Jayapangus Press Metta: Jurnal Ilmu Multidisiplin Volume 4 Nomor 4 . ISSN : 2798-7329 (Media Onlin. Pemanfaatan Tools GWEF dan Kebijakan Akun Belajar ID untuk Meningkatkan Kompetensi Pendidik dalam Pembelajaran Kolaboratif. Komunikatif, dan Atraktif di SMP Negeri 1 Bangli Dewa Gede Keramas Pradnyana1. I Ketut Sudarsana2 SMP Negeri 1 Bangli. Indonesia Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Indonesia kadek@gmail. Abstract This research aims to determine the level of utilization of Google Workspace for Education Fundamentals tools in Sekolah Penggerak program at SMP Negeri 1 Bangli. The respondents for this research were all teachers at SMP Negeri 1 Bangli with a total of 34 respondents. The method used is a survey method with questionnaires and written interviews assisted by Google Form. The findings showed that the majority of respondents have used Belajar ID account both in learning activities and assessments in class with varying frequency, and even 2 respondents . 88%) in their learning and assessment activities always . %) use the account. although there was also 1 respondent . who had not used it at all for certain activities at school. Respondents whose level of usage of the account is still relatively low . % - 25%) certainly need more intensive and sustainable dissemination to strengthen respondents' understanding of the account. Meanwhile, respondents used the account with varying frequencies ranging from 1% to The majority of respondents indicated that the frequency of using the account was in the range of 76% - 90%. Findings also showed that the majority of respondents use the account for learning and assessment activities . 65%). Google Classroom is a very popular application because 50% of respondents use this tool because the face-to-face display and learning management available in it are very similar to conventional learning In second place. Google Forms were used by 20. 59% of respondents, in third place was Google Docs which was used by 17. 65% of respondents, and in fourth place was Google Drive which was used by 11. 76% of respondents. Keywords: GWEF. Collaborative. Communicative. Attractive Abstrak Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat pemanfaatan tools Google Workspace for Education Fundamentals pada program sekolah penggerak di SMP Negeri 1 Bangli. Responden yang dilibatkan adalah seluruh tenaga pendidik di SMP Negeri 1 Bangli dengan jumlah 34 responden. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan angket dan interview tertulis berbantuan Google Form. Hasil temuan menunjukkan bahwa responden secara mayoritas telah memanfaatkan akun Belajar ID baik dalam aktivitas pembelajaran dan asesmen di kelas dengan frekuensi yang bervariasi, dan bahkan di antaranya 2 responden . 88%) yang di dalam aktivitas pembelajaran dan asesmen yang selalu memanfaatkan akun Belajar ID . %) meskipun ada juga 1 responden . 94%) yang belum memanfaatkan akun pembelajaran ini dalam aktivitas tertentu di sekolah. Responden yang tingkat penggunaan akun Belajar ID masih tergolong rendah . % - 25%) tentu membutuhkan diseminasi yang lebih intensif dan berkelanjutan untuk memperkuat pemahaman responden terhadap akun Belajar ID. Sementara itu, responden memanfaatkan akun Belajar ID dengan frekuensi yang beragam mulai dari rentang 1% sampai dengan 99%. Mayoritas responden menunjukkan bahwa frekuensi https://jayapanguspress. org/index. php/metta penggunaan akun Belajar ID pada rentang 76% - 90%. Temuan pada penelitian ini juga menunjukkan sebagian besar responden memanfaatkan akun Belajar ID untuk kegiatan pembelajaran dan asesmen . 65%). Google Classroom merupakan aplikasi yang sangat populer karena 50% responden memanfaatkan tools ini karena tampilan tatap muka dan manajemen pembelajaran yang tersedia di dalamnya sangat mirip dengan model pembelajaran konvensional. Di urutan kedua. Google Form digunakan sebanyak 20. responden, di urutan ketiga ditempati oleh Google Docs yang dimanfaatkan sebanyak 65% responden, dan di urutan keempat ditempati oleh Google Drive yang dimanfaatkan sebanyak 11. 76% responden. Kata Kunci: GWEF. Kolaboratif. Komunikatif. Atraktif Pendahuluan Hakikat pendidikan yang termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat . mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Selain itu, sebagaimana yang tertuang pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Usaha sadar dimaksudkan bahwa dalam upaya mencapai tujuan pendidikan nasional, diperlukan langkah-langkah strategis dan konkrit yang dapat terukur oleh masyarakat pendidik, serta oleh pihak-pihak yang terlibat di dunia pendidikan (Askari, 2. Pendidikan merupakan aspek yang sangat krusial pada pembangunan sebuah negara, termasuk di Indonesia. Namun, peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia sangat perlu dilakukan dalam menghadapi kompleksitas tantangan transformasi global. Sehingga, pemerintah Indonesia melalui program Merdeka Belajar yang digemakan oleh Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi merilis Program Sekolah Penggerak sebagai sebuah improvement kualitas pendidikan dan sebagai counter transformasi global. Regulasi yang dijadikan payung hukum dalam Program Sekolah Penggerak adalah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 162 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Sekolah Penggerak di Sekolah Dasar. Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas. Program Sekolah Penggerak ini bertujuan untuk membekali para kepala satuan pendidikan dengan skill kepemimpinan yang mampu mendorong perubahan di satuan pendidikan yang dipimpinnya. Lima langkah intervensi holistik yang perlu diterapkan satuan pendidikan dalam mendorong perubahan tersebut, yaitu pertama pendekatan yang konsultatif, kedua pembelajaran dengan paradigma baru, ketiga perencanaan sekolah berbasis data, keempat penguatan sumber daya manusia sekolah, kelima digitalisasi Segala bentuk intervensi dilakukan untuk mempermudah sumber daya manusia di satuan pendidikan tersebut untuk dapat beradaptasi dan bersaing di dunia internasional. Dari kelima intervensi holistik yang menjadi tujuan dari program sekolah penggerak tersebut, digitalisasi menjadi hal krusial yang tengah dipercepat, terutama dalam kondisi pascapandemi seperti sekarang ini. Dengan program digitalisasi, satuan pendidikan meyakini proses belajar mengajar lebih menyenangkan dan lebih variatif. Keberhasilan pembelajaran menjadi tujuan dan harapan bagi semua guru. Semua guru berharap agar peserta didik mengerti dan memahami materi-materi yang dipelajari dalam semua mata pelajaran di sekolah. Suatu pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila peserta didik mampu memahami materi pembelajaran yang komprehensif baik sesuai dengan tujuan https://jayapanguspress. org/index. php/metta pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Namun, saat ini kebanyakan peserta didik belum sepenuhnya mengerti dan memahami materi pembelajaran sehingga berdampak pada hasil belajar mereka yang relatif masih rendah. Pembelajaran yang berkualitas merupakan hal yang utama dalam menentukan tercapainya sasaran dan tujuan pendidikan secara kolaboratif, komunikatif, dan atraktif. Oleh karena itu, pendidik hendaknya mencari dan menggunakan inovasi pembelajaran sebagai usaha untuk mengatasi hambatan, kendala, serta kelemahan yang ditemukan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Inovasi pembelajaran yang dipilih dapat menantang peserta didik untuk aktif dalam proses belajar. Penggunaan inovasi pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran akan dapat menumbuhkan minat dan motivasi mereka untuk belajar sehingga mereka akan terlibat secara aktif dalam proses Keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran akan membuat pemahaman mereka terhadap materi yang dipelajari menjadi semakin baik karena siswa akan mendapat pengalaman dan mengalami langsung langkah-langkah dalam menemukan konsep-konsep yang terkandung pada materi yang dipelajari, dan hal ini tentu akan berdampak pada peningkatan hasil belajar peserta didik. Peserta didik bisa memanfaatkan teknologi dan media dalam serangkaian cara untuk meningkatkan belajar (Smaldino, 2. Sejalan dengan intervensi digitalisasi dalam program sekolah penggerak. Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi meluncurkan akun Belajar ID yang dikembangkan dan juga merupakan bagian dari konsep merdeka belajar menjadi hal yang inovatif di tengah kondisi pandemi silam. Akun Belajar ID, yang merupakan Google partenrship, dapat dimanfaatkan oleh kepala satuan pendidikan, guru dan tenaga kependidikan, serta peserta didik dimana penggunaan akun ini diatur melalui Peraturan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 18 Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis Pemanfaatan Data Pokok Pendidikan untuk Akun Akses Layanan Pembelajaran. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Bab II pada poin A bagian 3c (Wahyudi & Suwandana, 2. Tenaga pendidik di seluruh Indonesia yang telah terdata di Dapodik akan secara akan memperoleh akun pembelajaran tersebut untuk selanjutnya dapat sepenuhnya dimanfaatkan dalam pembelajaran atau asesmen peserta didik, serta kepentingan manajerial sebuah satuan pendidikan. Akun ini diberikan kepada seluruh guru dan tenaga kependidikan lainnya di semua jenjang satuan pendidikan. Akun Belajar ID ini diharapkan dapat menjadi alternatif aksi yang solutif bagi tenaga kependidikan karena akun pembelajaran ini memiliki berbagai keunggulan yang terintegrasi dengan ekosistem Tools Google Workspace for Education Fundamentals. Dari berbagai model pembelajaran yang ada, salah satu inovasi dalam pengintegrasian teknologi yang digunakan untuk menciptakan suasana pembelajaran yang kolaboratif, komunikatif, dan atraktif sebagai implementasi kurikulum merdeka pada program sekolah penggerak SMP Negeri 1 Bangli adalah Si Kelih yang merupakan sebuah akronim dari Aksi (S. Kenali (K. , dan Pilih (Li. Inovasi pembelajaran ini dapat diterapkan tidak terbatas pada mata pelajaran tertentu saja, namun seluruh mata pelajaran agar peserta didik dapat terlibat aktif dalam pembelajaran dengan mengintegrasikan berbagai teknologi sesuai dengan kodrat zaman mereka, yaitu peserta didik mendapatkan konsep pendidikan kekinian yang terintegrasi dengan teknologi digital. Aksi kenali yang dimaksudkan di sini adalan tenaga pendidik mengenali seluruh tools atau alat-alat yang tersedia dalam Google Workspace for Education Fundamentals (GWEF) seperti Google Docs. Google Sheet. Google Slide. Google Jamboard. Google Classroom. Google Meet. Google Translate. Google Form. Google Sites dan Google Drive sesuai dengan fungsinya masing-masing dan memilih alat-alat tersebut untuk diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran dan asesmen di kelas. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan teknik pengumpulan data berupa interview berbantuan Google Form. Penelitian survei adalah metode penelitian yang mengkaji populasi yang besar dengan menggunakan metode sampel yang memiliki tujuan untuk mengetahui perilaku, karakteristik, dan membuat deskripsi serta generalisasi yang ada dalam populasi tersebut (Sudaryo, 2. Seluruh pendidik di SMP Negeri 1 Bangli menjadi responden dalam penelitian ini dengan jumlah 34 orang terdiri atas 9 responden laki-laki dan 25 responden perempuan. Survei ini dilakukan selama satu hari dengan pengumpulan melalui kuesioner pada tanggal 12 Mei Survei disebarkan melalui Grup WhatsApp internal tenaga pendidik SMP Negeri 1 Bangli menggunakan google form, sehingga kerahasiaan identitas responden dan validitas instrumennya bisa dijaga. Hasil survei tersebut kemudian diolah dengan teknik analisis kuantittif deskriptif untuk mendapatkan gambaran pemanfaatan akun pembelajaran ini secara spesifik di SMP Negeri 1 Bangli sebagai sekolah pelaksana program sekolah Hasil dan Pembahasan Hasil diskusi diklasifikasikan ke dalam tiga bagian pembahasan untuk mempermudah diskusi, antara lain . Aktivasi akun Belajar ID, . Tools Google Workspace for Education Fundamentals, dan . Pemanfaatan akun Belajar ID di SMP Negeri 1 Bangli. Aktivasi Akun Belajar ID Hasil dari analisis kuesioner sudah menunjukkan bahwa 60 responden atau sekitar 80% tenaga pendidik di SMP Negeri 1 Bangli telah melakukan aktivasi akun Belajar ID. Temuan dari penelitian ini dapat menyajikan sebuah gambaran bahwasannya aktivasi akun pembelajaran ini sudah dilakukan secara menyeluruh oleh tenaga pendidik di SMP Negeri 1 Bangli mengingat kebutuhan penggunaan akun Belajar ID memang sebuah keharusan dan memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam kegiatan pembelajaran dan asesmen untuk mendukung program digitalisasi dalam sekolah penggerak. samping itu juga, kondisi jaringan internet yang dimiliki oleh seluruh tenaga pendidik sangat memadai karena berada di wilayah perkotaan. Setelah seluruh tenaga pendidik di SMP Negeri 1 Bangli telah melakukan aktivasi akun Belajar ID, dalam penelitian ini juga ingin menguji sejauh mana akun pembelajaran dimanfaatkan oleh tenaga pendidik baik untuk kegiatan pembelajaran dan asesmen. Tools Google Workspace for Education Fundamentals Wajah pendidikan di Indonesia berubah saat pandemi COVID-19 melanda empat tahun silam. Dulu, segala hal dilakukan dengan cara yang masih konvensional, yaitu luring dan bertatap muka. Namun, ketika pandemi itu melanda memaksa kita untuk menggunakan segala sesuatu berbasis digital. Berbagai platform digunakan untuk memastikan satuan pendidikan dalam proses pembelajaran dan asesmen dapat terus Saat ini, memang telah berada dalam masa beyond pandemic, tetapi dunia pendidikan sudah terlanjur terdisrupsi. Pembelajaran pascapandemi telah ditandai dengan kehadiran era digitalisasi yang kuat. Teknologi memegang peran penting dalam pembelajaran, dan hybrid learning-pun mencuat menjadi primadona karena dianggap lebih efektif apabila dibandingkan dengan sistem konvensional sebelumnya. Meski pendidikan telah bertransformasi dari yang sebelumnya luring menjadi daring, teknologi yang memfasilitasi sistem daring atau pembelajaran jarak jauh tetap digunakan, salah satunya adalah Google Workspace for Education Fundamentals yang menawarkan ekosistem pembelajaran yang kolaboratif, efisien, dan aman. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Teknologi ini akan membantu baik tenaga pendidik dan peserta didik meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi, berkolaborasi, berkreativitas, dan berpikir kritis. Oleh karena itu, tidak heran teknologi ini memiliki tingkat popularitas yang tinggi dan digunakan oleh banyak institusi pendidikan. Dalam lamannya dapat dikutip bahwa Google Workspace for Education Fundamentals adalah serangkaian alat dan layanan ekosistem Google yang dapat dikustomisasi bagi satuan pendidikan untuk berkolaborasi, menyederhanakan instruksi, dan memastikan pembelajaran tetap aman meskipun dilakukan secara daring. Adapun beberapa tools atau alat yang merupakan ekosistem dari Google Workspace for Education Fundamentals adalah sebagai berikut: Google Docs Google Docs merupakan alat dalam ekosistem Google yang dimanfaatkan untuk menyusun dokumen teks seperti esai, laporan, artikel maupun cerita. Google Docs adalah tempat yang tepat untuk tugas-tugas tersebut yang mengharuskan banyak pengetikan. Google Docs memungkinkan tenaga pendidik maupun peserta didik membuat, memformat dokumen,maupun bekerja secara kolaboratif. Gambar 1. Tampilan Tatap Muka Google Docs (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Google Slide Google Slide merupakan tools pada ekosistem Google yang membantu tenaga pendidik maupun peserta didik membuat salindia digital yang dapat diproyeksikan atau dibagikan di depan kelas atau audiens lain secara realtime. Fitur pada Google Slide pengguna dapat menyertakan teks, maupun media visual atau audiovisual untuk membuat paparan presentasi untuk sapat diproyeksikan di layar eksternal atau dibagikan langsung kepada auediens yang tersedia di laman web atau sebagai platform digital yang dapat ditampilkan di perangkat gawai. Gambar 2. Tampilan Tatap Muka Google Slide (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/metta c. Google Sheet Google Sheet merupakan salah satu tools pada Google Workspace for Education Fundamentals yang secara komprehensif menawarkan berbagai fitur dan fungsi standar spreadsheet seperti dalam aplikasi lainnya yang setara dengan Microsoft Excel yang secara umum dimanfaatkan untuk mengolah angka dan menyusun laporan penelitian dengan tabel maupun grafik (Hastri & Wardarita, 2. Gambar 3. Tampilan Tatap Muka Google Sheet (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Google Jamboard Google Jamboard merupakan tools dalam ekosistem Google. Google Jamboard bisa digunakan sebagai media pembelajaranyang imersif karena peserta didik bisa ikut langsung berpartisipasi atau berkolaborasi menulis di papan tulis digital tersebut berbantuan akses internet (Rusmawaty & Hermagustiana, 2. Gambar 4. Tampilan Tatap Muka Google Jamboard (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Google Jamboard memungkinkan terciptanya pengalaman belajar yang menyenangkan dan yang paling penting adalah terbangunnya interaksi antara tenaga pendidik dan peserta didik. Dengan melibatkan peserta didik di dalam kegiatan pembelajaran, dalam hal ini peserta dapat terlibat langsung menulis menghilangkan sekat yang umum terjadi dalam kelas tatap maya. Google Jamboard membuat kelas menjadi interaktif karena semua tools yang ada pada fitur Google Jamboard dapat diakses oleh semua peserta didik. Selain itu. Google Jamboard dapat diintegrasikan dengan semua media pembelajaran yang beragam seperti gambar, foto, dan video. Papan tulis maya ini lebih dinamis dibandingkan dengan papan tulis yang biasa digunakan di ruang kelas karena Google Jamboard lebih bersifat dinamis, kolaboratif dan interaktif. Misalnya, https://jayapanguspress. org/index. php/metta ketika tenaga pendidik membuat pertanyaan dan meminta peserta didik untuk menjawab, semua peserta didik bisa terlibat, dan tidak perlu menunggu bergiliran untuk menulis. Dalam hal ini, tenaga pendidik diuntungkan dengan penggunaan waktu yang lebih efisien sehingga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan selanjutnya. Google Classroom Aplikasi Google Classroom ini merupakan tools pembelajaran yang tingkat popularitasnya paling tinggi di antara tools lainnya yang tersedia di Google Playstore. Kelebihan dari aplikasi ini yaitu pembelajaran tidak dibatasi ruang dan waktu. Pembelajaran di abad 21 ini lebih menuntut pada aktivitas digitalisasi dengan harapan dapat membantu tenaga pendidik dan peserta didik dalam mencerna materi pembelajaran dengan lebih inspiratif, konstruktif, interaktif, produktif, efektif, imersif, dan menyenangkan (Aunurrahman. Rahman & Purwaningsih, 2. Adanya fitur-fitur pada Google Classroom yang memberikan berbagai kemudahan dalam melakukan pembelajaran tatap maya secara langsung akan mendukung sistem pembelajaran yang diperlukan saat ini sesuai kodrat zaman. Gambar 5. Tampilan Tatap Muka Google Classroom (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Fitur-fitur dasar yang terdapat pada Google Classroom sebagai berikut: Meyusun pengumuman atau berinteraksi dengan peserta didik, pada fitur ini tenaga pendidik dapat membuat pengumuman, memilih kelas atau peserta didik tertentu yang akan menerima pengumuman, dan menjadwalkan tampilan pengumuman . Membuat tugas untuk peserta didik. Pada fitur ini, tenaga pendidik dapat memeriksa proses peserta didik yang sudah mengerjakan dan belum mengerjakan tugas yang . Membuat pertanyaan maupun kuis untuk peserta didik . Memposting kembali aktivitas yang dituliskan pada kegiatan sebelumnya . Membuat secara instan dan/atau menjadwalkan pertemuan tatap maya yang terintegrasi dengan Google Meet. Google Form Tools online berikutnya yang tidak kalah populer dari ekosistem Google adalah Google Form. Tools ini dirancang untuk membuat kuis daring maupun survei tentang refleksi pembelajaran, menginventarisir respon atau jawaban dari pertanyaan terbuka, mengumpulkan data, dan komentar. Google Form sangat tepat dimanfaatkan oleh tenaga pendidik dan peserta didik dalam membuat asesmen formatif dalam betuk kuis dan survei secara daring (Mansor, 2. Hamdani et al. selanjutnya menyatakan bahwa Google Form sebagai layanan dalam ekosistem Google untuk mengelola pendaftaran suatu event, ataupun kuis. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Gambar 6. Tampilan Tatap Muka Google Form (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Google Form kaya akan fitur-fitur apabila dibandingkan dengan rivalnya yang lain sehingga memungkinkan tools ini menjadi alternatif dalam mendukung kinerja pendidik untuk melakukan asesmen pembelajaran. Salah satu keunggulan yang dimiliki yaitu adanya fitur menambahkan media pada tools ini, ketersediaan beragam bentuk pertanyaan yang bervariatif yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan tenaga pendidik, serta tanggapan dari responden bisa langsung ditampilkan. Selain itu, seluruh data yang dibuat di dalam Google Form juga tersimpan di server yang dapat diandalkan yang memiliki tingkat security yang sangat tinggi. Sehingga. Google Form dapat digunakan sebagai media atau wadah bagi tenaga pendidik yang ingin berinovasi, berkreativitas, dan bereksplorasi, sehingga dapat memantik tenaga pendidik untuk menjadi seorang pribadi pembelajar secara tak langsung (Bulan & Zainiyati, 2. Google Meet Google Meet dapat menjadi alternatif media untuk kegiatan diseminasi atau bersosialisasi dimanapun dan kapanpun dengan memanfaatkan jaringan internet. Google Meet memungkinkan pengguna untuk melakukan panggilan video kapanpun dengan tanpa batasan partisipan. Google Meet membantu tenaga pendidik dan peserta didik berinteraksi secara tatap maya. Di samping itu, fitur yang tersedia di Google Meet dapat mendukung pelaksanaan pembelajaran secara daring. Pendidik dibuat lebih mudah oleh Google Meet dalam proses penyampaian materi belajar dan membuat suasana kelas menjadi aktif dalam berdiskusi dan berinteraksi karena dengan ekosistem Google, pendidik bisa mengintegrasikan tools lainnya yang tersedia. Tools Google Meet dengan menggunakan akses akun Belajar ID, pengguna dengan leluasa dapat mengakses fitur yang lebih banyak dibandingkan dengan akun pribadi biasa, serta penggunaan kuota internet yang lebih efisien. Hal ini tentunya sangat memudahkan dan tidak membebani peserta didik untuk mengakses Google Meet apabila disandingkan dengan platform lain yang sejenis seperti Zoom Workplace maupun Microsoft Teams (Yuliana, 2. Gambar 7. Tampilan Tatap Muka Google Meet (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/metta h. Google Drive Jaringan berbasis internet. Cloud computing, merupakan media yang memungkinkan pengguna . memanfaatkannya sebagai media penyimpanan (Hayes. Ada banyak sekali pilihan aplikasi penyimpanan data berbasis cloud yang cukup populer di dunia antara lain Google Drive. Dropbox, iCloud, dan Microsoft OneDrive. Dampak perubahan sebagai akibat dari perkembangan teknologi internet hendaknya dimanfaatkan semaksimal mungkin khususnya bagi tenaga pendidik sebagai alternatif penyimpanan dokumen-dokumen pembelajaran agar dapat dipergunakan secara Prihandi . menyatakan bahwa Google Drive merupakan bentuk cloud storage layanan media penyimpanan milik Google. Layanan yang dapat diakses secara bebas menggunakan peramban apapun memiliki manfaat sebagai berikut: Dapat mengirim beragam tipe file baik foto, video, audio, dokumen, dan jenis file . Folder akan tersinkronisasi baik dari perangkat komputer maupun laptop dan bahkan perangkat ponsel pintar . Segala perubahan dapat dilakukan menggunakan aplikasi Google seperti pengolah kata, presentasi dan formulir . Dapat saling berbagi file dengan mengatur level hak akses dan . Menyediakan kapasitas penyimpanan yang cukup besar jika disandingkan dengan rival lainnya seperti Microsoft OneDrive maupun Dropbox meskipun dalam status akun gratis sebesar 15 gigabyte, dan sebesar 100 gigabyte serta 20 petabyte bagi pengguna akun Belajar ID. Gambar 8. Tampilan Tatap Muka Google Drive (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Google Sites Slamet . mengungkapkan bahwa Google Sites merupakan salah satu tools pada Google Workspace for Education Fundamentals yang difungsikan untuk membuat sebuah situs. Karena situs ini terintegrasi dengan cloud computing. Google Drive, maka pembuatan dan manajemennya sangat mudah untuk dilakukan bahkan bagi para tenaga pendidik maupun peserta didik yang latar belakang pendidikannya tidak terkait web designer ataupun pemrograman. Kelebihan menggunakan Google Sites yaitu bebas dan gratis dalam penggunaannya, mudah dibuat, dapat dikolaborasikan dengan pengguna lainnya untuk membuat serta menyunting isi situs, memiliki integrasi dengan akun Google lainnya sehingga dapat dengan mudah saling berbagi . aik gambar, audiovisual, presentasi, atau dokume. , serta mudah ditelusuri menggunakan teknologi search engine. Pengguna dapat menentukan siapa saja yang memiliki hak akses tertentu ke situs yang telah dibuat dan level izin yang diberikan pada pengguna juga dapat dimanajemen dengan sangat baik. Google Sites adalah aplikasi penggunaannya sangat mudah karena https://jayapanguspress. org/index. php/metta hanya membutuhkan perangkat gawai dan akses internet, tidak perlu mengunduh aplikasi sehingga tenaga pendidik dan peserta didik dapat leluasa mengaksesnya melalui peramban secara langsung. Dengan kreativitas tenaga pendidik. Google Sites bisa diintegrasikan dengan tools Google lainnya sehingga pembelajaran daring yang efektif bisa tercapai dan mampu memberikan peningkatan motivasi belajar dan minat belajar peserta didik. Inovasi seperti ini perlu secara terus-menerus diinisiasi dan dikembangkan secara berkelanjutan. Peran guru harus dapat menjadi fasilitator bagi peserta didiknya agar dapat belajar dengan mudah dan menyenangkan. Gambar 9. Tampilan Tatap Muka Google Sites (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Google Translate Penerjemahan menurut (Newmark, 1. merupakan aktivitas menerjemahkan sebuah makna suatu naskah ke dalam bahasa lain seperti yang dimaksudkan oleh penulis. Sedangkan Bell . memberikan definisi sebuah penerjemahan sebagai bentuk pengungkapan sebuah bahasa sumber ke dalam bahasa target, dengan fokus pada semantik dan ekuivalensinya. Google Translate merupakan sebuah layanan mesin terjemahan multibahasa yang dapat digunakan secara bebas yang dikembangkan oleh Google dalam melakukan penerjemahan teks dari satu bahasa ke bahasa lainnya (Maulida, 2. Meskipun hasil terjemahan Google Translate tidak sepenuhnya akurat, namun dalam praktiknya Google Translate dapat mengakselerasi penguasaan kosakata karena sifatnya yang praktis, tanpa perlu berbantuan kamus dwi bahasa yang tebal yang membuat peserta didik kurang nyaman membawanya dan bahkan untuk membukanya Gambar 10. Tampilan Tatap Muka Google Translate (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Pemanfaatan Akun Belajar ID di SMP Negeri 1 Bangli Hasil temuan pasca pendistribusian survei menunjukkan bahwa responden secara mayoritas telah memanfaatkan akun Belajar ID baik dalam aktivitas pembelajaran dan asesmen di kelas dengan frekuensi yang bervariasi, dan bahkan di antaranya 2 responden . 88%) yang di dalam aktivitas pembelajaran dan asesmen selalu . %) memanfaatkan akun Belajar ID meskipun ada juga 1 responden . 94%) belum memanfaatkan akun Belajar ID sama sekali dalam aktivitas tertentu di sekolah. Hal ini tentu saja perlu dilakukan penelitian lebih lanjut, apakah disebabkan oleh kendala jaringan internet atau belum paham responden terkait dengan akun Belajar ID dimaksud. Penggunaan akun Belajar ID masih tergolong di tingkat rendah yaitu sekitar 1% - 25% responden. Hal ini tentu membutuhkan diseminasi yang lebih intensif dan berkelanjutan untuk memperkuat pemahaman responden terhadap akun Belajar ID. Tabel 1. Persentase Pemanfaatan Akun Belajar ID Persentase Frekuensi Jumlah Responden Penggunaan Akun Belajar ID 1% - 25% 26% - 50% 51% - 75% 76% - 90% 91% - 99% Total (Sumber: Analisis Peneliti, 2. Tabel 2. Pemanfaatan Akun Belajar ID Jenis Penggunaan Jumlah Responden Persentase Pembelajaran Asesmen Asesmen dan Pembelajaran Manajemen Sekolah Total (Sumber: Analisis Peneliti, 2. Sementara itu, frekuensi yang beragam dari responden memanfaatkan akun Belajar ID mulai dari rentang 1% sampai dengan 99% yang rinciannya dapat dilihat pada Mayoritas responden menunjukkan frekuensi penggunaan akun Belajar ID pada rentang 76% - 90%. Responden juga sebagian besar memanfaatkan akun Belajar ID untuk kegiatan pembelajaran dan asesmen . 65%), dan meskipun terdapat beberapa responden yang memanfaatkan akun ini hanya untuk pembelajaran atau penilaian saja. Tabel 3. Tools Google Workspace for Education Fundamentals (GWEF) yang Populer Dimanfaatkan oleh Responden Tools GWEF Jumlah Responden Persentase Google Docs Google Sheet Google Slide Google Form https://jayapanguspress. org/index. php/metta Google Classroom Google Meet Google Jamboard Google Drive Google Translate Google Site Gmail Total (Sumber: Analisis Peneliti, 2. Tools Google Classroom merupakan aplikasi yang sangat populer karena 50% responden memanfaatkan tools ini karena tampilan tatap muka dan manajemen pembelajaran yang tersedia pada Google Classroom sangat mirip dengan model pembelajaran konvensional. Di urutan kedua tools populer ditempati oleh Google Form. Sebanyak 20. 59% responden memanfaatkan tools ini untuk praktik asesmen. Di urutan ketiga ditempati oleh Google Docs yang dimanfaatkan sebanyak 17. 65% responden, dan di urutan keempat tools GWEF ditempati oleh Google Drive yang dimanfaatkan sebanyak 76% responden. Dari beberapa tools tersebut, belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh responden sehingga perlu penelitian lebih lanjut mengenai tools yang belum sepenuhnya dimanfaatkan ini. Tabel 4. Jumlah Responden yang Mengikuti Program Diseminasi Akun Belajar ID Keikutsertaan Jumlah Responden Persentase Diseminasi Sudah Belum Total (Sumber: Analisis Peneliti, 2. Akun Belajar ID sudah dikenal oleh kalangan tenaga pendidik dan juga sudah dimanfaatkan dengan frekuensi yang bervariasi. Data menunjukkan bahwa seluruh tenaga pendidik di SMP Negeri 1 Bangli sudah mengikuti program diseminasi ini yang diselenggarakan oleh komunitas belajar, platform Merdeka mengajar (PMM), maupun dari Google Master Trainer (GMT). Di satu sisi, temuan dari penelitian ini masih menunjukkan belum efektifnya penggunaan ekosistem Google Workspace for Education Fundamentals, namun di sisi lain, temuan dari penelitian ini sudah menggambarkan hasil yang memuaskan karena transfer knowledge di antara para tenaga pendidik sudah berjalan dengan sangat baik dengan cara yang beragam baik secara daring maupun luring. Dukungan yang lebih masif lagi baik dari pemerintah pusat maupun daerah untuk terus memperluas diseminasi pemanfaatan akun Belajar ID masih perlu dilakukan. Kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden secara mayoritas telah memanfaatkan akun Belajar ID baik dalam aktivitas pembelajaran dan asesmen di kelas dengan frekuensi yang bervariasi, dan bahkan di antaranya 2 responden . 88%) yang di dalam aktivitas pembelajaran dan asesmen yang selalu memanfaatkan akun Belajar ID . %) meskipun ada juga 1 responden . 94%) yang belum memanfaatkan akun pembelajaran ini dalam aktivitas tertentu di sekolah. Responden yang tingkat penggunaan akun Belajar ID masih tergolong rendah . % - 25%) tentu membutuhkan diseminasi yang lebih intensif dan berkelanjutan untuk memperkuat pemahaman responden terhadap akun Belajar ID. Sementara itu, responden memanfaatkan akun Belajar ID dengan frekuensi yang beragam mulai dari rentang 1% sampai dengan 99%. Mayoritas responden https://jayapanguspress. org/index. php/metta menunjukkan frekuensi penggunaan akun Belajar ID pada rentang 76% - 90%. Adapun hasil menunjukkan sebagian besar responden memanfaatkan akun Belajar ID untuk kegiatan pembelajaran dan asesmen . 65%). Google Classroom merupakan aplikasi yang sangat populer karena 50% responden memanfaatkan tools ini karena tampilan dan manajemen pembelajaran yang tersedia di dalamnya sangat mirip dengan model pembelajaran konvensional. Di urutan kedua. Google Form digunakan sebanyak 20. responden, di urutan ketiga Google Docs yang digunakan sebanyak 17. 65% responden, dan di urutan keempat Google Drive yang digunakan sebanyak 11. 76% responden. Daftar Pustaka