Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 DOI http://dx. org/10. 36722/sh. Citra Pemuda Muslim dalam Berita Jawa Pos Online: Analisis Linguistik Korpus Zakiyah Arifa1*. Vita Nur Santi2. Mafruhatun Nadifah3 Program Studi Pendidikan Bahasa Arab. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Jl. Gajayana No. Dinoyo. Kec. Lowokwaru. Kota Malang. Jawa Timur 65144 Program Studi Sastra Inggris. Fakultas Humaniora. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Jl. Gajayana No. Dinoyo. Kec. Lowokwaru. Kota Malang. Jawa Timur 65144 Program Studi Manajemen Pendidikan Islam. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. Jl. Walisongo No. Tambakaji. Kec. Ngaliyan. Kota Semarang. Jawa Tengah 50185 Penulis untuk Korespondensi/E-mail: arifazakiyah@uin-malang. Abstract - This study aims to capture the image of Muslim youth in the national media Jawa Pos online using corpus-based linguistic analysis. The tendency and alignment of the media in portraying Muslim youth can lead to positive, negative, and neutral public opinion. This research is a text study using a quantitative and qualitative descriptive approach, by collecting news with the keywords Muslim/Islamic youth on Jawapos online and obtaining 39 news stories with 12,636 words. The news text is then analyzed and applied using Antcont to obtain linguistic features of word frequency, collocation, and concordance with descriptive linguistic analysis. The research results show that. the frequency of words that are significant means that the Jawa Pos online in reporting on Muslim youth tends to be general, with the involvement of government activities in places of worship, namely masjid. The emergence of collocations tends to be more about reporting on mosque youth, although there is a tendency for political elements and implies messages and actions that must be carried out by youth. Whereas with the emergence of concordance, this media provides definitions to opinions about the meaning of Muslim youth in general, both negative, neutral, and positive, and more often generates news with a positive and balanced tendency. From this result, the Indonesian national media should report in a balanced manner in constructing the image of Muslim youth in Indonesia, where the majority of the population is Muslim. Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk memotret citra pemuda muslim di media nasional Jawa Pos online dengan menggunakan analisis linguistik berbasis korpus. Kecenderungan dan keberpihakan media dalam mencitrakan remaja muslim dapat menggiring opini publik baik positif, negatif, maupun Penelitian ini merupakan studi teks menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif deskriptif, dengan mengumpulkan berita dengan kata kunci pemuda muslim/Islam pada Media Jawa Pos Online dan didapatkan 39 berita dengan 12. 636 kata. Teks berita tersebut kemudian dianalisis dan diaplikasikan dengan menggunakan Antcont untuk mendapatkan fitur linguistik frekuensi kata, kolokasi dan konkordansi dengan analisis linguistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa. Frekuensi kata yang muncul dan signifikan bermakna bahwa media Jawa Pos online dalam memberitakan pemuda muslim cenderung umum, dengan keterlibatan kegiatan pemerintah di tempat ibadah yaitu masjid. Adapun kemunculan kolokasi lebih cenderung pada pemberitaan pemuda masjid, meski ada kecenderungan unsur politik dan menyiratkan pesan dan aksi yang harus dilakukan oleh Sedangkan dengan kemunculan konkordansi, media ini memberikan definisi hingga opini tentang pemaknaan pemuda muslim secara umum baik negatif, netral maupun positif, dan lebih sering memunculkan pemberitaan dengan kecenderungan yang positif dan berimbang. Dengan ini media Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 nasional Indonesia selayaknya memberitakan secara berimbang dalam mengkonstruksi citra pemuda muslim di Indonesia, yang mayoritas penduduknya muslim. Keywords - Corpus Analysis. Imaging. Muslim Youth. National Online Media. PENDAHULUAN asca serangan 11 September 2011 Islam dan Muslim menjadi sasaran diskriminasi dan kefanatikan oleh kelompok non-muslim. Melalui media pemberitaan dan stereotipe yang negatif. Islam dan Muslim di banyak negara barat di mana Muslim adalah minoritas, seringkali mengalami perlakuan yang tidak menguntungkan bahkan Dari hasil penelitian dan kajian atas representasi media. Muslim masih sering direpresentasikan sebagai teroris dan ekstrimis (Akbarzadeh & Smith, 2. Penggambaran media ini dapat mengarahkan masyarakat pada stereotipe negatif terhadap identitas Muslim, karena media massa mampu mempengaruhi opini publik terhadap identitas muslim (Al Fajri, 2. Beberapa kajian tentang bagaimana media merepresentasikan Islam dan Muslim di dunia secara umum dan remaja muslim secara khusus pada negara atau kelompok tertentu. Media internasional memberitakan tentang kaum muda Muslim pada tahun 2015 dengan radikalisme, sekuritisasi, dan cacian terhadap identitas Islam seperti hijab atau ketidakhormatan struktur yang (Awass, 1. Protes anti-Islam tumbuh di beberapa negara seperti di Australia yang memprotes pajak halal, hukum Syariah dan Islamisasi. Berbeda dengan di Singapura, hal yang seperti diatas jarang terlihat meskipun kata-kata yang kasar muncul di media sosial. Negara berperan dan meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah proaktif dalam mempertahankan kuota rasial Singapura, terutama melalui kebijakan migrasi (Nasir, 2. Citra remaja muslim salah satunya dapat ditemukan dari kajian representasi media Amerika pasca 9/11, oleh Baaghil . , di mana remaja muslim masih direpresentasikan secara negatif, fundamental dan Meskipun peristiwa tersebut telah lama terjadi, akan tetapi dampak yang muncul pada konstruksi media terhadap remaja muslim masih belum banyak bergeser pada hal yang positif. Begitu pula media Eropa dalam mengkonstruksi remaja, seperti dikemukakan oleh Boland . , menjadi tolak ukur dalam kesetaraan gender, rasial, dan struktural yang dialami remaja muslim dan Sedangkan di Asia, terutama Asia Tenggara, yang mayoritas penduduk Muslim, secara representasi media belum banyak dikaji. Akan tetapi konstruk diri remaja muslim pada media cenderung positif. Mereka direpresentasikan secara positif dengan adanya penyesuaian dengan budaya populer, modern, serta integrasi agama dan teknologi. Dalam konteks ini, remaja Muslim menampilkan diri sebagai generasi yang bisa beradaptasi dengan tidak meninggalkan agama agar diterima di masyarakat secara luas (Meutia, 2020. Aliman et , 2. Wacana Islamophobia, radikalisme dan terorisme terus berkembang pesat pasca peristiwa 11 September 2001, lebih-lebih ketika terjadi kasus Bom Bali 1 dan Bom Bali 2, hampir seluruh media mencantumkan kata terorisme pada laporan Masyarakat Muslim semakin terpojok karena para pelaku teror mengaitkan aksi mereka dengan kata Islam, jihad. Bahkan Lembaga Pendidikan juga menjadi objek kecurigaan masyarakat, terlebih orang tua selepas kasus Bom Pipa yang dilakukan oleh Pepi Fernando, alumnus dari sebuah perguruan tinggi Islam negeri. Berawal dari kecurigaan dan kekhawatiran yang semakin bertambah, akhirnya para orang tua melakukan pembatasan terhadap kegiatan keagamaan anakanak di sekolah, seperti ekstrakurikuler Rohis (Rohani Isla. karena disinyalir dapat mengubah pemikiran anak dan memberikan paham yang (Fahmi, 2. Secara garis besar, dari beberapa kajian tersebut dapat digambarkan bahwa remaja muslim direpresentasikan sebagai kalangan yang berpotensi menjadi teroris. Oleh karena itu, terdapat upayaupaya tertentu yang dilakukan oleh setiap negara untuk mencegah kemungkinan terburuk yang dapat meminimalisir adanya kesenjangan sosial hingga memberikan pemahaman tentang kerukunan dalam Kajian representasi media dalam merepresentasikan citra remaja Muslim di Indonesia menjadi masalah yang signifikan untuk diulas. Diharapkan kajian representasi media yang memanfaatkan linguistik Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 korpus dapat memberikan gambaran citra remaja yang lebih akurat sehingga nantinya dapat menggiring opini publik. Dengan demikian akan keberpihakan media pada remaja muslim baik itu positif, negatif atau netral. Selain itu pemanfaatan korpus dalam kajian media dengan mengumpulkan teks dengan bantuan korpus diantaranya untuk mengungkapkan bagaimana teks media dapat berulang dalam membingkai isu atau peristiwa yang diberitakan selama periode tertentu (Ahmed & Matthes, 2. Selanjutnya dikembangkan kembali dari kajian berbasis korpus yang dengan lebih mudah dalam memperoleh data dan analisis linguistik dan memperoleh wawasan secara lebih Ditambah juga penggunaan korpus media ini dapat dimanfaatkan lebih luas menjadi korpus dengan teknologi berbasis web Adolphs. Analisis linguistik dengan mendeskripsikan penggunaan bahasa, pemilihan kata, struktur dan makna menjadi alat bedah dalam menemukan jawaban atas asumsi citra remaja muslim. Penelitian ini mengungkapkan dan menganalisis representasi media secara tekstual yang bersifat refleksif dan interdisiplin dengan menggunakan kajian alat linguistik korpus oleh Baker et al. Lebih spesifik, penelitian ini bertujuan untuk memotret citra pemuda muslim di media nasional Jawa Pos online dengan menggunakan analisis linguistik berbasis korpus dengan fitur linguistik frekuensi kata, kolokasi, dan konkordansi sehingga didapatkan kecenderungan pemberitaan media secara representatif apakah positif, negatif ataukah netral. Deskripsi linguistik kuantitatif dengan memanfaatkan software korpus menjadi lebih akurat untuk kajian fitur-fitur linguistik dengan memperhatikan frekuensi kemunculan kata, kolokasi, dan konkordansi. Sedangkan deskripsi kualitatif akan dilakukan setelah hasil analisis data kuantitatif didapatkan. METODE Penelitian ini menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan kuantitatif untuk mendeskripsikan data yang berupa angka dari frekuensi kemunculan kata pendekatan kualitatif untuk menginterpretasikan makna temuan berbasis korpus. (Cheng, 2. Pendekatan kuantitatif dengan analisis deskriptif dengan menampilkan frekuensi dengan analisis korpus Antcont dilanjutkan dengan analisis kualitatif untuk menemukan tema dominan dan merepresentasikan pemuda muslim berdasarkan hasil analisis data korpus. (Baker, et. Sumber data berupa dokumentasi yang diambil dari Jawa Pos https://w. com/ selama kurun waktu 10 tahun 2012-2022. Artikel berita yang diambil adalah yang diterbitkan secara online dan dapat diunduh oleh pembaca yang dalam konteks ini, termasuk peneliti. Artikel berita yang telah diunduh kemudian dipilih dan dipilah secara purposif yaitu difokuskan pada artikel berita yang berkaitan dengan pemuda muslim dalam dengan kata kunci AuPemuda Muslim/IslamAy AuRemaja Muslim/IslamAy. Data dikumpulkan dengan teknik dokumentasi dengan data berupa dokumen artikel berita tentang pemuda muslim yang diunggah dan diterbitkan secara daring. Teknik ini relevan dengan kebutuhan penelitian ini yaitu kajian kepustakaan . enelitian (Hizbullah, et. Hizbullah et al. Setiap artikel berita/surat kabar online yang berupa format online dialih format ke Microsoft word aplikasi MS Word, kemudian dilakukan konversi standard dengan menggunakan text encoding UTF-8 yang dipersiapkan untuk Semua artikel yang sudah dikonversikan dikumpulkan menjadi data korpus sebelum Dari hasil pengumpulan data didapatkan 39 berita tentang pemuda muslim dengan jumlah 636 kata. Analisis data pertama dengan analisis data frekuensi kata dan kolokasi kata. Dilanjutkan dengan analisis konkordansi berbasis korpus. Dari data kuantitatif yang diambil dari korpus yang sudah diperoleh, kolokasi dan konkordansi kata yang sering muncul bersama dengan frase pemuda muslim akan diidentifikasi lalu dianalisis sesuai dengan konteks kalimat yang muncul. Kemudian tema dominan yang sering muncul dalam pemberitaan media terkait remaja muslim juga Pembahasan data kuantitatif ini melalui analisis korpus dengan menggunakan aplikasi antcont yang dilakukan dengan memasukkan data format Microsoft word. Aplikasi ini dapat memunculkan data kuantitatif dan menunjukkan jumlah frekuensi kata dan kolokasi yang paling sering digunakan dari keseluruhan teks. Dari analisis korpus ini akan memberikan kata, kolokasi, dan konkordansi yang Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan memetakan dan mengklasifikasikan Ilustrasi prosedur alur penelitian analisis media berbasis korpus dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Alur Penelitian Berbasis Korpus HASIL DAN PEMBAHASAN Frekuensi Kata Berita tentang Pemuda Muslim 636 kata dari 39 berita yang terkumpul menghasilkan beberapa kata dengan kelompok frekuensi yang beragam. Berikut kata-kata yang memiliki keterkaitan dengan topik penelitian dan bermakna disertai dengan frekuensi yang tinggi dari 100 urutan tertinggi. Tabel 1. Daftar Frekuensi Kemunculan Kata Urutan Jumlah Kata Frekuensi Frekuensi Pemuda Masjid Remaja Islam Indonesia Kegiatan Muslim Anak Bangsa Ketua Muda Kasus Kemah Korban Negara Overthinking Generasi Masalah Berdasarkan tabel 1, kata pemuda menduduki frekuensi tertinggi dengan jumlah 169 kali kemunculan kata dalam berita. Pemuda, orang dengan usia yang tidak lebih dari 20 tahun, memiliki semangat yang menggebu dan berlomba untuk menjadi agen perubahan dalam proses pencarian jati dirinya. Frekuensi kemunculan kata yang dominan membuktikan bahwa pemuda memiliki peran aktif dan menjadi subjek dalam pemberitaan media. Selain kata pemuda, beberapa kata lain dengan makna yang setara yaitu remaja dengan frekuensi 133, anak dengan frekuensi 35 dan kata muda dengan frekuensi 30 kali. Selanjutnya muncul kata masjid, islam dan muslim yang erat kaitanya dengan identitas suatu agama. Kata masjid muncul secara dominan sebanyak 150 kali dan diikuti kata kegiatan dengan frekuensi 53. Dapat dimaknai bahwa peran aktif pemuda dalam berkegiatan seringkali melibatkan masjid, tempat peribadatan umat muslim. Pada daftar tabel frekuensi kata selanjutnya ditempati oleh Indonesia, bangsa dan negara dengan urutan frekuensi masing-masing berjumlah 83, 34 dan 26. Adanya repetisi tiga kata tersebut dapat dimaknai bahwa terdapat unsur politik dalam pemberitaan tentang pemuda muslim di Media Jawa Pos Online. Ditambah dengan kemunculan kata ketua sebanyak 30 kali dan kemah sebanyak 27 kali, ini berarti terjadi peliputan terhadap suatu agenda yang melibatkan ketua organisasi masyarakat atau partai politik atau golongan tertentu yang mengkoordinasi atau sekedar memberikan sambutan. Di barisan penghujung tabel, terdaftar kata kasus dengan kemunculan yang cukup tinggi yaitu 28 kali, kemudian di tiga kolom terakhir secara berurutan muncul kata overthinking, generasi dan Walaupun terdaftar dengan frekuensi terendah namun tetap memiliki pengaruh terhadap citra pemuda muslim dikarenakan jumlah frekuensinya cukup tinggi yaitu tidak kurang dari 18 kali. Jika pemuda muslim disandingkan dengan kata kasus dan masalah, dapat diinterpretasikan secara sederhana bahwa keberadaan mereka berpotensi untuk menimbulkan atau menangani suatu masalah atau kasus dan bahkan dapat mencederai atau dicederai oleh oknum tertentu sehingga timbullah kata korban dengan frekuensi Sedangkan kata overthinking jika dikaitkan dengan kata pemuda muslim bisa dimaknai secara aspek psikologis yang artinya beberapa pemuda muslim cenderung berlebihan dalam memikirkan suatu hal. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 Beberapa frekuensi kata yang paling banyak muncul dan signifikan adalah pemuda, masjid. Islam, remaja. Indonesia, dan kegiatan. Frekuensi kata ini bermakna bahwa Media Jawa Pos Online dalam memberitakan pemuda muslim cenderung umum dan positif, dengan keterlibatan kegiatan Beberapa frekuensi kata yang mendominasi dan signifikan seperti masjid, islam. Indonesia dan kegiatan ini memiliki makna bahwa media ini dalam memberitakan pemuda muslim berdasarkan pada kegiatan atau program yang dilaksanakan umat Islam baik merupakan aktivitas keagamaan yang berkaitan langsung dengan tempat ibadah . atau kegiatan di luar peribadatan Ini mengisyaratkan bahwa pemuda muslim dalam memiliki sisi spiritual dan religius dalam konteks berkegiatan di tempat ibadah sejalan dengan kajian yang diisyaratkan oleh Mahfud (Mahfud, 2. Kolokasi Kata Berita tentang Pemuda Muslim Pada bagian kolokasi kata, hasil analisis dibagi menjadi dua kategori yaitu Kolokasi kata Frasa Pemuda dan Kolokasi Frase Islam. Untuk Frasa Pemuda Islam, terdapat 6 frasa yang paling sesuai. Tabel 2. Daftar Frase Kolokasional dan Frekuensi Kemunculannya (Pemud. No Urutan Jumlah N-Gram/Cluster Frekuensi Frekuensi Pemuda Islam Pemuda Remaja Masjid Pemuda Islam Pemuda Muhammadiyah Pemuda memiliki potensi Pemuda tidak boleh Pada tabel 2 menunjukkan bahwa frasa AuPemuda IslamAy dengan frekuensi tertinggi sebanyak 12 kali dan disusul dengan frasa AuPemuda Remaja MasjidAy sebanyak 7 kali. Selain itu muncul frasa Pemuda Muhammadiyah sebanyak 3 kali. Hal ini bermakna bahwa pemuda Islam yang menjadi pokok pembahasan dalam berita dikhususkan pada satu golongan yakni pemuda Islam yang mengikuti organisasi atau kelompok Muhammadiyah, sedangkan organisasi kepemudaan yang lain tidak muncul dalam frekuensi frasa. Hal menarik terkait kolokasi frasa pemuda yang lain adalah frasa-frasa selanjutnya menyiratkan sebuah intensi seperti pemuda Islam diharapkan berkontribusi, pemuda muslim memiliki potensi. Ini mengindikasikan bahwa pada dasarnya pemuda Islam mempunyai potensi yang mumpuni namun dalam beberapa kesempatan mereka disinyalir kurang menunjukkan kontribusi dan terkesan kendor dalam menangani suatu permasalahan. Berbeda dengan frasa pemuda, frasa muslim memiliki jumlah frasa yang lebih variatif, berikut ini daftar tabel hasil dari analisis melalui bantuan software AntConc dengan frasa yang paling Tabel 3. Daftar Frase Kolokasional dan Frekuensi Kemunculannya (Musli. No Urutan Jumlah N-Gram/Cluster Frekuensi Frekuensi Pemuda Muslim Muda Muslim Anak Muda Muslim Komunitas Muslim Remaja Muslim Umat Muslim Tokoh intelektual muslim Pemimpin Muslim Akan menyerang komunitas muslim Aksi mahasiswa muslim Bantuan untuk muslim Berita jaga kerukunan Berita pesan keras remaja Dengan menyuarakan nasib perempuan muslim Dengan retorika anti Pada 8 baris teratas diduduki oleh frasa nomina dengan makna yang setara, yaitu golongan orang beragama Islam. Perbedaannya terletak pada kategorinya, beberapa bersifat umum seperti Pemuda Muslim. Muda Muslim. Komunitas muslim, dan Umat Muslim. Selebihnya termasuk pada kategori yang khusus, yaitu Tokoh Intelektual Muslim dan Pemimpin Muslim. Sedangkan sifatnya sama-sama merupakan unsur politik karena merupakan subsistem dari sistem sosial yang membentuk sistem politik yang tergabung karena kepentingan yang sama. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 Baris selanjutnya relatif sama karena memiliki frekuensi minimum yakni 1 kali hanya saja diurutkan sesuai susunan abjad. Secara makna, dapat dibagi dalam dua kategori. Pertama Pemuda Muslim bertindak sebagai subjek antara lain Aksi mahasiswa muslim yang berarti bahwa pemuda muslim yang berstatus mahasiswa secara sadar melakukan komunikasi publik yang bertujuan untuk menyuarakan aspirasi mereka terkait suatu Selanjutnya kategori kedua sebagai obyek, antara lain akan menyerang komunitas muslim, bantuan untuk muslim, berita jaga kerukunan pemuda, berita pesan keras remaja muslim, dengan menyuarakan nasib perempuan muslim, dan dengan retorika anti muslim. Di kategori ini, pemuda muslim cenderung bermakna negatif karena terlihat sebagai pihak yang inferior dan bersifat diskriminatif seperti adverbia menyerang dan anti muslim (Ozalp, 2. Konkordansi Berita tentang Pemuda Muslim Sebagaimana analisis kolokasi terhadap berita tentang pemuda muslim, dalam menganalisis dari segi konkordansi juga menerapkan 2 kata kunci, yaitu pemuda dan muslim, berikut ini 20 data yang menduduki hirarki teratas yang dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2: Konkordansi Kata Pemuda Gambar 3: Konkordansi Kata Muslim Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 Di urutan pertama berbunyi AuPemuda dan remaja masjid menjadi garda. Ay makna yang tersirat adalah pemuda muslim memiliki tanggung jawab sebagai pengawal atau koordinator terhadap sesuatu yang harus dilindungi atau dilaksanakan. Selain itu, hasil analisis data didominasi oleh ungkapan bermakna positif, antara lain pada baris ke 6 hingga baris Nilai-nilai positif yang dimiliki pemuda muslim berdasar data diatas yaitu pemilik semangat keumatan, generasi yang cerdas dan potensial. Sehingga perlu adanya sikap kesadaran agar potensi yang telah tercipta, senantiasa diasah agar semakin berkembang dan meningkat. Mengacu pada Gambar 3, beberapa kesesuaian data dengan latar pemberitaan yang dikhususkan bertempat di Indonesia berisi tentang semangat religius, kerukunan, kerjasama dan toleransi Hal ini ditunjukkan dengan potongan kalimat yang berbunyi Au. istigasah itu akan diikuti 100 ribu umat muslim. Ay. AuAnak muda muslim Indonesia bertekad memperkuat kerjasama Ay. dan AuJaga kerukunan. Pemuda Muslim ikut jaga gerejaAy. Adapun dengan kemunculan konkordansi, media memberikan definisi hingga opini tentang pemaknaan remaja muslim secara umum, meskipun memunculkan kecenderungan yang negatif. Dalam kemunculan konkordansi pemuda kerap diartikan sebagai sosok berpengaruh dalam peradaban dan memiliki pengaruh yang krusial. Perlu adanya pemberian kegiatan-kegiatan yang positif agar pemuda terbentuk menjadi pribadi baik yang mendukung ke arah peradaban yang maju. Berbeda dengan frasa pemuda muslim, pemuda Islam Dari kemunculan kata, kolokasi dan konkordansi berbasis korpus ini, dapat dilihat bahwa pemberitaan remaja muslim di media Jawa Pos Online menunjukkan beberapa representasi dan interpretasi yang mengarah pada tiga hal yaitu positif, negatif, dan netral. Berbeda dengan pemberitaan media di barat yang lebih cenderung negatif (Kabir, 2. (Sian et al. , 2. (Ahmed & Matthes, 2. , sedangkan di Asia masih terdapat kecenderungan yang positif (Aliman et al. , 2. Dari pemilihan kata, kolokasi dan konkordansi ini memberdayakan remaja, tetapi disisi lain menunjukkan sebaliknya bahwa remaja itu sendiri belum berdaya (Bang, 2. KESIMPULAN Dari penelitian ini yang merupakan studi pustaka tentang analisis berbasis linguistik korpus tentang citra pemuda muslim dalam berita Jawa Pos online, dapat disimpulkan bahwa yang pertama, frekuensi kata yang muncul dan signifikan bermakna bahwa Media Jawa Pos Online dalam memberitakan pemuda muslim cenderung umum, dengan keterlibatan kegiatan pemerintah di tempat ibadah yaitu masjid. Kedua yaitu kemunculan kolokasi lebih cenderung pada pemberitaan pemuda masjid, meski ada kecenderungan unsur politik dan menyiratkan pesan dan aksi yang harus dilakukan oleh pemuda. Adapun ketiga yaitu dengan kemunculan konkordansi. Media Jawa Pos Online ini memberikan definisi hingga opini tentang pemaknaan pemuda muslim secara umum, dengan tiga pola negatif netral dan positif, akan tetapi lebih kecenderungan yang positif. Bagi media berita, baiknya memberikan pemberitaan yang lebih berimbang dalam mengkonstruksi citra muslim di Indonesia untuk mengkonstruksi identitas pemuda muslim yang Peneliti menyadari dalam penelitian ini masing sangat sederhana dan belum sempurna, namun penulis berharap untuk peneliti berikutnya agar dapat mengembangkan penelitian berbasis korpus linguistik dengan data dan wacana yang lebih luas dan mengembangkan penelitian yang masih banyak celah dan bahan yang dapat diteliti. Keterbatasan penelitian ini juga pada analisis beberapa media pada satu media nasional, belum membandingkan wacana berita antara media, dan belum spesifik melihat satu media yang lebih mengarah ke analisis wacana atau analisis wacana kritis berbasis linguistik korpus. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai penyandang dana dalam penelitian ini. REFERENSI