AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. MODERASI BERAGAMA: PILAR UTAMA KEKUATAN MORALITAS BANGSA Sullati Armawi Dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh armawi@gmail. Abstrak Artikel ini membahas tentang konsep moderasi beragama dalam membina kekuatan moralitas bangsa. Bangsa Indonesia adalah masyarakat beragam budaya dengan sifat kemajemukannya. Keberagaman di Indonesia mencakup perbedaan agama, etnis, suku, budaya dan sebagainya. Dalam interaksi masyarakat yang multikultural ini, sering terjadi konflik dalam berkomunikasi, perbedan pendapat, sehingga terjadinya pergeseran nilainilai moral yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan. Konsep dasar moderasi beragama adalah keterbukaan menerima keberagaman . serta tidak saling mempertentangkan namun mencari penyelesaian dengan toleran. Apalagi di era disrupsi teknologi saat ini, dengan banyaknya informasi yang tersaji di media sosial baik sifatnya benar maupun salah. Masyarakat menjadi terbiasa menemukan kebenaran tunggal, tanpa penjelasan dan pengayaan. Hal ini bisa memicu konflik antar kelompok disebabkan beragam pendapat yang berbeda. Dalam kehidupan multikultural, diperlukan sikap menghargai perbedaan, kemajemukan dan kemauan berinteraksi dengan siapapun secara adil dan seimbang. Sejatinya perbedaan bukan sumber konflik tetapi sebagai bagian kekayaan modal budaya yang seharusnya dapat dikelola sebagai potensi bagi pengembangan kekuatan moralitas bangsa yang berbudaya. Kata Kunci: Moderasi Beragama. Moralitas Bangsa. PENDAHULUAN Bangsa Indonesia adalah bangsa majemuk. Keragaman etnis, suku, budaya, bahasa dan agama nyaris tiada tandingannya di dunia. Keberagaman ini merupakan jati diri bangsa Indonesia. Meskipun beragam dalam banyak hal, bangsa Indonesia punya ikatan dan jalinan yang saling mempertemukan satu sama lain membentuk ikatan persatuan. Kemajemukan etnis, ras, suku, budaya dan agama yang Sullati Armawi Al-Mabhats with CC BY-SA license. Copyright A 20, the author. AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. dipeluk anak bangsa dijaga dan ditata dengan landasan filosofis dan kultural Bhineka Tunggal Ika. Dengan kenyataan keragaman itu, dapat dibayangkan betapa beragamnya pendapat, pandangan, keyakinan, dan kepentingan masing-masing warga. Keragaman dapat menjadi Auintegrating forceAy yang mengikat kemasyarakatan namn dapat menjadi penyebab terjadinya benturan antar budaya, antar ras, etnis, dan nilai-nilai hidup. Dalam hal berkomunikasi, perbedaan individu dengan ragam budaya yang berbeda akan melahirkan perilaku atau moral yang bervariasi dengan membawa cara hidup dan pola pikir sesuai dengan budaya masing-masing. Masih kita jumpai benturan-benturan antar suku diberbagai wilayah, baik itu bersifat stereotip dan prasangka antar suku, diskriminasi, hingga konflik terbuka dan pembantaian antar suku yang memakan korban jiwa (Mulyana. Interaksi sesama manusia merupakan hal yang sangat multikultural, sehingga kemampuan sosial warga dalam berinteraksi perlu menjaga nilai-nilai moral yang baik. Memilih bahasa yang sopan dan santun, mengemukakan pendapat yang tidak ekstrim, serta menghargai pandangan dan ide orang lain merupakan nilai-nilai moral yang menjunjung nilai Kemampuan berinteraksi tersebut menurut Curtis dibagi dalam beberapa wilayah yaitu: affiliation ( kerja sam. , cooperation and resolution conflict . erja sama dan penyelesaian konfli. , kindness, care and affection/emphatic skill . eramahan, perhatian, dan kasih sayan. (Curtis , 1. Akhir-akhir ini, keragaman agama, suku, etnis yang ada di Indonesia sering terjadi berbagai konflik antar sesama. Problem-problem kehidupan masyarakat Indonesia terus Moderasi Beragama : Pilar Utama Kekuatan Moralitas Bangsa AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. kasus-kasus pertikaian sering terjadi disebabkan cara pandang yang berbeda, baik itu bersifat isu keagamaan, sosial budaya, politik dan lainnya. Tidak dipungkiri, dari kasus-kasus tersebut sering kita jumpai masyarakat mengikuti aksi demo baik itu dalam jumlah kecil maupun besar, bahkan sering terjadinya pertempuran yang memakan korban jiwa hanya dikarenakan paham yang berbeda dalam menyikapi satu Realita semacam ini menunjukkan adanya pergeseran moral dalam kehidupan masyarakat Indonesia, yang seharusnya dapat bersanding dalam perbedaan pendapat dengan menghormati setiap perbedaan dan bertoleransi antar Konflik yang meledak dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang bersumber pada kekerasan antar kelompok di berbagai kawasan menunjukkan betapa rentannya rasa kebhinekaan yang dibangun oleh para leluhur Indonesia terdahulu, dengan diawali oleh prasangka negatif antar kelompok, dan rendahnya rasa pengertian sesama. Peristiwa kekerasan ini seiring berjalannya waktu akan meluas dan berakhir dengan bencana yang besar. Konflik merupakan penyebab bagi kekerasan, karena dibalik setiap bentuk kekerasan terdapat konflik yang belum terselesaikan. Konflik telah mencapai titik kekerasan dapat dipastikan karena konflik telah tertangani secara keliru, atau konflik telah diabaikan. (Sutanto, 2. Fenomena seperti ini menunjukan bahwa bangsa ini masih perlu lebih menguatkan diri untuk hidup dalam rumah Pluralitas masih dianggap sebuah ancaman. Jika di telusuri lebih lanjut, akar dari setiap konflik tersebut tidaklah Ada yang disebabkan oleh kesenjangan ekonomi, perseteruan politik, atau kontestasi pemeluk agama. Namun Sullati Armawi AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. demikian, konflik yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan pemahaman agama masyarakat menjadi pemicu lahirnya konflik. Sungguh sangat disesalkan, agama yang seharusnya menjadi perekat sosial, nyatanya menjadi bagian pemicu konflik. Dalam menyelesaikan problematika tersebut, strategi dan pendekatan yang didasari sikap inklusif dalam menyikapi perbedaan, tenggang rasa antar sesama, akomodatif . terhadap budaya sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, cara pandang moderasi beragama perlu diterapkan untuk merespon isu-isu pertikaian tersebut. Sehingga tidak terjadinya pergeseran nilai moral ke arah yang tidak baik. Bahkan, menjaga moralitas bangsa adalah kewajiban kita semua, bukan dikarenakan sekedar bingkai pemersatu bangsa, lebih dari itu, merawat moralitas bangsa bermakna menjunjung tinggi nilainilai kemanusiaan yang universal. II. PEMBAHASAN Konsep Moderasi Beragama Pada era sekarang ini, kita sering mendengar istilah AuModerasi BeragamaAy. Pada dasarnya. Moderasi beragama bukan hal yang baru dalam tatanan hidup masyarakat Indonesia. Moralitas yang terbentuk dalam kehidupan bermasyarakat sudah sangat mengakar. Kita biasa hidup bertenggang rasa, menghormati persaudaraan, toleransi antar sesama, dan menghargai keragaman. Nilai-nilai fundamental seperti ini menjadi pondasi dan filosofi masyarakat di nusantara dalam menjalani kehidupan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Kata moderat dalam bahasa Arab dikenal dengan alwasathiyah sebagaimana termaktub dalam QS. al-Baqarah ayat Moderasi Beragama : Pilar Utama Kekuatan Moralitas Bangsa AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Kata al-Wasath bermakna terbaik dan paling sempurna. Dalam beberapa kajian. Auwasathiyat islamAy, sering diterjemahkan sebagai Aujustly-balanced islamAy. Authe middle pathAy atau Au the middle wayAy Islam berfungsi memediasi dan sebagai penyeimbang. Istilah-istilah ini menunjukkan pentingnya keadilan dan keseimbangan serta jalan tengah untuk tidak terjebak dalam sikap ekstremitas. Dalam hadis yang juga disebutkan bahwa sebaik-baik persoalan adalah yang berada di tengah-tengah. Dalam hal pemecahan masalah, agama Islam mengajarkan untuk melakukan pendekatan musyawarah dan berada di tengahtengah, dalam menyikapi sebuah perbedaan, baik perbedaan agama ataupun mazhab. Islam moderat mengedepankan sikap toleransi, saling menghargai, dengan tetap meyakini kebenaran keyakinan masing-masing agama dan mazhab, sehingga semua dapat menerima keputusan dengan kepala dingin, tanpa harus terlibat dalam aksi yang anarkis. Dengan demikian moderasi beragama merupakan sebuah jalan tengah di tengah keberagaman agama di Indonesia. Moderasi merupakan budaya nusantara yang berjalan seiring, dan tidak saling menegasikan antara agama . ocal Tidak mempertentangkan namun mencari penyelesaian dengan Ditinjau dari sisi pemikiran Islam. Moderat merupakan keterbukaan menerima keberagaman . Baik beragam dalam mazhab maupun beragam dalam beragama. Sisi perbedaan tidak menghalangi jalinan kerjasama dengan asas kemanusiaan (Darlis, 2. Meyakini pendapat suatu kelompok itu benar bukan berarti harus melecehkan pendapat orang lain. Sehingga dengan sikap seperti ini, ikatan Sullati Armawi AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. persaudaraan dan persatuan akan tumbuh dan mengakar dalam masyarakat. Konsep moderasi beragama sejatinya harus tumbuh dan berkembang dalam masyarakat sebagai komitmen bersama untuk menjaga keseimbangan yang paripurna. Dimana setiap warga masyarakat, dari suku, agama, etnis budaya, politik yang berbeda harus bias saling mendengarkan satu sama lain serta saling belajar melatih kemampuan mengelola dan mengatasi perbedaan diantara kita. Moderasi beragama sesungguhnya merupakan kunci terciptanya moralitas dengan mengedepankan toleransi dan kerukunan dalam masyarakat. Pilihan pada moderasi dengan menolak ekstremisme dan liberalisme dalam beragama adalah kunci keseimbangan dalam menjaga perdamaian. Dengan cara inilah masing-masing individu dapat memperlakukan orang lain secara terhormat, menerima perbedaan, serta hidup bersama dalam damai dan harmoni. Dalam masyarakat multikultural seperti kita sekarang ini, moderasi beragama bisa jadi bukan pilihan, melainkan keharusan. Prinsip Dasar Moderasi ada dua yaitu. Adil dan Berimbang. Moderasi beragama adalah selalu menjaga keseimbangan di antara dua hal, misalnya keseimbangan antara akal dan wahyu, antara jasmani dan rohani, antara hak dan kewajiban, antara kepentingan individual dan kemaslahatan komunal, antara keharusan dan kesukarelaan, antara teks agama dan ijtihad tokoh agama, antara gagasan ideal dan kenyataan, serta keseimbangan antara masa lalu dan masa depan. Prinsip pertama dari moderasi adalah adil dalam memandang, menyikapi, dan mempraktikkan semua konsep Moderasi Beragama : Pilar Utama Kekuatan Moralitas Bangsa AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. yang berpasangan di atas. Kata AuadilAy menurut KBBI diartikan tidak berat sebelah/tidak memihak. Prinsip kedua yaitu keseimbangan, adalah istilah untuk menggambarkan cara pandang, sikap, dan komitmen untuk selalu berpihak pada keadilan, kemanusiaan, dan persamaan. Kecenderungan untuk bersikap seimbang bukan berarti tidak punya pendapat. Mereka yang punya sikap seimbang berarti tegas, tetapi tidak keras karena selalu berpihak kepada keadilan, hanya saja keberpihakannya itu tidak sampai merampas hak orang lain sehingga merugikan. Keseimbangan dapat dianggap sebagai satu bentuk cara pandang untuk mengerjakan sesuatu secukupnya, tidak berlebihan dan juga tidak kurang, tidak konservatif dan juga tidak liberal. Dalam hal ini, kebenaran tidak hanya terdapat dalam satu kelompok saja, melainkan juga pada kelompok lain. Pemikiran ini berangkat dari sebuah keyakinan bahwa pada dasarnya prinsip keadilan dan keseimbangan merupakan kunci kerukunan dalam bermasyarakat. Memberikan ruang kepada setiap orang atau kelompok untuk mengemukakan pemikirannya, dan menghargai setiap perbedaan antar sesama berarti sama-sama ikut andil dalam menjaga keselamatan. Moderasi beragama bukanlah mencampuradukkan kebenaran dan menghilangkan jati diri masing-masing. Kita masih memiliki sikap yang jelas dalam suatu persoalan tanpa menistakan kebenaran. Namun konsep dalam moderasi beragama lebih mengutamakan keterbukaan dengan menerima bahwa diluar diri kita ada orang lain yang memiliki hak yang sama dengan kita sebagai masyarakat yang berdaulat dalam bingkai kebangsaan. Moderasi beragama meniscayakan umat beragama untuk tidak mengurung diri, tidak inklusif . Sullati Armawi AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. melainkan eksklusif . , melebur, beradaptasi, bergaul dengan berbagai komunitas, serta selalu belajar di samping memberi pelajaran. Dengan demikian, moderasi beragama akan mendorong masing-masing umat beragama untuk tidak bersifat ekstrem dan berlebihan dalam menyikapi keragaman, termasuk keragaman agama dan tafsir agama, melainkan selalu bersikap adil dan berimbang sehingga dapat hidup dalam sebuah kesepakatan bersama. Dalam konteks bernegara, prinsip moderasi ini pula yang pada masa awal kemerdekaan dapat mempersatukan tokoh kemerdekaan yang memiliki ragam isi kepala, ragam kepentingan politik, serta ragam agama dan kepercayaan. Semuanya bergerak ke tengah mencari titik temu untuk bersama-sama menerima bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai kesepakatan bersama. Kerelaan dalam menerima NKRI sebagai bentuk final dalam bernegara dapat dikategorikan sebagai sikap toleran untuk menerima konsep negara-bangsa. Jadi jelas bahwa moderasi beragama sangat erat kaitannya dengan menjaga kebersamaan dengan memiliki sikap Autenggang rasaAy, sebuah warisan leluhur yang mengajarkan kita untuk saling memahami satu sama lain yang berbeda dengan kita. Moderasi Beragama di Era Disrupsi Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata AudisrupsiAy didefinisikan sebagai Auhal tercerabut dari akarnyaAy. Kata disrupsi sering dikaitkan dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, yang kini memasuki masa revolusi industri digital 4. masa ini mengakibatkan terjadinya perubahan radikal dalam seluruh aspek kehidupan, begitu juga Moderasi Beragama : Pilar Utama Kekuatan Moralitas Bangsa AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. dengan aspek keagamaan. Disrupsi teknologi ini ditandai dengan berkembangnya teknologi informasi, komputasi, otomasi, dan robotisasi. Kondisi seperti ini yang mengakibatkan perubahan radikal yang sangat cepat mengakibatkan efek domino yang luar biasa masif, tanpa terkecuali aspek keagamaan. internet yang semakin dekat dengan masyarakat juga berefek pada perilaku keagamaan. Internet sebagai media digital ini bersifat membangun jejaring, tidak memihak, inter-aktif melibatkan peran aktif manusia, dan bahkan sering kali dapat dimanipulasi. Kemudahan akses internet yang tidak yang tidak memiliki aturan baku ini layaknya pasar bebas, siapa saja dapat menuliskan informasi apa pun bahkan catatan pribadi yang dipublikasikan dan dikonsumsi secara luas. Keberlimbahan sumber informasi ini membuat internet semakin digemari oleh generasi milenial. Masalah yang muncul pada disrupsi teknologi informasi ini adalah terlalu banyak informasi yang tersaji di media sosial, namun informasi benar dan salah kian campur aduk tak Ini berdampak serius ketika menyangkut konten agama, apalagi hal ini juga didukung oleh perubahan sikap masyarakat yang serba instan. Budaya instan dan praktis yang tercipta dari revolusi digital ini membuat masyarakat cenderung lebih menyukai berita melalui sosial media dibanding media masa. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh PPIM UIN Jakarta tahun 2017 menunjukkan bahwa internet berpengaruh besar terhadap meningkatknya intoleransi pada generasi milenial atau generasi Z. siswa dan mahasiswa yang tidak memiliki akses internet lebih memiliki sikap moderat dibandingkan mereka yang memiliki akses internet. Padahal Sullati Armawi AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. mereka yang memiliki akses internet sangat besar yaitu sebanyak 84,94% sisanya 15,06% siswa/mahasiswa tidak memiliki akses internet. Berdasarkan data ini, generasi millenil lebih mengandalkan dunia maya sebagai sumber belajar agama dan ilmu pengetahuan lainnya. Sebanyak 54,37% siswa dan mahasiswa belajar agama dan ilmu pengetahuan lainnya dari internet, baik itu melalui media social, blog dan website. Dalam era disrupsi teknologi dan informasi seperti sekarang ini, saat di mana setiap individu mengalami banjir informasi, prinsip adil dan berimbang dalam moderasi beragama sejatinya juga dapat dijadikan sebagai nilai . yang bermanfaat untuk mengelola informasi serta meminimalisir berita bohong . moderasi beragama memberi pelajaran untuk berfikir dan bertindak bijaksana, tidak fanatik atau terobsesi buta oleh satu pandangan mempertimbangkan pandangan keagamaan orang atau kelompok lainnya. Selain itu, revolusi digital juga mempengaruhi pola membaca masyarakat. Masyarakat cenderung menyukai judul berita yang bersifat provokatif dan heboh. Kebanyakan masyarakat langsung mempercayai isi konten yang terdapat pada berita tanpa melakukan verifikasi. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya berita hoaks . beredar di mana-mana. Hoaks dapat didefinisikan sebagai kebohongan yang terencana untuk mengecoh dan menipu orang lain. Hoaks amat berbahaya jika sampai mencelakakan, apalagi jika hoaks itu menggunakan topeng agama, maka ia dapat menciptakan konflik dan peperangan penuh militansi, karena watak agama yang sangat menyentuh sisi emosional setiap manusia. Hoaks juga akan sangat destruktif jika disampaikan oleh orang yang Moderasi Beragama : Pilar Utama Kekuatan Moralitas Bangsa AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. mengaku pengkhotbah agama, karena niscaya kata-katanya didengar oleh umatnya. Ia dapat mereduksi nilai mulia agama. Menimbang dampak jahatnya, hoaks dapat dianggap lebih keji dari pembunuhan. Selain merebaknya kasus hoaks, wajah ganda internet juga memberi ruang penyebaran konten kebencian dengan mengatasnamakan agama. Bahkan konten-konten ini menyusup dalam konten yang bermuatan pendidikan agama. Di era boom media sosial seperti saat ini, banyak orang tergoda menjadikan berbagai informasi dan opini yang bersebaran di internet sebagai jalan pintas . atas bahan referensi dan pengetahuan soal-soal keagamaan tanpa melakukan verifikasi. Banyak yang berniat baik untuk belajar Islam melalui internet dan media sosial lainnya, namun karena ceroboh atau tidak ada yang mengarahkan justru kemudian terjerumus dalam memilih serta menyeleksi konten yang seharusnya dihindari. Dampak dari perkembangan teknologi membuat tempat belajar berganti, terutama pada masyarakat yang sudah akrab dengan teknologi. Kalau dulu belajar agama pada ulama-ulama di pesantren, saat ini ada AuTgk. GoogleAy. Fasilitas internet terkadang membuat generasi milenial cenderung tidak menganggap otoritas kyai, ustaz, dan guru agama sebagai bagian yang penting dalam kehidupan sehari-hari. AuTgk. GoogleAy sudah cukup bagi mereka dalam mendapatkan pengetahuan-pengetahuan keagamaan. Umat digital menjadi terbiasa menemukan kebenaran tunggal, tanpa penjelasan dan Kaum milenial sering fokus pada kebutuhan individu dan sangat kritis terhadap nilai-nilai keagamaan Menghadapi umat digital dengan karakteristik seperti ini, perspektif moderasi beragama menjadi sangat Sullati Armawi AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. penting untuk dijadikan framing, apalagi masyarakat Indonesia sangat plural dan multikultural. Senang atau tidak senang, era disrupsi digital ini mendorong lahirnya kompleksitas masyarakat dalam Hal ini disebabkan oleh dangkalnya ilmu pengetahuan agama, terlalu tekstual dalam memahami ayatayat suci disertai sikap fanatik yang berlebihan sehingga menimbulkan eklusivisme, ekstremisme, bahkan terorisme. Sebagian ada yang menafsirkan isi kitab suci secara berlebihan sampai tidak bisa membedakan ayat-ayat Ilahi atau bukan. Bahkan sebagiannya ada yang mempermainkan pesan-pesan Ilahi sebagai pesan pribadi demi kepentingan pribadi. Fenomena seperti ini bisa menimbulkan konflik yang merusak keharmonisan dalam kehidupan masyarakat. Dalam situasi seperti ini, moderasi beragama merupakan sesuatu yang harus diimplementasikan dalam masyarakat demi kelangsungan kehidupan beragama yang lebih baik. Karenanya, di era disrupsi ini, setiap orang perlu memikirkan perilaku baik yang selama ini menjadi Kebiasaan-kebiasaan yang seudah menjadi habitus lama tertantang oleh adanya kebiasaan-kebiasaan baru sehingga kehilangan lagi relevansinya untuk era sekarang. Perubahan ini terkadang menjadi suatu kekhawatiran karena akan membunuh kebiasaan-kebiasaan lama yang menjadi inti keyakinannya, menggantikan pemain-pemain lama dengan cara yang baru, dan menggantikan teknologi lama yang serba fisik dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien, juga lebih bermanfaat. Moderasi Beragama untuk penguatan moralitas Moderasi Beragama : Pilar Utama Kekuatan Moralitas Bangsa AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Moral dalam kehidupan manusia memiliki kedudukan yang sangat penting. Nilai-nilai moral sangat diperlukan bagi manusia, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota suatu kelompok masyarakat maupun bangsa sekalipun. Peradaban suatu bagsa dapat dilihat melalui karakter moral Norma-norma moral adalah tolak ukur yang dipakai oleh masyarakat untuk menilai kebaikan sesorang. Menurut Magnis Suseno, sikap moral sebenarnya disebut moralitas. mengartikan moralitas sebagai sikap hati orang yang terungkap dalam tindakan lahiriah. Moralitas terjadi apabila sesorang mengambil sikap yang baik karena ia sadar akan kewajiban dan tanggung jawab dan bukan karena ia mencari keuntungan. Jadi moralitas adalah sikap dan perbuatan baik yang betul-betul tanpa pamrih. Hanya moralitaslah yang bernilai secara moral. (Franz Magnis Suseno, 1. Moralitas yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia adalah toleransi. Hakikinya, sikap toleransi ini menjadi kultur dalam bermasyarakat. Pada dasarnya istilah moderasi beragama tidak bisa dilepas dari tema toleransi atau toleran. Karna esensi dari moderasi beragama yaitu dapat hidup bertenggang rasa, menghormati perbedaan, serta menghargai sesama. Nilai-nilai moral ini menjadi perekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang Makna dari toleransi adalah lapang dada, dalam pengertian suka kepada siapapun, memberikan peluang kepada orang lain untuk berpendapat dan berpendirian sendiri, tidak mengganggu kebebasan orang lain dalam berpendapat. Dalam istilah lain toleransi adalah satu sikap keterbukaan untuk mendengar pandangan yang berbeda. Toleransi Sullati Armawi AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. berfungsi dua arah yaitu memberikan pendapat dan menerima pendapat orang lain namun dalam batas-batas tertentu tanpa merusak keyakinan sendiri sehingga terciptanya kerukunan dalam masyarakat. Dengan terciptanya kerukunan, masyarakat dapat hidup tenang, damai dan harmoni. Sementara itu pembangunan nasional. Berbagai peristiwa konflik sosial keagamaan sering terjadi di Indonesia, konflik tersebut mengalami banyaknya kerugian baik itu harta benda maupun jiwa. Bangunan rumah hancur, rumah ibadah dan fasilitas sosial dirusak dan dihancurkan, bahkan menelan korban jiwa yang tidak sedikit. Peristiwa tersebut sering terjadi dan diberitakan baik itu melalui media cetak maupun elektronik. Hal ini sangat menyedihkan, karena peristiwa tersebut menggambarkan para pelaku yang tidak menyadari akan makna kebhinekaan sebagai wujud syukur atas karunia tuhan. Sejatinya peristiwa-peristiwa menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia secara Karena secara hostoris, masyarakat Indonesia yang multikultural telah mempraktekkan prinsip hidup bersama secara damai dan harmoni sejak berabad-abad tahun Dan berpegang teguh pada semboyan leluhur masyarakat Indonesia AuBhineka Tunggal IkaAy yang berarti beragam tapi satu. Persatuan dan kesatuan akan bertahan lama, manakala sikap toleransi sejati bisa menjadi kultur dalam kehidupan masyarakat Indonesia, buka toleransi yang dipaksakan atau hanya kepura-puraan sebagai sebuah simbol sosial. Sikap toleransi menjadi penguatan moralitas bangsa dalam Sikap moral ini dipraktekkan tidak secara pasif Moderasi Beragama : Pilar Utama Kekuatan Moralitas Bangsa AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. dengan sekedar menghargai pendapat dan menghormati keyakinan orang lain. Akan tetapi juga aktif dalam mmbangun komunikasi, menjalin kerjasama dan kebersamaan dalam kehidupan sosial budaya. Masyarakat Indonesia harus mampu memelihara kerukunan dengan mempertahankan sikap moral tersebut secara aktif, tanpanya beratus etnis suku dan beragam keyakinan akan hancur akibat pertikaian. Menurut Kohlber (Hadirman, 1. , ada beberapa tahapan yang dapat dilakukan dalam menguatkan moralitas bangsa, yaitu: Tahap I : patuh pada aturan yang berlaku di Indonesia untuk menghindari hukuman Tahap II : menyesuaikan diri dengan keadaan masyarakat untuk mendapatkan ganjaran, kebaikan dan Tahap i : menyesuaika diri dan menjaga diri dari sikap ketidaksetujuan, ketidaksenangan orang lain. Tahap IV : menyesuaikan diri untuk memelihara rasa hormat, sikap menmghargai perbedaan. Tahap V : menyesuaikan diri untuk menghindari atas penghukuman diri sendiri dan kelompok. Menghargai kebhinekaan merupakan sikap positif yang harus dibangun dalam diri warga Indonesia. Perbedaan bukan sumber konflik tetapi sebagai bagian kekayaan modal budaya yang seharusnya dapat dikelola sebagai potensi bagi pengembangan karakter bangsa yang berbudaya. Sikap saling menghargai dan menghormati harus dibangun sejak usia dini. Penanaman nilai moral dalam pribadi individu harus mulai digalakkan kembali dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. Negara harus memperhatikan potensi budaya sebagai sumber Sullati Armawi AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. kekuatan untuk membangun identitas percaturan dan kekuatan budaya global. Kesimpulan Moderasi kompleksitas problematika bangsa dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang damai dan bermoral. Visi moderasi beragama sesungguhnya dapat tumbuh subur di Indonesia, lebih subur ketimbang di negara-negara lain, karena modal ideologi Pancasila dan slogan Bhineka Tunggal Ika, yang memiliki misi menjaga keberagamaan, merawat keragaman, berakulturasi dengan kebudayaan, serta menjaga persatuan dan kesatuan masyarakatnya. Kata moderat dalam bahasa Arab dikenal dengan alwasathiyah bermakna terbaik dan paling sempurna. Dalam hadis yang juga disebutkan bahwa sebaik-baik persoalan adalah yang berada di tengah-tengah. Dalam hal pemecahan masalah, agama Islam mengajarkan untuk melakukan pendekatan musyawarah dan berada di tengah- tengah, dalam menyikapi sebuah perbedaan, baik perbedaan agama ataupun Dengan demikian moderasi beragama merupakan sebuah jalan tengah di tengah keberagaman agama di Indonesia. Moderasi merupakan budaya Nusantara yang berjalan seiring, dan tidak saling menegasikan antara agama . ocal Tidak mempertentangkan namun mencari penyelesaian dengan toleran tanpa harus terlibat dalam aksi yang anarkis. Pada era disrupsi teknologi sekarang ini, ditandai dengan berkembangnya teknologi informasi, komputasi, otomasi, dan robotisasi. Kondisi seperti ini yang mengakibatkan perubahan radikal yang sangat cepat Moderasi Beragama : Pilar Utama Kekuatan Moralitas Bangsa AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. mengakibatkan efek domino yang luar biasa masif, tanpa terkecuali aspek keagamaan. internet yang semakin dekat dengan masyarakat juga berefek pada perilaku keagamaan. Masalah yang muncul pada disrupsi teknologi informasi ini adalah terlalu banyak informasi yang tersaji di media sosial, namun informasi benar dan salah kian campur aduk tak Ini berdampak serius ketika menyangkut konten agama dan sosial. Moderasi beragama memberi pelajaran untuk berfikir dan bertindak bijaksana, tidak fanatik atau terobsesi buta oleh satu pandangan keagamaan seseorang atau kelompok saja, tanpa mempertimbangkan pandangan keagamaan orang atau kelompok lainnya. Moderasi beragama tidak bisa dilepas dari tema toleransi atau toleran. Karna esensi dari moderasi beragama yaitu dapat hidup bertenggang rasa, menghormati perbedaan, serta menghargai sesama. Nilai-nilai moral ini menjadi perekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang multikultural. Persatuan dan kesatuan akan bertahan lama, manakala sikap toleransi sejati bisa menjadi kultur dalam kehidupan masyarakat Indonesia, bukan toleransi yang dipaksakan atau hanya kepura-puraan sebagai sebuah simbol sosial. Sikap toleransi menjadi penguatan moralitas bangsa dalam Demikianlah, jelas bahwa upaya penguatan moderasi beragama adalah tugas kita bersama dengan menjadikannya sebagai salah satu gerakan kultural masyarakat. Indonesia ini negara besar dan beragam, keragaman dan keutuhannya tidak mungkin dirawat oleh satu dua pihak saja. Akan tetapi dengan kebersamaann dan demi kepentingan bersama, kerukunan hidup dapat dibina dengan damai dan toleran. Sullati Armawi AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Kepustakaan Darlis. Mengusung Moderasi Islam di Tengah Masyarakat Multikultural. (Jakarta: Rausyan Fikr, 2. Hanafi. Muchlis. Moderasi Islam. (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran. Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, 2. MasAoud. Strategi Moderasi Antarumat Beragama. (Jakarta: Kompas, 2. Schwartz. Dua Wajah Islam: Moderatisme vs Fundamentalisme dalam Wacana Global. (Jakarta: Belantika,2. Suparlan. Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural. (Dalam Jurnal Antropologi Indonesia 69, 2. Syafruddin. Didin dan Ismatu Ropi. GEN Z: Kegalauan Identitas Keagamaan, (Jakarta: UIN Jakarta, 2. Moderasi Beragama : Pilar Utama Kekuatan Moralitas Bangsa