JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X Pemberdayaan OSIS SMAN 14 Palembang sebagai Agen Diseminasi Nilai Anti Kekerasan Nurul Aulia. Muhammad Aditya Purnomo. * . Yulia Rimapradesi. Muhammad Hidayatul Ilham. Ilmu Hubungan Internasional/Universitas Sriwijaya . Ilmu Komunikasi/Universitas Sriwijaya Jl. Raya Palembang Prabumulih Km. 32 Inderalaya Ogan Komering Ilir. Kab. Ogan Ilir. Prov. Sumatera Selatan - 30662 *Email Penulis Koresponden: muhammadadityapurnomo@fisip. Received: 14/01/26. Revised: 13/03/26. Accepted: 30/03/26 Abstrak Kekerasan masih menjadi perhatian penting terutama di satuan pendidikan menengah. Cakupannya meliputi perundungan, kekerasan seksual, serta intoleransi yang berdampak pada keamanan dan kenyamanan para siswa. Fenomena ini masih diperkuat dengan rendahnya tingkat pemahaman siswa terhadap jenis-jenis kekerasan, serta belum optimalnya pemanfaatan media teknologi informasi dan komunikasi untuk kampanye edukatif. Kota Palembang, salah satu yang terbesar di Pulau Sumatera, tidak luput dari fenomena kekerasan di kalangan anak dan remaja. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) di SMA Negeri 14 Palembang ini dirancang untuk menyasar persoalan tersebut, dengan cara memberdayakan kalangan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di sekolah tersebut sebagai agen diseminasi nilai anti kekerasan di lingkungan Metode PkM ini mentitikberatkan pada pendekatan partisipatif yang mencakup persiapan, pelatihan tematik anti kekerasan . erundungan, kekerasan seksual, intolerans. , pelatihan literasi digital dan pembuatan konten kampanye memanfaatkan aplikasi Canva, diseminasi hasil, serta monitoring dan evaluasi. Adapun jumlah peserta kegiatan PkM di SMA Negeri 14 Palembang ini berjumlah 20 orang siswa kelas X dan XI yang merupakan anggota pengurus OSIS. Indikator yang diukur mencakup pemahaman peserta mengenai aspek kesadaran kritis, kepemimpinan sosial pelajar, dan aspek kepemimpinan dan kolaborasi digital dalam memproduksi konten kampanye anti kekerasan di lingkungan sekolah. Secara keseluruhan, hasil kegiatan menunjukkan peningkatan yang signifikan pada indikator yang diukur, yang mencakup kesadaran kritis, kepemimpinan sosial pelajar, dan kolaborasi digital dalam memproduksi konten kampanye anti kekerasan di lingkungan sekolah. Peningkatan tersebut terpapar melalui perbandingan hasil pretest dan post-test yang menunjukkan rata-rata peningkatan persentase sebesar 54%. Kegiatan ini menyimpulkan bahwa pemberdayaan OSIS merupakan strategi efektif guna mendorong terciptanya budaya sekolah yang inklusif, aman, serta bebas dari kekerasan. Kata kunci: Kekerasan. Literasi Digital. OSIS. Palembang. Pemberdayaan Siswa Abstract Violence remains an important concern especially within secondary education institutions. The scope includes bullying, sexual violence, and intolerance, all of which have impacts on the studentsAo safety and wellbeing. This phenomenon is made worse by the low level of studentsAo understanding regarding the various forms of violence, as well as the suboptimal use of information and communication technology media for educational campaigns. Palembang City, one of the biggest in Sumatera, is not exempt from the phenomenon of violence among children and adolescent. This community service program (Pengabdian Kepada Masyarakat/PkM) is designed to address the problem by empowering the student council (Organisasi Siswa Intra Sekolah/OSIS) of SMA Negeri JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X 14 Palembang as agents for disseminating anti-violence values within school environment. The method of this PkM emphasizes participatory approach which comprises preparation, thematic anti-violence . ullying, sexual violence, intoleranc. training, digital literacy training and production of anti-violence content using Canva application, result dissemination, and monitoring and evaluation. The participants for this PkM includes 20 students from grade X and grade XI that are also members of OSIS. Indicators measured comprises critical awareness, studentsAo social leadership, and leadership and digital collaboration to produce anti-violence campaign-content. The result of this PkM shows significant increase across measured indicators, including critical awareness, studentsAo social leadership, and digital collaboration to produce anti-violence campaign These improvements were demonstrated through comparison between the results of pretest and post-test, which shows average increase of 54%. Overall, the PkM concludes that empowering OSIS is an effective strategy in establishing an inclusive, safe, and violence-free school Keywords: Digital Literacy. OSIS. Palembang. Student Empowerment. Violence PENDAHULUAN Satuan pendidikan menengah atas di Indonesia menghadapi tantangan serius dalam menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi peserta didik. Di tahun 2021 UNICEF Indonesia menemukan bahwa 2 dari 3 anak peremupuan dan laki-laki berusia 13-17 tahun di Indonesia pernah mengalami setidaknya satu jenis kekerasan dalam hidup mereka dan 41% siswa berusia 15 tahun pernah mengalami perundungan (Pinta Karana, 2. Kekerasan seksual di kalangan remaja cenderung tidak terlaporkan karena adanya stigma serta rendahnya pemahaman terhadap konsep AupersetujuanAy . Sementara itu, intoleransi juga terjadi dikalangan remaja dalam berbagai bentuk. Setara Institute . menyoroti bahwa praktik intoleransi kerap direproduksi dalam ruang kelas, kegiatan OSIS, hingga media sosial siswa sehingga menunjukan bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang aman untuk keberagaman (SETARA Institute, 2. Pada tahun 2023 Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat bahwa sepanjang tahun 2023 terdapat 861 kasus kekerasan terhadap anak di satuan pendidikan dengan bentuk-bentuk kekerasan antara lain perundungan, kekerasan seksual, dan diskriminasi (Fahham, 2. Dalam konteks lokal, kota Palembang sebagai salah satu kota terbesar di Pulau Sumatera tidak luput dari fenomena kekerasan di kalangan anak dan remaja . erundungan, kekerasan seksual, dan intolerans. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak . A) menyatakan bahwa perundungan masih menjadi masalah serius yang dihadapi di Kota Palembang (Simbur Cahaya, 2. Dalam rangka mencegah dan menangani kekerasan pada anak di lingkungan satuan pendidikan, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbudriste. mengeluarkan Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. Dinas Pendidikan bersama dengan Dinas pA bekerjasama untuk memastikan bahwa sekolah dari tingkat pra-sekolah dasar hingga menengah atas bebas dari praktik perundungan (Simbur Cahaya, 2. Program pengabdian dalam rangka upaya pencegahan kekerasan seksual di satuan pendidikan tinggi kota Palembang telah dilakukan (Nengyanti et al. , 2. Namun, langkah pencegahan kekerasan di tingkat sekolah menengah atas juga perlu untuk digiatkan, terutama menggandeng para siswa sebagai agen perubahan. Hal ini disebabkan peran teman sebaya memengaruhi persepsi perilaku kekerasan, khususnya seksual remaja di Kota Palembang (Oktariyana et al. , 2. SMA Negeri 14 Palembang, sebagai institusi pendidikan menengah yang berlokasi di kawasan perkotaan, menghadapi sejumlah tantangan sosial yang kerap menjadi sorotan di satuan Berdasarkan hasil diskusi dan koordinasi dengan pimpinan sekolah, beberapa isu krusial yang memerlukan intervensi telah diidentifikasi. Salah satu permasalahan adalah masih JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X kurangnya pengetahuan siswa tentang bentuk-bentuk perundungan, kekerasan seksual serta Selain itu, sekolah juga mengakui bahwa pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) oleh siswa masih belum diarahkan secara optimal untuk tujuan edukatif dan kampanye sosial yang positif. Dalam rangka pemecahan masalah. PkM ini menjalankan program pemberdayaan OSIS SMAN 14 Palembang sebagai Agen Anti Kekerasan. Berdasarkan tinjauan literatur. Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter, kepemimpinan pelajar, dan advokasi nilai-nilai sosial di lingkungan satuan pendidikan. OSIS tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga berfungsi sebagai agen perubahan yang dapat mendorong partisipasi aktif siswa dalam menciptakan budaya sekolah yang aman, toleran, dan inklusif (Toni, 2. Melalui berbagai kegiatan. OSIS mampu menjadi penggerak kegiatan preventif terhadap berbagai permasalahan sosial di sekolah serta menjadi teladan dalam mambangun solidaritas dan etika sosial (Putri Pujianti & Suhendar, 2020. Wahyuni & Trisiana. Sejalan dengan itu, pendekatan kepemimpinan pemuda menjadi semakin relevan dalam pendidikan berbasis nilai. Studi oleh Hjelm . menunjukkan bahwa pelibatan pemuda dalam upaya pencegahan kekerasan seksual mampu meningkatkan daya jangkau dan efektivitas pesan yang disampaikan. Dalam konteks pembangunan perdamaian. Panagi . mencontohkan bagaimana kepemimpinan pemuda berkontribusi dalam meredam kekerasan berbasis identitas melalui dialog lintas komunitas. Kontekstualisasi peran OSIS dalam kerangka aktivisme berbasis sekolah juga dijelaskan oleh Barrance et al. , yang membedakan dua bentuk aktivisme siswa, yaitu aktivisme institusional dan aktivisme yang dilegitimasi. OSIS secara langsung dapat mewakili bentuk aktivisme institusional yang difasilitasi sekolah sementara itu kampanye sosial siswa seperti poster anti kekerasan yang dipublikasikan merupakan bentuk aktivisme yang Dengan mengacu pada literatur tersebut, program pemberdayaan OSIS sebagai agen diseminiasi nilai anti kekerasan dan produsen konten kampanye berbasis teknologi informasi menjadi bentuk konkret dalam memberdayakan pemuda khususnya pengurus OSIS untuk menciptakan sekolah yang aman, inklusif, dan toleran. METODE PELAKSANAAN PENGABDIAN Pelaksanaan program Pemberdayaan OSIS SMAN 14 Palembang sebagai Agen Anti Kekerasan menggunakan pendekatan partisipatif melalui kombinasi metode pelatihan tematik dan penerapan teknologi digital. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yakni pada Selasa, tanggal 21 Oktober 2025, dan JumAoat 24 Oktober 2025. Program dilaksanakan mulai pada pukul 00 WIB hingga 14. 00 pada hari pertama, dan 08. 00 WIB hingga selesai pada hari kedua. Kegiatan ini dilaksanakan Kegiatan dirancang dalam empat tahapan utama yang saling terintegrasi, yakni: persiapan, pelatihan, pendampingan produksi konten, dan diseminasi hasil. Metode ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kritis, keterampilan teknis, dan kapasitas advokasi pengurus OSIS dalam mencegah kekerasan dan menyuarakan nilai-nilai positif melalui pemanfaatan TIK yang dapat dilihat pada Gambar 1 dibawah ini. JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X Gambar 1. Diagram Alir Pelaksanaan Kegiatan PkM Persiapan dan Koordinasi Tahap awal difokuskan pada koordinasi dengan mitra sekolah, khususnya kepala sekolah dan pembina OSIS. Kegiatan yang dilakukan meliputi: . pemetaan kebutuhan siswa berdasarkan hasil wawancara awal dengan pimpinan sekolah. penyesuaian jadwal kegiatan dengan kalender akademik sekolah. penyiapan perangkat pelatihan, materi visual, perangkat TIK, dan akun Canva Edu untuk keperluan workshop dan praktik. Pelatihan Tematik Pencegahan Kekerasan Tahap kedua adalah pelatihan tematik pencegahan kekerasan. Pelatihan dimulai dengan sesi pembukaan yang mencakup perkenalan dan kegiatan ice breaking untuk membangun Sesi pertama adalah pelatihan Pencegahan Perundungan, yang membahas bentuk, dampak, dan cara mencegah perundungan melalui diskusi kasus dan refleksi pengalaman siswa. Sesi kedua adalah pelatihan Pencegahan Kekerasan Seksual, yang membahas hak atas tubuh, batasan personal, dan pelaporan kekerasan seksual. Sesi ketiga adalah pelatihan Pencegahan Intoleransi, yang mengajak peserta memahami pentingnya ruang inklusif dan menghargai identitas yang beragam. Video pendek juga digunakan untuk membangun kepekaan peserta terhadap isu-isu kekerasan di lingkungan sekolah. Pelatihan Literasi Digital dan Produksi Konten Anti Kekerasan Tahap ketiga adalah Pelatihan Literasi Digital dan Produksi Konten Menggunakan Canva dirancang sebagai bentuk penguatan kapasitas teknis dan sosial siswa SMA Negeri 14 Palembang, khususnya pengurus OSIS, dalam menyampaikan pesan-pesan anti kekerasan secara kreatif dan etis melalui media digital. Metode pelatihan untuk tahapan ini menggunakan pendekatan praktik langsung . earning by doin. yang dikombinasikan dengan diskusi partisipatif antar peserta Pada tahapan ini pemberi materi akan menjelaskan secara rinci tahapan-tahapan produksi konten anti kekerasan menggunakan media digital. Diseminasi Hasil dan Monitoring dan Evaluasi Tahap keempat adalah pelaksanaan kegiatan Diseminasi Hasil Poster Anti Kekerasan yang merupakan tahap lanjutan dari proses pemberdayaan OSIS SMAN 14 Palembang, dengan tujuan menyebarluaskan pesan-pesan anti kekerasan secara kreatif dan partisipatif kepada seluruh warga sekolah. Poster-poster yang dimaksud merupakan luaran hasil dari salah satu materi yang terkandung dalam rangkaian kegiatan PkM ini. Tahap kelima adalah monitoring dan evaluasi dari kegiatan ini kepada pihak sekolah SMAN 14 Palembang. Pihak SMAN 14 Palembang yang meliputi JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X kepala sekolah hingga jajaran guru memberikan evaluasi, kritik, serta saran dan masukan terhadap keseluruhan rangkaian kegiatan pemberdayaan OSIS SMAN 14 Palembang yang telah dilaksanakan sesuai dengan kurun waktu yang terjadwal. HASIL DAN PEMBAHASAN Fenomena kekerasan di satuan pendidikan menjadi isu krusial yang menuntut perhatian lintas sektor. Dalam konteks sekolah menengah, bentuk kekerasan seperti perundungan . , kekerasan seksual, serta intoleransi masih sering terjadi. Untuk menciptakan ruang belajar yang aman dan inklusif, dibutuhkan strategi pemberdayaan yang melibatkan siswa secara aktif sebagai agen perubahan. Dalam hal ini. OSIS sebagai organisasi intra sekolah memiliki posisi strategis untuk menginisiasi perubahan budaya di lingkungan sekolah. Program pengabdian dilaksanakan dalam bentuk pelatihan yang diikuti oleh siswa kelas X dan XI yang tergabung sebagai pengurus OSIS. Adapun jumlah peserta pelatihan adalah sejumlah 20 siswa dan diantaranya adalah 11 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan dengan rincian sebagaimana pada Tabel 1. Tabel 1. Peserta Pelatihan Jenis Kelamin Peserta Pengurus OSIS Laki-Laki Kelas X Peserta Pengurus OSIS Laki-Laki Kelas XI Peserta Pengurus OSIS Perempuan Kelas X Peserta Pengurus OSIS Perempuan Kelas XI Nilai Gambar 2. Peserta Pelatihan dan Tim Fasilitator Gambar 2 menunjukkan komposisi pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan ini. Adapun pihak-pihak tersebut mencakup: . Tim fasilitator yang mencakup sejumlah dosen dan sebanyak 5 orang mahasiswa dari fakultas yang sama. Peserta kegiatan pelatihan yang mencakup 20 siswa-siswi SMAN 14 Palembang yang tergabung sebagai pengurus OSIS, yang dalam pelaksanaannya juga dimonitor oleh guru dari SMAN 14 Palembang. Kegiatan pelatihan tematik anti kekerasan dimulai dengan sesi edukasi yang disampaikan oleh tim fasilitator dari Universitas Sriwijaya. Para fasilitator membawakan topik spesifik sesuai dengan JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X bidang keahliannya. Sesi ini menjadi fondasi utama dalam membangun pemahaman peserta terhadap berbagai bentuk kekerasan yang dapat terjadi di lingkungan satuan pendidikan. Pembahasan Materi Perundungan (Bullyin. Materi pertama membahas secara komprehensif mengenai perundungan . Fasilitator menyampaikan berbagai bentuk perundungan, baik yang bersifat fisik, verbal, sosial, maupun siber serta contoh nyata yang terjadi di wilayah Kota Palembang. Materi juga mengupas akar penyebab perundungan dan dampak yang ditimbulkan oleh tindakan perundungan baik oleh korban maupun pelaku. Kemudian, materi juga menekankan pentingnya membangun gerakan solidaritas teman sebaya sebagai langkah pencegahan perundungan di sekolah. Diskusi berlangsung interaktif, dengan beberapa peserta membagikan pengalaman pribadi maupun tanggapan mereka terhadap kasus nyata. Pembahasan Materi Kekerasan Seksual Selanjutnya, materi kedua mengangkat topik kekerasan seksual di lingkungan pendidikan. Fasilitator menyampaikan bahwa kekerasan seksual memiliki banyak bentuk dan bukan hanya soal fisik, tetapi juga mencakup pelecehan verbal dan gestur yang tidak pantas. Tidak hanya itu, para siswa juga diajak untuk mengenal mitos dan membedakannya dengan fakta perihal kekerasan seksual. Materi ini juga memberikan pengetahuan kepada para peserta pelatihan tentang langkah pencegahan dan langkah respon jika menjadi korban kekerasan seksual ataupun menjadi pihak yang menyaksikan kekerasan seksual. Pembahasan Materi Intoleransi dan Pentingnya Inklusivitas Materi ketiga membawakan topik intoleransi dan pentingnya sikap inklusif dalam Dalam penyampaiannya, beliau menjelaskan bagaimana intoleransi dapat tumbuh melalui stereotip dan prasangka terhadap perbedaan agama, suku, gender, atau ekspresi diri. Materi ini menekankan pentingnya menumbuhkan sikap saling menghargai untuk menciptakan sekolah yang inklusif. Pemateri juga menyampaikan strategi-strategi untuk melawan ujaran kebencian serta tindakan-tindakan yang dapat mempromosikan nilai damai dan toleransi, seperti menghargai opini dan melakukan proyek kolaborasi. Diskusi peserta mencerminkan pemahaman yang berkembang terhadap pentingnya menciptakan ruang aman bagi semua identitas. Ketiga materi ini disampaikan secara interaktif, dengan kombinasi pendekatan diskusi partisipatif, studi kasus, dan refleksi individu. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi dan aktif dalam bertanya, menanggapi, maupun menyampaikan opini. Sesi ini juga memberikan fondasi nilai yang kuat bagi peserta sebelum mereka melangkah ke pelatihan teknis produksi konten kampanye digital. Gambar 3 menunjukkan cuplikan pemaparan materi oleh para tim fasilitator yang terdiri dari para dosen selama kegiatan berlangsung. JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X Gambar 3. Pemberian materi oleh fasilitator Setelah mengikuti pelatihan anti kekerasan, para peserta pelatihan diajak untuk menandatangani pakta integritas yang menekankan komitmen mereka sebagai pengurus OSIS untuk menjauhi tindakan kekerasan dan berkomitmen menjadi agent of change dan role model bagi siswa lainnya. Aktivitas ini ditunjukkan melalui cuplikan yang terdapat pada Gambar 4, dimana para peserta pelatihan ini masing-masing membubuhkan tanda tangan mereka pada lembaran pakta anti kekerasan yang disediakan oleh tim fasilitator. Gambar 4. Penandatanganan Pakta Anti Kekerasan Bersama Anggota OSIS & Guru Pendamping Pelatihan Teknis Desain Poster Kampanye Sosial menggunakan Canva Tahapan PkM berikutnya adalah pelatihan teknis desain poster kampanye sosial menggunakan platform Canva. Sesi diawali dengan pengenalan Canva sebagai alat bantu desain daring yang ramah pengguna dan dapat diakses secara gratis. Peserta diperkenalkan dengan antarmuka Canva, fitur dasar seperti template, elemen visual, ikon, tipografi, serta bagaimana menyimpan dan membagikan hasil desain. Materi dirancang dengan pendekatan langsung praktik . earning by doin. agar peserta dapat memahami alur kerja desain secara konkret. Gambar 5 menunjukkan pemaparan materi yang berisi teknis-teknis penting terkait penggunaan aplikasi Canva untuk merancang desain poster untuk para peserta pelatihan. JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X Gambar 5. Materi tentang Penggunaan Canva oleh Fasilitator Selanjutnya, fasilitator menyampaikan bagian penting dalam penyusunan pesan Peserta diajak menyusun pesan utama . yang pendek, kuat, dan relevan dengan isu kekerasan di sekolah. Dalam sesi ini, peserta belajar memilih diksi yang inklusif, tidak menyalahkan korban, serta membangun kesadaran kolektif. Pemilihan diksi tersebut merupakan representasi dari ketiga materi yang sudah disampaikan sebelumnya. Kehadiran materi penyusunan pesan kampanye melalui poster ini ditekankan untuk mendorong penggunaan bahasa visual dan teks yang komunikatif dan mudah dipahami oleh sesama pelajar. Dengan memahami pesan kampanye yang diproduksi, seluruh masyarakat SMAN 14 Palembang yang terpapar poster-poster tersebut diharapkan dapat lebih mendalami. Sesi pelatihan juga menyoroti etika dalam penyusunan pesan kampanye. Peserta diajak untuk memahami batasan dalam menggunakan gambar, seperti tidak mengeksploitasi visual korban, tidak menampilkan pesan yang mengandung stigma atau diskriminasi, serta menghindari reproduksi stereotip gender atau kekerasan simbolik. Pendekatan ini mendidik siswa agar lebih sensitif secara sosial dan mampu berkomunikasi secara etis melalui media Untuk memperkuat pemahaman teknis, fasilitator juga menjelaskan prinsip-prinsip desain yang baik, termasuk pentingnya penggunaan warna yang kontras dan mudah dibaca, pemilihan gambar yang representatif, penyusunan teks yang ringkas namun kuat, serta menjaga kesopanan dan sensitivitas sosial dalam desain kampanye. Peserta kemudian dibagi ke dalam kelompok produksi untuk langsung mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh. Masing-masing kelompok memproduksi satu poster kampanye. Hasil desain dipresentasikan dan diberikan umpan balik oleh fasilitator secara terbuka. Sesi ini tidak hanya memperkuat keterampilan desain peserta, tetapi juga menanamkan nilai literasi digital, komunikasi sosial, dan kepemimpinan serta kolaborasi. Gambar 6 menunjukkan dimulainya aktivitas mendesain poster yang diikuti oleh para siswa-siswi peserta pelatihan, didampingi oleh para mahasiswa dari tim fasilitator. Adapun hasil poster yang telah didesain oleh para peserta menggunakan aplikasi Canva dipaparkan pada Gambar 7. Hasil desain poster peserta juga dicetak secara fisik untuk kemudian ditempel pada dinding mading sekolah. Gambar 6. Pembuatan Poster Menggunakan Canva oleh Peserta didamping Fasilitator Mahasiswa JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X Gambar 7. Hasil Poster dan Penempelan Poster Peserta Pelatihan Metode penilaian pre-test dan post-test digunakan untuk mengukur aspek keberdayaan yang dimiliki oleh siswa sebelum dan sesudah kegiatan PkM diberikan (Syahputra et al. , 2. Pre-test dan post-test yang diberikan berbentuk penilaian diri . elf-assesmen. Penilaian diri menjadi pendekatan yang efektif karena para siswa terlibat dalam menilai proses belajarnya sendiri dan menjadi lebih bertanggung jawab untuk lebih terlibat dalam proses pelatihan (DjamAoan et al. , 2. Pada aspek keberdayaan kesadaran kritis, data pada Gambar 8 telah menunjukan bahwa hasil post-test mengindikasikan bahwa seluruh siswa menilai dirinya telah memiliki pemahaman tentang bentuk-bentuk kekerasan yang dapat terjadi di lingkungan sekolah. Temuan ini menunjukkan peningkatan dari self-assesment mereka pada pre-test yang menunjukkan bahwa masih ada sebagian dari mereka yang tidak paham mengenai bentuk-bentuk kekerasan yang berpotensi terjadi di lingkungan sekolah. Gambar 8. Perbandingan Hasil Pre-Test & Post-Test Aspek Kesadaran Kritis JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X Pada aspek keberdayaan kepemimpinan sosial pelajar, data pada Gambar 9 menunjukkan bahwa setelah pelatihan, seluruh peserta memiliki keberanian untuk menegur atau menghentikan teman yang melakukan tindakan kekerasan. Selain itu, seluruh peserta juga telah memiliki kepercayaan diri untuk membuat konten kampanye yang menyuarakan nilai anti Temuan ini merupakan peningkatan dari hasil self-assesment mereka pada pre-test yang menunjukkan bahwa masih ada peserta yang bersikap ragu-ragu untuk menegur Tindakan kekerasan, maupun menyuarakan nilai anti kekerasan melalui konten kampanye. Gambar 9. Perbandingan Hasil Pre-Test & Post-Test Aspek Kepemimpinan Sosial Pada aspek Literasi Digital, seluruh peserta pelatihan telah mampu menggunakan Canva secara produktif dan terampil untuk tujuan konten kampenye sosial, khususnya anti kekerasan. Tidak hanya itu, terdapat peningkatan pemahaman para peserta tentang penyampaian pesan kampanye yang etis dan sopan pasca pelatihan. Terakhir adalah aspek Kepemimpinan dan Kolaborasi Digital. Setelah pelatihan berlangsung, para peserta menilai bahwa mereka telah memiliki pemahaman tentang pentingnya kerja sama tim untuk membuat konten digital. Gambar 10. Perbandingan Hasil Pre-Test & Post-Test Aspek Kepemimpinan dan Kolaborasi Digital Berdasarkan pemaparan perbandingan hasil Pre-Test dan Post-Test yang terdapat pada Gambar 8. Gambar 9, dan Gambar 10 menunjukkan bahwa kegiatan pemberdayaan OSIS di SMA JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X Negeri 14 Palembang merupakan pendekatan yang efektif dalam memperkuat kapasitas siswasiswi peserta kegiatan sebagai aktor kunci agen perubahan budaya yang positif. Pada aspek keberdayaan kesadaran kritis, hasil post-test menunjukkan peningkatan yang signifikan terkait pemahaman siswa terhadap tiga indikator yang meliputi bentuk-bentuk potensi kekerasan di sekolah yang meliputi kekerasan seksual, intoleransi, serta bullying. Peningkatan pemahaman siswa juga ditunjukkan pada aspek keberdayaan kepemimpinan sosial pelajar yang menunjukkan bahwa peserta telah memiliki kepercayaan diri untuk membuat konten kampanye nilai anti Peserta kegiatan pemberdayaan OSIS juga menunjukkan peningkatan indikator pemahaman pada aspek Kepemimpinan dan Kolaborasi Digital, yang menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mampu menggunakan aplikasi Canva secara produktif dan terampil, namun juga memiliki pemahaman mengenai pentingnya kerja sama tim dalam memproduksi konten Rasio peserta paham tentang bullying, kekerasan seksual, dan intoleransi masing-masing meningkat dari 60%, 55%, dan 40% pada pre-test menjadi 100% untuk ketiganya pada post-test. Indikator aspek kepemimpinan dan kolaborasi digital juga meningkat dari 45%, 55%, 70%, dan 80% pada pre-test menjadi 90%, 85%, 90%, dan 90% pada post-test. Persentase pemahaman peserta pada indikator aspek kepemimpinan sosial juga mengalami peningkatan dari 95% dan 65% di pre-test menjadi 100% untuk keduanya dalam post-test. Jika keseluruhan hasil di atas dikalkulasikan menggunakan perhitungan rata-rata . , maka rata-rata persentase peningkatan untuk tiap indikator secara berurutan adalah 94%, 42%, dan 25%. Maka, dari ketiga persentase peningkatan tersebut, ditemukan nilai rata-rata peningkatan pemahaman peserta terhadap tiga indikator tersebut secara keseluruhan adalah 54%. OSIS SMA Negeri 14 Palembang pada kegiatan ini memiliki peran yang krusial, tak hanya sebagai penerima materi namun juga akan berperan sebagai subjek yang merefleksikan pengalaman sosial mereka di lingkungan sekolah. Kegiatan ini juga merepresentasikan kemampuan mereka memahami ragam nilai-nilai anti kekerasan yang kemudian divisualisasikan kedalam objek digital. Konten-konten digital yang diproduksi oleh peserta merupakan salah satu indikator penting keberhasilan program ini. Peserta mampu menciptakan kampanye digital tanpa menggunakan kalimat, diksi, atau elemen yang menyalahkan korban, serta mampu menyuarakan pesan kolektif yang bersifat inklusif. Peran OSIS dalam mengkampanyekan anti kekerasan dalam studi ini sejalan dengan studi Hjelm . tentang keterlibatan pemuda dalam upaya pencegahan kekerasan seksual. Peran OSIS mengkampanyekan anti kekerasan, termasuk kekerasan seksual, berpotensi meningkatkan daya jangkau serta efektivitas pesan yang disampaikan melalui konten digital yang diproduksi. Temuan studi ini juga sejalan dengan Panagi . , bahwa peran pemuda, dalam hal ini OSIS, berpotensi meredam kekerasan berbasis identitas melalui dialog. Peran OSIS SMA Negeri 14 Palembang sebagai pelaku kampanye digital anti kekerasan juga merepresentasikan aktivisme siswa sebagaimana dijelaskan oleh Barrance et . yang mencakup aktivitsme institusional dan aktivisme yang dilegitimasi. Pada akhirnya, kegiatan PkM ini mampu berkontribusi tak hanya pada peningkatan pemahaman para peserta mengenai jenis-jenis kekerasan, intoleransi, serta penggunaan aplikasi canva, namun juga mendorong terbentuknya lingkungan sekolah yang aman melalui aktivisme OSIS sebagai agen perubahan anti kekerasan di sekolah. KESIMPULAN Berdasarkan kegiatan PkM ini, penulis menyimpulkan bahwa program pemberdayaan OSIS SMA Negeri 14 Palembang sebagai agen diseminasi nilai anti kekerasan berhasil mencapai tujuan utamanya yang ditunjukkan melalui sejumlah indikator penting seperti peningkatan kesadaran kritis, kepemimpinan sosial pelajar, literasi digital, serta kemampuan tiap individu dalam mengkampanyekan nilai-nilai anti kekerasan tersebut di lingkungan sekolah secara kolaboratif yang ditunjukkan melalui perbandingan hasil pre-test dan post-test. Hasil perhitungan pada seluruh indikator yang diukur menunjukkan bahwa pemahaman peserta mengalami peningkatan rata-rata sebesar 54%. Disamping itu, antusiasme peserta dan kualitas poster kampanye yang JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X dihasilkan menunjukkan bahwa kegiatan pemberdayaan OSIS di SMA Negeri 14 ini dapat diterima dengan baik oleh para peserta. Adapun keterbatasan dari kegiatan PkM ini adalah keterbatasan waktu dan cakupan kalangan peserta yang masih terbatas pada satu lingkungan sekolah saja. Oleh karena itu, kegiatan PkM selanjutnya diharapkan dapat menargetkan cakupan yang lebih luas tak hanya terhadap kalangan siswa/siswi pengurus OSIS di sekolah negeri saja, namun juga sekolah swasta maupun kejuruan di Kota Palembang secara khusus ataupun Sumatera Selatan secara umum. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada Universitas Sriwjaya atas pembiayaan pelaksanaan kegiatan PkM ini. Terima kasih kepada SMA Negeri 14 Palembang sebagai mitra dalam kegiatan ini sehingga program dapat berjalan dengan baik. Publikasi artikel ini dibiayai oleh Anggaran Universitas Sriwijaya Tahun Anggaran Sesuai Rektor Nomor: 0014/UN9/SK. LPPM. PM/2025 tanggal 17 September 2025. DAFTAR PUSTAKA