang terdiri dari kepala madrasah, guru dan pegawai. Kegiatan perumusan ini dilakukan melalui musyawarah bersama untuk menghasilkan rumusan yang disepakati. Di samping itu, juga dirumuskan tata cara pelaksanaannya dan kegiatan monitoring dan evaluasi serta tindak lanjut yang akan dilakukan. Di antara beberapa kegiatan yang telah dirumuskan adalah, Pengajian kitab adab “Akhlak Lil Banin”, membaca Al-Qur’an tepatnya juz 30 secara bersamaan di masjid, salat duha berjamaah, mendengarkan tausiah/nasehat dari para guru dan salat zuhur berjamaah. Adapun tata cara pelaksanaannya sebagai berikut : a. Pengajian kitab adab “Akhlak Lil Banin” Kegiatan ini dilakukan oleh kepala sekolah dalam hal ini yaitu Bapak KH. Hidayatullah, S.Pd.I. Pengajian kitab adab biasanya dilakukan oleh kepada sekolah setiap hari Jum’at sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) dimulai. para siswa di bekali dengan nasehat-nasehat melalui tausiah atau pengajian isi dari kitab ini menjelaskan tentang adab baik kepada orang tua, 771 | Volume 6 Nomor 2 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 2 (2024) 766-774 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10.47476/reslaj.v6i2.4398 guru, teman sebaya dan lingkungan sekitar. Tidak hanya membahas tentang adab melainkan tentang bagaimana cara seorang siswa bersikap atau mensyukuri atas semua nikmat yang Allah berikan sampai dengan sekarang ini. Hal ini dilakukan guna untuk memerikan dasar atau fondasi yang baik kepada peserta didik. Karena jika fondasinya sudah baik akan menuntun senantiasa melakukan hal-hal yang positif ke depannya, dan juga tidak akan mudah terpengaruh dengan pergaulan bebas. b. Membaca Al-Qur’an Juz 30 Membaca atau tilawah Al-Qur’an Juz 30 dilakukan setiap hari tepatnya sebelum pelaksanaan KBM. Ini bertujuan untuk membiasakan pada peserta didik agar selalu membaca Al-Qur’an di mana dan kapan pun, di samping itu Dalam kegiatan ini para siswa di biasakan agar selalu mengawali semua kegiatannya dengan membaca, memahami isi kandungan Al-Qur’an yang dibaca karena dengan hal tersebut para siswa akan mudah untuk memahami dan menjalan kegiatan-kegiatan akan dihadapinya. c. Salat duha berjamaah Tidak hanya sampai disitu saja, para siswa juga dibiasakan untuk menanamkan kebiasaan positif lain yaitu salat duha berjamaah agar semua urusan pada hari itu di mudahkan oleh Allah SWT dan penuh dengan keberkahan. Kemudian setelah proses KBM selesai para siswa diwajibkan untuk melaksanakan salat zuhur berjamaah hal ini bertujuan untuk melatih dan menanamkan kedisiplinan dalam diri siswa bahwa melaksanakan salat fardu itu adalah sebuah kewajiban terutama bagi laki-laki harus senantiasa salat berjamaah di mesjid. d. Mendengarkan tausiah singkat Tausiah singkat atau nasehat pagi biasanya disampaikan oleh para guru secara bergantian pada setiap harinya. Tentu ini bisa memberikan motivasi kepada peserta didik agar selalu senantiasa untuk menjaga sikap, menjaga salat 5 waktu serta berbakti kepada orang tua. 2. Mentoring dan Evaluasi Tahap selanjutnya dalam manajemen pendidikan adab adalah monitoring dan evaluasi. Kegiatan monitoring dan evaluasi dilaksanakan secara konsisten dan terjadwal dalam kalender pendidikan dan berkesinambungan. Kegiatan ini membahas permasalahan-permasalahan yang menjadi temuan di lapangan saat proses pendidikan baik di dalam atau di luar sekolah untuk ditindaklanjuti berupa dicarikan solusi pemecahannya, sehingga permasalahan dan strategi pemecahan masalah teridentifikasi dan terumuskan dengan baik. Diharapkan dengan demikian akan memperoleh hasil yang lebih baik secara berkelanjutan. 772 | Volume 6 Nomor 2 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 2 (2024) 766-774 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10.47476/reslaj.v6i2.4398 3. Tindak Lanjut Pengembangan Pada tahap tindak lanjut dimulai dengan melakukan inventarisasi hembatanhambatan yang dijumpai dalam pelaksanaan kegiatan dan juga menganalisis proses dalam pendidikan adab yang telah dapat terlaksana dengan baik maupun yang sulit direalisasikan. Hasil inventarisasi kemudian dianalisis selanjutnya dijadikan sebagai bahan pengembangan perumusan kembali kegiatan-kegiatan pada tahun-tahun berikutnya dan begitu selanjutnya sesuai dengan alur PDCA yakni Planning (direncanakan), Do (dilaksanakan), C (Controlling) dimonitor dan dievaluasi, dan Action (ditindaklanjuti). Melalui manajemen strategis seperti ini diharapkan nilainilai yang dikembangkan melalui kegiatan yang dirumuskan dalam pendidikan adab berhasil dan terus ditingkatkan secara berkelanjutan. HASIL DARI KEGIATAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ADAB Berdasarkan analisis data yang didapatkan peneliti dari hasil observasi, survei dan wawancara adalah sikap yang di tunjukan oleh siswa bisa dibilang sangat memuaskan artinya tingkat keberhasilan dari kegiatan-kegiatan yang di terapkan sangat efektif dalam menanamkan adab pada peserta didik di sekolah. Hal ini dapat dilihat dari antusiasnya siswa berpartisipasi mengikuti kegiatan yang ada di sekolah dimulai dari tadarus Al-Qur’an juz 30 secara bersamaan, dilanjutkan dengan tausiah atau pengajian yang di sampaikan langsung oleh kepala sekolah dan dengan salat duha berjamaah, di akhiri dengan salat zuhur berjamaah sebelum pulang ke rumah masing-masing. Dapat dilihat juga dari minimnya pelanggaran yang dilakukan peserta didik dan anggun dalam bersikap serta berkata saat berada di lingkungan sekolah. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulannya adalah proses manajemen yang diterapkan oleh MTs AlAhsan dalam menerapkan Pendidikan berbasis adab di antaranya proses manajemen pendidikan adab yang diterapkan dengan rutin membaca Al-Qur’an Juz 30, salat duha berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan mendengarkan tausiah dan mengkaji kitab “Akhlak Lil Banin”. Adapun sarannya adalah peneliti berharap kepada pihak sekolah selalu terus meningkatkan kualitas dari peserta didik agar bisa menjadi generasi penerus bangsa yang memiliki budi pekerti yang luhur dan bisa meneruskan tongkat estafet dalam mengembangkan dan memajukan bangsa. DAFTAR PUSTAKA Abd Malik, H. I. (2009). Al-‘alaqah baina Al-ilm wa Al-Suluk. Jami’ah Muhammad Ibn Sa’ud. Alfiah. (2022). Remaja Kita Dalam Ancaman Krisis Adab dan Akhlak. Datariau.com. https://www.datariau.com/detail/dakwah/remaja-kita-dalam-ancaman773 | Volume 6 Nomor 2 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 2 (2024) 766-774 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10.47476/reslaj.v6i2.4398 krisis-adab-dan-akhlak Ali, Z. (2011). Pendidikan Agama Islam. Bumi Aksara. An-Nawawi, A. (1995). Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, terj. Shihabuddin. Gema Insani Press. Busthami, S. H. (2018). Pendidikan Berbasis Adab Menurut a. Hassan. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 15(1), 1–18. https://doi.org/10.14421/jpai.2018.151-01 Daud, W. M. N. W. (n.d.). Konsep al-Attas tentang Ta’dib. Jurnal Islamiah, 76. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pub. L. No. 12, 3 1 (2012). https://doi.org/10.24967/ekombis.v2i1.48 Kusmiyati. (2013). Berbagai Perilaku Kenakalan Remaja yang Mengkhawatirkan. Liputan 6. https://www.liputan6.com/health/read/688614/berbagaiperilaku-kenakalan-remaja-yang-mengkhawatirkan Maulida, A. (2015). Edukasi Islami Jurnal Pendidikan Islam Vol . 04 , Januari 2015. Edukasi Islami Jurnal Pendidikan Islam, 04, 787–805. Rossa, M. C. (2022). 2 Pelajar SMK Penganiaya Nenek di Tapsel Ditetapkan Tersangka, Psikolog: Konsekuensi atas Perbuatannya. https://regional.kompas.com/read/2022/11/24/213115478/2-pelajarsmk-penganiaya-nenek-di-tapsel-ditetapkan-tersangkapsikolog?page=all#page3 Salam, B. (2000). Etika Sosial (Asas Moral Dalam Kehidupan Manusia). PT Rineka Cipta. Sandu, S. (2015). Dasar Metodologi Penelitian. Literasi Media Publishing. Sugiono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta Bandung. Ulwah, A. N. (2002). Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam. Walidin, W. (2015). Metodologi Penelitian Kualitatif & Grounded Theory. FTK Ar Raniry Press. Zaitun. (2015). Sosiologi Pendidikan: Analisis Komprehensif Aspek Pendidikan dan Proses Sosial. Kreasi Edukasi Publishing and Consulting Company. 774 | Volume 6 Nomor 2 2024