JURNAL SAINS. SOSIAL DAN HUMANIORA Support By : e-ISSN: 2777-015X. DOI: https://doi. org/10. 52046/jssh. Web: https://journal. com/index. php/jssh E-mail: jurnaljssh. ummu@gmail. The Influence of Lecturer-Student Interpersonal Communication on Student Learning Motivation in the UMMU KPI Study Program (Pengaruh Komunikasi Interpersonal Dosen-Mahasiswa terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa Program Studi KPI UMMU) Anjas Prasetyo 1A. Salwa Muin 1 dan Siti Nur Alfiah A. 1 Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam. Fakultas Agama Islam. Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Ternate. Indonesia. Email : abutohir04@gmail. Info Artikel : E Artikel Penelitian A Artikel Pengabdian A Riview Artikel Diterima : 24 Mei 2026. Disetujui : 14 Juni 2026. Publikasi On-Line : 17 Juni 2026 Abstract This study examines the dynamics of lecturer-student interpersonal communication and its influence on learning motivation in the Communication and Islamic Broadcasting Study Program at Muhammadiyah University of North Maluku. Interpersonal communication plays a crucial role in fostering studentsAo academic engagement and sustaining both intrinsic and extrinsic motivation. This research employed a qualitative approach using semi-structured interviews with two lecturers and five students, classroom observations, and document analysis. The data were analyzed through Miles and HubermanAos interactive model, involving data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings show that lecturer-student communication develops through dynamic, dialogic, and interactive processes. Relationships that are characterized by openness, empathy, supportiveness, and equality create a positive learning atmosphere that strengthens studentsAo confidence, participation, and motivation. addition, lecturersAo adaptive communication strategies, which consider individual student needs, contribute significantly to more effective learning interactions. The study concludes that interpersonal communication functions not only as a medium for delivering academic information but also as a strategic instrument for enhancing psychological safety and learning These findings highlight the importance of promoting supportive and participatory communication practices in higher education. Therefore, lecturers should maintain constructive interactions with students, while universities are encouraged to provide policies and professional development programs that strengthen communication competencies and create a more conducive learning environment. Keywords: Interpersonal Communication. Learning Motivation. Lecturers. Students. PENDAHULUAN Motivasi belajar merupakan faktor penting dalam keberhasilan mahasiswa di perguruan tinggi karena berperan dalam meningkatkan keterlibatan akademik, ketekunan belajar, pencapaian prestasi, serta keberhasilan studi secara keseluruhan (Acosta-Gonzaga & RamirezArellano, 2021. Yarin et al. , 2022. Messerer et al. Selian itu motivasi belajar tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal, seperti minat, kepercayaan diri, dan tujuan belajar, tetapi juga oleh faktor eksternal, termasuk kualitas komunikasi interpersonal antara dosen dan mahasiswa (Fitriani et al. , 2. Komunikasi interpersonal yang efektif dapat menciptakan iklim belajar yang kondusif, mendorong partisipasi aktif, serta meningkatkan rasa percaya Penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang merasakan dosen sebagai pribadi yang terbuka, empatik, dan suportif cenderung lebih aktif dan memiliki Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora motivasi belajar yang lebih tinggi (Safitri et al. Komunikasi interpersonal dalam konteks pendidikan mengacu pada proses interaksi verbal dan nonverbal yang terjadi antara dosen dan mahasiswa, mencakup penyampaian informasi, dialog, umpan balik, dukungan emosional, serta komunikasi dengan karakteristik dan kebutuhan Berdasarkan model komunikasi dipandang sebagai proses timbal balik yang berlangsung secara simultan, di mana setiap individu berperan sebagai pengirim sekaligus penerima pesan. Dalam proses tersebut, makna tidak hanya ditransmisikan, tetapi juga dikonstruksi bersama melalui interaksi yang aktif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, makna yang terbentuk dapat berubah sesuai dengan konteks komunikasi, pengalaman interaksi sebelumnya, serta interpretasi yang dimiliki oleh masingmasing pihak (Xie & Derakhshan, 2021. Derakhshan et al. , 2022. Wang & Derakhshan. Dalam lingkungan pendidikan tinggi, dinamika komunikasi interpersonal antara dosen dan mahasiswa menjadi aspek yang penting karena dapat membangun hubungan akademik mahasiswa dalam pembelajaran, mendorong partisipasi aktif, serta memperkuat motivasi belajar mahasiswa (Hamdan & Attika, 2024. Xie & Derakhshan, 2. Beberapa penelitian terdahulu menegaskan pentingnya komunikasi interpersonal dosenmahasiswa. Misalnya, penelitian oleh (Rahman, 2. menunjukkan bahwa dosen yang aktif berinteraksi dengan mahasiswa melalui diskusi terbuka, umpan balik konstruktif, dan dukungan personal mampu meningkatkan motivasi belajar Studi lain di perguruan tinggi Islam menekankan bahwa komunikasi yang empatik dapat meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa serta mendorong mereka untuk lebih proaktif dalam kegiatan akademik. Temuan ini sejalan dengan teori belajar sosial yang menyatakan bahwa interaksi dan modeling dalam lingkungan yang suportif dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan peserta didik (Alfadhul, 2. Komunikasi interpersonal berperan penting dalam meningkatkan motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik mahasiswa. Motivasi intrinsik merupakan dorongan yang berasal dari dalam diri mahasiswa, seperti rasa ingin tahu, minat terhadap materi pembelajaran, serta kepuasan pribadi yang diperoleh dari proses belajar itu Sebaliknya, motivasi ekstrinsik berasal Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. dari faktor-faktor eksternal, seperti nilai akademik, penghargaan, pengakuan, maupun dukungan yang diberikan oleh dosen dan lingkungan belajar (Bureau et al. , 2022. Ryan & Deci, 2. Komunikasi interpersonal yang efektif meningkatkan kedua jenis motivasi tersebut karena membuat mahasiswa merasa dihargai, didengar, dipahami, dan didukung dalam proses pembelajaran. Perasaan positif tersebut mendorong keterlibatan yang lebih tinggi, memperkuat komitmen mahasiswa untuk mencapai tujuan akademiknya. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan interpersonal dosen, hubungan positif antara dosen dan mahasiswa, serta iklim pembelajaran yang suportif berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan motivasi, keterlibatan akademik, dan keberhasilan belajar mahasiswa (Xie & Derakhshan, 2021. Wang & Derakhshan, 2023. Yeni & Susanti, 2. Konteks penelitian ini adalah Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (Prodi KPI) Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Prodi ini menuntut interaksi intens antara dosen dan mahasiswa karena fokus pada pengembangan keterampilan komunikasi dan praktik penyiaran berbasis nilai keislaman. Intensitas interaksi ini memberikan peluang yang tepat untuk mengkaji memengaruhi motivasi belajar. Observasi awal menunjukkan bahwa mahasiswa yang menerima bimbingan dan dukungan personal dari dosen menunjukkan partisipasi akademik yang lebih tinggi dan motivasi belajar yang lebih baik. Meskipun banyak penelitian menekankan pentingnya komunikasi interpersonal, kajian yang fokus pada dinamika komunikasi interpersonal dalam konteks perguruan tinggi Islam di Maluku Utara masih terbatas. Sebagian besar penelitian terdahulu menekankan pengaruh komunikasi secara umum, sehingga kurang menyoroti pola interaksi, adaptasi dosen, dan pengalaman relasional mahasiswa yang berkembang seiring Oleh karena itu, penelitian ini diarahkan untuk mengkaji secara mendalam dinamika komunikasi interpersonal antara dosen dan mahasiswa serta pengaruhnya terhadap motivasi belajar di Prodi KPI Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Penelitian mendeskripsikan pola komunikasi interpersonal antara dosen dan mahasiswa di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), berkembang dari komunikasi formal menuju Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora hubungan yang lebih terbuka dan fleksibel, serta menilai kualitas komunikasi interpersonal yang ditunjukkan melalui keterbukaan, empati, sikap suportif, dan kesetaraan dalam interaksi Selain itu, penelitian ini juga bertujuan keaktifan, dan kemandirian belajar. Melalui pencapaian tujuan tersebut, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian komunikasi pendidikan, khususnya dalam konteks pendidikan tinggi berbasis keislaman, sekaligus menjadi rujukan praktis bagi dosen dan institusi dalam merancang strategi komunikasi yang efektif, membangun interaksi yang suportif, serta menciptakan iklim akademik yang kondusif, kolaboratif, dan partisipatif guna meningkatkan keterlibatan dan motivasi belajar mahasiswa. Secara keseluruhan, pemahaman mengenai dinamika komunikasi interpersonal dosen dan mahasiswa sangat penting untuk menciptakan suasana belajar yang Dengan mengkaji bagaimana pola, kualitas, dan adaptasi komunikasi berkontribusi terhadap motivasi belajar, penelitian ini menyediakan wawasan empiris yang dapat meningkatkan pengembangan potensi akademik mahasiswa di perguruan tinggi. II. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Fakultas Agama Islam. Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada relevansinya dengan fokus penelitian, yaitu dinamika komunikasi interpersonal antara dosen dan mahasiswa serta Penelitian dilakukan pada semester genap tahun 2025/2026 pengumpulan data yang berlangsung secara bertahap guna memperoleh pemahaman yang mendalam dan kontekstual mengenai fenomena yang diteliti. Penelitian fenomenologis untuk memahami pengalaman subjektif dosen dan mahasiswa dalam membangun komunikasi interpersonal di lingkungan akademik. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti mengeksplorasi makna, pola, kualitas, dan dinamika komunikasi interpersonal serta implikasinya terhadap Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. motivasi belajar mahasiswa secara mendalam berdasarkan pengalaman para partisipan. Informan penelitian dipilih menggunakan mempertimbangkan keterlibatan langsung dalam proses komunikasi akademik. Informan terdiri atas dosen dan mahasiswa aktif Program Studi KPI yang berasal dari berbagai tingkat semester untuk memperoleh variasi pengalaman dan perspektif yang lebih luas. Penentuan jumlah informan dilakukan secara fleksibel mengikuti prinsip kecukupan data . ata saturatio. , yaitu proses pengumpulan data dihentikan ketika informasi yang diperoleh telah menunjukkan pola yang berulang dan tidak ditemukan tema baru yang Instrumen penelitian meliputi pedoman wawancara semi-terstruktur, lembar observasi nonpartisipan, dan studi dokumentasi. Pedoman wawancara disusun berdasarkan indikator komunikasi interpersonal yang mencakup keterbukaan, empati, sikap suportif, kesetaraan, kenyamanan berkomunikasi, serta persepsi mahasiswa terhadap motivasi belajar. Sebelum digunakan dalam penelitian, instrumen terlebih dahulu direview dan divalidasi secara internal melalui diskusi dengan pakar atau dosen pembimbing, serta dilakukan uji coba terbatas . ilot testin. untuk memastikan kejelasan pertanyaan, relevansi indikator, dan konsistensi Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi nonpartisipan, dan dokumentasi. Wawancara dilaksanakan secara tatap muka maupun daring sesuai dengan kondisi lapangan dan persetujuan informan. Observasi dilakukan terhadap interaksi dosen dan mahasiswa di dalam maupun di luar kelas dengan memperhatikan aspek komunikasi verbal dan nonverbal, respons interaksi, serta tingkat partisipasi mahasiswa. Dokumentasi digunakan untuk melengkapi dan memperkuat data yang diperoleh dari wawancara dan observasi melalui penelaahan arsip akademik, catatan kegiatan perkuliahan, dan dokumen pendukung lainnya yang relevan. Untuk menjamin validitas dan kredibilitas data, penelitian menerapkan triangulasi sumber, triangulasi metode, triangulasi waktu, dan triangulasi teori. Triangulasi sumber dilakukan diperoleh dari dosen dan mahasiswa, sedangkan perbandingan hasil wawancara, observasi, dan Triangulasi waktu dilakukan Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora dengan pengumpulan data pada waktu yang berbeda untuk memastikan konsistensi informasi, sementara triangulasi teori dilakukan dengan menginterpretasikan temuan menggunakan perspektif komunikasi interpersonal dan motivasi Selain meminimalkan bias melalui penggunaan pedoman lapangan secara sistematis, refleksi peneliti . , serta diskusi hasil sementara dengan pembimbing atau rekan sejawat. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau Untuk memperdalam interpretasi terhadap pengalaman dan makna yang dikemukakan informan, analisis dilakukan secara tematik dengan mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul dari data lapangan. Data yang telah direduksi disajikan dalam bentuk narasi deskriptif yang didukung oleh kutipan langsung informan, kemudian diinterpretasikan untuk menemukan pola, hubungan antarfenomena, dan makna yang mendasari dinamika komunikasi interpersonal serta pengaruhnya terhadap motivasi belajar mahasiswa. Penelitian ini juga memperhatikan aspek etika penelitian. Sebelum pengumpulan data dilakukan, seluruh informan diberikan penjelasan mengenai tujuan penelitian dan diminta memberikan persetujuan secara sukarela . nformed consen. Kerahasiaan identitas informan dijaga dengan menggunakan kode atau nama samaran, dan informan diberikan hak untuk menolak atau menghentikan partisipasi kapan saja tanpa konsekuensi apa pun. Seluruh data yang diperoleh digunakan semata-mata untuk kepentingan akademik dan penelitian. Melalui prosedur tersebut, penelitian ini diharapkan menghasilkan pemahaman yang komprehensif, mendalam, dan terpercaya mengenai pola, kualitas, serta dinamika komunikasi interpersonal antara dosen dan mahasiswa, serta implikasinya terhadap motivasi belajar di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian komunikasi interpersonal antara dosen dan mahasiswa di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (Prodi KPI). Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, berlangsung secara dinamis, dialogis, dan interaktif. Berdasarkan Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. dokumentasi, pola komunikasi awalnya bersifat formal, tetapi seiring waktu berkembang menjadi lebih terbuka dan nyaman. Mahasiswa diberikan ruang untuk menyampaikan pendapat, bertanya, serta berdiskusi, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih partisipatif (Skripsi, 2026, hlm. 65Ae Pola Komunikasi Interpersonal Pola komunikasi interpersonal yang terbentuk di Prodi KPI bersifat dua arah . , di mana mahasiswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga aktif berpartisipasi melalui tanya jawab, diskusi, dan penyampaian pendapat. Pola menyampaikan pengalaman, kesulitan, dan pertanyaan mereka secara langsung, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih interaktif dan Seorang mahasiswa menyatakan. AuLebih ke dua arah. Jadi bukan cuma dosen yang menjelaskan, tapi mahasiswa juga bisa bertanya atau menyampaikan pendapatAy, yang menegaskan pentingnya peran aktif mahasiswa dalam membangun komunikasi akademik yang efektif. Dosen secara sadar mendorong partisipasi mahasiswa dengan memberikan respons yang jelas, memfasilitasi diskusi kelompok, dan merangsang pemikiran kritis. Strategi ini tidak hanya menekankan penyampaian materi, tetapi juga membangun interaksi sosial yang konstruktif, sehingga mahasiswa dapat belajar secara kolaboratif dan merasa lebih terlibat dalam proses Pola komunikasi dialogis ini sesuai dengan teori komunikasi interpersonal DeVito, yang menekankan pentingnya interaksi dua arah, adanya feedback, dan saling menghargai antara komunikator dan penerima pesan. Selain itu, pola komunikasi ini menciptakan lingkungan belajar yang aman secara psikologis, di mana mahasiswa merasa dihargai dan didengar. Hal ini memperkuat motivasi belajar, meningkatkan keaktifan, dan mendorong mahasiswa untuk berinisiatif dalam memahami materi maupun melakukan tugas mandiri. Keterbukaan, empati, dan kesetaraan yang diterapkan dosen tidak hanya memfasilitasi pemahaman akademik, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan partisipasi interpersonal menjadi instrumen strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Dinamika Komunikasi Interpersonal Dinamika komunikasi interpersonal antara dosen dan mahasiswa di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora Universitas Muhammadiyah Maluku Utara menunjukkan perkembangan interaksi yang pada awalnya bersifat formal menjadi lebih fleksibel, terbuka, dan akrab seiring berlangsungnya proses Pada tahap awal perkuliahan, sebagian mahasiswa masih merasakan adanya jarak psikologis dengan dosen sehingga cenderung berhati-hati dalam berkomunikasi. Salah seorang mahasiswa menyatakan. AuAwalnya saya agak takut bertanya karena merasa salah, tapi lama-lama dosen terbuka dan memberi ruang bagi semua mahasiswa untuk berbicara. Ay Seiring meningkatnya intensitas dan kualitas interaksi, mahasiswa menjadi lebih nyaman, percaya diri, dan aktif menyampaikan pendapat sehingga partisipasi dalam diskusi kelas turut meningkat. Temuan ini sejalan dengan penelitian Xie dan Derakhshan . yang menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal yang positif mampu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung keterlibatan mahasiswa. Hasil ini juga didukung oleh Frymier dan Houser . yang menjelaskan bahwa kedekatan komunikasi antara dosen dan mahasiswa berpengaruh terhadap meningkatnya motivasi dan partisipasi akademik. Pendekatan adaptif yang diterapkan dosen merupakan strategi penting dalam meningkatkan efektivitas komunikasi interpersonal. Adaptasi tersebut dilakukan dengan menyesuaikan gaya komunikasi, tingkat formalitas, penggunaan bahasa, dan metode penyampaian materi sesuai dengan karakteristik serta kebutuhan mahasiswa. Sebagai contoh, kepada mahasiswa semester awal dosen cenderung menggunakan bahasa yang lebih sederhana, suasana dialog yang santai, serta memberikan penguatan positif agar mahasiswa berani bertanya dan mengemukakan pendapat. Sebaliknya, pada mahasiswa semester akhir dosen menerapkan komunikasi yang lebih reflektif dan kritis melalui diskusi berbasis analisis kasus, presentasi, dan argumentasi ilmiah untuk mendorong kemandirian berpikir. Selain itu, dosen juga menyediakan kesempatan yang setara bagi seluruh mahasiswa untuk berdiskusi, baik di dalam maupun di luar kelas, sehingga tercipta hubungan interpersonal yang lebih terbuka dan Strategi adaptif tersebut terbukti meningkatkan rasa nyaman, kepercayaan diri, dan kualitas interaksi antara dosen dan mahasiswa. Temuan ini mendukung penelitian Wang dan Derakhshan . yang menegaskan bahwa penyesuaian komunikasi dosen berkontribusi terhadap keterlibatan akademik mahasiswa. Senada dengan itu. Titsworth et al. menyatakan bahwa komunikasi instruksional yang adaptif dan responsif mampu meningkatkan Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. efektivitas pembelajaran dan motivasi belajar Dinamika komunikasi interpersonal di Prodi KPI juga dipengaruhi oleh faktor psikologis mahasiswa, seperti rasa aman, kepercayaan, dan pengalaman komunikasi sebelumnya. Namun, proses tersebut berlangsung dalam konteks budaya akademik dan karakteristik institusi yang berbasis nilai-nilai keislaman, di mana berkomunikasi, dan budaya musyawarah menjadi bagian penting dalam interaksi pembelajaran. Dalam konteks ini, komunikasi interpersonal penyampaian materi akademik, tetapi juga sebagai media pembinaan karakter, penanaman nilai-nilai etis, dan penguatan sikap saling menghargai terhadap perbedaan pendapat. Oleh karena itu, komunikasi interpersonal yang positif menjadi faktor strategis dalam membangun akademik mahasiswa (Derakhshan et al. , 2. Pandangan ini juga diperkuat oleh penelitian Astin . yang menegaskan bahwa kualitas interaksi antara mahasiswa dan lingkungan akademik merupakan salah satu determinan utama keberhasilan proses belajar di perguruan tinggi. Kualitas Komunikasi Interpersonal Kualitas komunikasi interpersonal di Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah Maluku Utara tercermin melalui empat indikator utama, yaitu keterbukaan, empati, sikap suportif, dan Keterbukaan ditunjukkan oleh dosen dengan memberikan kesempatan yang luas menyampaikan pendapat, serta mendiskusikan berbagai persoalan akademik maupun personal yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Salah seorang mahasiswa mengungkapkan. AuDosen selalu mendengarkan pertanyaan kami tanpa menghakimi, dan memberikan penjelasan yang jelas serta bersahabat. Ay Kondisi tersebut membangun lingkungan belajar yang kondusif, sehingga mahasiswa merasa dihargai, lebih percaya diri, dan terdorong untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan akademik. Empati tercermin dari perhatian dosen terhadap kesulitan akademik maupun nonakademik yang dihadapi mahasiswa, disertai upaya memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan individu. Sementara itu, sikap suportif diwujudkan melalui pemberian dorongan, arahan, agar mahasiswa mampu mengembangkan kemandirian belajar. Bentuk Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora dukungan tersebut antara lain berupa bimbingan akademik, pemberian umpan balik yang konstruktif, serta penyesuaian tugas dan metode pembelajaran berdasarkan kemampuan dan karakteristik mahasiswa. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman terhadap materi perkuliahan, tetapi juga memperkuat keterlibatan sosial dan rasa percaya diri mahasiswa dalam berinteraksi di lingkungan Kesetaraan terlihat dari perlakuan yang adil menghilangkan otoritas dosen sebagai pendidik. Setiap mahasiswa memperoleh kesempatan yang mengajukan pertanyaan, dan terlibat dalam diskusi, sehingga tumbuh rasa dihargai dan nyaman dalam berkomunikasi. Praktik ini membangun lingkungan akademik yang inklusif interpersonal yang sehat antara dosen dan Keempat indikator, yaitu keterbukaan, empati, sikap suportif, dan kesetaraan, saling melengkapi dalam membentuk komunikasi interpersonal yang berkualitas. Kombinasi indikator tersebut tidak hanya memperkuat hubungan akademik antara dosen dan mahasiswa, tetapi juga berkontribusi secara signifikan keterlibatan dalam proses pembelajaran, dan terciptanya interaksi akademik yang produktif. Temuan ini sejalan dengan Vadya et al. yang menegaskan bahwa kualitas komunikasi interpersonal memiliki hubungan erat dengan motivasi dan partisipasi belajar mahasiswa. Selain itu, hasil penelitian ini juga mendukung pandangan DeVito . bahwa keterbukaan, empati, sikap suportif, dan kesetaraan merupakan komunikasi interpersonal yang efektif dan berkelanjutan dalam lingkungan pendidikan. Persepsi Mahasiswa terhadap Komunikasi Dosen Mahasiswa komunikasi yang dilakukan dosen sebagai positif, nyaman, dan mendukung. Mereka merasa dihargai dan didengar, sehingga bimbingan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan akademik maupun personal mereka. Persepsi positif ini menjadi faktor motivasional yang mendorong mahasiswa untuk lebih aktif dalam mengikuti perkuliahan, berpartisipasi dalam diskusi kelas, dan mengajukan pertanyaan atau ide secara Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. Beberapa mahasiswa menggambarkan hubungan dengan dosen seperti hubungan kekeluargaan, yang meningkatkan kenyamanan dalam proses belajar dan keterlibatan akademik. Seorang mahasiswa menyatakan. AuSaya merasa dosen seperti teman yang bisa diajak bicara, bukan hanya sebagai pengajar, sehingga lebih mudah memahami materi dan berani bertanyaAy. Hubungan pengembangan motivasi intrinsik, di mana mahasiswa terdorong untuk belajar secara mandiri dan berinisiatif tanpa tekanan eksternal yang berlebihan. Selain itu, persepsi positif terhadap komunikasi dosen juga berdampak pada keaktifan sosial dan kognitif mahasiswa. Mahasiswa yang merasa diperhatikan lebih bersedia berbagi informasi, berkolaborasi dengan teman sejawat, dan mengembangkan ide kreatif. Hal ini menegaskan bahwa persepsi mahasiswa terhadap kualitas komunikasi dosen berperan strategis dalam membangun keterlibatan akademik yang berkelanjutan, sekaligus menjadi indikator keberhasilan komunikasi interpersonal dalam menciptakan lingkungan belajar yang Motivasi Belajar Mahasiswa Mahasiswa pada umumnya memandang komunikasi yang dibangun oleh dosen di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah Maluku Utara sebagai interaksi yang positif, nyaman, dan mendukung proses pembelajaran. Mereka merasa pendapat dan kebutuhan akademiknya mendapatkan perhatian yang memadai, sehingga bimbingan yang diberikan dosen dinilai sesuai dengan kondisi dan karakteristik masing-masing Persepsi positif tersebut menjadi faktor yang mendorong mahasiswa untuk lebih aktif mengikuti perkuliahan, berpartisipasi dalam diskusi kelas, serta berani mengajukan pertanyaan dan menyampaikan gagasan secara Kedekatan hubungan interpersonal antara dosen dan mahasiswa juga menjadi salah satu aspek yang memperkuat motivasi belajar. Sejumlah mahasiswa menggambarkan hubungan tersebut layaknya hubungan kekeluargaan yang dibangun atas dasar saling menghormati dan saling percaya. Persepsi ini tercermin dari pernyataan salah seorang mahasiswa yang mengungkapkan. AuSaya merasa dosen seperti teman yang bisa diajak bicara, bukan hanya sebagai pengajar, sehingga lebih mudah memahami materi dan berani bertanya. Ay Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora komunikasi yang bersifat dialogis dan tidak menghakimi mampu mengurangi jarak psikologis antara dosen dan mahasiswa, sehingga tercipta suasana belajar yang lebih terbuka dan Kondisi ini turut mendukung berkembangnya motivasi intrinsik, di mana mahasiswa terdorong untuk belajar secara mandiri dan berinisiatif tanpa bergantung pada tekanan eksternal. Selain berdampak pada motivasi belajar, persepsi positif terhadap komunikasi dosen juga memengaruhi keterlibatan sosial dan kognitif Mahasiswa diperhatikan cenderung lebih bersedia berbagi informasi, bekerja sama dengan teman sejawat, serta mengembangkan ide-ide kreatif dalam proses pembelajaran. Interaksi yang positif tersebut memperkuat partisipasi akademik sekaligus membangun budaya belajar yang Temuan ini menegaskan bahwa persepsi mahasiswa terhadap kualitas komunikasi dosen memiliki posisi strategis dalam meningkatkan keterlibatan akademik yang berkelanjutan. Hubungan interpersonal yang hangat dan suportif tidak hanya memperlancar penyampaian materi pembelajaran, tetapi juga menjadi indikator penting keberhasilan komunikasi interpersonal dalam membangun lingkungan belajar yang kondusif, inklusif, dan berorientasi pada pengembangan potensi mahasiswa. Hubungan Komunikasi dan Motivasi Belajar Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara kualitas komunikasi interpersonal dosen dan motivasi belajar mahasiswa di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Komunikasi yang ditandai oleh keterbukaan, empati, sikap suportif, membangun psychological safety, yaitu kondisi ketika mahasiswa merasa aman untuk pertanyaan, dan terlibat dalam diskusi tanpa rasa takut melakukan kesalahan. Lingkungan belajar yang demikian mendorong mahasiswa untuk lebih aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran dan mengembangkan rasa percaya diri dalam aktivitas akademik. Temuan ini sejalan dengan Edmondson bahwa psychological terhadap peningkatan partisipasi dan keterlibatan individu dalam suatu kelompok belajar. Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. Pengaruh terhadap motivasi belajar juga tercermin dari Salah AuKetika pertanyaan saya dengan sabar dan jelas, saya merasa lebih termotivasi untuk ikut diskusi dan mencoba hal baru. Ay Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa respons dosen yang positif dan komunikatif tidak hanya membantu mahasiswa memahami materi, tetapi juga memperkuat keyakinan diri untuk berpartisipasi secara aktif. Dengan demikian, kualitas interaksi antara dosen dan mahasiswa menjadi salah satu faktor yang mendukung tumbuhnya motivasi intrinsik dalam belajar. Selain itu, pendekatan adaptif yang diterapkan dosen melalui penyesuaian gaya komunikasi, metode penyampaian materi, dan pola interaksi sesuai kebutuhan mahasiswa turut memperkuat rasa mampu . dan keterhubungan . Kedua aspek tersebut merupakan komponen penting dalam pembentukan motivasi belajar sebagaimana dijelaskan dalam Self-Determination Theory oleh Ryan dan Deci . Strategi komunikasi yang adaptif mendorong peningkatan partisipasi akademik, keterlibatan sosial, dan semangat belajar mahasiswa secara menyeluruh. Oleh karena itu, komunikasi interpersonal tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian materi, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam membangun motivasi belajar, meningkatkan keterlibatan mahasiswa, dan mendukung efektivitas proses pembelajaran di lingkungan akademik (Ilvi et al. , 2. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menegaskan bahwa dinamika dan kualitas komunikasi interpersonal dosen-mahasiswa memiliki peran strategis dalam memperkuat motivasi belajar serta mendukung keberhasilan akademik mahasiswa. Komunikasi yang positif tidak hanya berfungsi sebagai media transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai mekanisme penguatan psikologis dan sosial yang mendorong keterlibatan mahasiswa secara berkelanjutan. Implikasi praktis dari penelitian ini kompetensi komunikasi bagi dosen melalui pelatihan yang terstruktur. Pelatihan tersebut komunikasi empatik, teknik mendengarkan aktif . ctive listenin. , pemberian umpan balik konstruktif, komunikasi dialogis, serta strategi pembelajaran partisipatif yang berpusat pada Selain itu, institusi pendidikan perlu Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora mendukung penerapan metode interaksi yang adaptif dan kolaboratif agar tercipta iklim akademik yang aman, inklusif, dan mampu meningkatkan motivasi serta keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran. IV. PENUTUP Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal antara dosen dan mahasiswa di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Maluku Utara berkembang melalui pola yang dinamis, dialogis, dan interaktif. Dinamika tersebut terlihat dari perubahan hubungan yang pada awalnya bersifat formal menjadi lebih terbuka, fleksibel, dan suportif seiring meningkatnya intensitas interaksi akademik. Analisis temuan memperlihatkan bahwa pola komunikasi yang ditandai oleh keterbukaan, empati, sikap suportif, dan kesetaraan mampu membangun rasa aman secara psikologis . sychological safet. , meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa, serta mendorong keterlibatan mereka dalam diskusi dan aktivitas pembelajaran. Temuan empiris juga menunjukkan bahwa interpersonal yang berkualitas cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi, baik dalam bentuk motivasi intrinsik, seperti keinginan untuk mengembangkan kemampuan diri, maupun motivasi ekstrinsik, seperti pencapaian prestasi Selain itu, pendekatan adaptif dosen yang menyesuaikan gaya komunikasi dengan karakteristik dan kebutuhan mahasiswa terbukti memperkuat efektivitas pembelajaran serta menciptakan lingkungan akademik yang lebih kondusif dan partisipatif. Temuan penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi berbagai pihak. Dosen perlu kompetensi komunikasi interpersonal melalui mendengarkan aktif . ctive listenin. , pemberian umpan balik yang konstruktif, serta pembelajaran dialogis yang mendorong partisipasi mahasiswa. Mahasiswa diharapkan memanfaatkan ruang komunikasi yang terbuka untuk meningkatkan keaktifan, kemampuan berpikir kritis, dan kemandirian belajar, baik di dalam maupun di luar Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. Institusi pendidikan perlu mendukung penguatan budaya komunikasi akademik melalui penyelenggaraan pelatihan komunikasi bagi dosen, program pendampingan akademik, forum diskusi kolaboratif, serta kebijakan yang mendorong terciptanya lingkungan belajar yang inklusif dan partisipatif. Pengembangan penelitian pada masa mendatang dapat diarahkan pada penggunaan pendekatan kuantitatif untuk mengukur besarnya pengaruh komunikasi interpersonal terhadap motivasi belajar secara lebih terukur. Selain itu, pendekatan campuran . ixed method. atau memasukkan variabel lain, seperti gaya kepemimpinan dosen, lingkungan belajar, dukungan sosial, dan faktor psikologis mahasiswa, sehingga diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi motivasi belajar dalam konteks pendidikan tinggi. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak terkait. Ucapan terima lebih ditekankan kepada sponsor penelitian atau Jika menyebut sponsor penelitian, sebaiknya menyebut identitas rinci dari sponsor berupa nomor kontrak hibah secara jelas. DAFTAR PUSTAKA